Rabu, 10 Januari 2018

Tahun Ketiga Pidato Kebudayaan

Situs Resmi NU atau Bupati Tegal akan menggelar pidato Kebudayaan untuk tahun ketiga di gedung PBNU, Jumat 28 Maret, pukul 19.00. Tahun ini akan mendaulat sastrawan asal Banyumas, Jawa tengah, Ahmad Tohari untuk berpidato. Penulisa novel Ronggeng Duku Paruk akan menyampaik pikirannya dengan tema “Membela dengan Sastra.”

Sebelumnya, pada tahun pertama 2012, Bupati Tegal mendaulat penyair asal Madura D. Zawawi Imron untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Ia menyampaikan pikiran dengan judul Menimba Ilham Vitalitas dari Nilai Pesantren.  

Tahun Ketiga Pidato Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Ketiga Pidato Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Ketiga Pidato Kebudayaan

Menurut penyair berjulu Clurit Rmas tersebut, budayawan sekelas WS Rendra, menggambarkan bahwa para ulama pesantren disebut “Empu yang bermukim di atas angin”, yaitu yang mengutamakan budaya akal sehat, dan sanggup memberi inspirasi bagi rakyat jelata untuk tahu akan hak-haknya dan selalu siap membela kebenaran secara kesatria.

Tradisi dan nilai-nilai pesantren yang masih relevan dengan zaman harus tetap dirawat dan dilaksanakan, sedangkan yang tidak sesuai dengan dinamika kehidupan sekarang perlu ditinggalkan. Di samping itu perlu dengan selektif menerima dan mengadopsi niali-nilai baru yang bisa memperkuat dan memperkaya cakrawala kehidupan pesantren masa kini.

Bupati Tegal

Sebagaimana menjadi orang pesantren, Zawawi mengaku bangga menjadi seorang seniman karena mendapat pendidikan rohani yang menyehatkan. ”Menjadi seniman kami sangat senang sekali. Karena menjadi seniman, kami merasa tersesat meskipun berada di jalan yang benar,” katanya disambut tawa hadirin pada waktu itu.

Pada tahun kedua, 2013, Bupati Tegal mendaulat pengasuh pesantren Kaliopak Yogyakarta Muhammad Jadul Maula untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Ia menyampaikan gagasan dengan judul Inikah Akhir Zaman Budaya Kita?

Bupati Tegal

Menurut Jadul Maula, budaya sekularitas yang menggejala di masyarakat Indonesia selama satu dasawarsa terakhir, menempatkan masyarakat dalam keadaan rentan. Mereka mudah terserang aneka bentuk penyakit sosial. “Gejala-gejala penyakit sosial yang mewakili cara berpikir, tumbuh dengan subur karena rapuhnya ikatan masyarakat belakangan dengan nilai-nilai keindonesiaan,” ungkapnya.

M Jadul Maula menunjuk contoh patologi sosial pada kecenderungan orang di Indonesia dalam menghadapi persoalan dengan kekerasan, pembunuhan, dan kecenderungan destruktif lainnya. Suami dapat membunuh istri karena persoalan sepele. Anak membunuh orang tuanya hanya karena permasalahan yang tidak masuk di akal.

Kecenderungan nalar destruktif, lanjut Jadul Maula, tidak hanya menjadi fenomena di kalangan masyarakat bawah. Cara berpikir seperti itu juga mewarnai pemikiran masyarakat kelas menengah dan atas. Dalam kondisi keterbatasan berkontestasi, mereka tanpa segan menyingkirkan posisi dan membunuh karakter pribadi atau kelompok lain. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Warta Bupati Tegal

Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Tahun Ketiga Pidato Kebudayaan di Bupati Tegal - Kabupaten tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock