Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

LPBI NU Beraudiensi dengan Ketua Umum PMI

Jakarta, Bupati Tegal. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI NU) beraudiensi atau melakukan pertemuan dengan Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) di kantor PMI, Jum’at (13/8).

Pertemuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan sinergitas baik kerjasama yang selama ini telah dilakukan dan membahas tindak lanjut hasil pertemuan dengan ketua umum PMI periode lalu yaitu H. Mari’e Muhammad dengan CBDRM NU, lembaga penanganan bencana berbasis komunitas yang merupakan embrio dari LPBI NU.

LPBI NU Beraudiensi dengan Ketua Umum PMI (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Beraudiensi dengan Ketua Umum PMI (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Beraudiensi dengan Ketua Umum PMI

HM Jusuf Kalla menyambut baik proses kerjasama yang telah terjalin dan menyiapkan tim kecil dari kedua lembaga untuk membahas hal kerjasama kemudian.

Bupati Tegal

Dalam kesempatan ini Pak Jusuf Kalla memaparkan program yang dilakukan saat ini dan yang bisa dilakukan pula oleh LPBI NU. Ia menjelaskan bahwa bencana bisa dikurangi resikonya melalui kearifan budaya seperti kebiasaan yang turun temurun atau kearifan lokal atau tradisional seperi di pulau Semeleu pada saat gempa dan tsunami.

Selain itu pula struktur bangunan yang dahulu mengikuti pola tradisional seperti rumah panggung sekarang menjadi rumah batu yang struktur bangunannya tidak kuat atau tahan gempa atau terkena banjir.

Bupati Tegal

Kesiapsiagaan yang lain dalam pencegahan bencana yang lebih luas dampaknya yaitu melalui sistem peringatan dini baik fisik maupun non fisik (spiritual). Untuk yang fisik sudah ada baik kearifan tradisional seperti melihat tanda-tanda alam maupun tekhnologi seperti sirine, internet dsb.

Untuk kesiapsiagaan non fisik (non spiritual) peranan partisipasi masyarakat khususnya tokoh-tokoh agama sangat diperlukan karena tokoh agama mempunyai pengaruh dan timbal balik positif di masyarakat. Dalam konteks ini NU merupakan bagian yang tepat dalam pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim berbasis masyarakat.

Jusuf Kalla menambahkan program PMI saat ini adalah mengurangi resiko yang besar melalui hal yang kelihatannya sepele namun memiliki pengaruh yang besar seperti salah satunya di Jakarta yaitu Program 1 juta skop untuk kampanye lingkungan.

Hal ini untuk menstimulasi masyarakat untuk dapat aktif membersihkan selokan baik yan kotor maupun akibat banjir sehingga dapat berkurangnya masalah lingkungan dan kesehatan di pemrumahan. Selain itu program PMI di Jakarta adalah mengurangi bencana kebakaran di area pemukiman yang sangat besar dampaknya bagi masyarakat umum khususnya masyarakat miskin dan marjinal berkaitan dengan hal ini PMI di Jakarta mempunyai program kampanye pemakaian listrik yang baik di rumah-rumah.

Sedangkan di luar Jakarta/ daerah program PMI untuk pengurangan resiko bencana dan perubahan iklim penghijauan jalan tuhan yaitu penyemaian bibit secara alam atau melalui angin. Berdasarkan konsep ini PMI mencoba melakukan pembibitan lewat jalan udara atau dengan helikopter sehingga diharapakan dapat menyemai bibit sekitar 2 Juta hektar/tahun.

Pada kesempatan itu ini LPBI NU memberikan media kampanye baik berupa buku maupun booklet pada PMI.

Dari LPBI NU dihadiri oleh Ketua LPBI NU Avianto Muhtadi didampingi oleh Sultonul Huda (sekretaris), Yayah Ruchyati (Wakil Sekretaris), Ali Yusuf (Bendahara), dr. Afan Hermawan (Wakil ketua bidang kedaruratan dan rehabilitasi). (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

GNB Serukan Mahkamah Pidana Internasional Adili Israel

Teheran, Bupati Tegal. Pertemuan darurat tingkat menteri Gerakan Non-Blok (GNB) Senin menyerukan kepada Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk membawa para pejabat Israel ke pengadilan atas dakwaan kejahatan perang di Gaza.

GNB Serukan Mahkamah Pidana Internasional Adili Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
GNB Serukan Mahkamah Pidana Internasional Adili Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

GNB Serukan Mahkamah Pidana Internasional Adili Israel

Dalam pernyataan akhir pertemuan Komite GNB mengenai Palestina, para Menlu mengungkapkan kemarahan pada pertumpahan darah di Gaza dan mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menghentikan kejahatan Israel terhadap kemanusiaan.

Mereka meminta masyarakat internasional, PBB dan organisasi-organisasi internasional lainnya serta LSM, untuk membantu memberikan korban agresi Israel di Jalur Gaza dengan bantuan kemanusiaan secara mendesak, menurut pernyataan yang disiarkan oleh media Iran. 

Bupati Tegal

Pernyataan itu mengakui peran penting Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) di Gaza, termasuk dalam menangani kebutuhan darurat selama periode krisis.

Bupati Tegal

Para menteri mendesak masyarakat internasional untuk memberikan dukungan yang diperlukan kepada Badan itu serta badan-badan PBB lainnya dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina saat ini, termasuk lebih dari 180.000 pengungsi Palestina pada periode terakhir.

Selain itu, pertemuan menyerukan kepada DK PBB "untuk menegakkan tugas Piagam dan hidup sesuai dengan harapan masyarakat internasional untuk bertindak segera dalam mengatasi situasi krisis ini, dalam Pendudukan Palestina, yang jelas merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan regional dan internasional. 

"DK PBB juga telah diimbau untuk mengadopsi langkah-langkah" untuk memaksa Israel, kekuatan pendudukan, untuk menghentikan agresi militernya terhadap rakyat Palestina dan untuk memenuhi segera dengan semua kewajibannya berdasarkan hukum internasional, khususnya Konvensi Jenewa ke-4 dan resolusi PBB yang relevan. 

"Pertemuan tingkat menteri sangat mengutuk "penggunaan mematikan, tidak pandang bulu, kekuatan yang berlebihan oleh Israel, dan kekuasaan yang mendukungnya, terhadap warga sipil Palestina dan infrastruktur sipil penting, termasuk air bersih dan sanitasi jaringan, pembangkit listrik dan berbagai rumah sakit serta pusat kesehatan, dan juga terhadap personil kemanusiaan, darurat dan wartawan. 

"Selain itu, para menteri luar negeri GNB mengutuk "kekerasan dan penganiayaan fisik dan psikologis, termasuk penyiksaan, para tahanan Palestina dan tahanan, termasuk anak-anak, perempuan dan pejabat terpilih, di antaranya anggota Dewan Legislatif Palestina, termasuk lebih dari 800 orang yang ditahan sejak 13 Juni 2014 diminta segera dibebaskan tanpa syarat."

Sementara itu, para Menlu menyambut baik keputusan Dewan Hak Asasi Manusia "untuk memulai penyelidikan internasional, independen, resmi ke dalam semua pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dan hukum hak asasi manusia internasional yang dihasilkan dari agresi militer Israel baru-baru terhadap Jalur Gaza yang dikepung." 

Pernyataan itu "menekankan perlunya untuk terus memenuhi dan konsultasi di dalam Komite GNB Palestina, serta Koordinator Biro yang lebih besar dari Gerakan, dengan pandangan, antara lain, untuk menyusun rencana aksi bagi GNB dalam rangka menindaklanjuti semua isu-isu kritis di PBB dan di semua forum politik, hukum dan peradilan lain yang sesuai.

"Akhirnya, para menteri luar negeri GNB menegaskan kembali "dukungan tak tergoyahkan mereka terhadap Palestina dan solidaritas dengan rakyat Palestina."

Mereka juga menegaskan kembali "dukungan prinsip dan sejak lama terhadap hak-hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan pencapaian aspirasi nasional yang sah mereka, termasuk kebebasan, kemerdekaan, keadilan, perdamaian dan bermartabat di tanah air mereka sendiri," demikian OANA. (antara/mukafi niam)

Foto:ndtv

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Quote, Olahraga, Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Lama Kosong, IPNU-IPPNU Gading Terbentuk

Probolinggo, Bupati Tegal - Setelah lama kosong karena keterbatasan kader yang berkualitas, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, resmi terbentuk.

“Selama ini IPNU-IPPNU di Kecamatan Gading memang kosong dan baru terbentuk. Hal ini dikarenakan kami baru menyadari akan banyaknya kader-kader yang ada di desa kami yang bisa dimaksimalkan. Jadi kami berkumpul dan bermusyawarah untuk membentuk PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading,” kata Ketua PAC IPNU Kecamatan Gading Abd Rohim, Sabtu (26/11).

Lama Kosong, IPNU-IPPNU Gading Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Lama Kosong, IPNU-IPPNU Gading Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Lama Kosong, IPNU-IPPNU Gading Terbentuk

Dalam kepengurusan baru tersebut, Ketua IPNU Kecamatan Gading dipercayakan kepada Abd Rohim dan Ketua PC IPPNU Kecamatan Gading dijabat oleh Robiatul Adawiyah. Selanjutnya mereka akan memimpin para pelajar NU di Kecamatan Gading.

Bupati Tegal

Sebagai bentuk syukur atas terbentuknya kepengurusan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading, diselenggarakan shalawatan dan pengajian umun dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW dan tasyakuran di halaman MA Miftahul Hasan Kecamatan Gading, Jumat (25/11) malam.

“Di samping untuk tasyakuran sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan ini bertujuan untuk membentuk kader-kader militan ke depannya untuk mengisi kepengurusan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading,” jelas Rohim.

Bupati Tegal

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang peserta? dari unsur pengurus IPNU dan IPPNU di Kecamatan Gading sekaligus santri Pondok Pesantren Miftahul Hasan Kecamatan Gading. Hadir pula jajaran pengurus MWCNU Kecamatan Gading.

“Dengan terbentuknya kepengurusan ini ke depan kami berharap dapat membentuk kader-kader IPNU-IPPNU yang militan dan cinta sosial serta memiliki kepedulian kepada masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

Probolinggo, Bupati Tegal. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi kiprah ? pondok pesantren sebagai jantung pendidikan umat Islam di Indonesia yang tetap eksis di tengah arus globalisasi. Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari nilai-nilai yang hidup di dunia pesantren itu sendiri yang menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan, rintangan, dan halangan.

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

“Nilai-nilai tersebut adalah keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan kebebasan berpikir terkait keilmuan” tutur Menag saat memberi taushiyah dalam rangka tasyakuran 2 Windu Pondok Pesantren al-Mashduqiyah, Patokan, Krasan, Probolinggo, Jawa Timur, Jum’at (24/4) sore seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Keikhlasan para pengasuh, kiai dan ustadz pesantren, bagi Menag tak ternilai harganya. Hal ini membuat pesantren terus terterangi cahaya. Apalagi keikhlasan tersebut dikuatkan dengan kesederhanaan para pemegang amanah pesantren.

Bupati Tegal

Pesantren juga mandiri dan tidak bergantung. Hal ini yang menjadikan lulusan pesantren mampu dan siap mengerjakan apa pun, karena para santri mempunyai spirit kuat, selain juga jiwa entrepreneurship tinggi, sehingga sedikit yang berkeinginan menjadi pegawai, baik pegawai sipil maupun swasta. “Nilai kemandirian ini sungguh sesuatu yang mahal,” ungkapnya.

Bupati Tegal

Menag melihat, meski para santri mempunyai jiwa kethawadu’an yang tak diragukan, namun di pesantren ada kebebasan dalam berpikir terkait dengan keilmuan. Jadi seorang santri yang menimba ilmu, tidak dibatasi dengan ilmu-ilmu tertentu. “Bebas yang dimaksud adalah bebas dalam artian masih dalam norma-norma dan acuan, bukan bebas dalam kontenks berpikir yang mengarah pada liberalisasi,” jelasnya.?

Bebas di sini, tambah Menag, adalah suatu pemahaman, bahwa masing-masing santri, mempunyai tantangannya tersendiri. Karenanya tak jarang seorang santri, dalam menuntut ilmu, sering kali berpindah pesantren, baik karena tuntutan pencarian ilmu ataupun arahan dari pengasuhnya. Selain itu, seorang santri bersamaan dengan keharusannya untuk tetap menghormati ulama, tetap mempunyai ruang untuk berbeda pendapat. “Karena, apa yang disampaikan sang guru, kadang, kurang sesuai dengan masa si santri,” urai Menag panjang lebar.

Pondok Pesantren al-Mashduqiyah didirikan oleh KH Muhlisin Sa’ad yang merupakan salah satu ustadz Menag, saat masih menuntut ilmu di pesantren. Ikut hadir dalam tasyukuran tersebut, para alim dan ulama, Bupati Probolinggo, Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Kakankemenag Kabupaten Probolinggo dan Kabag TU Pimpinan (Sesmen) Khoirul Huda. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

Tasikmalaya, Bupati Tegal

Pelajar muslim harus berjihad melalui berbagai bidang diantaranya ekonomi, budaya, dan pendidikan. Saat ini pelajar dan generasi muda sudah tidak zamannya lagi lempar bom, perang, dan sebagainya atas nama jihad agama.

Hal itu disampaikan Haryadi Ahmad Satari Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang juga Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya saat mengisi materi Seminar Peningkatan Wawasan Pelajar Muslim Nusantara di Kantor MWCNU Salopa, Rabu (20/1).

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

“Di negara kita masih banyak yang harus kita fikirkan dan perbaiki seperti ekonomi , dimana anak muda sekarang bisa mengisi peluang dan memperbaiki ekonomi untuk jangka panjang ke depan. Nah anak muda ini sebagai pelopor dan bisa berkreativitas untuk lebih memajukan daerah dan negara diawali dari diri sendiri,” paparnya.

Adapun jihad lewat budaya, tambahnya, adalah pelajar harus bisa mengaplikasikan Qowaid Ushul Fiqh yang menjadi landasan NU, Almuhafaadzatu ala al-qadimi asshalih wal akhadzu bil jadidil ashlah.

Lewat kegiatan ini, imbuhnya, adalah salah satu bentuk hormat kepada para pejuang kemerdekaan yang memperjuangkan jiwa dan raga. “Kita harus isi Kemerdekaan ini dengan cara yang positif, salah satunya dengan terus belajar bersama seperti kegiatan ini,” ujarnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Humor Islam, Pesantren, Amalan Bupati Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Hampir Sejuta Anak di Afrika Kekurangan Gizi Akut

New York, Bupati Tegal

Dana Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Childrens Fund/UNICEF) pada Rabu (17/2) memperingatkan bahwa hampir satu juta anak memerlukan perawatan karena kekurangan gizi akut di Afrika Selatan dan Timur.

Hampir Sejuta Anak di Afrika Kekurangan Gizi Akut (Sumber Gambar : Nu Online)
Hampir Sejuta Anak di Afrika Kekurangan Gizi Akut (Sumber Gambar : Nu Online)

Hampir Sejuta Anak di Afrika Kekurangan Gizi Akut

Dua tahun hujan tak menentu dan kekeringan bersama dengan salah satu peristiwa El Nino paling kuat dalam 50 tahun menjadi malapetaka bagi kehidupan anak-anak paling rentan, kata UNICEF.

Di Malawi, Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) juga telah memperingatkan bahwa lembaga dihadapkan dengan peningkatan kebutuhan dan sangat memerlukan 38 juta dolar AS untuk membantu mereka yang paling rentan selama musim berkepanjangan ini.

Tanpa sumbangan tambahan, pembagian uang kontan harus ditangguhkan pada Maret, sementara pembagian makanan akan dikurangi secara drastis atau bahkan diputus pertengahan April.

Bupati Tegal

Situasi bertambah parah dengan naiknya harga pangan, yang memaksa banyak keluarga menjalankan mekanisme penghematan drastis seperti melewatkan makan dan menjual aset, mengakibatkan hampir satu juta anak membutuhkan perawatan karena kekurangan gizi akut parah di wilayah tersebut, kata Leila Gharagozloo-Pakkala, Direktur Regional UNICEF untuk Afrika Selatan dan Timur, dalam siaran pers Rabu (17/2).

"Fenomena cuaca El Nino akan berkurang, tapi dampaknya pada anak-anak --banyak di antara mereka sudah hidup pas-pasan-- akan terasa sampai bertahun-tahun ke depan," katanya.

"Pemerintah meresponsnya dengan sumber daya yang ada, tapi ini situasi yang tak pernah terjadi sebelumnya. Kelangsungan hidup anak-anak tergantung pada tindakan yang dilakukan hari ini."

Menurut UNICEF, Lesotho, Zimbabwe dan sebagian besar provinsi di Afrika Selatan telah mengumumkan kondisi bencana dalam menghadapi peningkatan kekurangan sumber daya.?

Bupati Tegal

Di Ethiopia, jumlah orang yang memerlukan bantuan makanan diperkirakan naik dari 10 juta lebih jadi 18 juta sampai akhir tahun ini.

UNICEF, yang mengeluarkan informasi terkininya mengenai dampak El Nino pada anak-anak di wilayah tersebut, menyatakan bahwa di Ethiopia, dua musim hujan yang gagal berarti hampir enam juta anak memerlukan bantuan pangan, dengan makin banyak anak tak bisa bersekolah karena dipaksa berjalan lebih jauh untuk mencari air.

Di Somalia, lebih dari dua-pertiga mereka yang memerlukan bantuan segera adalah warga yang kehilangan tempat tinggal, sedangkan di Kenya, hujan lebat terkait El Nino dan banjir menambah parah penyebaran wabah kolera.

Sementara itu di Lesotho, seperempat warga terpengaruh. Kondisi tersebut menambah parah kondisi negara tempat 34 persen anak adalah yatim-piatu, 57 persen orang hidup di bawah garis kemiskinan, dan hampir satu dari empat orang dewasa hidup dengan HIV/AIDS tersebut.

Di Zimbabwe 2,8 juta orang diperkirakan menghadapi kondisi rawan pangan dan gizi. Kemarau telah mengurangi air dari sedikit sumur bor yang masih berfungsi sehingga menambah parah risiko penyebaran penyakit yang menular lewat air, terutama diare dan kolera.

Badan PBB itu menyatakan Malawi menghadapi krisis pangan terburuk dalam sembilan tahun dengan 2,8 juta orang, lebih dari 15 persen penduduk negeri tersebut, terancam kelaparan. Kasus kekuragan gizi akut telah melonjak sampai 100 persen dari Desember 2015 hingga Januari 2016.

Di Angola, sebanyak 1,4 juta orang diperkirakan terdampak kondisi cuaca ekstrem dan 800.000 orang menghadapi kondisi rawan pangan, terutama di provinsi Angola Selatan yang setengah tandus.

Kantor PBB Urusan Kemanusiaan (UN Office for Humanitarian Affairs/OCHA) telah memperkirakan masyarakat yang terpengaruh diperkirakan memerlukan sekitar dua tahun untuk pulih dari kemarau yang diperparah oleh El Nino jika kondisi pertanian membaik dalam semester kedua tahun ini.

UNICEF juga mengatakan permohonan bantuan kemanusiaannya hanya kurang dari 15 persen yang didanai di seluruh negara yang terpengaruh El Nino di Afrika Selatan, demikian seperti dilansir kantor berita Xinhua. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Pesantren, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan

Probolinggo, Bupati Tegal - Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo KH Moh Zuhri Zaini menyampaikan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang baik memerlukan kebersamaan. Tanpa kebersamaan, akan sulit mencapai kesuksesan pendidikan, termasuk di lingkungan pondok pesantran.

Hal itu disampaikan KH Moh Zuhri Zaini saat memberikan tausiyah di acara silaturahim dan rapat wali Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (2/9).

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan

“Tanpa adanya dukungan dari wali santri, kami yang di dalam lingkungan pesantren akan berat. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan adanya cara pandang yang sama dalam pendidikan pesantren,” katanya.

Menurut Kiai Zuhri Zaini, banyak perubahan yang akan dilakukan di pesantren. Mulai dari tata kelola dan semacamnya yang dimaksudkan supaya para santri bisa menjalani pembinan dengan kondusif dan efektif.

Bupati Tegal

“Perubahan-perubahan itu tentunya penuh dengan kejutan-kejutan. Mudah-mudahan kejutan ini tidak menyedihkan, namun menggembirakan,” tegasnya.

Bupati Tegal

Kiai Zuhri menambahkan bahwa setiap perubahan butuh pengorbanan. Selain menyamakan visi dan misi dalam mewujudkan pendidikan yang baik bagi santri, penciptaan iklim yang kondusif juga perlu masuk-masukan. Sebab masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Dukungan doa dari wali santri sangat mujarab. Sebab doa orang tua itu sama dengan doa nabi pada umatnya. Dukungan moral dan doa serta pemahamn yang sama,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, News, Pesantren Bupati Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Keprihatinan Ibu Pertiwi Jadi Dasar Realisasi Program Muslimat NU

Jakarta, Bupati Tegal. Peringatan Harlah ke-71 sekaligus pelantikan Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) periode 2016-2021, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal Jakarta diikuti antusias oleh 23.000 kader Muslimat dari sejumlah daerah. Istiqlal dipenuhi oleh ibu-ibu yang kompak mengenakan batik hijau, seragam khas Muslimat NU.

Keprihatinan Ibu Pertiwi Jadi Dasar Realisasi Program Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Keprihatinan Ibu Pertiwi Jadi Dasar Realisasi Program Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Keprihatinan Ibu Pertiwi Jadi Dasar Realisasi Program Muslimat NU

Dalam pidatonya sesaat setelah dilantik Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa menjelaskan bahwa banyak realisasi dari program-program Muslimat berangkat dari kerpihatinan yang dialami ibu pertiwi.

“Saat ibu pertiwi bersedih banyak anak-anak yang perlu asuhan, Muslimat hadir mendirikan panti asuh yang di dalamnya ada sekolah untuk mereka antara lain TQP, TK RA, dan PAUD,” kata Khofifah.

Dia menambahkan, saat ini Muslimat NU telah memiliki sekitar 16.300 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), 13.000 lebih Raudlatul Athfal (RA), 9.800 RA, dan 4.600 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).?

Ketika ibu pertiwi bersedih karena maraknya penyalahgunaan Narkoba, kata dia, Muslimat hadir untuk menanggulangi penyebaran Narkoba di kalangan anak dengan gerakan aktif Laskar Antinarkoba.

Bupati Tegal

“Laskar Antinarkoba telah dideklarasikan pada 2016 lalu di Malang dan telah meraih penghargaan MURI. Saat ini Laskar tersebut dikomandani oleh setiap Ketua Pimpinan Wilayah di daerahnya masing-masing. Mari kita jaga NKRI dengan merawat anak-anak dari ancaman Narkoba,” urai Menteri Sosial RI ini.

Kepriahtinan ibu pertiwi juga diraskan betul oleh Muslimat NU ketika banyak anak-anak terlantar. Pihak telah melakukan langkah nyata dengan mendirikan sejumlah panti asuhan.

“Saat ini ada 144 panti asuhan di lingkungan Muslimat NU. Bukan hanya itu, Muslimat NU juga memiliki 134 panti yang diperuntukan bagi orang lanjut usia (Lansia) ,” terang perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini.

Bupati Tegal

Hingga sekarang ini, Muslimat NU juga terus melakukan pemberdayaan ekonomi melalui maksimalisasi pusat-pusat koperasi (Puskop) yang dikelola oleh pengurus dan kader Muslimat NU di setiap tingkatan. Muslimat juga memiliki induk koperasi yaitu Inkopan (Induk Koperasi Annisa).

Begitu juga di bidang kesehatan dengan mendirikan sejumlah rumah sakit dan klinik. “Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Jombang yang dikelola oleh Muslimat NU bahkan mendapatkan penghargaan nasional. Lalu kami juga medirikan Klinik Haemodialisis yang saat telah berjalan dengan baik,” jelas Khofifah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Tokoh, Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Surabaya, Bupati Tegal. Terus molornya penyelesaian kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, sangat mengecewakan warga Kota Petis itu. Apalagi proses verifikasi tanah yang semakin rumit dan semakin banyak saja persyaratan yang diminta oleh pihak PT Minarak, perusahaan yang diminta Lapindo membayar ganti rugi. Warga semakin kecewa. “Penanganan lumpur selama ini sangat-sangat-sangat kurang maksimal,” kata Drs H Abdi Manaf, Ketua PCNU Sidoarjo di Surabaya, Sabtu.

Ia mencontohkan, kalau dulu, Lapindo belum mengakui tanah yang berstatus petok D dan letter C, lalu minta disetujui Bupati. Ketika Bupati dan pemerintah pusat sudah mengakui, bahkan bupati bersedia menjadi jaminan, ternyata Minarak menambah syarat lagi, yaitu riwayat tanah. “Ini jelas semakin mempersulit warga,” lanjut Gus Manaf. “Tampaknya memang ada kesan Lapindo sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran ganti rugi pada warga,” lanjutnya.

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Yang membuat hati alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak enak, ternyata selama ini pihak Lapindo masih belum merasa bersalah atas musibah itu, sekalipun sudah ribuan orang hidup di pengungsian dan kehilangan harta benda. Kesimpulan itu diterima Gus Manaf ketika bertemu langsung dengan Andi Darussalam dari PT Minarak. Kalaupun Lapindo selama ini mau mengeluarkan uang, hal itu semata-mata hanya karena tanggung jawab sosial.

Penyelesaian lumpur Lapindo yang diinginkan warga, menurut Gus Manaf, sebenarnya tidak muluk-muluk. Pemerintah memberikan jaminan ganti rugi kepada warga, lalu seluruh aset Lapindo dijadikan jaminan kepada pemerintah. Selesai. “Kalau pemerintah bilang tidak punya uang, buyar saja negara ini, masak negara kok tidak punya uang untuk memberikan ganti rugi warganya,”? terang putra Bawean itu.

Tapi sayang, pemerintah tampaknya tidak punya keberanian untuk melangkah ke sana. Sedangkan pihak Lapindo hanya mengobral janji-janji terus, nyaris tak ada pembuktian. Pemerintah juga tidak berani mengambil langkah lebih tegas lagi pada perusahaan milik keluarga Bakrie itu.

Bupati Tegal

Gus Manaf tidak bisa membayangkan sampai kapan proses verifikasi tanah warga akan selesai. Sebab, dari 16 ribu warga yang akan diverifikasi, hanya terselesaikan 10 sampai 15 orang setiap harinya. Itupun belum termasuk yang harus dikembalikan berkasnya, karena dinilai belum lengkap. “Terus kapan selesainya?” tanyanya tak habis mengerti.

Di sisi lain, ia menilai peranan empat orang anggota DPD asal Jawa Timur dalam soal Lumpur Lapindo masih sangat kurang. Sebab mereka baru datang ke lokasi lumpur setelah musibah itu berlangsung lebih dari satu tahun. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. “Katanya sih untuk menyerap aspirasi,” tutur Gus Manaf.

Bupati Tegal

Penanganan lumpur selama ini, kata Gus Manaf, ibarat lingkaran setan. Pemerintah tidak berani menjadi jaminan, sedangkan Lapindo yang menyatakan sanggup membayar ganti rugi, ternyata hanya mengobral janji. “Kalau begini terus, kan kasihan orang-orang itu,” tegasnya. (sbh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Meme Islam, Pesantren, Khutbah Bupati Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Ketika Rusa dan Unta Curhat kepada Nabi Muhammad

Jepara, Bupati Tegal. Sayyid Muhammad bin Farid bin Idrus al Muthohhar saat diminta Habib Syech Solo untuk menyampaikan mauidloh mengutarakan bahwa hewan ketika dirundung masalah kemudian melakukan curhat langsung dengan Nabi Muhammad SAW.

Hal itu dikemukakannya dalam Jepara Bershalawat yang dilaksanakan di Pendopo Jepara, Jumat (2/9). Selain syekher mania yang hadir, kegiatan juga diikuti habaib dan Forkompinda. ?

Ketika Rusa dan Unta Curhat kepada Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rusa dan Unta Curhat kepada Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rusa dan Unta Curhat kepada Nabi Muhammad

Salah satunya adalah yang diceritakan Umi Salamah. Saat itu kanjeng Nabi kata Habib yang kerap disapa Habib Farid berjalan dengan seorang sahabat. Tiba-tiba mendengar ada seekor rusa memanggil.?

Singkat cerita sebelum ia (rusa, red) diburu oleh seorang a’rabi belum sempat menyusui anaknya. Rusa itu lanjut Habib meminta agar Nabi berkenana melepaskan ikatannya. Setelah menyusui anaknya ia berjanji langsung kembali dan siap diikat lagi.?

Bupati Tegal

Mendengar janji tersebut kemudian rusa dilepaskan. Tak lama kemudian si rusa datang dan kembali diikat. Ketika si pemburu datang dan bertemu dengan Nabi, si A’rabi diminta untuk melepaskan rusa hasil buruannya itu.?

“Selain curhat “rusa” ada juga cerita “curhat” seekor unta,” lanjut habib keponakan Habib Syech ini menceritakan.?

Diceritakan Habib asal Semarang itu, unta yang ditemui Nabi di jalan sedang merengek dan menangis. Ceritanya, si unta sering diperintah oleh majikan tetapi jarang dikasih makan.?

Ketika si pemilik unta datang, Nabi pun menegur kepada si fulan. Periharaan yang diberikan Allah merupakan amanat. Waktu itu, Nabi meminta agar pemilik unta menjaga amanat itu baik-baik.?

Bupati Tegal

“Bertakwalah kepada Allah di manapun berada. Hewan yang kamu pelihara adalah amanat. Kamu banyak menyuruh dia bekerja tapi kenapa sedikit berbuat baik kepadanya,” begitu teguran Nabi sebagaimana diceritakan Habib Farid. ?

Berkenaan dengan cerita itu, Habib Farid meminta kepada syekher mania jika hewan saja mau curhat, kita juga wajib curhat kepada Nabi. Momen Jepara bershalawat salah satu faidahnya merupakan sarana meminta dan mengatasi masalah lewat nabi Muhammad.?

Kenapa harus kepada Nabi Muhammad? Ditegaskannya Nabi Muhammad ialah nabi paling mulia yang mampu mengenal satu persatu umatnya dari zaman nabi adam hingga hari kiamat. Disamping itu, nabi juga tahu amal baik dan buruknya.?

Habib Farid juga menegaskan apa yang dikatakan Umar, bahwa doa tidak bakal diterima Allah jika tidak dibarengi dengan shalawat. “Dengan shalawat urip nikmat. Dengan shalawat bakal dapat syafaat,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista

Jakarta, Bupati Tegal. Sejak beberapa tahun lalu, Muhammad Nurhidayat memiliki hobi yang unik, yaitu membuat alutsista mainan berbahan karet penghapus, yang ia beri nama “minikar”. Minikar merupakan kependekan dari “miniatur ukir dari karet penghapus”.

Ide membuat minikar berawal sekitar 4 tahun lalu ketika sang anak minta dibelikan mainan pesawat N-250 buatan PT Dirgantara Indonesia.?

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista

“Saat itu anak pertama saya masih TK. Dia minta dibelikan pesawatnya Pak Habibie (N-250). Wah, saya bingung. Selama ini yang ada di pasaran kan mainan miniatur pesawat buatan luar negeri. Belum ada pesawat buatan (negara) kita yang diperbanyak menjadi mainan. Saya katakan kepada anak saya, belum ada mainan seperti itu (miniatur N-250),” kata pria 37 tahun kelahiran Surabaya, yang kini menetap di Semarang, Senin (27/3).

Ayah tiga anak yang bekerja sebagai dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Gorontalo kembali bingung sewaktu sang anak juga minta dibelikan mainan berbentuk Anoa buatan PT Pindad.?

“Anak saya lihat (panser) Anoa di internet. Dia bilang sangat bagus dan keren. Lalu juga minta dibelikan mainan (panser Anoa) itu,” ujar Nurhidayat.

Bupati Tegal

Pria yang kini kuliah di pascasarjana Universitas Diponegoro ini pun memiliki ide membuat mainan berbentuk alutsista setelah melihat maket arsitektur di sebuah kantor pemerintah daerah.?

“Pada maket itu kan juga terpajang miniatur mobil-mobilnya berbahan karet penghapus. Nah, dari situ saya mendapat ide. Maka saya membeli beberapa buah karet penghapus dan perlengkapan lainnya untuk membuat mainan alutsista,” cerita Nurhidayat.

Ia mengukir batangan-batangan karet penghapus dan mengecatnya hingga berbentuk menyerupai aneka alutsista seperti tank, panser, truk peluncur misil, truk angkut tentara, rantis (kendaraan taktis), helikopter serbu, helikopter angkut tentara, hingga pesawat tempur.?

“Alhamdulillah meskipun tidak mirip banget dengan aslinya, tapi anak saya suka,” kata pria yang mengagumi B.J. Habibie ini.

Bupati Tegal

Ternyata tidak hanya anak Nurhidayat saja yang menyukai minikar buatannya, tetapi juga anak-anak tetangga sekitar rumah, baik sewaktu masih di Gorontalo maupun setelah pindah ke Semarang.?

“Anak-anak tetangga, juga teman-teman sekelas anak saya minta dibuatkan juga. Malah ada yang minta diajari cara pembuatannya. Saya pun membuatkan ataupun mengajari cara pembuatannya,” kenang Nurhidayat.?

Hingga kini ia telah diundang ke beberapa sekolah, ponpes, dan masjid untuk mengajarkan cara pembuatan mainan tersebut kepada anak-anak.

Nurhidayat kagum dan sangat mendukung bangsa ini berusaha mandiri dalam hal pengadaan alutsista. “Semoga alutsista (buatan bangsa) kita banyak juga diminati bangsa lain. Agar kita suatu saat nanti dikenal sebagai negara pengekspor alutsista, bukan lagi sebagai pengimpor seperti sekarang,” harap pria yang menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengahnya di Tarakan, Kalimantan Utara ini.

Namun, Nurhidayat mengakui bahwa minikar buatannya tidak mirip dengan alutsista sungguhan yang dibuat PT Pindad maupun PT-DI.?

“Alasan pertama, karena saya belum minta izin dari PT Pindad dan PT-DI. Semua alutsista buatan mereka kan ada hak ciptanya. Kita harus menghormatinya. Alasan kedua, saya memang tidak bisa membuatnya menjadi mirip. Hahaha,” selorohnya.?

Alumni Universitas Hasanuddin itu berharap, pemerintah memproduksi mainan atau miniatur berbentuk alutsista produksi dalam negeri.?

“Selama ini kan anak-anak kenalnya dengan (panser) Tarantula padahal kita sudah punya Anoa dan Badak. Anak-anak akrab dengan (rantis) Hummer-nya Amerika meskipun kita sudah produksi Komodo. Sebab selama ini alutsista kita tidak disosialisasaikan dalam bentuk mainan. Jadi banyak anak-anak tidak kenal karya bangsa sendiri. Anak saya saja bilang sendiri bahwa (rantis) Komodo bentuknya lebih keren daripada Hummer,” jelas Nurhidayat.

Menurut Nurhidayat, jika ada BUMN atau pun perusahaan swasta yang mau memproduksi secara massal mainan atau miniatur berbentuk alutsista Indonesia, anak-anak bangsa ini akan semakin cinta dengan produksi dalam negeri.?

“Bahkan bisa juga diekspor ke mancanegara. Sehingga anak-anak di seluruh dunia pun mengenal (panser) Anoa, Badak, (ranris) Komodo, dan semua kendaraan buatan Indonesia lainnya,” harapnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Habib, Pesantren Bupati Tegal

Rabu, 15 November 2017

Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim

Oleh: Munawir Aziz

Bagaimana memahami ilmu politik para kiai? Dari pelacakan tentang sosok-sosok kiai di berbagai kawasan, terhubung jalinan ilmu, jaringan komunikasi dan sikap yang solid untuk mempertahankan negara. Para kiai tidak hanya belajar ilmu agama, yang secara mendalam berupa tradisi keilmuan pesantren, namun juga mempraktikkan dalam ilmu haliyah, ilmu sikap hidup yang terkoneksi dengan kepiawaian berdiplomasi politik.?

Strategi-strategi cerdas ini, dapat kita lacak dari sosok Kiai Wahid Hasyim (1914-1953). Ayahanda Gus Dur ini, merupakan sosok kiai yang cerdas dalam menghimpun kawan serta tenang menghadapi lawan. Ia merupakan cermin, betapa ilmu santri itu luas tidak bertepi, dari ilmu agama hingga ilmu intelijen, dari penguasaan hukum Islam hingga diplomasi politik. ?

Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurus Diplomasi Kiai Wahid Hasyim

Kiai Wahid Hasyim piawai dalam memainkan jurus diplomatik. Jurus-jurus diplomatik Kiai Wahid diuji ketika ia menghadapi Jepang, pada proses menuju kemerdekaan Indonesia. Ketika Jepang merangsek sebagai penjajah, atau Saudara Tua di Asia Timur Raya, mereka dikenal bengis dan brutal dalam merampungkan operasi militer. Pada awalnya, pihak Jepang menjepit para kiai pesantren, bahkan beberapa dijebloskan ke penjara. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (1875-1947) termasuk kiai yang dijeblokasn ke penjara. Inilah tantangan berat bagi para kiai NU dan pengasuh pesantren.?

Sikap NU terhadap rezim kolonial Jepang lebih lunak dibandingkan dengan sikap terhadap Belanda. Pada titik tertentu, NU menjalin kerjasama dengan Jepang, ketika menerima tawaran dalam pembentukan Kementrian Agama, serta pengerahan milisi sipil dalam Hizbullah dan Sabilillah. Pemerintah Jepang berusaha menarik dukungan dari kekuatan ? dari kelompok anti-Belanda dengan menggandeng ormas-ormas Islam.

Bupati Tegal

Pemerintah Jepang mengundang 32 ulama, di antaranya Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Mahfudz Siddiq dan Kiai Wahid Hasyim, dalam sebuah pertemuan di Jakarta. Pada agenda ini, Kepala Pemerintah Militer Jepang (Gunseikan) minta maaf kepada umat Islam, tentang polisi militer Jepang yang dianggap brutal. Dari pihak Jepang, mereka beralasan karena para polisi militer tidak memahami budaya dan karakter umat Islam. Bahkan, setelah pertemuan ini, pemerintah Jepang terlihat lebih bersahabat dengan kelompok muslim, dan menghapus upacara Seikere (penyembahan dewa Matahari).?

Pada November 1943, atas diplomasi Kiai Wahid Hasyim dan kiai pesantren, terbentuklah Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Awalnya, Masyumi dipimpin oleh Kiai Hasyim Asy’ari. Namun, karena kesibukan mengasuh pesantren dan kondisi fisik yang sudah sepuh, kewenangan mengomando Masyumi dipegang oleh Kiai Wahid Hasyim, putra Hadratus Syaikh (Khuluq, 2000: 142).?

Dalam struktur kepengurusan, Masyumi dipenuhi oleh tokoh-tokoh Islam yang tersebar dari berbagai tradisi dan organisasi. Dari NU, Muhammadiyah dan beberapa ormas Islam. Tujuan Masyumi, yakni mengkoordinasi para ulama serta mengusung semangat juang untuk cita-cita kemerdekaan.?

Di sisi lain, ada pula usaha untuk mengumpulkan dana umat dari pengelolaan pertanian yang kemudian disetorkan ke baitul mal. Di antara pengelola unit usaha ini, yakni Faqih Usman, Ghafar Ismail, Sukiman dan Kiai Wahid Hasyim. Inilah unit usaha yang berusaha untuk memperjuangkan ekonomi dan kesejahteraan warga muslim. Perjuangan di bidang pendidikan juga digarap dengan serius. Kiai Wahid Hasyim mengajak beberapa rekannya untuk bergerak mengembangkan pendidikan. Di antaranya: Drs Ahmad Sigit, M Natsir, Kiai Muhammad Junaidi, dan beberapa tokoh penggerak lainnya (Syamsul AH, 2003: 80-83)

Di bidang pers, Kiai Wahid juga mendorong para tokoh pemuda untuk berkontribusi. Yakni mendirikan majalah ‘Suara Muslimin’ yang dikelola oleh Kiai Saifuddin Zuhri, Harsono Cokroaminoto dan beberapa jurnalis lainnya.?

Bupati Tegal

Di bidang diplomasi militer, Kiai Wahid bergerak untuk meyakinkan Jepang pentingnya membentuk laskar komando dari pemuda muslim. Maka, terbentuklah Hizbullah yang dipimpin oleh Kiai Zainul Arifin, pejuang tangguh dari Tanah Barus. Awalnya, Hizbullah dimaksudkan untuk menjadi paramiliter yang bertugas di garis depan komando militer Jepang. Tujuan politis Jepang, yakni menjadikan para pemuda muslim sebagai tameng dari serbuan musuh. Namun, dengan canggih dan jitu, Kiai Wahid berhasil meyakinkan pihak otoritas militer Jepang, agar menempatkan Hizbullah di dalam negeri. Argumentasi Kiai Wahid, tentu putra bangsa akan semakin semangat jika mempertahankan tanah airnya.

Laskar Hizbullah terbentuk karena latar belakang berperang dalam mempertahankan agama Islam, wajib hukumnya. Pada saat itu, Jepang berusaha menggiring para pemuda masuk komando Heiho. Abdul Hamid Nobuharu Ono, utusan Jepang, melakukan lobi politik kepada Kiai Wahid Hasyim. Hamid Ono, merupakan utusan diplomatik pemerintah Jepang untuk mendekati para kiai pesantren. Ono merupakan muslim dan pernah beribadah haji, bersamaan dengan utusan lain, yakni Abdul Munim Inada, Saleh Suzuki, Mohammad Taufik Sasaki, dan Abdul Munir Watanabe (Abdul Aziz, 2012: 201). ?

Di sinilah kecerdikan Kiai Wahid teruji. Ia tidak menolak permintaan Jepang, namun menggeser kepentingang dengan menggabungkan para pemuda muslim, yang mayoritas sebagai santri dan terkoneksi dengan jaringan pesantren, masuk dalam barisan Hizbullah. Para milisi Hizbullah mendapatkan pelatihan dari militer Jepang, hingga terlatih menghadapi perang dengan strategi-strategi taktis. Kelak, Hizbullah menjadi tulang punggung dalam perjuangan kemerdekaan, dari kalangan santri-kiai.?

Hizbullah menjadi referensi bagaimana pejuang muslim bergerak untuk mempertahankan tanah air, dengan segenap usaha, tangis dan darah juang. Hizbullah secara resmi dibentuk pada 14 Oktober 1944. Slogannya yang terkenal: isy kariiman au mut syahiidan (hidup mulia atau mati syahid). Laskah Hizbullah merupakan laskar santri, yang tersebar di beberapa kawasan dengan jaringan santri. Para ulama membentuk Laskar Sabilillah yang dikomando Kiai Masykur dan Laskar Mujahidin yang dipimpin Kiai Wahab Chasbullah.?

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN-PBNU) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 09 November 2017

Kalangan Muda NU Pemalang Ngaji Penulisan dan Kepemimpinan

Jakarta, Bupati Tegal. Sedikitnya 70 pemuda NU yang terdiri atas pelajar, santri dan mahasiswa mengikuti pelatihan jurnalistik dan kepemimpinan. Pada kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Gusdurian Gunung Slamet yang tergabung dalam wadah Semesta Ilmu Learning Center, pelajar dan mahasiswa datang dari pelbagai sekolah berwawasan Aswaja di Pemalang bagian selatan dan sekitarnya.

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama Komunitas Gusdurian Gunung Slamet dan SMK NU 01 Belik dan Suara Merdeka. Bahkan para mahasiswa NU yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Pemalang cabang Pekalongan ikut dalam pelatihan ini.

Kalangan Muda NU Pemalang Ngaji Penulisan dan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Muda NU Pemalang Ngaji Penulisan dan Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Muda NU Pemalang Ngaji Penulisan dan Kepemimpinan

Koordinator Gusdurian Gunung Selamet yang juga Manajer Program Semesta Ilmu Learning Center Abdul Azis Nurizun membuka pelatihan yan diadakan selama dua hari.

Bupati Tegal

Azis Nurizun yang juga Kepala SMK NU 01 Belik mengatakan, kita berharap pelatihan jurnalistik dan kepemimpinan ini, bisa mencetak generasi muda NU unggul yang mandiri. Apabila generasi muda NU memiliki keterampilan menulis dan didasari dengan nilai-nilai kepemimpinan tidak menutup kemungkinan akan membawa mereka pada masa depan yang lebih baik.

Bupati Tegal

"Saya berharap kegiatan ini ada tindaklanjutnya secara berkesinambungan, sehingga pelatihan semacam ini untuk kader-kader pelajar muda NU bisa dilaksanakan rutin setiap tahun. Meskipun baru pertama kali diselenggarakan di SMK NU 01 Belik, minat dan respons dari peserta sangat baik. Hal itu terlihat dari banyaknya peserta yang datang, sampai dari Pekalongan," tuturnya, Senin (19/10).

Kepala Biro Suara Merdeka Trias Purwadi yang didampingi tim jurnalisnya dalam kesempatan itu menyampaikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik dan menulis berita. Menurut pemaparan tim itu, untuk bisa menulis tidak harus menjadi wartawan. Untuk bisa menulis hanya perlu pelatihan dan harus mengetahui dasar-dasar menulis yang benar. Keterampilan menulis sangat berguna bagi setiap orang khususnya yang masih berkecimpung dalam dunia pendidikan. Sebab, pada saat sekolah murid diwajibkan untuk bisa menulis baik membuat tugas, laporan, artikel, ataupun skripsi bagi mahasiswa.

"Saya salut dengan generasi muda NU Pemalang Selatan, terutama Semesta Ilmu dan SMK NU 01 Belik ini. Meskipun baru berdiri beberapa tahun tetapi sudah berani dan bisa menyelenggarakan pelatihan jurnalistik. Belum tentu sekolah yang berdiri lama dan sudah mapan berani dan bisa menyelenggarakan pelatihan semacam ini," kata tim Suara Merdeka.

Sedangkan materi kepemimpinan disampaikan oleh tim dari Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Pemalang cabang Pekalongan dan motivator Asep Awaludin.

Ia memandang pentingnya leadership atau kepemimpinan tumbuh sejak mengenyam pendidikan awal, supaya ke depan tumbuh bibit-bibit pemimpin yang mandiri dan tangguh serta berakhlaqul karimah, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para ulama-pejuang pendiri jamiyyah NU.

"Fitrah manusia lahir untuk menjadi pemimpin, minimal menjadi pemimpin dalam rumah tangganya kelak. Karena itu, generasi pelajar muda NU harusnya sejak dini mengasah diri dalam berorganisasi agar kelak lahir calon pemimpin yang mumpuni dan berakhlaq Ilahi seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan pendiri negeri ini serta kiai pendiri Nahdlatul Ulama," kata Ketua IMPP Pekalongan Samsul Maarif. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren Bupati Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

Oleh Cakra Pramudhita

“Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala (Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer.”

(Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

 

Pada 24 Februari 2015, IPNU menapaki tahun ke-61. Para pendirinya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya dibawah naungan LP Ma’arif dan kemudian menjadi underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan, pelajar, dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.

Deskripsi dan usulan perubahan dari penulis mudah-mudahan mampu memaksa kita untuk mere-institusionalisasi dirinya. Jika tidak, mudah-mudahan selalu muncul gagasan alternatif dari kader-kader lain yang bisa menjadi common platform bagi pengembangan institusi yang memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan terkini dengan diferensiasi karakteristik yang khas. Jika tidak ada sama sekali agenda berupa gagasan dan langkah konkret dalam mereorganisasi maka secara otomatis eksistensi dan peran IPNU akan terus memudar.

Membaca Masa Kini

Bupati Tegal

Adapun bagi IPNU yang telah menginjak usia 61 tahun, jika diumpamakan dengan usia manusia, IPNU sekarang adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia. Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memang kurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi IPNU saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki IPNU yang mengabaikan mandat institusi.

Beruntung PP IPNU masih belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader, sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan pada cabang-cabang, anak cabang, dan ranting, karena sebagian kecil pengurus-pengurus IPNU di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi IPNU di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konferwil, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala IPNU yang masih terus mentradisi. Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.

Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan pada daerah? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi IPNU Sebagian besar hanya menjadikan IPNU sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post - IPNU dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Tantangan eksternal IPNU

Bupati Tegal

Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.

Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala pelajar - mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh sumber daya yang andal dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

IPNU sebagai organisasi kader

Berulang kali disampaikan di berbagai ruang pengkaderan bahwa organisasi hampir selalu didikotomikan ke dalam organisasi massa atau kader, organisasi profesional atau voluntarian, dan organisasi tradisional atau modern. Prinsip-prinsip dasar antara bentuk, isi, dan sifat tersebut nyaris tidak bisa disatukan. Meskipun bisa, akan selalu memunculkan kontradiksi di dalamnya. IPNU harus berani memilih tipologi atau karakteristik yang jelas karena sesungguhnya berada di grayscale area seperti saat ini tidak selalu nyaman dan baik. Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat dua ciri yang khas melekat di dalam organisasi kader: disiplin terhadap nilai dan disiplin terhadap institusi kepemimpinan (struktur). Dua bentuk kedisiplinan ini tidak bisa ditawar. Menegasikan salah satunya hanya akan membuat institusi menjadi pincang, menciptakan ketidakteraturan (disorder), dan menimbulkan kerapuhan. Di manapun ada institusi kader maka kedua kedisiplinan ini selalu melekat.

Jika kita ingin melongok sedikit ke dalam ritus, maka institusi kader yang efektif bisa terefleksi di dalam sholat berjama’ah. Di dalam sholat berjama’ah, seseorang bisa menjadi imam karena memiiliki syarat khusus (special conditions) yang berbeda dengan syarat yang juga dimiliki oleh bilal, muadzin, makmum, bahkan pemukul beduk. Oleh karena syarat ini terbatas dipenuhi dalam sebuah situasi yang demikian maka tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama memainkan peran yang dilakoni dalam sebuah momentum sholat berjama’ah.

Maksud dari analogi di atas adalah bahwa setiap anggota terdiferensiasi dalam kapasitas yang berbeda. Untuk mencapai kapasitas tertentu tiap anggota harus melakukan upgrading level. Dalam proses ini, institusi berkewajiban memberikan kesempatan dan tahapan proses yang sama bagi semua anggota untuk dapat melakukannya. Itulah yang dinamakan kaderisasi. Seorang imam akan terus dipatuhi perintahnya selama memiliki kesesuaian dengan tata cara dan aturan sholat. Bila melenceng dari tata cara dan aturan sholat maka barisan (makmum) dapat memberikan kritik secara terbatas dan teratur. Oleh karena imam seorang manusia, maka keimaman seseorang dapat batal dan digantikan oleh makmum yang memiliki kapasitas yang mendekati kapasitas imam.

Barisan yang berada tepat dibelakang imam, terutama yang berada persis di belakang imam, adalah juga orang yang telah siap menjadi seorang imam manakala kondisi yang tidak diharapkan mendera sang imam, termasuk intervensi secara kasar dari luar. Ada keberlanjutan untuk tetap mengokohkan dan mempertahankan kondisi tersebut untuk tetap berusaha sampai pada tujuan bersama.

Di dalam organisasi kader, kepentingan individu telah termanifestasi menjadi kepentingan institusi. Munculnya ruang konflik yang mengakibatkan disintegrasi institusi terjadi karena interpretasi atas nilai dan perilaku elite atau pengurus organisasi dalam hal ini tetap dimungkinkan. Namun, kemungkinan tadi menjadi sangat kecil jika saja kepemimpinan sebagai sebuah faktor krusial di dalam organisasi dapat berjalan secara baik. Pada dasarnya pemimpin memiliki otoritas untuk memilih berbagai opsi strategi. Strategi dan taktik yang digunakan dapat dinilai baik manakala output-nya sesuai dengan tujuan organisasi.

Sudahkan IPNU menjadi organisasi kader?

Sebelum sampai kepada pilihan tadi, mari kita mencoba menengok realitas yang ada di IPNU sehingga mudah-mudahan terdapat sedikit kesamaan persepsi atau bahkan konklusi. Meskipun, dari situ saja akan memunculkan kemungkinan opsi perubahan yang berbeda di benak kepala kader. Di berbagai kesempatan ketika berinteraksi dalam kegiatan kaderisasi formal maupun non formal di Surabaya maupun di daerah lain, kita akan dikejutkan dengan realitas yang cukup “membingungkan”. Kebingungan tersebut bermula dari lontaran sebuah pertanyaan bagi kita bersama: “ apakah tujuan IPNU berdasarkan dari apa yang tercantum di Anggaran Dasar?” Mayoritas dari mereka yang ditanya umumnya tidak mampu menyebutkan tujuan IPNU. Belum lagi kalau ditanyakan apakah ideology IPNU, mayoritas mengalami kebingungan apakah ideology IPNU adalah Pancasila atau Aswaja, kedua-duanya atau salah satunya. Atau bahkan, bukan keduanya.

Di lain kesempatan, kita yang ada dalam kepengurusan ini mungkin akan bertanya, “apakah kita sudah menjadi organisasi kader?”. Dipastikan seluruhnya menjawab bahwa IPNU merupakan organisasi kader. Mereka berargumentasi ada proses kaderisasi formal yang dilakukan oleh institusi. Hanya sebatas itu. Kalau mau jujur, berdasarkan pengamatan menghadiri banyak kegiatan kaderisasi formal, kegiatan kaderisasi formal benar-benar hanya merupakan formalitas. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pendapat tersebut.

Pertama, kegiatan kaderisasi formal masih baru dilihat sebagai prosedur teknis belaka yang ditujukan untuk memenuhi keabsahan pengurus di mata PD/PRT. Untuk hal ini, tidak aneh jika terjadi penyimpangan terhadap standar materi atau kurikulum maupun format kaderisasi yang seharusnya dijadikan acuan.

Kedua, kegiatan kaderisasi formal masih diproyeksikan untuk meningkatkan prestise pengurus semata dengan indikator jika secara kuantitas diikuti oleh banyak peserta tanpa mempetimbangkan kualitas pengetahuan dan proses yang sudah dilalui peserta sebelum kegiatan. Walhasil, ketika materi kaderisasi disampaikan, akibat disparitas pengetahuan dan proses, praktis hanya dalam persentase yang cukup kecil yang dapat mengikuti alur materi secara baik.

Ketiga, bagi peserta kegiatan kaderisasi formal, keikutsertaan dan sertifikat kelulusan menjadi prioritas agar dapat digunakan sebagai syarat untuk berkarir dalam jenjang berikutnya. Dari beberapa alasan tadi, maka sangat wajar kemudian banyak pengurus, untuk ini saya sangat yakin, tidak mengetahui tujuan IPNU, (mungkin juga termasuk saya), serta strategi untuk mencapainya. Hal ini juga masih ditambah pada minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi pilar untuk bergerak.    

Untuk menjadi institusi kader yang efektif maka perlu memiliki disiplin terhadap kepemimpinan. Aturan main yang sudah jelas harus dapat dipatuhi. Kepemimpinan bukan penghias hasil konferensi tetapi juga dilihat sebagai mandat organisasi. Sejauh sang pemimpin masih berjalan sesuai koridor dan menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan organisasi maka ia harus ditaati. Sanksi organisasi bukan hanya pelengkap peraturan organisasi. Sanksi diberlakukan bagi mereka yang mengabaikan kebijakan organisasi atau dalam hal ini direpresentasikan oleh pemimpin.

Dari pengamatan selama ini, selain kepemimpinan juga ada format struktur yang harus dibenahi. Format PP, PW, dan PC yang ada saat ini tidak memungkinkan organisasi kita menjadi organisasi kader. Untuk mencapainya, format yang memungkinkan harus ditunjang dengan kerangka operasional berupa tugas pokok dan fungsi yang sistematik dan jelas. PP masih menjadi organisasi yang terlalu besar (periode 2012 - 2015 terdiri dari 120-an personel) di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi. Walhasil, terlalu banyak tumpang tindih fungsi sehingga malah kerap kali menyebabkan disfungsi. PC pun juga demikian, di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi.

Jika kaderisasi telah berjalan secara baik di mana tujuan organisasi telah tercapai maka operasionalisasi konsepsi kader dapat di perluas. Rencana dan kebijakan strategis jangka panjang di dalam ruang yang lebih besar baik di masyarakat dan negara dapat dilakukan di level institusi alumni. Istilah kader pun kemudian dapat dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pengabdi, pejuang, dan pelayan dalam spektrum apapun yang menjalani tindakannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di IPNU meskipun sudah tidak lagi mempunyai ikatan institusional dengan IPNU.

Almarhum KH.Tolchah Mansoer dan para founding fathers IPNU mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite”. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik.

Kini, IPNU sudah diambang pintu untuk tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh KH Tolchah Mansoer, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat, setidaknya masyarakat pelajar, oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini. 

Kini, 61 tahun sudah IPNU berkhidmah untuk Indonesia. Catatan di atas hanya merupakan upaya melakukan debunking (penelanjangan atau pembongkaran) agar ada upaya koreksi dan perbaikan bersama dari semua unsur di IPNU dalam momentum Hari Lahirnya yang ke 61 hari ini.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq

 

Cakra Pramudhita, pengurus PC IPNU Kota Surabaya

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, Pesantren, Quote Bupati Tegal

Rabu, 04 Oktober 2017

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII

Rembang, Bupati Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem mengimbau agar Muktamar ke-33 NU di Jombang Jawa Timur menegaskan posisi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Organisasi mahasiswa ini seolah netral, namun kenyataannya merupakan bagian dari NU dan hampir selalu terlibat dalam kegiatan NU.

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Harus Mengambil Sikap Terkait PMII

Ketua PCNU Lasem KH Shalahudin Fattawi (Gus Din) kepada Bupati Tegal di Rembang, Senin (27/7) mengatakan, jangan sampai kondisi ketidakjelasan ini dibiarkan berkepanjangan. Kasus PMII sudah harus dapat diputuskan oleh NU dalam muktamar mendatang.

Selama ini PMII berada di sekitar NU dan mengakses berbagai fasilitas NU, namun dengan menyatakan independen itu seakan PMII tidak mau diatur oleh NU.

Bupati Tegal

"Nahdlatul Ulama harus mengambil sikap pada muktamar yang akan datang, terkait dengan PMII yang memilih seolah independen tetapi masih menggunakan NU. Hal ini harus diakukan jika NU mau memperkuat keorganisasian,” katanya.

Shalahudin berpendapat, NU harus mempeketat sistem keadministrasian dan pola hubungan dengan badan otonom atau organisasi-organisasi yang bernaung di bawah NU.

Bupati Tegal

"NU harus mulai memperkuat halaqoh keadministrasian, untuk saling terjalinnya komunikasi antara badan otonom bersama dengan NU. Penekanan juga harus ditegaskan dalam AD ART,” katanya.

Pihaknya juga menghimbau kepada PMII agar menengok kembali apa dan bagaimana PMII itu dibentuk dan dirikan, serta menegaskan hubungan dengan NU. (Ahmad Asmui/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren, Quote, Santri Bupati Tegal

Selasa, 26 September 2017

Sinta Nuriyah: Puasa Ajarkan Persaudaraan Sejati

Tasikmalaya, Bupati Tegal. Dalam kegiatan sahur keliling di gedung ukhuwah Islamiyah Cipasung, Rabu (24/6) Sinta Nuriah mengatakan, bahwa puasa itu bukan hanya menahan dahaga dan lapar, tapi puasa mengajarkan kita budi pekerti yang luhur dan persaudaraan sejati.

Sinta Nuriyah: Puasa Ajarkan Persaudaraan Sejati (Sumber Gambar : Nu Online)
Sinta Nuriyah: Puasa Ajarkan Persaudaraan Sejati (Sumber Gambar : Nu Online)

Sinta Nuriyah: Puasa Ajarkan Persaudaraan Sejati

Acara yang dilaksanakan oleh Puan amal hayati Cipasung dan Komunitas lintas Agama Tasikmlaya ini dihadiri oleh anak yatim, janda, santri, dan berbagai profesi “tukang” seperti tukang ojek, tukang becak dan lain-lain.

Istri mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu menerangkan, bahwa ketika kita berpuasa, maka kita merasakan lapar, dan dengan ini kita bisa merasakan apa yang dialami oleh orang-orang yang kurang beruntung, dengan ini kita bisa tenggang rasa dan berkeinginan untuk berbagi dan memberi dengan ikhlas.

Bupati Tegal

“Memberi dengan ikhlas itu memunculkan rasa persaudaraan yang sejati terhadap seluruh anak bangsa,” ujarnya.

Semua suku, ras, agama dan lainnya, lanjut ibu 4 anak ini, semua tinggal di Indonesia, berarti mereka adalah bangsa Indonesia.

“Nah kita dan mereka sama-sama warga Indonesia, saling bersaudara harus saling menghargai, menghormati, menyayangi, dan saling menolong satu sama lain,” tuturnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pemurnian Aqidah, Pesantren Bupati Tegal

Rabu, 30 Agustus 2017

Kasus Aceh Singkil, PBNU Minta Semua Pihak Tenang

Aksi pembakaran gereja dilakukan sejumlah oknum di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, Selasa siang, (13/10). Peristiwa tersebut telah menyebabkan korban jiwa dan kerugian materil.

PBNU menyesalkan kejadian tersebut. Apapun alasan yang melatarbelakangi, main hakim sendiri dengan cara kekerasan tidak bisa dibenarkan hukum.

Kasus Aceh Singkil, PBNU Minta Semua Pihak Tenang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Aceh Singkil, PBNU Minta Semua Pihak Tenang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus Aceh Singkil, PBNU Minta Semua Pihak Tenang

Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama akhak. Islam agama yang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu, Rasulullah Muhammad SAW meneladankan dakwah bil hikmah wal mauidzatil hasanah. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl 125).

Menyusul peristiwa pembakaran ini, PBNU menyerukan agar pihak-pihak yang bersengketa saling menahan diri. Sikap teduh untuk menjaga suasana tetap tenang dan kondusif sangat dibutuhkan di Aceh Singkil, khususnya di lokasi kejadian untuk saat-saat sekarang ini.

Bupati Tegal

PBNU meminta aparat bertindak persuasif dengan sesegera mungkin membuat langkah-langkah mediasi. Pemda setempat dengan segenap unsur Muspida, ulama, tokoh masyarakat, dalam hal ini hendaknya mengedepankan prinsip-prinsip maslahah ‘ammah dan penegakan hukum yang tegas, adil, dengan tetap mengedepankan ahlakul karimah.

Bupati Tegal

Jakarta, 13 Oktober 2015

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum

H.A. Helmy Faishal Zaini

Sekretaris Jenderal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren, Lomba Bupati Tegal

Kamis, 24 Agustus 2017

Gus Mus: Kearifan Lokal Harus Dijaga Bersama

Semarang, Bupati Tegal

Kearifan lokal harus dijaga dan dikembangkan bersama-sama. Pengembangan itu dilakukan dengan menjaga dan melestarikan budaya bangsa, termasuk budaya Jawa. 

Hal itu disampaikan KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus, wakil Rais Aam PBNU saat mengisi acara seminar nasional dengan tema “Memperkokoh Kearifan Lokal Sebagai Pondasi Pembangunan Karakter Bangsa” di aula I kampus 1 IAIN, Ahad, (14/4).

Gus Mus: Kearifan Lokal Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Kearifan Lokal Harus Dijaga Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Kearifan Lokal Harus Dijaga Bersama

“Upaya memperkokoh kearifan lokal bangsa, diantaranya kita harus bersama-sama nyengkuyung mengembangkan kearifan lokal. Menghidupkan kembali kearifan lokal dengan melestarikan budaya bangsa, misalnya wayang kulit dan budaya lain di Indonesia. Bagi masyarakat yang lupa terhadap kearifan lokal, ya perlu kita ingatkan,” paparnya.

Bupati Tegal

Wayang itu merupakan kearifan lokal yang tidak melanggar syariat Islam. “Kenapa wayang sebagai cagar budaya bangsa bikinan Sunan Kalijaga atau Raden Said Lokojoyo, salah satu Walisongo kok dijauhi para santri, itu kan harus dirawat dan diuri-uri,” katanya.

Wayang versi Jawa merupakan hasil adaptasi dari kisah Mahabharata dan Ramayana dari India, yang skenarionya sudah dimasuki ajaran-ajaran Islam. Jika mencocokkan wayang Indonesia dengan India tidak sama karena sudah dirubah oleh Sunan Kalijaga. Misalnya, Drupadi dalam versi Mahabarata India itu istrinya orang lima, jadi poliandri, istrinya Yudhistira, istrinya Bima, Arjuna, Nakulo dan Sadewo. Oleh Sunan Kalijaga dirubah Drupadi hanya istrinya Yudistira.

Bupati Tegal

Sunan Kalijaga bikin wayangnya juga memahami aspek Ushuluddin atau dasar-dasar agama, dalil man suwaro suurotan, tidak membolehkan membuat patung manusia. 

Wayang itu bukan manusia, karena matanya cuma satu, makanya dikatakan semata wayang, tangannya beda dengan orang. 

“Sunan Giri gak bisa menghukumi secara fikih, karena itu bukan manusia. Tapi ketika dimainkan Sunan Kalijaga, wayang itu seperti manusia nyata,” tandasnya.

Keseimbangan Dunia-Akhirat

Dia menambahkan, kearifan lokal itu juga terkait dengan keseimbangan dunia dan akhirat, merasa cukup dan bersyukur terhadap pemberian Allah. Karena kearifan lokal itu memandang dunia, intinya memandang dunia itu apa?  

“Jangan menganggap dunia itu segalanya, itu menyalahi kearifan lokal. Kita juga tidak boleh melecehkan dunia bahwa dunia itu gak penting, tapi kita beri nilai berapa dunia itu. Keseimbangan nilai antara dunia dan akhirat itulah yang paling penting,” tambahnya.

Gus Mus mencontohkan, kenapa harus merampok uang rakyat kalau sudah punya uang banyak. Kenapa? Karena memandang dunia itu segalanya. Ini hal pokok yang perlu diperhatikan. 

“Kita harus kembali ke kearifan lokal. Kita memandang dunia itu apa adanya, hanya ampiran, mampir ngombe saja, atau kalo agak lama mampir hotel, rodo suwe,” ungkapnya yang disambut tawa para peserta seminar.

Energi untuk dunia dan energi untuk akhirat itu harus proporsional. Allah berfirman: wabtaghi fiima aatakallah al-daaroh akhirah. Di dunia ini bekerja, tapi juga untuk kebahagiaan akhirat, jangan melulu dunia terus.

“Sebagai orang yang berilmu, kita bisa hidup di dunia sekaligus mementingkan akhirat. Kalo kita punya ilmunya, kita bisa tidur sekaligus beribadah, kita makan sekaligus beribadah, kita tidak makan sekaligus beribadah, kita tidur sekaligus beribadah,” papar pengasuh pesantren Radlautul Thalibin Rembang tersebut. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Akhmad Shoim

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pesantren, Habib Bupati Tegal

Sabtu, 12 Agustus 2017

Hasyim Muzadi Kunjungi Korban Bentrok Pasuruan

Malang, Bupati Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, Sabtu (2/6) mengunjungi korban luka tembak warga Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Dalam kunjungan singkat tersebut, Hasyim juga menyempatkan menjenguk korban kecelakaan truk yang menelan 15 korban meninggal di Sedaeng, Pasuruan.

Hasyim Muzadi Kunjungi Korban Bentrok Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi Kunjungi Korban Bentrok Pasuruan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi Kunjungi Korban Bentrok Pasuruan

"Keluarga yang ditinggalkan maupun yang menjadi korban bentrok antara warga dengan aparat TNI AL harap bersabar. Ini merupakan sebuah tindakan kezaliman," ujarnya di sela menjenguk korban di ruang 13 atau ruang akut bedah RSSA.

Hasyim datang dengan rombongan sekitar pukul 08.30 WIB dan langsung masuk ke ruang 13. Dalam kunjungannya, Hasyim langsung bertanya pada salah satu korban Erwanto (21) tentang keadaannya, didampingi petugas dan pihak RSSA.

Dalam dialognya dengan Erwanto, ditanyakan seputar kejadian bentrok di Alas Tlogo yang menewaskan empat orang dua diantaranya perempuan. Selain itu, minta penjelasan dari pihak RSSA terkait dengan kondisi kedua korban.

Bupati Tegal

"Kasihan sekali, warga yang selama ini membayar pajak untuk kepentingan negara, malah dijadikan korban terutama ibu-ibu dan anak-anak," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Menurut Hasyim, peristiwa bentrok antara warga dengan aparat TNI AL seharusnya bisa dicegah, asalkan melalui prosedur yang jelas. Dalam kunjungan pada korban luka tembak di RSSA, ia juga memberikan bantuan pada dua korban, yaitu Choirul anwar (3) dan Erwanto (21) serta berdoa bersama di ruang 13 RSSA. (sbh/sm)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal RMI NU, Pesantren, Sunnah Bupati Tegal

Minggu, 09 Juli 2017

Junjung Toleransi Antarumat Beragama, Jombang Tuan Rumah AYIC 2017

Jombang, Bupati Tegal. Sebanyak 100 pemuda dari negara-negara anggota dan mitra ASEAN akan mengikuti ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 yang digelar di Jombang Jawa Timur, Oktober mendatang. Ditunjuknya kota yang memiliki ratusan pondok pesantren ini sebagai tuan rumah, karena kekuatan toleransi antar umat beragama yang terbangun dengan baik.

“Jombang memiliki sejarah panjang sebagai daerah yang menjunjung tinggi dan menghormati keberagaman,” kata Isman Pasha, Kasubdit Kerjasama Pembangunan Sosial Kementerian Luar Negeri usai peresmian Taman ASEAN yang terletak di Jl Wahid Hasyim, Jumat (2/6).

Junjung Toleransi Antarumat Beragama, Jombang Tuan Rumah AYIC 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Junjung Toleransi Antarumat Beragama, Jombang Tuan Rumah AYIC 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Junjung Toleransi Antarumat Beragama, Jombang Tuan Rumah AYIC 2017

Jombang yang memiliki ratusan pesantren ini, diakatakan Isman bisa menjadi laboratorium sekaligus contoh yang sangat layak untuk diperlihatkan kepada masyarakat Internasional sebagai pengejewantahan pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Bupati Jombang, Nyono Suharli mengatakan, sejak ditetapkan sebagai tuan rumah AYIC 2017, ? pihaknya sudah meyiapkan berbagai langkah. “Sejak ditunjuk menjadi tuan rumah beberapa bulan lalu sudah kami siapkan untuk pelaksanaan Oktober nanti,” kata Bupati Nyono kepada awak media usai acara.

Ia pun berharap kegiatan yang bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan Pusat Studi ASEAN Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (PSA) Jombang ini bisa terlaksana dengan lancar. Meski kegiatan yang mengambil tema “Islam Rahmatan Lil Alamin dan Harmony Diversity” ini merupakan yang pertama kalinya digelar di Indonesia.

Bupati Nyono juga berjanji akan mempromosikan potensi yang ada di Kabupaten Jombang nantinya. Baik potensi wisata, perekonomian maupun kekuatan toleransi antar umat beragama. “Kita tahu tokoh bangsa dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) juga lahir dan ada di Jombang. Maka untuk memperkenalkan kekuatan toleransi yang digagas para tokoh dari Jombang itu sudah tepat untuk pemuda ASEAN,” bebernya.

Bupati Tegal

Sementara itu, mengawali kegiatan AYIC di Jombang, dilakukan pengibaran 10 bendera negara anggota dan 1 bendera ASEAN di Jl Wahid Hasyim dan juga peresmian Taman ASEAN tepatnya di selatan sisi selatan Ringin Contong Kabupaten Jombang. “Pengibaran bendera dan peluncuran taman ASEAN ini rangkaian persiapan acara untuk Oktober nanti. Semoga bisa lancar, persiapan terus kami lakukan,” tandas Nyono.(Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Berita, Pesantren, Pahlawan Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock