Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

Yogyakarta, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, bekerjasama dengan Rapi Film, Gajah Wong, dan Lesbumi mengadakan acara “Dialog Bersama Artis dan Pemuturan Trailer Film Sang Kyai”, Jum’at siang (17/5), di Ngaben Resto, Jl. Manggis No.77 Nologaten, Yogyakarta.

Sutradara dan dua pemeran utama dalam film Sang Kiai pun didatangkan. Rako Prijanto sebagai Sutradara, Ikranagara yang berperan sebagai Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan Christine Hakim yang berperan sebagai Ibu Kapo, istri mbah Hasyim. Dialog ini dipandu oleh ketua Lesbumi, A. Zastrouw.

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

M. Jadul Maula, dalam sambutannya mewakili PWNU DIY mengatakan bahwa film ini akan mendudukkan kembali hubungan antara agama, pesantren, dan budaya. Film ini, lanjut Jadul, lebih bisa diapresiasi kehadirannya daripada buku, karena dapat menghadirkan imajinasi yang utuh tentang sosok mbah Hasyim dalam kehidupan sehari-ahri.

Bupati Tegal

Wakil Rais Syuriah PWNU DIY ini juga menghimbau agar semua elemen menyambut baik kehadiran film ini. “Segera berbondong-bondong ke bioskop tanggal 30 Mei, dengan niat ngaji dan tafa’ul ‘mencari gambaran atau uswah’ dalam menjalankan kehidupan, dari perjuangan mbah Hasyim dalam mempertahankan bangsa ini. Biar barakah,” tandas Kang Jadul.

Bupati Tegal

Dialog pun berlangsung. Diawali dengan penuturan sang sutradara, Rako Prijanto, yang menceritakan proses pembuatan film ini yang menghabiskan sekitar waktu 3 tahun untuk mempersiapkan semua. “Persiapannya satu tahun, kemudaian riset data selama dua tahun,” paparnya.

Rako juga menceritakan akan betapa beratnya kepercayaan yang harus diemban dalam menggarap film ini, sekaligus dengan kendala-kendala yang dihadapi. Namun ia mengaku lega ketika semua telah selesai. “Dengan perjuangan selama tiga tahun setengah, akhirnya bisa dirilis juga,” ujarnya di depan peserta diskusi siang itu.

Sementara Ikranagara, pemeran mbah Hasyim, mengawali ceritanya dengan membaca surat al-‘ashr. Menurutnya, surat al-‘ashr menjadi sangat penting dalam mencari ruh dari tokoh yang dijalaninya. Dan sebagai salah satu langkah pendalaman peran, ia mengaku sering membaca surat al-‘ashr dalam setiap sholatnya. “Tokoh ini – mbah Hasyim – seperti yang ada dalam surat al-‘ashr. Beliau sosok yang sabar, namun juga tegas, terutama dalam hal akidah”, tuturnya.

Langkah lain dari pendalaman peran yang dilakukannya adalah dengan menjalani riset dengan keluarga mbah Hasyim, guna mengetahui bagaimana sosok mbah Hasyim di mata mereka. Tak hanya itu, ia juga mencoba memahami daerah Tebuireng, yang dahulunya merupakan daerah ‘kotor’, namun merupakan tempat berdakwah mbah Hasyim. “Jadi beliau benar-benar masuk ke dalam daerah ‘kotor’ untuk memperjuangkan nilai akidah,” tandasnya.

Christine Hakim mengatakan, dirinya menyelesaikan film tersebut dengan niat jihad atau syi’ar, karena bukan film biasa. Christine menceritakan bahwa ketika ia menerima tawaran peran sebagai istri mbah Hasyim, ia mengaku tidak membaca skenario dahulu, namun justru ia meminta buku untuk dapat mendalami peran dalam film tersebut.?

Ia juga bercerita, bahwa ia mendapatkan pengalaman spiritual yang banyak dalam peran yang dijalaninya. Ada momen penting yang begitu menyentuh dalam film ini, yakni ketika mbah Hasyim wafat. “Saya merasakan betul bahwa tidak mudah untuk menjadi mbah Hasyim. Beliau telah mendapatkan amanah untuk menjadi ayah, suami, pendiri pesantren, dan nasionalis”, ungkapnya sembari menitikan air mata.

Christine juga memuji akan kesantunan yang ada dalam diri mbah Hasyim, meskipun ilmunya tinggi. “Kesederhanaan, kesahajaannya, itu yang harus membuat kita untuk selalu berkirim do’a kepada beliau”, tandas perempuan yang juga pemeran film Tjoet Nja’ Dhien di akhir pembicaraan.

Dialog tersebut diakhiri dengan ungkapan A. Zastrouw tentang tiga hal yang harus dipahami dalam film Sang Kiai. Yakni, ketersinambungan antara agama dan kebangsaan, peran santri dalam mempertahankan NKRI, dan rekonstruksi makna jihad yang sebenarnya.?

Redaktur ? ? : A. Koirul Anam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, IMNU, Ulama Bupati Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

Judul: Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Penulis : Agus Sunyoto

Tebal Halaman: 282

Penerbit : TRANSPUSTAKA, 2011

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

ISBN : 978-979-3907-11-6

Peresensi: Dinno Munfaidzin Imamah *

Bupati Tegal

Abad 7 hingga ke-13, peradaban Islam menguasai dunia dengan ilmu dan teknologinya yang lebih unggul dari Barat. Kemudian dihantam dan diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan (Mongol). Peradaban Aztec dan Inca dihancurkan pada masa awal penjelajahan Eropa dengan teknologi perang yang lebih canggih. Bangsa-bangsa Afrika menderita selama ribuan tahun akibat perbudakan. Nusantara Kita dikangkangi Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang lebih dari 350 tahun lamanya. Inggris menguasai dunia dengan kemajuan teknologi perkapalan dan revolusi industri. Inggris menjajah India sejak abad ke-18. Cina di jajah negara-negara Barat dan Jepang pada abad ke-19. Pada Perang Dunia II, giliran Eropa dilindas Nazi Jerman. Jepang menjajah negara-negara Asia di Perang Dunia II. Amerika membom atom Jepang pada 1945. Bangsa yang unggul (superior) akan mudah mengalahkan bangsa yang lemah (inferior).Bangsa yang lemah, lembek akan dijadikan mangsa dan budak-budak serta kuli.

Bupati Tegal

Setiap gerak sejarah Nusantara takkan pernah lepas dari tali temali gejolak dunia. Konstelasi internasional merupakan satu-satunya faktor penentu peristiwa di Bumi Nusantara Kita. Berdirinya kerajaan Majapahit, dilatar belakangi saat Singosari bertabrakan dengan Khubilai Khan. Perjuangan konsolidasi Majelis Wali Songo yang dipelopori Sang Pembaharu, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Ampel merupakan refleksi dan aksi geo-religius dan geo-politik dari radikalisme agama di Tanah Persia yakni lahirnya ‘Sang Tuhan’ Dinasti Safawiyyah di bawah komando maharaja absolut perwujudan Tuhan, yang membabat habis Wali-Wali Tuhan tanpa sisa. Serta akan datangnya ‘pasukan Ya’juj Ma’juj Dajjal’ di bawah bendera Vasco Da Gama (Portugis). Kerajaan Mataram bisa berdiri karena Demak mengalami pelemahan setelah kalah bentrok dengan Portugis. Kemudian, Jepang masuk ke Indonesia saat Belanda lemah dikampung halamannya, dihantam badai swastika Nazi Hitler. Bumi Jepang luluh-lantak dan diratakan dengan tanah oleh kekuatan bom atom Amerika. Akhirnya, meledak dan lahirlah Kemerdekaan Nusantara yang saat ini kita nikmati bernama Bumi Indonesia.

Perjuangan Wali Songo

Ada adagium yang mengatakan bahwa sejarah adalah hasil kontruksi elit, di mana sejarah adalah cerita kemenangan yang umumnya ditulis oleh para pemenang dan penguasa. Artinya siapa yang mampu merekonstruksi sejarah, pastilah akan menjadi pemenang dan digdaya dalam menapaki rentang waktu yang penuh pergulatan dan pertempuran untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bertumpu dari adagium ini, perjuangan tokoh-tokoh besar sejarah Nusantara anggota Wali Songo dihapus dari Ensiklopedia Islam Indonesia (Terbitan Van Hoeve). Tidak bisa ditafsirkan lain kecuali adanya anasir-anasir sistematis dari keislaman mainstream Nusantara, faham Ahlusunnah Wal Jama’ah yang dikenal oleh kelompok Nahdhiyin (NU); untuk menghapuskan keberadaan perjuangan Wali Songo dari sejarah dakwah Islam di Nusantara. Di masa depan, secara akademis-intelektual keberadaan perjuangan Wali Songo akan terpinggirkan, dan disingkirkan dan hanya menjadi dongeng legendaris belaka. Wali Songo dan Islam Nusantara bagi kaum positivistik adalah sinkretis, asimilatif, semi-animis, mistis (irrasional), dan tradisionalis anti-gerak kemajuan dunia. Fenomena ini tidak hanya lepas dari tilikan para sejarawan, para intelektual yang mengaku-aku kaum pembaruan Islam, ilmuwan sosial yang pada umumnya juga masih gelap-gulita melihat kenyataan itu. Hanya karena keangkuhan akademik-intelektualisme, mereka tak mu menerobos kabut mitologi (legenda) yang menyelebungi realitas sejarah Nusantara yang sejati. Tidak mempunyai kesabaran dan kepekaan lebih untuk membaca babat, prasasti, menyisir sejarah adi-luhung, menyusuri jejak-jejak spiritualisme,dan doktrin ilmiah versi Nusantara. 

Di tengah arus kemelut, dan kerancuan, bahkan kegelapan sejarah itulah Agus Sunyoto, sejarawan Nusantara berikhtiar mementaskan perjuangan Wali Songo dalam panggung sejarah Nusantara. Misi yang sungguh berat, di tengah gempuran aliran positivistik, penulis memilah antara sejarah dengan mitos. Dibutuhkan data sejarah yang kuat untuk mendukung argumen dan pandangannya. Untuk itu diperlukan kemampuan khusus dalam membaca prasasti, naskah berbahasa Kawi dan Jawa Kuno, termasuk bahasa Sansekerta dan Arab. Kesadaran akan makna pentingnya perjuangan Wali Songo dalam sejarah Islam di Bumi Nusantara yang sisa-sisa jejaknya masih sangat jelas terlihat sampai saat ini. Dengan semangat rawe-rawe rantas malang malana putung dan vivere vericoloco, sejarawan Nusantara ini meneliti dengan serius sejarah perjuangan Wali Songo untuk “melengkapi” Ensiklopedia Islam Indonesia yang tampaknya dengan sengaja akan menyingkirkan tokoh-tokoh penyebar Islam abad ke-15 dan ke-16 yang berjasa dalam mengislamkan Nusantara tersebut.

Dalam buku Wali Songo; Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, komandan NU saat ini KH. Said Aqil Siroj dalam kata pengantarnya mengatakan perjuangan Wali Songo dalam menggalang kepercayaan umat melalu perjalanan dakwah yang yak kenal lelah, menancapkan Tauhid dalam pikiran dan hati di Bumi Nusantara, dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama Hindu, Budha, Tantrayana, Kapitayan dan lainnya. Wali Songo mampu mengelola budaya, sehingga diterima oleh hampir masyarakat Nusantara. Wali Songo mampu menjalankan misi dari bidang-bidang strategis dari bidang keagamaan, tata kemasyarakatan, strategi kebudayaan, geo-politik saat itu, ekonomi, pengembangan kesenian dan sebagainya. Strategi jitu para Wali Songo dalam mengembangkan ajaran Islam di Bumi Nusantara dimulai dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadrij (bertahap). Tak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahan, tak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi. Misalnya, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai para Danyang dan Sang Hyang. Secara bertahap, perilaku mereka itu diluruskan. Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Perjuangan Wali Songo menyebarkan Islam tidak dengan mengusik tradisi yang ada, tidak menggangu agama, sistem nilai dan kepercayaan, tapi memperkuatnya dengan cara yang Islami.

Buku ini menjelaskan dengan detail bahwa Wali Songo menyadari sungguh-sungguh, bahwa Nusantara yang multietnis, multibudaya, dan multibahasa, ini adalah anugerah Tuhan yang tiada tara. Belum lagi kondisi alam yang ramah, iklimnya yang tropis, tidak ekstrim. Ditambah dengan keanekaragaman hayati, hingga Wali Songo mensyukurinya dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya. Anugerah yang mesti dilestarikan dan dikembangkan, bukan diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama (purifikasi), terorisme, atau atas nama kemodernan. Islam hadir di paras Bumi Nusantara ini justru merawat, memperkaya, dan memperkuat multikulturalisme Nusantara sehingga bisa berdiri sejajar dengan peradaban dunia yang unggul lainnya.

Karya sejarawan Nusantara yang juga penulis Novel berjilid-jilid berjudul Perjuangan Syaikh Siti Jenar dan Novel Rahuvanna Tatwa, terdiri dari 6 Bab yaitu bab 1: Data tentang bangsa Nusantara, Bab 2: Para Wali dan Dakwah Islam, Bab 3: Kemunduran Majapahit dan Perkembangan dakwah Islam, Bab 4: Dakwah Islam masa Wali Songo, Bab 5: Tokoh-tokoh Wali Songo, serta Bab 6: Wali Songo dan pembentukan masyarakat Islam Nusantara. Buku ini juga sebagai sebuah undangan terbuka untuk masyarakat Islam Indonesia untuk mengetahui tentang negara-bangsanya di masa depan, dengan memahami masa lalu dan melihat masa kini. Pembaca bisa memperoleh pijakan historis yang kuat. Kita akan lebih yakin untuk meneladani, menyebarkan serta mempelajari strategi perjuangan mereka. Sangat penting bagi kaum muda dan masyarakat bangsa yang sudah sangat kritis di era kapitalisme sekarang ini. Sebab, dengan bukti historis yang ada, kaum muda punya kecerdasan dan akumulasi pengetahuan lebih yang dulu di miliki Wali Songo. Akan mudah dan mau menebar perjuangan Wali Songo, sebagai perintis, pelopor dan provokator kesadaran melawan tatanan-Anti Tuhan saat ini (baca:kelezatan kekayaan duniawi). Sebuah struktur dan gerak dunia, keadaan zaman Indonesia yang dulu pernah dialami Wali Songo. Merubah tatanan Nusantara yang dulu berkiblat poros cinta-dunia.

Belajar dari keberhasilan dalam pembentukan masyarakat Islam Nusantara yang dahulu dilakukan oleh Wali Songo, mampu kita teladani di tengah arus banjir bandang globalisasi yang dahsyat saat ini. Seperti juga yang pernah diteladani oleh Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid yakni gerakan ‘pribumisasi Islam. Berdzikir, berpikir dan menggerakkan kembali nation-state of Indonesia untuk menggapai matahari kemajuan Republik, pluralisme sejati, ke-Bhineka-an, kesejahteraan dan mencinta nilai-nilai utama kemanusiaan. Serta jadi Bangsa Indonesia yang unggul, mandiri, tidak lembek yang akan kelak dijadikan mangsa, budak-budak dan kuli oleh para pemuja dan pecinta kelezatan duniawi; laskar Ya’juj Ma’juj Dajjal.

* Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, aktifis di PB PMII

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Olahraga, Budaya, Santri Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

--Sebagai kaum santri, kita mengetahui bahwa dunia terus berubah, dan kita menyadari bahwa kaum santri tidak lagi menulis untuk tujuan-tujuan yang sepenuhnya sama dengan tujuan generasi para pendahulu, salafuna ash shalihin, setidaknya sebelum 1854, tahun diperkenalkannya edisi cetakan pertama Al-Quran, yang mengawali percetakan kitab kuning dalam skala yang luas.

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri

Peralihan medium, dari tradisi manuskrip ke tradisi percetakan, turut menandai peralihan kesadaran kaum santri, yang semakin meluas dan kosmopolit, menyentuh satu ujung dunia ke ujung dunia yang lain, sekaligus memasukkan kita ke dalam ritme rampak “modernitas” yang cepat dan haus kebaruan.

Hal itu bersamaan dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnal ke dunia literer kaum santri; kita mencatat tahun 1929, di bawah asuhan Kiai Muhammad Iljas, kepala madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah dan lulusan sekolah Belanda HIS di Surabaya, Pesantren Tebuireng mulai memperkenalkan para santri kepada produk-produk cetakan modern: koran, majalah, dan buku-buku cetakan berbahasa Latin.

Sejak saat itu, bisa dibilang, dunia baca-tulis kalangan pesantren mengalami perluasan dan turut melibatkan kaum santri dalam keriuhan “zaman bergerak” yang memasukkan santri ke dalam arus gelombang nasionalisme dan isu-isu sosial-politik internasional.

Kita mengetahui bahwa hanya lima puluh tahun sejak 1800, umat Muslim di dunia telah diubah secara mendasar oleh diperkenalkannya teknologi percetakan, yang menghapus secara bertahap tradisi manuskrip dari budaya literasi umat Muslim—dan perubahan ini juga menyentuh pelosok-pelosok Nusantara, yang berabad-abad sebelumnya telah hidup dengan peradaban manuskrip yang kuat.

Bupati Tegal

Di satu sisi, Revolusi Gutenberg menciptakan ledakan naskah cetak yang bisa diakses oleh siapa saja, dan di bumi Nusantara mendorong terciptanya ledakan jumlah kaum santri yang melek aksara, dengan akses keilmuan yang semakin luas dan mudah terhadap kepustakaan Islam klasik dari negeri-negeri Arab (turats).

Bupati Tegal

Di sisi lain, terjadi penyederhanaan budaya pembelajaran berupa pembelajaran yang cenderung bersifat praktis dan langsung antara guru (kiai) dan murid (santri), tanpa keperluan untuk terlibat dalam produksi naskah sebagaimana dalam budaya manuskrip. Pengajaran kitab kuning, dalam bentuk kitab-kitab cetakan yang telah “jadi” dan praktis, berlangsung dalam suasana ini. Para santri tidak lagi selamanya menjadi produsen bagi turats, tetapi cukup menjadi mustami’ dan pencatat pengetahuan yang diajarkan secara lisan oleh guru. Ruang untuk berekspresi itu dibuka, sebaliknya, oleh diperkenalkannya jurnalisme ke dunia kaum santri, setidaknya sejak 1911 ketika para santri Melayu-Jawi mendirikan majalah Al Munir, majalah pertama umat Islam di Nusantara yang mendorong lahirnya sejumlah intelektual santri pertama yang menulis aktif untuk kolom-kolom opini di media cetak di kalangan bumiputra.

Sejumlah kenyataan sejarah di atas memperlihatkan bahwa keterlibatan kita kaum santri dalam dunia tulis-menulis tidak statis, tetapi dipengaruhi oleh perubahan medium teknologi, perubahan budaya baca dan tulis, dan otomatis, perubahan publik pembaca dari dunia tulis-menulis tersebut.

Pertama, perubahan medium telah mengubah budaya manuskrip ke budaya cetak, yang menghilangkan sebagian besar aktivitas santri sebagai penyalin (nasikh) bagi manuskrip-manuskrip warisan ulama terdahulu. Sisi positifnya, peradaban cetak membuka kaum santri kepada jaringan percetakan naskah di tingkat global (Singapura, Cairo, Beirut, New Delhi…) yang memungkinkan mereka mengakses literatur itu ketika merantau belajar di luar negeri.

Sisi kurang positifnya, kaum santri tidak terlatih untuk menulis dengan bagus (karena ketersediaan kitab-kitab cetakan yang mudah) dan cenderung lebih pasif dalam proses transfer pengetahuan (meskipun tingkat kepasifan ini berbeda dari masa ke masa, sejak abad ke-18 sampai kini).

Kedua, perubahan itu juga membentuk perubahan budaya baca dan tulis di kalangan kaum santri. Tradisi membaca secara aktif (ngaji) di hadapan guru tetap bertahan, namun tidak selamanya memerlukan kemampuan menulis yang baik, yang disyaratkan sebelumnya oleh budaya manuskrip. Namun, akses bacaan kaum santri menjadi semakin luas dan beragam, seiring makin massifnya kitab-kitab kuning dicetak dari satu pelosok dunia ke pelosok yang lain dan membuka kalangan pesantren kepada dunia kepustakaan yang semakin luas, dengan referensi-referensi kitab yang variatif dan ensiklopedis. Bacaan yang berbeda melahirkan budaya baca yang berbeda, yang lebih kaya. Namun, kemampuan kaum santri untuk menuliskan sesuatu yang orisinal mungkin menurun; tradisi tashnif dari para pengarang di abad-abad sebelumnya semakin langka dijumpai.

Faktor ketatnya syarat-syarat keilmuan yang harus dipenuhi oleh seorang mushannif mungkin menjadi faktor langkanya para mushannif dalam citra klasik, dengan wibawanya yang otoritatif, pengetahuan keilmuannya yang mendalam, serta kualitas kebahasaannya yang tinggi. Sebagai gantinya, budaya cetak dalam bentuk jurnalisme modern menawarkan kesempatan bagi kaum santri untuk menjadi “mushannif” dalam citra yang lain, penulis modern (writer), dengan kualifikasi-kualifikasinya yang lebih mudah. Hal ini ditopang oleh tumbuhnya jurnalisme dan dunia kepenulisan di pesantren.

Kedua perubahan itu digenapi oleh yang ketiga, perubahan publik pembaca dari tradisi menulis kaum santri. Di dalam peradaban manuskrip, kaum santri menulis untuk dirinya dan komunitasnya, serta untuk terlibat dalam arus pengetahuan yang dibentuk oleh para ulama terdahulu, melalui tradisi sanad -nya yang ketat, dengan genealogi (silsilah) pengetahuan yang terkait dengan sejarah masing-masing teks dari mana ia mendapatkan salinannya.

Budaya cetak mengubah hal itu dan memungkinkan kaum santri mendapatkan audiens yang lebih luas dan massif, melalui karya-karya yang mereka tulis. Penerbitan kitab-kitab memperluas lingkup komunitas pembaca (qari’) karya yang lahir dari tangan kaum santri—dari pembaca yang hanya mendapatkan kesempatan ketika terjadi hubungan guru dan murid ke pembaca umum yang secara “virtual” membentuk suatu “komunitas terbayang” pembaca-pembaca, yang menghubungkan santri di Indonesia dengan santri-santri dari belahan lain di dunia.

Seiring dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnalisme cetak, publik yang dihadapi oleh kaum santri juga semakin beragam, tidak terbatas lagi pada pembaca literatur keagamaan. Kaum santri dituntut untuk tidak selalu tampil dalam identitas tradisionalnya, tetapi meleburkan diri dalam pergaulan literasi yang mungkin cenderung menghilangkan latar belakang keagamaannya.

Kiprah kaum santri dalam jurnalisme cetak mempertemukan santri kepada publik yang sangat cair dan sulit ditebak. Di sisi lain, tuntutan pendidikan tinggi modern terhadap pesantren turut mendorong kaum santri untuk melayani audiens baru: publik akademik internasional. Para santri dituntut untuk menghadirkan kembali karakter kecendekiawanan, tidak dalam tampilan sebagai ulama atau pemuka agama, tetapi sebagai pengkaji agama yang kritis.

Ketiga perubahan itu belum kita kaji tuntas, atau petakan dampak-dampaknya. Maka, setiap kali kita dihadapkan pada persoalan “sampai di mana tingkat kemajuan tradisi menulis di pesantren”, kita kaum santri masih dihinggapi kebingungan mengenai kiprah kita sesungguhnya dalam dunia tulis-menulis. Apakah kita telah menjadi produsen dari gagasan dan tradisi pengetahuan kita sendiri? Ataukah kita masih menjadi konsumen dari gagasan dan tradisi pengetahuan orang lain? Sejauh mana kesantrian itu tercermin dari karya-karya yang telah kita ciptakan?.

Pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab tanpa menjawab sederet pertanyaan yang juga sama pentingnya: Mengapa santri menulis? Untuk siapa santri menulis? Dan, menulis tentang apa?.

Kita kaum santri menulis pertama-tama untuk tujuan konservasi, menyelamatkan warisan pemikiran ulama terdahulu melalui karya-karya yang mu’tabarah, yang telah menjadi teks-teks inti (nucleus of texts) dari kosmologi pengetahuan di pesantren dan jaringan keilmuan pesantren.

Peran konservasi ini dapat berupa penyuntingan (tahqiq), penerbitan ulang, penerjemahan, dan anotasi atas kitab-kitab mu’tabarah atau kitab-kitab induk yang menjadi referensi kitab-kitab mu’tabarah tersebut. Hal ini mensyaratkan kemampuan filologi yang mumpuni, serta wawasan sejarah yang memadai.

Berbagai penemuan manuskrip ulama Nusantara memberi lapangan luas bagi misi ini, yang memungkinkan kita kembali berdialog dengan wawasan sejarah di abad-abad yang lampau dan konstelasi peradaban yang berkembang pada masa itu.

Segmen pembaca dari karya-karya yang lahir dari misi ini relatif jelas, yaitu komunitas santri (minimal di pesantren dan lingkungan pesantren terdekat) dan pembaca literatur keagamaan secara umum.

Misi konservasi ini secara teknis bisa jadi sulit dan menguras cukup banyak energi, tetapi secara ideologis relatif mudah, karena kejelasan misi dan sasaran pembacanya. Tetapi, lebih sulit lagi melakukan transmisi, yaitu menjadikan kepenulisan suatu transfer nilai, pengetahuan, dan gagasan dari hasil pembacaan atas karya-karya para ulama terdahulu menjadi suatu karya yang mengemas nilai, pengetahuan, dan gagasan itu secara utuh bagi pembaca masa kini.

Sebagian besar karya-karya santri terkini yang lahir, tidak secara utuh dan hanya sepotong-potong memerankan diri dalam proses transfer itu. Iklim penerbitan yang pragmatis dan berorientasi pasar menuntut karya-karya yang lahir untuk seefektif mungkin menyampaikan pesannya, tanpa berbelit-belit dan rumit. Kekayaan nuansa dari tiap aksara kitab-kitab itu tidak mampu tersampaikan secara maksimal.

Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan modus literer dari transmisi itu. Pada peradaban manuskrip, transmisi itu bersifat material (melibatkan keterampilan tangan membuat, mengolah, dan menjaga naskah), ideasional (keterampilan mengolah dan menyampaikan gagasan dan pesan-pesan naskah), sekaligus spiritual (aktivitas itu sendiri bernilai spiritual).

Saat ini, pada budaya cetak dan pasca-cetak, transmisi terjadi secara ideasional saja, yaitu menulis untuk menyampaikan pesan-pesan substansial kepada pembaca (pesan-pesan Aswaja).

Banyaknya karya santri yang mengangkat kembali pesan-pesan agama, menulis ulang riwayat para ulama (hagiografi), dan lain sebagainya, merupakan bagian dari kerja-kerja transmisi dalam tulisan kaum santri. Sasaran pembaca dari karya-karya ini juga relatif jelas: para peminat literatur keagamaan dan pembaca populer, khususnya mereka yang ingin mengakses kitab-kitab mu’tabarah melalui literatur sekunder.

Menulis untuk memproduksi suatu gagasan baru, suatu gaya penulisan baru, bahkan suatu paradigma keilmuan baru; itulah aspek yang paling sulit dari tradisi menulis kaum santri. Pada peradaban manuskrip, hal itu terjadi. Puncak-puncak keilmuan Islam tegak dari keberanian dan ketekunan para ulama terdahulu menulis karya-karya yang menjadi referensi penting di bidangnya, baik dalam keluasan pembahasan, orisinalitas pendekatannya, maupun gaya menulisnya.

Salah satu hal yang menjadikan Sullamut Taufiq dan Safinatun Najah sebagai dua teks penting dalam pembelajaran Islam di Nusantara, adalah kehebatan keduanya dalam menyintesiskan fiqh dan ushuluddin dalam suatu gaya tulisan yang padat dan kokoh. Hal ini yang sulit ditiru. Kemampuan produksi tampak hanya dimiliki oleh teks-teks cemerlang dari era manuskrip.

Agar tradisi penulisan kita sampai pada tahap ini, diperlukan suatu kajian menyeluruh terhadap fase-fase epistemologis yang telah dilewati oleh karya-karya terdahulu, sehingga memungkinkan kita untuk melampauinya dengan suatu karya yang menjadi tonggak baru.

Dalam literatur ilmiah-keagamaan terkini, hal ini menjadi pencapaian beberapa ulama kontemporer, dengan penguasaan mendalam atas turats, seperti almarhum Dr Wahbah Zuhaili dengan al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, suatu kompendium fiqh empat mazhab.

Pencapaian ini mensyaratkan pengetahuan atas pencapaian akademis yang telah dicapai oleh para sarjana di dunia Islam hari ini. Bila ini dicapai, karya kaum santri Indonesia akan kembali menjadi kiblat bacaan dunia.

Apakah kita kaum santri akan menjadi pemain utama atau pemain cadangan dalam produksi pengetahuan di dalam kebudayaan pasca-cetak ini, itu tergantung pada kemampuan kita memerankan diri secara tepat di dalam peran-peran konservasi, atau transmisi, atau produksi di atas.

Dengan sumber-sumber pengetahuan yang datang dari arus-arus global, mau tak mau kita kaum santri harus memiliki sikap keterbukaan yang kreatif untuk menemukan posisi kita di tengah arus-arus itu dan mengartikulasikan apa yang kita miliki, dalam ketegangan dialektis antara warisan keilmuan Islam hasil ijtihad para ulama terdahulu dan tuntutan pembaca hari ini, tanpa mengorbankan satu sama lain. (*)

Muhammad Al-Fayyadl, Alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep.

Tulisan ini dipresentasikan saat menjadi narasumber Seminar “Tradisi Menulis di Pesantren, dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan oleh Santri Media, di Kantor PWNU Jawa Timur, Ahad, 24 Januari 2016.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

Bandar Lampung, Bupati Tegal?

Menyusul maraknya hal tidak etis disampaikan di media sosial, Pimpinan Majelis An Nur Lampung, Al Habib Umar Bin Muhdor Al Haddad mengajak umat Islam berikut generasi mudanya untuk mengedepankan ahklak.?

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

"Saya marah ketika Kiai Siroj dicela di media sosial. Itulah yang terjadi jika anak SD membaca materi anak kuliah," ujarnya kepada kader Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Ahad (5/2).?

Pernyataan tersebut merujuk celaan sejumlah pihak terkait pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengenai sejumlah ahli hadist, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi berasal dari Persia.

"Kalau baca bukan untuk berkomentar di media sosial. Tapi untuk belajar. Kita tahu bagaimana jadinya jika puisi yang indah dibaca anak kelas satu sekolah dasar, ujar Habib Umar yang pada Kamis (2/2) malam lalu, memimpin Pembacaan Maulid Shimthud Duror, di PW GP Ansor Lampung.

Karena itu, Habib Umar mengimbau untuk tidak sekali-kali mencela habaib dan kiai. "Kalau mereka bertengkar dapat pahala, kalau kita, yang bodoh, kesasar jauh," kata dia.

Bupati Tegal

Untuk diketahui, Bukhara merupakan satu dari sekian kota penting ? dalam peradaban Islam. Penyair Jalaludin ar-Rumi dalam syairnya menyebut Bukhara sebagai gudang pengetahuan. Sejak 500 SM, wilayah Bukhara sudah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia. Seiring waktu, Bukhara berpindah tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya.? (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Hikmah, Cerita, Budaya Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

Jakarta, Bupati Tegal - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI? NU) DKI Jakarta bersama PLAN memberikan bantuan berupa 580 paket school kits untuk anak-anak terdampak banjir Februari 2017 di sembilan titik di Jakarta, Jumat (3/3). Bantuan ini diturunkan dalam rangka meringankan beban warga terdampak banjir khususnya anak-anak.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh H Mastur Anwar dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

H Mastur mengapresiasi LPBI NU DKI Jakarta yang tak henti-hentinya berkhidmat untuk meringankan beban umat terdampak bencana di Jakarta. PWNU DKI Jakarta akan terus mendukung kegiatan-kegiatan sosial LPBI NU DKI Jakarta.

Bupati Tegal

Ketua PWNU DKI Jakarta Saefullah yang juga Sekda Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, aksi sosial LPBI NU DKI Jakarta adalah sesuatu yang riil dan menyentuh langsung pada kebutuhan umat. Inilah sebenarnya tujuan dari Nahdlatul Ulama.

Bantuan diturunkan di Tanah Tinggi (Jakarta Pusat), Kedaung Kaliangke, Kapuk, Tegal Alur dan Tamansari? (Jakarta Barat), Manggarai (Jakarta Selatan), Kalimalang, Pinangranti, Pulogadung (Jakarta Timur).

Bupati Tegal

Ketua LPBI NU DKI Jakarta M Wahib mengatakan, apa yang dilaksanakan dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah keniscayaan bekerja sama dengan berbagai lembaga dan para pihak.

Penanggulangan bencana, kata Wahib, merupakan urusan semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun juga sektor privat/dunia usaha. Semuanya bertujuan untuk saling meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

“Kegiatan ini terlaksana karena partisipasi dari PWNU, PLAN dan Santri Siaga Bencana (SSB)” ujar Wahib.

Bersamaan dengan acara penyerahan bantuan juga dilakukan psikososial melalui dongeng anak nusantara oleh Toni dari LPBI NU DKI Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Khutbah, Budaya, Tegal Bupati Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi

Jakarta, Bupati Tegal. Para kiai NU dari Sabang sampai Merauke akan mengkaji soal aborsi dari pelbagai sudut pada sidang bahtsul masa’il Munas-Konbes NU di gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11). Mereka mencoba menanggapi soal legalisasi praktik aborsi dalam PP nomor 61 tahun 2014 yang menuai beragam tanggapan masyarakat.

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi

Sebelum mengambil langkah-langkah hukum, para kiai NU pertama kali menempatkan alasan legalisasi praktik aborsi bagi perempuan korban perkosaan atau perempuan dengan alasan medis yang disebut PP ini dalam konteks fiqih.

Pada sidang bahtsul masail kali ini, mereka mencermati bagaimana batasan, penentuan, dan pelaksanaan praktik aborsi berdasarkan indikasi darurat medis dan korban perkosaan.

Bupati Tegal

Selain masalah teknis medis, para kiai NU juga mempertanyakan cara eksekusi PP nomor 61 tahun 2014 ini yang berbenturan dengan UU nomor 23/2002 terkait Perlindungan Anak. Mereka ingin memastikan bagaimana PP ini tidak disalahgunakan oleh pihak manapun.

Bupati Tegal

Kalau memang diperlukan, mereka kemungkinan akan mengajukan uji materi PP ini ke MK bila mana forum besok menuntut demikian.

Di luar itu, para kiai NU mendorong pemerintah memaksimalkan upaya pencegahan perkosaan, perzinaan dan pergaulan bebas, melindungi anak hasil perkosaan, serta melaksanakan fungsi sebagai wali bagi anak hasil perkosaan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara

Jakarta, Bupati Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta resmi meluncurkan Program Pascasarjana (S2) konsentrasi Islam Nusantara di gedung PBNU, Jakarta pada Rabu malam, (3/7). Peresmian dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ditandai dengan penandatanganan plakat.

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara

Ketua Program Pascasarjana STAINU Jakarta Prof. Dr. Ishom Yasqi MA mengatakan, program pascasarjana tahun ini sudah resmi dan bisa beroperasi, “Program ini adalah Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam dengan konsentrasi Islam Nusantara,” katanya.

Asal-usul program ini, kata dia, berasal dari pidato-pidato Ketua Umum PBNU yang selalu menekankan Islam Indonesia. Islam Indonesia adalah Islam Ashlussunah wal-Jamaah (Aswaja). Aswaja adalah Islam NU, “Dari diskusi kawan-kawan dan dosen-dosen STAINU akhirnya dirumuskan untuk menegaskan bahawa Aswaja adalah metode berpikir,” tambahnya.

Bupati Tegal

Konsentrasi Islam Nusantara, sambung dia, berdiri di atas empat pilar yaitu, tasamuh (toleransi), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (keadilan).

Bupati Tegal

Empat pilar ini adalah pedoman komunikasi NU dengan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, komunitas lain, dan gender.

Ishom juga mengatakan, untuk program S2 ini telah ada yang mendaftar mahasiswa dari Thailand Selatan 11 orang. Rencananya akan membuka dua kelas yang berjumlah 50 siswa. ?

Peluncuran tersebut diisi dengan orasi ilmiah KH Said Aqil Siroj dengan judul, “Urgensi Kajian Islam Nusantara”. Hadir pada kesempatan itu sejumlah menteri, diantaranya Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmi Faisal Zaini, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid, dan Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik

Jakarta, Bupati Tegal. Acara tasyakuran hari lahir (Harlah) ke-84 Nahdlatoel Oelama (1428 H) dan ke-4 Bupati Tegal diadakan pada Selasa (28/8) nanti malam di Hotel Acacia Jakarta, Jl Kramat Raya 73 depan gedung PBNU.

Selain orasi kebangsaan oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, tasyakuran Harlah akan diisi dengan pemberian penghargaan kepada 3 tokoh NU yang telah berjasa dalam pengembangan teknologi informasi di lingkungan NU, juga penghargaan kepada 4 website NU dan pesantren terbaik.

Penghargaan kepada tokoh NU itu, menurut Ketua Panitia Harlah Suwadi D Pranoto, merupakan wujud ucapan terimakasih dari organisasi NU, dalam hal ini diwakili oleh Bupati Tegal atas kiprah 3 tokoh NU yang telah mendorong pengembangan teknologi informasi di kalangan organisasi NU dan pesantren. Namun dirinya belum bersedia menyebutkan nama tiga tokoh yang dimaksud. “Biar ada kejutan,” katanya singkat.

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)
Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik (Sumber Gambar : Nu Online)

Diberikan Penghargaan kepada 3 Tokoh NU dan 4 Website Terbaik

Selain itu, penghargaan juga terkait upaya 3 tokoh NU itu yang telah melakukan terobosan-terobosan dalam memanfaatkan teknologi informasi untuk mengembangkan kajian-kajian falakiyah (astronomi) dan pengembangan kawasan pedesaan sebagai basis warga NU.

Sementara itu penghargaan kepada 4 website terbaik di lingkungan NU dan pesantren dipilih dari 21 website yang memenuhi kriteria penilaian. 21 website adalah meliputi website milik perangkat-perangkat organisasi NU (lajnah, lembaga, dan badan otonom) baik tingkat pusat dan daerah, juga website Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di luar negeri, juga website pesantren.

4 website terbaik itu dinilai berdasarkan kelengkapan teknis semisal desain grafis, standar kepantasan, keamanan, kemudahan navigasi, pencarian internal, dan kelancaran mesin pencari data. Kelengkapan non teknis meliputi isi website baik menyangkut kontinuitas, konsistensi dan relevansi dengan back-ground instansi, juga menyangkut jumlah pengunjung dan respon publik, inovasi teknologi serta dampak dan manfaat website bagi masyarakat.

Bupati Tegal

Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Bupati Tegal Abdul Mun’im DZ mengatakan, pemberian penghargaan itu adalah sebagai wujud perhatian dan apresiasi PBNU atas perkembangan teknologi informasi di lingkungan NU dan pesantren yang selama ini kurang mendapat perhatian. “Mereka patah tumbuh hilang berganti,” katanya.

Sebelumnya, dalam rangkaian acara Harlah ke-84 NU dan ke-4 Bupati Tegal pada 8-9 Agustus 2007 lalu diadakan lokakarya para pakar dan peminat teknologi informasi (TI) di lingkungan NU yang berasal dari beberapa perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri, juga warga Nahdliyyin yang bekerja di bidang TI. Sebuah forum yang diberi nama Jaringan Komunitas Information Technology NU (Jarkitnu) telah dibentuk dan bertekad mengembangkan dan memanfaatkan sebesar-besarnya teknologi informasi untuk menggiatkan dakwah bil hal Jami’yyah Nahdlatul Ulama.(nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Budaya, PonPes, Ulama Bupati Tegal

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember

Jombang, Bupati Tegal - Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) cabang Kabupaten Jombang galang bantuan untuk korban gempa Aceh yang terjadi Rabu (7/12) lalu pukul 05.03 WIB. Pengurus dan relawan Lazisnu memulai aksi sosial di kota Santri ini sejak Rabu (7/12) lalu tepat setelah terdengar kabar terjadinya bencana gempa di Aceh.

"Kita sudah dari hari Rabu kemarin melakukan penggalangan bantuan untuk saudara kita di Aceh yang terkena musibah gempa," kata Ketua Lazisnu Jombang Didin Ahmad Sholihudin, Ahad (11/12).

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember

Gus Didin menjelaskan bahwa penggalangan donasi tersebut akan ditutup hingga tanggal 12 Desember 2016 mendatang. Dalam senggang waktu yang masih tersisa ini, ia berharap pengurus bisa memaksimalkannya sebaik mungkin, termasuk sejumlah donatur yang hendak menyumbangkan sebagian rezekinya.

"Insya Allah penggalangan donasi ini sampai dengan 12 Desember, kemudian tanggal 13 Desember kita transfer kepada Pengurus Pusat (PP) Lazisnu," imbuh Gus Didin.

Bupati Tegal

Sementara itu, kata dia, sejumlah bantuan uang yang sudah terkumpul hingga saat ini sebanyak 3.550.000, namun jumlah itu besar kemungkinan akan terus bertambah hingga batas akhir penggalangan donasi. "Donasi uang 3.550.000," ujarnya.

Bupati Tegal

Untuk donasi dalam bentuk lain selain uang, Didin mengungkapkan selama ini masih belum ada yang menyumbangkan. "Belum ada donasi lain," jelasnya.

Untuk itu, para donatur yang masih ingin menyalurkan donasinya bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri Cabang Jombang nomor rekening : 7019992211 A.N Lazisnu. Konfirmasi transfer ke nomor 0856 4560 8963/0813 3272 6812 (SMS/WA), atau bisa langsung mendatangi kantor Lazisnu Jalan Singamangaraja II/2 Jagalan Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Budaya Bupati Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Nurul Musthofa Hegarmanah Sosialisasikan Ayo Mondok

Garut,Bupati Tegal. Menyambut bulan suci Ramdhan, Pesantren Nurul Musthofa Hegarmanah menggelar kegiatan “Sambut Ramdhan dengan Berbagi”. Acara tahunan tersebut diisi dengan santunan yatim dhuafa, gema sholawat oleh Ikatan Hadroh Marawis Garut (IHMAGA), ceramah Da’i Jinak (ngaji bersama anak).

Tak hanya itu, pesantren tersebut menyosialisasikan gerakan Ayo Mondok yang dipimpin pengasuh pesantren tersebut Uststadz Nuroni Yusron Fauzi.

Nurul Musthofa Hegarmanah Sosialisasikan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurul Musthofa Hegarmanah Sosialisasikan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurul Musthofa Hegarmanah Sosialisasikan Ayo Mondok

“Telah kita mafhumi bahwa pesantren mencetak generasi berakhlak. Ketika sekolah mencetak manusia pintar, pesantren tampil sebagai basis pendidikan pencetak orang-orang benar,” ujar Nuroni dalam sambutannya, Ahad (14/6/15).

Bupati Tegal

Sosialisasi gerakan nasional Ayo Mondok yang diprakarsai Rabithah Ma’ahid Nahdlatul Ulama (RMI-NU) di Pesantren Nurul Musthofa ini sebagai langkah membuka paradigma kepada masyarakat untuk segera kembali ke pondok. Pesantren sudah menjawab tantangan zaman dengan pola pendidikan yang menekankan kepada ilmu dan akhlaq.

Bupati Tegal

Hadir pada kesempatan itu Kepala Desa Talagasari terpilih Riki Ismail Barokah yang juga membuka program Peduli Guru Ngaji yang diinisiasi pesantren tersebut. Ia sangat mendukung acara yang diselenggarakan Pesantren Nurul Musthofa ini.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh Pesantren Nurul Musthofa. Saya akan  ikut terjun langsung dengan program pesantren yang sejalan dengan pemerintah,”ujar Kades Termuda Jawa Barat ini. (Roy Fauzi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, Pendidikan, Jadwal Kajian Bupati Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

Jakarta, Bupati Tegal

Dalam rangka kunjungannya ke Indonesia , tepatnya di kampus STAINU/UNU Jakarta. Syekh Muhammad An-Nadzoriyah Al- Hasany, Rais Thariqah Syadziliyah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) memberikan taushiyah singkatnya, Selasa (15/3) kepada para mahasiswa tentang hakikat kedekatan Allah SWT dengan makhluknya.

Syekh Muhammad mengatakan, Allah SWT ibarat kekasih jika berkaitan dengan kedekatan hubungan. Maka Ahlul Ma’rifat membagi waliyyun (kekasih) menjadi tiga. Dua halnya terlarang yaitu waliyyun ghoirullah maka disebut kafir dan waliyyun ma’allah maka disebut musyrik.?

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Thariqah Syadziliyah UEA Beri Kuliah di STAINU Jakarta

“Maka Allah SWT tidak menerima kekasih selainnya (waliyyun ghoirollah) atau pun pihak ketiga yang menjadi kekasih selainnya (waliyyun ma’allah). Dia hanya ridho jika diriNya-lah satu-satunya yang dijadikan kekasih oleh kita yaitu hambanya,” jelasnya.

Dia juga menuturkan bahwa orang sekarang lebih menilai rezeki dari segi material (keliahatan) dan kuantitasnya ketimbang rohaniyah dan kualitas rezeki tersebut.?

Dia menuturkan, banyak faktor yang mendorong rezeki itu datang, diantaranya ada 6 faktor seperti: istighfar, attuqoh (ketaqwaan), thoqoh (kekuatan), assholah, assodaqoh, wal harokah.?

Bupati Tegal

“Dan dari faktor-faktor tersebut yang sangat berperan dari kita manusia adalah panca indera, akal, dan mata hati. Kita harus berusaha keras bagaimana mengaplikasikan 3 hal yang kita punya dengan 6 faktor yang ada,” terangnya.

Bupati Tegal

Dalam kunjungannya ini, Syekh Muhammad juga memberikan ijazah ‘Aam kepada semua mahasiswa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia yang hadir di sana.?

Syekh Muhammad diterima langsung oleh pimpinan STAINU Jakarta dan UNU Indonesia diantaranya KH Mujib Qulyubi, Imam Bukhori, Amsar Dulmanan, Arif Rahman, Dede Setiawan, Aris Adi Leksono, Fatkhu Yasik, Siti Rozinah, dan Khairunnisa. (M Aqil/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, Nasional Bupati Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Harus Jadi Contoh Generasi Muda

Jakarta, Bupati Tegal. Wakil Presiden Boediono mengatakan, perjuangan KH Hasyim Asy’ari yang difilmkan dengan judul “Sang Kiai” harus menjadi contoh bagi generasi muda. Ia mengatakan hal itu kepada pers selepas menonton film itu di Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis malam (23/5).

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Harus Jadi Contoh Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Harus Jadi Contoh Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari Harus Jadi Contoh Generasi Muda

Boediono menambahkan, generasi muda harus bisa memahami betapa mahalnya memperoleh kemerdekaan, "Generasi muda harus menonton film “Sang Kiai” yang menceritakan perjuangan pahlawan KH Hasyim Asyari dalam melawan penjajahan, agar mengetahui betapa sulitnya merebut kemerdekaan,” katanya.

Boediono juga menilai film berdurasi sekitar 2 jam tersebut sangat apik menggambarkan kearifan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Bupati Tegal

Turut menonton pada kesempatan itu Herawati Boediono, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan cucu KH Hasyim Asy’ari KH Salahudin Wahid.

Bupati Tegal

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyaksikan film “Sang Kiai” pada Senin (20/5).

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Budaya, Kajian Islam Bupati Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Cegah Terorisme Melalui Kontra Propaganda Media Kelompok Ekstrem

Bandarlampung, Bupati Tegal. Peran media massa dalam rangka kontra radikalisasi sangat penting di era digital. Ia memiliki peran strategis untuk menangkal terorisme melalui penyebaran opini dan pemberitaan yang damai, sejuk, adil, dan mencerahkan.

Cegah Terorisme Melalui Kontra Propaganda Media Kelompok Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Terorisme Melalui Kontra Propaganda Media Kelompok Ekstrem (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Terorisme Melalui Kontra Propaganda Media Kelompok Ekstrem

Peran strategis inilah yang menjadi dasar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengundang insan media di Provinsi Lampung dalam Seminar Pemberdayaan Peran Serta Media Massa dalam Rangka Pencegahan Paham Radikal Terorisme Tahun 2015.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Sheraton Bandarlampung, Sabtu (14/11/15) ini mengangkat tema “Bersama Cegah Terorisme Dengan Melakukan Kontra Propaganda Atas Media Massa yang Pro Radikalisme Terorisme”.

Bupati Tegal

Menurut Ketua FKPT Provinsi Lampung Dr. Abdul Syukur, M.Ag media harus berperan serta untuk mengkontra pemberitaan paham radikalisme dengan menebarkan berita yang menyejukkan. "Dalam pemberitaan insan media harus memegang prinsip (NEWS): Nyaman, Enak, Wibawa dan Santun," katanya.

Bupati Tegal

Sementara itu salah satu pemateri dari Direktur Deradikalisme BNPT Pusat Prof. Dr. Irfan Idris, MA mengajak kepada insan media untuk tidak terlalu menfokuskan pemberitaan kepada salah satu kelompok teroris saja.

"Kalau kita selalu memberitakan ISIS secara masif maka sama saja kita membesarkan kelompok tersebut. Lebih bermanfaat untuk memberitakan cara-cara menanggulangi terorisme," katanya.

Salah satu peserta dari Media Aswaja Pringsewu Munawir sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu ikhtiar konkret untuk mencegah terorisme.

"Kita harus berani mengisi media massa dengan propaganda yang menyejukkan umat. Jika kita tidak peduli dengan media massa maka media massa akan dikuasai oleh orang orang radikal," tutur Katib Syuriyah PCNU Pringsewu ini.

Munawir mengharapkan media dijadikan sebagai penyampai kebenaran bukan sebagai tempat untuk memprovokasi dan memecah belah.

Peserta lain Fathurrahman dari Bupati Tegal Pringsewu menggarisbawahi bahwa saat ini yang mendesak adalah memagari masyarakat dari pemahaman-pemahaman radikal dan takfiri yang sangat banyak di media, khususnya media online. "Kita harus menguasai media yang mencerahkan dan mampu mengonter propaganda media radikal yang nyata-nyata tumbuh berkembang kian masif," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Rabu, 13 Desember 2017

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Jakarta, Bupati Tegal

Hawa panas mulai terasa pada momentum pelaksanaan Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur. Di akhir jadwal pendaftaran bakal calon tercatat sebanyak 10 orang kandidat yang sudah resmi mendaftarkan diri.

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Kandidat Calon Ketua PKC Resmi Terdaftar

Aqib Marufin, saat dihubungi via telepon, mengatakan, kesepuluh kandidat tersebut berasal dari masing-masing zona di Jawa Timur. Di antaranya dari Zona Tapal Kuda ada Arief Rahman dari Situbondo, Arya dari Lumajang dan Kholilullah dari Probolinggo. Dari Zona Metropolis ada Zainuddin dari Surabaya, Fathul Hasan dari Kota Malang, dan Zain Haq dari Sidoarjo.

Menyusul kemudian dari Zona Matraman ada Mahathir Muhammad dari Blitar, Ahmad Syuhada dari Trenggalek dan Alfi Hafidh Ishaqro dari Madiun. Terakhir dari Zona Madura ada Helmi Fuad dari Bangkalan.

Bupati Tegal

Sebelumnya diketahui bahwa sampai di hari terakhir pendaftaran Selasa (12/4), hanya ada satu calon dan terancam proses pencalonan berlangsung aklamasi. Melihat sampai malam terakhir pendaftaran tercatat ada 10 kandidat, Aqib memaparkan bahwa Konkorcab PKC Jawa Timur akan berlangsung sesuai rencana.

Bupati Tegal

"Dengan begini mereka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap PMII Jawa Timur masih tinggi. Ini merupakan perang bintang dikarenakan kandidat yang mendaftar adalah tokoh-tokoh di cabangnya masing-masing," terang Aqib.

Banyaknya kandidat yang mendaftar sebagai calon ketua PKC, ternyata berbanding terbalik dengan bakal calon ketua Kopri PKC. Aqib menambahkan, sampai hari terakhir belum ada satupun yang mendaftar. Karena itu, panitia memberikan perpanjangan waktu untuk penfataran ketua kopri PKC selama tiga hari.

"Untuk kandidat Ketua Kopri PKC belum ada satu pun yang mendaftar sampai pendaftaran resmi ditutup. Karena itu panitia memperpanjang sampai tanggal 15 April," terangnya.

Sarjana Hukum ini pun berharap dengan adanya perpanjangan waktu yang diberikan panitia calon ketua Kopri PKC bisa memberikan dorongan kepada kader puteri untuk bisa mendaftarkan diri menjadi calon.

"Semoga dengan masa perpanjangan ini, bermunculan banyak kader putri yang berani tidak hanya di wacana, tetapi iuga aksi. Dan untuk sepuluh kandidat PKC semoga Konkorcab kali ini menjadi perang adu visi dan misi, adu ide dan gagasan bagaimana PMII menempatkan diri dalam era globalisasi saat ini," tegasnya.(Isna WF/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

Kudus, Bupati Tegal. Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN) menegaskan kehadirannya sebagai organisasi mahasiswa penganut tarekat adalah untuk membendung gerakan radikalisme yang telah berkembang di berbagai kampus.

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

“MATAN mempunyai tanggung jawab mendidik generasi muda sebagai upaya penyelamatan umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pergolakan global,” kata Ketua Pimpinan Pusat  MATAN Hamdani Muin dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Cabang MATAN Kabupaten Kudus  di Aula Kantor NU setempat, Sabtu (29/9) malam.

Ia menandaskan, sebagai bagian dari Jamaah Ahli  Thariqah, MATAN akan selalu mendarmabaktikan kepada umat dan NKRI. Ditegaskan, thariqah atau tarekat tidak hanya sekedar berdzikir melainkan juga memikirkan kepentingan umat. 

Bupati Tegal

“Apa artinya Dizikir siang malam tetapi tidak memikirkan kepentingan umat. Begitu pula, tarekat bukan hanya milik para masyayih atau orang tertentu.  Thariqah adalah rahmatal lil Alamin.”tandasnya lagi.

Bupati Tegal

Hamdani menjelaskan  MATAN memiliki lima asas (al-asas al-khomsah)sebagai semangat pergerakan yakni Tafaqqu fi al din (mengasah kemampuan dan ketajaman intelektual), Iltizamut Thoat (semangat ketaatan kepada Allah,Rasulullah dan Ulil Amri), Tasfiah al qalb wa tazkiyat al-nafsi (pembersihan dan pensucian diri), hifdz-al-aurad wa al-adzkar (menjaga waktu untuk kemanfaatan dan pahala Allah SWT) dan  dan khidmah lil –ummah (mendarmabaktikan kepada umat manusia kepada bangsa dan negara).

“Kelima asas itu muaranya  hidmah kepada umat dan bangsa. Maka tidak aneh, Habib lutfiy selalu menggelorakan Indonesia Raya di setiap kesempatan,” tegas Dosen pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada terlantik, Hamdani mengajak pengurus MATAN selalu mengikuti mursyid (guru) dan berakhlakul karimah. Ia juga  melarang pemanfaatan  organisasi untuk kepentingan politik. 

“Thariqah itu milik masyayih, jadi jangan sampai narik-narik ke politik. Kalau ada yang melakukan hal itu , pasti akan kualat.” tambah dia menandaskan.

Sementara Pengurus Cabang Jamiyah ahli Thariqah An Nahdliyyah (JATMAN) KH. Syafiq Nashan mengharapkan MATAN mampu meredam gejolak situasi yang panas terutama di kalangan anak muda. 

“Kita perlu meredam situasi panas ini dengan selalu berdzikir sebagai ajaran thariqah.  Karena itu, kita bersama-sama memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat melalui matan.” Ujar KH Syafiq yang juga ketua MUI Kudus ini.

Sementara sebelumnya,  pengurus Cabang MATAN Kudus secara resmi telah dilantik ketua PP Hamdani Muin. Dengan disaksikan para kyai thoriqah dan tamu undangan lain, Deklarasi dan prosesi   pelantikan berlangsung hidmah.

Adapun susunan PC MATAN Kudus yang dilantik yakni Ketua Muhammad Mawahib dan wakilnya Ah.Amir Faisol, Malik Khoirul Anam dan Wahyu Setiadi. Sekretaris Moh saifudin Nawawi, wakil sekretaris saifudin Bachri, Khoirul Anwar dan Riza Jauharatul Muniroh, sedangkan Bendahara Ismail dan wakil bendahara Muslihatul Izza. 

Kepengurusan dilengkapi  tujuh departemen  yakni Manajemen dan Pengembangan sumber daya Manusia, Pengkaderan, Cinta tanah air, Kajian dan Litbang, Seni dan Budaya, Komunikasi dan Informasi serta Ekonomi dan entrepreneur.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Budaya, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

IPNU Surabaya Deklarasikan Pemuda Surabaya Antinarkoba

Surabaya, Bupati Tegal

Pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Surabaya menyatakan perang terhadap maraknya peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang di kalangan pemuda Surabaya.?

IPNU Surabaya Deklarasikan Pemuda Surabaya Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Surabaya Deklarasikan Pemuda Surabaya Antinarkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Surabaya Deklarasikan Pemuda Surabaya Antinarkoba

Bersama dengan beberapa elemen masyarakat, LSM, pelajar, pondok pesantren, dan komunitas remaja masjid, PC IPNU Surabaya mengadakan acara Deklarasi Pemuda Surabaya Antinarkoba. Acara ini merupakan respon sekaligus langkah antisipasi terhadap maraknya peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang yang belakangan ini penyebarannya mulai menyasar kalangan pelajar baik di sekolah, komunitas remaja, maupun pondok pesantren.

Deklarasi yang dilaksanakan pada Sabtu 27 Februari 2016 di Gedung Wanita Candra Kencana Surabaya ini selain dihadiri oleh pengurus PC IPNU Surabaya, juga turut mendapat dukungan dari berbagai komunitas anak muda di Surabaya, antara lain Yayasan Cinta Anak Bangsa, santri-santriwati Pesantren Ammanatul Ummah Surabaya, Pesantren Nurul Huda Surabaya, Pesantren Nyai Hj Ashfiyah Surabaya, siswa-siswi dari berbagai SMA-MA-SMK se-Surabaya, Gerakan Anak Muda Antinarkoba (Gaman) Surabaya, Forum Komunikasi Remaja Masjid Surabaya, Karang Taruna, dan komunitas anak muda lain. Hadir juga mewakili PCNU Surabaya, HM Musyafa’ Rouf.

Ketua IPNU Surabaya Agus Setiawan mengatakan deklarasi pemuda Surabaya Antinarkoba didasarkan pada kegelisahan melihat fenomena mutakhir yang cukup memprihatinkan. Banyak siswa-siswi, pemuda di Surabaya yang menggunakan narkoba. Situasi penyebaran narkoba dan minuman keras saat ini rentan menyasar generasi muda seperti siswa, mahasiswa, bahkan santri. Tiap harinya tunas bangsa gugur percuma.

Bupati Tegal

“Kita jelas bertekad bulat melawan segala bentuk peredaran narkoba yang ada di dunia pendidikan. Mengingat jaringan narkoba yang berkembang di luar negeri maupun yang sedang tumbuh di Indonesia sudah mulai masuk ke nadi-nadi dunia pendidikan. baik SMA maupun perguruan tinggi,” katanya usai kegiatan deklarasi.

?

Dalam waktu dekat, tutur Harun Rosyid, Sekretaris IPNU Surabaya, pihaknya akan menggalang dukungan dari seluruh sekolah, LSM, komunitas muda yang ada di Surabaya dan perguruan tinggi di Surabaya untuk bersama-sama menyatukan komitmen memerangi peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang. Masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius menurut Harun, Apabila tidak dilakukan penanganan serius maka masa depan generasi muda sangat terancam.?

“Aset terbesar bangsa Indonesia adalah pemuda, mereka harus dilindungi. Jangan sampai tergoda oleh narkoba,” ungkapnya.

Tidak hanya sekedar deklarasi, aksi-aksi nyata pencegahan peredaran narkoba di Surabaya sudah dilaksanakan oleh PC IPNU Surabaya yang bekerjasama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa setahun terakhir sebelum pelaksanaan deklarasi ini, Adapun bentuk kegiatan pencegahan yang sudah dilakukan antara lain dengan melaksanakan sosialisasi tentang bahaya narkoba kepada siswa-siswi di sekolah-sekolah maupun pondok pesantren yang ada di Surabaya.

Bupati Tegal

Kegiatan sosialisasi tentang bahaya narkoba tidak hanya berhenti sekedar sosialisasi, tapi juga membentuk kader-kader penyuluh dari siswa-siswi di internal sekolah yang bersangkutan agar bisa mensosialisasikan tentang bahaya narkoba kepada rekan-rekan sebayanya. Serta kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kampanye terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba, seperti pembuatan film pendek tentang bahaya narkoba dan juga turnamen futsal antar sekolah. Harapannya dengan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat positif bisa meminimalisir anak-anak muda, para pelajar untuk tidak mencoba narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, Sholawat, News Bupati Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Di Balik Makna Insyaallah yang Sering Disalahpahami

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ?. ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Di Balik Makna Insyaallah yang Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Makna Insyaallah yang Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Makna Insyaallah yang Sering Disalahpahami

Bupati Tegal

Jamaah Jum’ah yang semoga dimuliakan Allah,

Kata “insyaallah” begitu populer bagi masyarakat Muslim di Tanah Air. Tak hanya dalam percakapan sehari-hari, salah satu kalimat thayyibah ini juga sangat sering kita dengar di media massa terutama tayangan televisi. Meski begitu, seperti biasa, kata ini sering diterima dan dipakai begitu saja tanpa menyesuaikan makna dan penggunaan yang seharusnya.

Kata “insyallah” kerap diucapkan untuk janji yang potensial dilanggar, komitmen yang tidak teguh, atau harapan yang tidak pasti. Meski lebih sering kita jumpai, bukan berarti semua itu tepat. Orang menyebutnya salah kaprah alias kekeliruan yang sudah menjadi kebiasaan.

Bupati Tegal

Al-Qur’an Surat al-Kahfi ayat 23-24 mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ?

“Dan janganlah engkau mengatakan tentang sesuatu, ‘Aku akan melakukannya besok.’ Kecuali jika Allah menghendaki atau mengucapkan insyaallah.”

Dengan demikian, mengucapkan kata insyaallah sesungguhnya bersumber dari perintah Al-Qur’an. Secara literal ia berarti “jika Allah menghendaki”. Ayat ini mengandung pendidikan bagi pengucapnya tentang pentingnya rendah hati. Tidak terlalu mengandalkan kemampuan pribadi karena ada kekuatan yang lebih besar dibanding dirinya.

Mengucapkan insyaallah juga bentuk keinsafan bahwa di balik segala perinstiwa ada Sang Penentu. Tak selalu apa yang kita inginkan terwujud. Seluruhnya bersifat tidak pasti, dan justru karena itulah manusia dituntut berikhtiar. Kata “insyallah” merupakan wujud pengakuan atas kelemahan diri di hadapan Allah sembari bekerja keras karena proses yang ditempuhnya belum menemukan kepastian hasil.

Manusia memang dilarang memastikan perbuatan yang masih dalam rencana, karena yang demikian termasuk cermin keangkuhan. Manusia tidak mungkin mengandalkan secara mutlak dirinya sendiri. Sebagai makhluk, ia membutuhkan Sang Khaliq. Seberapapun besar jerih payah seseorang, tetaplah ia sebatas pada level ikhtiar.

Allah telah menganugerahi manusia nurani, akal, tenaga, dan segenap kemampuan lainnya. Semua itu merupakan modal sekaligus tanggung jawab untuk dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha, menyusun rencana, dan mempersiapkan diri. Selebihnya adalah tawakal atau kepasrahan total atas kehendak Allah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’du: 11)

Ayat lain menyebutkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap pribadi memerhatikan apa yang dia persiapkan untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr: 18)

Tawakal adalah sikap yang muncul dari kesadaran manusia atas dirinya yang dla‘îf di hadapan Rabb. Menggantungkan keputusan final kepada Sang Pencipta selepas daya upaya dikerahkan secara maksimal. Sikap inilah yang membuatnya selalu merasa penting untuk berdoa, memohon pertolongan dan petunjuk sehingga kehendak yang dirumuskannya diridlai dan dikabulkan Allah subhânahu wata‘âla. Dan bilapun tak terkabul, juga tak lantas menyesali diri sendiri karena sejak awal memang sudah memasrahkan hasil bukan kepada diri sendiri.

Jamaah Jum’ah yang semoga dimuliakan Allah,

Dengan demikian, kita bias menarik sebuah kesimpulan ringkas, bahwa insyaallah bukan ucapan basa-basi atau tempat berlindung dari ketidakteguhan janji. Insyaallah mengandung pendidikan tentang sikap tawaduk. Penghayatan kepada makna hakiki insyaallah juga membawa manusia pada puncak kesadaran tauhid: hanya Allah tempat bergantung segala sesuatu. Insyaallah juga mengandaikan seseorang untuk mempercayai adanya takdir dan irâdah Allah. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk pada setiap ucapan dan tingkah, agar istiqamah di jalan yang benar, yang diridlai Allah.

Khotbah II



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Alif Budi Luhur

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Meme Islam, Pendidikan, Budaya Bupati Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Ormas Islam di Kota Semarang Kompak Dukung Perppu No 2/2017

Semarang, Bupati Tegal - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang bersama para tokoh organisasi masyarakat Islam di Kota Semarang sepakat mendukung diterapkannya Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang Ormas.

?

Dukungan itu dilakukan setelah melakukan kajian dan dialog dengan tema "Perppu No 2 Tahun 2017 Tentang Ormas Antara Melanggar HAM dan Meredam Ormas Anti-Pancasila" di Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen Tlogosari Semarang, Ahad (6/8/17).

?

Ormas Islam di Kota Semarang Kompak Dukung Perppu No 2/2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ormas Islam di Kota Semarang Kompak Dukung Perppu No 2/2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ormas Islam di Kota Semarang Kompak Dukung Perppu No 2/2017

Ketua MUI Kota Semarang, Prof. Erfan Soebahar menjelaskan bahwa Perppu tentang Ormas yang telah diterbitkan pemerintah merupakan alat untuk membendung ormas-ormas yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

?

Dalam dialog yang dihadiri tokoh agama Islam dari berbagai Ormas di Kota Semarang, hadir sebagai pembicara Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, akademisi Muhyar Fanani, pakar hukum Dani Muhtada, perwakilan Kesbangpol Kota Semarang, dan yang lainnya.

Bupati Tegal

?

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh, dalam presentasinya menjelaskan, warga NU sepenuhnya mendukung pemerintah dalam rangka menciptakan ketertiban dan ketentraman dalam berbangsa dan bernegara dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bupati Tegal

?

"Siapa pun yang tidak setuju dengan Pancasila dan UUD dipersilahkan untuk angkat kaki dari negara ini. Melalui Perppu Nomor 2 Tahun 2017, pemerintah berniat untuk membersihkan ormas-ormas yang terindikasi anti-Pancasila. Kami warga NU siap mengawal berlangsungnya Perppu ini sampai akhirnya disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menjadi sebuah undang-undang yang sah," paparnya.

?

Pengurus Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang, Suharno, juga sepakat bahwa Perppu tentang Ormas tersebut harus didukung. Menurutnya, pemerintah dalam hal ini sangat tepat menerbitkan Perppu tersebut mengingat banyak ormas atau kelompok yang berusaha merubah ideologi bangsa.

?

"Kami mewakili seluruh pemuda Muhammadiyah Semarang menyatakan sikap bahwa Pemuda Muhammadiyah sepakat dengan diterbitkannya Perppu No 2 Tahun 2017 tentang Ormas," katanya.

?

Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Semarang, Sun Tjok Tsan, menegaskan bahwa organisasinya telah sepakat mendukung pemerintah dalam menerbitkan Perppu No 2 Tahun 2017 dan mendorong pemerintah supaya segera disahkan menjadi undang-undang.

?

"LDII sepakat bahwa Perppu ini tidak melanggar HAM dan Perppu ini tidak hanya ditunjukkan kepada salah satu ormas saja, melainkan kepada seluruh ormas yang terindikasi merongrong ideologi bangsa. Maka dari itu LDII mendorong pemerintah untuk melanjutkan Perppu ini menjadi sebuah undang-undang yang sah," jelasnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria

Turut berbahagia atas kebahagiaan tetangga, sahabat, dan kenalan lainnya merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Sedangkan menyatakan kebahagiaan di depan mereka yang berbahagia bernilai sedekah sebagaimana dianjurkan Rasulullah SAW. Dari sini kita dianjurkan untuk menghadiri perkawinan mereka.

Ketika berjabat tangan dengan mempelai pria, kita perlu mengucapkan selamat atas perkawinannya. Berikut ini doa yang bisa dibaca di hadapan mempelai pria.

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bupati Tegal

Bârakallâhu laka, wa bâraka ‘alaika, wa jama‘a bainakumâ fî khairin wa ‘afiyah.

Artinya, “Semoga Allah SWT memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah SWT menyatukan kamu berdua dalam kebaikan dan ‘afiyah,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Bupati Tegal

Doa ini dibaca dengan harapan Allah SWT memberikan kemaslahatan berumah tangga bagi kedua mempelai. Kemaslahatan ini juga diharapkan berpulang untuk undangan yang hadir mendoakan mempelai. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Senin, 04 Desember 2017

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

Jakarta, Bupati Tegal?



Sebanyak 14 organisasi massa (ormas) Islam menolak kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekolah Lima Hari. Penolakan ormas-ormas yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Islam (LPOI) tersebut disampaikan pada konferensi pers di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (7/7).?

Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj mengatakan, ormas-ormas Islam mengapresiasi langkah pemerintah yang membatalkan Permendikbud yang akan menggantinya dengan Perpres.

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)
LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

“Namun kami menunggu bukti nya Permen itu telah dibatalkan karena nyatanya Mendikbud masih bersikeras menjalankan Permen yang dibatalkan itu,” katanya.?

Madrasah yang ada di desa-desa ada sekitar 76 ribu lebih telah menjadi bagian dari masyarakat Islam.?

Bupati Tegal

“Sampai kapan pun, tidak dialog, tidak diskusi, tidak ada tawar-menawar, kami, NU, LPOI juga meminta (kebijakan) itu dibatalkan.”

Sekjen LPOI H. Luthfi At-Tamimi mengatakan, kebijakan tersbut mengancam keberadaan pendidikan di madrasah dan pesantren.?

Bupati Tegal

“Mereka tidak membubarkan pesantren, tapi mereka membuat acara sampai jam lima supaya pesantren tidak laku,” katanya. (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Nahdlatul, Budaya Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock