Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah

Jombang, Bupati Tegal - Sebelumnya Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jombang memprotes keberadaan soal ujian yang menyinggung khilafah. Hari ini, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jombang turut memberikan sorotan terkait soal yang sedang menjadi perbincangan hangat khalayak tersebut.

"Perlu diketahui bahwa dalam mata pelajaran tersebut memang tercantum standar kompetensi tentang khilafah," kata Ahmad Faqih, Kamis (7/12).

Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Giliran Pergunu Jombang Soroti Soal Ujian Bernuansa Khilafah

Ketua Pergunu Jombang tersebut mengatakan, bila ditelisik lebih jauh, rumusan yang ada tidak dibatasi pada sekedar aspek kesejarahan. "Maka kami simpulkan akar masalahnya ada di kurikulum," kata Faqih.

Bupati Tegal

Bagi Pergunu, solusi bijaknya adalah merevisi kurikulum. "Dan kami akan berkerja sama dengan Lembaga Pendidikan Maarif  NU Jombang untuk memperjuangkan terwujudnya revisi kurikulum tersebut," terangnya.

Selanjutnya tim pengembang kurikulum di Kementerian Agama harus bertanggung jawab atas hal ini.

Bupati Tegal

"Mereka paling tidak harus memberikan klarifikasi. Bilamana ditemukan kecerobohan, maka sudah semestinya Menteri Agama RI memberikan sanksi kepada mereka sesuai aturan yang berlaku," pungkas Faqih. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Daerah, Kajian Islam, Habib Bupati Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Skor 5-0 atas Pesantren Lirboyo, Pesantren Darut Taibin Melenggang ke Perempat Final

Kediri, Bupati Tegal - Kesebelasan Pesantren Darut Taibin (DaTa) Tulungagung lolos ke babak perempat final dalam Liga Santri Nusantara (LSN) Region Jawa Timur II di Kota Kediri. Tim sepakbola Pesantren Darut Taibin akan bertanding di babak perempat final di Stadion Brawijaya Kediri pada 27 Agustus 2016.

Tim Darut Taibin lolos setelah dalam pertandingan tadi sore, Kamis (25/8) di Stadion Brawijaya Kota Kediri. Mereka berhasil melibas tuan rumah kesebelasan Pesantren Mahrusiyah Lirboyo Kota Kediri dengan skor telak 5-0.

Skor 5-0 atas Pesantren Lirboyo, Pesantren Darut Taibin Melenggang ke Perempat Final (Sumber Gambar : Nu Online)
Skor 5-0 atas Pesantren Lirboyo, Pesantren Darut Taibin Melenggang ke Perempat Final (Sumber Gambar : Nu Online)

Skor 5-0 atas Pesantren Lirboyo, Pesantren Darut Taibin Melenggang ke Perempat Final

Sejak menit pertama wasit Awan Ramadhan membunyikan pluit, kesebelasan Darut Taibin langsung menyerang. Taktik tersebut sangat jitu.Terbukti pada menit ketujuh, Darut Taibin berhasil membobol gawang M Rizal Abdillah, penjaga gawang Mahrusiyah melalui tendangan M Alim.

Berhasil membobol gawang tuan rumah, Kapten Pesantren Darut Taibin Dwiki Fauzi Anjasmara bersama timnya semakin agresif menyerang. Sementara tuan rumah mengimbangi permainan agresif sehingga menjurus permainan keras. Di sini wasit mengeluarkan dua kartu kuning untuk? Dandi Andika dan Baktiyan Yoga dari tim Darut Taibin.

Bupati Tegal

Kejadian ini tidak menurunkan semangat para pemain Darut Taibin. Mereka hanya mengubah permainan. Kalau sebelumnya bermain umpan-umpan lambung, kini mereka menggunakan umpan pendek. Teknik ini manjur, terbukti menambah gol kedua pada menit ke-21 oleh Veri Tristanto disusul gol ketiga pada menit ke-24 oleh Baktiyan Yoga.

Bupati Tegal

Pada menit ke-31? Dwiki Fauzi menambah gol bagi timnya setelah mendapat hadiah penalti dari wasit. Penalty dijatuhkan karena salah satu pemain Mahrusiayah melakukan pelanggaran di depan gawangnya. Hingga turun minum posisi masih bertahan 4-0 untuk tim Darut Taibin.

Setelah turun minum, dan stamina sudah menurun tim Darut Taibin berhasil menambah satu gol pada menit ke-48. Hingga pluit panjang dibunyikan kedudukan tetap 5-0 untuk Kesebelasan Darut Taibin Kabupaten Tulungagung.

Pada babak perempat final Darut Taibin akan bertemu dengan Kesebelasan Pesantren Pomosda Nganjuk. Pomosda juga lolos ke perempat final karena pada pertandingan sebelumnya mereka berhasil melibas kesebelasan Pesantren Al-Muhsin Tretek, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal RMI NU, Warta, Habib Bupati Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil

Depok, Bupati Tegal. Peringatan haul pendiri Pesantren Ar-Rahmaniyah, Pondok Terong, Cipayung, Almaghfurlah KH Abdussomad Rahman Fadil bin KH Abdur Rahman dan almarhumah Ny Hj Aminah Binti H.Mohammad Sholeh berlangsung cukup khidmat. Selama sepekan, para santri mengikuti acara Khotmil Quran sebanyak 100 kali.

Menurut salah satu Pengasuh Pesantren Ar-Rahmaniyah KH Mohammad Abduh, rangkaian khotmil Quran tersebut bagian dari acara haul.?

"Puncaknya adalah dengan semaan Al-Quran oleh Jamiyyatul Qurro Wal Huffadz (JQH) NU kota Depok. Selepas sholat Isya dilanjutkan dengan dzikir, pembacaan maulid dilanjutkan dengan Tabligh Akbar oleh KH Manarul Hidayat dan Habib Abu Bakar. Acara Minggu malam untuk Bapak-bapak dan hari Senin pagi untuk Ibu-ibu," kata Abduh di Pesantren Ar-Rahmaniyah, Pondok Terong, Cipayung, Ahad, (14/5).

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil (Sumber Gambar : Nu Online)
Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil (Sumber Gambar : Nu Online)

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil

Abduh mengungkapkan, peringatan haul juga bersamaan dengan tasyakuran Pesantren Ar-Rahmaniyah yang ke-69. Menurutnya, kiprah pesantren yang sudah lama berdiri di Kota Depok ini tetap konsisten dalam melestarikan tradisi ke-NU-an dan Aswaja NU. Ia mengungkapkan, dengan peringatan haul dan acara khotmil quran tersebut pihaknya mengingikan berdirinya pesantren tahfidz di Gadog, Bogor.?

"Kita berharap dengan acara haul tersebut bagian dari mengirim doa untuk almaghfurlah dan keberkahan bagi yang membacanya. Tentunya, bagi Pesantren Ar-Rahmaniyah sendiri bisa terus berkiprah di tengah masyarakat," harapnya.

Bupati Tegal

Ia mengungkapkan, di usia yang ke-69 Pesantren Ar-Rahmaniyah tetap konsisten di dunia pendidikan agama dan umum secara formal maupun non formal. Sampai saat ini, lanjutnya, ? telah berkembang dan memiliki 11 unit pendidikan mulai dari RA atau TK sampai dengan Program Pascasarjana.

"Kita terus berupaya dalam mengembangkan pendidikan perguruan tinggi berbasis agama Islam. Dalam ? Pendidikan, ? kita tetap dalam rangka mewujudkan warga negara yang baik keindonesiaan mapun keislaman berpegang pada ajaran Aswaja NU," terangnya.

Bupati Tegal

Dalam acara tersebut, juga dihadiri jajaran Pengurus PC NU Kota Depok dan para tokoh masyarakat. (Aan Humaidi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Habib, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

IPNU-IPPNU Universitas Jember Gelar Makesta

Jember, Bupati Tegal. Dalam rangka penggodokan kader-kader NU, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU Universitas Jember menggelar Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) “Pendidikan Aswaja” selama tiga hari di kompleks pesantren Nuris, Jl. Sarangan, Antirogo, Jember.?

Pembukaan Makesta yang diikuti 42 peserta tersebut dilakukan oleh Ketua Bagian Minat dan Bakat PW. IPNU Jawa Timur, Indra Subiyantoro, Jum’at sore (15/2).?

IPNU-IPPNU Universitas Jember Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Universitas Jember Gelar Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Universitas Jember Gelar Makesta

Dalam sambutannya, Indra menegaskan pentingnya anggota IPNU-IPPNU mendalami dan memahami soal ke-NU-an. Sebagai generasi penerus NU, anggota IPNU-IPPNU dituntut untuk mensosialisasikan sekaligus membentengi ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah.?

Bupati Tegal

“Karena itu, adik-adik sekalian harus paham dulu dan kuat dulu pondasinya,” tukas Indra.

Bupati Tegal

Indra mewanti-wanti anggota IPNU-IPPNU agar jeli dalam membaca perkembangan zaman, termasuk perkembangan ideologi. Saat ini, katanya, ideologi dan aliran baru tengah marak di kampus-kampus. Aliran-aliran tersebut bertentangan dengan ajaran Aswaja, sehingga perlu disikapi dengan hati-hati dan bijaksana.?

“Dan ini (Makesta) cukup bagus untuk pembekalan untuk menyikapi aliran-aliran yang menyimpang. Karena itu saya, mengapresiasi kegiatan ini,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua IPNU PKPT Universitas Jember, Ahmad Ainun Najib menyatakan bahwa kegiatan Makesta tak ubahnya bagai ajang penggemblengan para kader NU.?

“Mereka digembleng dan dibiasakan menjadi NU yang baik. Menjadi NU yang baik, pasti menjadi warga negara Indonesia yang baik pula,” tuturnya kepada Bupati Tegal.

Dalam jadwal yang dirilis panitia, ada sejumlah nara sumber yang dihadirkan, misalnya Prof Dr H Muhamamd Sholeh, SE (etos kerja), H Afton ILman Huda (keorganisasian), Idrus Ramli (gerakan islamisme di Indonesia) dan KH Muhyiddin Abdusshomad (pengajian kitab kuning).

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal PonPes, Habib, Berita Bupati Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Bupati Tegal - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

?

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Bupati Tegal

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

Bupati Tegal

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Habib, Amalan Bupati Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Kemnaker Fasilitasi Pemeriksaan Dini Kanker Serviks 1.500 Pekerja Wanita

Semarang, Bupati Tegal. Sebanyak 1.500 tenaga kerja wanita di pabrik garmen PT Bina Busana Internusa Semarang mengikuti tes IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) berupa pemeriksaan leher rahim (serviks) yang dilakukan untuk mendeteksi secara dini ada atau tidaknya kanker serviks. 

Kemnaker Fasilitasi Pemeriksaan Dini Kanker Serviks 1.500 Pekerja Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Fasilitasi Pemeriksaan Dini Kanker Serviks 1.500 Pekerja Wanita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Fasilitasi Pemeriksaan Dini Kanker Serviks 1.500 Pekerja Wanita

 

"Melalui deteksi dini maka bisa dilakukan pencegahan untuk meminimalisir terjangkitnya kanker serviks pada seseorang sehingga dapat menekan penderita kanker serviks di Indonesia yang jumlahnya tercatat sebagai yang terbanyak kedua setelah kanker payudara," kata perwakilan OASE Kabinet Kerja, Marifah Hanif Dhakiri, saat memberikan sambutan di hadapan pekerja PT Bina Busana Internusa, Semarang, Jawa Tengah, Senin (21/8).

Acara ini diselenggarakan Direktorat Bina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bekerja sama dengan Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja. 

Marifah Hanif Dhakiri menjelaskan Kanker serviks atau kanker leher rahim menjadi jenis kanker kedua setelah payudara yang banyak ditemukan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan 2015 menunjukkan rata-rata setiap jam jumlah penderita kanker serviks bertambah 2,5 orang dan meninggal 1,1 orang. 

Bupati Tegal

Program yang dimulai pada 2015 ini telah diikuti oleh 8.753 pekerja wanita (belum termasuk di PT Bina Busana Internusa). Jumlah tersebut terdiri dari pemeriksaan di PT Sritex Sukoharjo sebanyak 4000 orang, PT Primayuda Boyolali sebanyak 1000 orang, PT SAMA Semarang sebanyak 2.503 orang dan PT ECCO Indonesia sebanyak 1.250 orang. 

"Dari jumlah tersebut yang dinyatakan positif hanya 36 orang (0,48%). Terakhir di PT ECCO Indonesia telah dilakukan pemeriksaan sebanyak 1.250 pekerja dan alhamdulilah semuanya negatif," ujar Marifah Hanif. 

Bupati Tegal

Program yang rencananya akan terus berlangsung hingga 2019 ini diharapkan dapat membantu para pekerja wanita untuk meningkatkan status kesehatannya serta mencegah secara dini terjadinya kanker mulut leher rahim pada diri mereka. 

"Saya menghimbau agar kegiatan yang sama dapat terus digelorakan di semua lapisan masyarakat sehingga dapat tercipta tenaga kerja yang sehat dan produktif," tutur Marifah Hanif. 

Marifah Hanif menambahkan, penciptaan tenaga kerja yang produktif merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah saat ini. Pasalnya produktivitas merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pertumbuhan ekonomi suatu negara. 

"Rendahnya status kesehatan tenaga kerja dapat berdampak pada menurunnya produktivitas kerja yang mengakibatkan terjadinya tingkat upah rendah," ungkap Marifah Hanif. 

Kemnaker dan OASE Kabinet Kerja menyelenggarakan pemeriksaan tes IVA di PT Bina Busana Internusa sejak 14 Agustus hingga 21 Agustus 2017.

Turut hadir pada acara ini Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta isteri Siti Atiqoh Supriyanti.

Sedangkan dari OASE, selain Marifah Hanif, hadir juga Suryan Widati Muhadjir (Isteri Mendikbud), Erni Guntarti Tjahjo (Istri Mendagri), Sri Mega Darmi Sandjojo (Istri Mendes dan PDT) serta Siti Faridah Pratikno (Istri Mensesneg).

Sebagai informasi, OASE Kabinet Kerja merupakan sebuah perkumpulan para pendamping menteri dan unsur eksekutif pemerintahan yang dipimpin oleh Iriana Joko Widodo (Isteri Jokowi). Organisasi ini memiliki serangkaian program untuk mendukung tercapainya nawacita Presiden Jokowi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Fragmen, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Seandainya Al-Quran Tidak Turun, Kitab Ihya Ulumuddin Layak Jadi Pedoman Hidup

Pringsewu, Bupati Tegal - Kitab Ihya Ulumudin merupakan salah satu kitab sangat fenomenal karya Imam Ghazali. Kitab ini berisi kaidah dan prinsip dalam penyucian jiwa. Kitab ini menyeru pada kebersihan jiwa dalam beragama, sifat takwa, konsep zuhud, rasa cinta yang hakiki, merawat hati serta jiwa, dan sentiasa menanamkan sifat ikhlas di dalam beragama.

Menurut Mustasyar MWCNU Ambarawa Kabupaten Pringsewu KH Muhammad Dalhar, kitab yang juga memuat kandungan tentang wajibnya menuntut ilmu, keutamaan ilmu, bahaya tanpa ilmu, persoalan-persoalan dan dasar-dasar dalam ibadah ini pantas dijadikan kitab suci umat Islam seandainya Allah tidak menurunkan kitab suci Al-Quran.

Seandainya Al-Quran Tidak Turun, Kitab Ihya Ulumuddin Layak Jadi Pedoman Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Seandainya Al-Quran Tidak Turun, Kitab Ihya Ulumuddin Layak Jadi Pedoman Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Seandainya Al-Quran Tidak Turun, Kitab Ihya Ulumuddin Layak Jadi Pedoman Hidup

"Seandainya tidak diturunkan Al-Quran, Ihya Ulumuddin pantas menjadi kitab suci umat Islam," tegasnya di kediamannya di dusun Pengaleman ketika menerangkan kualitas kitab yang dipelajari di berbagai pesantren sebagai kajian kitab pamungkas para santri, Jumat (30/6).

Kiai Dalhar juga rutin mengajar Kitab Ihya Ulumiddin setiap Jumat di Masjid Jami Pengaleman. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Habib, Sholawat Bupati Tegal

Bupati Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Hadiri Santri of The Year 2017, Gubernur DKI: Kita Teruskan Perjuangan Para Kiai

Jakarta, Bupati Tegal. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai perjuangan para kiai dan santri yang rela menghibahkan semua yang ada pada dirinya untuk melawan penjajah.

Hadiri Santri of The Year 2017, Gubernur DKI: Kita Teruskan Perjuangan Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Santri of The Year 2017, Gubernur DKI: Kita Teruskan Perjuangan Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Santri of The Year 2017, Gubernur DKI: Kita Teruskan Perjuangan Para Kiai

“Perjuangan mereka waktu itu menghibahkan semuanya, menghibahkan tenaga, darah, air mata, bahkan nyawa dihibahkan untuk republik ini,” kata Anies Baswedan pada acara Santri of The Year 2017 di gedung Galeri Nasional Indonesia, Ahad (22/10).

Ia menjelaskan tentang betapa hebatnya perjuangan para pendiri bangsa, seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang mencetuskan fatwa Resolusi Jihad untuk berperang menghadapi kekuatan kolonial yang akan kembali menjajah Indonesia. 

Menurut pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, zaman di mana belum sms atau grup whatsapp, tapi informasi tentang Resolusi Jihad itu langsung menyebar dan puluhan ribu orang turun tangan terlibat menghalau asing.

Peristiwa ini, menurutnya, jangan sekadar dijadikan sejarah, lebih dari itu menjadi kacang benggala terkait tantangan Indonesia hari ini.

Bupati Tegal

Ia pun meminta agar perjuangan para pendahulu diteruskan oleh generasi sekarang. “Saya rasa kini saatnya kita membuktikan kepada orang tua kita. Kita teruskan perjuangan mereka,” tegasnya.

Hadir pada acara penghargaan ini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Helmy Faisal Zaini, Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia Muhammad Nasir dan lain-lain. (Husni Sahal/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Internasional Bupati Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial

Jakarta, Bupati Tegal - Komunitas Rumah Jamur bersama Tim Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Sampang mengadakan sejumlah kegiatan dalam rangka pemulihan mental anak-anak korban konflik di Desa Bluran dan Desa Karang Gayam, Sampang. Mereka mengajak anak-anak di desa setempat menonton film motivasi, outbound, dan kegiatan psikososial lainnya.

Menurut Koordinator Tim Lakpesdam NU Sampang Mohammad Karim, semua anak-anak baik yang orang tuanya Sunni maupun Syiah merupakan korban dari konflik orang dewasa. Anak-anak semestinya tidak dilibatkan dalam konflik karena mereka tidak mengerti apa yang terjadi.

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Sampang Adakan Pemulihan Trauma Anak Korban Konflik Sosial

Anak-anak perlu dihibur untuk menghapus trauma dari kekerasan yang mereka saksikan saat kejadian.

"Anak-anak tidak boleh dilabeli Sunni atau Syiah. Mereka adalah anak-anak yang semestinya bisa tumbuh dalam suasana yang nyaman tanpa kekerasan," ujar Karim saat ditemui di sela kegiatan, Sabtu (23/1) pagi.

Bupati Tegal

Ketua Rumah Jamur Siti Fatimah menambahkan, metode pemulihan trauma dalam bentuk pemutaran film motivasi dikmaksudkan untuk membangkitkan semangat hidup mereka serta memberikan permainan yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme, toleransi, dan? penguatan agar mereka tidak larut dalam kesedihan serta kebencian kepada sesama.

Bupati Tegal

"Kami ajak anak-anak bermain sambil belajar melalui pemutaran film motivasi untuk anak, permainan tradisional dan sharing bersama sehingga sedikit banyak bisa mengobati trauma yang mereka miliki akibat konflik yang pernah terjadi," ujar Peraih Medali Emas Olimpiade Astronomi Tingkat Internasional ini.

Rumah Jamur bersama Lakpesdam NU Sampang sengaja menurunkan tim di dusun eks lokasi konflik tersebut sebagai bentuk kepedulian untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak.

"Apapun yang terjadi, kami ingin memastikan anak-anak korban konflik ini tetap terjaga kebahagiaannya sehingga bisa lebih terjamin masa depannya," imbuhnya.

Kegiatan yang berlangsung selama 6 jam sejak pagi hingga siang ini diikuti kurang lebih sebanyak 110 anak. Di akhir sesi kegiatan, Tim Rumah Jamur juga menggelar diskusi dengan sejumlah tokoh, pemuda, dan guru untuk merumuskan tindak lanjut kegiatan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, RMI NU, Kiai Bupati Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

GP Ansor Lampung Tengah Tolak Sekolah 5 Hari dan Radikalisme

Lampung Tengah, Bupati Tegal - Seribu lebih kader GP Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Lampung mengadakan apel di halaman kompleks gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lampung Tengah Jalan Lintas Sumatera Proklamator Raya Nomor 134 Seputih Jaya Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (21/7). Mereka menyatakan penolakan terhadap kebijakan sekolah lima hari.

Ketua GP Ansor Lampung Tengah Saryono mengatakan, pihaknya atas nama pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Lampung Tengah mohon doa restu dan arahan dari para kiai dan dewan penasihat dalam menjalankan roda organisasi ini selama empat tahun ke depan.

GP Ansor Lampung Tengah Tolak Sekolah 5 Hari dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lampung Tengah Tolak Sekolah 5 Hari dan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lampung Tengah Tolak Sekolah 5 Hari dan Radikalisme

“Semoga GP Ansor Lampung Tengah bisa memberi manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat Lampung Tengah, khususnya untuk segmen pemuda nahdliyyin. Melihat fenomena pendidikan yang berkembang saat ini, kami atas nama GP Ansor Lampung Tengah menolak keberadaan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang lima hari sekolah atau Full Day School (FDS),” imbuh mantan Ketua Panwaskab Kabupaten Lampung Tengah ini.

Bupati Tegal

Menurutnya, sekolah lima hari tidak berpihak kepada masyarakat. Kebijakan ini hanya melihat salah satu sisi saja. Madrasah diniyah dalam hal ini mempunyai peran sangat penting dalam membangun karakter bangsa. Membangun karakter siswa tidak harus didalam lingkungan sekolah, bisa juga di luar sekolah.

“Yang tak kalah penting lagi, GP Ansor Lampung Tengah dengan tegas menolak radikalisme agama. GP Ansor Lampung Tengah mendorong Pemkab Lampung Tengah untuk tegas dan menertibkan kepada ormas-ormas radikal dan anti-Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegas alumni STIE Widya Wiwaha Yogyakarta ini.

Bupati Tegal

Sementara ribuan Banser menyaksikan acara pelantikan pengurus baru GP Ansor Lampung Tengah masa khidmat 2016-2020.

Hadir dalam pelantikan ini Rais Syuriyah PCNU Lampung Tengah KH Nur Daim, Katib Syuriyah PCNU Lampung Tengah Kiai Budi Sriono, Ketua PCNU Lampung Tengah KH Imam Suhadi, Sekretaris PCNU Lampung Tengah H Wagimin, Ketua GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, dan pengurus lembaga dan banom NU Lampung Tengah.

Tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Tengah H Adi Erlansyah, Asisten 1 Lampung Tengah. Ketua MUI Lampung Tengah H Mutawalli, Kabag Kesra Lampung Tengah Ahmad Jailani, unsur TNI dan Polri, Ketua KPUD Lampung Tengah Budi Hadi Yunanto, para utusan OKP, para utusan pengurus parpol, dan para tokoh masyarakat. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Habib, Hadits Bupati Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Pilkada, Ketum PBNU: Memilihlah secara Bertanggung Jawab

Jakarta, Bupati Tegal - Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, salah satu kewajiban yang ia emban sejak Muktamar di Makassar hingga Jombang, adalah mematuhi Khittah 1926. Menurutnya, pesan Khittah 1926 sudah sangat jelas, yakni NU tidak terlibat dalam politik praktis.

Karena itu, lanjut Kiai Said, jika ada pengurus NU yang mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap kandidat tertentu maka hal itu tak lebih dari sebagai pernyataan pribadi.

Pilkada, Ketum PBNU: Memilihlah secara Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada, Ketum PBNU: Memilihlah secara Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada, Ketum PBNU: Memilihlah secara Bertanggung Jawab

“Orang NU itu juga patuh konstitusi. Punya hak dan kewajiban yang dilindungi konstitusi. Salah satunya adalah hak untuk memilih dan dipilih. Hal inilah yang bersifat pribadi. Ini sederhana dan mendasar sekali,” katanya di Jakarta, Jumat (10/2).

Bupati Tegal

Terkait pilpres, pileg, maupun pilkada, Kiai Said mendorong warga NU untuk aktif menggunakan hak pilihnya secara bertanggung jawab. “Tanggung jawab itu ya cari-cari informasi, pakai perenungan, dan terus berdoa agar Indonesia dikaruniai pemimpin yang tidak zalim. Ini pertimbangan yang sifatnya pribadi sekali. Silakan pilih nomor berapa saja, asal bertanggung jawab,” paparnya.

Bupati Tegal

Siapa pun yang terpilih nanti, katanya, harus menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Ini soal amanah yang tidak mudah. Makanya, tidak hanya NU, semua orang Indonesia harus mengawal dan mengawasi pemerintahan terpilih.

“Sejak sebelum, ketika, dan seudah mencoblos, setiap pemilih harus menilai tinggi-tinggi suara pribadinya itu. Kemarin saya bilang, yang penting bukan saat coblosan saja, tapi hari-hari panjang sesudahnya,” tambahnya.

Kiai Said mengatakan, perbedaan pendapat dalam soal dukungan kepada calon pemimpin adalah hal yang wajar. Bahkan, ia menilai perbedaan itu justru membuat masyarakat cerdas dan kritis.

“Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah. Namun tidak sedikit orang luar atau pengamat yang tidak memahami disiplin berpikir pesantren tidak jarang berlebihan melihat perbedaan pendapat di tubuh NU,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Santri, Habib Bupati Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

IPNU-IPPNU Jombang Genjot Program Utama

Jombang, Bupati Tegal

Setelah resmi dilantik di aula Pondok Pesantren Bahrul Ulum (BU) Tambakberas pada Ahad (14/2/2016) lalu, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur garap sejumlah program prioritas.

IPNU-IPPNU Jombang Genjot Program Utama (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jombang Genjot Program Utama (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jombang Genjot Program Utama

Di antara beberapa program tersebut adalah menggalakkan pengaderan pelajar di semua kecamatan, desa hingga dusun di Jombang, khususnya beberapa wilayah yang masih belum menjadi target ? PC IPNU-IPPNU Jombang sebelumnya.?

Demikian disampaikan Ketua PC IPPNU Jombang, Qurrotul Aini. Ia memaparkan bahwa optimalisasi pengaderan pelajar di Jombang adalah salah satu visi misi utama PC IPNU-IPPNU Jombang di tampuk kepemimpinannya. Meskipun keberadaan IPNU-IPPNU mayoritas sebelumnya sudah masuk di tingkat kecamatan, namun ia mengaku masih sedikit pelajar IPNU-IPPNU di tingkat desa dan dusun (ranting dan anak ranting).

Aini, sapaan akrabnya menambahkan bahwa untuk menunjang keberlangsungan pengaderan yang baik, ia juga berupaya menumbuhkan keterampilan atau seni manajemen pengurus dalam melaksanakan program-programnya. “Yang jelas pembentukan, pematangan pelajar Jombang, serta memupuk kader yang berkualitas adalah salah salah satu tujuan kami, dann ini sangat memerlukan dorongan skill dari para pengurus,” katanya kepada Bupati Tegal saat dihubungi, Jumat (19/2).

Di samping itu pihaknya juga mendorong antar pengurus, baik ranting, Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga pengurus cabang untuk saling bersinergi menjalankan visi misi tersebut. Selain itu, mendirikan Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU di semua kampus Jombang juga bagian program prioritas.

Bupati Tegal

“Selain visi misi utama kita di pengaderan pelajar ke desa-desa, kami juga akan mendirikan Pengurus Komisariat Perguruan Tinggi IPNU-IPPNU di semua kampus Jombang, selama ini sudah ada, tapi hanya beberapa saja. Dan kita memang sedang memikirkan cara yang tepat untuk menyelesaikan itu,” ujarnya.

Dari hasil koordinasi dan pertemuan dengan para pengurus cabang, ia optimis akan merampungkan program-program tersebut dengan maksimal. Bahkan pihaknya juga sering mendiskusikan dengan para pembina dan kiai sesepuh setempat. “Insyaallah tugas-tugas itu rampung dengan maksimal, kita akan menyeriusi ini,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Hadits, Habib, Pemurnian Aqidah Bupati Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Wujudkan Pilkada Damai dan Barokah, Pemkab Pringsewu Gelar Istighotsah

Pringsewu, Bupati Tegal. Mengambil tempat di Pendopo Pringsewu, Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Lampung menggelar Istighotsah dan Doa bersama sebagai salah satu ikhtiar demi terwujudnya Pemilukada yang damai, Senin (13/2). Plt Bupati Pringsewu Yuda Setiawan yang hadir pada acara tersebut mengatakan Acara Istighotsah tersebut bukanlah sekedar formalitas.

Wujudkan Pilkada Damai dan Barokah, Pemkab Pringsewu Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Pilkada Damai dan Barokah, Pemkab Pringsewu Gelar Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Pilkada Damai dan Barokah, Pemkab Pringsewu Gelar Istighotsah

"Istightsah ini merupakan  penegasan sikap seluruh elemen yang ada dalam pilkada untuk berusaha turut menciptakan iklim kondusif pesta demokrasi ini," katanya didepan para tamu undangan yang terdiri dari Tokoh Agama dan Masyarakat serta Pegawai Pemda setempat.

Kegiatan ini juga diisi dengan komitmen bersama para Calon Bupati dan Wakil Bupati untuk mewujudkan Pilkada yang damai baik selama pelaksanaan dan pasca pilkada yang akan digelar pada Rabu 15 Februari 2017 tersebut.

Sementara Habib Yahya Assegaf yang bertindak selaku Imam Istighotsah menegaskan bahwa seluruh calon diharapkan untuk bersiap menerima apapun hasil yang nantinya diputuskan. "Yang menang bersyukur, yang kalah legowo," tegas Mudir Idaroh Wustho JATMAN Provinsi Lampung ini.

Bupati Tegal

Siapapun yang terpilih nanti merupakan kehendak Allah yang Maha Mengetahui akan Pringsewu dimasa yang akan datang. "Pada saat ini Ulama dan Umaro berkumpul dan merupakan saat yang tepat untuk bermunajat kepada Allah agar Pringsewu Bersenyum Manis," katanya.

Para Pejabat dan Tokoh yang Hadir pada Acara Istighotsah tersebut diantaranya Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua FKUB Pringsewu KH Mahfudz Ali, Kapolres dan Dandim Tanggamus dan Pringsewu dan Ketua MUI Kecamatan se-Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal News, Habib Bupati Tegal

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

Kudus, Bupati Tegal. Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN) menegaskan kehadirannya sebagai organisasi mahasiswa penganut tarekat adalah untuk membendung gerakan radikalisme yang telah berkembang di berbagai kampus.

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

“MATAN mempunyai tanggung jawab mendidik generasi muda sebagai upaya penyelamatan umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pergolakan global,” kata Ketua Pimpinan Pusat  MATAN Hamdani Muin dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Cabang MATAN Kabupaten Kudus  di Aula Kantor NU setempat, Sabtu (29/9) malam.

Ia menandaskan, sebagai bagian dari Jamaah Ahli  Thariqah, MATAN akan selalu mendarmabaktikan kepada umat dan NKRI. Ditegaskan, thariqah atau tarekat tidak hanya sekedar berdzikir melainkan juga memikirkan kepentingan umat. 

Bupati Tegal

“Apa artinya Dizikir siang malam tetapi tidak memikirkan kepentingan umat. Begitu pula, tarekat bukan hanya milik para masyayih atau orang tertentu.  Thariqah adalah rahmatal lil Alamin.”tandasnya lagi.

Bupati Tegal

Hamdani menjelaskan  MATAN memiliki lima asas (al-asas al-khomsah)sebagai semangat pergerakan yakni Tafaqqu fi al din (mengasah kemampuan dan ketajaman intelektual), Iltizamut Thoat (semangat ketaatan kepada Allah,Rasulullah dan Ulil Amri), Tasfiah al qalb wa tazkiyat al-nafsi (pembersihan dan pensucian diri), hifdz-al-aurad wa al-adzkar (menjaga waktu untuk kemanfaatan dan pahala Allah SWT) dan  dan khidmah lil –ummah (mendarmabaktikan kepada umat manusia kepada bangsa dan negara).

“Kelima asas itu muaranya  hidmah kepada umat dan bangsa. Maka tidak aneh, Habib lutfiy selalu menggelorakan Indonesia Raya di setiap kesempatan,” tegas Dosen pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada terlantik, Hamdani mengajak pengurus MATAN selalu mengikuti mursyid (guru) dan berakhlakul karimah. Ia juga  melarang pemanfaatan  organisasi untuk kepentingan politik. 

“Thariqah itu milik masyayih, jadi jangan sampai narik-narik ke politik. Kalau ada yang melakukan hal itu , pasti akan kualat.” tambah dia menandaskan.

Sementara Pengurus Cabang Jamiyah ahli Thariqah An Nahdliyyah (JATMAN) KH. Syafiq Nashan mengharapkan MATAN mampu meredam gejolak situasi yang panas terutama di kalangan anak muda. 

“Kita perlu meredam situasi panas ini dengan selalu berdzikir sebagai ajaran thariqah.  Karena itu, kita bersama-sama memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat melalui matan.” Ujar KH Syafiq yang juga ketua MUI Kudus ini.

Sementara sebelumnya,  pengurus Cabang MATAN Kudus secara resmi telah dilantik ketua PP Hamdani Muin. Dengan disaksikan para kyai thoriqah dan tamu undangan lain, Deklarasi dan prosesi   pelantikan berlangsung hidmah.

Adapun susunan PC MATAN Kudus yang dilantik yakni Ketua Muhammad Mawahib dan wakilnya Ah.Amir Faisol, Malik Khoirul Anam dan Wahyu Setiadi. Sekretaris Moh saifudin Nawawi, wakil sekretaris saifudin Bachri, Khoirul Anwar dan Riza Jauharatul Muniroh, sedangkan Bendahara Ismail dan wakil bendahara Muslihatul Izza. 

Kepengurusan dilengkapi  tujuh departemen  yakni Manajemen dan Pengembangan sumber daya Manusia, Pengkaderan, Cinta tanah air, Kajian dan Litbang, Seni dan Budaya, Komunikasi dan Informasi serta Ekonomi dan entrepreneur.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Budaya, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista

Jakarta, Bupati Tegal. Sejak beberapa tahun lalu, Muhammad Nurhidayat memiliki hobi yang unik, yaitu membuat alutsista mainan berbahan karet penghapus, yang ia beri nama “minikar”. Minikar merupakan kependekan dari “miniatur ukir dari karet penghapus”.

Ide membuat minikar berawal sekitar 4 tahun lalu ketika sang anak minta dibelikan mainan pesawat N-250 buatan PT Dirgantara Indonesia.?

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurhidayat Produksi Mainan Alutsista

“Saat itu anak pertama saya masih TK. Dia minta dibelikan pesawatnya Pak Habibie (N-250). Wah, saya bingung. Selama ini yang ada di pasaran kan mainan miniatur pesawat buatan luar negeri. Belum ada pesawat buatan (negara) kita yang diperbanyak menjadi mainan. Saya katakan kepada anak saya, belum ada mainan seperti itu (miniatur N-250),” kata pria 37 tahun kelahiran Surabaya, yang kini menetap di Semarang, Senin (27/3).

Ayah tiga anak yang bekerja sebagai dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Gorontalo kembali bingung sewaktu sang anak juga minta dibelikan mainan berbentuk Anoa buatan PT Pindad.?

“Anak saya lihat (panser) Anoa di internet. Dia bilang sangat bagus dan keren. Lalu juga minta dibelikan mainan (panser Anoa) itu,” ujar Nurhidayat.

Bupati Tegal

Pria yang kini kuliah di pascasarjana Universitas Diponegoro ini pun memiliki ide membuat mainan berbentuk alutsista setelah melihat maket arsitektur di sebuah kantor pemerintah daerah.?

“Pada maket itu kan juga terpajang miniatur mobil-mobilnya berbahan karet penghapus. Nah, dari situ saya mendapat ide. Maka saya membeli beberapa buah karet penghapus dan perlengkapan lainnya untuk membuat mainan alutsista,” cerita Nurhidayat.

Ia mengukir batangan-batangan karet penghapus dan mengecatnya hingga berbentuk menyerupai aneka alutsista seperti tank, panser, truk peluncur misil, truk angkut tentara, rantis (kendaraan taktis), helikopter serbu, helikopter angkut tentara, hingga pesawat tempur.?

“Alhamdulillah meskipun tidak mirip banget dengan aslinya, tapi anak saya suka,” kata pria yang mengagumi B.J. Habibie ini.

Bupati Tegal

Ternyata tidak hanya anak Nurhidayat saja yang menyukai minikar buatannya, tetapi juga anak-anak tetangga sekitar rumah, baik sewaktu masih di Gorontalo maupun setelah pindah ke Semarang.?

“Anak-anak tetangga, juga teman-teman sekelas anak saya minta dibuatkan juga. Malah ada yang minta diajari cara pembuatannya. Saya pun membuatkan ataupun mengajari cara pembuatannya,” kenang Nurhidayat.?

Hingga kini ia telah diundang ke beberapa sekolah, ponpes, dan masjid untuk mengajarkan cara pembuatan mainan tersebut kepada anak-anak.

Nurhidayat kagum dan sangat mendukung bangsa ini berusaha mandiri dalam hal pengadaan alutsista. “Semoga alutsista (buatan bangsa) kita banyak juga diminati bangsa lain. Agar kita suatu saat nanti dikenal sebagai negara pengekspor alutsista, bukan lagi sebagai pengimpor seperti sekarang,” harap pria yang menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengahnya di Tarakan, Kalimantan Utara ini.

Namun, Nurhidayat mengakui bahwa minikar buatannya tidak mirip dengan alutsista sungguhan yang dibuat PT Pindad maupun PT-DI.?

“Alasan pertama, karena saya belum minta izin dari PT Pindad dan PT-DI. Semua alutsista buatan mereka kan ada hak ciptanya. Kita harus menghormatinya. Alasan kedua, saya memang tidak bisa membuatnya menjadi mirip. Hahaha,” selorohnya.?

Alumni Universitas Hasanuddin itu berharap, pemerintah memproduksi mainan atau miniatur berbentuk alutsista produksi dalam negeri.?

“Selama ini kan anak-anak kenalnya dengan (panser) Tarantula padahal kita sudah punya Anoa dan Badak. Anak-anak akrab dengan (rantis) Hummer-nya Amerika meskipun kita sudah produksi Komodo. Sebab selama ini alutsista kita tidak disosialisasaikan dalam bentuk mainan. Jadi banyak anak-anak tidak kenal karya bangsa sendiri. Anak saya saja bilang sendiri bahwa (rantis) Komodo bentuknya lebih keren daripada Hummer,” jelas Nurhidayat.

Menurut Nurhidayat, jika ada BUMN atau pun perusahaan swasta yang mau memproduksi secara massal mainan atau miniatur berbentuk alutsista Indonesia, anak-anak bangsa ini akan semakin cinta dengan produksi dalam negeri.?

“Bahkan bisa juga diekspor ke mancanegara. Sehingga anak-anak di seluruh dunia pun mengenal (panser) Anoa, Badak, (ranris) Komodo, dan semua kendaraan buatan Indonesia lainnya,” harapnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Habib, Pesantren Bupati Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

IPNU-IPPNU Sorong Rampungkan Konferensi

Sorong, Bupati Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPNU- IPPNU) Sorong, Papua Barat mengakhiri kepengurusan masa bakti 2012-2014 pada Konfercab III, Sabtu-Ahad (15-16/2). Kegiatan di gedung LPTQ kabupaten Sorong ini dibuka Ketua PCNU Sorong Nahrowiyanto.

Konfercab kali ini diikuti 5 anak cabang yaitu Distrik Aimas, Mariat, Mayamuk, Salawati, dan Klamono. Sedangkan komisariat yang hadir berasal dari PK MTs al-Maarif 1 Aimas, PK MTs al-Maarif 2 Mayamuk, PK MA al-Maarif 1 Makbalim, PK SMK Negeri 1 Aimas, PK SMA Negeri 1 Aimas, PK MTs Negeri Mariyai, dan PK MA Nurul Yaqin.

IPNU-IPPNU Sorong Rampungkan Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sorong Rampungkan Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sorong Rampungkan Konferensi

Konferensi yang digelar hingga akhir persidangan menetapkan Muhammad Yahya sebagai Ketua IPNU Sorong dan Fahmi Anggrahini sebagai Ketua IPPNU Sorong untuk masa khidmat 2014-2016.

Bupati Tegal

Nahrowiyanto dalam sambutannya mengajak semua pihak untuk mendukung gerakan IPNU-IPPNU Sorong. Karena, “Pelajar NU ini yang melahirkan kader-kader berkualitas dan teguh memegang Ahlussunnah wal Jamaah serta keutuhan NKRI."

Kegiatan ini disaksikan dan didoakan oleh Rais Syuriyah PCNU Sorong H Ahmad Sutedjo.  (Zaenal Arifin/Alhafiz K)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Habib Bupati Tegal

Kamis, 30 November 2017

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat

Kudus, Bupati Tegal. Ketua Pimpinan Cabang Fatayat NU Kudus, Karyati Inayah berpendapat Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Langsung merupakan momen sambung rasa dan silaturrahim antara calon wakil dengan rakyat.

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Langsung Momen Sambung Rasa antara Calon dengan Rakyat

Ia mengatakan hal itu pada diskusi “Pilkada Langsung, Pilkada Tidak Langsung: Siapa Beruntung?” yang diadakan STAIN Kudus bekerja sama dengan Majelis Alumni IPNU Jawa Tengah bertempat di rektorat lantai 3 STAIN Kudus, Sabtu (20/9) siang.

“Dengan Pilkada Langsung, menurut kami para calon bisa silaturrahim, blusukan, sambung rasa kepada rakyat secara langsung,” terangnya.

Bupati Tegal

Berkaitan dengan politik uang, lanjut Inayah perlu dimaknai dengan positif. Masyarakat punya bargain, nilai tawar untuk menentukan pilihannya, bukan rakyat hanya mampu “dibeli” dengan selembar uang.

Disamping itu, Pilkada Langsung yang dianggap banyak menuai konflik menurutnya kedepan akan lekas hilang dengan sendirinya. “Ke depan masyarakat kian tambah dewasa. Kita pun tidak perlu cemas sebab kelak konflik akan hilang dengan sendirinya,” imbuhnya.

Bupati Tegal

Sejumlah dinamika  dalam pelaksanakan Pilkada Langsung; politik uang dan konflik, tambah Inayah, merupakan pembelajaran tersendiri bagi masyarakat. Lambat laun dinamika tersebut kelak hilang dengan sendirinya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Sholawat Bupati Tegal

Rabu, 22 November 2017

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial

Apa hubungan gerhana bulan (khusuf) dan keadilan sosial? Gerhana merupakan peristiwa alam, salah satu bentuk kuasa Allah. Tetapi Rasulullah SAW sendiri mengaitkan kenyataan alam dan perubahan sosial. Beliau menganjurkan umatnya sembahyang sunah muakkad dua rekaat ketika terjadi gerhana. Setelah sembahyang, imam disunahkan berkhotbah yang mengajak jamaah untuk bertobat kepada Allah dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.

Sembahyang gerhana bulan dikerjakan sebanyak dua rekaat. Setiap rekaat terdapat dua kali ruku’. Ruku’ kedua lebih sebentar dari ruku’ pertama. Ingat, jangan dibalik seperti lazimnya dikerjakan banyak orang awam.

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembahyang Gerhana Bulan dan Keadilan Sosial

Karena dua kali ruku’, otomatis ada dua i’tidal. Demikian juga dengan surat Al-Fatihah. Surat ini dibaca dua kali dalam satu rekaat.

Tetapi ingat, sujud tidak perlu ditambahkan. Pada satu rekaat ini, sujud tetap dua, bukan empat.

Bupati Tegal

Tersebut dalam kitab Qutul Habibil Ghorib, Tausyih ala Fathil Qoribil Mujib karya Syekh M Nawawi Banten dalam 

Bupati Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, setiap rekaatnya dua kali berdiri dengan memperlama bacaan surat pada keduanya. Setiap rekaat ada dua ruku’. Tasbih diperbanyak cukup saat ruku’. Saat sujud, tasbih tidak perlu diperbanyak. Setelah itu imam berkhutbah dua kali.

Kalau mau khutbah sekali, juga tidak menjadi soal, kata Syekh Nawawi masih dalam kitab yang sama. Yang mesti diingat, khotib mesti memanfaatkan khutbahnya untuk mengajak jamaah kembali kepada Allah dan mendorong partisipasi jamaah dalam memberantas kezaliman seperti kejahatan korupsi, tindakan teror, menyebarkan hasut yang mengotori nama baik seseorang, monopoli pasar, dominasi atau bentuk kezaliman lainnya.

Demikian disebutkan Syekh Abdullah Syarqowi dalam karyanya, Hasyiyatus Syarqowi ala Tuhfatit Thullab

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotib mesti mengajak jamaah untuk keluar dari maksiat, meloloskan diri dari jeratan segala bentuk kemaksiatan. Kemaksiatan ini mencakup memberantas kezaliman (terhadap jiwa atau harta orang) termasuk kezaliman terhadap kedaulatan prestis seseorang. Wallahu A’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib Bupati Tegal

Kamis, 16 November 2017

Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas

Oleh Widya Priyahita Pudjibudojo



Sebagai sebuah sistem pengetahuan, universitas di Indonesia tergolong institusi yang masih muda. Namun demikian, secara cepat universitas berhasil menggantikan dominasi institusi keilmuan berbasis lokal yang lebih dahulu eksis (seperti pesantren). Universitas merepresentasikan tidak hanya komitmen negeri ini pada modernitas, tetapi juga diskontinuitas dari tradisi pembelajaran yang ada dalam masyarakat. Pun menghadirkan seperangkat pengetahuan yang berbeda dengan pemahaman orang awam. Tak mengherankan jika universitas di Indonesia seringkali dituduh ‘asing’, ‘terasing’, dan atau bahkan ‘mengasingkan’ masyarakat dari konteks-kultur yang melatari.

Membandingkan Keunggulan Pesantren  dengan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas

Dalam pengembangannya kemudian, universitas sebagai model adopsi yang tidak indigen ini, membutuhkan role-model dari negara-negara maju. Terjalinlah relasi patronistik di antara keduanya yang menimbulkan efek ketergantungan. Hal ini masih harus diperparah oleh kenyataan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, dan masifnya industrialisasi penerbitan yang dikembangkan negara-negara maju. Akibatnya arus lalu-lintas pengetahuan bergerak menjadi sangat agresif: cepat, mudah, dan murah, namun tanpa menanggalkan coraknya yang cenderung satu arah (one way distribution).

Kondisi demikian menyebabkan posisi awal hingga kini pengembangan keilmuan di mayoritas negara pascakolonial, seperti Indonesia, cenderung “mencari ke luar” (outward looking) daripada secara induktif menggali khazanah yang dimilikinya (indigen). Tak mengherankan jika banyak ilmuwan lalu gagal dalam menarik gists (inti sari/visi kebenaran ilmiah) dari kandungan teori yang dipelajarinya. Dalam bahasa yang lebih tajam, produksi keilmuan tidak (terlalu) mengemuka. Seakan riuh-semarak namun lebih berupa konsumsi yang taken for granted.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Tentu ini problematik. Teori-teori yang dikembangkan dalam konteks yang berbeda tersebut pada akhirnya terbukti kesulitan menjawab kebutuhan masyarakat. Ia bersama klaim universalitas yang dibawanya lalu (mulai) digugat dan dipertanyakan ulang. Munculah usualan-usulan yang berulang tapi selalu gagal berkembang, yakni: indigenisasi ilmu sosial. Semacam upaya pengembangan sistem nilai dan pengetahuan lokal untuk dijadikan alternatif paradigma ilmu sosial yang lebih kontekstual. Baik sifatnya bagian dari genealogi pengetahuan berbasis lokal yang hendak diilmiahkan; sekaligus, indigenisasi sebagai bagian dari kontekstualisasi ilmu-ilmu sosial yang berkembang kini dalam berhadapan dengan material dan semantik lokal. Untuk persepsi yang kedua, sifatnya lebih moderat. Bahwa pengaruh, konten, paradigma, atau apa pun yang ‘berbau’ luar, tidaklah seluruhnya ditolak, melainkan coba didapatkan relevansinya dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat lokal. Jadi tidak xenophobic. Tidak juga taken for granted.

Dengan demikian orientasi pengembangan ilmu tak hanya menyangkut relevansi ilmiah namun juga relevansi sosial. Tak hanya bersifat etik-normatif, tetapi juga sebisa mungkin applicable (dapat diaplikasikan). Bagaimana menjadikan hasil dari pengembangan ilmu menjadi solusi efektif bagi permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat. Yang utama tak lagi persoalan benar-salah (right or wrong/correct or incorrect) semata, tetapi lebih dari itu adalah kompatibilitas atau kecocokan. Karenanya jelaslah hampir bisa dipastikan bahwa tak ada teori yang fix, permanen, serta universal, dalam khazanah ilmu sosial sehingga pendekatan spasio-temporal menjadi relevan dikembangkan.

Poin yang ingin disampaikan adalah otokritik atau self critic. Bukan apologetik. Dengan begitu, tantangan yang perlu segera dijawab, yakni: bagaimana menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri para intelektual negara-negara poskolonial, khususnya untuk mengatasi problem lokal yang mengemuka di negerinya dengan term poin yang berasal dari sistem kultural yang ada? Tak lagi berpuas sebagai pengamat, sales, atau konsumen ilmu dengan pilihan terbatas take it, leave it, atau paling jauh melakukan konstekstualisasi. Namun lebih jauh turut bermain sebagai producer keilmuan.



Kebangkitan Pesantren


Isu ini sebenarnya bukan isu yang baru. Kita dapat melihat progresivitas yang baik di sejumlah tempat seperti India, sebagian Afrika, Amerika Latin, atau pun Selandia Baru. Lalu apa hubungannya dengan pesantren sebagaimana tertulis dalam judul di atas? Saya membayangkan universitas mulai sadar dan membuka diri akan pluralitas epistemologis di luar dirinya. Contohnya adalah pesantren yang sedari awal disinggung memiliki basis kultural yang mengakar di Indonesia. Sayangnya dari dulu hingga kini kehadirannya sebagai pusat pengembangan ilmu masih terpinggir.

Sedikit kilas balik. Pesantren karena tumbuh dan berkembang secara akulturatif, kemudian dalam perjalananya berperan sebagai agen transformasi sekaligus penjaga kultur masyarakat. Pada era kolonial, pesantren menjadi salah satu pusat counter-culture atas injeksi budaya Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Pesantren hadir sebagai alternatif atas model dan akses pendidikan maupun pemberdayaan masyarakat.

Tak heran, karena aktivitas tersebut, kemudian pesantren (kiai dan santrinya) dianggap subversif oleh pemerintah kolonial. Terjadi konflik kepentingan yang begitu kuat atas kedua kekuatan ini; baik dalam hal penyebaran agama, budaya, maupun pengaruh dan penguasaan ekonomi-politik. Akibatnya kemudian muncul strategi eksklusi. Pemerintah kolonial melakukan politik segregasi dengan mempertegas pengelompokkan masyarakat yang terdiri dari: santri, abangan, dan priyayi. Kelompok yang disebut terakhir dicangkok sebagai agen budaya dan makelar identitas. Diberikan hak-hak istimewa seperti pendidikan dan jabatan-jabatan publik. Sedangkan kelompok sisanya dibiarkan, disingkirkan (marginalisasi), dan cenderung diposisikan vis a vis.

Dalam hal keilmuan, apa yang berkembang dalam tradisi pesantren tidak pernah diserap, diinterkoneksi, atau diintegrasikan dalam model pendidikan modern a la Barat (baca: universitas). Sebaliknya justru dinegasi. Ketika universitas versi Barat pertumbuhannya semakin pesat dan diadopsi oleh pemerintah pasca kemerdekaan, interaksi keduanya tetap kering. Inilah penjelas mengapa diskursus keilmuan pesantren terbilang minim dan menjadi sesuatu yang asing dalam diskursus ilmu pengetahuan umum (secular) di Indonesia.

Kiai dalam teks-teks sejarah jarang sekali diposisikan sebagai seorang ilmuwan atau intelektual; kepergian haji ke Tanah Suci para ulama jarang dibaca sebagai upaya pengembangan ilmu namun lebih sebagai aktivitas ibadah sekaligus pendalaman pemahaman keagamaan. Literatur seperti kitab kuning yang menjadi referensi utama di pesantren lebih dianggap sebagai literature keagamaan ketimbang sebagai literature keilmuan (misalnya: literature ilmu hokum, ilmu ekonomi, ilmu politik, dll). Memang benar pesantren selain diakui sebagai pusat keagamaan juga diakui sebagai pusat perubahan sosial karena berbagai upaya pemberdayaan yang dilakoninya. Namun sebagai pusat keilmuan masih sebagai pemain pinggiran. Yang perlu dilakukan adalah upaya-upaya dekolonisasi metodologis, misalnya dengan membongkar tafsiran teks-teks sejarah.

Selain problem sejarah, ada faktor perbedaan epistemologi yang signifikan antara pesantren dan pendidikan sekular-modern. Yang pertama, adanya integrasi antara agama dan ilmu; serta integrasi antara ilmu dengan laku. Tujuan akhir dalam ilmu adalah praktik keseharian sehingga nilai-nilai agama harus masuk di dalamnya. Bahkan menjadi sandaran utama. Sedangkan yang kedua, berupaya memisahkannya secara tegas, atau sering disebut value free. Ilmu dibebaskan dari pengaruh budaya dan agama untuk mengejar objektivitas.

Di luar itu, ada pula kategori disiplin keilmuan yang berbeda. Dalam pesantren spesialisasi tidak dilakukan dengan kategori semacam politik, hukum, sosiologi, ekonomi, dan filsafat. Di sana kajian yang dikembangkan berbasis isu sehingga coraknya cenderung generalis. Santri dalam pesantren mempelajari satu kitab yang memuat banyak isu. Sedangkan dalam universitas, mahasiswa mempelajari satu isu dengan menggunakan banyak kitab. Imbas regangan dua arus besar tradisi keilmuan ini masih berlanjut hingga kini.

Mendamaikan keduanya tentu bukan perkara mudah. Terlebih, penerapan aturan main baku dalam pengembangan ilmu semakin menutup peluang hadirnya variasi keilmuan dengan epistemologi berbeda seperti pesantren. Hal ini kerap dianggap sebagai efek positivisme ilmu yang kemudian digugat-paksa. Namun demikian, belakangan lahirlah banyak kritik. Salah satunya datang dari Paul Feyerabend yang mungkin bisa menjadi alternatif pintu masuk cara pandang baru.

Dalam paparannya bertajuk Against Method (1978), dia menguraikan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak perlu diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan, sistem, maupun hukum. Ilmu pengetahuan saatnya keluar dari aturan metodologis yang selalu digunakan para ilmuwan. Aturan metodologis hanya akan membatasi aktivitas para ilmuwan sehingga akan membatasi kemaju ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena kreativitas individual. Karena itu, satu-satunya prinsip yang tidak menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah konsep yang dinamainya anything goes. Penolakan atas keteraturan dan aturan main baku dalam pengembangan ilmu. Ilmuwan harus bebas. Kegiatan ilmiah adalah suatu upaya yang anarkistik karena tidak mengandalkan satu metode tertentu. Muaranya adalah pluralitas teori.

Mencairnya aturan main pengembangan ilmu sebagaimana dipaparkan Feyerabend akan mengakomodasi berbagai varian keilmuan yang selama ini terpinggir dan dipinggirkan, seperti pesantren. Sudah saatnya universitas di Indonesia membuka diri. Menyadari bahwa epistemologi keilmuan tidak tunggal. Hal ini khususnya bukan untuk kepentingan pesantren karena tanpa universitas mereka sudah dan akan tetap survive. Sebaliknya adalah untuk kepentingan universitas itu sendiri dalam rangka mengatasi kejumudan yang mulai menyeruak.

Dari pesantren kita belajar bahwa orientasi aktivitas keilmuan jelas bukanlah ilmu itu sendiri tetapi menjawab problem sosial. Jika universitas selama ini baru berkutat dalam wacana ilmu yang membumi dan transformatif, pesantren sudah melakoninya jauh-jauh hari.

Dalam buku "Bilik-Bilik Pesantren", Cak Nur, pernah menulis, "Seandainya negeri kita ini tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa UI, ITB, IPB, UGM, Unair, atau pun yang lain, tetapi mungkin namanya Universitas Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tarik setelah melihat dan membandingkan secara kasar dengan pertumbuhan sistem pendidikan di negeri-negeri Barat sendiri, di mana hampir semua universitas terkenal (misal: Harvard, Yale, Princeton, Cambridge, Oxford -pen) cikal-bakalnya adalah perguruan-perguruan yang semula berorientasi keagamaan (seminari). Mungkin juga, seandainya kita tidak pernah dijajah, pesantren-pesantren itu tidaklah begitu jauh terpencil di daerah pedesaan seperti kebanyakan pesantren sekarang ini, melainkan akan berada di kota-kota pusat kekuasaan dan ekonomi, atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh dari sana, sebagaimana halnya sekolah-sekolah keagamaan di Barat yang kemudian tumbuh menjadi universitas-universitas tersebut."

Pemerintahan kolonial tidak lagi eksis. Bayangan Cak Nur, bukanlah banyangan utopis jika semakin banyak yang memiliki bayangan serupa. Mari kita bayangkan dan upayakan bersama. Bayangan kiai dan profesor maupun santri dan mahasiswa dapat bersanding dalam forum-forum ilmiah dengan epistemologi yang dikembangkannya masing-masing. Bayangan bahwa kitab kuning dan jurnal dapat sama-sama dirujuk. Bayangan atas pesantren yang tidak selalu diidentikkan dengan agama, politik, atau pun pemberdayaan umat semata namun juga bagian dari komunitas epistemik yang melakukan pengembangan ilmu.

Penulis adalah mahasiswa Global Public Policy di Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration (RANEPA), Moscow; aktif di PCINU Federasi Rusia

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal RMI NU, Kajian, Habib Bupati Tegal

Senin, 13 November 2017

Diskusi IPNU, Impor Beras Tidak Rasional

Jakarta, Bupati Tegal
Kebijakan pemerintah melakukan impor beras rupanya masih menjadi perdebatan, meski hak angket dan interpelasi oleh DPR-RI tidak berhasil disepakati. Buktinya, Jumat (17/2) siang Pengurus Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengadakan diskusi yang bertajuk “Di Balik Kontroversi Pertarungan Beras Impor vs Beras Petani.”

Hadir sebagai pembicara pada diskusi yang digelar di Gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat itu, Anggota DPR-RI dari F-PDIP Arya Bima dan Kepala Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan-Departemen Pertanian RI, Tjuk Heri Eko.

Arya Bima dalam paparannya menyatakan bahwa impor beras yang dilakukan pemerintah merupakan kebijakan yang tidak rasional. “Sangat tidak rasional pemerintah mengimpor beras dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang kurang,” tegasnya. Saat ini, lanjut Arya, banyak daerah-daerah, terutama daerah yang terkenal penghasil beras, sedang mengalami surplus.

Kebijakan yang tidak populis tersebut, menurut Arya hanya memenuhi kepentingan ekonomis sejumlah elit tertentu. “Impor beras itu hanya untuk memenuhi kebutuhan para pemburu rente, bukan benar-benar demi kepentingan rakyat kecil,” terangnya.

Demikian juga dengan kisah tragis dengan gagalnya upaya parlemen untuk melakukan hak angket dan interpelasi kepada pemerintah. Menurut Arya, hal itu bisa dimaklumi, karena tidak sedikit dari para wakil rakyat tersebut berprofesi rangkap sebagai pemburu rente, sebagaimana ia sebut sebelumnya.

“Tidak sedikit dari anggota dewan yang punya jaringan dengan para pengusaha beras, bahkan juga dengan importir beras luar negeri. Kalau hak angket itu lolos berarti kan usahanya juga terancam,” terang Arya bersemangat.

Salah satu yang juga menjadi sasaran kritik Arya adalah Badan Urusan Logistik (Bulog), sebuah lembaga yang memiliki kewenangan dalam hal perberasan nasional. Menurutnya, sejak didirikannya 32 tahun silam, hingga saat ini, lembaga tersebut tidak pernah memberikan keuntungan kepada petani. Hal itu dikarenakan lembaga tersebut tidak pernah membeli secara langsung beras petani.

“Bulog tidak secara langsung membeli beras kepada petani. Ia selalu membeli beras lewat pedagang. Yang terjadi kemudian, selama 32 tahun (pemerintahan Soeharto, Red) dan sampai sekarang, lembaga ini tidak pernah menguntungkan petani,” tegas Arya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Anti Hoax Bupati Tegal

Diskusi IPNU, Impor Beras Tidak Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi IPNU, Impor Beras Tidak Rasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi IPNU, Impor Beras Tidak Rasional

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock