Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Bencana Asap Kian Mematikan, Pemerintah Harus Bertindak Cepat

Jakarta, Bupati Tegal. Kebakaran hutan yang berujung banjir asap masih terjadi sampai sekarang. Bahkan bencana asap ini sudah pada batas tak terkendali, berstatus darurat dan bahkan mematikan. Nihayatul Wafiroh, anggota DPR RI, mengaku prihatin dan meminta pemerintah bertindak maksimal.

Selasa (20/10) malam, ia mengaku menerima pesan pendek dari kawannya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pesan pendek tersebut bertuliskan, "Bu Nihayah, malam ini di Palangkaraya indeks pencemaran udara mencapai angka 3780. Angka 350 saja sudah ambang batas tidak sehat, gimana angka di atas 3000? Tolong desak pemerintah, evakuasi saudara-saudara kami. Mati orang kalau pemerintah tidak gerak cepat malam ini. Urgent. Bantu kami."

Bencana Asap Kian Mematikan, Pemerintah Harus Bertindak Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bencana Asap Kian Mematikan, Pemerintah Harus Bertindak Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bencana Asap Kian Mematikan, Pemerintah Harus Bertindak Cepat

Nihayah membaca pesan pendek tersebut sembari matanya berkaca-kaca. "Saya minta pemerintah mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan negara untuk menyelesaikan masalah asap," kata Nihayatul Wafiroh, dalam rilis yang diterima Bupati Tegal, Rabu (21/10).

Bupati Tegal

Selain itu, Nihayah juga meminta agar pemerintah mengratiskan seluruh pengobatan dan melakukan evakuasi secara cepat, sebelum rakyat Indonesia ini mati gara-gara menghirup asap.

Bupati Tegal

Gubernur pun harus segera menetapkan keadaan darurat bila hasil pemantauan pollutant standards index mencapai 300 atau lebih, sebagaimana tertera dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

"Ini adalah bencana serius. Tidak waktunya tuding sana, tuding sini, menyalahkan sana, menyalahkan sini. Kini saatnya pemerintah mencurahkan perhatiannya ke persoalan ini dan segera bergerak, segera bertindak. Kalau kita bisa mengerahkan ribuan polisi untuk mengamankan pertandingan sepak bola, tentu kita bisa melakukan hal yang sama untuk menyelesaikan masalah asap," tegasnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara Bupati Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Hikayat Perang Sabil

Perang Sabil berasal dari kalimat jihad fi sabilillah adalah sebutan untuk peperangan melawan musuh yang dianggap memusuhi Islam. Seluruh perang melawan musuh Islam adalah perang sabil termasuk perang Diponegoro di Jawa dan perang Aceh.?

Kisah-kisah perang melawan Belanda di Aceh tertulis dalam hikayat yang dikenal dengan nama Hikayat Perang Sabil atau Hikayat Prang Sabi.?

Di Aceh Hikayat Prang Sabi adalah nama yang diberikan kepada sejumlah teks, baik yang diberi judul Hikayat Perang Sabil maupun tidak, yang isinya membicarakan tentang perang sabil. Hikayat Perang Sabil merupakan karya sastra perang karena memang diciptakan pada masa perang dan memberi semangat kepada para prajurit untuk bertahan melawan musuh.

Hikayat Perang Sabil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Perang Sabil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Perang Sabil

Hikayat dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir. Isinya juga mengandung muatan ajaran dan petuah untuk bertakwa kepada Allah.

Berbeda dengan sastra Melayu yang mengenai hikayat sebagai prosa, dalam sastra Aceh hikayat adalah puisi di luar jenis pantun, nasihat, dan kisah. Hikayat ditulis dalam bentuk sajak. Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita, namun ? bagi orang Aceh tidak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral.

Bupati Tegal

Orang Aceh sangat senang mendengarkan pembacaan hikayat yang sampai pada awal abad 20 merupakan hiburan yang utama. Pembacaan hikayat perang sabil dilakukan sebelum orang maju ke medan pertempuran. Tradisi membaca hikayat sebelum orang terjun ke dalam peperangan adalah tradisi dalam kebudayaan Melayu. Ketika perang melawan Belanda, masyarakat Aceh membaca hikayat perang sabil di dayah-dayah atau pesantren, di meunasah, di rumah, maupun di tempat lain ? sebelum orang pergi berperang.

Bupati Tegal

Sejauh ini baru diketahui dua naskah yang menyebut sumber hikayat perang sabil. Pertama adalah ? naskah dalam Bahasa Aceh tertulis pada 11 Syaban 1122H ? (5 Oktober 1710) yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Negeri Leiden Belanda. Meskipun nama pengarangnya tidak tercantum di dalam naskah hikayat perang sabil yang tertua itu, penggubahnya menyebutkan karangan yang disusunnya itu bersumber pada sebuah kitab berjudul Mukhtasar MuthiriI-gharam. Pengarang juga menyebutkan bahwa ? sumber untuk menyusun kitab ini berasal dari Syaikh Ahmad Ibn Musa, yang mungkin sekali adalah penulis kitab Mukhtasar tersebut di atas.?

Sumber yang kedua adalah hikayat perang sabil yang juga tertulis dalam Bahasa Aceh pada tahun 1834, beberapa puluh tahun sebelum pecahnya perang melawan Belanda pada tahun 1873. Meskipun nama pengarang juga tidak tersebut dalam naskah, namun penggubah hikayat ini menyebutkan bahwa sumbernya berasal dari kitab karangan ulama besar Syaikh Abdussamad al-Palimbani yang pada awal tahun 1760-an bertempat tinggal di Mekah. Syaikh Abdussamad al-Palimbani menulis berbagai kitab di Mekah. Salah satu di antaranya adalah Nasihat al-Muslimin atau lengkapnya Nasihat al-Muslimin wa Tadhkirat al-Muminin fi Fadhail al-Jihad fi Sabilillah wa-Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah.

Dari segi genre atau jenis, Hikayat Perang Sabil mempunyai dua genre, yakni tambeh dan epos. Hikayat Prang Sabil bergenre tambeh kebanyakan ditulis oleh para ulama yang berisi nasihat, ajakan, dan seruan untuk terjun ke medan jihad fi sabilillah, menegakkan agama Allah dari rongrongan kafir demi mendapatkan imbalan pahala yang besar.

Hikayat Perang Sabil berjudul Hadzihi Qishshah Nafsiyyah yang merupakan saduran dari risalah ? Abdus Samad al-Palimbani ? berjudul Nashihatul Muslimin tersebut di atas adalah hikayat yang bergenre tambeh. Sedangkan hikayat berjudul Hikayat Prang Sabi adalah karya Teungku Chik Pante Kulu yang ditulis atas perintah kakaknya. Diduga yang dimaksud dengan kakaknya tersebut adalah Teungku Cik Ditiro karena pada tahun 1881 ia diangkat menjadi panglima perang sabilillah, sedangkan Teungku Chik Pante Kulu sendiri merupakan tangan kanannya.

Sedangkan yang bergenre epos adalah hikayat yang melukiskan peristiwa perang yang berlangsung di berbagai tempat di Aceh. Hikayat ini menggambarkan keberanian dan keperkasaan perlawanan para pejuang Aceh hingga tewas sebagai syuhada.?

Kisah-kisah kepahlawanan itu lalu dikisahkan dalam bentuk epos, seperti Hikayat Prang Sigli (1878), Hikayat Prang Geudong (1898), dan lain-lain. Dalam hikayat-hikayat perang yang terdapat di Aceh ini dikisahkan bahwa mati dalam berperang melawan Belanda yang dianggap kaphe (kafir) adalah mati syahid dan orang yang syahid akan diampuni segala dosanya serta dimasukkan oleh Allah ke dalam surga.

Dari segi isi, hikayat-hikayat perang sabil dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu: pertama, yang berisi anjuran untuk berperang sabil dengan menunjukkan pahala, keuntungan, dan kebahagiaan yang akan diraih. Kedua, yang berisi berita mengenai tokoh atau keadaan perang di suatu tempat yang patut disampaikan kepada masyarakat agar mendorong semangat orang-orang muslimin yang sedang berjihad. Ketiga, yang mencakup kedua kategori yang tersebut di atas. (Sumber: Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Berita, Nusantara, Daerah Bupati Tegal

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi

Batang, Bupati Tegal. Menyambut Harlah Gerakan Pemuda Ansor ke-81 Tahun 2015, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Batang menyelenggarakan kegiatan Apel Banser. Kegiatan yang dilaksanakan di Tanah Wakaf Warga NU Batang di Desa Clapar Kecamatan Subah tersebut diikuti oleh jajaran pengurus Ansor dan ribuan anggota banser serta 200 anggota Fatayat Serbaguna (Fatser).

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi

Hadir dalam acara yang digelar akhir pekan (9/5) tersebut Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Kholil, Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni, PW GP Ansor Jateng beserta Kasatkorwil, Jajaran Muspida dan Muspika se-Kabupaten Batang, anggota DPRD, pengurus PCNU Batang, perwakilan Badan Otonom dan Lembaga NU, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta berbagai tamu undangan lainnya. Bertugas sebagai pimpinan apel, sahabat Casmito dari Satkoryon Banser Gringsing.

Menurut penuturan ketua panitia penyelenggara, Mahfud Syaefudin, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan harlah yang keempat. Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menyukseskan kegiatan tersebut, khususnya kepada ribuan anggota Banser yang nampak begitu kompak.

Bupati Tegal

Ketua GP. Ansor Kabupaten Batang, Umar Abdul Jabar dalam sambutannya menyampaikan bahwa Banser merupakan garda depan sekaligus benteng ulama dan umaro. Maka menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI adalah harga mati. Karena itulah mental dan fisik harus disiapkan, terlebih dengan maraknya gerakan ISIS saat ini.

Bupati Tegal

Berbagai atraksi juga disuguhkan dalam kegiatan ini. Di antaranya adalah unjuk kekebalan tubuh, seni beladiri, berkendara dengan tutup kepala, Parkour dan Capuera yang merupakan olahraga tren budaya Brasil juga tampak apik ditampilkan oleh sahabat-sahabat Banser.

“Dalam acara ini sekaligus pemberian hadiah pada lomba voli, Simtuddurar dan akreditasi antar PAC,” imbuhnya.

Kasatkornas Banser, Sahabat Alfa Isnaeni dalam paparannya menyampaikan bahwa sahabat-sahabat Banser tidak perlu minder karena kesan kampungan dan lain sebagainya yang menyudutkan. Perlu diketahui bersama bahwa saat ini banyak dari kalangan Pejabat, Pengusaha, Anggota legislatif, Anggota TNI/Polri ikut menjadi Anggota Ansor dan Banser.

Rais Syuriah PCNU Batang, KH Abdul Manap juga mengimbau bahwa Banser harus menggandeng TNI dan Polri untuk bersama-sama menjaga keutuhan NKRI. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pendidikan, Nusantara, Ubudiyah Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Empat Hal yang Dilaknat Rasulullah

Kemajuan zaman dan globalisasi semakin tidak karuan. Tidak hanya menembus ruang dan waktu, tetapi juga mengaburkan batas kelamin laki-laki dan perempuan. Anehnya pengkaburan itu dianggap hal biasa saja, bahkan sering mendapat pembelaan dari sebagain orang. Padahal yang demikian itu jelas menyalahi qadrat dan dilaknat Rasulullah saw. Na’udzubillah min dzalik.

Sebuah hadits menerangkan dengan jelas mengenai empat hal yang dibenci dan dilaknat Rasulullah saw yaitu:

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?. ? ? ? ? ? ?

Rasulullah saw melaknat (mengutuk) banci-banci lelaki. Yaitu lelaki yang menyerupai perempuan, dan banci perempuan yaitu perempuan yang suka menyerupai lelaki, dan bujangan-bujangan yang berkata “kami tidak mau kawin” serta perawan yang berkata juga demikian.

Empat Hal yang Dilaknat Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Hal yang Dilaknat Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Hal yang Dilaknat Rasulullah

Yang dimaksud dengan banci dalam hadits di atas adalah jelas. Yaitu lelaki (seseorang dengan kelamin lelaki) yang menyerupai perempuan. Baik dalam gaya berpakaian maupun dalam segala hal penampilannya. Begitu juga yang dimaksud dengan perempuan yang menyerupai lelaki. Kegemaran menggunakan ornamen kelelakian bagi seorang yang berkelamin perempuan sudah cukup menunjukkan kategori banci perempuan. Adapun dua kelompok terakhir pada dasarnya dialamatkan kepada mereka yang berniat membujang selamanya. Tidak ada niat hendak menikah dalam hidupnya. Padahal menikah adalah sunnah Rasulullah saw. Inilah empat golongan yang sangat dibenci Rasulullah saw bahkan dilaknat olehnya.

Pada hakikatnya, sebagai saudara sesama muslim tulisan ini hanya bermaksud mengingatkan bahwa merebaknya budaya populer di sekitar kita seringkali menyilaukan akidah dan syariah Islam. Derasnya tehnologi media dan informatika yang menyuguhkan berbagai tontonan adalah kekuatan kapital yang sungguh dahsyatnya. Mereka menggiring norma-norma islam demi keuntungan semata. Sesuatu yang jelas tergambar sebagai sebuah penyimpangan tiba-tiba mengandung nilai kebenaran. Sehingga membuat kita ragu akan kesalahannya yang hakiki. (ulil)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Nusantara, Aswaja Bupati Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa

Oleh: Muhammad Makhdum 

Tanggal 22 Oktober 2017 ini adalah tahun ketiga peringatan Hari Santri Nasional. Mengutip Milan Kundera, "Perjuangan sejarah adalah melawan lupa," maka Hari Santri Nasional menjadi krusial untuk menyegarkan kembali ingatan sejarah perjuangan kaum pesantren dalam melawan imperialisme dan kolonialisme. 

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri dan Jihad Melawan Lupa

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, hanya 53 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, NICA nyaris mencaplok kedaulatan Republik Indonesia. Kedatangan Belanda yang membonceng tentara Sekutu di bawah komado Brigjen A.W.S. Mallaby ternyata memiliki aganda terselubung untuk kembali menguasai bumi pertiwi. Kekuatan militer Sekutu jelas tidak seimbang dengan Indonesia, terlebih ratusan bahkan ribuan pertempuran sebelumnya telah merenggut jutaan nyawa, melahirkan penderitaan dan kerugian materiil yang maha dahsyat. Kondisi negara sangat genting. Mustahil rasanya bangsa Indonesia mampu mempertahankan kembali kemerdekaan yang baru saja diproklamirkannya. 

Dalam situasi demikian, Presiden Soekarno mengirim utusan ke Pesantren Tebuireng Jombang untuk meminta fatwa kepada KH. Hasyim Asyari tentang bagaimana hukum membela tanah air dari penjajah. Mengapa harus pesantren? Karena jelas sejak dulu pesantren telah menjadi basis perjuangan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Singkatnya, pada 22 Oktober 1945, seluruh kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. 

Bupati Tegal

Dalam keterbatasan alat komunikasi pada masa itu, bukan perkara mudah mengumpulkan banyak kiai dalam waktu singkat. Akhirnya, KH. Hasyim Asy’ari mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad. Segera setelah seruan itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Tepatnya tanggal 10 Nopember, meletus pertempuran paling sengit sepanjang sejarah yang kita kenal sebagai Hari Pahlawan. Meski kota Surabaya banjir darah, Inggris sebagai pemenang Perang Dunia II akhirnya kalah. 

Berawal dari resolusi jihad itulah terungkap bahwa kemenangan arek-arek Suroboyo dalam “tawuran massal” yang berujung pada tewasnya Brigjen A.W.S. Mallaby bukanlah reaksi spontan rakyat Surabaya dalam menghadapi kedatangan Sekutu. Pertempuran 10 Nopember sebenarnya telah melalui perencanaan yang sangat matang melalui pertemuan para kiai pesantren di bulan Oktober. Sayangnya, rentetan peristiwa sejarah tersebut tidak pernah diakui sebelumnya. Sejarah hari pahlawan selama ini hanya memunculkan adegan dan tokoh tunggal, yaitu Bung Tomo dengan pidatonya yang menggelegar dan membakar semangat rakyat Surabaya. 

Dilihat dari kurva dan kronika sejarah, peristiwa resolusi jihad bukan hanya mengakar pada mata rantai perjuangan yang panjang dan menggerakkan begitu banyak kekuatan rakyat di masa depan, tetapi juga bisa ditarik jauh ke masa Perang Jawa seabad sebelumnya. Menurut sejarawan nusantara Kyai Agus Sunyoto, pemilihan kota pahlawan sebagai tempat mengumandangkan resolusi jihad tidak lain karena Surabaya memiliki latar belakang historis dan sosio kultur yang lekat dengan nilai patriotisme sejak masa perang Majapahit dengan tentara Tar-Tar pada pertengahan abad 15.  

Fakta sejarah tidak boleh dilupakan. Peristiwa resolusi jihad yang diperingati sebagai hari santri nasional merupakan salah satu ikhtiar untuk melawan amnesia sejarah. Pertama, pengakuan atas jasa para pahlawan dan pendahulu penting bagi generasi sekarang agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Kedua, bahwa membela tanah air sangat bertalian erat dengan jihad membela agama. Hal ini sangat relevan mengingat belakangan ini sering muncul gagasan berdasarkan doktrin agama yang cenderung mengabaikan nilai-nilai keindonesiaan. Ketiga, resolusi jihad dapat meneguhkan kembali komitmen kebangsaan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila. 

Bupati Tegal

Jadi, tidak benar bahwa peringatan hari santri nasional akan menciptakan dikotomi antara kalangan santri dan bukan santri, apalagi antara Islam dan non-Islam. Justru hal ini sebagai bentuk penegasan bahwa kaum santri bukanlah kelompok sub kultur yang menutup diri dan ekskusif, tetapi mereka juga bagian dari warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membela tanah air tercinta. Dari perjuangan kaum santri kita memetik pelajaran bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak bertentangan dengan agama. Bahwa Pancasila justru memberikan kesempatan yang sangat luas untuk menjadi manusia yang beragama. Selamat Hari Santri Nasional. Santri Mandiri, NKRI Hebat. 

*) Penulis adalah Ahlul Ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang, saat ini tinggal di Tuban.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara Bupati Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Ketua MK: Keislaman dan Keindonesiaan harus Selaras

Jakarta, Bupati Tegal. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengatakan perlunya penyelarasan antara keislaman dan keindonesiaan. “Kita harus memberi penyadaran kepada lingkungan ummat untuk menerima keindonesiaan apa adanya seperti menerima Islam apa adanya,” katanya dalam Temu Wicara dengan Muslimat NU, Kamis malam.

Diakuinya bahwa sebagian warga negara Indonesia memang belum bisa menerima konsep keislaman dan keindonesiaa sebagai satu kesatuan. “Banyak orang yang beranggapan menjadi Islam yang baik berbeda dengan menjadi warga negara yang baik,” tandasnya.

Ketua MK: Keislaman dan Keindonesiaan harus Selaras (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MK: Keislaman dan Keindonesiaan harus Selaras (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MK: Keislaman dan Keindonesiaan harus Selaras

Hal ini telah menimbulkan standard ganda dalam konsep berfikir masyarakat. Beberapa orang, katanya, sangat meninggikan hukum Islam tanpa mengindahkan hukum yang tertera dalam UUD 1945. Sedangkan sebagian yang lain bertindak sebaliknya.

Kondisi itu, menurut dia, dapat menimbulkan gesekan apabila masing-masing pihak saling memaksakan kehendak. "Jadi kuncinya bagaimana memahami dua konstitusi tersebut," katanya.

Pemahaman kedua konstitusi itu, menurut Jimly, harus dipahami sebagai proses yang tidak terpisahkan untuk menciptakan warga negara Indonesia yang beragama. "Ibaratnya hukum Islam di tangan kanan, konstitusi di tangan kiri," kata Jimly menambahkan.

Bupati Tegal

Sikap Nahdlatul Ulama yang telah menegaskan kesetiaannya kepada bentuk NKRI dan Pancasila patut menjadi contoh untuk kemajuan bersama. Menjadi umat Islam yang baik bisa juga berarti menjadi warga negara yang baik..

Ia sangat menyesalkan upaya dari sekelompok kecil orang yang berusaha memaksakan keyakinannya dan merasa benar sendiri meskipun hanya masuk “pesantren kilat”, mengutip apa yang dikatakan oleh KH Hasyim Muzadi dalam temu wicara dengan MK sebelumnya. “Habis energi kita untuk mengurusi yang begini-begini. Minimal citra kita keburu negative,” tuturnya.

Hubungan yang harmonis antara umat Islam dengan aturan perundang-undangan digambarkannya seperti masa kehidupan Rasulullah di Madinah yang menyepakati adanya piagam Madinah sebagai kontrak sosial antar umat beragama dan ketaatan menjalankan perintah Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul. (mkf)

Bupati Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, PonPes, Anti Hoax Bupati Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Apakah Pesantren Gunakan Produk-produk Umat Sendiri?

Jakarta, Bupati Tegal

Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Asmawi Syam menuturkan, ekonomi umat bisa berkembang dan kuat apabila mereka mau menggunakan dan mengonsumsi produk-produk yang dibuat oleh umat itu sendiri.

Apakah Pesantren Gunakan Produk-produk Umat Sendiri? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Pesantren Gunakan Produk-produk Umat Sendiri? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Pesantren Gunakan Produk-produk Umat Sendiri?

“Apakah produk-produk yang digunakan pesantren itu adalah produk umat?” kata Asmawi.

Ia menyampaikan hal itu saat menjadi narasumber dalam acara Seminar dan Rapat Kerja bertemakan Peran Pesantren Untuk Penguatan Ekonomi Umat yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pesantren Nahdlatul (RMI NU) di Lantai 8 Gedung PBNU Jakarta, Kamis (27/4).

Bupati Tegal

Menurut dia, pesantren adalah sebuah pasar besar. Ia mengaku khawatir apabila pesantren hanya dijadikan sebagai sentra komsumsi, bukan produksi. Ia menambahkan, kalau seandainya umat menggunakan produk buatan umat itu sendiri, maka proses ekonomi di umat akan berjalan.

Bupati Tegal

Bila masyarakat bangga menggunakan produk sendiri, maka kegiatan produksi akan berlangsung. Kegiatan produksi akan melahirkan lapangan kerja, dan lapangan kerja akan menghasilkan daya beli. Jika daya beli bertambah, produksi pun bertambah lagi. “Siklus tersebut akan berputar dan naik terus,” urainya.

Lebih lanjut, ia mencontohkan keberhasilan China dalam mengembangkan ekonominya. “Mereka menggunakan produk sendiri dan bangga. Dia memperkuat ekonomi sendiri sebelum ekspansi ke luar,” terang mantan Dirut Bank BRI itu.

Namun, imbuh Asmawi, apakah umat mau menggunakan produknya sendiri. “Pertanyaan yang paling mendasar adalah kita mau nggak menggunakan produk umat? Meski tidak sebagus produk impor,” katanya.

Bagaimana Umat Memproduksi?



Asmawi mengatakan, untuk memproduksi sebuah produk umat harus mengetahui potensi dan sumber daya yang dimilikinya. Ia menjelaskan, ada tiga sumber pokok dalam memproduksi sebuah produk. Pertama, sumber daya alam (natural resources).

“Natural resources ini dimiliki pesantren. Mereka punya sawah, tanah. Tanah kita tanami cabai. Cabainya dibuat sambel dan dibotolin. Kita jual di dalam pesantren dan antarpesantren,” urainya.

Kedua, sumber daya manusia (human resources). Ia meyakini, orang-orang pesantren adalah orang pintar karena terus belajar. Baginya, lulusan pesantren memiliki kelebihan yang tidak dimiliki lulusan sekolah umum, yaitu penguasaan bahasa Arab dab Inggris.

“Mereka pasti pinter-pinter,” ucapnya.

Terakhir, sumber daya modal. Ia mengatakan, apabila pesnatren tidak memiliki modal, maka mereka bisa mendapkan dari sumber-sumber yang lain seperti pemerintah. “Kita (pesantren) tidak memiliki duit. Pemerintah memberikan perhatian yang besar kepada ekonomi kecil. Ada dana desa, KUR, dan yang lainnya,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Daerah, Nusantara Bupati Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

IPNU-IPPNU Welehan Bentuk Karakter Pelajar

Jepara, Bupati Tegal. Pesantren Ramadhan yang dilaksanakan di SMPN 1 Welahan bekerjasama dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah pada Senin-Rabu (29-31/7) lalu merupakan wahana pembentukan karakter pelajar sekolah tersebut.

Hal itu dilontarkan Fawaid S.Ag selaku guru agama SMPN 1 Welahan Menurutnya, pembentukan karakter itu merupakan respon IPNU-IPPNU terhadap situasi dan kondisi pemuda saat ini sudah melenceng jauh dari kodrat kepemudaannya. Juga mudahnya terpengaruh dengan keadaan zaman yang penuh sensasional.

IPNU-IPPNU Welehan Bentuk Karakter Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Welehan Bentuk Karakter Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Welehan Bentuk Karakter Pelajar

“Kami selaku guru Agama mendukung kegiatan positif IPNU-IPPNU. Semoga tahun depan kegiatan akan lebih baik dan tentunya lebih meriah lagi,” harap Fawaid.

Bupati Tegal

Ketua PAC IPNU Welahan, M Anis Fahmi mengatakan kegiatan bertujuan untuk melatih kader IPNU-IPPNU mengajar. Sedangkan untuk siswa sebagai pendalaman materi keagamaan. Disamping itu, tujuan lain sebagai wahana sosialisasi IPNU-IPPNU kepada siswa.

“Kegiatan ini juga merupakan media sosialisasi IPNU-IPPNU kepada pelajar SMPN. Sehingga, kedepan mereka tertarik dan bergabung dengan IPNU-IPPNU,” cetusnya.

 

Bupati Tegal

Selama 3 hari peserta didik menerima materi Fiqhus Shiyam (fiqih puasa),Tajwid dan keorganisasian. “Materi disampaikan bergantian mengingat peserta yang begitu banyak. Kelas VII 200 anak lebih, kelas VIII 150 anak dan kelas IX 140 anak didik,” tambah Fahmi.

Ia menambahkan siswa dibagi 2 kelompok. Kelompok I dipegang Fahrudin dan kelompok II Zainal Muttaqin. Setiap kelompok didampingi 10 fasilitator yang telah ditentukan PAC IPNU-IPPNU Welahan.

Redaktur    : Abdullah alawi

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Nusantara Bupati Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan

Probolinggo, Bupati Tegal - Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo KH Moh Zuhri Zaini menyampaikan bahwa penyelenggaraan pendidikan yang baik memerlukan kebersamaan. Tanpa kebersamaan, akan sulit mencapai kesuksesan pendidikan, termasuk di lingkungan pondok pesantran.

Hal itu disampaikan KH Moh Zuhri Zaini saat memberikan tausiyah di acara silaturahim dan rapat wali Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Sabtu (2/9).

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebersamaan Jadi Kunci Sukses Pendidikan

“Tanpa adanya dukungan dari wali santri, kami yang di dalam lingkungan pesantren akan berat. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan adanya cara pandang yang sama dalam pendidikan pesantren,” katanya.

Menurut Kiai Zuhri Zaini, banyak perubahan yang akan dilakukan di pesantren. Mulai dari tata kelola dan semacamnya yang dimaksudkan supaya para santri bisa menjalani pembinan dengan kondusif dan efektif.

Bupati Tegal

“Perubahan-perubahan itu tentunya penuh dengan kejutan-kejutan. Mudah-mudahan kejutan ini tidak menyedihkan, namun menggembirakan,” tegasnya.

Bupati Tegal

Kiai Zuhri menambahkan bahwa setiap perubahan butuh pengorbanan. Selain menyamakan visi dan misi dalam mewujudkan pendidikan yang baik bagi santri, penciptaan iklim yang kondusif juga perlu masuk-masukan. Sebab masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Dukungan doa dari wali santri sangat mujarab. Sebab doa orang tua itu sama dengan doa nabi pada umatnya. Dukungan moral dan doa serta pemahamn yang sama,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, News, Pesantren Bupati Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Gus Mus Menginspirasi Gerakan Buruh (I)

Jakarta, Bupati Tegal. Tanggal 1 Mei, merupakah salah satu momen terpenting bagi kaum pekerja atau buruh. Berawal dari perjuangan kaum buruh untuk memperjuangkan hak-haknya, 1 Mei 1886 ditetapkan sebagai Hari Buruh se-Dunia.

Momentum tersebut kemudian dikenal sebagai May Day. Dari tahun ke tahun, tanggal 1 Mei selalu diperingati dengan pelbagai cara, mulai dari aksi turun jalan, rapat umum, mimbar bebas, tuntutan melalui media seni dan budaya, hingga ritual keagamaan.

Gus Mus Menginspirasi Gerakan Buruh (I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Menginspirasi Gerakan Buruh (I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Menginspirasi Gerakan Buruh (I)

Tuntutan yang digagas dari tahun ke tahun pun beragam, mulai dari masalah pengupahan, kebebasan berserikat, PHK, jaminan sosial, penolakan alih-daya (outsourcing) hingga tuntutan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Namun selalu ada satu benang merah dari bermacam tuntutan tersebut, yakni upaya perbaikan atas tata kelola ketenagakerjaan dan enforcement terhadap kebijakan perburuhan.

Bupati Tegal

Masalah-masalah di atas mendorong pekerja atau buruh untuk menyuarakan aspirasinya pada May Day. Kaum buruh tersebut tergabung dalam serikat buruh atau serikat pekerja yang jumlahnya sekitar 2.000 organisasi pekerja di tingkat perusahaan di seluruh Indonesia.

Lalu, apa hubungannya serikat buruh/pekerja dengan KH. A. Musthofa Bisri, kiai NU yang akrab dengan sapaan Gus Mus itu? Apakah ia tokoh atau petinggi serikat buruh? Tentu bukan. Tetapi ada sisi tersembunyi yang selama ini tidak banyak terungkap. Bahkan Gus Mus sendiri barangkali tidak menyadarinya.

Adalah Soeharjono, Workers Specialist pada International Labour Organization (ILO), yang mengungkapkan bahwa Gus Mus menjadi sumber inspirasi tersendiri bagi serikat buruh atau serikat pekerja untuk mereformulasikan gerakannya.

Bupati Tegal

“Banyak sekali puisi-puisi Gus Mus yang menjadi sumber inspirasi dan refleksi kawan-kawan serikat buruh,” Bung Yono mengawali kesaksiannya kepada Bupati Tegal, di Jakarta, Selasa, (30/4).

Orang yang bekerja di ILO sejak 25 tahun yang lalu ini menjelaskan, bahwa dalam pelatihan-pelatihan perburuhan yang difasilitasi ILO, dirinya kerap membaca atau sekadar memutar puisi-puisi kiai asal Rembang tersebut.

“Puisi yang berjudul Negeriku, misalnya, benar-benar terasa menyentuh kaum buruh. Bait majikan-majikan bangsaku // memiliki buruh-buruh mancanegara // brankas-brankas ternama di mana-mana // menyimpan harta-hartaku // negeriku menumbuhkan konglomerat //dan mengikis habis kaum melarat,” tandas Bung Yono yang seolah sangat akrab dengan puisi tersebut.

Masih menurut Soeharjono, puisi Wakil Rais Aam PBNU berikutnya yang sering dibacakan di pelatihan-pelatihan buruh, berjudul Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana. Bait Aku harus bagaimana // Aku kau suruh maju // aku mau maju kau selimpung kakiku // Kau suruh aku bekerja // aku bekerja kau ganggu aku.

Puisi-puisi tersebut benar-benar menggungah kesadaran aktivis perburuhan, terutama buruh yang baru awal-awal masuk di keanggotaan serikat buruh.

Masih menurut kesaksian Bung Yono, puisi-puisi Gus Mus tersebut selalu dibacakan di sesi akhir pelatihan atau kegiatan. Selalu saja disambut dengan tangisan, yang kemudian menumbuhkan militansi buruh untuk memperjuangkan nasib mereka sendiri.

Redaktur? ? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor ? ? ? : Irham Ali

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Bupati Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global

Sarolangun, Bupati Tegal. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pesantren sudah selayaknya memberikan perhatian yang besar terhadap para lulusannya agar mampu bersaing di era global. Untuk itu, pembenahan ke arah yang lebih baik berupa pembekalan life skill (ketrampilan) kepada para santri harus segera dilakukan.



Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global

Pernyataan tersebut diungkapkan Bupati Sarolangun, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM dalam sambutannya di hadapan para pimpinan pondok pesantren di Propinsi Jambi saat mengikuti seminar sehari tentang manajemen pendidikan di gedung Bappeda, Sarolangun, Jambi, Kamis (24/5).

Lulusan Pondok Pesantren Asad Jambi itu menegaskan, untuk mencapai cita-cita tersebut pemerintah Kabupaten Sarolangun berjanji akan memberikan perhatian yang lebih pada sektor pendidikan di daerahnya.

Bupati Tegal

"Yang menjadi perhatian kami sekarang adalah adanya peningkatan SDM (sumber daya manusia). Untuk itu pemerintah Kab. Sarolangung akan menggratiskan biaya pendidikan sekolah dari SD sampai SMA," kata Basri.

Bupati Tegal

Basri mengatakan, melalui dana dari APBD, pihaknya juga menawarkan beasiswa kepada kader muda di daerahnya untuk melanjutkan pendidikan di program Magister dan Doktor.

"Untuk setiap tahunnya, melalui dana dari APBD, kami juga akan memberikan beasiswa kepada 20 orang untuk mengambil Master dan 5 orang lainnya untuk mengambil program Doktor. sehingga dalam lima tahun ke depan kita sudah memiliki 25 orang Doktor dan dan 100 orang bergelar Master," terangnya yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para peserta seminar. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara Bupati Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng

Tebuireng, Bupati Tegal . Pesantren Tebuireng mendapat kunjungan dari Konsulat Jendral Tiongkok, Yu Hong, Senin (6/14). Rombongan tamu diterima pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid di kediamannya di kompleks pesantren setempat, Jombang, Jawa Timur.

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Konjen Tiongkok Ajak Kerja Sama Pesantren Tebuireng

Kunjungan perdana Yu Hong sebagai Konjen Tiongkok ini diisi dengan diskusi dan perkenalan. Selain beramah-tamah, pertemuan tersebut juga dimaksudkan untuk menjalin kerja sama antara Tebuireng dan China di sektor ekonomi.

Hari Yulianto, Humas DPRD Jatim yang turut menemani Konjen Tiongkok saat itu mengatakan, “Kunjungan ini untuk menjalin kerja sama ekonomi 2015 dihubungkan dengan situasi religi di kabupaten Jombang.”

Bupati Tegal

Beserta staf lain, Gus Sholah, sapaan H Salahuddin Wahid, menyambut positif pertemuan ini. Ia berharap kunjungan itu mampu meningkatkan kerja sama Pesantren Tebuireng dengan berbagai lembaga di China. Selain itu agar terjalin juga kerjasama dalam bidang pendidikan. Sehingga? para santri bisa dikirim belajar ke China.

“Ini merupakan pertemuan awal dan perkenalan. Harapannya akan ada tindak lanjut setelah pertemuan ini. Kerja sama dengan China akan membuka kesempatan para santri untuk menimba ilmu di negeri Bambu tersebut,” ujar Gus Sholah beberapa hari lalu juga kedatangan Dubes Australia dan Jepang di kediamannya.

Bupati Tegal

Di akhir kunjungan ini, masing-masing memberikan cendera mata. Setelah itu Yu Hong menyempatkan diri mendatanggi makam di Pesantren Tebuireng dan beberapa unit sekolah untuk semakin mengenal tentang iklim pendidikan di Tebuireng. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara Bupati Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Pengurus PK IPNU-IPPNU MA Walisongo Dilantik

Jepara, Bupati Tegal. Ketua IPNU Cabang Jepara, Chusni Maulana dan ketua IPPNU Cabang Jepara, Hamidatur Rohmah secara bergantian melantik pengurus Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU MA Walisongo Pecangaan masa khidmah 2012-2013, bertempat di Musholla MA Walisongo, Sabtu (17/11).

Kegiatan juga bersamaan dengan peringatan tahun baru 1434 Hijriyah, Up Grading dan Temu Alumni PK MA Walisongo dari masa ke masa. Sebagai ketua PK IPNU terpilih, Ahmad Aulia Asror, untuk ketua PK IPPNU, Dini Indrasari.

Pengurus PK IPNU-IPPNU MA Walisongo Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus PK IPNU-IPPNU MA Walisongo Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus PK IPNU-IPPNU MA Walisongo Dilantik

Ahmad Aulia Asror atas nama prakata panitia sekaligus ketua PK IPNU mengatakan momentum tahun baru hijriyah sebagai peserta didik perlu untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. “Tahun baru hijriyah ini supaya lebih baik daripada tahun sebelumnya,” katanya.

Bupati Tegal

Asror mengajak kepada seluruh pengurus dan siswa untuk menyatukan visi-misi IPNU-IPPNU kedepan. Dengan menyatukan visi dan misi sambungnya tujuannya untuk meneruskan perjuangan IPNU-IPPNU yang telah lampau. 

Ia menyebut Mohammad Muftil Umam yang pernah menjadi ketua IPNU Cabang Jepara masa khidmah 2009-2011.

Bupati Tegal

“Hingga saat ini banyak alumni PK IPNU-IPPNU MA Walisongo yang telah mengukir prestasi dalam bidangnya masing-masing,” tambahnya.

Karenanya, ia meminta pengurus dan siswa menjadi kader IPNU-IPPNU militan. Keberhasilan-keberhasilan yang telah ditorehkan imbuhnya agar dijadikan motivasi dan jejak untuk melangkah kedepan.

Kepala madrasah, Drs Rohmadi dalam sambutannya mengungkapkan rasa gembiranya karena peserta didiknya bersedia menjalankan tugas yang diamanatkan oleh PC IPNU-IPPNU kabupaten Jepara. “Kami mengharapkan amanat yang akan dijalankan sesuai dengan tugas masing-masing,” imbaunya.

Dia berharap, kader IPNU-IPPNU menjadi pelopor, teladan dan mengajak yang lain menuju kebaikan. “Kami berharap peserta didik kami menjadi pelopor kebaikan di madrasah maupun di masyarakat,” ujarnya.

Redaktur      : Hamzah Sahal

Kontributor  : Syaiful Mustaqim    

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, AlaSantri, Nasional Bupati Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Jakarta, Bupati Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Daerah Muhammadiyah Jepara menggelar rapat koordinasi di ruang Mapolres Jepara, Jawa Tengah, Ahad (10/9) malam. Rapat membahas soal rumor yang beredar di media sosial terkait kasus pesantren di Karimunjawa, Jepara.

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-Muhammadiyah Klarifikasi Isu Pengusiran Santri di Karimunjawa Jepara

Rapat koordinasi yang dihadiri sejumah tokoh dan jajaran kepolisian ini membantah berita terjadinya pengusiran santri di sebuah pesantren di sana. Keduanya mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Berikut bunyi surat klarifikasi secara lengkap yang ditandatangani Ketua Pimpnan Daerah Muhammadiyah (PDM) KH Sadali dan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) KH Ubaidillah Noor.

Menyikapi perkembangan pemberitaan (issue) di media sosial terkait dauroh tahfidh al-Qur’an di Dukuh Alang-alang RT 02 RW 04, Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sehubungan dengan isu penolakan dan pengusiran santri Ittihadul Ma’had Muhammadiyah (ITMAM) yang hendak melakukan dauroh tahfidh al-Qur’an Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, maka dengan ini Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Jepara menyatakan klarifikasi sebagai berikut:

Bupati Tegal

1. Pemberitaan bahwa telah terjadi penolakan dan pengusiran santri adalah tidak benar.

2. PCNU Jepara dan PDM Jepara sepakat menyikapi masalah tersebut dengan mengedepankan ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, ukhuwwah basyariyah serta tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bupati Tegal

3. Menyekapakati agar gedung yang diwakafkan kepada PP Muhammadiyah tersebut dihentikan (dimauqufkan) penggunaannya untuk beberapa waktu sampai segala sesuatunya terpenuhi.

4. Mengintensifkan komunikasi semua pihak dan mewaspadai paham radikalisme serta pihak lain yang hendak memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.





Surat klarifikasi tersebut ditandatangani pula oleh sejumlah saksi, antara lain AKBP Yudianto Adhi Nugroho (Kapolres Jepara), H Mashudi (Ketua MUI Kabupaten Jepara), Rustamaji (atas nama Kepala Bakesbangpol), H Badrudin (PKUB Jateng untuk Jepara), Arif Darmawan (atan nama Kepala Dinas Kominfo). (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Santri, Pendidikan Bupati Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa

Kediri, Bupati Tegal. Memasuki hari keempat, Pelatihan Pelatih Wasit dan Juri Tingkat Nasional yang digelar? Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa di Ponpes Al-Amien, Ngasinan, Rejomulyo, Kediri, Jawa Timur (28/5) berjalan dengan baik dan lancar.

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pagar Nusa, IPSI: ini Event Luar Biasa

Menurut keterangan Ketua Panitia Miftahul Aziz, peserta pelatihan diikuti hampir dari seluruh PW Pagar Nusa se-Indonesia, termasuk dari Papua.

Di sela-sela jam istirahat, salah seorang pelatih, Kat Mudjiono (Ketua Lembaga Wasit Juri Nasional PB IPSI) menyampaikan, bahwa penyelenggaraan pelatihan ini cukup baik. Walau begitu, ungkapnya, ada beberapa hal yang tetap harus ditingkatkan ke depan, termasuk dalam hal kedisiplinan.

Bupati Tegal

Namun secara umum, peserta pelatihan punya semangat yang luar biasa. "Secara umum saya menilai, peserta pelatihan sangat luar biasa. Terbukti di situ, setelah materi habis, mereka masih melanjutkan latihan sampai malam. Mereka sangat antusias dalam berlatih."

Lebih lanjut Mudjiono menyampaikan, "PB IPSI menilai, pelatihan ini sangat luar biasa, karena ini event nasional yang jarang dilakukan oleh perguruan lain. Dan, itu saya lihat banyak pejabat-pejabat yang datang, termasuk Ketua PBNU, Pak Menteri (Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Red.), serja Dirjennya, Pak Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota dan Wakil Walikota (Kediri, Red.); sangat mendukung dan antusias sekali."

Bupati Tegal

Sementara itu, salah seorang Majelis Pendekar Pagar Nusa, Kiai Zainal Suwari, mengatakan, pelatihan kali ini cukup banyak peningkatan. Ia pun berharap, ke depannya acara-acara pelatihan akan semakin baik dan berkualitas.

Pendekar asal Pasuruan, Jawa Timur, ini menghimbau agar para pesilat Pagar Nusa tidak menyia-nyiakan setiap event yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat, atau pun yang lain. (Ali Rahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Lomba Bupati Tegal

Selasa, 14 November 2017

Ini Nasihat Alumni kepada IPNU-IPPNU

Kudus, Bupati Tegal. Usai perayaan Makesta di salah satu ranting, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Jateng, sibuk mengurus pelaksanaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab). Konferancab XIII ini dilaksanakan di MA Qudsiyyah Kudus Kamis (26/6).

Ini Nasihat Alumni kepada IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Nasihat Alumni kepada IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Nasihat Alumni kepada IPNU-IPPNU

Bertema “Mewujudkan Amanah IPNU-IPPNU Masa Depan”, Konferancab diawali dengan bincangan bersama para alumni. Dalam diskusi itu, disampaikan bahwa di antara faktor melemahnya IPNU-IPPNU ialah terputusnya kader dari pesantren.

“Salah satu hal yang membuat kita tidak maju, adalah putusnya kader-kader pesantren. Embrio IPNU-IPPNU itu merupakan kegiatan dakwah, sementara malah banyak Pimpinan Komisariat di pesantren yang tidak hidup. Ke depan, pengkaderan di pesantren harus dihidupkan kembali,” ujar Wiyono, salah satu alumni yang sekaligus menjadi pembina PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Kota Kudus dan PC IPNU-IPPNU Kabupaten Kudus.

Bupati Tegal

Selain itu, Wiyono juga mewanti-wanti agar selektif dalam mengkader, terutama saat memilih anggota untuk memimpin. “Faktor lain penyebab melemahnya organisasi kita yakni pimpinan yang tidak paham akan apa yang harus dibangun dan diprogramkan. Ini merupakan hasil dari ketidakselektifan saat memilih pemimpin. Selektif itu penting,” lanjutnya kemudian.

Bupati Tegal

Sementara itu, Noor Azizah alumni PAC IPPNU Kota, memberi komentar bahwa kelebihan NU ada pada daya juangnya dan kuantitas sumberdaya manusianya. Namun menurutnya, ini tak diimbangi dengan kualitas SDM yang mumpuni.

“Kelebihan NU terletak pada daya juang dan SDMnya yang banyak. Tapi sayang, tak semua SDM kuat ideologi Aswajanya, sehingga rentan dengan serangan ideologi dari luar,” paparnya yang akrab disapa Mbak Inung.

Pada kesempatan itu mereka juga mengusulkan penyamaan agenda kegiatan IPNU-IPPNU sekecamatan Kota. Dengan demikian diharapkan agar bisa lebih serasi dan kompak. Selain itu, terkait dengan anggota ranting yang telah aktif di PAC atau di atasnya, juga dihimbau agar tetap dapat berpartisipasi di ranitngnya.

Menghidupkan yang Mati

Mbak Inung juga memberikan arahan teknis kepada peserta Konferancab itu mengenai usaha menghidupkan ranting yang mati. Menurutnya, cukup mendekati dua pelajar NU putra dan putri untuk diajak rembugan bersama, berdiskusi ihwal pendirian IPNU-IPPNU di desanya.

Langkah berikutnya, mendatangi tokoh bapak NU setempat untuk mendampingi sekaligus mensosialisasikan pendirian atau penghidupan kembali ranting IPNU-IPPNU kepada warga NU yang lain, terutama sesama tokoh NU yang memiliki anak di bangku pendidikan.

Setelah antara pelajar dan bapak NU sudah memiliki tekad dan keinginan yang sama, maka tinggal mengadakan aktivitas organisasi secara sungguh-sungguh. “Namun setelah ranting berhasil berdiri, jangan sampai PAC melepaskan begitu saja. Jadi tetap harus ada pendampingan,” terang Mbak Inung. Menurutnya, pendampingan dari PAC dan banom lain yang lebih senior juga dibutuhkan, seperti NU dan Muslimat.

Agenda reorganisasi ini dipandu oleh Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Kudus yang juga baru terpilih Ketuanya pada Konferensi Cabang seminggu sebelumnya. Setelah melalui pemilihan, terpilih masing-masing Ketua IPNU dan IPPNU yakni Muhammad Tausiul Ilma (Ilma) dan Khodijatus Surur (Mbak Odi).

Ilma mengharapkan kerja sama dari para anggota untuk kepengurusan ke depan. “Karena teman-teman sendiri telah dengan sadar memilih siapa yang berhak menjadi Ketua, maka saya pun berpikir bahwa sudah selayaknya nanti teman-teman akan bersedia senang hati membantu menjalankan organisasi ke depan,” paparnya saat sambutan.

Ilma juga berharap PAC pimpinannya bisa menjadi barometer. “Saya ingin kepemimpinan periode ini merupakan yang terbaik dan dapat menjadi barometer PAC IPNU-IPPNU sekabupaten Kudus,” ujarnya. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Nusantara Bupati Tegal

Selasa, 12 September 2017

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

Jakarta, Bupati Tegal. Raja Yordania Abdullah Bin Al-Hussein atau Abdullah II meminta dukungan adanya penyelesaian damai konflik Suriah yang sampai sekarang belum ditemukan titik terangnya. 

Jordania yang berbatasan langsung dengan Suriah dilibatkan oleh PBB untuk merumuskan penyelesaian damai, sudah 600 ribu pengungsi ditampung di Jordania.

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Yordania Minta Dukungan Penyelesaian Damai Suriah

“Butuh dukungan global untuk penyelesaian konflik ini,” katanya dalam acara Nahdlatul Ulama Sufi Gathering di Jakarta Convention Center, Rabu (26/2).

Bupati Tegal

Ia menegaskan, inisiatif perdamaian tersebut, harus didasarkan atas keinginan rakyat Suriah sendiri.

Bupati Tegal

Yordania merupakan negara yang memiliki situs-situs tua peninggalan Kristen dan Islam. Karena itu, negara yang juga berbatasan dengan Israel ini menginisiasi sejumlah upaya perdamaian antara Islam dan Kristen. Ia berharap dialog antar agama yang digagas ini bisa melahirkan perdamaian dan perdamaian akan menghasilkan persahabatan.

Pada kesempatan tersebut, Raja Abdullah II juga mendukung inisiatif perdamaian dua negara antara Palestina dan Israel dengan menggunakan batas wilayah yang ditetapkan pada 1967 dan Yerussalem Timur sebagai ibukota Palestina. 

Menanggapi pernyataan Raja Yordania tersebut, KH Said Aqil Siroj sangat mendukung upaya penyelesaian damai konflik Suriah dan Timur Tengah pada umumnya. Ia menegaskan, NU telah terlibat dalam sejumlah dialog Sunni-Syiah dan penyelesaian konflik yang terjadi di sejumlah negara Muslim. “NU mendorong penyelesaian konflik secara damai,” tegasnya.

Timur Tengah, katanya, bisa belajar dari Indonesia dalam penanganan konflik. Lulusan universitas Ummul Qura Makkah ini menyatakan, di Timur Tengah tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah jika terjadi konflik seperti di Indonesia. 

“Jika ada konflik, bedil yang bicara,” tandasnya. 

Hadir pada acara tersebut sejumlah tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, M Nuh, para ketua PWNU seluruh Indonesia serta kader NU dari Muslimat NU, Fatayat, Ansor dan lainnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Olahraga Bupati Tegal

Rabu, 14 Juni 2017

Hindari Fitnah yang Ingin Memecah Belah Persatuan NU

Probolinggo, Bupati Tegal. A’wan PWNU Jawa Timur H. Hasan Aminuddin, Ahad (30/4) malam menghadiri puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-94 Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh PCNU Kota Probolinggo.

Hindari Fitnah yang Ingin Memecah Belah Persatuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Fitnah yang Ingin Memecah Belah Persatuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Fitnah yang Ingin Memecah Belah Persatuan NU

Kegiatan yang dipusatkan di gedung Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Kota Probolinggo ini dihadiri oleh Rais PCNU Kota Probolinggo KH Aziz Fadhal, Ketua PCNU Kota Probolinggo Muhammad beserta segenap pengurus hingga ranting baik lembaga maupun badan otonom (banom).?

Tidak ketinggalan kader muda NU yang menjadi anggota DPRD Kota Probolinggo yang telah banyak membantu semua kegiatan NU H Zulfikar Imawan serta jajaran dari Pemkot Probolinggo.

Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin mengajak kepada semua Nahdliyin di Kota Probolinggo untuk menjalin silaturrahim dan komunikasi yang baik. “Serta hindari dari berbagai permasalahan yang ingin memecahbelahkan persatuan warga NU,” katanya.?

Lebih lanjut Hasan Aminuddin berharap kepada warga NU untuk selalu menjaga keharmonisan dan tidak melakukan perbuatan fitnah dengan sesama NU. Sebab keberadaan NU harus bisa berbuat santun dan menjadi penyejuk bagi semua umat manusia dimanapun berada.?

Bupati Tegal

“Organisasi keagamaan maupun kemasyarakatan tentunya harus terus berupaya berkarya, melakukan terobosan-terobosan kemandirian yang bermanfaat bagi masyarakat. Tentunya dengan terus membentengi diri dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Meme Islam Bupati Tegal

Bupati Tegal

Jumat, 07 April 2017

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah

Jakarta, Bupati Tegal. Buku biografi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin diluncurkan dan dibedah di Auditorium Langen Palikrama Kantor Pegadaian, Jalan Kramat Raya Nomor 162, Jakarta Pusat, Selasa (26/3).

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah

Hadir sebagai pembicara dalam bedah buku ini Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Rektor Universitas Krisnadwipayana  Lodewijk Gultom, pakar ekonomi Islam dari IPB Irfan Syauqi Beik, dan Ketua Komisi Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat Ahmad Zain An Najah.

Buku biografi dan pemikiran bertajuk ” 70 Tahun KH Ma’ruf Amin: Pengabdian Tiada Henti kepada Agama, Bangsa, dan Negara” ini diterbitkan The Ibrahim Hosen Institute (IHI). Selain mengulas sejarah hidup Ma’ruf Amin, buku ini juga memuat sejumlah artikel kesaksian para tokoh tentang pengurus NU yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia ini.

Bupati Tegal

Dihadapan Forum, Masdar mendorong Maruf Amin lebih berkonsentrasi kepada unsur kemaslahatan dan kemudaratan dalam menaggapi suatu permasalahan. Menurut dia, hal ini lebih penting dan relevan ketimbang formalisme agama menyagkut status halal dan haram.

Ma’ruf Amin yang tak memilih banyak bicara saat itu mengungkapkan terimakasihnya atas penulisan buku tentang dirinya. Kiai kelahiran Tangerang, Banten, 11 Maret 1943 ini mengaku tak terlalu risau dengan segenap dukungan dan penolakan atas pemikiran dan kiprahnya selama ini.

Bupati Tegal

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Olahraga, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Minggu, 28 Februari 2016

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila

Ende, Bupati Tegal - Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober memiliki korelasi kuat dengan peristiwa kontemplasi Ir Soekarno (Bung Karno) di sebuah kota kecil di Pulau Flores, tepatnya di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Buah pemikiran tentang Pancasila Sang Proklamator ini tidak lahir tiba-tiba. Pancasila hadir sebagai hasil dari renungan panjang Bung Karno selama empat tahun di pengasingan.

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Bawah Pohon Ini, Bung Karno Rumuskan Pancasila

Obrolan tersebut mengemuka saat Bupati Tegal bincang-bincang dengan Ketua PCNU Ende Usman Hamid saat menelusuri jejak Bung Karno di kota kecil itu, Ahad (1/9).

Bupati Tegal

“Pada 14 Januari 1934, Bung Karno bersama sang istri, Inggit Garnasih serta ibu mertua (Ibu Amsi) dan anak angkatnya, Ratna Djuami, tiba di rumah tahanan yang terletak di Kampung Ambugaga, Ende. Bung Karno diasingkan di daerah ini hingga 1938,” kisahnya.

Menurut cerita, lanjut Usman, di bawah pohon sukun di sebuah tanah lapang yang menghadap langsung ke Pantai Ende menjadi tempat favorit Bung Karno untuk berkontemplasi. Pohon yang terbilang rindang itu berjarak sekitar 700 meter dari kediaman Bung Karno. Biasanya, ia pergi sendiri ke tempat sunyi itu pada Jumat malam. Di tempat itulah, Bung Karno mengaku buah pemikiran Pancasila tercetus.

Dalam buku Bung Karno dan Pancasila, Ilham dari Flores untuk Nusantara, diceritakan bahwa Soekarno jadi lebih banyak berpikir daripada sebelumnya. Kehidupannya bersama keluarga di Ende sangat sederhana dan jauh dari hiruk-pikuk politik layaknya di kota besar. Tak banyak yang bisa ia lakukan di tempat pengasingan yang begitu jauh dari Ibu Kota itu.

Bupati Tegal

Bung Karno diasingkan ke daerah terpencil dengan penduduk berpendidikan rendah sengaja dilakukan Belanda demi memutus hubungan dirinya dengan para loyalis di Tanah Jawa. Di tempat pengasingan ia mulai mempelajari lebih jauh tentang Islam hingga isu pluralisme. Para pastor di Ende menjadi kawan diskusinya.

Sehari-hari Bung Karno memilih berkebun dan membaca. Untuk membunuh kebosanannya dengan aktivitas yang monoton itu jiwa seninya kembali tumbuh. Bung Karno mulai melukis hingga menulis naskah drama pementasan.

Di sela kegiatan seninya, Bung Karno berkirim surat dengan tokoh Islam di Bandung bernama T A Hassan dan berdiskusi cukup sering dengan pastor Pater Huijtink. Dari sinilah Bung Karno menjadi lebih religius dan lebih mengerti makna keberagaman secara mendalam.

Pancasila Lahir

Bung Karno kemudian memaparkan lima prinsip beserta relevansinya bagi bangsa Indonesia pada rapat besar Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945 di Jakarta. Dengan semangat 45, ia menyadarkan anggota rapat tentang perlunya Indonesia memiliki dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima butir itulah yang ia disebut sebagai Pancasila. Inilah yang kemudian melandasi penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Tentang ide lima butir mutiara tersebut Bung Karno memiliki cerita sendiri.

Berikut ini kisahnya: “Suatu kekuatan gaib menyeretku ke tempat itu hari demi hari. Di sana, dengan pemandangan laut lepas tiada yang menghalangi, dengan langit biru yang tak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung, di sanalah aku duduk termenung berjam-jam.

Aku memandangi samudera bergolak dengan hempasan gelombangnya yang besar memukuli pantai dengan pukulan berirama. Dan kupikir-pikir bagaimana laut bisa bergerak tak henti-hentinya. Pasang surut, namun ia tetap menggelora secara abadi.

Keadaan ini sama dengan revolusi kami, kupikir. Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti juga samudera luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan aku tahu di waktu itu bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiri dan tanah airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada.” (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Nusantara Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock