Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

Tarim, Bupati Tegal

Pelajar Jawa Timur di Yaman yang terkumpul dalam organisasi Keramat Jatim menggelar pertemuan akbar yang untuk pertama kalinya dihadiri seluruh pelajar dari berbagai lembaga di Hadhramaut.

Tak hanya berkumpul, acara perdana ini juga membawa misi untuk menyatukan visi dan misi dalam berdakwah di Jawa Timur nanti, sekembalinya mereka ke Tanah Air. Arek-arek Jawa Timur itu berharap, di samping menyambung tali silaturahim, pertemuan kali ini juga membentuk misi dakwah yang kelak dipikul bersama demi terwujudnya Jawa Timur yang semakin Islami.

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

“Tujuan perkumpulan kali ini tidak lain untuk menyatukan misi dakwah kita demi Jawa Timur dan negeri tercinta yang lebih baik dan lebih Islami,” tutur Ahmad Khoiron Roib, ketua pelajar Jawa Timur di Yaman dalam acara yang dihadiri sekitar 80 anggota itu, Kamis (10/03) malam waktu setempat.

Bupati Tegal

Acara dikemas dengan sederhana dan dimulai dengan pembacaan Maulid Nabi, kemudian perkenalan masing-masing anggota, sambutan-sambutan, baik dari ketua pelajar Jawa Timur,? ketua Persatuan Pelajar Indonesia, maupun ketua perwakilan dari setiap lembaga.

Sebelum acara benar-benar selesai pukul 23.30, hadirin disuguhi dengan marawis dan tari zavin. Hadir dalam acara tersebut jajaran ketua dari organisasi daerah di Indonesia yang ada di Yaman. (Zain Mahfudz/Mahbib)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Jumat, 02 Maret 2018

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Brebes, Bupati Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyarankan agar selepas Lebaran ini warga tidak terpesona dengan kota. Kemudian ikut-ikutan urbanisasi ke Jakarta tanpa memiliki bekal keterampilan cukup. Pasalnya, mengadu nasib ke ibu kota tidak segampang dalam angan-angan. Lebih baik bekerja di daerah sendiri dengan turut serta membangun masyarakat.

“Tak usah ikut-ikutan ke Jakarta bila tidak memiliki bekal keterampilan yang cukup,” sarannya pada sambutan Haul KH Syihabuddin dan haul massal serta halal bihalal desa Jagalempeni Kecamataman Brebes, Ahad (2/7).

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Idza meyakini, hidup di desa lebih sejahtera dan tenang. Jika memiliki inovasi dan kreativitas bisa disumbangsihkan kepada daerah.

Bupati Tegal

Dia juga menerangkan, di Brebes telah disediakan 10 ribu hektar untuk lahan industri dan sudah ada 38 investor yang tengah menyelesaikan pengurusan perizinannya.

“Kabupaten Brebes pro investasi, jadi akan ada pergerakan perkembangan ekonomi yang signifikan,” tandasnya.

Bupati Tegal

Sebagai pimpinan daerah, dirinya bertekad memperhatikan berbagai peluang usaha untuk warganya. Termasuk pembangunan infrastruktur jalan yang terus diselesaikan hingga tahun kelima.

“Tahun kelima ini, insyaallah infrastruktur jalan di Brebes bisa rampung dan akan dilanjutkan dengan periode II dengan pembangunan yang seimbang antara pembangunan jasmani dan rohani,” terangnya.

Dalam kesepatan tersebut, Idza juga menyambut baik tradisi budaya masyarakat desa yang kental dengan gotong-royong dalam pembangunan. Terbukti berbagai kegiatan keagamaan, pembangunan tempat tempat ibadah, maupun sarana dan prasana pendidikan banyak yang dilakukan dengan dukungan gotong royong.

Atas nama pribadi maupun pemerintah, Bupati meminta maaf kepada masyarakat Brebes khususnya desa Jagalempeni.

Ketua Panitia Haul dan Halal Bihalal, Fahrizal Julian Pratama menjelaskan, haul dan halal bihalal menjadi kebiasaan masyarakat Jagalempeni. Dalam haul tersebut, terkumpul dana gotong royong lebih dari Rp 13 juta untuk 6 ribu arwah. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Yogyakarta, Bupati Tegal. Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah kesempatan ceramah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menyatakan sungguh sayang jika kita hanya memiliki guru-guru yang masih hidup. Justru mereka, para kiai dan ulama yang telah lama wafat, adalah guru sejati kita. Sebab, menurut tokoh kelahiran Bone (Sulawesi Selatan) itu, mereka yang telah sumare kini tak memiliki kepentingan lagi. Dan baik buruknya seseorang hanya dapat diketahui saat ia telah tiada.

Pemikiran Nasaruddin di atas—juga banyak ulama yang mengatakan hal senada—membuat kami memutuskan untuk menziarahi para guru, ulama, dan kiai. Memanfaatkan hari libur beberapa waktu lalu, kami memulai ziarah tepat 8 pagi. Aroma basah jalanan sisa hujan semalam masih kuat terasa. Dari bilangan Krapyak, Bantul, kami berlima—rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY—langsung menuju makam Dongkelan, makam dari KH Moenawwir, KH Ali Maksum, dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak, Bantul. Bacaan tahlil kami lakukan sekitar 20 menit dan perjalanan dimulai lagi. Tepat Pukul 09.15 kami sampai di makam KH Nur Iman atau sering disebut BPH Sandiyo. Makam ini terletak di Mlangi, sekitar 200 meter dari ring road barat. Kalau saat momentum Ramadhan, kampung ini dikenal sebagai sentra mercon kota Yogya.

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)
Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Makam Mbah Kiai Nur Iman tepat berada di barat Masjid Pathok Negara Mlangi. Saat kami masuk, ada dua orang santri perempuan sedang khusyuk mengaji. Kedatangan kami tampaknya tak mengganggu mereka, terbukti bacaan Qur’an tetap nyaring, stabil dan terus mereka lantunkan.

Bupati Tegal

Sunan Pandanaran

Bupati Tegal

Pukul 10.00 kami meninggalkan Mlangi, kemudian bergegas menuju Bayat, Klaten. Maklum, momentum liburan dan kendaraan luar kota mulai padat memasuki Yogyakarta dari arah timur membuat kami mesti pintar-pintar estimasi waktu. Tujuan kami adalah Makam Sunan Pandanaran, atau Sunan Padang Aran, atau dikenal juga Sunan Bayat. Arah menuju makam cukup gampang. Anda tinggal menuju Klaten dan dari arah Yogya sudah ada papan plang penunjuk jalan menuju makam. Masuk sekitar 8 km dari jalan utama Yogya-Solo.

Makam Sunan Pandanaran terletak di Gunung Cokrokembang. Tak heran Anda mesti menaiki sekitar 250 anak tangga. Bagi yang jarang olahraga, pasti nafas akan cukup tersengal. Tapi Anda tak perlu khawatir, bagi yang tidak kuat, ojek motor siap mengantar Anda sampai atas dengan tarif Rp 7.000 sekali naik. Di samping kiri-kanan tangga terdapat para penjual cinderamata, pakaian, makanan khas, dan sarung termasuk aneka tasbih, cincin akik bahkan alat masak tradisional. Pokoknya komplit!

Semuanya laris dilihat dari banyaknya peziarah yang memborong. “Kiai besar itu sudah wafat saja masih menghidupi banyak orang, sedang kita yang masih hidup justru selalu mencelakakan orang,” tukas teman yang ikut ziarah. 

Sejak pintu kedatangan ada beberapa gapura yang langsung menyambut kedatangan kita. Dimulai dari Gapura Segara Muncar di depan parkiran, Gapura Dhuda yang menyapa di depan anak tangga pertama, Gapura Pangrantungan hingga Gapura Panemut, Pamuncar, Balekencur, Prabayeksa yang keempatnya berada di kompleks makam.

Di samping Gapura Dhuda Anda diwajibkan membayar retribusi masuk Rp 1.000/orang. Sedang di Gapura Pangrantungan Anda akan disambut abdi dalem diminta untuk mendaftarkan diri. Kata seorang abdi dalem yang berjaga, tiap hari ada 1.000 pengunjung yang datang ke sana. “Apalagi kalau bulan Ruwah dan Rejeb, bisa sampai 2.000 orang yang ziarah,” katanya lagi. Di gapura ini, terdapat masjid yang disediakan bagi peziarah sekadar melepas lelah dan untuk menegakkan sholat. Rasa lelah setelah naik tangga akan terbayar dengan pemandangan Kota Klaten dan Yogya dari atas yang sungguh elok rupa. Jajaran pegunungan seribu juga terlihat dan inilah yang disebut Jolosutra. Tempat di mana Sunan Kalijaga ‘menanam’ murid-muridnya untuk menyebarkan agama Islam, sekaligus membentengi masyarakat dari gangguan dari luar.

Kompleks Makam Sunan Bayat cukup eksotis. Bangunannya mirip pura atau Kerajaan Hindu. Didukung dengan masyarakat sekitar yang tampaknya sadar akan potensi ini, maka jadilah ziarah di Makam Sunan Bayat mampu menjadi magnet siapapun yang melakukan perjalanan wisata spiritual.

Saat kami tiba di makam, ternyata ratusan peziarah sedang melafalkan kalimat tahlil. Mereka datang dari Cilacap, Tuban dan Rembang. Pukul 13.30 kami akhiri dan bersegera menuntaskan ziarah hari itu. Keasyikan ziarah dan mengenang kembali jasa serta ajaran mereka yang telah sumare membuat kami lupa untuk santap siang. Kami memilih sebuah restoran di pinggir Jalan Raya Solo-Yogya. 

Tampaknya arus kendaraan yang berjejal ingin masuk ke Yogya sangat padat sekali. Rencana untuk ziarah ke makam KH Zainal Muttaqin, salah seorang putra Sunan Kalijaga yang berada di selatan Bong Supit Bogem terpaksa kami urungkan. Kami berbelok ke selatan menuju Dusun Jolosutro. Di sana terdapat makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga lainnya.

Sekitar Pukul 16.00 kami sampai di Dusun Jolosutro yang terelak 5 km di selatan Jalan Yogya-Wonosari km 14. Kami sholat ashar di Masjid Sunan Geseng dan naik menuju makam. Setelah memarkir kendaraan kami hendak jalan kaki menuju makam. Seorang penduduk mengingatkan kami, jalan kaki menuju makam menempuh jarak 1 km dan menghabiskan 30-40 menit. Terjal, naik dan siapapun yang tidak terbiasa akan kewalahan. Untungnya ada penduduk lainnya yang memberitahu, jalan menuju makam relatif mulus dan dapat dilalui kendaraan asal lewat jalur Patuk Gunungkidul. Kami menurut saja. Perkiraan waktu pulang dari makam selepas maghrib tentu tak nyaman jika harus menuruni bukit.

Putar haluan, kami menuju Patuk. Tepat di pos polisi Patuk kami ke selatan, ikuti jalan hingga ada bak air raksasa. Ambil kiri dan menapaki jalan hotmix yang berdasarkan papan keterangan dibangun oleh Pemkab Bantul, sampailah kami di makam Sunan Geseng. Benar saja, kendaraan dapat dibawa sampai kompleks makam. Di sana ada musholla kecil dan kamar mandi dengan air melimpah.

Sunan Geseng atau Pangeran Panggung adalah salah satu putra Brawijaya V yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Konon ada 99 makam Sunan Geseng di seluruh nusantara, tapi yang diyakini benar sebagai makamnya ada di tiga tempat: Tuban, Grabag, dan Jolosutro Piyungan. Gus Dur sendiri pernah ziarah di sini dan mengatakan yang paling tepat dari kemungkinan yang ada hanyalah yang di Jolosutro Piyungan.

Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk pulang. Seharian ziarah di kawasan DIY-Jateng tentu menguras tenaga. Namun, kami percaya bahwa mereka yang telah sumare itu memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Dan sepantasnya bagi kita untuk mendoakan mereka, berharap ikatan batin itu selalu terjaga. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Halaqoh Bupati Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang

Pringsewu, Bupati Tegal

Sudah menjadi sunnatullah sebuah perjuangan akan selalu menghadapi tantangan. Namun, tidak sedikit pula yang mendukungnya.

"Kalau berjuang, pasti ada yang senang dan juga ada yang tidak senang. Itu sudah Hukum alam," demikian penjelasan Mustasyar PCNU Pringsewu H. Sujadi saat mengupas? tafsir Al-Qur’an surah Al-Kautsar pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (5/1).

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang

Namun, kata dia, rintangan dalam perjuangan tersebut tidak boleh menjadikan diri patah semangat dan pesimis. Optimisme harus terus dipupuk dengan terus berjuang sesuai keyakinan dan target yang akan dicapai. "Jangan senang dan lupa daratan ketika dipuji dan jangan bersedih kati ketika dicaci-maki. Kita harus yakin dengan perjuangan yang kita jalani," tegasnya.

Bupati Tegal

Dalam kesempatan tersebut, pria yang disapa Abah Sujadi, mengingatkan bahwa dalam perjuangan dengan berbagai bentuknya harus mengedepankan kerja sama dan kekompakan setiap elemen. Karena jika tidak ada soliditas maka akan mudah terprovokasi dan dan tercerai-berai.

Bupati Tegal

Mengutip maqolah Ali Bin Abi Thalib RA, Abah Sujadi mengatakan bahwa kejahatan yang terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Ia juga memberikan salah satu? langkah lainnya ketika ada pihak yang benci dengan perjuangan yang sedang dijalani yaitu dengan banyak bershalawat.

"Perbanyak shalawat untuk terhindar dari orang-orang yang menzalimi kita," katanya sembari menuliskan shalawat tersebut di papan tulis dan mengijazahkannya kepada jamaah untuk dapat diamalkan.

Shalawat yang sudah sangat populer tersebut berisi tentang doa agar terhindar dari orang-orang yang senantiasa menzalimi. Adapun lirik shalawat tersebut adalah "Allahumma shalli ala sayyidina muhammad wa asyghili dzolimin bi dzolimin, wa akhrijna min bainihim salimin, wa ala alihi wa sahbihi ajmain". (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Ahlussunnah Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka

Jepara, Bupati Tegal. Ratusan pelajar santri MTs, MA NU dan Pesantren Kelautan Safinatul Huda di Pulau Kemujan Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara merayakan Hari Pramuka ke-53.

Selama tiga hari Selasa-Kamis (12-14/8) pelajar santri yang tergolong anak nelayan miskin Karimunjawa tetap semangat mengikuti kegiatan diantaranya Lomba Balap Karung, Lomba Kelereng, Lomba Teknik Pramuka, Renungan Malam, Doa Bersama dan Upacara Hari Pramuka.

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka

Kepala MA NU sekaligus pengasuh pesantren kelautan Safinatul Huda, H Hisyam Zamroni menyatakan kegiatan dilaksanakan dalam memperingati Hari Pramuka ke-53.

Bupati Tegal

“Kegiatan ini kami laksanakan agar semakin mendekatkan pelajar santri lebih dekat dengan masyarakat,” jelas Hisyam saat berkomunikasi via seluler dengan Bupati Tegal, Sabtu (16/8) siang, kemarin.

Bupati Tegal

 

Kegiatan pramuka, sambungnya merupakan wahana character building—pembentukan karakter yang berwawasan kebangsaan. Selain bernafas kebangsaan, pelajar santri juga perlu di topang wawasan ke-aswaja-annya.

“Wawasan Aswaja ini sejalan dengan napas madrasah dan pesantren kami sebagai satunya-satunya madrasah di Karimunjawa yang ada sejak 2001 dan berlabel NU,” tegasnya.

Lembaganya, lanjut Hisyam berada di pusaran destinasi kepulauan Karimunjawa. Lewat momen tersebut pihaknya juga menyiapkan generasi muda NU yang siap menghadapi laju pariwisata baik lokal, nasional maupun internasional.

Hadir dalam kesempatan kegiatan guru, alim ulama dan tokoh masyarakat di Pulau Kemujan. Hadir pula Ahmad Kholikin ketua MWCNU Karimunjawa, Muchlisin dan Nur Rohimah ketua IPNU-IPPNU kecamatan Karimunjawa. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Doa, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII

Jakarta, Bupati Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan sambutan dalam penyelenggaraan Hari Lahir (Harlah) Ke-57 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan peresmian Graha Mahbub Djunaidi, Senin (17/4) di Kantor PB PMII Jalan Salemba Tengah Paseban Jakarta Pusat.

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menerangkan, di setiap zaman tidak akan terlepas oleh adanya tantangan dan hambatan. Memasuki era yang sangat menantang ini, merupakan agenda sebagai warga NU untuk menangkal radikalisme dan paham-paham yang berusaha merongrong Pancasila dan NKRI.

Kiai Said memaparkan, bangsa Indonesia saat ini berada di era yang sangat menantang dan liar, seperti gerakan radikal. Menurutnya, ini tidak kebetulan. ISIS punya agenda global dan ingin masuk ke berbagai belahan dunia.

"Menurut survei yang dirilis Kompas, simpatisan ISIS jumlahnya 4 persen, yang berarti kurang lebih 8 sampai 10 juta," paparnya di hadapan para kader PMII yang memadati Graha Mahbub Djunaidi.

Guru Besar Ilmu Tasawuf ini berharap, dengan adanya tantangan yang dapat memecah belah NKRI, perlu ada penyatuan prinsip. Karena Indonesia salah satu tempat yang aman dan nyaman, serta mudah dimasuki paham-paham transnasional.

Bupati Tegal

"Saya kurang yakin kalau bukan kiai-kiai pesantren yang membentengi negeri ini,” tegas Kiai Said.

Terdapat sisi positif dari para kiai-kiai pesantren yang dapat masyarakat ambil. Kiai mempunyai karakter yang kokoh prinsip dan sikap yang tegas, teguh berpendirian, dan berakhlakul karimah.

Di akhir pidatonya, Kiai Said menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.

"Saya tidak pernah bergeser dari tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran)," paparnya menegaskan.

Bupati Tegal

Selain itu, warga pergerakan harus mampu mengimbangi nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan terwujudnya intelektual yang berkualitas.

"Prinsip tawasuth, tidak akan terwujud bila tidak dibarengi dengan intelektual. Tanpa kecerdasan tidak mungkin tawasuth. Warga NU harus berilmu dan cerdas," tegas diakhir pidatonya.

Sedangkan prinsip tasamuh, tandasnya, warga NU harus toleran dibarengi dengan akhlakul karimah. “Saya yakin bila ber-NU akan bermanfaat," tutupnya. (Robiatul Adawiyah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pertandingan, Doa Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Lebaran dan Ketupat

Ada beberapa tradisi penting yang tidak tampak dalam kebudayaan masyarakat Arab, seperti tradisi lebaran dan ketupat. Jika ada yang mengatakan ini bid’ah atau hal baru, memang benar namun bid’ah hasanah, hal baru yang baik dan merupakan manifestasi dari nilai-nilai Islam.

Pertama, istilah lebaran berasal dari bahasa Jawa "lebar" yang artinya bebas, selesai, atau rampung. Istilah ini merupakan pengalihbahasaan yang baik dan substansial dari istilah bahasa arab "idul fitri". Para ulama terdahulu sangat jitu dalam mengajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Lebih dari sekedar alih bahasa, bahkan para ulama penyebar Islam memakai istilah lebaran untuk menerjemahkan "idul fitri" ke dalam tradisi setempat yang baik bahkan sesuai dengan ajaran inti Islam.

Setelah umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh lalu ditambah zakat fitrah maka akan mendapatkan "idul fitri" atau biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang lebih umum "kembali kepada kesucian".

Lebaran dan Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran dan Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran dan Ketupat

Dijelaskan, bagi umat Islam yang telah menjalankan puasa dengan baik dan benar akan diampuni dosanya yang telah lalu bahkan dosa yang akan datang jika ia konsisten memelihara ibadah yang telah dijalaninya di bulan Ramadhan. Lalu zakat fitrah berupa 3,5 liter atau 2,5 kg beras atau berupa uang yang diperuntukkan bagi mereka yang mendapati malam lebaran dan mempunyai bersediaan makanan untuk esok hari adalah prasyarat agar umat Islam yang telah lebur dosanya itu agar kembali kepada kesucian, fitrah atai fitri, sebagaimana bayi yang baru lahir.

Nah, dosa-dosa yang diampuni barusan hanyalah dosa hamba dengan Tuhannya, tidak dengan sesama manusia. Dalam Islam, jika dosa yang telah dilakukan oleh manusia itu berkaitan dengan manusia lain, ada kewajiban untuk meminta maaf dan ampunan kepada sesama manusia dan merampungan persoalan keperdataan jika ada.

Di sinilah posisi lebaran. Para ulama penyebar Islam menambahkan, agar benar-benar idul fitri, lebaran, terbebas dari dosa-dosa, umat Islam harus mengujungi saudaranya untuk saling bermaaf-maafan dan menyelesaikan semua sengketa. Inilah yang menyebabkan tradisi lebaran begitu hidupnya di Indonesia. Selain memang, tradisi saling kunjung, saling merasa bersalah, basa basi, tukar menukar makanan, dan seterusnya telah akrab dijalani oleh bangsa Indonesia. Di Timur Tengah dan di beberapa negara yang dihuni umat Islam hari raya Idul Fitri tidak dipertingati dengan hal serupa, dengan kata lain tidak ada tradisi lebaran di sana.

Bupati Tegal

Kedua, tradisi ketupat. Ketupat adalah sejenis lontong, yakni beras dalam balutan anyaman daun kelapa, lontar atau blarak yang direbus menjadi nasi liwet yang kempal. Orang Jawa dulu biasa membuat ketupat untuk keperluan mapag sri atau pesta panen padi. Ketupat sebagai bagian dari persembahan untuk dewi Sri yang empunya padi. Di beberapa tempat di dataran tinggi Jawa, ketupat ada dalam upacara kematian anak tersayang. Ketupat diberi bumbu secukupnya dan dibagikan kepada tetangga terdekat. Nah, para ulama pendahulu melestarikan tradisi ketupat ini dengan memasukkan ajaran inti Islam.

Pesta ketupat diadakan seminggu setelah lebaran. Dijelaskan, umat Islam yang menjalankan puasa sunat selama enam hari terhitung satu hari setelah lebaran maka ia akan mendapatkan pahala puasa selama satu tahun lamanya. Orang yang melaksanakan puasa enam hari ini tergolong mulia dan istimewa. Di saat umat Islam yang lain bersenang-senang dan melampiaskan dendamnya dengan memakan apa saja karena di siang hari bulan Ramadhan semua makanan dilarang, ia malah berpuasa. Nah sebagai penghargaan terhadap hamba mulia ini, pada hari kedelapan lebaran para ulama pendahulu menganjurkan umat Islam yang lain membuat ketupat dan membagi-bagikannya kepada tetangga terdekat dan menjadilah ketupat sebagai bagian dari tradisi lebaran.

Kenapa ketupat dan bukan lontong yang nikmatnya tidak jauh berbeda? Ketupat mempunyai keistimewaan yakni lebih tahan lama sehingga bisa dibagi-bagikan kepada tetangga dan sanak kerabat jauh sekalipun. Ketupat biasa mempunyai pasangan bernama lepet, yakni makanan dari ketan yang dibumbuhi kemudian dibalut dengan lontar dalam bentuk prisma segi tiga lonjong. Lepet berasal dari bahasa Jawa "lepat" yang artinya kesalahan. Membagi ketupat dan lepet adalah simbul salaing memaafkan segala kesalahan.

Demikianlah. Ada banyak usaha yang ditempuh oleh para ulama terdahulu untuk memasukkan ajaran-ajaran inti Islam -yang sesungguhnya tidak banyak berbeda dengan agama-agama lain- ke dalam tradisi yang telah berlaku, sembari secara perlahan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Bisa dilihat dalam tradisi selamatan, tingkeban, babaran, pasaran, pitonan, dan seterusnya.

Bupati Tegal

Kita bersyukur, berbagai tradisi itu masih lestari dan menjadi bagian dari masyarakat sampai sekarang. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Anti Hoax, Olahraga Bupati Tegal

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Oleh: M. Imaduddin

Kelahiran Aswaja, atau lebih tepatnya terminologi Aswaja, merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ketiga Hijriah. Pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abi Sufyan, yang berakhir dengan tahkim (arbitrase), mengakibatkan pendukung Ali terpecah menjadi dua kubu.

Kubu pertama menolak tahkim dan menyatakan Ali, Muawiyah, Amr bin ‘Ash, dan semua yang terlibat dalam tahkim telah kafir karena telah meninggalkan hukum Allah. Mereka memahami secara sempit QS. Al-Maidah:44: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka telah kafir”. Semboyan mereka adalah laa hukma illallah, tiada hukum selain hukum Allah. Kubu pertama ini kemudian menjadi Khawarij.

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Sedangkan kubu kedua mendukung penuh keputusan Ali, sebab Ali adalah representasi dari Rasulullah saw, Ali adalah sahabat terdekat sekaligus menantu Rasulullah saw. Keputusan Ali adalah keputusan Rasulullah saw. Kubu kedua ini kemudian menjadi Syiah. Belakangan, golongan ektstrem (rafidhah) dari kelompok ini menyatakan bahwa tiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Bahkan golongan Syiah paling ekstrem yang disebut Ghulat mengkafirkan seluruh sahabat Nabi Saw kecuali beberapa orang saja yang mendukung Ali. Di sinilah awal mula pertikaian antara Syiah dengan Khawarij yang terus berlangsung hingga kini.

Bupati Tegal

Khalifah Ali kemudian dibunuh oleh Khawarij. Pembunuhnya adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut fanatik Khawarij. Menyedihkan, Ibnu Muljam ini sosok yang dikenal sebagai penghafal Al-Quran, sering berpuasa, suka bangun malam, dan ahli ibadah. Fanatisme dan minimnya ilmu telah menyeretnya menjadi manusia picik dan sadis.

Berdasarkan musyawarah ahlul halli wal áqdi yang beranggotakan sahabat-sahabat besar yang masih tersisa waktu itu, menyepakati kedudukan Ali sebagai khalifah digantikan oleh puteranya Al-Hasan. Namun Al-Hasan hanya dua tahun menjabat sebagai khalifah. Ia mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah karena menurut ijtihadnya mengundurkan diri adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan umat. Dalam sejarah, tahun pengunduran diri Al-Hasan dinamakan“am al-jamaáh” atau tahun persatuan.

Bupati Tegal

Naiknya Muawiyah menjadi khalifah menimbulkan reaksi keras dari kelompok Syiáh dan Khawarij. Mereka menolak kepemimpinan Muawiyah dan menyatakan perang terhadap Bani Umayah. Perselisihan makin memuncakmanakala Muáwiyah mengganti sistem khilafah menjadi monarki absolut, dengan menunjuk anaknya Yazid sebagai khalifah selanjutnya.

Di sisi lain, tragedi Karbala yang menyebabkan terbunuhnya cucu Rasulullah saw Al-Husein dan sebagian besar ahlul bait Rasulullah saw pada masa Khlalifah Yazid bin Muawiyah, telah mengobarkan semangat kaum Syiah untuk memberontak terhadap Bani Umayah. Pertikaian selanjutnya melebar jadi pertikaian segitiga antara Bani Umayah, Syiah, dan Khawarij. Pertikaian terus berlanjut hingga masa Bani Abbasiah. Dua kelompok ini senantiasa merongrong pemerintahan yang sah.

Chaos politik yang melanda umat Islam awal pada akhirnya juga melahirkan kelompok lain di luar Syiah dan Khawarij. Pada awal abad ketiga Hijriah muncul kelompok Murjiáh, yang berpendapat bahwa dalam persoalan tahkim tidak ada pihak yang berdosa. Dosa dan tidaknyaserta kafir dan tidaknya seseorang bukanlah diputuskan di dunia, melainkan di akhiratoleh Allah SWT.

Dari persoalan politik kemudian merembet menjadi persoalan akidah.Perdebatan siapa yang bersalah dalam konflik antara Ali dan Muawiyah melebar jadi perdebatan tentang perbuatan manusia. Setelah Murjiáh, muncullah aliran Jabbariah (fatalisme) dan Qodariah(fre act and fre will). Jabbariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya manusia tak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh dalang. Qodariah berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya.

Setelah Qodariah dan Jabbariah, berikutnya muncul aliran Mu’tazilah yang berpendapat sama dengan Qodariah dalam hal perbuatan manusia, namun mereka menolak penetapan sifat (atribut) pada Allah. Menurut Mu’tazilah, bila Allah memiliki sifat berarti ada dua materi pada Allah, yakni Dzat dan Sifat, hal ini berarti telah syirik atau menduakan Allah.

Lahirnya aliran-aliran ekstrem setelah Syiah dan Khawarij bukan hanya disebabkanoleh persoalan politik yang melanda umat Islam awal, akan tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari luar Islam. Hal ini merupakan imbas dari semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam yang meliputi wilayah-wilayah bekas kekaisaran Persia dan Romawi yang sudah lebih dahulu memiliki peradaban yang mapan dan telah bersentuhan dengan rasionalisme Yunani dan filsafat ketimuran.

Seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, kemunculan istilah Aswaja merupakan respon atas kelompok-kelompok ekstrem pada waktu itu. Aswaja dipelopori oleh para tabiín (generasi setelah sahabat atau murid-murid sahabat) seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi’tabiín (generasi setelah tabiín atau murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah. Ditambah generasi sahabat, inilah yang disebut dengan periode salaf, sebagaimana disebut oleh Rasulullah saw sebagai tiga generasi terbaik agama ini.

Selepas tabi’ tabiínajaran Aswaja diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya.Mulai dari Imam Abul Hasan Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haromain, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya sampai Hadratussyekh Hasyim Asyári.

Dalam memahami dalil Al-Qur’an dan Sunnah Aswaja mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci dan akal. Menyikapi pendapataliran-aliran ekstrem tersebut Aswaja mengambil jalan tengah di antara pendapat-pendapat mereka. Beberapa ajaran pokok Aswaja, antara lain:

1. Pertikaian politik yang terjadi di antara para sahabat Nabi saw merupakan ijtihad para sahabat, bila benar mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala. Aswaja mengambil sikap tawaquf (diam) atas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat dan menyatakan keadilan para sahabat (hadisnya bisa diterima).

2. Dalam masalah takfir Aswaja amat berhati-hati, karena bila sembrono efeknya akan kembali kepada si penuduh. Aswaja tidak akan mudah mengkafirkan ahlul qiblah atau selama masih mengakui tidak ada ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan allah; mengakui hal-hal prinsip dan sudah pasti dalam agama(al-ma’lum mina diini biddhoruroh) seperti rukun Islam, rukun iman, dan perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, hisab, shirath, malaikat, jin, peristiwa isra’ dan mi’raj dll. yang informasi mengenai hal-hal tersebut hanya diketahui dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw yang mutawatir.

3. Aswaja juga tidak mudah memvonis sesat sebuah pemikiran atau pendapat seseorang yang berangkat dari dalil yang tidak tegas (ijtihadi) atau masih terbuka ruang perbedaan pendapat di dalamnya. Aswaja amat menghargai perbedaan pendapat karena perbedaan pendapat di kalangan umat adalah rahmat.

4. Mengenai perbuatan manusia, Aswaja berpendapat bahwa perbuatan manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan, namun manusia memiliki kuasa (kasb) atas perbuatannya yang bersamaan dengan kehendak Tuhan.

5. Dalam memahami teks Al-Quran dan sunnah, Aswaja berpendapat bahwa ada ruang bagi akal untuk memahami teks. Artinya ada teks yang mengandung makna haqiqi dan ada teks yang mengandung makna majazi(metaforis) yang membuka ruang akal (tafsir) untuk memahaminya.

6. Mengenai perbuatan dosa atau masuk surga dan neraka manusia, Aswaja berpendapat manusia divonis telah berdosa di dunia apabila telah melanggar hukum-hukum syariat sedangkan di akhirat mutlak adalah keputusan Allah.

7. Mengenai sifat Allah, Aswaja berpendapat bahwa Allah memiliki sifat. Dzat (esensi) dan Sifat (atribut) adalah dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan, seperti halnya sifat manis yang melekat pada gula. Antara atribut manis dan esensi pada gula keduanya menyatu, namun tak bisa dilepaskan satu sama lain. Sifat senantiasa menyatu dengan Dzat (esensi).

8. Terkait dengan politik dan kekuasaan, Aswaja menyatakan haram hukumnya bughot (memberontak) meskipun pemerintahan itu zhalim,karena hanya akan menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah yang tak berkesudahan di kalangan umat. Namun pemerintahan hasil kudeta adalah pemerintahan yang sah karena terkait dengan kesejahteraan umat dan legalnya beberapa hukum syariat.

9. Aswaja tidak menolak tradisi dan kebudayaan yang sudah lama berkembang dan mendarah daging di tengah masyarakat, asal tidak bertentangan dengan syariat. Namun bila bertentangan dengan syariat, Aswaja menolak perubahan dilakuan secara radikal dan revolusioner. Perubahan harusdilakukan secara bertahap.Atau tidak harus merubahnya, tetapi mewarnai tradisi dan kebudayaan tersebut sehingga cocok dengan ajaran Islam.



Fleksibilitas Ajaran Aswaja

Sepanjang sejarah perjalanannya, prinsip jalan tengah yang ditempuh Aswaja, yang mewujud dalam karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) membuat Aswaja mampu hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (dinamis).

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara,dai-dai Aswaja awal di Nusantara seperti Walisongo tak mengalami benturan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara. Pasalnya, kata Clifford Gertz, dalam menyebarkan agama Islam mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah yang menyiarkan agama Islam,akan tetapisebagai cultural broker, makelar budaya.

Oleh karena itu, saya berani katakan corak Islam di Nusantara 90 persen terbentuk dari budaya. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah ibadah, istana kesultanan, tradisi dan ritual keagamaan, kuliner, fashion, hingga sistem pengajaran dan pendidikan.Islam di Nusantara itu unik dan berbeda dengan Islam di tanah asalnya, Arab.

Orientasi Aswaja Bukan Kekuasaan

Ajaran Aswaja yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia orientasinya tidak lain adalah mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat baik bidang agama, sosial, politik, maupun ekonomi. Aswaja bukanlah golongan yang menjadikan kekuasaan politik sebagai tujuan. Artinya, bagi Aswaja kekuasaan bukanlah indikator keberhasilan dakwah islamiah, tetapi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini berbeda dengan kaum Syiah dan Khawarij yang orientasi utamanya adalah kekuasaan politik.

Dengan prinsip jalan tengahnya, dalam bidang politikAswaja menghendaki tatanan politik yang stabil. Aswaja mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan mengharamkan sebuah tindakan dan pernyataan yang dapat memicu huru-hara politik dan chaos. Mengapa? Karena instabilitas politik dapat memicu kekacauan sosial yang pada ujungnyahanya akan menyengsarakan rakyat.

Aswaja menyatakan bahwa Islam tidak meninggalkan sistem politik apapun. Mengenai pengaturan negara diserahkan kepada masyarakat yang membentuk negara itu. Islam tidak mempersoalkan sistem demokrasi atau monarki. Islam hanya memerintahkan seorang pemimpin harus adil dan berakhlakul karimah, senantiasa musyawarah, serta berkomitmen untuk menyejahterakan rakyatnya, sebagaimana kaidah fiqh “tashorruful imam ála roíyah manuthun bil mashlahah” kebijakan seorang pemimpin berdasarkan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam bidang sosial, Aswaja menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang beradab(tamaddun), dalam arti masyarakat yang membangun, saling menghormati, dan toleran, meski berbeda agama, suku bangsa, dan budaya. Inilah tatanan masyarakat ideal sebagaimana telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad yang lalu ketika membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah.

Dalam bidang ekonomi, Aswaja menekankan pemerataan ekonomi. Aswaja mengambil jalan tengah antara kapitalisme-liberalisme dan sosialisme-komunisme. Aswaja mengharamkan monopoli atas kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Aswaja juga mengharamkan sumber daya alam dan mineral sebuah negara dikuasai oleh pribadi atau segelintir orang. Aswaja menekankan keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat sehingga tercipta keadilan sosial dan ekonomi.

Aswaja dan Nasionalisme

Bagi Aswaja, agama dan nasionalisme tak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Agama dan nasionalisme saling mendukung. Nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai, sementara agama tanpa nasionalisme tak mampu menyatukan elemen-elemen bangsa. Hadratussyekh Hasyim Asyári jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan menyatakan,cinta tanah air sebagian dari iman. Siapa yang tidak mencintai tanah airnya maka belum sempurna imannya. Inilah prinsip jalan tengah Aswaja dalam menyikapi persoalan kebangsaan. Al-Quran secara jelas mengatakan: “sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal (berinteraksi)”.

***

Alhasil, Aswaja bukan hanya sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan hidup (way of life) seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang majemuk dan dinamis. Aswaja adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seorang muslim penganut Aswaja mampu hidup dan menyesuaikan diri serta dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman masyarakat di manapun mereka hidup. Wallahua’lam

Timur Jakarta, 882016





Penulis adalah Sekretaris PC GP Ansor Jakarta Timur dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Nahdlatul, Doa Bupati Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Lomba Gerak Jalan Cepat 8 Km, IPNU Rembang Kenalkan CBP

Rembang, Bupati Tegal - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Rembang untuk mengenalkan Corp Brigade Pembangunan (CBP) pada even lomba gerak jalan cepat 8 Km yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang, Ahad (28/8) pagi. Pihak IPNU Rembang menurunkan CBP sebagai peserta lomba gerak jalan sambil meneriakan yel-yel mereka.

Corps Brigade Pembangunan merupakan suatu lembaga yang dibentuk IPNU dalam satu komando untuk mengawal pembangunan.

Lomba Gerak Jalan Cepat 8 Km, IPNU Rembang Kenalkan CBP (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Gerak Jalan Cepat 8 Km, IPNU Rembang Kenalkan CBP (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Gerak Jalan Cepat 8 Km, IPNU Rembang Kenalkan CBP

Ketua IPNU Rembang Ahmad Humam saat ditemui media seusai lomba sangat mengapresiasi grup CBP Rembang. Sebab, dengan beberapa yel-yel kelompok CBP IPNU Rembang tampak semangat menyusuri jalan.

Meskipun dalam kegiatan tersebut grup gerak jalan cepat CBP belum menorehkan prestasinya, "Yang terpenting bukan menang kalahnya, tetapi tujuan utamanya ikut lomba ini adalah bagaimana CBP bisa dikenal oleh masyarakat luas," jelasnya.

Bupati Tegal

Menurut Humam, agenda lomba ini sangat stragis untuk menjaring kader-kader CBP. Sebab, dalam waktu dekat ini IPNU Rembang juga akan mengadakan Diklatama CBP dan KPP. Acara ini bertujuan membentuk pasukan khusus CBP dan KPP di Rembang.

Bupati Tegal

Lomba ini diikuti semua jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan organisasi kepemudaan di Rembang. Rute gerak jalan cepat dimulai dari Jalan Dr Soetomo (Depan Rumah Dinas Wabup Rembang) menyusuri Jalan Wahidin-KS Tubun-Ketanggi-Jalan Pemuda dengan titik akhir di Jalan Dr Soetomo. Total jarak yang ditempuh sekitar delapan kilometer.

Sementara itu, pemenang lomba gerak jalan cepat masing-masing Juara I dari KONI Rembang, Juara II dari SMK Muhammadiyah Rembang dan juara III dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Hadiah diberikan langsung oleh Bupati Rembang H Abdul Khafidz didampingi Wakil Bupati Bayu Andriyanto setelah acara digelar. (M Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Ulama, RMI NU Bupati Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Jakarta, Bupati Tegal,
Put Muinah, mantan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Blitar, Jawa Timur berharap, seluruh luka sejarah bisa dikubur hingga para bekas aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk sayap wanitanya, Gerwani, diterima masyarakat secara wajar. Nenek 14 cucu dan lima cicit ini tak ingin stempel buruk bekas simpatisan PKI itu dipikul turun-temurun oleh anak-cucu yang tak berdosa. Yang sudah, ya, sudah. Mari kita mulai jalan bareng, katanya.

Di Hotel Minak Jinggo, Glenmor, pada hari Jum’at 25 April 2003 digelar Workshop dan Stadium General Menguak Tragedi 1965-1966 dan Menggagas Rekonsiliasi di Akar Rumput. Tampak hadir beberapa tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI setempat, dua organisasi yang pernah baku bunuh pada 1960-an. Acara itu dimaksudkan sebagai langkah awal rekonsiliasi di antara mereka.

Dari unsur NU, ada Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Banyuwangi, KH Masykur Ali, Rais Syuriyah KH Hisjam Sjafaat, dan Ketua Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Banyuwangi, Mukhlisin. Dari kalangan PKI, selain Put Muinah, tampak bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI) Banyuwangi Mohammad Arief, 75 tahun, serta aktivis BTI Blitar, Sukiman, 65 tahun.

Acara dua hari itu difasilitasi Masyarakat Santri untuk Kajian dan Advokasi Rakyat (Syarikat) Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dikelola anak-anak muda NU, berkantor di Yogyakarta. Memasuki hari kedua, peserta workshop menghasilkan empat butir kesepahaman. Di antaranya mengajak semua elemen masyarakat mewujudkan rekonsiliasi.

Pada butir lain, mereka mendesak negara menghentikan politisasi tragedi 1965-1966 dengan membiarkan bergulirnya beragam versi atas peristiwa itu, dan merevisi kurikulum sekolah tentang tragedi ini.

Pelaksana Program Syarikat Indonesia, Saiful Huda Sodiq, berharap acara tersebut menjadi titik awal demokratisasi lewat rekonsiliasi masyarakat akar rumput. Saya melihat NU sangat representatif mewakili masyarakat luas, karena ormas ini paling banyak bersinggungan dengan PKI, katanya. Muinah mendukung. Orang PKI, katanya, cuma korban politisasi sejarah.

Pembantaian PKI adalah imbas rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu, kata. Saiful Huda Sodiq. Akibatnya, anak-cucu bekas anggota PKI sulit bersosialisasi. Saya ingin rekonsiliasi di tingkat akar rumput ini bisa mengakhiri dendam, katanya.

Mantan anggota BTI Banyuwangi, Mohammad Arief, senang dengan rintisan ishlah ini. Saya berterima kasih kepada NU yang mau menjadi pionir, katanya. Meski NU tidak bisa dianggap bersalah begitu saja dalam tragedi 1965, Mukhlisin menilai upaya ini bisa menjadi titik awal yang baik.

Acara Yang Sama di Gelar di Kota Cirebon
Tak hanya di Banyuwangi, pada hari yang sama, Syarikat Indonesia, didukung The Asia Foundation, menggelar acara serupa di Cirebon, Jawa Barat. Mereka bekerja sama dengan Fahmina, LSM dari Cirebon. Kota ini dipilih karena ketegangan NU dan PKI yang skalanya paling besar se-Jawa Barat, ya, di sini, kata Marzuki Wahid, anggota Badan Pelaksana Syarikat Indonesia.

Acara Tasyakur dan Silaturahmi untuk Kebersamaan dan Persaudaraan itu berlangsung di Kantor Cabang NU Cirebon. Tampak hadir belasan mantan tahanan politik (tapol) peristiwa G-30-S. Mereka umumnya alumni Pulau Buru. Juga hadir tokoh nonmuslim Cirebon. Ada Pendeta Supriatno, Pendeta Yohanes Muryadi, dan Pendeta Sugeng Daryadi.

Awalnya pertemuan berjalan kaku. Para eks tapol lebih suka diam menyimak uraian Direktur Fahmina, KH Husein Muhammad, dan Marzuki Wahid. Maklum, mereka umumnya sudah sepuh. Setelah Marzuki menjelaskan bahwa forum itu bermaksud mencari kebenaran tragedi 1965, mereka baru bersemangat.

Dalam pengantarnya, Husein menjelaskan, pihaknya sengaja mengundang para eks tragedi 1965 sebagai upaya silaturahmi antar-sesama manusia. Mudah-mudahan ada rekonsiliasi kultural di antara kita, katanya. Gagasan ini didasari harapan tragedi kemanusiaan itu tak terulang.

Bagi panitia, tak mudah mengumpulkan para bekas tapol itu. Dari puluhan yang diundang, bahkan didatangi, cuma belasan yang bersedia hadir. Meski ada yang antusias, banyak yang masih skeptis, kata Ipah Jahrotunasipah, aktivis Fahmina. Ini diakui Untung Raden, mantan tapol yang kini tinggal di Losari. Jangankan kepada orang baru, kepada sesama bekas tahanan pun masih banyak yang ragu, kata Untung.

Pertemuan itu pun berakhir tanpa kesimpulan. Juga tak ada sikap bersama seperti di Banyuwangi. Fahmina masih mencari formula lain untuk langkah berikutnya. Sebagai permulaan, kami anggap acara ini cukup berhasil, kata Husein. Paling tidak, para mantan tapol Cirebon sudah mau membuka diri.

Sebagian eks tapol yang hadir berharap, acara itu ditindaklanjuti dengan langkah kongkret. Pasalnya, ada yang merasa hanya korban dan sampai kini tak tahu kDari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Doa, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Kamis, 14 Desember 2017

Membangun Strategi Gerakan Ayo Mondok

Jakarta, Bupati Tegal

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan bahwa RMI akan menyelenggarakan Silaturrahmi Nasional (Silatnas) Gerakan Ayo Mondok pada 13-15 Mei di Gedung Candra Wilwatikta, Pasuruan.

Membangun Strategi Gerakan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Strategi Gerakan Ayo Mondok (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Strategi Gerakan Ayo Mondok

“Silatnas akan mulai diselenggarakan mulai hari Jum’at tanggal 13 Mei sampai tanggal 15 (Mei) hari Ahad,” jelas Gus Rozin kepada Bupati Tegal di Jakarta, Selasa, (10/5).

Gus Rozin menerangkan bahwa pada silatnas kali ini bukan hanya ajang untuk mempromosikan gerakan Ayo Mondok saja, tapi juga akan membahas strategi-strategi gerakan Ayo Mondok.

“Bagaimana kemudian gerakan Ayo Mondok selama sepuluh tahun ke depan, itu didisain sedemikian rupa sehingga kemudian menjadi sebuah gerakan yang taktis dan sistematis,” jelas pengasuh pesantren Maslakul Huda Kajen Pati tersebut.

Bupati Tegal

Acara ini, lanjut Guz Rozin, akan dihadiri oleh empat ratus peserta yang terdiri dari para pengasuh pesantren, anak-anak Kiai, dan Lurah-lurah pondok.

“Dan (yang menjadi peserta) juga pihak lain yang berkaitan dengan pesantren seperti PBNU dan lembaga-lembaga lain yang memiliki kaitan erat dengan pesantren,” ungkapnya.

Untuk konsep acara, ia menjelaskan bahwa para peserta silatnas nanti akan dibagi ke dalam enam kelompok grup diskusi.

“Ini tidak ada parade seminar, mungkin ada semacam keynote speaker yang tugasnya membuat insight pesantren,” jelas laki-laki yang juga Direktur Institut Pesantren Mathali’ul Falah tersebut.

Bupati Tegal

“Ada enam focus group discussion yang temanya spesifik mengenai pengembangan pesantren. Dari enam itu, lima khusus untuk penguatan internal pesantren dan satu untuk eksternalnya,” lanjutnya.

Rencananya, silatnas ini akan dihadiri oleh Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pahlawan, Doa, Kyai Bupati Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa

Banjarmasin,Bupati Tegal . Ranting sebagai ujung tombak NU di desa dalam garis struktural berada dalam posisi terbawah. Namun justru di situlah basis massa kekuatan NU berkedudukan. Legitimasi kebesaran NU berangkat dari amaliyah Aswaja yang dipraktikkan warga nahdliyin di desa (kelurahan) ini, seperti yasinan, tahlilan, sholawatan, dan seterusnya. 

Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam: Ruh NU ada di Desa-desa

Di Kalimantan Selatan, semisal di Banjarmasin, meski amaliyah warganya mayoritas adalah NU, tapi mereka jarang bahkan tidak pernah bersentuhan dengan pengurus Ranting di desanya masing-masing. 

Secara struktural, pengurus NU di tingkat desa/kelurahan adalah pengurus ranting. “Karena itu, kami tertarik dengan Pelatihan Penggerak Ranting yang digagas oleh PP Lakpesdam ini yang secara khusus ingin menggerakkan pengurus ranting,” ujar Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Kalimantan Selatan Syarbani Haira.

Bupati Tegal

PWNU Kalsel menunjuk PW Lakpesdam NU agar bekerja sama dengan PP Lakpesdam NU untuk menggerakkan pengurus-pengurus ranting se-Kalimantan Selatan. Pada tanggal 13-15 Maret, pelatihan tersebut telah digelar dengan menghadirkan fasilitator dan narasumber dari PP Lakpesdam dan alumni Kader NU asal Kalsel yang bertempat di Gedung Dakwah NU Kalsel.

Bupati Tegal

“Pelatihan ini diikuti sebanyak 30 orang yang terdiri atas pengurus ranting dan aktivis NU di desa dan berusia di bawah 40 tahun. Sebagian dari peserta merupakan intelektual muda NU yang sudah menyelesaikan pendidikan SLTA, S1 dan S2 sehingga diharapkan tenaga mereka untuk berperan besar di ranting,” ujar Sudirwo dalam Laporan Ketua PW Lakpesdam NU Kalsel.

Pada kesempatan tersebut, Ketua PP Lakpesdam NU Yahya Ma’shum mengatakan, ranting-ranting NU di tingkat desa maupun kelurahan harus digerakkan. Karena, tanpa gerakan warga nahdliyin di level ranting, kebesaran jamiyah NU akan terasa kurang sempurna. 

“Ruh NU adalah aktivitas atau gerakan warga NU yang ada di desa-desa itu,” tandasnya. Untuk itu, pelatihan penggerak ranting ini dimaksudkan untuk membuat model-model gerakan NU di tingkat ranting dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia di desa.

Apalagi, dengan adanya Undang-Undang Desa, pengurus ranting NU dan warga Nahdliyin saat ini harus lebih berperan aktif dalam kebijakan desa, mengawal pemerintahan desa, dan juga berkontribusi dalam mengelola sumberdaya di desa. 

“Apa jadinya jika pengurus ranting tidak aktif, sumberdaya desa akan dikelola oleh orang lain, dan warga NU akan jadi penonton saja?” pungkas Yahya. Pada akhir pelatihan, para aktivis ranting ini bersepakat untuk membuat berbagai model gerakan yang akan dilaksanakan di desa/kelurahan, antara lain: model gerakan lailatul ijtima, advokasi kebijakan desa, pengembangan pendidikan melalui sekolah terbuka, pengembangan ekonomi melalui BMT, dan gerakan kampung media. (Abd.U- Sud/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Rabu, 29 November 2017

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Jakarta, Bupati Tegal. Setelah sidang itsbat, alunan takbir menggema bersama iringan terbangan hingga jam 10 malam di halaman sekretariat PCINU Sudan. Kumandang takbir sebanyak 112 warga NU di Sudan menjadi penanda bahagia mereka menyambut Hari Raya Idul Fithri 1436 H.

Jum’at (17/7) pagi, hari kemenangan pun tiba. Mereka tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan di hari yang fitrah itu. Mereka berkumpul di aula wisma PCINU Sudan. Acara open house lalu dibuka setelah pelaksanaan shalat sunah Idul Fithri di wisma duta besar Republik Indonesia untuk Sudan dan Eritrea.

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Hari Raya Idul Fithri 1436 H di Sudan

Menurut H Lian Fuad, organisasi yang paling tampak, aktif, dan ramai dari dulu sampai sekarang di Sudan tidak lain dan tidak bukan hanya PCINU Sudan.

Bupati Tegal

“Ini merupakan nilai plus. Saya harap hal ini masih tetap bertahan seterusnya,” kata Dubes RI untuk Sudan.

Selama Ramadhan, PCINU cukup aktif mengadakan pelbagai kegiatan. Mereka membuka pengajian Risalah Ahlussunnah di sekretariat PCINU Sudan. Mereka juga menyelenggarakan tadarus Al-Qur’an setiap usai shalat Tarawih.

Bupati Tegal

Mereka mengakhiri Ramadhan dengan khataman akbar Al-Quran sesaat sebelum berbuka di malam hari raya Idul Fithri 1436 H. Mereka lalu menutup Ramadhan dengan buka puasa bersama. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Ahlussunnah, Meme Islam Bupati Tegal

Senin, 27 November 2017

Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan

Yogyakarta, Bupati Tegal. KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus menegaskan bahwa di balik laki-laki yang hebat selalu ada perempuan yang hebat. Karena itu, sudah sepantasnya perempuan mendapat penghormatan yang layak atas peranannya tersebut.

Pejabat Rais Aam PBNU ini menyampaikan hal itu saat memberikan taushiyah pada peringatan haul Hj. Hasyimah Munawwir (istri KH. Ali Maksum) yang digelar Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta di lapangan umum Al-Munawwir, Yogyakarta, Jumat (29/8).

Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Tidak Ada Lelaki Hebat Tanpa Peran Perempuan

"Hanya orang yang memuliakan perempuanlah orang yang terhormat itu, hanya orang kurang ajarlah yang menghina perempuan itu. Tidak ada laki-laki hebat tanpa peranan perempuan," ucap Gus Mus.

Bupati Tegal

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang, Jawa Tengah, ini mengatakan, ketika mendapatkan mandat sebagai rasul, Nabi Muhammad meminta diselimuti oleh sang istri, Khadijah. Sebab, saat itu Nabi baru saja berjumpa sosok yang luar biasa (malaikat Jibril) dan terkejut dengan situasi yang dialaminya. Dalam kondisi ini, lanjut Gus Mus, Siti Khodijah lah yang menghibur dan membesarkan hati Nabi.

Hadir pula dalam peringatan haul tersebut Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, KH Habibullah, KH Haidar Idris, pengurus PWNU setempat, dan para kiai dan pengurus Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Bupati Tegal

Tak ketinggalan, ribuan jamaah shalawat dari berbagai penjuru Yogyakarta juga turut meramaikan acara ini, termasuk ibu-ibu jamaah Ahbabul Mustofa jamaah yang di kelola KH. Rifqi Ali (putra Hj Hasyimah) yang kerap disapa Gus Kelik.

Acara tersebut berlangsung dengan lancar, shalawatan bergema ke seluruh pelosok lorong-lorong pondok dengan diikuti para jamaah yang hadir. (Ahmad Syaefudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Warta, Doa Bupati Tegal

Sabtu, 25 November 2017

Maulid Nabi, Wujud Penghargaan Sejarah

Jakarta, Bupati Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin berpendapat, peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW atau lebih dikenal maulid Nabi termasuk kegiatan positif yang layak dilestarikan. Maulid Nabi merupakan bukti kecintaan dan penghargaan umat Islam atas sejarah rasul terakhir ini.

Maulid Nabi, Wujud Penghargaan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, Wujud Penghargaan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, Wujud Penghargaan Sejarah

Kiai Ishom mempertanyakan celaan sebagian kelompok yang menuduh peringatan maulid Nabi keluar dari ajaran Nabi sendiri. Dalam pandangan kelompok pengkritik, Nabi, shahabat, dan tabi’in, tidak pernah sama sekali melakukan kegiatan semacam ini.

”Seolah-olah Nabi tidak menghargai peristiwa-peristiwa masa lalu. Padahal, tidak mungkin secara logika Nabi tidak menghargai sejarah,” ujarnya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bupati Tegal

Menurut Kiai Ishom, Rasulullah termasuk orang yang sangat menghargai sejarah nabi-nabi terdaulu. Teladan ini seperti ditunjukkan ketika Rasulullah menjumpai umat Yahudi berpuasa untuk mensyukuri keselamatan Nabi Musa dan para pengikutinya, serta tenggelamnya fir’aun dan bala tentaranya.?

Bupati Tegal

”Nahnu awla bi musa minhum. Kita (umat Islam) lebih berhak atas Nabi Musa daripada mereka (kaum Yahudi),” ujarnya menirukan sabda Nabi kepada sahabatnya sebagaimana termaktub dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Selain maulid Nabi, demikian Kiai Ishom, perayaan juga sah dilaksanakan untuk memperingati peristiwa isra’ dan mi’raj, tahun baru hijriyah, dan nisfu sya’ban. Umat Islam mesti menghormati sejarah baik dalam bentuk ibadah maupun ekspresi kebudayaan.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Santri, Doa Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis

Jombang, Bupati Tegal. KH Salahuddin Wahid yang lazim disapa Gus Solah mengatakan KH MA Sahal Mahfudh atau Mbah Sahal merupakan sosok yang menjaga NU dari infiltrasi politik. Sikapnya yang demikian sejalur dengan posisinya sebagai Rais Aam PBNU.

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sahal Penjaga NU dari Politik Praktis

“Kiai Sahal merupakan ulama besar yang dimiliki NU. Kondisi itu semakin klop dengan posisinya sebagai Rais Aam PBNU,” terang Gus Solah yang kini mengasuh pesantren Tebuireng Jombang, Jumat (24/1).

Karenanya, fikih sosial dan petuah kiai asal Jawa Tengah ini selalu ditunggu umat. Yang lebih mengesankan lagi, menurut Gus Solah, selama ini Mbah Sahal merupakan ulama yang sangat kukuh menjaga NU dalam trek Khittah NU 1926.

Bupati Tegal

Mbah Sahal tidak ingin NU terseret ke wilayah politik praktis. Hal itu pula yang terus dijaga Kiai Sahal hingga akhir hayat, kata Gus Solah.

Kendati demikian, Mbah Sahal pernah kecolongan di tahun-tahun silam saat ia memegang amanah sebagai Rais Aam PBNU. Pada tahun itu NU secara tidak langsung terseret ke wilayah politik praktis. Bahkan Kiai Hasyim Mudzadi sebagai Ketua Umum PBNU maju sebagai cawapres mendampingi Megawati Soekarno Putri.

Bupati Tegal

Meskipun tidak berkenan, Mbah Sahal waktu itu kurang bisa mencegah langkah Pak Hasyim. “Makanya ke depan hal-hal seperti itu tidak boleh terjadi lagi," kenang Gus Solah. ? (Saiful/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaSantri, Doa Bupati Tegal

Rabu, 15 November 2017

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah

Jakarta, Bupati Tegal. Berbagai upaya dilakukan PBNU untuk “meluruskan” beberapa aliran agama yang selama ini dianggap sesat oleh masyarakat. Setelah beberapa waktu lalu berhasil mentaubatkan lagi “nabi” Musaddeq, Ketua PBNU KH Said Agil Siradj melakukan dialog dengan pengikut Ahmadiyah.

“Sudah ada beberapa titik temu, kita mendorong agar Ahmadiyah memakai ajaran Lahore, bukan Qadiyan atau paling tidak Qadiyah tidak berkembang,” katanya seusai dialog yang difasilitasi Litbang Depag di Kantor pusat Depag, Kamis (28/11).

Dijelaskannya, terdapat perbedaan yang mendasar antara Ahmadiyah aliran Qadiyan dan Lahore. Ahmadiyah Lahore tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, namun hanya pembaharu Islam.

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah

Demikian pula, kitabnya At Tadzkirah bukannya wahyu, tetapi hanya kitab yang ditulis berdasarkan ilham seperti yang didapat oleh ulama lainnya layaknya Syeikh Abdul Qadir Jailani atau Ibnu Arabi.

Dikatakannya perpecahan antara Ahmadiyah Qodiyan dan Lahore ini tak lepas dari perkembangan dan dinamika umat Islam di masa tersebut seperti pemikiran Iqbal dan Jinnah dan adanya upaya pembebasan Pakistan yang mayoritas muslim dari penjajahan Inggris.

Ahmadiyah yang ada di Lahore berusaha melakukan pembenahan dalam beberapa keyakinannya agar mereka tidak menyimpang terhadap Islam. Mereka juga masih mempercayai adanya rukun Islam dan rukun Iman sebagai ajaran pokok Islam.

Bupati Tegal

Sementara itu, Ahmadiyah Qadiyan yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi memang dimanfaatkan oleh Inggris untuk memecah belah ummat.

Bupati Tegal

Diskusi dengan Ahmadiyah ini akan dilanjutkan sekali lagi dengan harapan semakin banyak titik temu yang dihasilkan dari kedua belah fihak. “Metode dialog seperti inilah yang akan kita gunakan untuk menghadapi aliran yang dianggap sesat,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, AlaNu, Fragmen Bupati Tegal

Senin, 13 November 2017

PBNU Pastikan Acara Pembukaan Siap

Jombang, Bupati Tegal. Ketua Umum PBNU, Said Agil Siroj memastikan muktamar yang akan dibuka oleh presiden Jokowi, siap digelar. Untuk itu, PBNU melakukan gladi bersih di lokasi pembukaan alun alun yang akan diringi 1000 paduan suara.

PBNU Pastikan Acara Pembukaan Siap (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Pastikan Acara Pembukaan Siap (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Pastikan Acara Pembukaan Siap

Bersama Ketua Umum PBNU Said Agil Siraj, Yenny Wahid, Ketua SC Muktamar ke-33 NU Slamet Efendy Yusuf, Ketua Panitia Daerah Syaifullah Yusuf, dan Bupati Jombang Nyono Suharli.?

Mereka melihat langsung gladi bersih di alun alun Jombang, Jumat (31/7) sore. Rombongan PBNU ini melihat langsung gladi bersih paduan suara dari Fatayat NU Jombang bersama pelajar–pelajar pesantren.?

Bupati Tegal

"Paduan suara pembukaan Muktamar ke-33 NU diikuti sebanyak 1000 orang," ujar Ketua Panitia Daerah Syaifullah Yusuf.

Bupati Tegal

Dalam kesempatan gladi bersih pembukaan, Yenny juga memberikan support kepada paduan suara Fatayat NU yang dipimpin Neng Ely Cucu Pendiri NU, KH Wahab Hasbullah.

Rombongan PBNU juga melihat lokasi pembukaan muktamar yang berada di selatan alun alun. Muktamar akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo.?

"Alhamdulillah semuanya sudah siap, "ujar Syaifullah Yusuf.

Usai gladi bersih, rombongan PBNU melakukan konferensi pers, terkait NU 5 tahun setelah ditinggal Gus Dur. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Anti Hoax, Meme Islam, Doa Bupati Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Bupati Tegal. Lapangan Triguna di samping UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipadati kaum muslimin. Spanduk-spanduk bertajuk shalawat dan Majelis Rasulullah bertebaran di sekitar area kampus. Malam itu Tabligh Akbar “UIN Jakarta Bershalawat dan Santunan Anak Yatim” diselenggarakan CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta dan Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN, bekerja sama dengan Majelis Rasulullah SAW.

Menurut Widya Prayoga selaku perwakilan panitia penyelenggara dari CSSMoRA, acara yang berlangsung Jumat (25/03) tersebut merupakan bentuk silaturrahim komunitas penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI kepada mahasiswa UIN Jakarta serta kepada khalayak luas.

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

“Semoga lewat acara UIN Bershalawat ini kita juga bisa menjalin perdamaian dan persaudaraan, serta mengambil hikmah dari Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi nama universitas kita ini,” ujar Widya.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Rektor UIN Jakarta, yang diwakili oleh Kepala Subbagian Administrasi dan Alumni, Rohmatullah. Selain menyampaikan amanat Rektor, Rohmatullah juga mengulas sejarah Syarif Hidayatullah sebagai cikal bakal nama institusi UIN yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan itu.

“Syarif Hidayatullah, yang juga dikenal dengan Sunan Gunung Jati ini merupakan seorang pemimpin yang memiliki peran penting dalam perkembangan daerah Jakarta, yang waktu itu masih bernama Jayakarta. Karena hubungan itulah, Syarif Hidayatullah terpilih menjadi nama universitas ini,” terangnya.

Bupati Tegal

Jamaah tampak khidmat menyimak dan melantunkan Simthud Duror bersama pemimpin majelis. Di panggung hadir Kapolsek Ciputat, Ketua PCNU Tangerang Selatan H Muhammad Tohir, serta pejabat dari Kelurahan Cempaka Putih. Tausiyah dan doa diisi oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Al Habsyi, dan acara ditutup dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada anak yatim oleh Bapak Rohmatullah.

CSSMoRA adalah organisasi berbasis pesantren yang berusaha turut melestarikan budaya Islam di Indonesia, dan berorientasi untuk pengembangan dunia pesantren. Organisasi ini beranggotakan penerima beasiswa santri dari Kemenag RI, dan tersebar di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. (Red: Mahbib)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Internasional, Doa, Makam Bupati Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

KH Athoillah, Birokrat yang Teguh Ber-NU

Brebes, Bupati Tegal. Sosoknya begitu lembut meskipun tegas dalam pengambilan suatu keputusan. Termasuk ketika penulis berbincang di ruang Asisten Sekda bidang Pemerintahan Pemkab Brebes, Selasa (4/10). Dia tampak begitu santai dengan perbincangan yang lembut. Ketegasannya, dia tunjukan dengan menjawab secara sigap semua pertanyaan yang dilontarkan penulis.

KH Athoillah, Birokrat yang Teguh Ber-NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Athoillah, Birokrat yang Teguh Ber-NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Athoillah, Birokrat yang Teguh Ber-NU

Sosok Kiai Athoillah menjadi representasi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Brebes. Karena terbukti, sumbangsihnya dalam merawat NU selama tiga periode menjadi Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Brebes cukup berhasil.

Kesederhanaan lelaki kelahiran Larangan, 19 Desember 1959 ini terlihat sejak kecil, seperti senang tidur di Masjid Dukuh Lamaran, Desa Sitanggal Larangan Brebes. Dengan tidur di masjid, katanya, tidak pernah ketinggalan sholat subuh. Juga ada berbagai perbincangan seputar dunia Islam yang kerap terlontar dari teman-teman kecilnya, sehingga terpatri semangatnya untuk membumikan Islam di daerahnya.?

Atho kecil, mengaku harus membanting tulang setelah ditinggal Sang Ayah KH Syatori Marlan pada usia 10 tahun. Namun dia tidak cengeng, terbukti dia membantu Sang Ibu Hj Fatimah terjun ke sawah ikut derep (panen padi), ketika kakek atau sedulurnya panen. Dari hasil derep tadi, uangnya ia tabung lalu dibelikan cempe (anak kambing) yang kemudian dia titipkan ke orang lain. “Hasilnya lumayan, bisa buat bayar uang sekolah,” kata Suami Henny Rosdiyati ini.

Bupati Tegal

Kang Atho, demikian panggilan akrabnya, menempuh pendidikan di MI Wihdatussyubban 01 lulus 1972, lalu MTs Assalafiyah Sitanggal lulus 1975, selanjutnya diikhtiarkan dengan mondok di Mayangan Cogoroto Jombang sembari menempuh pendidikan Madrasah Aliyah lulus 1979. Sarjana Manajemen, dia tempuh di STIE Cirebon dan Pascasarjana diselesaikannya di Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon.?

Perpaduan antara Pendidikan Umum dan Nyantri, menolong dirinya dalam aktivitasnya sebagai birokrat dan organisatoris yang ulung. Sehingga karier di bidang kepegawaian tergolong mulus meski harus berebut waktu dengan pengabdiannya dalam manjalankan pengabdian sebagai kader NU.?

Saking padatnya waktu, Athoillah mengatakan kalau hari Minggu dia libur sebagai PNS. Tapi kalau hari Ahad, dia tetap berangkat untuk mengabdi dalam berbagai kegiatan ke-NU-an. “Kalau hari Minggu saya libur, tetapi kalau Ahad saya tetap berangkat mengabdi, ngurusin NU dan Nahdliyin,” ucapnya.?

Mengawali kariernya, Athoillah diangkat sebagai CPNS golongan II/a posisi juru penerang di Kecamatan Kersana pada 1 Maret 1980. Selang enam tahun, dia menduduki eselon Va per 24 Mei 1986 sebagai Kasubsi Monit dan Perpustakaan Kantor Deppen Kab Brebes.?

Bupati Tegal

Dari birokrasi, dia meloncat sebagai anggota DPRD Kab Brebes Fraksi Golkar per 4 Juli 1997 hingga 1999. Pengabdian sebagai anggota Dewan hanya berlangsung 3 tahun karena pergantian kepemimpinan era reformasi. Begitupan dengan Depertemen Penerangan dibubarkan Gus Dur, menjadikan dia kembali ke birokrasi. Hebatnya, dia langsung memangku eselon IV sebagai Kasubag TU Kantor Sosial Kabupaten Brebes (2001).

Kariernya terus melangit dengan menjadi Plt Kabag Agama, sosial, kependudukan, tenaga kerja dan transmigrasi (sosduknakertrans) Setda Brebes (eselon III/a) lalu definitif jadi Kabag agama sosduknakertrans setda dan memangku Kabag Kesra Setda Brebes per 20 Januari 2009. Dari Kabag Kesra kariernya melejit sebagai Asisten Administrasi Umum Setda dan Kepala BKD Brebes dalam eselon IIa.

Saat menjadi Kepala BKD, dia merintis pembangunan Kantor BKD ke bekas SMK Pusponegoro 02. Dengan sarana dan prasarana kantor yang luas, menjadikan pelayanan kepada pegawai makin maksimal.?

Perhelatan pemilihan umum langsung, mengantarkan dia sebagai pendamping calon Bupati Brebes berpasangan dengan H Agung Widiyantoro SH MSi. Tetapi takdir berbicara lain karena kalah dalam kompetisi pesta demokrasi rakyat tersebut, walaupun dia harus mundur dari Kepala BKD Kabupaten Brebes.

“Satu sisi saya bangga, karena NU bisa menempatkan politik kebangsaanya, meskipun NU bukan partai politik tetapi kadernya mendapat kepercayaan sebagai calon wakil bupati,” tuturnya.?

Ayah dari Andi Azis Amin Amrulloh, Alfiana Auliatul Amri dan Ainul Amri Al Anshori ini mengaku, bahwa apapun yang diminta umat dan untuk kepentingan umat, dirinya tetap siap mengabdi. Pasalnya, dirinya tidak pernah mencari jabatan. Termasuk menjadi Calon Wakil Bupati.

“Secara pribadi, saya tidak berminat dipasangkan sebagai calon wakil bupati, tapi karena itu tuntutan umat maka bismillah saya lakoni sebagai calon wakil bupati saat itu,” ungkapnya.?

Konsekuensi nyalon Pilkada, dia mendapatkan ‘getah’ politik dengan tidak mendapatkan jabatan sesuai dengan eselonnya. Athoillah turun eselon dari IIa ke IIIa, dia ditempatkan sebagai Kepala Kantor Kesbangpol, lalu dipindah lagi sebagai Sekretaris Dinparbudpora. Selanjutnya, dia dipercaya sebagai Kepala Kantor Data Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Brebes per 16 Oktober 2015.?

Kegigihan Athoillah dalam meraih kesuksesan karier, dia tunjukan dengan mengikuti Lelang Jabatan untuk jabatan Eselon II di Setda Brebes. “Atas berkat rahmat Allah SWT, saya mendapatkan kepercayaan sebagai Asisten Sekda bidang Pemerintahan, per 30 September 2016,” tuturnya tanpa bermaksud membanggakan diri.

Sebagai Ketua NU tiga periode, Athoillah memiliki konsep yang jelas sehingga mengantarkan NU Brebes sebagai organisasi yang berpegang teguh pada Ahlussunah Wal jamaah dengan prinsip rahmatan lil alamin.?

Ikut NU, Athoillah tidak ujug-ujug tetapi dilakoni mlipir dari tingkatan yang paling rendah sebagai IPNU, Ansor, Lembaga NU, hingga akhirnya menapak mantap di NU. Kadang Atho juga mengatakan, kalau orang NU belum mantap benar berorganisasi di NU, dia katakan bintangnya kurang.

“Dia itu NU, tetapi bintangnya belum genap sembilan, masih delapan,” kata Atho yang kerap menggunakan istilah banyolan ketika mengisi ceramah.?

Mengenal NU, kata Atho, didapatnya dari Sang Ayah yang juga kyai kampung namun getol merawat tradisi NU. Dia makin matang ketika dikirim ke pondok pesantren Darul Ulum di Jombang dengan bergabung di Ikapdar. Jiwa organisasinya sudah melekat, ketika mondok, dalam satu kamar seharusnya diisi dengan 4 orang saja. Tetapi atas perintah kiainya, ditambahlah satu orang lagi yang notabene anak baru tersebut dari keluarga tidak mampu. Maka Atho berinisiatif agar anak tersebut bisa nembol di kamarnya dan tetap mendapatkan jatah makan dan lain-lain meskipun tidak ikut iuran.?

Dari pengalaman mondok, Atho memiliki motto hidup, berkarya lebih berharga daripada gaya. Prestasi lebih berarti dari pada gengsi yang sering dia omongkan ke teman-teman pondoknya.

Sepulang mondok, dia dipercaya menjadi sekretaris Lembaga Pendidikan Maarif PC NU Kabupaten Brebes (1988-1993), lalu didaulat sebagai Ketua LP Maarif NU 1993-1998.?

Saat menjadi Ketua LP Maarif, penggemar Pecel Lele mendapat pengalaman yang tidak terlupakan terutama saat mendirikan MTs Maarif NU 03 Plompong Sirampog. Karena dengan medan yang sulit, maka harus naik ojek dan jalan kaki naik gunung.

“Meski penuh rintangan, yang penting pendidikan NU di Brebes benar-benar maju,” kenangnya.?

Atas kegigihannya, Athoillah berhasil mendirikan 22 sekolah MI/SD, SMP/MTs hingga SLTA mencapai 22 sekolah Maarif NU dalam kurun waktu 1988-1998 se Kabupaten Brebes.

Sebagai Ketua PCNU, Athoillah pada periode 2003-2008 meletakan pondasi organisasi dengan melakukan konsolidasi dari tingkat Ranting hingga Cabang. Naik turun gunung, dia selusuri terus hingga berhasil membentuk Pengurus Ranting (PR) dan Pengurus Anak Ranting (PAR) di 17 Majelis Wakil Cabang (MWC).

“Semula PR yang berdiri ada 250 kemudian berkembang menjadi 352 PR, jumlah ini melebihi jumlah desa yang hanya 297 desa dan kelurahan se Kabupaten Brebes,” tuturnya.

Periode 2009-2014, mampu mendirikan gedung NU yang representatif sebagai pusat kegiatan ditingkat Cabang. “Dengan gedung yang representative kegiatan NU semakin berkembang dan punya kebanggaan sendiri bagi Nahdliyin,” terangnya.

Periode 2014-2019, Athoillah bertekad mendirikan perguruan tinggi NU. Dengan perguruan tinggi ini, diharapkan para kader NU tidak lagi tertinggal dalam dunia pendidikan dan juga bisa menyediakan perguruan tinggi tinggi yang unggul.

“Tanah untuk mendirikan Perguruan Tinggi sudah tersedia, tinggal umpul-umpul lainnya, termasuk menyiapkan SDM dan lain-lainnya,” kata Athoillah.

Sebagai Ketua NU, dia ingin Brebes menjadi lebih baik ditingkat pendidikan, ekonomi dan SDM sehingga mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia pada level 10 besar. Pada muaranya, akan terwujud masyarakat yang sejahtera, agamis dan beraklakul karimah.?

Apa yang dilakoni Athoillah, menurutnya tidak terlepas dari peran istri dan anak-anaknya untuk mencapai sukses. Baginya, istrinya sangat mendukung positif asal untuk kepentingan umat. Maka ketika jarang ketemu dengan keluarga, istri tidak mempersoalkannya. “Prinsip kami, saling percaya dan menjaga kepercayaan itu,” tandasnya.

Itulah Athoillah, lebih dari separoh hidupnya diwakafkan untuk kepentingan organisasi, NU dan Umat. Semoga apa yang diikhtiarkan Athoillah menjadi iktibar generasi muda Brebes. Sebagai motto hidupnya, sebaik-baik orang yang bermanfaat untuk orang lain. (Wasdiun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock