Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak

Sorong, Bupati Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong Papua Barat menggelar workshop yang diikuti Ta’mir Masjid se-Kota dan Kabupaten Sorong, di kantor PCNU setempat, Sabtu (13/9). Kegiatan ini digagas bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong.

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak

Ketua P3M STAIN Sorong, M. Rais Amin menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penguatan kepada pengurus masjid mengenai kekuatan dan potensi infak sehingga diharapkan melalui infak dapat memakmurkan masjid dan berdampak pada lingkungan sekitar.

Kegiatan ini diisi materi oleh Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU KH. Abdul Manan A. Ghani, Wakil Ketua KH Moh. Mansur Syaerozi dan Pembantu Ketua I STAIN Kota Sorong DR. Hamzah Khaeriyah. (Imam Khoirudin/Anam)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih

Jakarta, Bupati Tegal ?

Para redaktur Bupati Tegal melakukan kajian rutin kitab Al-ijtihad an-Nash al-Waqi al-Mashlahah karangan Prof DR Ahmad Raisuni dari Maroko. Pengajian tersebut merupakan agenda rutin mingguan.

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih

Pengajian kitab kuning tersebut diselenggarakan di kantor Redaksi Bupati Tegal lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat setiap Selasa pukul 16.00 WIB.

Menurut salah seorang redaktur Bupati Tegal Alhafiz Kurniawan, kajian mingguan ini digelar untuk menyegarkan kembali pelajaran-pelajaran yang dulu pernah diajarkan sewaktu di pesantren.

Bupati Tegal

“Teman-teman di sini (redaktur Bupati Tegal) masih membutuhkan kajian terhadap tema-tema tertentu,” katanya, Rabu (27/1).

Kitab yang tebalnya 90-an halaman ini berisi tentang metode pengambilan keputusan di dalam hukum Islam (Ushul Fiqih). Misalkan tentang hukum berijtihad, ijma, qiyas, dan bagaimana penerapan teori tersebut pada kasus-kasus riil demi mencari mashlahat tanpa mengabaikan nash atau realitas.

Metode kajian yang dilakukan oleh para redaktur ini bukan sekadar mendengarkan pengkaji, namun ada sesi tanya-jawab dan diskusi. Hal itu menambah suasana menjadi hidup.

Forum kajian ini terlihat santai dan para peserta bisa sambil ngopi. Moderator dengan bebas memfasilitasi para peserta yang berlatarbelakang dari berbagai pesantren dan perguruan tinggi.

Bupati Tegal

“Sebenarnya kegiatan ini merupakan hal yang sudah biasa dilakukan oleh warga NU, sebagaimana biasa disebut bahtsul masail. Dalam bahtsul masail terkandung unsur musyawarah. Dan apabila ada pembahasan yang kurang dipahami dari isi kitab tersebut, maka akan diajukan kepada Rais Syuriyah PBNU,” ? tambah Hafiz.

Kajian kitab selama satu jam ini diikuti oleh sekitar 10 awak redaktur Bupati Tegal. (Izzi Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, AlaNu, Tokoh Bupati Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan mengusir penjajah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia dengan perjuangan yang menguras keringat, darah, dan nyawa. Hembusan angin segar kemerdekaan beberapa kali didapat bangsa Indonesia kala Jepang kalah perang dan menyerah kepada pasukan sekutu.

Namun, bangsa Indonesia, khususnya para kiai pesantren penggerak kemerdekaan seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tidak mau terbuai dengan janji kemerdekaan yang sempat dilontarkan pihak Jepang. Baginya, hal itu menjadi satu bagian diplomasi setelah sekian lama bangsa Indonesia hidup dalam kungkungan penjajahan.

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta anaknya KH Abdul Wahid Hasyim dan para ulama pesantren tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menanamkan cinta tanah air dan spirit nasionalisme yang tinggi. Sebab itu, setelah Kiai Hasyim ditunjuk oleh Jepang untuk memimpin Kantor Jawatan Agama (Shumubu, Kementerian Agama, red)) yang dijalankan oleh Kiai Wahid Hasyim, mereka berupaya mendirikan Kantor Jawatan Agama yang berlokasi di daerah-daerah (Shumuka) yang dipimpin oleh seorang Shumuka-cho.

Visi Kiai Wahid Hasyim tidak lain untuk memperkuat konsolidasi urusan-urusan agama di daerah untuk keperluan perjuangan bangsa Indonesia secara umum. Sebelumnya, Kiai Wahid memang melakukan diplomasi dengan Jepang untuk mendirikan Shumuka meskipun pada awalnya berdiri di Jawa dan Madura.

Setelah potensi umat Islam terbina dengan baik melalui jalur Masyumi, Hizbullah, Shumubu, dan Shumuka, Kiai Wahid Hasyim kembali memusatkan perhatiannya pada janji kemerdekaan yang dipidatokan oleh Perdana Menteri Jepang Kunaiki Koiso pada 7 September 1944. (Choirul Anam, 2010)

Bupati Tegal

Janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini. Sampai pada 3 Oktober 1944, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang juga ketika itu menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944. 

Setelah rapat mempelajari sedalam-dalamnya tentang kemerdekaan Indonesia, maka diputuskan untuk menyampaikan sikap Masyumi kepada bala tentara Jepang sebagai berikut:

Bupati Tegal

a) Menyiapkan umat Islam Indonesia supaya cakap dan cukup menerima kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; b) menggiatkan segenap tenaga umat Islam Indonesia guna mempercepat kemenangan akhir guna menolak tiap-tiap rintangan dan serangan musuh yang dapat mngurungkan datangnya kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; c) berjuang luhur bersama-sama, lebur bersama-sama dengan Dai Nippon di dalam jalan Allah untuk membinasakan musuh yang dzalim; d) menyampaikan keputusan tersebut pada: 1) Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon; dan 2) rakyat (umat Islam) Indonesia.

Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso. Adapun balasan kawat tindasan sebagai ucapan terima kasih dari KH Hasyim Asy’ari adalah sebagai berikut:

Muhammad Al-Amin Al-Husaini Jerman dengan antara Perdana Menteri Kunaiki Koiso di Tokyo atas perhatian tuan dan seluruh alam Islami tentang janji Indonesia merdeka koma Majelis Syuro Muslimin Indonesia koma atas nama kaum Muslimin se-Indonesia koma menyatakan terima kash titik.





Asyukru walhamdulillah





Guna kepentingan Islam lebih perhebatkan perjuangan koma disamping Dai Nippon sampai kemenangan akhir tercapai koma moga-moga pula perjuangan tuan untuk kemerdekaan negeri Palestina dan negeri-negeri Arab lainnya tercapai titik





Majelis Syura Muslimin Indonesia





Hasyim Asy’ari

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, AlaNu Bupati Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Jakarta, Bupati Tegal?

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiul Awwal diperingati umat Islam Indonesia dan di negara-negara lain. Istilah kegiatan tersebut, sebagian orang menyebutnya “maulid”. Sebagian lagi “maulud”. Maulid nabi atau maulud nabi? Mana yang benar?

“Dua-duanya benar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu malam (3/12).?

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Menurut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, berarti yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud berarti isim maf’ul. Dengan demikian yang diperingati, dimuliakan adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.?

“Dua-duanya boleh,” ungkapnya lagi.?

Sampai berita ini ditulis ceramah Kiai Said masih berlangsung di hadapan hadirin yang memenuhi halaman dan masjid An-Nahdlah. Hadir pada kesempatan tersebut Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman, Katib Syuriyah KH Nurul Yaqin Ishaq danH Sa’dullah Affandy, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh dan H Andi Najmi, Ketua LD PBNU KH Maman Imanul Haq Faqih, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Nahdlatul, Ubudiyah Bupati Tegal

Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Jakarta, Bupati Tegal. Direktur Eksekutif The Wahid Foundation Yenny Wahid menerangkan, faktor kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal bukanlah faktor-faktor yang berhubungan langsung dan menyebabkan orang untuk melakukan radikalisme.

“Ternyata tidak sama sekali. Contoh paling gampang Bachrun Naim. Orang Indonesia dan sekarang di ISIS. S2 nya di UI. Pendidikannya tinggi juga berasal dari kelompok berada karena keluarganya adalah saudagar batik di Solo,” ungkap Yenny saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Setelah melakukan penelitian ia menemukan ada tiga faktor yang berhubungan langsung dan mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan radikalisme. Pertama, faktor teralienasi. Yang dimaksud dengan teralienasi adalah ketika seseorang melihat ada ketidakadilan di sekelilingnya dan harus dilawan atau ia terkucil dari lingkungannya.

 

Ini yang bisa membuat orang untuk berbuat radikal. Menurutnya, yang paling rentan terkeda virus radikalisme adalah seorang laki-laki muda karena mereka sedang mencari jatidiiri dan identitas diri. 

Bupati Tegal

“Orang lak-laki muda lebih rentan teradikalisasi,” tuturnya.

 

Kedua, banyak mengonsumsi pesan-pesan kebencian. Orang yang sering terpapar pesan-pesan kebencian, maka ia akan rentan untuk melakukan gerakan-geralam radikalisme.

“Semakin sering ia terpapar dengan khutbah, dengan tulisan yang isinya kebencian aja, kafirin-kafirin orang aja, jauh lebih mudah teradikalisasi,” jelasnya.

Bupati Tegal

Ketiga, imbuh Yenny, pemahaman tentang jihad yang keliru. Baginya, orang yang memahami tentang konsep jinayah secara literal, maka mereka juga rentan teradikalisasi.

Seperti orang yang memiliki pemahaman tentang hukum kriminal yang harus disamakan dengan hukuman yang ada pada zaman dahulu seperti kalau mencuri, maka harus dipotong tangan dan kalau berzina, maka harus dirajam.

“Pun juga kalau dia berpikir jihad itu harus dimaknai berperang, bukan menahan nafsu dan diri sendiri. Itu jauh lebih mudah teradikalisasi,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Makam Bupati Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional

Jakarta, Bupati Tegal

Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan draf Keputusan Presiden terkait pendirian Universitas Islam Internasional di Indonesia.

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional

"Kami baru saja melakukan rapat koordinasi dengan Wapres Jusuf Kalla, yang intinya kita ingin mempersiapkan adanya perguruan tinggi Islam bertaraf dunia di Indonesia," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Rabu.

Rapat koordinasi yang dipimpin Wapres tersebut juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komarudin Hidayat.

Bupati Tegal

Pendirian universitas Islam bertaraf internasional itu dimaksudkan untuk memperkenalkan peradaban Islam di Indonesia ke dunia internasional.

"Memang sudah sejak lama kita mempersiapkan ini, dan nantinya universitas itu tidak hanya mendalami studi keislaman tetapi sekaligus memberikan kontribusi positif dalam penataan peradaban dunia," jelas Lukman.

Bupati Tegal

Komarudin Hidayat menambahkan keberadaan universitas tersebut nantinya dapat menjadi pusat penelitian bagi ilmu keislaman dengan melibatkan akademisi dari Indonesia dan luar negeri.

"Selama ini kita membaca Indonesia lewat tulisan orang asing, padahal banyak doktor asing melakukan riset di Indonesia. Oleh karena itu, sekarang kita menjadikan Indonesia sebagai kiblat studi," jelas Komarudin.

Pemerintah menargetkan perguruan tinggi tersebut dapat mulai beroperasi paling cepat tiga tahun mendatang, dengan target awal mahasiswa sebanyak 2.000 orang.

Perguruan tinggi tersebut hanya untuk program pascasarjana dan pusat penelitian Islam, sekaligus terdapat apartemen untuk dosen serta asrama mahasiswa. Sementara lokasi kampus akan dibangun di kawasan pinggiran Jakarta. (Antara/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Quote, AlaNu Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo

Oleh Ubaidillah Achmad



Sehubungan dengan tema ini, karena terinspirasi pesan seorang guru yang berpesan kepada penulis. Dalam pesan ini berisi, agar menjaga pesan Nabi Muhammad, berisi: betapa banyak orang yang membaca Al Quran, sementara itu Al Quran telah melaknatnya. Bagi kebanyakan pembaca memahami teks hadis ini dikaitkan dengan tata cara membaca Al Quran, seperti bacaan tajwid dan makharijul huruf. Selama ini belum ada yang mengaitkan teks hadis ini dengan model menginternalisasikan nilai dan membentuk kesadaran teks kewahyuan pada sikap dan perilaku subjek yang hendak berupaya dekat dengan Allah.

Secara akademis, pembaca teks kewahyuan tidak mudah mengartikan teks Al Quran. Yang bisa secara langsung dan valid memahami maksud makna kewahyuan dari teks Al Quran, adalah Allah sendiri. Karenanya, banyak model penafsiran yang berbeda beda antara Ulama yang satu dengan Ulama yang lainnya. Perbedaan ini sering menjadi sumber diskursus di kalangan umat Islam. Dalam konteks mengukur kebenaran, telah menimbulkan dua sikap keberagamaan: pertama, sikap konfrontatif terhadap perbedaan penafsiran. Kedua, sikap merayakan perbedaan terhadap penafsiran teks kewahyuan.

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo

Oleh karena itu, dalam upaya meminimalisir dua sikap ini, sebaiknya para pembaca tidak mengambil posisi di antara dua perbedaan. Selain itu, ada keputusan fundamental tentang teks kewahyuan, yaitu Allah sebagai sumber muthlak kebenaran. Dengan demikian, yang lainnya, adalah berupaya memperkirakan kebenaran teks kewahyuan. Model pembacaan yang paling dekat, adalah dengan memasuki kawasan teks kewahyuan dan merasakan kawasan yang ditunjuk teks relasinya dengan prinsip suci ketuhanan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Karena sumber mutlak kebenaran makna, adalah Allah, maka model pembacaan belum menjamin ketepatan interpretatif dari para pembaca teks kewahyuan Al Quran.

Dari sini model pembacaan ada dua: pembacaan melalui jalan yang lebih dekat dan melalui jalan yang jauh. Jalan yang dekat, dengan memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh, dengan merujuk pada penerjemahan para penafsir atau mereka yang sudah pernah memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh ini bisa dengan melalui jalan para Ulama dan pembaca yang lain. Sedangkan, jalan yang dekat bisa melalui dengan mengalami langsung berada di kawasan kewahyuan. Misalnya, dengan mengambil kawasan kewahyuan kata yang terdapat dalam Al Quran: wajaahidu biamwalikum wa amfusikum fisabilillah.

Bupati Tegal

Dalam konteks ayat yang masyhur di kalangan umat Islam tersebut, seseorang bisa memasuki kawasan teks kewahyuan dengan cara berikut: melakukan langsung berkorban dengan harta dan segenap jiwa dan raga untuk selalu berkomitmen berada di Jalan Allah. Dalam konteks ini, istilah harta dan segenap jiwa dan raga bisa berupa komitmen menapaki jejak kenabian tanpa cindera mata, tanpa penghargaan, pujian, dan hal hal yang terkait dengan materi atau kehendak kekuasaan. Jejak yang bukan jejak kenabian ini disebut dengan jejak yang digelayuti rasa cemburu yang melahirkan penyakit hati, iri, benci dan kekerasan personal dan komunal.

Sedangkan, jejak kenabian tanpa cindera mata, adalah totalitas pengabdian, pembebasan, dan pencerahan kepada umat manusia. Hal ini akan dirasakan apabila antara pengikut jejak jejak kenabian dan subjek dampingan jejak kenabian memasuki ruang kawasan kewahyuan, seperti prinsip menjaga: relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar umat manusia. Ruang kawasan kewahyuan ini yang disebutkan dalam teks Al Quran dengan Istilah kawasan jalan Allah (Sabilillah).

Bupati Tegal

Jika ada yang menolak kata sabilillah, adalah bentuk kawasan kewahyuan yang diantaranya meliputi prinsip tersebut, lalu persoalann yang dapat dijadikan pertanyaan, jalan Allah yang mana yang dapat dijadikan alat ukur atau instrumen para pengikut jejak kenabian. Karena ketidak jelasan menunjuk instrumen kawasan kewahyuan pada teks kewahyuan, maka para penafsir dan pembaca teks kewahyuan berebut penafsiran yang disematkan pada kepentingan kelompok sendiri.

Sehubungan dengan persoalan ini, para Walisongo mengambil bentuk kawasan kewahyuan, berupa prinsip prinsip keutamaan tersebut di atas (relasi kosmologi, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan). Paradigma pengambilan bentuk kawasan kewahyuan perspektif Walisongo inilah yang menjadi fundasi pribumisasi Islam Walisongo. Karenanya, para pengikut Walisongo lebih elegan dan terbuka terhadap perbedaan dan selalu merayakan perbedaan di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat.

Dalam realitas keberagamaan dan studi teks kewahyuan, telah banyak ditemukan konflik agama dan kekerasan tersistem. Hal ini dikarenakan adanya pemahaman spekulatif yang berhenti pada teks kewahyuan, penafsiran teks kewahyuan dengan teks penafsiran yang tercerabut dari akar kawasan kewahyuan. Dengan demikian, teks kewahyuan justru menjadi penghalang prinsip nilai yang ditunjuk teks kewahyuan. Model penafsiran seperti ini, lebih mudah dijadikan sebagai sumber konflik dan ideologis. Model penafsiran yang seperti ini, juga akan mudah dibelokkan oleh para pembajak agama kenabian dan kewahyuan untuk kepentingan kekuasaan dan kapitalisme global.?

Jadi, teks sabilillah sebagaimana tersebut di atas memiliki kawasan teks, berupa komitmen sikap pada prinsip menjaga relasi suci kosmologis, menjaga kemanusiaan, persamaan, dan keadilan. Karenanya, jika sessorang tidak berada pada komitmen sikap pada prinsip tersebut, maka telah berada di luar kawasan jalan Allah. Jalan Allah tidak hanya Ibadah murni merasa dihadapan Allah (ihsan) yang terkait dengan rukun Islam dan keyakinan kepada Allah. Selain jalan Allah berupa kawasan ritual ini, juga bisa berbentuk sikap komitmen menjaga relasi kosmologis, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan.

Sehubungan dengan dua pemaknaan kewahyuan sebagaimana yang diuraikan di atas, sama sama bermanfaat, namun yang bisa berlaku universal, adalah dengan segera berjalan pada jalan sebuah kawasan kewahyuan. Karena dengan lelaku atau segera mengalami berada dikawasan kewahyuan, maka seseorang akan merasakan nilai kenabian dan berada dalam kehendak Allah. Sebagai contoh, seseorang akan mengalami kesulitan merasakan arti kemanusiaan hanya dengan mendiskusikan pandangan tentang kemanusiaan, Namun seseorang akan merasakan berada dalam kepedulian dan merasakan nilai kemanusiaan, apabila sedang turut berinteraksi dengan gerakan dan pergolakan memperjuangkan nilai kemanusiaan.

Dalam konteks kawasan kewahyuan ini, kita dapat memahami, bahwa Al Quran berbeda dengan kitab kitab yang lain atau juga berbeda dengan arsip atau dokumentasi perkantoran atau pedoman kerja. Al Quran merupakan teks penjelas yang langaung melalui firman Allah, berisi prinsip nilai dan prinsip yang secara langsung melekat pada diri manusia. Artinya, sebelum ada prinsip yang ditunjuk wahyu, prinsip itu telah mengakar kuat dalam kepribadian manusia relasinya dengan Allah dan unsur kesemestaan.

Membumikan Kawasan Kewahyuan

Walisongo memiliki kekhasan yang berbeda dengan para Ulama tasawuf yang lain di Timur. Para Ulama tasawuf telah banyak menafsirkan kewalian dengan pengertian yang sangat spekulatif yang sulit dimaknai oleh masyarakat awam. Sedangkan, Walisongo mengaktualkan makna kewalian tanpa mendefinisikan arti kewalian, namun lebih menawarkan pada sikap melakukan pembebasan dan pencerahan kepada masyarakat. Peran ini, sama dengan yang dilakukan oleh para Nabi Pembebas dan pencerah.

Para Walisongo telah menjadikan keberadaannya sebagai mediator yang menghubungkan antara raja ke rakyat dan rakyat ke raja. Selain itu, Walisongo juga mampu menguatkan kedua relasi antara raja dan rakyat dengan Allah Jalla Jalaluhu. Implikasi adanya bangunan antara relasi raja-rakyat dengan Allah, adalah perlunya menerima prinsip kebenaran universal, karena setiap kebenaran universal bersumber dari Allah. Prinsip kebenaran universal ini, telah ditekankan dalam teks kewahyuan yang tidak akan berbeda dengan model kearifan lokal dan prinsip nilai kebenaran ideologi-ideologi besar dunia.

Meskipun demikian, Walisongo memahami prinsip ritual dan model peribadatan yang diajarkan Nabi Muhammad. Hal ini telah disampaikan kepada mereka yang secara khusus ingin mengikuti ritual keberagamaan Walisongo. Aktivitas ritualistik ini pun telah didesain oleh Walisongo, berupa ritual keagamaan agama Islam yang ramah terhadap kearifan lokal dan pandangan pandangan masyafakat jawa yang sentralistik terhadap ketokohan seseorang.

Di luar konteks ritualistik, Walisongo secara langsung mampu memadukan teks kewahyuan dengan prinsip kebenaran yang bersifat universal. misalnya, yang terkait dengan prinsip ? sistem kekuasaan mutlak Allah, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Karenanya, untuk menyebut sistem kekuasaan mutlak ini, para Walisongo menyebutnya dengan istilah Gusti Ingkang Akarya Jagat, Gusti Ingkang Murbahing Dumadi. Banyak istilah untuk menyebut Asma Allah di beberapa suluk para Walisongo dengan menggunakan istilah masyarakat Jawa.

Jadi, pribumisasi Islam Walisongo bukan merupakan model pribumisasi yang liar dan tidak berdasarkan paradigma yang matang. Pribumisasi Islam Walisongo merupakan model pribumisasi yang memiliki akar sejarah kenabian dan kerasulan Muhammad. Selain itu, pribumisasi walisongo juga memiliki akar sejarah dari kultur masyarakat Jawa. Pribumiaasi walisongo ingin membentuk kesadaran manusia memilih jalan Allah, berupa jalan yang berada pada kawasan kewahyuan. Kawasan kewahyuan bukan yang berhenti pada penafsir dan kepentingan komunal atau kepentingan para penguasa pembajak makna suci pada kawasan suci kewahyuan.

Sama seperti para Nabi pembebas, bermula dari kawasan suci ini ingin mengajak siapa pun melakukan yang terbaik untuk kelangsungan relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan. Karenanya, model pribumisasi walisongo bersifat terbuka dan siap berdialog dengan model kearifan lokal dan ideologi ideologi besar dunia. Jika sesuai bisa berintegrasi, namun jika tidak sesuai, maka tetap bisa beradaptasi. Yang terpenting jangan ada kekerasan dan ancaman kemanusiaan di tengah kehidupan umat manusia. Model pribumisasi Islam ini yang sekarang menjadi sumber Islam Nusantara.

Penulis adalah Khadim Omah Kongkow As-Syiffah Pamotan Rembang, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Hadits Bupati Tegal

Senin, 18 Desember 2017

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir

Gorontalo, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Gorontalo bersama Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Gorontalo dan Banser menyambangi korban banjir di Kabupaten Gorontalo, Senin (31/10). Aksi Sosial itu dipimpin Sekretaris Wilayah PWNU Gorontalo Arianto Mopangga.

Pada kesempatan itu keluarga besar NU Gorontalo menyerahakan beras sejumlah 2 ton, pakaian layak pakai, serta makanan cepat saji (mie instant). Sumbangan diterima beberapa Kepala Desa yaitu desa Motoduto, Boliyohuto, Totopo, Juria, dan Bilato di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo.

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir

Arianto mengatakan, banjir yang melanda Kabupaten Gorontalo menenggelamkan ratusan rumah dari ribuan warga mengungsi. Hal ini tentu menjadi perhatian semua elemen masyarakat, termasuk Nahdlatul Ulama Gorontalo.

Bupati Tegal

Selain ikut perihatin dengan musibah yang melanda, dan? memberikan bantuan NU dan Banom turut melihat langsung area terjadinya bencana tersebut dan berbincang dengan warga yang menjadi korban,

Bupati Tegal

“Kami turut merasakan dan memberikan semangat agar tetap tegar dalam menghadapi musibah. Serta terus sabar dan istiqomah menerima segala bentuk musibah yang terjadi,” ungkap Ariyanto kepada puluhan korban banjir.

Sementara itu para korban berterima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam memberikan bantuan baik moril maupun materil.

Hal senada juga diungkapkan Satkorwil Banser gorontalo Risan Pakaya. “Musibah ini tentu tidak diminta oleh kita manusia, namun apalah daya telah terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah membantu sebisa mungkin kepada korban dan ikut terlibat dalam membenahi lokasi kediaman masyarakat,” pungkasnya. (Djemy Radji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Ubudiyah, Khutbah Bupati Tegal

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain

Yogyakarta, Bupati Tegal

Sebagai organisasi kemahasiswaan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki organanisasi lain. Tidak hanya mengedepankan aspek modernitas saja, namun juga tetap membawa aspek tradisionalitas. Sama halnya dengan kaidah fiqih, al-muhafadhatu alal-qadimish-shalih wal akhdzu bil jadiidil-ashlah (melestarikan tradisi lama yang bagus dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih bagus).

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain

Demikian yang disampaikan seorang Muntaha, akademisi Universitas Islam Indonesia pada Diskusi Publik dan Rapat Kerja Cabang PMII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tema "Tafsir Ber-PMII dalam Konteks Kepemudaan, Akademis dan Politik".

Pria alumnus PPMI Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga ini menyatakan bahwa kader PMII hendaknya? tidak mengabaikan bidang akademik. "Kelemahan anak-anak PMII itu kalau ditanya soal akademik pasti pada kalang kabut," ujarnya sambil terkekeh.

Bupati Tegal

Muntaha menegaskan betapa pentingnya dunia akademik dalam menjawab tantangan zaman. Beberapa di antaranya yaitu PMII harus mengembangkan riset yang mendalam, sebagai katalis wacana dalam berbagai bidang, menjadi gerakan intelektual di tengah kemacetan wacana, tempat titik temu antara teoritis dan praktis, membangun sumber daya sesuai keilmuan masing-masing.

Berbeda halnya yang dikatakan Abdul Halim, Wakil Bupati Bantul bahwa penting bagi kader PMII untuk memahami aspek politik secara utuh. Namun, tanpa harus meninggalkan tradisi yang dianut. "Politik yang harus diperagakan kader PMII yaitu politik nilai, bukan politik praktis," tuturnya.

Bupati Tegal

Banyak orang yang salah mengartikan tentang makna politik. Sebenarnya politik merupakan wasilah (alat) untuk membawa nilai-nilai yang diyakini dan dianut ke ranah manajemen pemerintahan. "Sedangkan nilai-nilai kita itu Ahlussunnah wal Jamaah," ujarnya

Abdul Halim menyatakan, masa depan mensyaratkan kompetisi. Dalam ranah perpolitikan, Nahdlatul Ulam (NU) secara umum mempunyai peran strategis. Karena NU memiliki prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun. dan taadul, ia pun mampu merangkul kaum ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Wakil bupati asal Rembang itu juga berpesan kepada kader PMII yang notabenenya lahir dari rahim NU, hendaknya tidak hanya menjadi kader NU semata, melainkan kader bangsa untuk membangun bangsa.

Diskusi publik ini dihadiri oleh kader PMII dari komisariat serta rayon di berbagai kampus di Yogyakarta, seperti UIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia (UII), Stimik An-Nur. Setelah selesai baru kemudian rapat kerja dimulai.

Diskusi yang di selenggarakan di Gedung Conventional Hall Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga, Rabu (1/6) ini bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Rektor Baru UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi yang dijadwalkan mengisi turut acara ternyata berhalangan hadir karena mantan aktivis PMII Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga ini mendapat panggilan mendadak dari kementerian. (Ahmad Solkan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, AlaNu Bupati Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Jakarta, Bupati Tegal. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) meminta manajemen PT Holcim Indonesia menghormati keberagaman kepercayaan buruh sejalan dengan konstitusi yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Presiden DPP K-Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Selasa (16/5) menegaskan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tegas menjamin keamanan dalam menjalankan kehidupan beragama dalam suatu negara yang bersifat non religus.

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

"Selain itu negara yang berlandaskan hukum tidak melarang dan mengatur-ngatur hubungan personal kepercayaan dan keberagamaan warga negaranya sendiri," kata dia lagi.?

Ia melanjutkan, Pasal 29 ayat 1 dan 2 menegaskan, negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

"Saudara Cornelius Arianto Wibisono yang mempunyai riwayat berganti agama atas kesadaran dan kehendak sendiri wajib dihormati oleh siapapun dan oleh apapun. Dengan agama dan kepercayaan yang sekarang, tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk oleh manajemen PT Holcim Indonesia. Ia bebas untuk menjalankan dan melaksanakan kewajiban agamanya," tegas Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Bupati Tegal

DPP K-Sarbumusi NU mengecam keras tindakan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia memaksa Arianto untuk menikmati daging hewan yang menurut agama dan kepercayaannya sekarang haram hukumnya.

Hal itu, kata Syaiful menambahkan, menjadi bentuk pelanggaran serius dan pelanggaran HAM yang nyata atas Konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai mana tercantum dalam Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

"Yang bersangkutan selaku unsur pimpinan seharusnya tidak melontarkan pernyataan yang menyinggung cara beragama buruh di PT Holcim Indonesia. ? Jangan membuat agama menjadi bagian isu dan persoalan dalam hubungan industrial. Secara keseluruhan, keberagamaan buruh tidak bisa di intervensi oleh manajemen atau pihak manapun," kata dia lagi.

Bupati Tegal

Berkaitan dengan hal tersebut, DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia untuk membuat tim investigasi terhadap Direktur O & HR atas penghinaan dan penistaan yang dilakukan terhadap saudara Cornelius Arianto Wibisono, dan ? bila terbukti melanggar agar diberhentikan dari perusahaan.

"Kami meminta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas terhadap manajemen PT Holcim Indonesia atas pelanggaran SARA dalam hubungan industrial," kata Syaiful lagi.

DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia agar mengembalikan nama baik dan posisi hubungan industrial saudara Cornelius Arianto Wibisono terkait pelanggaran hubungan industrial dengan dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja tanpa Perjanjian Kerja Bersama PT Holcim Indonesia dan prosedur kontitusi peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Kami meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan investigasi dan penyelidikan terkait isu SARA yang dilontarkan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia, apa itu ketidaksengajaan atau merupakan kebijakan yang terstruktur," demikian kata Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas

Cirebon, Bupati Tegal - Sekjen PP Lesbumi Abdullah Wong menyampaikan refleksi atas peristiwa pelarangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh Perppu Ormas. Ia menyampaikan pandangannya pada diskusi publik yang digelar oleh PAC GP Ansor Astanajapura di kampus II Annidzomiyah, Japura Kidul, Cirebon, Jumat (6/10).

Mengutip Heraklitos, ia mengatakan, jika melihat air sungai itu bukanlah air sungai yang tadi dilihat melainkan air sungai yang baru saja datang.

Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Makna Ayat-ayat Al-Quran pada Diskusi Perppu Ormas

“Ketika kita melihat air sungai, air itu sudah lewat. Yang kita lihat sekarang adalah sungai yang baru datang, sungai yang saat ini, sungia kekinian,” katanya.

Kita tidak bisa hanya menjadi umat yang klangenan, berbangga dengan kejayaan masa lampau. “Dulu pada zaman Rasulullah. Dulu pada zaman dinasti apa. Dulu bapak saya. Lah terus kamu sekarang ngapain,” lanjutnya.

Bupati Tegal

Penulis novel Mata Penakluk Manakib Abdurrahman Wahid itu menyampaikan makna kata khauf dan huzn pada Al-Quran Surat Hud ayat 62. Menurutnya, khauf adalah penderitaan atau ketidaknyamanan terhadap apa yang bakal terjadi. Sedangkan huzn adalah penderitaan yang telah terjadi di masa lalu.

“Auliya itu gak rempong dengan apa yang sudah terjadi dan tidak pusing dengan apa yang akan terjadi karena dia hadir dalam kekinian,” jelas alumni Pondok Pesantren Lebaksiu, Tegal itu.

Bupati Tegal

Mereka adalah orang yang melafalkan lâ khaufun ‘alaihim wa lâ hum yahzanun dalam bahasa kekinian adalah ‘Gitu aja kok repot’, kata Abdullah yang langsung disambut tepuk tangan dan gelak tawa para peserta.

Pria asal Brebes itu juga menyampaikan perihal makna Al-Quran Surat Al-Waqiah ayat 79. Jika biasanya ayat tersebut diartikan, seseorang tidak boleh menyentuh Al-Quran kecuali sudah suci dari hadats kecil maupun hadats besar, lain halnya dengan Abdullah Wong. Ia mengatakan, bahwa makna ayat tersebut adalah tidak ada yang bisa memahami Al-Quran kecuali orang yang disucikan hatinya.

“Tidak ada yang bisa menyentuh Al-Quran. Artinya, tidak ada yang bisa memahami Al-Quran kecuali orang yang disucikan, illa al-mutohharun, bukan illa al-mutohhirun, bukan orang yang bersuci, apalagi sok suci,” katanya.

“Itu adalah orang yang bisa memahami Al-Quran itu benar-benar man yasya, benar-benar kehendak dari Allah,” lanjutnya.

Pemahaman Al-Quran meningkat sebagai suatu isyarah. Seperti penunjuk, isyarah itu bukan tujuan tapi hanya yang menunjukkan.

Mas Wong, begitu ia akrab disapa, memberi contoh. Telunjuknya diangkat seolah-olah sedang menunjuk bulan. Ia mengatakan, telunjuk itu bukan bulan, tapi hanya isyarat kepada bulan. “Bulannya tetap di sana, ini hanya jari untuk menunjuk bulan,” jelasnya.

Bagi para auliya, Al-Quran itu merupakan lathaif. Ia memberikan sebuah analogi untuk menerjemahkan kata lathif tersebut karena sulit untuk menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia atau Jawa. Lathif kerap kali dimaknai halus atau lembut. Tapi ia bertanya, “Begitu lembut begitu halus itu apa? Tepung?”

Lalu ia menggambarkan makna kata tersebut dengan peristiwa yang terjadi saat itu. Bumi melakukan rotasi, memutari porosnya sendiri, dan melakukan revolusi, mengelilingi matahari. Tapi perputaran tersebut tidak dirasakan oleh makhluk di bumi.

“Itulah Lathifnya Allah. Nyaris kita tidak merasakannya,” ungkapnya.

Diskusi yang dipandu oleh mahasiswa Pascasarjana UNU Indonesia Agung Firmansyah itu juga menghadirkan Ketua PP GP Ansor Nuruzzaman dan kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Muhammad Sofi Mubarok. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Selasa, 28 November 2017

Aktivis PMII di Kalimantan Shalat Ghaib untuk Palestina

Pontianak, Bupati Tegal. Para aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam indonesia (PMII) Kota Pontianak dan Kubu Raya Kalimantan menyampaikan aksi protes terhadap agresi militer Israel terhadap rakyat Palestina.

Aksi mahasiswa berjas biru tersebut dengan cara menggelar shalat ghaib untuk warga Palestina yang menjadi korban kebiadaban negara Zionis itu. Aksi dilakukan pada Kamis (22/11) sore di bundaran digulis Universitas Negeri Tanjung Pura Pontianak itu berjalan kondusif.

Aktivis PMII di Kalimantan Shalat Ghaib untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis PMII di Kalimantan Shalat Ghaib untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis PMII di Kalimantan Shalat Ghaib untuk Palestina

“Shalat ghaib ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap rakyat Palestina. Kami juga berharap arwah mereka yang menjadi korban bisa tenang dan keluarga yang ditinggalkan dapat bersabar,”  kata Samsul Hadi Wijaya, koordinator aksi.

Aksi dimulai dari pukul 14.15-15.45 WIB. Mahasiswa dalam orasinya mengecam agresi militer Israel terhadap rakyat palestina. Mereka juga menuntut pemerintah RI dalam hal ini presiden dapat mengambil langkah strategis untuk menghentikan agresi tersebut, karena pasca kesepakatan gencatan senjata serangan tetap diluncurkan oleh pihak Israel.

Bupati Tegal

Aksi juga diwarnai dengan aksi pembakaran keranda yang bergambar bendera israel. “Aksi mahasiswa ini menunjukan bahwa Israel untuk dihancurkan karena sudah melanggar HAM dan tidak berprikemanusiaan,” kata seorang mahasiswa.

Bupati Tegal

Menurut Samsul Hadi, agresi militer Israel terhadap palestina yang sudah banyak menelan jiwa warga yang tak berdosa. “Bilamana dicermati, agresi Israel tidak terlepas dari campur tangan AS,” tambahnya.

Abdul Ghani Elmabhuts, ketua PMII Kota Pontianak berharap semua elemen masyarakat turut serta dalam mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. “Israel tak ubahnya penjahat perang dunia,” katanya.

Pihaknya masyarakat untuk sama-sama memboikot produk-produk Israel dan negara-negara sekutunya termasuk AS.

Aksi ini ditutup dengan penggalangan dana untuk korban Palestina. Menurut Samsul Hadi, aksi akan dilangsungkan selama tiga hari, yang akan difokuskan di ruas-ruas jalan protokol perempatan lampu merah.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Firman

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, AlaNu Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Khazanah dan Beberapa Keunikan Pondok Pesantren

Oleh Erzal Syahreza Aswir

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada dari sebelum zaman kemerdekaan. Kehadirannya di bumi Nusantara sebagai wadah mencerdaskan masyarakat Indonesia dalam perspektif agama dan juga nasionalisme. Semangat institusi pendidikan pondok pesantren ini sampai saat ini masih terasa meskipun pendidikan formal sudah banyak didirikan. Pada awal berdirinya, kegiatan pondok pesantren masih sangat sederhana. Berawal dari kegiatan-kegiatan di masjid yang kemudian santri-santrinya didirikan sebuah pondok untuk tempat tinggal.

Dasar konstitusional pendidikan pesantren adalah pasal 26 ayat 1 bab 4 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 1 disebutkan bahwa “Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penanambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat”. (Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kaledra, Jakarta: 2003, hlm. 19)

Khazanah dan Beberapa Keunikan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Khazanah dan Beberapa Keunikan Pondok Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Khazanah dan Beberapa Keunikan Pondok Pesantren

Lembaga pendidikan yang sangat indigenous Nusantara ini memiliki banyak peranan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Setidaknya ada tiga peran pondok pesantren, yaitu sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan Islam, dan lembaga pengembangan masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, pondok pesantren bermetamorfosis menjadi agen perubahan (agent of change) dan juga agen pengembangan masyarakat. Namun meskipun dengan perubahan yang sedemikian itu, institusi ini tidak meninggalkan tujuan utamanya, yaitu sebagai tafaqquh fid-din atau tempat mempelajari ilmu agama.

Pesantren sudah banyak memberikan bukti nyata terhadap perkembangan zaman, bahkan terhadap kemerdekaan Indonesia. Seperti kita ketahui dalam sejarah bangsa ini bahwa Laskar Hisbullah merupakan kaum santri yang rela mengorbankan nyawanya untuk melawan penjajahan dari bangsa asing. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari sebagai kiai dalam salah satu pondok pesantren di Jawa Timur pun pernah berfatwa bahwa membela tanah air itu hukumnya wajib bagi setiap warga negaranya. Hubbul wathan minal iman, artinya cinta tanah air merupakan sebagian dari iman.

Bupati Tegal

Belum diketahui jelas pada tahun berapa pondok pesantren menjadi pusat belajar agama di Indonesia. Alwi Shihab menegaskan bahwa Syaikh Maulana Malik Ibrahim adalah orang yang pertama kali mendirikan pesantren sebagai tempat mendidik dan menggembleng para santri dalam memahami agama. Agama Islam diperkirakan menyebar ke seluruh Indonesia pada abad ke-15, tetapi diperkirakan sudah ada di Indonesia sejak abad ke-8 melalui pedagang Arab. Sampai pada abad ke-16, agama Islam sudah menyebar ke seluruh Indonesia dan menjadi agama terbesar di Republik ini. Persebaran Agama Islam di Indonesia salah satunya melalui dakwah-dakwah yang dilakukan kiai di Pondok Pesantren.

Saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa ada dua kubu lembaga pendidikan dengan corak dan ciri khasnya tersendiri, yaitu pendidikan umum dan pendidikan pondok pesantren. Secara eksistensi, pendidikan umum lebih unggul dari pondok pesantren lantaran pendidikan umum mendapat legalitas yang jelas dari pemerintah, sedangkan pondok pesantren terkadang hanya mendapat legalitas dari institusi keagamaan saja.

Jika dibandingkan tentu secara usia pondok pesantren lebih tua daripada pendidikan umum. Pondok pesantren lahir jauh sebelum kemerdekaan, bahkan sebelum penjajahan. Sedangkan pendidikan umum mulai lahir pada zaman penjajahan Belanda. Produk pendidikan yang sengaja dibuat oleh Belanda sebagai politik balas budi dari Van De venter atas jerih payah Bangsa Indonesia melayani Bangsa Belanda. Bukan tanpa sebab Belanda melakukan politik balas budi ini, ada maksud terselubung yaitu agar sumber daya manusia di Indonesia memadahi untuk dipekerjakan oleh Belanda. Ini berarti bahwa pendidikan ciptaan kolonial Belanda ini untuk menghasilkan para pekerja saja, bukan untuk menghasilkan pemimpin yang visioner.?

Output institusi pendidikan ini sampai sekarang masih terasa ketika banyak lulusan SMA atau perguruan tinggi yang orientasinya hanya menjadi pegawai perusahaan atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Meskipun tidak semuanya beranggapan seperti itu, tetapi kebanyakan realita mengatakan bahwa lulusan pendidikan formal hanya menginginkan menjadi pegawai, tidak lebih. Hal ini terbukti dari banyaknya pendaftar ketika dibuka lowongan menjadi PNS, pegawai BUMN, atau pegawai swasta. Pada tahun 2014, dari data KemenPAN-RB diketahui bahwa jumlah pendaftar CPNS tahun itu berjumlah 2.603.780 pendaftar.

Berbeda ketika lulusan sebuah pondok pesantren, meskipun berlabel agama tetapi pondok pesantren tidak hanya melahirkan ustadz, tetapi juga banyak melahirkan pemimpin-pemimpin masyarakat. Seperti contoh adalah KH Abdul Rahman Wahid atau Gus Dur, lalu ada Lukman Hakim Saifuddin yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama. Selain itu juga ada Emha Ainun Nadjib yang dikenal sebagai tokoh intelektual, seniman, sastrawan, dan budayawan.

Bupati Tegal

Pondok pesantren sebagai institusi pendidikan yang indigenous dari Indonesia ini memiliki banyak keuniakan. Keunikan-keuinikan tersebut merupakan sebuah nilai positif yang dapat ditiru oleh pendidikan formal. Sehingga nantinya pondok pesantren bisa menjadi kancah pengembangan di pendidikan umum.

Mengutamakan Kecerdasan SQ (Spiritual Quotient)

Sistem pendidikan pondok pesantren lebih mengutamakan kemampuan spiritual (SQ) di samping kecerdasan intelektual (IQ) dan emosional (EQ), sedangkan sistem pendidikan yang ada di pendidikan formal saat ini lebih mengutamakan kecerdasan intelektual (IQ). SQ sendiri dapat diperoleh dengan belajar dari guru spiritual masing-masing di pondok pesantren atau mempelajari kitab-kitab sehingga santri-santri tersebut mendapat ketenangan dalam hal mencari ilmu atau yang lain. SQ dalam pendidikan dapat mendorong lebih giatnya untuk belajar, karena dengan adanya kecerdasan SQ yang tinggi akan menambah semangat belajar dan mempunyai tujuan hidup. Pondok pesantren dengan sistem pendidikan yang lebih menekankan pada SQ membuat para santri dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat, dan tentunya dapat berguna ditengah-tengah masyarakat.

Roberts A. Emmons, Ph.D seorang pakar psikologi dari California mengungkapkan bahwa Spiritual Quotient (SQ) merupakan kecerdasan yang berdasar pada pemaknaan sebuah kehidupan, ketika SQ sudah berjalan dengan baik, maka dengan sendirinya jalan bagi IQ dan EQ akan terbuka. Oleh karenanya orang yang memiliki SQ akan mudah diterima oleh masyarakat umum dan akan selalu dilibatkan dalam setiap agenda. (Your Perfect Right, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2002, hal. 213).

Lembaga Pendidikan Tertua di Indonesia

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, kehadirannya jauh sebelum adanya penjajahan di bumi Nusantara. Di dalam segi pengalaman, tentunya pondok pesantren lebih banyak merasakan pahit manisnya kehidupan dunia pendidikan daripada lembaga pendidikan umum

Menanamkan Keikhlasan

Sebagai lembaga pendidikan, pondok pesantren tentunya memiliki pengajar dan juga para staff. Pengajar dan para staff ini melakukan pekerjaanya tidak dengan berdasar pada besarnya gaji, namun melakukan semua itu dengan berdasarkan keikhlasan untuk memajukan anak bangsa. Prinsip keikhlasan inilah yang dapat menjadi tolak ukur bagaimana proses belajar-mengajarnya berjalan dengan baik dan efisien.

Full Control

Tidak terbatas dengan waktu. Itulah ungkapan yang dapat diberikan kepada pondok pesantren. Kiai sebagai pimpinan tertinggi akan selalu mengawasi santri-santrinya dalam segi apapun, kapanpun, dan dimanapun. Bukan berarti ini adalah bentuk pengekangan, tetapi pengawasan disini diartikan sebagai pengawasan dari bahaya budaya luar yang merusak. Seperti minuman keras, seks bebas, narkoba, dan budaya luar yang berbahaya lainnya. Lembaga pendidikan pondok pesantren selalu melakukan pengawasan terhadap semua itu.

Solidaritas Alumni yang Kuat

Kehidupan pondok pesantren dengan kebiasaan serba bersama seperti masak bersama, makan bersama, tinggal dalam satu asrama membuat ikatan emosional antar santri terjalin kuat. Ikatan emosional yang kuat tersebut akan menumbuhkan solidaritas yang kuat, hingga sampai menjadi alumni tetap akan terjaga solidaritasnya.





Ilmu yang Terintegrasi

Pola pembelajaran di pondok pesantren yang dilakukan sampai saat ini yaitu dengan mengintegrasikan antara ilmu umum yang didapat dari proses pembelajaran di madrasah dan ilmu dari belajar kitab-kitab kuning ilmu agama. Sehingga dalam bidang ilmu satu dengan ilmu lain tidak akan bertentangan dan memiliki keterkaitan antara satu sama lain, sehingga dalam memahami ilmu yang didapat dari proses belajar akan mudah diterima dan mudah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-sehari.





Garda Terdepan Pembela Tanah Air

Hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, begitulah penanaman nilai-nilai nasionalisme dalam pondok pesantren. Sebagai lembaga pendidikan yang turut serta dalam perjalanan memajukan tanah air, sejak sebelum adanya penjajahan sampai berakhirnya penjajahan di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tentunya pondok pesantran selalu melakukan pengawalan terhadap bangsa dan negara ini.

Sejarah sudah mengatakan bahwa pendidikan memiliki andil besar dalam membela tanah air. Laskar hisbullah merupakan salah satu contoh dari pembelaan kaum santri terhadap tanah air. Bagaimana kaum santri ketika itu hanya menggunakan bambo runcing dalam peperangan melawan penjajah. Selain itu juga tokoh-tokoh jebolan pondok pesantren banyak yang menjadi pahlawan nasional, seperti KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, Bung Tomo, KH. Wahid Hasyim, KH. Wahab Hasbulloh, KH. Abdurrahman Wahid, dan masih banyak pahlawan nasional yang lahir dari pendidikan pondok pesantren.





Adanya Prinsip Keberkahan

Moralitas saat ini merupakan masalah yang ada di dunia pendidikan. Tak henti-hentinya berbagai kasus mengenai kenakalan siswa terhadap gurunya, belum lagi ketika guru memberikan sanksi berupa tindakan fisik maka akan dikenai pidana berupa pelanggaran terhadap anak dibawah umur. Padahal hal tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan guru ketika muridnya dirasa sudah melebihi batas – batas normal kenakalan anak dibawah umur.

Hal tersebut merupakan permasalahan yang sangat akut dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini. Permasalahan – permasalahan di dunia pendidikan saat ini sudah tidak wajar, terutama pada pendidikan di lembaga formal milik pemerintah. Namun berbeda ketika kita berada pada lembaga pendidikan pondok pesantren. Kehidupan asri dan sederhana di pondok pesantren ini tentunya tidak semerta - merta ada, tetapi dihidupkan dengan adanya prinsip yang ditanamkan dalam pondok pesantren. Salah satu yang ditanamkan yaitu dengan menanamkan prinsip keberkahan. Dimana para pendidik atau biasa yang disebut ustad dan kiai akan selalu dihormati dengan adanya prinsip ini.?

Prinsip keberkahan adalah prinsip yang diajarkan dengan menekankan pada menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan dari pondok pesantren tidak hanya melalui buku dan kitab, tetapi juga dari ustad dan kiai. Para santri ketika membawa buku atau kitab akan selalu ditempatkan pada tempat – tempat yang bersih dan suci. Hal ini menunjukkan bahwa para santri telah diajarkan untuk selalu menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.?

Selain itu hal ini juga diterapkan kepada ustad dan kiai sebagai para pendidik di pondok pesantren. Para santri akan berjalan menunduk ketika bertemu berpapasan dengan ustad atau kiai. Berjalan menunduk dalam pondok pesantren ini merupakan sebuah bentuk dari suatu hormat terhadap pendidik di pondok pesantren. Penghormatan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan ini merupakan bentuk cara untuk mendapatkan keberkahan dari menuntut ilmu. Seperti dalam Islam dikatakan bahwa menuntut ilmu akan memnghilangkan kebodohan dalam diri manusia. “Katakan: “Apakah sama orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?” (Az Zumar : 9)”. Artinya bahwa ilmu akan membedakan antara orang yang mempelajari dan tidak mempelajarinya.

Penulis adalah kader PMII Komisariat Universitas Lampung

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Anti Hoax, AlaNu, Nasional Bupati Tegal

Rabu, 15 November 2017

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah

Jakarta, Bupati Tegal. Berbagai upaya dilakukan PBNU untuk “meluruskan” beberapa aliran agama yang selama ini dianggap sesat oleh masyarakat. Setelah beberapa waktu lalu berhasil mentaubatkan lagi “nabi” Musaddeq, Ketua PBNU KH Said Agil Siradj melakukan dialog dengan pengikut Ahmadiyah.

“Sudah ada beberapa titik temu, kita mendorong agar Ahmadiyah memakai ajaran Lahore, bukan Qadiyan atau paling tidak Qadiyah tidak berkembang,” katanya seusai dialog yang difasilitasi Litbang Depag di Kantor pusat Depag, Kamis (28/11).

Dijelaskannya, terdapat perbedaan yang mendasar antara Ahmadiyah aliran Qadiyan dan Lahore. Ahmadiyah Lahore tidak menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, namun hanya pembaharu Islam.

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lakukan Dialog dengan Ahmadiyah

Demikian pula, kitabnya At Tadzkirah bukannya wahyu, tetapi hanya kitab yang ditulis berdasarkan ilham seperti yang didapat oleh ulama lainnya layaknya Syeikh Abdul Qadir Jailani atau Ibnu Arabi.

Dikatakannya perpecahan antara Ahmadiyah Qodiyan dan Lahore ini tak lepas dari perkembangan dan dinamika umat Islam di masa tersebut seperti pemikiran Iqbal dan Jinnah dan adanya upaya pembebasan Pakistan yang mayoritas muslim dari penjajahan Inggris.

Ahmadiyah yang ada di Lahore berusaha melakukan pembenahan dalam beberapa keyakinannya agar mereka tidak menyimpang terhadap Islam. Mereka juga masih mempercayai adanya rukun Islam dan rukun Iman sebagai ajaran pokok Islam.

Bupati Tegal

Sementara itu, Ahmadiyah Qadiyan yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi memang dimanfaatkan oleh Inggris untuk memecah belah ummat.

Bupati Tegal

Diskusi dengan Ahmadiyah ini akan dilanjutkan sekali lagi dengan harapan semakin banyak titik temu yang dihasilkan dari kedua belah fihak. “Metode dialog seperti inilah yang akan kita gunakan untuk menghadapi aliran yang dianggap sesat,” paparnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, AlaNu, Fragmen Bupati Tegal

Hukum Patungan Kurban Sapi

Idul Adha identik dengan kurban. Ia sekaligus menjadi ajang berbagi sesama. Pada hari itu, semua muslim di manapun merasakan nikmatnya makan daging kurban. Bagi orang kaya mungkin makan sesuatu yang lumrah, namun hal ini sangat istimewa bagi orang yang tidak mampu. Bahkan, bisa jadi mereka hanya sekali dalam setahun makan daging.

Karena itu, sangat dianjurkan berkurban bagi orang mampu. Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid menyebutkan, ulama berbeda pendapat mengenai hukum berkurban. Ulama madzhab Syafi’i dan Maliki menghukuminya sunah muakkadah. Sementara madzhab Hanafi mewajibkan kurban bagi orang mampu serta menetap, dan tidak wajib bagi musafir.

Hukum Patungan Kurban Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Patungan Kurban Sapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Patungan Kurban Sapi

Kendati berbeda pendapat, yang terpenting mayoritas ulama sangat menganjurkan berkurban. Sebab di samping pelakunya mendapatkan pahala, kurban juga memiliki implikasi sosial. Karenanya, hampir di seluruh daerah di Indonesia, pengurus masjid atau yayasan keagamaan berusaha semaksimal mungkin mencari para donator yang ingin berkurban.

Bupati Tegal

Dalam rangka meraih banyak donatur, panitia kurban juga mempermudah jalannya. Berkurban tidak harus sendiri, tetapi juga boleh patungan. Terutama untuk kurban sapi, kebanyakan masyarakat tidak mampu membelinya sendiri. Mereka biasanya patungan beberapa orang untuk membelinya. Apakah patungan kurban sapi ini diperbolehkan?

Bupati Tegal

Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan, mayoritas ulama memperbolehkan patungan kurban. Syaratnya, hewan yang dikurbankan adalah sapi dan jumlah maksimal orang yang patungan ialah tujuh orang. Berdasarkan persyaratan ini, patungan untuk kurban kambing tidak diperbolehkan dan lebih dari tujuh orang untuk kurban sapi juga tidak dibolehkan. Ibnu Qudamah menuliskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kurban satu ekor unta ataupun sapi atas nama tujuh orang diperbolehkan oleh mayoritas ulama.”

Sebagaimana dikutip Ibnu Qudamah, menurut Ahmad bin Hanbal, hanya Ibnu umar yang tidak membolehkannya. Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Kebanyakan ulama yang aku ketahui membolehkan patungan kurban kecuali Ibnu Umar.”

Pendapat Ibnu Qudamah di atas tidak jauh berbeda dengan An-Nawawi. Dalam pandangannya, patungan kurban sapi atau unta sebanyak tujuh orang dibolehkan, baik yang patungan itu bagian dari kelurganya maupun orang lain. An-Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dibolehkan patungan sebanyak tujuh orang untuk kurban unta atau sapi, baik keseluruhannya bagian dari keluarga maupun orang lain.”

Kebolehan patungan kurban ini memiliki landasan kuat dalam hadits Nabi SAW. Sebagaimana yang tercatat dalam Al-Mustadrak karya Al-Hakim, Ibnu Abbas mengisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kami pernah berpergian bersama Rasulullah SAW, kebetulan di tengah perjalanan hari raya Idul Adha (yaumun nahr) datang. Akhirnya, kami patungan membeli sapi sebanyak tujuh orang untuk dikurbankan,” (HR Al-Hakim).

Jabir bin ‘Abdullah juga pernah mengisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kami pernah ikut haji tamattu’ (mendahulukan ‘umrah daripada haji) bersama Rasulullah SAW, lalu kami menyembelih sapi dari hasil patungan sebanyak tujuh orang.” (HR Muslim).

Dari beberapa pendapat di atas, serta didukung oleh hadits Nabi SAW, dapat disimpulkan bahwa patungan untuk membeli sapi yang akan dikurbankan diperbolehkan dengan syarat pesertanya tidak lebih dari tujuh orang. Hal ini dikhususkan untuk sapi dan unta saja, sementara kambing ataupun domba hanya boleh untuk satu orang, tidak boleh patungan bila niatnya untuk kurban. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Bupati Pringsewu Berharap Tradisi Tumpengan Dilestarikan

Pringsewu, Bupati Tegal 

Bupati Pringsewu H. Sujadi teringat masa kecilnya yang tinggal di kampung daerah Bantir, Temanggung, Jawa Tengah. Pasalnya sesaat setelah pelaksanaan Shalat Id yang dilaksanakan di Masjid Nurul Huda, para Jamaah menyuguhkan sajian tradisional khas jawa yaitu nasi tumpeng. 

Pada saat kunjungan dan melaksanakan Shalat Idul Adha 1438 H di Desa Fajaresuk, Pringsewu, Jumat (1/9) itu, bupati melihat 17 buah tumpeng yang disediakan dengan 17 ayam ingkung yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga sangat menarik untuk dinikmati.

Bupati Pringsewu Berharap Tradisi Tumpengan Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Pringsewu Berharap Tradisi Tumpengan Dilestarikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Pringsewu Berharap Tradisi Tumpengan Dilestarikan

Sebelum menikmati tumpeng tersebut, seluruh jamaah mendoakan para leluhur teriring harapan segala amal ibadah mereka diterima oleh Allah SWT. Jamaah juga berdoa agar daerahnya diberikan kesejahteraan, ketentraman dan senantiasa dilindungi oleh Allah SWT.

Pada kesempatan tersebut Bupati yang juga seorang kiai ini sangat menikmati acara tumpengan tersebut. Ia memanfaatkan momen kebersamaan bersama warganya tersebut dengan menikmati sajian hasil kreasi para jamaah.

Ia berharap tradisi tumpengan tersebut dapat terus dilestarikan khususnya di Kabupaten Pringsewu yang mayoritas penduduknya dari bersuku Jawa.

Bupati Tegal

"Maturnuwun. Perlu dilestarikan. Kelingan (teringat) zaman cilik (kecil) nang (di) Bantir. Mugo-mugo tambah berkah. Kabul hajate," demikian ia mengekspresikan kebahagiannya menggunakan bahasa Jawa.

Pada kesempatan tersebut ia juga menyampaikan terima kasih atas sambutan warga Fajaresuk kepada rombongan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu. Ia berharap kegiatan Shalat Idul Adha Pemda Pringsewu di masjid tersebut akan menjadi wasilah semakin eratnya silaturahim antara masyarakat dan pemerintah.

Bupati Tegal

Ia juga  berharap dengan shadaqah yang diberikan oleh jamaah Masjid Nurul Huda tersebut, akan menjadikan keberkahan dan ketentraman bagi Kabupaten Pringsewu. 

"Semoga amal ibadah para pendahulu yang telah membangun Desa Fajaresuk diterima oleh Allahw SWT, Al Fatihah," pungkas Mustasyar PCNU Pringsewu ini.

Ikut serta pada kegiatan Shalat Idul Adha tersebut, Wakil Bupati Pringsewu H. Fauzi beserta jajaran pejabat di Lingkungan Pemda Pringsewu, Kepala Kantor Kementerian Agama Pringsewu, Ketua MUI Pringsewu dan sejumlah tokoh di Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Selasa, 07 November 2017

Surat Mbah Liem kepada Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Liem) dikenal sebagai teman yang sangat akrab. Banyak orang mengatakan beliau berdua adalah waliyullah (kekasihnya Allah).

Sekitar tahun 2007 akhir Mbah Liem mengutus langsung putri menantunya, Yayuk Madayani (yang dipersunting Gus Muh) untuk menyampaikan pesan penting kepada Gus Dur. Pesan tersebut ditulis tangan langsung oleh Mbah Liem dan dimasukan ke sebuah map.

Surat Mbah Liem kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Mbah Liem kepada Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Mbah Liem kepada Gus Dur

Pesan tersebut tampaknya sangat sangat penting karena yang diutus putri beliau sendiri. Dawuh Mbah Liem, “Iki kudu langsung kowe kekno neng Gus Dur! (ini harus kamu berikan sendiri kepada Gus Du, tidak boleh lewat perantara). Saat itu Ning Yayuk posisinya di Pekalongan karena masih menjadi anggota DPRD Kabupaten Pekalongan.

Pesan tersebut sudah sampai di tangan Ning Yayuk saat Gus Dur punya program penghijauan di Pekalongan. Ning Yayuk pun menemui Pak Fuadi (korlap kegiatan). Yayuk diajak menemui Gus Dur di bandara Semarang karena waktu yang paling tepat, ya saat itu.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

“Gus ini ada utusan Mbah Liem bade (hendak) menyampaikan pesan untuk Panjenengan,”? kata Pak Fuadi kepada Gus Dur.

“Oh yo, ono opo (Ada apa)?” Sahut? Gus Dur.

Ning Yayuk langsung duduk membuka isi map dan membacakan pesan Mbah Liem. Isi pesan tersebut demikian, “HAMANDITO HAMANDITO LUWEH APEK! REGENERASI REGENERASI!” Sesaat Gus Dur terdiam mendengar isi pesan tersebut kemudian berkata, “Nggih, Nggih, Insya Allah, amiin.”

Gus Dur mengucapkannya seolah berhadapan langsung dengan Mbah Liem. Dalam isi pesan itu Mbah Liem mengingatkan dan meminta Gus Dur untuk merelakan PKB, biar PKB diurus yang muda–muda karena waktu itu PKB sedang dilanda konflik berat. Lahumal Faatihah...

Ali Mahbub, Wakil Ketua PW GP Ansor Jateng 2014-2018, asal Wonogiri

* Kisah ini ditulis berdasarkan cerita Ning Yayuk Madayani kepada penulis pada 24 maret 2014, pukul 09.40 pagi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Pemurnian Aqidah Bupati Tegal

Minggu, 05 November 2017

Sejarawan UNS: Pemikiran Gus Dur Selalu Dibutuhkan

Solo, Bupati Tegal -

Sejarawan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) Hermanu Joebagio mengatakan, sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah pembela minoritas, meskipun berada di bawah represi penguasa.

“Gus Dur ini orang yang sangat plural dan membela minoritas," katanya pada diskusi dalam Peringatan Haul Gus Dur ke-7 di Solo, Jumat (30/12) malam.

Ditambahkan dia, meski sudah wafat, pemikiran Gus Dur masih sangat relevan di zaman sekarang. “Gus Dur merupakan sosok yang dibutuhkan kapan pun pemikirannya,” ujar dia.

Sejarawan UNS: Pemikiran Gus Dur Selalu Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarawan UNS: Pemikiran Gus Dur Selalu Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarawan UNS: Pemikiran Gus Dur Selalu Dibutuhkan

Dalam kesempatan tersebut, Hermanu juga menjelaskan dua macam intelektualitas. Keduanya yaitu Intelektualitas kkslusif dan inklusif. Menurutnya, intelektual mesti dibarengi dengan sikap inklusif.

Bupati Tegal

“Intelektualitas harus ditumpangi dengan sikap inklusif. Karena tanpa itu, intelektualitas tidak ada apa-apanya, kenapa? Karena kita membangun visi masa depan keindonesiaan kita dengan apa sih? Ya, dengan kedamaian, keindahan dalam perbedaan,” kata dia.

Sebaliknya, intelektualitas yang eksklusif akan menghasilkan manusia yang memiliki sifat merasa paling benar. “Di dalam negara yang seperti ini, paling berbahaya orang yang tidak mau menerima orang lain. Dalam konteks psikologi, pribadi ini hanya menerima kelompoknya sendiri,” ungkap dia.?

Bupati Tegal

Selain Hermanu, turut hadir sejumlah narasumber antara lain Solahudin Aly (Sekjen PW GP Ansor Jateng), Husein Syifa dan beberapa tokoh lainnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pertandingan, AlaNu Bupati Tegal

Kamis, 02 November 2017

UNUSIA: PAUD Harus Dijalankan dengan Prinsip Perlindungan Anak

Jakarta, Bupati Tegal. Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) menggelar Seminar Nasional “Prospek dan Tantangan Guru PAUD pada Era Global”. Acara berlangung di Auditorium PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4).

Kepala Prodi PAUD UNUSIA, Waspada, mengungkapkan perkembangan seseorang sangat penting pada usia dini. Namun, banyak yang tidak memikirkan akan hal tersbut, termasuk para orang tua.?

UNUSIA: PAUD Harus Dijalankan dengan Prinsip Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
UNUSIA: PAUD Harus Dijalankan dengan Prinsip Perlindungan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

UNUSIA: PAUD Harus Dijalankan dengan Prinsip Perlindungan Anak

“Perkembangan usia dini atau golden age sangat penting pada seorang anak, karena usia tersebut tak pernah terulang dan perkembangan anak pada golden age sangat berpengaruh pada masa berikutnya,” papar Waspada.

Ia menyatakan bersyukur, karena pada waktu belakangan ini kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anak ? mulai tumbuh, termasuk dengan maraknya tempat-tempat pendidikan bagi anak seperti PAUD.?

“Dengan tumbuhnya PAUD di mana-mana, ini sesuatu yang harus dihargai,” lanjut Waspada.

Bupati Tegal

Tetapi, kata Waspada, keberadaan PAUD-PAUD itu sering berjalan tidak sebagaimana mestinya.?

“PAUD-PAUD banyak yang dijalankan tidak sesuai prinsip dan kaidah perlindungan terhadap anak. Ini yang harus diperhatikan. ? PAUD yang baik harus dikelola dengan manajemen yang tepat, kurikulum, juga guru yang tepat. Pada seminar inilah kita akan belajar bagaimana pengelolaan PAUD yang sesuai untuk anak,” tegas Waspada.

Seminar tersebut diikuti sedikitnya 250 guru PAUD dan pemerhati pendidikan anak. Mereka tidak hanya berasal dari Jabodetabek, namun juga daerah lainnya seperti Bandung, Cianjur, Purwakarta, Sukabumi.

Bupati Tegal

Adapun pembicara yang hadir diantaranya Direktur Pembinaan PAUD Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati; dan Wakil Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

Di Tangan Pelajar NU Jombang, Limbah Jadi Cenderamata

Jombang, Bupati Tegal. Sebanyak 40 utusan pengurus IPNU-IPPNU dari pelbagai tingkatan di Jombang menyatakan semangat kewirausahaan. Mereka mendaur ulang limbah plastik menjadi bunga hias dan lampion unik bernilai ekonomis di aula Kantor PCNU Jombang, Jumat (9/10).

Pelatihan sesi pertama ini, peserta diajari ilmu sekaligus praktik langsung membuat dua jenis cenderamata. Sementara sesi kedua yang rencananya diadakan pada 24 Oktober 2014 mendatang, mereka akan belajar kerajinan tangan jenis lainnya yang tidak kalah menarik.

Di Tangan Pelajar NU Jombang, Limbah Jadi Cenderamata (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tangan Pelajar NU Jombang, Limbah Jadi Cenderamata (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tangan Pelajar NU Jombang, Limbah Jadi Cenderamata

“Produk yang dihasilkan rekan-rekanita bisa dinominalkan hingga Rp.100.000,” kata Bendahara IPPNU Jombang Fathiya Putra Ramadhani.

Bupati Tegal

Fathiya pada pelatihan ini didaulat sebagai tutor pelatihan. Bersama timnya, ia sempat lolos penilaian tingkat provinsi dalam kegiatan KPM UNIPDU Jombang mempresentasikan produknya di hadapan Mahasiswa UNDIP Semarang akhir bulan lalu.

Bupati Tegal

“Kegiatan pelatihan ini akan ditindaklanjuti dengan pembuatan komunitas IPNU-IPPNU pecinta lingkungan. Dengan demikian produk yang mereka hasilkan bisa dipamerkan dalam berbagai even yang menguntungkan,” kata Ketua IPNU Jombang Abdul Rosyid.

Pada pelatihan ini mereka menggunakan alat bantu seperti gunting, cutter, botol plastik, tusuk sate bekas yang telah dibersihkan, plastik tipis, pewarna kimia, dan beberapa bahan pelindung produk siap dikemas. (Aulia Rohmah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, RMI NU Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock