Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Rabat,Bupati Tegal. Program Mahasiswa Kelas Internasional mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAINU) Jakarta di Universitas Ibnu Tufail Kenitra berakhir. Setelah 11 bulan menimba ilmu di kampus itu, mereka harus kembali ke tanah air.  

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Syuriyah PBNU Hadiri Perpisahan Kelas Internasional STAINU di Rabat

Perpisahan program tersebut digelar di Griya Mahasiswa Kenitra pada Kamis malam 11 Desember 2014. Pada kesempatan itu, hadir Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyub, H. Husnul Amal Mas’ud dan Prabowo Wiratmoko Jati mewakili Dewan Mustasyar PCINU. Hadir pula perwakilan KBRI, anggota PPI Maroko serta beberapa warga Maroko.

Kia Mujib yang juga Ketua Badan Pengawas Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa Maroko merupakan salah satu pusat keilmuan Islam. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya literatur- keislaman.

Bupati Tegal

Di negara Maroko pula, tambah dia, tempat lahirnya para cendekiawan islam yang menyebarkan Islam hingga ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. “Di Indonesia ada beberapa kuburan yang tidak diketahui identitas jelasnya. Tetapi di nama-nama, di batu nisannya bertuliskan maghribi yang berarti berasal dari Maroko”.

Bupati Tegal

Ia berpandangan, tidak menutup kemungkinan, corak keislaman Indonesia memang sebagian dibawa oleh ulama Maroko.

Ketua rombongan mahasiswa STAINU Ooz Fauzi menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dan melancarkan kegiatan tersebut.

Ia mengutip adagium yang sudah masyhur di Maroko “idza kunta fil maghrib fala tastaghrib”. Apabila kamu berada di maghrib (Maroko) maka janganlah kamu terheran-heran (dengan apa yang terjadi di sini). “Seyogyanya kita (kawan-kawan STAINU) agar mengambil segala hal yang baik dari Maroko dan membuang hal-hal yang tidak baik dari sini,” ujarnya.

Sementara Abdul Karim Jariri, ustadz di Maroko, menutup doa perpishan itu. Ia mengaku senang berinteraksi dengan para mahasiswa yang belajar di Maroko. (Fairuz Ainun Naim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Aswaja, Ubudiyah, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi

Batang, Bupati Tegal. Menyambut Harlah Gerakan Pemuda Ansor ke-81 Tahun 2015, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Batang menyelenggarakan kegiatan Apel Banser. Kegiatan yang dilaksanakan di Tanah Wakaf Warga NU Batang di Desa Clapar Kecamatan Subah tersebut diikuti oleh jajaran pengurus Ansor dan ribuan anggota banser serta 200 anggota Fatayat Serbaguna (Fatser).

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Apel Ribuan Anggota Banser Batang Diwarnai Sejumlah Atraksi

Hadir dalam acara yang digelar akhir pekan (9/5) tersebut Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Kholil, Kasatkornas Banser Alfa Isnaeni, PW GP Ansor Jateng beserta Kasatkorwil, Jajaran Muspida dan Muspika se-Kabupaten Batang, anggota DPRD, pengurus PCNU Batang, perwakilan Badan Otonom dan Lembaga NU, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta berbagai tamu undangan lainnya. Bertugas sebagai pimpinan apel, sahabat Casmito dari Satkoryon Banser Gringsing.

Menurut penuturan ketua panitia penyelenggara, Mahfud Syaefudin, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan harlah yang keempat. Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut menyukseskan kegiatan tersebut, khususnya kepada ribuan anggota Banser yang nampak begitu kompak.

Bupati Tegal

Ketua GP. Ansor Kabupaten Batang, Umar Abdul Jabar dalam sambutannya menyampaikan bahwa Banser merupakan garda depan sekaligus benteng ulama dan umaro. Maka menjaga Pancasila dan keutuhan NKRI adalah harga mati. Karena itulah mental dan fisik harus disiapkan, terlebih dengan maraknya gerakan ISIS saat ini.

Bupati Tegal

Berbagai atraksi juga disuguhkan dalam kegiatan ini. Di antaranya adalah unjuk kekebalan tubuh, seni beladiri, berkendara dengan tutup kepala, Parkour dan Capuera yang merupakan olahraga tren budaya Brasil juga tampak apik ditampilkan oleh sahabat-sahabat Banser.

“Dalam acara ini sekaligus pemberian hadiah pada lomba voli, Simtuddurar dan akreditasi antar PAC,” imbuhnya.

Kasatkornas Banser, Sahabat Alfa Isnaeni dalam paparannya menyampaikan bahwa sahabat-sahabat Banser tidak perlu minder karena kesan kampungan dan lain sebagainya yang menyudutkan. Perlu diketahui bersama bahwa saat ini banyak dari kalangan Pejabat, Pengusaha, Anggota legislatif, Anggota TNI/Polri ikut menjadi Anggota Ansor dan Banser.

Rais Syuriah PCNU Batang, KH Abdul Manap juga mengimbau bahwa Banser harus menggandeng TNI dan Polri untuk bersama-sama menjaga keutuhan NKRI. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pendidikan, Nusantara, Ubudiyah Bupati Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Bupati Tegal. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Amalan Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Pelajar NU Kecamatan Banyuwangi Silaturahim untuk Sosialisasi Organisasi

Banyuwangi,Bupati Tegal

Ketua Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi M. Sholeh Kurniawan dan ketua PAC Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulam (IPPNU) Kecamatan Banyuwangi Fitriyah mengunjungi Masjid Nur Yasin Fatimah di Jalan Nuri, Pakis, Rabu, (7/12). Kedatangan mereka ini dalam rangka silaturahim dan mensosialisasikan organisasi pelajar NU.

Sebelum sosialisasi, mereka mengawali dengan shalat maghrib berjamaah di masjid. Usai shalat, Sholeh dan Fitri langsung mengajak pemuda pemudi untuk memasuki ruangan yang disediakan tamir.

Pelajar NU Kecamatan Banyuwangi Silaturahim untuk Sosialisasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kecamatan Banyuwangi Silaturahim untuk Sosialisasi Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kecamatan Banyuwangi Silaturahim untuk Sosialisasi Organisasi

Kedatangan mereka disambut antusias pemuda pemudi Pakis hingga puluhan mata terfokus dengan kehadiran pengurus PAC IPNU dan IPPNU Banyuwangi. Diawali dengan Sholeh mengenalkan diri di hadapan puluhan kader-kadernya.

Bupati Tegal

Dalam sambutannya, Sholeh mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pembina PAC IPNU Banyuwangi periode 2011-2013 Imron Rosyadi.

"Pentingnya terus sambung komunikasi, keterlibatan, bimbingan, dan kepedulian antara senior dengan juniornya sangat dibutuhkan. Hal ini saya merasa bangga karena dengan keterlibatan senior mempermudahkan gerak kelanjutan roda kaderisasi setiap periode di Ranting Pakis khususnya," ungkap Sholeh, pelajar asal Karangrejo melalui siaran pers Kamis (8/12).

Bupati Tegal

Ia menegaskan penyebab utama terjadi kemandegan roda kaderisasi salah satunya adalah putusnya silaturahim dan terhentinya bimbingan antara senior dan juniornya.

"Hal ini banyak terjadi di setiap ranah organisasi. Merasa senior memiliki kedudukan dan penghasilan yang mapan, mereka lupa dengan gerakan kaderisasinya. Tak pelak, kaderisasi di setiap elemen terhenti," pungkas pemuda berkacamata.

Di lain itu, ketua PAC IPPNU Fitriyah menegaskan, kami sebagai pengurus inti pimpinan anak cabang akan bertekad fokus untuk perawatan kader.

"Selama ini seringkali setelah kita mengadakan beberapa sosialisasi, kader langsung ditinggal. Pengurus di atasnya malas mengadakan turun ke bawah untuk memantau dan merawat dengan kader-kader barunya. Akhirnya putaran jalannya roda kaderisasi terseok-seok," papar Fitriyah di hadapan puluhan kader-kader barunya.

Ia bertekad untuk terus mengawal dan mengembangkan potensi minat bakat yang dimiliki kader-kadernya. Tak ketinggalan usai pelaksanaan Makesta nanti, dia bertekad mengawal administrasi Surat Keputusan (SK) sebagai legalitas perjuangan mereka di IPNU dan IPPNU.

Sebelum acara berakhir, atas nama pembina Imron Rosyadi, memberikan motivasi dengan beberapa contoh figur publik yang telah sukses karir dan bisnisnya berawal mereka menjalani proses di IPNU dan IPPNU ketika masih muda.

"Jangan ragu! ketika kalian berproses di IPNU dan IPPNU semua pasti memberikan keberkahan. Pasti!" tegas pemuda yang saat ini bertugas di salah satu bank ternama. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, News Bupati Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan mengusir penjajah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia dengan perjuangan yang menguras keringat, darah, dan nyawa. Hembusan angin segar kemerdekaan beberapa kali didapat bangsa Indonesia kala Jepang kalah perang dan menyerah kepada pasukan sekutu.

Namun, bangsa Indonesia, khususnya para kiai pesantren penggerak kemerdekaan seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tidak mau terbuai dengan janji kemerdekaan yang sempat dilontarkan pihak Jepang. Baginya, hal itu menjadi satu bagian diplomasi setelah sekian lama bangsa Indonesia hidup dalam kungkungan penjajahan.

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta anaknya KH Abdul Wahid Hasyim dan para ulama pesantren tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menanamkan cinta tanah air dan spirit nasionalisme yang tinggi. Sebab itu, setelah Kiai Hasyim ditunjuk oleh Jepang untuk memimpin Kantor Jawatan Agama (Shumubu, Kementerian Agama, red)) yang dijalankan oleh Kiai Wahid Hasyim, mereka berupaya mendirikan Kantor Jawatan Agama yang berlokasi di daerah-daerah (Shumuka) yang dipimpin oleh seorang Shumuka-cho.

Visi Kiai Wahid Hasyim tidak lain untuk memperkuat konsolidasi urusan-urusan agama di daerah untuk keperluan perjuangan bangsa Indonesia secara umum. Sebelumnya, Kiai Wahid memang melakukan diplomasi dengan Jepang untuk mendirikan Shumuka meskipun pada awalnya berdiri di Jawa dan Madura.

Setelah potensi umat Islam terbina dengan baik melalui jalur Masyumi, Hizbullah, Shumubu, dan Shumuka, Kiai Wahid Hasyim kembali memusatkan perhatiannya pada janji kemerdekaan yang dipidatokan oleh Perdana Menteri Jepang Kunaiki Koiso pada 7 September 1944. (Choirul Anam, 2010)

Bupati Tegal

Janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini. Sampai pada 3 Oktober 1944, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang juga ketika itu menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944. 

Setelah rapat mempelajari sedalam-dalamnya tentang kemerdekaan Indonesia, maka diputuskan untuk menyampaikan sikap Masyumi kepada bala tentara Jepang sebagai berikut:

Bupati Tegal

a) Menyiapkan umat Islam Indonesia supaya cakap dan cukup menerima kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; b) menggiatkan segenap tenaga umat Islam Indonesia guna mempercepat kemenangan akhir guna menolak tiap-tiap rintangan dan serangan musuh yang dapat mngurungkan datangnya kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; c) berjuang luhur bersama-sama, lebur bersama-sama dengan Dai Nippon di dalam jalan Allah untuk membinasakan musuh yang dzalim; d) menyampaikan keputusan tersebut pada: 1) Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon; dan 2) rakyat (umat Islam) Indonesia.

Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso. Adapun balasan kawat tindasan sebagai ucapan terima kasih dari KH Hasyim Asy’ari adalah sebagai berikut:

Muhammad Al-Amin Al-Husaini Jerman dengan antara Perdana Menteri Kunaiki Koiso di Tokyo atas perhatian tuan dan seluruh alam Islami tentang janji Indonesia merdeka koma Majelis Syuro Muslimin Indonesia koma atas nama kaum Muslimin se-Indonesia koma menyatakan terima kash titik.





Asyukru walhamdulillah





Guna kepentingan Islam lebih perhebatkan perjuangan koma disamping Dai Nippon sampai kemenangan akhir tercapai koma moga-moga pula perjuangan tuan untuk kemerdekaan negeri Palestina dan negeri-negeri Arab lainnya tercapai titik





Majelis Syura Muslimin Indonesia





Hasyim Asy’ari

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, AlaNu Bupati Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Atasi Kerawanan Sosial, Banser Jakbar dan Polri Siap Sinergi

Jakbar, Bupati Tegal - Tingkat kerawanan sosial di Jakarta Barat cukup tinggi terutama yang terkait dengan generasi muda. Banser Jakarta Barat siap bersinergi dengan aparat kepolisian untuk mengatasi masalah tersebut.

Demikian pernyataan Kepala Satuan Koordinasi cabang (Satkorcab) Banser Jakarta Barat Nurhamim pada acara Diklat Terpadu Dasar (DTD) Banser Jakarta Barat di SMK Pariwisata Kembangan Jakarta Barat (8-10/9).

Atasi Kerawanan Sosial, Banser Jakbar dan Polri Siap Sinergi (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Kerawanan Sosial, Banser Jakbar dan Polri Siap Sinergi (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Kerawanan Sosial, Banser Jakbar dan Polri Siap Sinergi

Pada kesempatan DTD ini hadir Kasat Intel Polres Jakarta Barat Museni yang mempresentasikan titik kerwanan sosial di Jakarta khususnya Jakarta Barat yang melibatkan generasi muda.

Bupati Tegal

“Banyak anak muda nongkrong tidak jelas tujuannya terlibat tawuran, balapan liar, narkoba dan lain-lain di beberapa titik di Jakbar, terutama malam Ahad. Ini menjadi keprihatinan kita serta membutuhkan partisipasi dan dukungan dari masyarakat untuk mengatasinya termasuk Ansor dan Banser,” kata Museni.

Merespon Kasat Intel Polres Jakbar ini, Ketua GP Ansor Jakbar Al-Fany menyatakan Ansor Jakbar siap bersinergi dengan Polres Jakbar untuk mengatasi masalah-masalah sosial di generasi muda.

Bupati Tegal

“Fokus gerakan Ansor memang pada generasi muda usia 20-40 tahun, karena saat ini Indonesia alami bonus demografi yaitu banyaknya jumlah usia 20-40 tahun yang sesungguhnya merupakan usia produktif. Oleh karena itu, Ansor Jakbar benyak melakukan aktivitas yang melibatkan generasi muda seperti pelatihan kewirausahaan, ziarah ke makam ulama, pengajian Rijalul Ansor, dan lain sebagainya,” kata Alfanny.

DTD Banser Jakbar yang diikuti 60-an peserta juga diikuti belasan satpam dan mahasiswa yang diutus Universitas Indonesia (UI) sebagai bagian dari upaya UI memberikan pengetahuan deteksi dini radikalisme kepada para satpam dan mahasiswa UI.

Ketua Panitia DTD Suheri mengucapkan terima kasih kepada pihak Pembinaan Lingkungan Kampus (UPT PLK) UI yang telah mempercayakan anggotanya untuk dilatih di DTD Banser Jakbar.

DTD Banser Jakbar di SMK Primawisata Kembangan kali ini dihadiri sejumlah instruktur dan narasumber antara lain Ketua PCNU Jakbar KH Fahrurozi, mantan Satkorwil  Banser DKI Jakarta Avianto Muhtadi, mantan Wakil  Ketua GP Ansor DKI Yusuf Kosim, Indra, dan Ibu Vera yang memberikan motivasi kewirausahaan, serta sejumlah pengurus GP Ansor DKI yang ditutup oleh Kapolsek Kembangan Kompol Supriadi yang menjadi inspektur upacara penutupan DTD Banser Jakbar. (Nahraji Zen/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Pertandingan Bupati Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Jakarta, Bupati Tegal?

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiul Awwal diperingati umat Islam Indonesia dan di negara-negara lain. Istilah kegiatan tersebut, sebagian orang menyebutnya “maulid”. Sebagian lagi “maulud”. Maulid nabi atau maulud nabi? Mana yang benar?

“Dua-duanya benar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu malam (3/12).?

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Menurut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, berarti yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud berarti isim maf’ul. Dengan demikian yang diperingati, dimuliakan adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.?

“Dua-duanya boleh,” ungkapnya lagi.?

Sampai berita ini ditulis ceramah Kiai Said masih berlangsung di hadapan hadirin yang memenuhi halaman dan masjid An-Nahdlah. Hadir pada kesempatan tersebut Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman, Katib Syuriyah KH Nurul Yaqin Ishaq danH Sa’dullah Affandy, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh dan H Andi Najmi, Ketua LD PBNU KH Maman Imanul Haq Faqih, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Nahdlatul, Ubudiyah Bupati Tegal

Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Sidoarjo Bupati Tegal. Sebagai proses pengkaderan sebelum terjun ke masyarakat, para santri di pesantren mengkaji referensi literatur kutubus salaf dalam forum Bahtsul Masail. Seperti halnya yang dilakukan oleh santri aliyah kompleks Dar Assaadah di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Mereka membahas persoalan 9 patung manusia di sebelah Timur alun-alun Sidoarjo yang diturunkan beberapa pekan lalu karena karena dianggap berhala oleh sejumlah ormas. “Kami sengaja mengaji secara selektif tentang patung tersebut, karena beberapa waktu lalu masyarakat Sidoarjo diramaikan dengan pro dan kontra terhadap patung Jayandaru yang diletakkan di Alun-alun Sidoarjo itu," ucap ketua panitia Rahmat Hidayat, Kamis (11/3).

Ia menambahkan, dari hasil bahtsul masail ini, selanjutnya akan dikaji kembali secara objektif dan akan diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo dengan tujuan meminta agar MUI Sidoarjo mengeluarkan fatwa haram terhadap patung, khususnya yang berada di Sidoarjo.

Bupati Tegal

Forum itu semakin ramai dengan komentar para musyawirin yang pro dan kontra terhadap keputusan dewan Muharrir yang dalam hal ini dihadiri Ketua Islamadina Sidoarjo Agus Lukman Hakim, Ketua STIQ Al Khoziny Syu’aib Nur Ali, dan ustadz senior Ach Shodiq Firdaus, serta perwakilan dari ulama Sidoarjo yang menentang adanya patung itu, KH Moh Nurul Huda Nawawi.

Bupati Tegal

Sebagian santri berpendapat, ketika patung itu mengandung unsur pembelajaran, maka tidak apa-apa dibangun. Ada pula santri yang berpandangan tentang penghargaan yang menjadi ikon kota. Sebagian lain menawarkan jawaban, apabila patung tersebut tanpa kepala, maka tidak apa-apa dengan alasan patung yang diharamkan itu ketika ada kepalanya.

“Apabila patung ini diarahkan terhadap sebuah Ikon kota, mengapa tidak membuat sebuah Ikon yang melambangkan Sidoarjo sebagi kota santri, seperti membuat miniatur yang berkhazanah islami," kata Agus Lukman Hakim mengomentari pendapat dari para musyawirin yang kontra terhadap keputusan sementara yang diambil.

Ach Shodiq Firdaus pun menambahkan, dari beberapa jawaban yang ada, yang menarik adalah ketika dalam pembentukan patung mengandung unsur littarbiyah (pembelajaran). Namun itu juga harus ada kajian lanjutan, apakah setiap patung ada unsur pembelajarannya?

Akhirnya, dari beberapa jawaban yang ada dikembalikan kepada dewan mushohih yang dalam hal ini dihadiri oleh KH Moh Nurul Huda Nawawi. Ia menegaskan, apapun alasannya, patung yang berada harus dihancurkan. Terlebih yang berada di Sidoarjo.

"Dari semua pendapat kebanyakan ulama mengatakan, haram menggambar sesuatu yang mempunyai ruh, seperti hewan dan manusia. Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo, serta Bupati Sidoarjo untuk segera memberantas patung yang berada di Sidoarjo," tegasnya.

Terkait permintaaan MUI Sidoarjo yang diminta mengeluarkan fatwa haram, Kiai Huda mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil dari keputusan musyawarah para ulama se-Sidoarjo. Dan tentunya akan segera mengeluarkan fatwa haram terhadap patung yang berada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Ubudiyah, PonPes Bupati Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

Jakarta, Bupati Tegal. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, Senin (10/8) dalam jumpa pers di kantornya menuturkan, bahwa pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah mempunyai peran yang sangat signifikan. Karena pengajaran agama tersebut turut menanamkan karakter kepada diri siswa.

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI Nasional, Kemenag Canangkan Islam Damai di Sekolah

“Bayangkan jika sekitar 50 juta siswa yang sedang belajar di madrasah dan sekolah ini pendidikan agamanya bersifat radikal, tentu negara ini akan mengalami kekacauan,” ujarnya di ruang jumpa pers, Kantor Kemenag lantai 7 Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Oleh sebab itu, menurutnya, pengajaran dan pendidikan Islam di sekolah harus dikemas semenarik mungkin agar peserta didik termotivasi untuk mendalami agama Islam yang baik dan benar.

Bupati Tegal

Kamaruddin menambahkan, bahwa salah satu instrumen untuk membangkitkan motivasi belajar peserta didik terhadap agama Islam, yaitu dengan menyelenggarakan Pentas PAI. Pentas ini tidak hanya mengakomodasi keterampilan seni siswa, tetapi juga mengolah pemahaman mereka selama di sekolah dengan lomba seperti cerdas cermat, pidato, debat, dan lain-lain.

Bupati Tegal

“Dari kegiatan tersebut , nanti akan terlihat seperti apa pemahaman agama yang dimiliki oleh peserta didik. Media ini juga sebagai sarana peserta didik untuk mengaktualisasikan kemampuannya dari sisi seni pendidikan Islam, seperti lomba kaligrafi, nasyid, tahfidz Qur’an, lomba kreasi busana, dan lain-lain,” paparnya.

Lebih jauh, Kamaruddin menjelaskan, potensi radikalisme di setiap sekolah pasti ada. Sebab itu, pendidikan dan pengajaran agama Islam yang menarik menjadi upaya yang penting untuk menanamkan pemahaman Islam yang damai.?

“Pendidikan Islam damai harus terus menerus kita ajarkan dan tanamkan kepada peserta didik, yaitu Islam yang berusaha menghargai dan menyadarkan kita sebagai warga negara,” terangnya.

Lomba Pentas PAI Nasional VII yang akan berlangsung 10-14 Agustus 2015 di Asrama Haji Embarkasi Bekasi ini akan diikuti oleh 1000 peserta hasil seleksi tingkat nasional yang terdiri dari siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari 33 Provinsi.

Adapun jenis mata lomba yang dikompetisikan adalah Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI (LPP), Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP), Lomba Kaligrafi Islam (LKI), Lomba Seni Nasyid (LSN), Lomba Debat PAI (LDP), dan Lomba Kreasi Busana (LKB).

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, Dr Amin Haedari menyatakan, bahwa kepada para siswa yang juara pada kompetisi ini akan diganjar dengan hadiah yang sangat menarik. “Kepada para juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III, Kemenag telah menyiapkan hadiah dan pengahargaan yang diharapkan dapat memotivasi mereka untuk terus meningkatkan minat, bakat, dan keterampilan mereka di bidang agama Islam,” ucap Amin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Fragmen, Nasional Bupati Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Tokoh Agama Ajak Sukseskan Pergantian Kekuasaan

Jakarta, Bupati Tegal. Para tokoh agama mengajak seluruh bangsa, terutama para penyelenggara negara, utamanya lagi penanggung jawab penyelenggaraan negara untuk menjaga suksesnya pergantian kekuasaan karena keselamatan suksesi ini bukan hanya menyangkut mereka yang bersaing dalam pilpres, tetapi juga keselamatan harga diri bangsa secara nasional.

Tokoh Agama Ajak Sukseskan Pergantian Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Agama Ajak Sukseskan Pergantian Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Agama Ajak Sukseskan Pergantian Kekuasaan

Demikian dikatakan oleh mantan ketua umum PBNU KH Hasyim Muzadi usai silaturrahim tokoh nasional lintas agama di Jakarta, Selasa (13/10). Hadir pada acara tersebut mantan ketua MK Jimly Assiddiqie, mantan wapres Try Sutrisno, mantan ketua MPR Sidarto Danusubroto tokoh agama Hindu Pedande Made Gunung, Romo Martinus D Situmorang, Pdt Andreas Y Wangoe, Sri Edi Swasono, dan lainnya.

Hasyim juga menghimbau kepada masyarakat, supaya polarisasi dihilangkan dari pendukung salah satu dari kedua kompetitor yang bertarung dalam pilpres. 

Bupati Tegal

“Pilpres selesai, maka masyarakat harus disatukan kembali, dan kita harapkan agar elit politik tidak mendorong terjadinya polarisasi dalam masyarakat itu, karena biasanya, sumber polarisasi tidak dari bawah, tetapi dari atas,” tandasnya.

Ia berharap pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat diberi kesempatan untuk menata keahliannya mewujudkan program-program yang telah dijanjikan. 

Bupati Tegal

Check and balance merupakan bagian dari demokrasi, janganlah demokrasi digunakan untuk perpecahan,” tandasnya.

Mantan wapres Try Sutrisno mengajak bangsa Indonesia untuk tetap komit dengan Pancasila yang merupakan dasar negara sekaligus jadi filosofi bangsa. “Insyaallah kalau kita pegang teguh kelima sila Pancasila ini, kita akan mampu menghadapi berbagai godaan dan tarikan gaya yang sentripetal, kita menginginkan gaya yang sentrigufal, gaya yang mempersatukan,” paparnya. 

Pedande Made Gunung, mengajak masyarakat mengajak semua masyarakat untuk tetap tenang dan tentram sehingga dapat bekerja sesuai dengan perannya masing-masing.

Romo Martinus D Situmorang mengharapkan para elit, para anggota di DPR atau di eksekutif, diilhami oleh tuhan sendiri sehingga selalu yakin bahwa harga diri dan makna, jatidiri sebagai pejabat, hanyalah sejauh mereka mengutamakan dan terus menerus mencari keuntungan dan kebaikan seluruh bangsa ini.

“Kepentingan kita bersama jauh lebih penting daripada kepentingan kelompok,” katanya.

Sementara itu Pdt Andreas Y Wangoe menegaskan bahwa presiden terpilih adalah presiden bersama, bukan presiden golongan A atau B.

“Kita menghimbau masyarakat kita dari rasa balas dendam.”

“Kepada anggota DPR kita, mereka mewakili rakyat, bukan mewakili diri sendiri, ini harus dicamkan, sehingga selama lima tahun di Senayan, mereka sungguh-sungguh mewakili rakyat Indonesia.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Pengurus KMNU UPI Resmi Dilantik

Bandung, Bupati Tegal. Pengurus Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Pendidikan Indonesia atau KMNU UPI periode 2013/2014 resmi dilantik oleh pembina KMNU UPI Achmad Samsudin di Masjid Al-Furqan UPI.

Para pengurus yang dilantik, Selasa (4/4) kemarin merupakan hasil oprec recruitment calon pengurus KMNU UPI 15-23 Maret 2013 dan menindaklanjuti Musyawarah Anggota ke-4 di Madrasah Diniyyah Al Falah, Panorama, Bandung pada Sabtu-Ahad (9-10/3) lalu.

Pengurus KMNU UPI Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus KMNU UPI Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus KMNU UPI Resmi Dilantik

Ketua Umum KMNU UPI Rifa Anggyana mengharapkan pengurus KMNU UPI yang baru bisa lebih baik dan dapat menyusun program kerja sesuai dengan prioritas dan kebutuhan organisasi, juga semua pengurus menandatangi pakta integritas kepengurusan KMNU UPI periode 2013/2014 dengan tujuan untuk menjaga komitmen dan loyalitas terhadap KMNU UPI.

Bupati Tegal

Dalam sambutanya, pembina KMNU UPI Achmad Samsudin berharap pengurus baru akan memicu semangat baru bagi pengurus KMNU UPI.

Turut hadir dalam pelantikan, pembina KMNU UPI Azzi Hasan, Asep Jamaludin, Ketua Pengawas KMNU UPI Topikin Abdullah, Ketua Umum KMNU UPI periode 2012/2013 Faisal Ramdan dan warga KMNU UPI.

Bupati Tegal

Para pengurus baru dalam kesempatan itu juga menandatangani “Pakta Integritas Kepengurusan KMNU UPI Periode 2013/2014”

Redaktur : A. Khoirul Anam

Sumber    : KMNU UPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Meme Islam Bupati Tegal

Senin, 18 Desember 2017

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir

Gorontalo, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Gorontalo bersama Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Gorontalo dan Banser menyambangi korban banjir di Kabupaten Gorontalo, Senin (31/10). Aksi Sosial itu dipimpin Sekretaris Wilayah PWNU Gorontalo Arianto Mopangga.

Pada kesempatan itu keluarga besar NU Gorontalo menyerahakan beras sejumlah 2 ton, pakaian layak pakai, serta makanan cepat saji (mie instant). Sumbangan diterima beberapa Kepala Desa yaitu desa Motoduto, Boliyohuto, Totopo, Juria, dan Bilato di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo.

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Banom Gorontalo Bantu Korban Banjir

Arianto mengatakan, banjir yang melanda Kabupaten Gorontalo menenggelamkan ratusan rumah dari ribuan warga mengungsi. Hal ini tentu menjadi perhatian semua elemen masyarakat, termasuk Nahdlatul Ulama Gorontalo.

Bupati Tegal

Selain ikut perihatin dengan musibah yang melanda, dan? memberikan bantuan NU dan Banom turut melihat langsung area terjadinya bencana tersebut dan berbincang dengan warga yang menjadi korban,

Bupati Tegal

“Kami turut merasakan dan memberikan semangat agar tetap tegar dalam menghadapi musibah. Serta terus sabar dan istiqomah menerima segala bentuk musibah yang terjadi,” ungkap Ariyanto kepada puluhan korban banjir.

Sementara itu para korban berterima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam memberikan bantuan baik moril maupun materil.

Hal senada juga diungkapkan Satkorwil Banser gorontalo Risan Pakaya. “Musibah ini tentu tidak diminta oleh kita manusia, namun apalah daya telah terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah membantu sebisa mungkin kepada korban dan ikut terlibat dalam membenahi lokasi kediaman masyarakat,” pungkasnya. (Djemy Radji/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Ubudiyah, Khutbah Bupati Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Kiai Chusnun: Aktivis IPNU-IPPNU Harus Ikhlas

Kudus, Bupati Tegal. Ketua PCNU Kudus KH Chusnan Ms membuka secara resmi kegiatan Latihan Kader  utama  (Lakut) yang diadakan Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU setempat di Taman Sardi Dawe, Jum’at (8/2) kemarin. 

Kiai Chusnun: Aktivis IPNU-IPPNU Harus Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Chusnun: Aktivis IPNU-IPPNU Harus Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Chusnun: Aktivis IPNU-IPPNU Harus Ikhlas

Dalam sambutannya, Kiai Chusnan Ms mengatakan kader IPNU-IPPNU  harus memiliki  modal keikhlasan, kekuatan, Keyakinan dan komitmen. 

“Modal tersebut untuk menjaga jati diri kader yang istiqomah dalam wadah NU serta menopang keberlangsungan organisasi,” ujarnya di depan 40 peserta Lakut.

Bupati Tegal

Ia menjelaskan seorang kader harus memiliki keikhlasan berbuat dan berjuang sehingga tindakan maupun perjuangan akan membawa keberkahan dan kemanfaatan.  

“Menjadi kader harus memiliki niat ikhlas. Tanpa adanya keikhlasan perjuangan  kita tidak akan memperoleh  hasil apa-apa,” tandasnya.

Bupati Tegal

Ia mengharapkan kader  NU  harus  mempunyai kekuatan keimanan, amaliah, aqidah dan moral serta  fisik yang kokoh.  Kebebasan yang  dimiliki, lanjut KH.Chusnan,  setiap kader harus terbingkai ala Aswaja sehingga kekuatan keimanan dan keubudiyahan  menyatu dengan kepribadian. 

“Tentunya iman di sini tidak sekedar dari hasil prestasi tapi dibuktikan pada sebuah prilaku," tegasnya.

Ditegaskan lagi, setiap kader harus memiliki keyakinan apa yang diperjuangkan itu benar. Sehingga  tidak tercipta keraguan dalam berjuang pada wadah organisasi di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

“Begitu juga ,kader harus komitmen sekali NU tetap NU. Jangan sampai kader NU tergoda masuk pada organisasi yang tidak sejalan dengan Aswaja dan NU,” pinta Kiai Chusnan.

Di akhir sambutan, ia mengapresiasi pelaksanaan Latihan kader Utama ini. Kiai Chusnan berharap ilmu yang didapat dari pengkaderan ini diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Sementara itu, ketua PC IPPNU Kudus Risda Utami mengatakan Lakut merupakan jenjang pengkaderan terakhir di IPNU-IPPNU dalam menyiapkan kader-kader untuk menjaga keberlangsungan organisasi.

Lakut yang berlangsung hingga 11 Februari ini, disampaikan beberapa materi motivasi, ideologi  pengembangan skill organisasi, pengembangan wawasan dan pemikiran. Sejumlah pakar dan tokoh  NU menjadi nara sumber dalam acara yang diikuti 40 kader pilihan utusan dari sembilan PAC IPNU-IPPNU se Kudus.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Qomarul Adib
. Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, AlaSantri Bupati Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja!

Sumedang, Bupati Tegal

Ketua Lembaga Talif Wan Nasyr Nahdatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Sumedang Ayi Abdul Kohar mengatakan, warga NU harus cerdas menggunakan media sosial. Ia menyerukan untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja!

Hal tersebut disampaikan di hadapan peserta pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LTNNU Sumedang. Pelatihan tersebut bertempat di Aula PCNU Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Kamis (11/5/2017).

Ayi juga menyampaikan bahwa saat ini banyak orang mengenal Islam lewat media sosial. Kalau di media sosialnya banyak unggahan konten bernada keras maka lama-kelamaan orang akan terbawa ke arah sana. Begitu juga sebaliknya, kalau di media soasialnya banyak konten Islam yang ramah, nanti dengan sendirinya akan banyak orang mengenal Islam yang ramah.

Bupati Tegal

Warga NU harus mempunyai peran dalam memperkenalkan Islam yang ramah di media sosial. Makanya warga NU dan ulama NU harus didorong supaya mempunyai akun media sosial, kata Ayi.

“Marilah cerdas dalam bermedsos. Perbanyaklah postingan yang baik dalam medsos. Gunakan medsos sebagai sarana untuk menyebarkan islam yang baik dan ramah,” tutup Ayi. (Ahmad Thobiin/Mahbib)

Bupati Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Ubudiyah Bupati Tegal

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta

Jakarta, Bupati Tegal. Politisi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana akhirnya meminta maaf kepada keluarga mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta

Sutan mengutarakan langsung permohonan maaf itu kepada istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah, di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis 29 November 2012.

Sutan mendatangi kediaman keluarga Gus Dur bersama Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum, dan politisi Demokrat, Johny Allen Marbun. Mereka disambut oleh putri Gus Dur, Yenny Wahid, di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian, Sinta Nuriyah muncul.

Bupati Tegal

Melihat Sinta Nuriyah datang, Sutan Bhatoegana buru-buru menghampirinya. Sutan pun menjabat dan mencium tangan mantan ibu negara itu. "Terima kasih banyak (atas pemberian maafnya)," kata Sutan. 

Mereka kemudian berbincang-bincang di ruangan itu. Tentu saja, polemik seputar pernyataan Sutan yang dinilai melecehkan Gus Dur menjadi topik hangat dalam perbincangan itu. 

Bupati Tegal

Sutan menuturkan, polemik ini tidak hanya berimbas pada dirinya, tapi juga Partai Demokrat. "Justru mengenaskan, Demokrat terdampak. Ada orang duduk-duduk di Cirebon di kejar-kejar," katanya.

Sementara itu, Anas Urbaningrum, menyampaikan rasa syukurnya karena permohonan maaf ini telah berlangsung. Dia berharap polemik pernyataan Sutan tersebut dapat selesai dengan baik. "Alhamdulillah, saya juga lega, Pak Sutan menyampaikan permohonan maaf," kata Anas.

Anas mengklaim, dirinya dan Yenny Wahid merupakan penghubung untuk menyelesaikan masalah Sutan ini. "Saya dan Mbak Yenny adalah perantara," jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Sinta Nuriyah memberikan nasihat pada pimpinan Partai Demokrat, khususnya untuk Sutan. Isinya, bagaimana harus bersikap baik. "Ini sebagai pelajaran, sebagai pemimpin harus bertindak arif dan bijaksana. Kalau jadi pemimpin jangan mudah tersulut emosi, kalau emosi yang nggak-nggak ke luar," ucapnya.

Sebelumnya, pernyataan Sutan memantik protes dari sejumlah elemen, terutama dari Nahdlatul Ulama. Sutan diduga menyebut Gus Dur diturunkan karena kasus Buloggate dan Bruneigate. Dia pun sudah membantah melakukan pelecehan itu. 

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber   : Vivanews

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Amalan Bupati Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Sekolah Perdamaian Gus Dur Berupaya Cetak Para Agen Perdamaian

Bogor, Bupati Tegal. The Wahid Institute kembali menggelar Sekolah Perdamaian Gus Dur. Kegiatan yang sudah berlangsung 3 tahap ini diikuti oleh 15 peserta dari berbagai organisasi kepemudaan di wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, Rabu-Jumat (18-20/5) lalu di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Peserta di tahap ketiga ini merupakan hasil seleksi dari Sekolah Perdamaian Gus Dur tahap 1 dan 2 yang telah dilaksanakan di tahun lalu.?

Kepala Sekolah Perdamaian Gus Dur tahap ketiga, Gamal berharap bahwa peserta yang telah melalui dua tahapan seleksi ini bisa menjadi kunci dari agen perdamaian di daerah dan wilayah masing-masing yang rentan soal konflik sosial dan keagamaan.?

Sekolah Perdamaian Gus Dur Berupaya Cetak Para Agen Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Perdamaian Gus Dur Berupaya Cetak Para Agen Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Perdamaian Gus Dur Berupaya Cetak Para Agen Perdamaian

Di hari pertama, Gamal membekali peserta ? dengan materi rencana peliputan. Dimana peserta ditugasi membuat proposal liputan yang mendalam dan detail termasuk merinci waktu yang dibutuhkan untuk melakukan peliputan di lapangan nantinya. Gamal juga membeberkan tujuan diadakannya kegiatan ini.?

“Sebenarnya Gus Dur School for Peace 3 dan yang sebelumnya itu satu kesatuan, ini tahap terakhir memberikan teori-teori yang dibutuhkan peneliti untuk turun kelapangan nanti,” ujar Gamal. Jadi materi yang diberikan juga berurutan mulai dari mencari data dengan peliputan, konten damai, strategi advokasi damai, hingga meresolusi konflik.?

Dalam materi Creative Fund Raising and Proposal, pemateri lain Taufik Renaldi menekankan pentingnya untuk percaya kepada ide sendiri. “Tidak ada ide yang sia-sia, yang terpenting kepercayaan dari diri kita sendiri bahwa ide kita bagus. Yang sering terjadi adalah ketidakpercayaan kita yang menjadi mental block untuk merealisasikan ide tersebut,” kata Taufik.?

Bupati Tegal

Tak luput pula Taufik menambahkan bahwa yang terpenting dari pengajuan proposal adalah ide yang unik, realistis dan bermanfaat untuk masyarakat atau tidak.

Puncaknya, peserta diberi materi mengenai analisa dinamika konflik oleh Pakar Psikologi Perdamaian UI, Ichsan Malik. Ketika terjun kelapangan sebagai peneliti dan menganalisa suatu konflik peserta diharapkan bisa membangun trust building atau membangun kepercayaan masyarakat kepada mereka. Selain itu, sikap atau positioning peneliti juga penting, yaitu ketika mampu memposisikan diri di tengah masyarakat agar proses penyelesaian masalah di dalam konflik bisa tercapai.?

Bupati Tegal

“Peneliti harus mengacu pada prinsip imparsial, ketika diminta menjadi mediator maka harus melepaskan diri dari kasusnya. Kita melihat kasus sebagai penyakit dan tidak boleh double standard, tidak mencampur berbagai hukum seperti hukum agama, nasional dan internasional, tapi harus dipilih salah satunya,” ujar Ichsan ketika salah seorang peserta bertanya mengenai cara untuk menghindari kecenderungan memihak satu kelompok dalam suatu konflik.?

“Dalam menyelesaikan konflik, bekerja sama dalam kelompok adalah mutlak, jadi tidak ada yang namanya superman, tapi superteam,” pungkasnya. (Dwi Niar Damayanti/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ulama, Ubudiyah Bupati Tegal

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

Semarang, Bupati Tegal. Warga masyarakat RW 6 kelurahan Banjardowo, Genuk, Semarang mengelar pengajian dan ritual Nyadran yang sudah menjadi tradisi warga setempat khusunya daerah Tanggulangin Banjardowo. Pengajian dan Nyadran ini berlangsung di area makam Ibrahim Fatah di Tanggulangin, Kamis (29/5) malam.

Menurut Ketua RW 6 Suparjo, kegiatan Nyadran dan pengajian di makam Wali Ibrahim Fatah merupakan progam yang diselenggaakan setiap tahunnya. Dalam setahun ada dua kegiatan besar, haul Ibrahim Fatah yang jatuh setiap bulan Syuro dan ritual Nyadran.

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)
Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran (Sumber Gambar : Nu Online)

Doakan Arwah Wali, Warga Tanggulangin Gelar Tradisi Nyadran

“Pada bulan Rajab ini, ritual itu dimaksudkan untuk mendoakan para arwah wali. Untuk paginya, ritual nyadran diperingati dengan pemotongan kambing dan makan bersama warga,” lanjutnya.

Bupati Tegal

Pengajian ini menghadirkan KH Abdullah Badada dari Semarang sebagai penyampai taushiyah. Kata Kiai Abdullah, “Ada empat bulan utama. Salah satunya bulan Rajab yang mesti dimuliakan dengan banyak belajar sebab sekarang ini banyak akidah tersasar.”

Bupati Tegal

Guru ngaji, sambung Kiai Abdullah, tidak bisa dilihat sekadar dari penampilan fisiknya seperti jenggot dan sorban. Tetapi lebih kepada keluasan ilmu. (Lukni Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Ahlussunnah, Nahdlatul Bupati Tegal

Senin, 04 Desember 2017

NU Jateng: Akan Tumbuh Gus Dur-Gus Dur Lain

Kota Tegal, Bupati Tegal. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Dr H Moh. Adnan MA meminta kepada warga NU tidak perlu gelisah dengan kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pasalnya akan tumbuh Gus Dur-Gus Dur lain yang tetap konsisten memperjuangkan Pluralisme.

“NU memiliki stok yang kelak mempejuangkan pluralisme selain Gus Dur. Insya Allah akan tumbuh Gus Dur-Gus Dur lainnya,” ungkap Moh. Adnan saat melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tegal masa bakti 2008-2013, di Pendopo Ki Gede Sebayu, Kota Tegal, Jawa Tengah Ahad (3/1.)

NU Jateng: Akan Tumbuh Gus Dur-Gus Dur Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jateng: Akan Tumbuh Gus Dur-Gus Dur Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jateng: Akan Tumbuh Gus Dur-Gus Dur Lain

Menurutnya, selama ini banyak orang menilai Gus Dur sinis, karena statemennya yang seringkali menimbulkan kontroversi. Namun itulah kehebatan Gus Dur, seorang tokoh NU dan bapak pluralisme. “Kalau statemennya tidak ada menimbulkan kontroversi, tentunya orang tersebut bukan tokoh, di situlah hebatnya Gus Dur,” ungkap Adnan.

Bupati Tegal

Ditambahkan, Gus Dur adalah pembela semua umat, ia tidak memandang agama maupun golongan. Dengan Islam ahli sunnah waljamaah, Gus Dur disebutkan sebagai ‘Bapak Pluralisme’. Bahkan DPR telah mengusulkan agar Gus Dur menjadi pahlawan nasional. “Sebagai warga NU tentunya kita bangga, mempunyai bapak seperti beliau,” ujarnya.

Bupati Tegal

Adnan menegaskan, apa yang telah dirintis oleh Gus Dur, warga NU harus bisa menarik garis, bahwa yang benar harus ditegakan.

Adnan juga berharap kepada Pengurus NU yang baru dilantik jangan seperti bulan purnama. Artinya, memberi penerangan hanya dalam satu bulan sekali. “Itupun kalau kebetulah suasananya kondusif. Tapi kalau lagi musim hujan, tentu tak kelihatan,” ujarnya berfilosofi yang disambut ger.

Pengasuh Wakil Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PBNU KH Mustofa Aqil Siradj menyampaikan tausiyah. Pengasuh Pondok Pesantren Majelis Tarbiyatul Mubtadi’in, Kempek, Cirebon, Jawa Barat itu memberikan gambaran tentang pentingnya pengabdian tidak setengah-setengah.

Sebagaimana dicontohkan para sahabat Nabi yang dengan ketabahan dan perjuangannya sepenuh hati menjaga Nabi SAW. “Kita pun perlu menjaga ulama dengan selalu dekat dan menjaganya dengan sepenuh hati,” ajaknya.

Ketua panitia, Drs Purwahyo ketika dikonfirmasi terkait keterlambatan pelantikan PCNU Kota Tegal yang sempat molor hingga dua tahun mengatakan, pihaknya tidak tahu karena itu wewenang PBNU yang menandatangani SK. “SK baru turun pada bulan Agustus 2009, Meski sekarang baru dilantik namun pengurus telah bekerja sesuai program-programnya,” terang Purwahyo.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Tegal, Dr H Basukiyatno keterlambatan pelantikan justru membuat matang para pengurus. “Ibarat buah yang masih ranum, agar matang maka disimpan dulu,” ujarnya.

Meski tahapan pemilihan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tegal sudah tersusun lebih kurang dua tahun lalu, tapi kepengurusannya baru dilantik. Barangkali, inilah salah satu keunikan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bernama NU. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pendidikan, Ubudiyah Bupati Tegal

Jumat, 24 November 2017

Muslimat NU Jember Resmi Kelola RS Munaparahita

Jember, Bupati Tegal - Muslimat NU Jember akan melebarkan kontribusinya di bidang layanan kesehatan menyusul diserahkannya pengelolaan rumah sakit (RS) Munaparahita kepada organisasi yang dipimpin Nyai Emi Kusminarni itu. Secara simbolis, penyerahan ini dilakukan oleh Gus Firjoun Barlaman, berupa sertifikat gedung kepada Muslimat NU yang diwakili Emi Kusminarni di kompleks Pesantren Ash-shiddiqi Putra, Talangsari, Kabupaten Jember, Jumat (17/6).

Menurut Emi, hal tersebut merupakan sejarah baru bagi Muslimat NU Jember. "Ini amanah, semoga bermanfaat untuk umat dan kita semua," ujar Emi kepada Bupati Tegal.

Muslimat NU Jember Resmi Kelola RS Munaparahita (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jember Resmi Kelola RS Munaparahita (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Jember Resmi Kelola RS Munaparahita

Sebelumnya, RS Munaparahita dikelola oleh kelompok Talangsari. Dengan segala keterbatasan dana dan daya, pengelolaan Munaparahita berjalan lamban dan tertatih-tatih. Muslimat NU di bawah kepemimpinan Emi Kusminarni mendapat amanah untuk mengelola rumah sakit milik Muslimat NU Jember itu. Dengan demikian, ke depan RS. Munaparahtia secara otonom akan dikelola oleh Muslimat NU.

"Bagi saya, ini Munaparahita era baru. Kami minta dukungan semua pihak agar Munaparahita bisa melayani umat sesuai harapan," ujarnya.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Emi menambahkan, secara administrasi RS Muanaparahita berada di bawah naungan Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Jember. Saat ini pihaknya menjalin kerja sama dengan Stikes dr. Soebandi Jember untuk mensuplay sekaligus meningkatkan pelayanan kepada umat. "Semua kita perbarui, termasuk izin operasional karena ini lama tidak jalan, sehingga mati izinnya," terangnya.

Saat ini RS Munaparahita memiliki 4 perawat dan 1 dokter. Lokasinya cukup stategis, hanya 250 meter ke arah selatan jalan protokol Jember. Tepatnya di jl. Imam Bonjol, Kelurahan Kaliwates. Luas tanahnya mencapai sekitar 4.700 M2. Dengan luas yang demikian, memungkinkan adanya pengembangan sarana? penunjang lainnya. (Aryudi AR/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Warta, Ubudiyah Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Oleh H. Usep Romli HM

DULU, pesantren yang hanya mengajarkan kitab-kitab? klasik -disebut "kitab kuning"- disebut sebagai "pesantren tradisional",? sekarang disebut "pesantren salafiyah". Mungkin agar lebih mentereng,

mengikuti kemajuan zaman.

Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Maka tentu saja, era "tradisional" jauh berbeda dengan era "

salafiyah". Santri-santri pesantren tradisional kurun waktu 20-40 tahun yang

Bupati Tegal

lalu benar-benar tradisional. Berpenampilan khas: sarung, kampret, dan

kopiah beludru hitam. Tidak ada yang coba-coba pakai kopiah putih alias

kopiah haji, atau kopiah model dan potongan lain di luar kopiah beludru

hitam seperti aneka model tutup kepala warna-warni yang banyak dipakai

Bupati Tegal

santri zaman sekarang. Kopiah putih merupakan ciri bagi yang sudah

menunaikan ibadah haji. Kopiah di luar model serta warna beludru hitam

dianggap bukan kopiah santri.

Santri sekarang menamakan tempat tinggal mereka asrama. Kamar

dilengkapi tempat tidur, berkasur, dan berbantal empuk. Santri zaman dulu,

tinggal di kobong. Petak-petak kamar kecil yang merupakan bagian dari

bangunan pondok. Alat tidurnya hanya sehelai tikar pandan. Jarang pakai

bantal. Waktu tidur, kepala sering tanpa ganjal.

Kebutuhan makan harus masak sendiri, sebelum atau seusai

mengaji. Di bagian samping pondok, biasanya disediakan sebuah tempat semacam

dapur yang lazim disebut "tungku".

Alat memasak cukup sebuah kastrol sehingga menuntut ilmu di

pesantren sering diguyonkan menjadi "kastrologi". Sebab menanak nasi liwet

di dalam kastrol merupakan keahlian tersendiri para santri. Lauknya cukup

(kalau ada) sepotong ikan peda beureum. Tak pernah digoreng (karena tak ada

minyak kelapa) atau dibakar (takut gosong). Cukup dimasukkan ke atas nasi

liwet yang airnya baru surut. Oleh karena itu, menanak nasi liwet di

pesantren sering dijuluki elmu sabuku curuk ditumpangan peda beureum.

Keahlian lain dalam hal urusan perliwetan ini, para santri mampu

membuat kerak tsani. Kerak dua lapis, atas dan bawah. Ini dilakukan apabila

persediaan beras sudah amat menipis, sedangkan kiriman dari orang tua belum

datang. Perut diisi kerak cukup tahan lama menghadapi lapar. Keripik

singkong atau jarangking yang juga keras-keras mirip kerak, biasa menjadi

bekal cadangan para santri karena punya kemampuan mengenyangkan perut.

Santri abad Milenium tentu akan tertawa geli mendengar informasi

semacam itu. Mereka beruntung menjadi santri "salafiyah" yang sudah mengenal

makanan ransuman, indekos atau beli sendiri. Di saku mereka tersedia kartu

ATM yang dapat digunakan setiap saat, apabila kiriman bekal dari rumah

terlambat. Santri "tradisional" 20-40 tahun yang lalu, boro-boro punya ATM.

Uang recehan di saku juga jarang ada.

Adrahi

Rasa kebersamaan dalam keprihatin di lingkungan pesantren

tradisional benar-benar terjalin kuat. Prinsip ta-awanu alal birri wat taqwa

(kerja sama dalam kebajikan dan takwa) yang merupakan perintah Allah SWT

(Q.S. al Maidah: 2), benar-benar ditaati dan dilaksanakan sehari-hari.

Santri-santri senior, tanpa harus diminta, siap membantu santri-santri

junior. Mereka sigap membantu memperkenalkan cara-cara hidup di pesantren.

Mulai dari memasak, makan, hingga membaca kitab kuning, tanpa melalui

formalitas semacam perpeloncoan atau masa orientasi studi. Semua berjalan

otomatis. Saling bantu membantu, saling memberi motivasi.

Bahkan, praktik makan pun tak terlepas dari rasa kebersamaan.

Empat atau lima santri menggabungkan beras untuk ditanak pada satu kastrol.

Setelah masak dimakan secara berjamaah. Nasi liwet dihamparkan di atas niru

atau daun pisang. Memang ada untung rugi. Santri yang gembul akan menyita

bagian santri yang caman-cemen. Namun Alhamdulillah, semua santri pesantren

tradisional, tak pernah kehilangan nafsu makan. Rata-rata semua gembul,

walaupun lauk nasi cuma ikan peda, cabai rawit, atau garam. Tak pernah

tersisa remah sebutir pun di atas niru atau daun pisang bekas alas nasi.

Sebulan sekali, tiap santri mendapat kesempatan pulang ke rumah

masing-masing, bergiliran. Secara tidak langsung, santri yang pulang

mempunyai kewajiban membawa adrahi (oleh-oleh) jika kembali lagi ke

pesantren. Santri yang tidak membawa adrahi akan mendapat gelar qorun alias

kikir. Suka disindir cap jahe atau buntut kasiran. Sindiran yang menunjukkan

sikap pelit dan tidak mau berbagi.

Adrahi para santri, biasanya dikumpulkan di atas niru. Satu dua

niru penuh aneka macam makanan, yang asin yang manis, yang kering yang

basah. Opak kolontong, ulen, ranginang, sale pisang, goreng jarangking, tape

singkong, bugis, rebus ubi jalar, dan taburan sarundeng, saling campur-baur

satu sama lain. Tidak masalah. Yang penting halal dan enak. Perut santri

sangat mudah berkoalisi dengan makanan apa pun.

Rendah Diri

Waktu itu, jarang santri yang merangkap sambil sekolah sebab? pondok pesantren masih benar-benar mandiri. Bukan lembaga pendidikan? alternatif seperti sekarang. Menjadi santri atau siswa sekolah adalah pilihan pasti. Salah satunya harus dijalani penuh.

Tak heran jika terjadi gap antara pesantren dan sekolah, antara

santri dan pelajar. Banyak santri yang merasa rendah diri jika harus pergi

ke tengah kota. Sebaliknya, tak jarang anak-anak sekolah ngajago di kawasan

pesantren. Kasus semacam ini, sangat plastis dan realistis dikisahkan oleh

Rachmatullah Ading Affandi (RAF) dalam bukunya Dongeng Enteng ti Pasantren.

Pengalaman Kang Ading (panggilan akrab RAF) pada buku itu

terjadi tahun 1940-an. Zaman Jepang, tapi masih relevan dengan kondisi dua

puluh tahun kemudian (tahun 1960-an) tatkala penulis menjadi santri sebuah

pesantren tradisional di Garut.

Untuk menghapus rasa rendah diri di kalangan santri, biasanya

dicarikan kompensasi, pelampiasan. Para santri meyakinkan diri masing-masing

bahwa eksistensi mereka tidak kalah oleh eksistensi para pelajar. Bahkan,

punya banyak kelebihan. Para santri memperlajari ilmu-ilmu dunya wal

akhirat, para pelajar cuma memperlajari ilmu-ilmu dunia saja.

Memang tidak salah. Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat (hukum

Islam) atau fikih, menghapal wirid, doa, dan ilmu-ilmu ukhrowi lainnya, para

santri terjun pula ke bidang-bidang kegiatan duniawi.

Ada yang ikut membantu kiyai memelihara ikan sambil belajar tata

cara mijahkeun (menetaskan telur ikan). Ada yang memelihara kebun tomat,

cabai, dan sayuran. Ada juga yang menjadi tukang cukur dengan mayoritas

langganan para santri, keluarga kyai, dan masyarakat sekitar. Semua

aktivitas itu dilakukan sebelum dan seusai ngaji, atau pada waktu libur

(biasanya hari Kamis dan Jumat). Semua merupakan sambilan saja sebab yang

diutamakan adalah bekal akhirat. Urusan dunia hanya sekedar jangan lupa

saja. Berpedoman kepada firman Allah SWT, Q.S. al Qashash ayat 77 : Wabtagi

fima atakallahud daral akhirata wa la tansa nasibaka minad dunya. Dan sabda

Kangjeng Nabi Muhammad saw.: Imal li dunyaka ka annaka taisyu abada wa mal

li akhiratika ka annaka tamutu ghadda. Carilah kebutuhan duniamu seperti

kamu akan hidup abadi, dan carilah kebutuhan akhiratmu seperti kamu akan

mati besok.

Karena merasa tamutu gadha (akan mati besok), dan perjalanan di

akhirat amat panjang maka mencari bekal ukhrowi menjadi prioritas utama.

Hidup di dunia, amat fana cukup sambilan saja.

Terpadu

Memasuki tahun 1970-an, kondisi mulai berubah. Antara pesantren

dan lembaga pendidikan umum, berangsur-angsur berkolerasi. Bahkan, kemudian

menyatu sama sekali. Sekarang, tiap pesantren rata-rata merupakan gabungan

dari pendidikan salafiyah (kajian kitab kuning) dan madrasah (sekolah

berorientasi umum). Santri-siswa dipadukan dalam kesatuan yang utuh dan

harmonis. Santri tidak lagi rendah diri berhadapan dengan siswa dan siswa

tidak lagi menyombongkan diri di hadapan para santri.

Bahkan, banyak sekali santri melanjutkan ke perguruan tinggi.

Bukan hanya menempuh strata I, melainkan ke jenjang S-2 dan S-3. Para

mahasiswa yang belum mengenal dunia pesantren, diprogramkan masuk pesantren

sesudah menyelesaikan studinya, sebagaimana ditradisikan di Universitas

Islam Bandung (Unisba), sejak beberapa tahun lalu.

Santri sarungan yang ahli dalam ngaliwet sabuku curuk

ditumpangan peda beureum dan memproduksi kerak tsani, mungkin hanya tinggal

kenangan. Juga adrahi yang menjadi trade mark santri tahun 1960-an ke

belakang. Kini para santri sudah mengantongi ATM, sudah menggenggam HP.

Kalau dulu, santri "nasrif" dan "ngerab" -tradisi menghapal ilmu

Sharaf-Nahwu- sambil mengangsur kayu bakar di tungku, santri sekarang

bepantalon dan berdasi model mutakhir, sambil main game di komputer

berprosesor Pentium IV. Ikut menerjuni kemajuan zaman dengan bekal keilmuan

yang diperolehnya di pesantren dan lembaga pendidikan umum. Akan tetapi,

tetap memegang prinsip: Idza lam takun milhan tuslih, fa la takun zubabatan

tufsid. Jika tidak mampu menjadi garam yang melezatkan, janganlah menjadi

lalat yang menjijikkan.

Memang, para santri yang mengemban ilmu dunawi dan ukhrowi harus

jadi garam yang melezatkan masakan. Bermanfaat bagi kehidupan nyata di

masyarakat. Jika tidak, lebih baik menyingkir dulu, membenahi dan menambah

bekal ilmu, daripada menjadi lalat yang merusak hidangan dan kesehatan.

H. USEP ROMLI H.M, Lahir di Limbangan, Garut, Jawa Barat, 1949. Pendidikan: pondok pesantren (1959-1067), SPGN Garut (1964-1966), IKIP Bandung Jrs.Pendidikan Bahasa Arab (1983-84), IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, Fak.Adab Jrs.Sastra Arab (1986).

Pengalaman kerja: PNS Guru SD (1966 -1984), Kepala Seksi Pengembangan Bahasa Daerah SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov.Jabar (1984). Mengundurkan diri tanpa meminta pensiun. Wartawan SK Harian Pikiran Rakyat Bandung (1984-2004). Pembimbing Ibadah Haji dan Umroh “Megacitra” Bandung, th.1996 s/d sekarang.

Pengalaman organisasi: aktivis IPNU/GP Ansor/Banser (1964-1973), aktivis “akar rumput” Partai Persatuan Pembangunan (PPP), th.1973-1997. Penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001), Anggota pengurus DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jabar (1998-1999). Ketua Seksi Pendidikan dan Latihan PWI Cab.Jabar (1998-2002).

Sebagai wartawan, pernah melakukan tugas jurnalistik di Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Terutama kawasan Timur Tengah. Sekarang sebagai penulis lepas dan pengelola Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Raksa Sarakan di Desa Majasari, Kec.Cibiuk, Kab.Garut yang bergerak di bidang advokasi petani, beasiswa, anak asuh dan kelestarian lingkungan hidup.

Usep menulis sajak dan cerpen dimuat di Kalawarta Kujang, Mangle, Hanjuang, Gondewa, Galura, dll. Sebagai seorang santri, karya-karya Usep sangat kental dengan pesantren, diantaranya Bentang Pasantren (bintang Pesantren, novel, 1983), Cuerik Santri (Tangis Santri, kumpulan Cerpen, 1985) Jiad Ajengan, (Jampi-jampi Kiai, cerpen, 1991), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot Islam, 1999), dll.

Usep pernah mendapat penghargaan Hadiah Sastra Mangle (1977), Hadiah Penulisan Buku Depdikbud (1977), Piagam Wisata Budaya Diparda Jabar (1982) serta Hadiah Sastra LBSS (1995).

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, IMNU, Amalan Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock