Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Jakarta, Bupati Tegal. Banyaknya bencana alam yang datang secara beruntun menggugah kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama untuk siap membantu saudara-saudara yang mengalami musibah tersebut. Dalam waktu dekat sejumlah kader Ansor akan mengikuti latihan keterampilan Search and Rescue [SAR] bekerjasama dengan Badan SAR Nasional.

“Badan SAR ini membantu melatih untuk meningkatkan keterampilan tinggi dalam menghadapi bencana alam, sehingga kader Ansor siap pakai dimana saja diterjunkan," kata Kepala Satuan Koordinator Nasional Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tatang Hidayat di Jakarta, Sabtu (10/3).

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Gelar Latihan Bersama Badan SAR Nasional

Menurut Tatang, pelatihan SAR ini akan diikuti sekitar 2000-an kader Ansor, terutama menghadapi medan-medan berat dan lapangan yang sulit dijangkau. Karena itu, latihan ini sekaligus menjadi tantangan guna meningkatkan kualitas keterampilan dan SDM.

Pada Senin (12/3) mendatang Maret 2007 akan ditandatangani nota kesepahaman (MoU) antara Badan SAR Nasional dan Pengurus Pusat (PP) GP Ansor yang akan dilakukan oleh Ketua Umum GP Ansor, saifullah Yusuf. Penandatangan itu rencananya akan dilaksanakan di Kantor PP Gerakan Pemuda Ansor, Jl Kramat Raya 65 A.

Bukan tidak mungkin pelatihan keterampilan ini akan dilanjutkan ke beberapa daerah. Namun demikian, kata Tatang, semua dilaksanakan secara bertahap agar hasilnya bisa optimal. (gp-ansor.org)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Amalan Bupati Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

Lombok Tengah, Bupati Tegal. Babak penyisihan Musabaqoh Kitab Kuning wilayah Nusa Tenggara Barat digelar di Ponpes Qamarul Huda Bagu, Pringgarata, Loteng.? Lomba yang diiniasiai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dimaksudkan sebagai upaya melestarikan tradisi membaca Kitab Kuning."Musabaqoh Kitab Kuning ini merupakan bagian dari kita menjaga tradisi membaca Kitab Kuning untuk menatap masa depan yang lebih baik," kata Sekretaris DPW PKB NTB, Akhdiansyah saat pembukaan Musabaqoh Kitab Kuning, Kamis (7/4/).

Kegiatan tersebut, lanjut Akhdiansyah, merupakan salah satu peran aktif PKB dalam upaya turut melestarikan tradisi-tradisi pendidikan di pondok pesantren, seperti tradisi membaca Kitab Kuning yang telah menjadi warisan para ulama.

Melalui program Musabaqoh ini, tradisi membaca Kitab Kuning akan terus tejaga dan terawat. Selain tradisi membaca Kitab Kuning, lanjut politisi muda ini, ? tradisi Nusantara Mengaji juga akan dilaksanakan DPP PKB, bahkan seluruh anggota Dewan dari PKB diperintahkan masing-masing membawa 200 orang dalam acara Nusantara Mengaji.

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

"Ini dalam rangka merawat dan menjaga tradisi, untuk kemajuan bangsa", ujar Akhdiansyah?

Musabaqoh tersebut juga dijadikan ajang mencari peserta terbaik yang akan mewakili NTB di tingkat nasional. "Besar harapan kami, salah satu terbaik dari ratusan peserta perwakilan masing-masing ponpes yang mendaftar, nantinya mampu meraih juara di tingkat nasional," harapnya.

Bupati Tegal

Acara yang dibuka langsung oleh pembina dan pengasuh Ponpes Qamarul Huda, TGH LM Turmudzi Badarudin itu, dihadiri seluruh anggota DPRD Kabupaten Loteng dan Provinsi NTB dari PKB, ketua DPC PKB se-NTB, para ustadz dan santri, serta peserta Musabaqoh.

Dalam sambutannya, Tuan Guru Bagu sapaan TGH LM Turmudzi Badarudin, menyampaikan bahwa sangat mendukung Musabaqoh Kitab Kuning yang dilaksanakan PKB. "Musabaqoh yang dilaksanakan PKB hari ini bagus. Semoga semua yang mengaji akan mewarisi ilmu para ulama," kata musasyar PBNU ini

Hal itu dianggap sangat perlu untuk keberkahan suatu ilmu. Diungkapkan, yang dikerjakan para ulama terdahulu seperti mengaji, menghafal kitab dan selalu menghadiri majelis baik di Timur Tengah maupun dalam negeri, sehingga ilmu itu menjadi barokah.

Bupati Tegal

"Semoga kehadiran para anggota Dewan dan anggota Hakam serta seluruh peserta di acara ini mendapat barokah", katanya (Syamsul Hadi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nasional, Amalan, Syariah Bupati Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

Tasikmalaya, Bupati Tegal

Pelajar muslim harus berjihad melalui berbagai bidang diantaranya ekonomi, budaya, dan pendidikan. Saat ini pelajar dan generasi muda sudah tidak zamannya lagi lempar bom, perang, dan sebagainya atas nama jihad agama.

Hal itu disampaikan Haryadi Ahmad Satari Sekretaris Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang juga Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya saat mengisi materi Seminar Peningkatan Wawasan Pelajar Muslim Nusantara di Kantor MWCNU Salopa, Rabu (20/1).

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Itu di Bidang Ekonomi, Budaya, dan Pendidikan, Bukan Ngebom!

“Di negara kita masih banyak yang harus kita fikirkan dan perbaiki seperti ekonomi , dimana anak muda sekarang bisa mengisi peluang dan memperbaiki ekonomi untuk jangka panjang ke depan. Nah anak muda ini sebagai pelopor dan bisa berkreativitas untuk lebih memajukan daerah dan negara diawali dari diri sendiri,” paparnya.

Adapun jihad lewat budaya, tambahnya, adalah pelajar harus bisa mengaplikasikan Qowaid Ushul Fiqh yang menjadi landasan NU, Almuhafaadzatu ala al-qadimi asshalih wal akhadzu bil jadidil ashlah.

Lewat kegiatan ini, imbuhnya, adalah salah satu bentuk hormat kepada para pejuang kemerdekaan yang memperjuangkan jiwa dan raga. “Kita harus isi Kemerdekaan ini dengan cara yang positif, salah satunya dengan terus belajar bersama seperti kegiatan ini,” ujarnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Humor Islam, Pesantren, Amalan Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Probolinggo, Bupati Tegal - A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menyampaikan, dalam rangka menjawab tantangan organisasi NU dan dinamika perkembangan zaman, Banser sebagai kader penggerak dan satuan pengaman dari program GP Ansor harus mengubah mindset dan performancenya yang selama ini dianggap kurang memiliki nilai tawar.

Hal ini disampakan H Hasan Aminuddin ketika memberikan materi kepemimpinan dan enterpreneur dalam kegiatan kursus pelatih (Suspelat) I Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Jawa Timur di aula Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jumat (31/3) sore

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Menurutnya, melihat fungsi dari Banser sebagai benteng ulama dan NKRI, Banser yang selalu menjadi garda terdepan disetiap gerak langkah GP Ansor bersama jam’iyah NU harus mampu menjalankan fungsinya secara profesional sesuai dengan pelatihan dan pendidikan yang sudah didapatnya.

“Jangan mau dijadikan alat oleh orang lain dalam urusan di luar prinsip NU, khususnya untuk kepentingan politik. Tetaplah menjadi benteng ulama NU dan menjaga keutuhan NKRI,” tegasnya.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Ia juga menekankan pentingnya kedisiplinan yang merupakan syarat utama untuk mencapai suatu keberhasilan di organisasi apapun, khususnya dalam keorganisasian Banser. Tugas pokok dan fungsinya adalah untuk menjaga Islam yang rahmatan lil alamin dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Atribut dan seragam kalian sudah menyerupai seorang TNI, maka sifat, sikap dan perbuatan kalian harus seperti seorang TNI,” pungkasnya.

Kegiatan yang diikuti oleh 70 peserta perwakilan dari Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser se-Jawa Timur ini mengambil tema Rapatkan Barisan Demi Terciptanya Indonesia Aman dan Sejahtera. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Santri Bupati Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Bupati Tegal - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

?

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Bupati Tegal

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

Bupati Tegal

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Habib, Amalan Bupati Tegal

Senin, 15 Januari 2018

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Jakarta, Bupati Tegal - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana. Pelatihan yang berlangsung di di BBPBAP Jepara, Senin-Jumat (20-24/2) ini merupakan rangkaian program penguatan kapasitas pemerintah dan masyarakat lokal dalam kesiapsiagaan untuk respon bencana yang cepat dan efektif.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan mengaplikasikan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) yang merupakan sumber terbuka (open sources) sebagai salah satu tools dalam penanggulangan bencana alam.

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBI NU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Jepara dan Kudus, Jawa Tengah.

Bupati Tegal

Pelatihan dibuka oleh Kepala BPBD Kabupaten Jepara Lulus. Dalam sambutannya Lulus menyampaikan apresiasi program yang dilakukan oleh LPBI NU, karena Jepara terpilih menjadi pilot dari program LPBI NU. Kedua, Jepara juga sangat rawan bencana sehingga pelatihan kajian risiko bencana dapat menjawab kebutuhan yang? selama ini kami harapkan di Jepara.

Ketua LPBI NU PBNU M Ali Yusuf menyatakan, untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah atau kawasan.

Bupati Tegal

Menurutnya, di sini letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada. Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif.

“Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” kata Ali. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian, Amalan, Makam Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Sidoarjo Bupati Tegal. Sebagai proses pengkaderan sebelum terjun ke masyarakat, para santri di pesantren mengkaji referensi literatur kutubus salaf dalam forum Bahtsul Masail. Seperti halnya yang dilakukan oleh santri aliyah kompleks Dar Assaadah di Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masailkan Patung Manusia, Santri Al-Khoziny Berbeda Pendapat

Mereka membahas persoalan 9 patung manusia di sebelah Timur alun-alun Sidoarjo yang diturunkan beberapa pekan lalu karena karena dianggap berhala oleh sejumlah ormas. “Kami sengaja mengaji secara selektif tentang patung tersebut, karena beberapa waktu lalu masyarakat Sidoarjo diramaikan dengan pro dan kontra terhadap patung Jayandaru yang diletakkan di Alun-alun Sidoarjo itu," ucap ketua panitia Rahmat Hidayat, Kamis (11/3).

Ia menambahkan, dari hasil bahtsul masail ini, selanjutnya akan dikaji kembali secara objektif dan akan diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sidoarjo dengan tujuan meminta agar MUI Sidoarjo mengeluarkan fatwa haram terhadap patung, khususnya yang berada di Sidoarjo.

Bupati Tegal

Forum itu semakin ramai dengan komentar para musyawirin yang pro dan kontra terhadap keputusan dewan Muharrir yang dalam hal ini dihadiri Ketua Islamadina Sidoarjo Agus Lukman Hakim, Ketua STIQ Al Khoziny Syu’aib Nur Ali, dan ustadz senior Ach Shodiq Firdaus, serta perwakilan dari ulama Sidoarjo yang menentang adanya patung itu, KH Moh Nurul Huda Nawawi.

Bupati Tegal

Sebagian santri berpendapat, ketika patung itu mengandung unsur pembelajaran, maka tidak apa-apa dibangun. Ada pula santri yang berpandangan tentang penghargaan yang menjadi ikon kota. Sebagian lain menawarkan jawaban, apabila patung tersebut tanpa kepala, maka tidak apa-apa dengan alasan patung yang diharamkan itu ketika ada kepalanya.

“Apabila patung ini diarahkan terhadap sebuah Ikon kota, mengapa tidak membuat sebuah Ikon yang melambangkan Sidoarjo sebagi kota santri, seperti membuat miniatur yang berkhazanah islami," kata Agus Lukman Hakim mengomentari pendapat dari para musyawirin yang kontra terhadap keputusan sementara yang diambil.

Ach Shodiq Firdaus pun menambahkan, dari beberapa jawaban yang ada, yang menarik adalah ketika dalam pembentukan patung mengandung unsur littarbiyah (pembelajaran). Namun itu juga harus ada kajian lanjutan, apakah setiap patung ada unsur pembelajarannya?

Akhirnya, dari beberapa jawaban yang ada dikembalikan kepada dewan mushohih yang dalam hal ini dihadiri oleh KH Moh Nurul Huda Nawawi. Ia menegaskan, apapun alasannya, patung yang berada harus dihancurkan. Terlebih yang berada di Sidoarjo.

"Dari semua pendapat kebanyakan ulama mengatakan, haram menggambar sesuatu yang mempunyai ruh, seperti hewan dan manusia. Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Sidoarjo, serta Bupati Sidoarjo untuk segera memberantas patung yang berada di Sidoarjo," tegasnya.

Terkait permintaaan MUI Sidoarjo yang diminta mengeluarkan fatwa haram, Kiai Huda mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil dari keputusan musyawarah para ulama se-Sidoarjo. Dan tentunya akan segera mengeluarkan fatwa haram terhadap patung yang berada di Sidoarjo. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Ubudiyah, PonPes Bupati Tegal

Senin, 01 Januari 2018

Televisi Indonesia: Kekerasan, Horor dan Seks

Jakarta, Bupati Tegal. Kritik pedas untuk televisi di Indonesia. Tayangan televisi di negeri ini belakangan boleh dikelompokkan tidak lebih sebatas pada tiga hal, yakni tayangan yang mempertontonkan adegan kekerasan, tayangan menyeramkan atau horor dan tontonan tentang hubungan seksual lawan jenis.

Demikian disampaikan Ketua Komunitas Melek Media Televisi Teguh Imawan saat berbicara pada sarasehan bertajuk “Remaja dalam Bingkai Sinetron dan Film Indonesia” yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (22/11).

Selain, Teguh Imawan, hadir pula sebagai narasumber pada acara rangkaian dari peluncuran website IPBupati Tegal dan majalah LENSA Remaja itu, artis Ray Sahetapy yang juga Ketua Kajian Pendidikan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) dan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sinansari Encip.

Televisi Indonesia: Kekerasan, Horor dan Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Televisi Indonesia: Kekerasan, Horor dan Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Televisi Indonesia: Kekerasan, Horor dan Seks

Menurut Teguh, panggilan akrab Teguh Imawan, tiga jenis tayangan televisi itu merupakan cerminan dari mayoritas konsumen televisi di tanah air. “Penonton mayoritas televisi, terutama tayangan jenis VHS (violence [kekerasan], horror and sex) itu adalah masyarakat yang berpendidikan rendah. Pendidikan rendah ini melahirkan selera tontonan yang rendah pula,” terangnya.

Hal itu, katanya, terjadi karena stasiun televisi memiliki dua misi utama, yakni mencari sensasi dan mengejar rating tinggi yang pada dasarnya demi keuntungan ekonomis sebesar-sebesarnya. “Saya dulu pernah bekerja di sebuah production house (rumah produksi-Red). Tiap detik yang kami pikirkan adalah bagaimana membuat tontonan yang rating-nya tinggi,” tandasnya.

Bupati Tegal

Selain itu, lanjutnya, tayangan televisi, terutama sinetron, lebih banyak menampilkan khayalan-khayalan. Yang terjadi kemudian, katanya, masyarakat sebagai konsumen tidak lagi bisa membedakan antara tayangan yang bersifat fakta dengan tayangan hasil rekaan.

“Misalkan tayangan tentang alam kubur. Si sutradara seolah-olah sangat tahu apa yang terjadi pada kehidupan setelah mati. Dibumbui ayat-ayat suci Alquran, jadilah si penonton percaya bahwa itu sebuah kebenaran,” jelas Teguh.

“Misalkan lagi, sinetron yang menceritakan seorang perempuan yang hamil di luar nikah. Kalau tayangan seperti terus ada, masyarakat nantinya akan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar, dan akhirnya akan dianggap sebagai kebenaran juga,” imbuhnya.

Sementara itu, Ray Sahetapy mengungkapkan fakta di balik sukses sebuah tayangan televisi. Menurutnya, dalam pembuatan sebuah sinetron, yang paling berpengaruh adalah sang produser, bukan sutradaranya. Sebaliknya, pada film yang yang memiliki peran utama adalah sang sutradara.

Bupati Tegal

“Kalau film, Ooo… itu karya Garin Nugroho (sutradara film kenamaan), misal. Jadi yang disebut sutradaranya. Tapi kalau sinetron, sebut saja Ram Punjabi (pemilik production house Multivision Plus). Beda dengan teater. Yang lebih dikenal adalah aktornya,” jelas Ray, begitu panggilan akrab mantan suami artis Dewi Yull itu.

Sedikit berbeda dengan keduanya, Sinansari Encip mengungkapkan betapa saat ini Lembaga Sensor Film Indonesia (LSFI) tidak banyak memiliki peran dalam menyeleksi mana film dan sinetron yang layak tayang atau tidak. “Salah satu tugas LSFI adalah menyensor tayangan yang, misalkan, ada unsur kekerasan, cabul atau merendahkan nilai-nilai agama. Tapi sampai hari ini masih banyak tayangan yang seperti itu,” tuturnya.

Hal itu juga, lanjut Encip, tak bisa dilepaskan dari tuntutan kejar tayang dari pada stasiun televisi yang bersangkutan. “Jadi, misalkan sebuah sinetron, tayangnya malam hari, bikinnya pagi atau siangnya. Baru sorenya diserahkan kepada LSFI. Kalau begitu, gimana LSFI bisa menyensornya kalau tidak ada waktu yang cukup,” terangnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pendidikan, Amalan Bupati Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Tolak Hormat Bendera? Kita Hidup di Atas Jenazah Pahlawan

Bintan, Bupati Tegal. Dalam suasana hari kemerdekaan Indonesia, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bintan, Kepulauan Riau, mengajak seluruh kader dan rakyat Indonesia untuk senantiasa mengapresiasi dan mengingat jerih payah para pejuang yang telah berkorban bagi bangsa ini.

Ketua GP Ansor Bintan Zaenal Arifin mengatakan, kita telah merasakan kemerdekaan yang tidak dirasakan para pahlawan maka menjadi kewajiban kita untuk selalu mengenang dan mendoakan.

Tolak Hormat Bendera? Kita Hidup di Atas Jenazah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tolak Hormat Bendera? Kita Hidup di Atas Jenazah Pahlawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tolak Hormat Bendera? Kita Hidup di Atas Jenazah Pahlawan

“Kita hidup di atas mayat-mayat para pahlawan, jangan sampai kita melupakan sejarah perjuangan mereka, sehingga enggan untuk mengenang,” katanya sembari menyayangkan ada sebagian kelompok yang tidak mau hormat pada bendera merah putih.

Bupati Tegal

GP Ansor Bintan memperingati hari kemerdekaan ke-70, Senin (17/8), dengan menggelar upacara bersama santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Bintan, di Bintan.

Bupati Tegal

Pimpinan Pesantren Mambaus Sholihin Bintan Ahmad Nukhan saat menjadi pembina upacara mengatakan, kemerdekaan merupakan nikmat yang harus disyukuri. Berkat rahmat Allah, bangsa Indonesia bisa menaikkan bendera sebagai tanda kemerdekaan.

“Sebagai generasi marilah kita isi kemerdekaan dengan semangat belajar, kebodohan harus di hilangkan,” tuturnya. Upacara bendera diakhiri dengan pembacaan fatihah dan doa. (Abdul Majid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal News, Amalan Bupati Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Jombang, Bupati Tegal?

Meski terhitung masih lama, Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, tapi sejumlah isu strategis untuk terus memperkuat NU baik secara struktural ataupun kultural sudah mulai dihembuskan.?

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Salah satunya penguatan jenjang kaderisasi NU sebagai pengurus di level cabang NU harus diperhitungkan. "Ke depan, PCNU Harus diisi sebagaimana yang sudah dibikin para ulama terdahulu," kata H Zulfikar Damam Ikhwanto, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor setempat, Selasa (15/11).?

Dijelaskan, jenjang kaderisasi NU merupakan media kekuatan dalam berorganisasi. Sejumlah kader NU dari masa ke masa juga dari semua level kepengurusannya akan terwadahi. "Kalau tidak demikian, input kader itu tidak akan kuat untuk ngopeni NU. Militansi pengurus kurang matang kalau tidak berdasar tahapan-tahapan kaderisasi itu," ujarnya.?

Jenjang kaderisasi di NU, lanjut pria yang kerap disapa Gus Antok itu, sudah sangat jelas mulai dari tingkat pelajar, pemuda dan kader NU yang sudah dianggap sepuh. "Kita ini gantian, di tingkat pelajar ada IPNU dan IPPNU, terus naik lagi ke level mahasiswa ada PMII juga PKPTNU, kemudian setelah itu naik lagi ke GP Ansor atau Fatayat NU, setelahnya PCNU dan Muslimat NU," tegas dia.

Selama ini ia memantau, jenjang kaderisasi itu masih belum diperhatikan dengan serius, sehingga kader yang benar-benar berproses di NU sekalipun terkadang tak ada wadah dan hengkang dengan sendirinya. "Saya ada banyak kader Ansor yang sudah pasca kepengurusan cabang, tapi mereka tidak masuk struktur PCNU, terus siapa yang akan mengisi PCNU kalau tidak Pengurus Ansor yang sudah selesai itu," singgung dia.

Bupati Tegal

PNS di lingkungan kota santri itu berharap PCNU sudah mulai memperhatikan ketertiban jenjang kaderisasi NU menjelang Konfercab ini. "Ya memang PCNU harus berani mengambil kebijakan seperti itu agar dicontoh oleh MWC-MWCnya, dan MWC juga ambil kader Ansor yang di kecamatan-kecamatan, begitu juga di ranting," ucapnya.

Untuk diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada bulan April 2017 mendatang. Hal ini sesuai koordinasi antar pengurus internal PCNU setempat. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Quote, Amalan, Santri Bupati Tegal

Sabtu, 16 Desember 2017

Hidupkan Spirit Wirausaha, Siswa SMP Maarif 1 Pamekasan Produksi Tempe

Pamekasan, Bupati Tegal. Selain menjadi sekolah percontohan budidaya tanaman Hortikultura, SMP Maarif 1 Kabupaten Pamekasan rupanya juga menghidupkan spirit berwirausaha. Para guru membimbing siswa-siswinya menjadi calon pengusaha yang mandiri.

Hidupkan Spirit Wirausaha, Siswa SMP Maarif 1 Pamekasan Produksi Tempe (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan Spirit Wirausaha, Siswa SMP Maarif 1 Pamekasan Produksi Tempe (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan Spirit Wirausaha, Siswa SMP Maarif 1 Pamekasan Produksi Tempe

Praktik pembuatan tempe kedelai menjadi salah satu kegiatan guna melejitkan jiwa pengusaha siswa SMP Maarif 1 Pamekasan. Siswa-siswi terlihat semangat mengikuti arahan dari guru biologi, Darul Kamal, Jumat (7/4).

"Untuk saat ini, pesertanya adalah siswa-siswi kelas 9a+b. Mereka berhasil memproduksi dengan sempurna," ujar Abu Siri, guru dan perintis berdirinya SMP Maarif 1 Pamekasan.?

Komposisi produksi tempe hanya dari dua bahan: kedelai dan ragi. Abu Siri berharap praktik tersebut bisa menjadi bekal bagi siswa sebelum dan setelah terjun ke masyarakat.

Bupati Tegal

"Setelah ada di tengah-tengah masyarakat, kita harapkan mereka mampu menggalakkan ekonomi kerakyatan lewat home industry," tukasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Amalan Bupati Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja!

Sumedang, Bupati Tegal

Ketua Lembaga Talif Wan Nasyr Nahdatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Sumedang Ayi Abdul Kohar mengatakan, warga NU harus cerdas menggunakan media sosial. Ia menyerukan untuk menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah Aswaja!

Hal tersebut disampaikan di hadapan peserta pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan oleh LTNNU Sumedang. Pelatihan tersebut bertempat di Aula PCNU Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Kamis (11/5/2017).

Ayi juga menyampaikan bahwa saat ini banyak orang mengenal Islam lewat media sosial. Kalau di media sosialnya banyak unggahan konten bernada keras maka lama-kelamaan orang akan terbawa ke arah sana. Begitu juga sebaliknya, kalau di media soasialnya banyak konten Islam yang ramah, nanti dengan sendirinya akan banyak orang mengenal Islam yang ramah.

Bupati Tegal

Warga NU harus mempunyai peran dalam memperkenalkan Islam yang ramah di media sosial. Makanya warga NU dan ulama NU harus didorong supaya mempunyai akun media sosial, kata Ayi.

“Marilah cerdas dalam bermedsos. Perbanyaklah postingan yang baik dalam medsos. Gunakan medsos sebagai sarana untuk menyebarkan islam yang baik dan ramah,” tutup Ayi. (Ahmad Thobiin/Mahbib)

Bupati Tegal



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Ubudiyah Bupati Tegal

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta

Jakarta, Bupati Tegal. Politisi Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana akhirnya meminta maaf kepada keluarga mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. 

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya, Sutan Sowan dan Cium Tangan Bu Sinta

Sutan mengutarakan langsung permohonan maaf itu kepada istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah, di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis 29 November 2012.

Sutan mendatangi kediaman keluarga Gus Dur bersama Ketua Umum Demokrat, Anas Urbaningrum, dan politisi Demokrat, Johny Allen Marbun. Mereka disambut oleh putri Gus Dur, Yenny Wahid, di ruang tamu. Tak berapa lama kemudian, Sinta Nuriyah muncul.

Bupati Tegal

Melihat Sinta Nuriyah datang, Sutan Bhatoegana buru-buru menghampirinya. Sutan pun menjabat dan mencium tangan mantan ibu negara itu. "Terima kasih banyak (atas pemberian maafnya)," kata Sutan. 

Mereka kemudian berbincang-bincang di ruangan itu. Tentu saja, polemik seputar pernyataan Sutan yang dinilai melecehkan Gus Dur menjadi topik hangat dalam perbincangan itu. 

Bupati Tegal

Sutan menuturkan, polemik ini tidak hanya berimbas pada dirinya, tapi juga Partai Demokrat. "Justru mengenaskan, Demokrat terdampak. Ada orang duduk-duduk di Cirebon di kejar-kejar," katanya.

Sementara itu, Anas Urbaningrum, menyampaikan rasa syukurnya karena permohonan maaf ini telah berlangsung. Dia berharap polemik pernyataan Sutan tersebut dapat selesai dengan baik. "Alhamdulillah, saya juga lega, Pak Sutan menyampaikan permohonan maaf," kata Anas.

Anas mengklaim, dirinya dan Yenny Wahid merupakan penghubung untuk menyelesaikan masalah Sutan ini. "Saya dan Mbak Yenny adalah perantara," jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Sinta Nuriyah memberikan nasihat pada pimpinan Partai Demokrat, khususnya untuk Sutan. Isinya, bagaimana harus bersikap baik. "Ini sebagai pelajaran, sebagai pemimpin harus bertindak arif dan bijaksana. Kalau jadi pemimpin jangan mudah tersulut emosi, kalau emosi yang nggak-nggak ke luar," ucapnya.

Sebelumnya, pernyataan Sutan memantik protes dari sejumlah elemen, terutama dari Nahdlatul Ulama. Sutan diduga menyebut Gus Dur diturunkan karena kasus Buloggate dan Bruneigate. Dia pun sudah membantah melakukan pelecehan itu. 

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber   : Vivanews

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, Amalan Bupati Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara

Jakarta, Bupati Tegal. Menyambut kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Jerman, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman meminta Presiden untuk lebih memikirkan nasib seluruh rakyat, dibanding menenggelamkan diri dalam urusan partai politiknya sendiri.

“Seringkali presiden SBY memainkan peran yang tidak seimbang antara presiden sebagai Kepala Negara dan sebagai ketua Dewan Pembina Partai Demokrat,” demikian dalam rilis pers yang diterima Bupati Tegal, Jum’at (1/3).

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara

Kunjungan SBY tersebut dalam rangka menghadiri Internationale Tourismus Borse (ITB) di Berlin pada 6-10 Maret 2013 mendatang.

Presiden juga diharapkan tidak memanfaatkan kekuasaan untuk menekan dan mengintervensi lembaga-lembaga hukum seperti Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) demi kepentingan-kepentingan politiknya.

Bupati Tegal

“Menjalang Pemilu 2014, tahun 2013 adalah tahun pencitraan demi meraih kekuasaan. Oleh karena itu pemerintah harus memberi tauladan bagaimana menjaga norma dan aturan main serta fatsun politik agar rakyat tetap rukun dan bangsa ini tidak tercerai-berai,” demikian PCINU Jerman.

Bupati Tegal

Terkait ITB Berlin 2013, NU Jerman memberikan apresiasi yang mendalam atas kesuksesan Indonesia menjadi negara partner bagi penyelenggaraan ITB 2013 di Berlin. Diharapkan, apa yang didapatkan dan disepakati selama ITB 2013 berlangsung bisa diwujudkan dalam bentuk nyata peningkatan kerjasama Jerman-Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Fragmen, Amalan, Nahdlatul Bupati Tegal

MUI sampai Ormas Pemuda Maluku Utara Menolak Khilafah di Indonesia

Ternate, Bupati Tegal?



Organisasi masyarakat (ormas) kepemudaan, keagamaan dan Lembaga Sosial Masyarakat di Maluku Utara (Malut) menyampaikan pernyataan sikap menolak keberadaan organisasi yang bertujuan mengganti dasar negara Pancasila menjadi khilafah. Pernyataan sikap tersebut dikemukakan pada pada konferesi pers di Meeting Room Florida, Ternate, Maluku Utara, Rabu, 19 April lalu.

Pernyataan sikap tersebut adalah sebagai berikut: pertama, menolak seluruh aktivitas dan ideologi HTI tentang khilafah di NKRI terutama di Maluku Utara karena berakibat pada perpecahan anak bangsa.

MUI sampai Ormas Pemuda Maluku Utara Menolak Khilafah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI sampai Ormas Pemuda Maluku Utara Menolak Khilafah di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI sampai Ormas Pemuda Maluku Utara Menolak Khilafah di Indonesia

Kedua, menolak semua kegiatan dan propaganda HTI tentang khilafah di NKRI, terutama di Malut apalagi dengan maksud merubah Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia.

Selanjutnya, mendesak kepada instansi terkait, dalam hal ini pihak Kepolisian, Kejaksaan, Kesbangpol dan sebagainya, untuk membubarkan HTI, karena tidak sesuai dengan kultur dan budaya Indonesia sekaligus mengancam keutuhan NKRI.

Bupati Tegal

Mereka juga mendesak kepada aparat yang berwenang untuk menindak secara tegas organisasi atau perseorangan yang menyebarkan ideologi yang mengarah pada gerakan anti-NKRI, dan meminta kepada pengikut HTI untuk kembali pada ajaran Islam Ahlusunnah wal-Jama’ah (Aswaja) dalam bingkai NKRI.

Salah seorang tokoh pemuda Ternate Rahdi Anwar menyampaikan, pada dasarnya ia dan warga Maluku Utara tidak menolak secara agama, tapi menolak karena kelompok tersebut berupaya mengantikan Pancasila sebagai dasar negara ini.

Pancasila, menurutnya, adalah rumusan para pendiri bangsa, maka sudah menjadi tugas dan kewajiban pemuda di seluruh tanah air untuk tetap menjaga dan mempertahankannya dari gangguan ideologi lain.?

Peryataan sikap tersebut ditandatangani 22 perwakilan Ormas di Malut yang hadir dalam deklarasi penolakan HTI yakni,

Bupati Tegal



1. Drs. H. Harun ? Ginoni,M.Ag (MUI Malut)

1. Dr. Adnan Mahmud (Ketua PCNU Kota Ternate)

2. Suratin Ibrahim ? (Ketua MUI Kota Ternate)

3. Din senen ? (Ketua Parmusi Malut)

4. Rizal Ambarak ? (Ketua FKPPI Kota Ternate)

5. Hi. M. Kasim Haya (Ketua KBPP Polri)

6. Rahdi Anwar ? (Ketua PC Ansor Kota Ternate)

7. Helon Sauban (GMKI Cabang Ternate)

8. Risno wahid ? (KNPI Kota Ternate)

9. Iwan marwan (GMNI Cab. Ternate)

10. Maswa (PC Fatayat NU) ?

11. Ismail Maulut ? (Ketua HMI Cab. Ternate)

12. Rusdi S Tawari (KAHMI)?

13. Silfan Jaguna (IMM Cab. Ternate)

14. Amirudin Ais (Pemuda Muhamadiyah Malut)

15. Muhlis Abas (GPI)?

16. H Nurhadi (LDII Malut)

17. PC PMII Cabang Ternate

18. Garot Baisya

19. Garuda KPP-RI Malut

20. Cengke Malut

21. Santrani Abusama (Pemuda Pancasila Malut)(Abdulharis Doa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan Bupati Tegal

Jumat, 08 Desember 2017

Ahmad Tohari: Sejarah Kemanusiaan Kita Banyak Aib

Banyumas, Bupati Tegal. “Aduh Mas, jangan tanya deh, sejarah bangsa ini belang-belang, blepotan, banyak aibnya. Untuk memperbaikinya, kita harus mengakui itu semua. Jadi pernyataan bangsa ini ramah, adiluhung harus dipelajari dulu. Baru kita bisa memperbaiki.”

Demikian dikatakan Ahmad Tohari pada Bupati Tegal tadi pagi (16/2). Ahmad Tohari mengatakan, kekerasan kita ada sumbernya, tapi bukan agama, melainkan watak kekuasaan dan keserakahan manusia.

Ahmad Tohari: Sejarah Kemanusiaan Kita Banyak Aib (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari: Sejarah Kemanusiaan Kita Banyak Aib (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari: Sejarah Kemanusiaan Kita Banyak Aib

“Bagi yang meresapi agama dengan sesungguhnya, agama mampu mengeliminir watak kekerasan pada penganutnya,” jelas Tohari yang lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948.

Bupati Tegal

Tohari memberi contoh, dalam cerita pewayangan, ketika Kumbakarna dimutilasi, para penonton menikmatinya, bersorak-sorai, bertepuk tangan. Begitu juga ketika Abimayu yang juga mati dimutilasi.

“Penonton mendukung pembunuhan keji itu. Pulang ke rumah, kita biasa saja, sembayang subuh, berbuat baik. Tanpa beban, tanpa penyesalan,” ujar Tohari, penulis novel terkenal, Ronggeng Dukuh Paruk.

Bupati Tegal

“Ada contoh keji lagi. Amangkurat I membunuh 5000 santri dari Pantura di alun-alun Kartasura, dengan cara dipanahi satu-satu. Setengah bulan baru selesai. Ini datanya ada di Belanda. Pembantaian di Madiun 1948. Pembantaian tahun 1965 di mana-mana, yang tidak selesai-selesai efeknya sampai sekarang, dan lain-lain. Sejarah pembantaian ini mau dibaca bagaimana? Balas dendamkah? Diratapikah? Disembunyikankah?”

Tradisi kekerasan kita, kata Tohari, ada bersamaan dengan tradisi perilaku welas asih. “Seyognyanya dipelajari dengan baik, untuk modal hidup damai,” ujarnya.

“Kekerasan dalam agama adalah anomali. Mari kita pelajari lagi dengan sungguh-sungguh dan menyeluruh. Insya allah kesimpulannya akan benar untuk perkembangan peradaban ke depan,” kata Tohari yang ahli kebudayaan Jawa. (nn)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Sholawat, Internasional Bupati Tegal

Selasa, 28 November 2017

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

Jombang, Bupati Tegal. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang konsisten menjaga kerukunan antarpenganut agama. Kali ini, langkah yang dilakukan pengurus FKUB Jombang adalah mengadakan Seminar bertemakan “Implementasi Nilai-Nilai Dasar Kerukunan Umat Beragama” di Aula Gedung Islamic Center Jombang, Selasa malam (23/12).

Kegiatan yang mendatangkan narasumber Prof Ahmad Zahro perwakilan umat Islam dan Pendeta Ismiyati dari Kristiani itu diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama.

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

“Semua yang ada di forum ini, semoga nantinya bisa satu persepsi untuk merawat kerukunan di antara kita tanpa membedakan diri karena unsur apapun, apalagi kepentingan tertentu,. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kerukunan ini,” kata Dr KH Isrofil Amar Ketua FKUB yang juga Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang.

Bupati Tegal

Prof Ahmad Zahro yang juga Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya itu memaparkan tentang Islam sebagai agama yang damai, cinta perdamaian, antikekerasan, menghormati kebebasan, menghargai kesetaraan, dan mengajarkan kerukunan.

Bupati Tegal

“Menjadi bangsa Indonesia, apapun agamanya, termasuk Islam, terikat oleh kesamaan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” jelas Rektor Unipdu Jombang itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, demi terwujudnya toleransi antarumat beragama, harus ditegakkan bersama-sama ukhuwah Islaamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Itulah nilai-nilai dasar kerukunan yang harus dijadikan rujukan bersama,” pungkas penulis buku berjudul Tradisi Intelektual NU itu.

Sedangkan Pendeta Ismiyati mengajak peserta untuk tidak membeda-bedakan sesama umat beragama sebagai warga Negara Indonesia. “Di kitab Injil juga dijelaskan, ada besar ada kecil, itu memang hukum harmonisasi alam. Yang terpenting bukan kita ini dibersamakan, tetapi bagaimana kita memberi dampak dalam kehidupan ini dengan menjaga kerukunan,” ungkap Pendeta Ismi.

Selain dua keynote speaker tersebut, turut hadir pula Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab, Dandim 0814 Jombang M Haidir, dan AKBP Ahmad Yosep Kurniawan Kapolres Jombang. Serta puluhan peserta dari berbagai komponen masyarakat, lintas agama, dan perwakilan ormas Islam yang ada di Kabupaten Jombang.

Acara yang ditutup pukul 22.30 itu, mendapat masukan dari salah satu peserta agar untuk forum selanjutnya narasumber yang diundang harus dari seluruh perwakilan agama yang diakui di Indonesia. “saya kira itu akan lebih baik, karena memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya. Baik yang minoritas maupun yang mayoritas,” Kata Margono salah satu peserta. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Hadits, Amalan Bupati Tegal

Kamis, 23 November 2017

Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar

Semalam saya terinspirasi waktu diskusi ke-NKRI-an dengan budayawan Purbalingga, Agus Sukoco. Dia menyampaikan di dalam hidup ini memang terdapat wilayah-wilayah radikal yang memang harus dilakukan, khitan sangat radikal, kuncup penis dipotong. Menikah juga radikal sekali, dalam nikah dua warna yang sangat tajam dalam perbedaan; pria dan wanita digesekkan di malam pertama. Shalat juga sangat radikal, ketika Anda shalat sekalipun ada orang lewat di samping Anda, Anda tidak boleh menyapanya. Ini contoh wilayah-wilayah radikal hidup.

Namun ada juga wilayah yang harus toleran, misal Anda menyuguh tamu di rumah Anda, lalu Anda menawarkan, "Silakan nikmati, jangan sungkan-sungkan, anggap saja di rumah sendiri." Coba saja andai si tamu menerima tawaran Anda dengan menganggap rumah Anda sebagai rumahnya sendiri tentu Anda merasa risi. Majikan sering ngedumel dengan kelakuan pembantu, ibu tiri sering memarahi anak tirinya, mertua sering tidak sreg dengan menantunya, itu karena pembantu di rumah majikan, anak tiri di rumah ibu tiri, menantu di rumah mertua, hakikatnya mereka tidak hidup di rumah sendiri. Mereka sedikit saja bertingkah neko-neko, si pemilik rumah merespons tidak berkenan. Nah kalau si tamu menganggap rumah Anda sebagai rumahnya, dijamin Anda stres. Artinya tawaran Anda pada tamu itu sekedar rasa toleran, bukan tawaran yang sesungguhnya.

Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)
Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar (Sumber Gambar : Nu Online)

Daging Celeng dan Kunci Kesuksesan Nahi Munkar

Nah? munkar sering diidentikan dengan wilayah radikal hidup. Profesi dokter sebenarnya profesi nah? munkar, wilayah dokter adalah wilayah radikal, tetapi para dokter itu radikal kepada penyakit, bukan kepada pasiennya. Para dokter mencegah flu dengan anti flu, mereka sangat radikal sikapnya, bahkan kalau perlu amputasi ya dipotong saja bagian tubuh pasien. Sikap dokter yang mencegah penyakit inilah yang disebut nah? munkar. Penyakitnya ditindas habis oleh si dokter, tetapi pasiennya dikasihi setinggi-tingginya. Dokter tidak pernah membenci pasien, dia hanya membenci penyakit yang diderita pasien.

Dokter tidak membenci pribadi pasien, karena ini tindakan nah? munkar dokter berakhir mar?f.

Bupati Tegal

Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan Djito El Fateh, "Desaku, Gus, di kawasan pinggir hutan. Budaya berburu sejak nenek moyang sudah ada, sebab dekatnya dengan hutan. Hingga kini budaya ini turun temurun lestari. Namanya berburu, perolehannya juga tidak pasti. Kadang kijang, ayam hutan, dan sering juga celeng," ungkap Djito.

Bupati Tegal

"Sehingga makan daging celeng sudah biasa dilakukan masyarakat kami sejak dulu pula. Kadang saya--baca, yang sedikit banyak mengenal agama--merasa risi dan kadang merinding dengar tetangga ada yang baru dapat buruan celeng. Jelas 3 hari dagingnya belum habis dikonsumsi satu keluarga walau sudah dibagi tetangga kanan-kiri. Namun kami tetap pura-pura tidak tahu urusan daging celeng tersebut. Mau bagaimana, kami tahu dalam agama kami itu terlarang, tetapi kami mikir-mikir, Apa pantas kami teriak-teriak haram, teriak-teriak najis mughalazhah kepada mereka, berdalih nah? munkar, kami beraksi mencegah mereka? Padahal yang ada di hati kami adalah rasa benci pada mereka? Bagaimana jadinya bila kami ingin mencegah kemunkaran tetapi modal kami kebencian? Apa benci bisa mengubah suatu hal ke dalam kemarufan?" tandas Djito lagi.

"Karena itulah kami memilih sikap toleran, sikap senyum, tanpa ada rasa sedikitpun mengusik mereka. Kami mengurusi masjid dengan suka hati kami, kami jamaah shalat dengan suka hati kami, kami berupaya tidak ada zona debat dan mengolok-olok pihak lain, khususnya dengan masyarakat adat. Dan alhamdu li-ll?h, tanpa kami berbicara ketus, bersikap sok mencegah kemunkaran, sekarang mushala sudah berdiri hampir di setiap RT. Satu-satu masyarakat adat yang waktu saya kecil masih begitu liar dengan daging celeng, perlahan mereka berubah. Dan sekarang ini, shalat, zakat, haji, tadarus, dan masjid sudah ramai syiarnya," singgungnya.

Djito melanjutkan, "Mereka berjalan memperbaiki diri dengan sukarela. Tanpa merasa tersinggung mereka mengubah diri. Tanpa dikeruhkan airnya, ikan tertangkap. Jadi mereka yang mengajak orang ke dalam kebaikan dengan sikap antipati hingga sikap antagonis, mendebat, melabrak, menuduh sesat, menyerang, itu sebenarnya mereka ingin nahi munkar tetapi modalnya kebencian."

Sehingga segala tindakan pencegahan (nah?) lalu berefek ribut-ribut tentu itu kebencian, tindakan tersebut sama sadisnya seorang dokter yang bertindak bukan bertindak mencegah penyakit pasiennya, tetapi dia dokter yang menganiaya pasiennya.

Setiap nah? munkar tentu harus berakhir maruf, karena tidak ada maruf diperoleh dengan rasa benci.

Jikalau tindakan kita mencegah munkar masih saja berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, sebaiknya cegahlah kemunkaran dengan rasa toleran seperti sikap rekan saya Djito El Fateh di atas. Karena jika berakhir ribut-ribut, berakhir panas di hati, itu pasti tindakan kebencian kita pada orang lain.

Muhammad Nurul Banan, aktivis muda NU Purbalingga; Pendidik di Ponpes Darul Abror, Bukateja, Purbalingga. Tulisan ini pernah dipublikasikan di akun Facebook pribadi pada 12 Februari 2017.



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan Bupati Tegal

Minggu, 19 November 2017

Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat (Penyakit Ain)

Pandangan mata mengandung hakikat. Pandangan mata dapat berdampak buruk pada kesehatan seseorang terutama anak-anak. Karenanya Rasulullah SAW meminta perlindungan kepada Allah untuk Hasan dan Husein ketika masih kanak-kanak dari gangguan setan dan pengaruh pandangan mata jahat dan hasut.

Di samping pandangan jahat penuh kedengkian, pandangan takjub dan senang meluap-luap tanpa dibarengi dzikrullah juga dapat membawa pengaruh negatif terhadap objeknya. Pernah dikisahkan sebanyak 70.000 penduduk meninggal dunia seketika setelah salah seorang nabi di masa dahulu yang melewati negeri mereka memandang takjub akan padat penduduk dan makmurnya mereka.

Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat (Penyakit Ain) (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat (Penyakit Ain) (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Pagari Anak-anak dari Bahaya Pandangan Jahat (Penyakit Ain)

Untuk itu Rasulullah SAW mengajarkan doa sebagai berikut untuk melindungi anak-anak dari semua pengaruh tersebut.

Bupati Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmati min kulli syaithânin, wa hâmmatin, wa min kulii ‘ainin lâmmah. Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah.

Bupati Tegal

Artinya, “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.”

Doa ini diangkat oleh Imam Nawawi dalam karyany Al-Adzkar. Di dalam karyanya itu, ia menyebutkan sejumlah hadits yang berkenaan dengan sejumlah gangguan yang dapat menyebabkan mudarat pada anak-anak. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa memandang takjub pada anak-anak sebaiknya dibarengi dengan doa keberkahan untuk mereka. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Pemurnian Aqidah Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara

Subang, Bupati Tegal. Dalam Muktamar Ke-33 NU di Jombang beberapa hari lalu, KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus menyatakan tidak bersedia untuk memegang jabatan Rais Aam melalui surat yang ia tulis secara manual. Uniknya surat itu ditulis menggunakan aksara Arab Pegon.

Arab Pegon, kata A Hisyam Karim, mahasiswa Pascasarjana STAINU Jakarta, adalah aksara Islam Nusantara warisan ulama-ulama Nusantara yang saat ini tetap bertahan.

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Arab Pegon Aksara Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Arab Pegon Aksara Islam Nusantara

"Arab Pegon ini unik karena aksara itu perpaduan antara aksara arab dan beberapa huruf lokal yang bunyinya tidak ada dalam bahasa arab seperti huruf C (?), E (?), NY(?), NG (? ), GA (?), sampai sekarang arab pegon masih dipakai di pesantren-pesantren dalam melogat kitab kuning," kata Hisyam dalam pengajian NU Caracas, Ahad (9/8) malam.

Bupati Tegal

Menurut Hisyam, adalah berlebihan jika ada anggapan bahwa konsep Islam Nusantara itu anti Arab. Sebaliknya Islam Nusantara tetap cinta dan bangga dengan Arab, bahkan sebagian rukun Islam tidak bisa lepas dari hal-hal yang berbau Arab.

"Islam Nusantara tetap bangga dengan Arab karena dari sana lah Islam datang, Islam Nusantara syahadatnya tetap dengan Bahasa Arab. Begitu pun adzan, iqomat, sholat juga pakai bahasa Arab, niat dan doa buka puasa kadang pakai bahasa arab juga, haji dan umroh juga ke Arab, bukan ke Eropa," tegas Ketua NU Caracas ini.

Bupati Tegal

Ditambahkannya, hanya zakat saja yang agak berbeda, karena zakat di Arab menggunakan gandum atau kurma, sementara di Indonesia menggunakan beras atau uang rupiah, karena makanan pokok masyarakat Indonesia adalah nasi yang dihasilkan dari padi.

"Karena di sini tanaman yang cocok adalah padi, maka para leluhur membuat istilah juga jadilah seperti padi semakin berisi semakin merunduk, karena yang sering dilihatnya padi," ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam memahami Islam Nusantara harus membedakan mana yang sifatnya sakral dan mana yang profan. Karena, kalau yang sakral ini ditambahkan dengan unsur lokal maka akan berakibat menjadi bidah dhalalah.

"Jadi Islam Nusantara bermain dalam tataran yang profan ini, yang bukan prinsipil, contohnya Arab Pegon itu," tutupnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Amalan, Budaya Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock