Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria

Lampung, Bupati Tegal 

Panitia Nasional Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU)  2017 menggelar seminar Pra Munas-Konbes di Bandar Lampung, Sabtu (4/11).

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria

Hadir pada acara ini, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin, sejumlah Pengurus PBNU, panitia Munas-Konbes NU 2017, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH RM. Sholeh Bajuri, dan lain-lain. 

Sementara kegiatan Pra-Munas ini diikuti oleh PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Lampung, PWNU se-Sumatera, PWNU DKI Jakarta, PWNU Banten, dan PWNU Jawa Barat.

Diskusi yang dijadwalkan dari pagi sampai malam hari ini, dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama mengangkat tema Penguatan Organisasi Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama. Sementara sesi kedua mendiskusikan Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga.

Hadir sejumlah pembicara, Ketua PBNU H Muhammad Nuh, Aji Hermawan, Gojek /Buka Lapak, Wakil Ketua Umum PBNU H. Mochammad Maksum Machfoedz, Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia Sofyan A. Jalil, dan Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika. 

Bupati Tegal

Wakil Ketua Panitia Nasional Munas-Konbes NU 2017 H Robikin Emhas saat membuka acara, mengatakan, tema agraria diangkat karena Indonesia  tidak bisa lepas sebagai negara agraria. Menurutnya, jika reforma agraria, infrastruktur, obat-obatan dan lain-lain dikawal secara baik, kesenjangan akan menurun.

"Insyaallah tingkat kesenjangan ekonomi di Indonesia akan berkurang secara signifikan," katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Syariah, Lomba, IMNU Bupati Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

Yogyakarta, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, bekerjasama dengan Rapi Film, Gajah Wong, dan Lesbumi mengadakan acara “Dialog Bersama Artis dan Pemuturan Trailer Film Sang Kyai”, Jum’at siang (17/5), di Ngaben Resto, Jl. Manggis No.77 Nologaten, Yogyakarta.

Sutradara dan dua pemeran utama dalam film Sang Kiai pun didatangkan. Rako Prijanto sebagai Sutradara, Ikranagara yang berperan sebagai Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan Christine Hakim yang berperan sebagai Ibu Kapo, istri mbah Hasyim. Dialog ini dipandu oleh ketua Lesbumi, A. Zastrouw.

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

M. Jadul Maula, dalam sambutannya mewakili PWNU DIY mengatakan bahwa film ini akan mendudukkan kembali hubungan antara agama, pesantren, dan budaya. Film ini, lanjut Jadul, lebih bisa diapresiasi kehadirannya daripada buku, karena dapat menghadirkan imajinasi yang utuh tentang sosok mbah Hasyim dalam kehidupan sehari-ahri.

Bupati Tegal

Wakil Rais Syuriah PWNU DIY ini juga menghimbau agar semua elemen menyambut baik kehadiran film ini. “Segera berbondong-bondong ke bioskop tanggal 30 Mei, dengan niat ngaji dan tafa’ul ‘mencari gambaran atau uswah’ dalam menjalankan kehidupan, dari perjuangan mbah Hasyim dalam mempertahankan bangsa ini. Biar barakah,” tandas Kang Jadul.

Bupati Tegal

Dialog pun berlangsung. Diawali dengan penuturan sang sutradara, Rako Prijanto, yang menceritakan proses pembuatan film ini yang menghabiskan sekitar waktu 3 tahun untuk mempersiapkan semua. “Persiapannya satu tahun, kemudaian riset data selama dua tahun,” paparnya.

Rako juga menceritakan akan betapa beratnya kepercayaan yang harus diemban dalam menggarap film ini, sekaligus dengan kendala-kendala yang dihadapi. Namun ia mengaku lega ketika semua telah selesai. “Dengan perjuangan selama tiga tahun setengah, akhirnya bisa dirilis juga,” ujarnya di depan peserta diskusi siang itu.

Sementara Ikranagara, pemeran mbah Hasyim, mengawali ceritanya dengan membaca surat al-‘ashr. Menurutnya, surat al-‘ashr menjadi sangat penting dalam mencari ruh dari tokoh yang dijalaninya. Dan sebagai salah satu langkah pendalaman peran, ia mengaku sering membaca surat al-‘ashr dalam setiap sholatnya. “Tokoh ini – mbah Hasyim – seperti yang ada dalam surat al-‘ashr. Beliau sosok yang sabar, namun juga tegas, terutama dalam hal akidah”, tuturnya.

Langkah lain dari pendalaman peran yang dilakukannya adalah dengan menjalani riset dengan keluarga mbah Hasyim, guna mengetahui bagaimana sosok mbah Hasyim di mata mereka. Tak hanya itu, ia juga mencoba memahami daerah Tebuireng, yang dahulunya merupakan daerah ‘kotor’, namun merupakan tempat berdakwah mbah Hasyim. “Jadi beliau benar-benar masuk ke dalam daerah ‘kotor’ untuk memperjuangkan nilai akidah,” tandasnya.

Christine Hakim mengatakan, dirinya menyelesaikan film tersebut dengan niat jihad atau syi’ar, karena bukan film biasa. Christine menceritakan bahwa ketika ia menerima tawaran peran sebagai istri mbah Hasyim, ia mengaku tidak membaca skenario dahulu, namun justru ia meminta buku untuk dapat mendalami peran dalam film tersebut.?

Ia juga bercerita, bahwa ia mendapatkan pengalaman spiritual yang banyak dalam peran yang dijalaninya. Ada momen penting yang begitu menyentuh dalam film ini, yakni ketika mbah Hasyim wafat. “Saya merasakan betul bahwa tidak mudah untuk menjadi mbah Hasyim. Beliau telah mendapatkan amanah untuk menjadi ayah, suami, pendiri pesantren, dan nasionalis”, ungkapnya sembari menitikan air mata.

Christine juga memuji akan kesantunan yang ada dalam diri mbah Hasyim, meskipun ilmunya tinggi. “Kesederhanaan, kesahajaannya, itu yang harus membuat kita untuk selalu berkirim do’a kepada beliau”, tandas perempuan yang juga pemeran film Tjoet Nja’ Dhien di akhir pembicaraan.

Dialog tersebut diakhiri dengan ungkapan A. Zastrouw tentang tiga hal yang harus dipahami dalam film Sang Kiai. Yakni, ketersinambungan antara agama dan kebangsaan, peran santri dalam mempertahankan NKRI, dan rekonstruksi makna jihad yang sebenarnya.?

Redaktur ? ? : A. Koirul Anam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, IMNU, Ulama Bupati Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos

Jakarta, Bupati Tegal -

Forum Alumni Pergerakan Mahasiswa Uslam Indonesia Universitas Indonesia (Forluni PMII UI), Depok, Jawa Barat yang merupakan forum generasi muda NU berhaluan ahlusssunnah wal jamaah annahdliyyah, menyayangkan media sosial (medsos) yang belakangan ini dipenuhi ujaran kebencian.

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos

"Dinamika Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta telah menyita perhatian publik. Hiruk Pikuk PILKADA DKI Jakarta seolah menyiratkan pesan betapa pentingnya perebutan kursi DKI satu tersebut. Semua energi dihabiskan untuk meraih pucuk kepemimpinan Jakarta untuk periode 5 tahun ke depan," ujar Ketua Forluni PMII UI, Achmad Solechan, melalui rilis kepada Bupati Tegal, Ahad (16/10).

Terlebih lagi, imbuhnya, pasca penyelenggaraan acara Indonesia Lawyers Club dengan tema "Setelah Ahok Meminta Maaf" tempo hari, jagad media sosial, mulai dari facebook, path, instagram, twitter sampai aplikasi chatting online semacam whatsapp dipenuhi dengan obrolan seputar pernyataan Nusron Wahid mengenai pandangannya terhadap Ahok dan sikap kritisnya atas tafsir ulama terhadap pemilihan pemimpin non muslim yang ia sampaikan dalam acara diskusi tersebut.

Publik dibuat gempar dengan pernyataan dan sikap dari politisi Partai Golkar yang juga mantan Ketua Umum GP Ansor, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sekaligus alumni PMII Universitas Indonesia itu.

Bupati Tegal

"Kini, seperti yang dapat kita saksikan sendiri, wajah jagad media sosial Indonesia mulai dipenuhi oleh berbagai macam meme-meme dan karikatur yang membawa pesan kebencian dan ajakan yang bersifat provokatif. Kesantunan dan kebersamaan sebagai anak bangsa yang relijius, yang hidup dan tumbuh bersama-sama dalam bingkai ke Indonesiaan, tiba-tiba mulai menghilang," ujar Achmad.

Berdasarkan beberapa hal tersebut, atas nama Forluni PMII UI Depok yang merupakan forum generasi muda NU berhaluan ahlusssunnah wal jamaah annahdliyyah, mengajak kepada semua elemen bangsa (agar) mampu menahan diri dan (berpikir) jernih dalam memandang Pilkada DKI Jakarta.

"Isu Pilkada DKI Jakarta telah bergeser dari persoalan politik berupa suksesi kekuasaan menjadi isu SARA. Bhineka Tunggal Ika, sebagai motto hidup bersama anak bangsa jangan sampai dinodai dan dengan sengaja dilecehkan demi kepentingan sempit politik kekuasaan untuk meraih kemenangan. Jangan sampai pesta lima tahunan merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita ikuti semua proses suksesi ini secara demokratis demi Indonesia yang lebih baik," kata dia lagi.

Bupati Tegal

Forluni PMII UI prihatin atas wajah Islam Indonesia yang semakin tidak ramah dan menunjukkan sikap berlebih-lebihan. Islam menjadi kendaraan dan pembenaran atas perilaku petualang-petualang politik yang memiliki ambisi besar terhadap kekuasaaan.

"Para politisi hendaklah mengedepankan politik kebangsaan dan kerakyatan dimana kemaslahatan dan kesejahteraan ummat yang harus dinomorsatukan dan diutamakan, bukan malah ambisi dan nafsu berkuasa," ujar Achmad lagi.

Fitnah adalah tindakan keji yang dikutuk oleh Islam. "Dalam hal ini, sahabat Nusron Wahid adalah kader PMII UI yang tidak pernah memiliki nama Nusron Purnomo. Nama Nusron Purnomo disebarluaskan untuk menyerang dan memfitnah pribadinya. Oleh karena itu, kami mengutuk dan mengecam semua serangan dan pelecehan yang ditujukan kepada pribadi sahabat Nusron Wahid yang disebarkan secara luas ? melalui jejaring media sosial dalam bentuk tulisan, meme-meme dan karikatur yang cenderung berisi fitnah, hasutan dan beragam ungkapan kebencian. Sebagai sesama anak bangsa dan sesama alumni PMII UI, kami mendukung dan mendorong sahabat Nusron Wahid agar ? menyelesaikan semua fitnah dan pelecehan terhadap pribadinya tersebut melalui jalur gukum, sebagai bentuk pembelajaran kepada kita semua. Selain itu, kami juga mengapresiasi sahabat Nusron Wahid atas ketegasannya dalam meneguhkan NKRI sebagai bentuk final bernegara dengan Pancasila sebagai Dasar Negara," tuturnya.

Forluni PMII UI mengajak kepada semua komponen bangsa agar momentum Pilkada DKI dijadikan ajang refleksi diri atas konsep ke-Indonesia-an kita yang sesungguhnya.?

"Mari melihat dan menata kembali secara bersama-sama sudut pandang kita sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia, bahwa semua proses politik yang yang tengah berlangsung adalah semata-mata untuk kemasalahatan Indonesia," Achmad Solehan.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta dengan tegas adanya proses hukum bagi Ahok terkait dugaan penistaan agama.? (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU Bupati Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum

Bantul, Bupati Tegal. Di mata KH. A Mustofa Bisri, KH. Ali Maksum adalah seorang kiai yang tidak hanya memiliki keilmuan tinggi tetapi juga dermawan terhadap para santri.

Pejabat Rais Aam PBNU yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut dalam acara Haul KH. Ali Maksum Ke-25 di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (10/3).

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesaksian Gus Mus Tentang KH Ali Maksum

“Hanya di pesantren Krapyak sini, santri kehabisan uang malah pinjam kiainya. Dulu itu, di setiap sudut pesantren dipasangi speaker timbal balik. Ketika Pak Ali ngendikan (bicara), bisa didengar santri dan begitu pun sebaliknya. Jadi Pak Ali itu tahu semua tingkah polah santri-santri. Jika ada santri yang malu-malu pinjam sama Pak Ali, santri itu bicara ? di dekat speaker. Bilang kalau enggak punya uang. Masyaallah, Pak Ali yang mendengar keluhan santri tersebut langsung meminjaminya. Kalau tidak Pak Ali tidak mungkin ada,” kenang Gus Mus.?

Bupati Tegal

Tidak hanya itu saja, kedermawanan KH. Ali Maksum juga tampak ketika Rais Aam PBNU 1980-1984 ini mengikhlaskan semua barang-barangnya yang diambil oleh santri. “Semua barangku yang diambil oleh santri, saya halalkan. Asalkan tidak ketahuan,” tutur Gus Mus menirukan ucapan KH. Ali Maksum yang disambut gelak tawa para jamaah.

Selain dermawan, Gus Mus juga mengatakan bahwa KH. Ali Maksum merupakan seorang kiai yang hafal seluruh nama santri-santrinya.?

Bupati Tegal

“Kiai Ali itu hafal semua nama santri. Kalau ada haulnya Kiai Munawwir atau acara mantenan, semua santri itu dikasih undangan dan ditandatangani langsung oleh Kiai Ali. Jadinya nggak enak kalau tidak datang,” ujar Gus Mus.?

Tidak hanya itu saja, Gus Mus juga mengatakan bahwa Kiai Ali adalah satu-satunya kiai yang dipanggil bapak oleh semua santri. Saking sayangnya terhadap para santri-santrinya. (Nur Rokhim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Syariah, IMNU Bupati Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Pelajar Miliki Peran Strategis Teguhkan Islam Nusantara

Tasikmalaya, Bupati Tegal. Pelajar sebagai generasi penerus memiliki peran yang sangat setrategis dalam meneguhkan Islam Nusantara yang merupakan perjuangan para Ajengan/kiai yang berjuang dengan tulus dan ikhlas untuk rakyat, agama dan bangsa tercinta ini.

Pelajar Miliki Peran Strategis Teguhkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Miliki Peran Strategis Teguhkan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Miliki Peran Strategis Teguhkan Islam Nusantara

Hal itu disampaikan Fikri Nursamsi, Ketua PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya saat ditemui Bupati Tegal di Sekretariat PC IPNU Kabupaten Tasikmalaya Jl Raya timur No 505 Badakpaeh Cipakat Singaparna, Sabtu (20/6).

“Pelajar yang saya maksud adalah Santri, pelajar dan mahasiswa. Ini seringkali menjadi incaran kelompok yang tidak suka dengan Islam Nusantara, karena pentingnya peran pelajar dalam menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa depan,” terang Fikri.

Bupati Tegal

Pemuda hari ini, lanjutnya, adalah pemimpin dimasa yang akan dating. Di tangan pemudalah suatu umat dan di kaki merekalah kehidupan umat. Dengan ini jelas bahwa pelajar sangat diharapkan kontribusinya di masa yang akan datang yang dalam hal ini salah satunya adalah meneguhkan Islam Nusantara.

Bupati Tegal

“Ini juga merupakan PR bagi kami atas nama PC IPNU untuk bisa mengawal dan meyakinkan rekan-rekan pelajar untuk teguh memperjuangkan dan memahami tentang Islam secara mendalam, supaya tidak salah dalam memaknainya,” jelasnya. 

Dan pesantren, imbuhnya, merupakan salah satu tempat yang sangat penting dalam meneguhkan Islam Nusantara. Sebab itu, dirinya sangat setuju dan mendukung dengan gerakan nasional ayo mondok yang sekarang sedang digalakan.

“Belajar, berjuang dan bertaqwa itulah peran kita sekarang sebagai pelajar untuk menyongsong masa depan, dengan ini kita bisa meneguhkan Islam Nusantara dan bisa memberikan manfaat yang besar bagi agama, bangsa dan Negara,” tandasnya. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU Bupati Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Brebes, Bupati Tegal 



Permainan sepak bola api, menjadi tontonan menarik bagi warga masyarakat Brebes. Terbukti, ratusan penonton berjubel untuk menyaksikan pertunjukan permainan itu meskipun terkadang ketakutan karena bola apinya meluncur hingga ke arah penonton. Suara sorak sorai pun membahana ketika bola api tak bisa ditangkap penjaga gawang dan akhirnya gol.

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Suasana permainan bola api terlihat sangat meriah ketika berlangsung pertandingan sepak bola api dalam rangka tahun baru Hijriyah dan Hari Santri Nasional 2017 tingkat Kabupaten Brebes beberapa waktu yang lalu. 

Ketua Panitia Tahun Baru Islam dan Hari Santri Nasional 2017 H Athoilah Syatori menerangkan, bola api yang dimainkan tiap-tiap grup berjumlah 5 pemain tersebut berlangsung meriah. 

Dalam pertandingan tersebut, akhirnya grup sepak bola api dari Pondok Pesantren Fathurohmah Kubangpari Kersana akhirnya berhasil menjadi juara satu setelah mengalahkan Pondok Pesantren Manarul Huda Bandungsari Banjarharjo dengan skor 3-2. Sementara juara 3 diraih Pondok Pesantren Ta’allamul Huda Ganggawang Salem.

Bupati Tegal

Selain lomba bola api, lanjut Athoillah, juga digelar perlombaan lain yang berjumlah 11 perlombaan. Perlombaan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, di dapatkan para pemenang sebagai berikut. Lomba Pawai Taa’ruf juara 1 Pondok Pesantren Mubarokatul Ulum Penanggapan Banjarharjo, juara 2 MTs N Model Brebes dan juara 3 Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.

Untuk Lomba Kasidah, juara 1 grup Al Huda Sigempol Randusanga Kulon Brebes, juara 2 Fatayat NU Ranting Sindangjaya Ketanggungan dan juara 3 Al Badru Pakijangan Bulakamba. 

Lomba Srakalan, juara 1 Al Jadid Glonggong Wanasari, juara 2 Sunan Kalijaga Karengsembung Songgom dan juara 3 Al Abasiyah Sawojajar Losari. 

Bupati Tegal

Lomba Hafalan Juz 30, juara 1 M Irsyad Kaligangsa Brebes, juara 2 Elwiyah El Yumna Sengon Tanjung dan juara 3 A’lajjun Nabawati Limbangan Losari.

Lomba Pildacil juara 1 Munadiyatul Khiyari Wahid dari Salem, juara 2 Balqis Nutvi Mikyal Fiyaz Azzihara Rengabandung Jatibarang dan juara 3 Afhimni Mu’tasima Bangbayang Bantarkawung.

Lomba Baca Puisi Islami juara 1 Putri Nur’ani dari SMA 1 Brebes, juara 2 Vina Lutfiah SMA 2 Brebes dan juara 3 Chaerullah Aldan dari Limbangan Brebes.

Lomba Hadroh, juara 1 grup As Shofa Klampis Jatibarang, juara 2 Asy Syakiroh Sitanggal Larangan dan juara 3 Assalafiyah 2 Brebes.

Lomba Hafalan Nadhom Imriti, juara 1 M Izzudin Banjir Hidayah dari Salem, juara 2 Jenjen Salem dan juara 3 Aghni M Ramdani juga dari Salem.

Lomba Nadhom Alfiyah, juara 1 dimenangkan Imam Ubaidillah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba, Fitriatun Hasanah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan juara 3 Hijan Rizki Mahendra Pondok Pesantren Ta’alamul Huda Salem.

Sedangkan Lomba Qiroatul Kutub juara 1 Zulhaili Zulfa dari Pondok Pesantren Al Falah Salafi Jatirokeh Songgom,  juara 2 Lili Mutammimatun dari Pondok Pesantren Assalafiyah dan juara 3 Amin Mubarok dari Pondok Pesantren Assalaifyah Luwungragi Bulakamba. 

Menurut Athoillah, penyerahan hadiah berupa piala, piagam dan sejumlah uang pembinaan akan diberikan pada saat puncak peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2017 mendatang. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Cerita, Makam Bupati Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen

Medan, Bupati Tegal

Pembangunan Kantor baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera utara yang beralamat di Jalan Sei Batang Hari No 52 Medan sudah mencapai 80 persen.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris PWNU Sumut Drs Misran Sihaloho MSi kepada sejumlah wartawan, Sabtu (6/6) di lokasi pembangunan Kantor baru PWNU Sumut, seperti dilaporkan kontributor Bupati Tegal Muhammad Safii Sitorus.

Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen

Misran menjelaskan pembangunan Kantor PWNU Sumut diawali dengan peletakan batu pertama oleh Ketua Umum PBNU DR KH Hasyim Muzadi pada Juli 2007 lalu usai melantik PWNU Sumut di bawah kepemimpinan H Ashari Tambunan masa bhakti 2007-2012.

Bupati Tegal

Dijelaskan Misran pembangunan Kantor PWNU tersebut berdiri diatas tanah 10X37 M2 atas sumbangan keluarga besar Alm H Djamaluddin Tambunan dan Keluarga Alm H Usman Siregar.

Bupati Tegal

”Kantor PWNU Sumut ini berjumlah 3 lantai, yang peruntukannya adalah lantai I untuk administrasi, ruangan Mustasyar dan Musholla.Lantai II ruang Tanfidziyah, Syuriyah, lembaga dan badan otonom PWNU Sumut. Sedangkan lantai III merupakan Aula pertemuan yang bisa menampung 300 warga Nahdiyin,” ujar Misran.

Dana yang digunakan untuk pembangunan Kantor PWNU Sumut iniberjumlah Rp1,5 Milyar yang berasal dari sumbangunan dari warga Nahdlyin dan Pemerintah Propinsi Sumatera utara (Pemrovsu).

”Insya Allah pembangunan kantor ini selesai pada akhir Agustus 2009 ini. Diharapkan dengan beroperasinya Kantor PWNU Sumut ini seluruh aktivitas organisasi dapat dijalankan dengan baik sehingga program-program bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan cita-cita kepengurusan yang dilantik pada Juli 2007 lalu,” ujar Misran.

Misran mengungkapkan keberadaan Kantor baru PWNU Sumut ini akan menjadi ruh baru dan semangat baru bagi warga Nahdliyin di Sumut serta menunjukkan bahwa  sesungguhnya NU di Provinsi memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kemajuan dan pembangunan di Sumut.

”Terlaksananya pembangunan Kantor baru PWNU Sumut ini tidak lepas dari doa dan dukungan dari warga Nahdliyin Sumut. Oleh karenanya PWNU Sumut mengharapkan doanya juga agar proses pembangunan selesai sesuai dengan waktu yang telah direncakan,” demikian Misran. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Daerah Bupati Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain

Yogyakarta, Bupati Tegal

Sebagai organisasi kemahasiswaan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki organanisasi lain. Tidak hanya mengedepankan aspek modernitas saja, namun juga tetap membawa aspek tradisionalitas. Sama halnya dengan kaidah fiqih, al-muhafadhatu alal-qadimish-shalih wal akhdzu bil jadiidil-ashlah (melestarikan tradisi lama yang bagus dan mengadopsi hal-hal baru yang lebih bagus).

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Nilai-nilai Aswaja Bedakan PMII dari Organisasi Kepemudaan Lain

Demikian yang disampaikan seorang Muntaha, akademisi Universitas Islam Indonesia pada Diskusi Publik dan Rapat Kerja Cabang PMII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan tema "Tafsir Ber-PMII dalam Konteks Kepemudaan, Akademis dan Politik".

Pria alumnus PPMI Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga ini menyatakan bahwa kader PMII hendaknya? tidak mengabaikan bidang akademik. "Kelemahan anak-anak PMII itu kalau ditanya soal akademik pasti pada kalang kabut," ujarnya sambil terkekeh.

Bupati Tegal

Muntaha menegaskan betapa pentingnya dunia akademik dalam menjawab tantangan zaman. Beberapa di antaranya yaitu PMII harus mengembangkan riset yang mendalam, sebagai katalis wacana dalam berbagai bidang, menjadi gerakan intelektual di tengah kemacetan wacana, tempat titik temu antara teoritis dan praktis, membangun sumber daya sesuai keilmuan masing-masing.

Berbeda halnya yang dikatakan Abdul Halim, Wakil Bupati Bantul bahwa penting bagi kader PMII untuk memahami aspek politik secara utuh. Namun, tanpa harus meninggalkan tradisi yang dianut. "Politik yang harus diperagakan kader PMII yaitu politik nilai, bukan politik praktis," tuturnya.

Bupati Tegal

Banyak orang yang salah mengartikan tentang makna politik. Sebenarnya politik merupakan wasilah (alat) untuk membawa nilai-nilai yang diyakini dan dianut ke ranah manajemen pemerintahan. "Sedangkan nilai-nilai kita itu Ahlussunnah wal Jamaah," ujarnya

Abdul Halim menyatakan, masa depan mensyaratkan kompetisi. Dalam ranah perpolitikan, Nahdlatul Ulam (NU) secara umum mempunyai peran strategis. Karena NU memiliki prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun. dan taadul, ia pun mampu merangkul kaum ekstrem kiri dan ekstrem kanan. Wakil bupati asal Rembang itu juga berpesan kepada kader PMII yang notabenenya lahir dari rahim NU, hendaknya tidak hanya menjadi kader NU semata, melainkan kader bangsa untuk membangun bangsa.

Diskusi publik ini dihadiri oleh kader PMII dari komisariat serta rayon di berbagai kampus di Yogyakarta, seperti UIN Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia (UII), Stimik An-Nur. Setelah selesai baru kemudian rapat kerja dimulai.

Diskusi yang di selenggarakan di Gedung Conventional Hall Universitas Islam Negeri Sunan kalijaga, Rabu (1/6) ini bertepatan dengan hari lahirnya Pancasila. Rektor Baru UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi yang dijadwalkan mengisi turut acara ternyata berhalangan hadir karena mantan aktivis PMII Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga ini mendapat panggilan mendadak dari kementerian. (Ahmad Solkan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, AlaNu Bupati Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

Wapres Ajak NU Atasi Ketertinggalan

Jakarta, Bupati Tegal. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan umat Islam di Indonesia beruntung karena dapat hidup dalam kondisi aman dan damai, namun demikian, tantangan yang dihadapi saat ini adalah ketertinggalan dan disinilah energi harus difokuskan.?

“Inilah yang menjadi tantangan kita, dan tantangan NU. Kita tidak ada masalah politik yang besar, kita tidak ada masalah ideologi yang besar. Kita memiliki tantangan ketertinggalan ekonomi dan kemiskinan. Ini memberi efek pada umat. NU merupakan bagian terbesar dari umat tentu bagian terbesar dari tatangan ini,” katanya ektika memberikan sambutan dalam acara pengukuhan pengurus PBNU, Sabtu (5/9).

Wapres Ajak NU Atasi Ketertinggalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wapres Ajak NU Atasi Ketertinggalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wapres Ajak NU Atasi Ketertinggalan

Ia menegaskan, NU memiliki peran besar bukan hanya dalam bidang keagamaan seperti kegiatan shalawat dan istighotsah, tetapi NU harus turut serta membangun bidang pertanian, perdagangan dan lainnya. “Karena hanya dengan cara inilah kita menghadapi tantangan ketertinggalan,” tandasnya.

Bupati Tegal

Program pemerintah saat ini yang berusaha memajukan Indonesia dari desa akan memiliki dampak besar terhadap jamaah NU yang kebanyakan tinggal di desa. .

“NU sebagai bagian bangsa yang sangat besar akan merasakan kesulitan apabila ada masalah tetapi akan bergembira jika berhasil mengadapi tantangan tersebut.”

Jusuf Kalla yang juga salah satu mustasyar NU ini menegaskan sudah waktunya ketergantungan pada pihak lain diakhiri.

Bupati Tegal

“Masa dimana tangan di bawah harus diakhiri. Karena kita pada dasarnya tidak kekurangan. Karena itu apabila ada yang kekurangan seperti penduduk Rohingnya, kita membantu. Sekiranya Timur Tengah tidak jauh, kita akan membantu, tetapi kita jauh,” tandasnya.?

Umat Islam Indonesia, tidak hanya penting memelihara persaudaraan sesama Islam (ukhuwah islamiyah) tetapi juga penting menjaga pesaudaraan kebangsaan (ukhuwan wathaniah), dan juga ukhuwan basyariah atau komitmen atas persoalan-persoalan kemanusiaan.?

“Mudah-mudahan kita dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Terima kasih, selamat kepada pengurus NU, mudah-mudahan segala khidmatnya agar bermanfaat.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Quote Bupati Tegal

Kamis, 30 November 2017

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif

Yogyakarta, Bupati Tegal. Demontrasi, dalam iklim demokrasi merupakan satu keabsahan sebagai sarana menyampaikan aspirasi. Namun, keabsahan itu hanya akan maklum sepanjang tidak dilakukan dengan kekerasan atau melanggar hukum dan hak-hak asasi pihak lain.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI) Enok Ghosiyah saat dihubungi melalui surel, menyoroti unjuk rasa 4 november mendatang.

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Muda Harus Sikapi Perbedaan secara Kreatif

"Kita sebagai kader muda bangsa Indonesia, jangan sampai terprovokasi atas isu yang kini berkembang liar. Sebagai akademisi yang concern pada wacana keIslaman, seyogyanya kita meneladani para ulama dan intelektual muslim masa lalu, yang mengedepankan kedewasaan berpikir dalam menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin," kata Enok.

Menurutnya, perdebatan soal keyakinan bukanlah hal baru. Hal ini pernah, misalnya, pada masa Dinasti Abbasiyah yang menyediakan semacam, "majlis" khusus bagi perdebatan teologis, terutama antara intelektual Muslim dan pemikir Kristen.

"Namun, yang menarik adalah dalam forum itu, mereka tidak hanya rileks dalam bertukar pikiran, bahkan memprakarsai forum untuk beradu argumen secara sehat dan bersahabat. Hal ini dapat terwujud, sebab yang dikedepankan adalah kedewasaan berpikir dalam menyikapi perbedaan secara konstruktif dan kreatif," tegas perempuan asal Banten ini.

Bupati Tegal

Terakhir, Sekjen FKMTHI menghimbau kepada para kader muda Tafsir Hadis Indonesia, untuk tetap tenang, serta tidak mudah termakan isu atau terprovokasi. Sebab, turun ke jalan bukanlah penyelesaian. Karena yang musti senantiasa dikedepankan oleh generasi muda adalah menjaga keutuhan bangsa dengan menyikapi keragaman secara kreatif dan sehat. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal IMNU, Bahtsul Masail, Pertandingan Bupati Tegal

Selasa, 28 November 2017

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

Boyolali, Bupati Tegal. Untuk meningkatkan mutu organisasi, Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tengah mempersiapkan diri untuk melakukan akreditasi ke tingkatan Pimpinan Anak Cabang (PAC) hingga ranting.

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Boyolali Siap Adakan Akreditasi PAC

Menurut Kasatkorcab Banser Boyolali, Abdullah, akreditasi ini merupakan program lanjutan dari tingkatan atas.

“Kalau di tahun 2016, akreditasi sebatas tingkatan PC, tahun 2017 ini sudah sampai tingkatan PAC,” jelas Abdullah saat dihubungi Bupati Tegal, Jumat (6/1).

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah, dari sekian PAC yang diakreditasi, nantinya akan dipilih 1 PAC terbaik untuk diajukan ke tingkatan Pimpinan Wilayah (PW) GP Ansor Jawa Tengah.

Bupati Tegal

Adapun penilaian akreditasi meliputi beberapa aspek, yakni bidaing administrasi, kebanseran, Rijalul Ansor, ekonomi dan kaderisasi.?

“Banyaknya jumlah anggota belum tentu menjadi penentu yang terbaik, sebab mesti ada kriteria pemerataan anggota dan rutinitas kegiatan,” paparnya.

Sementara itu, di bidang ekonomi, PAC yang akan diakreditasi memiliki usaha yang dapat mensejahterakan anggotanya. “Misal memiliki koperasi atau produksi lainnya,” jelas dia.?

Dengan adanya program akreditasi ini, diharapkan para pengurus PAC juga dapat berbenah, untuk menghidupkan kepengurusan ranting-ranting yang ada di bawahnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Santri, IMNU, Lomba Bupati Tegal

Kamis, 23 November 2017

Warga NU Balikpapan Hadiri Maulid Nabi dan Harlah NU

Balikpapan, Bupati Tegal. Ratusan warga nahdliyyin yang terdiri dari Pengurus Cabang, Majelis Wakil Cabang, Ranting NU dan warga NU hadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H dan Harlah ke-87 NU yang dirangkai dengan launching website resmi PCNU Kota Balikpapan, Selasa (5/2) malam.

Bertempat di Gedung Dakwah PCNU Balikpapan Jl Soekarno – Hatta Km 4.5 Batu Ampar Balikpapan Utara, acara yang dimulai setelah Isya tersebut diisi dengan pembacaan qashidah Burdah karya Imam Ahmad Al-Bushiri yang dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Balikpapan KH Mukhlashin. Dilanjutkan dengan mauidlatul Hasanah yang disampaikan oleh Wakil Rais Syuriyah PCNU Balikpapan KH Muhammad S. Fajar Ali.?

Warga NU Balikpapan Hadiri Maulid Nabi dan Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Balikpapan Hadiri Maulid Nabi dan Harlah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Balikpapan Hadiri Maulid Nabi dan Harlah NU

Dalam penyampaiannya, KH Fajar menekankan pentingnya memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebab saat ini ada sebagian orang tidak mau memperingati maulid Nabi, bahkan ada yang tidak mau memakan makanan halal yang berasal dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.?

Bupati Tegal

Ia menjelaskan, Abu Lahab yang sudah di nas masuk neraka di dalam Al-Quran masih diberikan keringanan siksa oleh Allah SWT, disebabkan ia gembira atas kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga ia pun memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah karena telah memberitahukan kabar gembira kelahiran Nabi Muhamamd SAW kepadanya.?

Bupati Tegal

Diakhir tausiyahnya, KH Fajar mengingatkan 3 hal yang menyebabkan seseorang tidak akan berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Pertama, durhaka kepada kedua orang tua, kedua, sengaja meninggalkan sunnah Nabi, dan ketiga, tidak bershalawat tatkala disebut nama Nabi Muhammad SAW, bahkan di dalam riwayat lain, orang tersebut termasuk orang yang bakhil.?

Sebelum acara ditutup, KH Mukhlasin yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Izzah Km 15 Balikpapan melaunching website resmi PCNU Kota Balikpapan dengan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Ia juga menghimbau agar seluruh Majelis Wakil Cabang mengadakan kegiatan-kegiatan rutin yang bermanfaat bagi umat serta membentuk ranting-ranting NU yang belum terorganisir. Acara yang berakhir sekitar jam setengah 11 malam tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Rais Syuriah PCNU Kota Balikpapan KH Abbas Al-Faz.?

Drs Imam Warosy selaku sekretaris PCNU Kota Balikpapan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, khusus kepada H. Arin (Rapilo), H. Andi Arif, H. Sutrisno dan semuanya. "Semoga amal baik mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda. Aamiin", ungkapnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdur Rohim

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU Bupati Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Konfercab ke-3 PCINU Korsel Hasilkan Poin-poin Strategis

Incheon,Bupati Tegal

Sebanyak 300 anggota Nahdatul Ulama (NU) hadir pada Konferensi ke-3 Pengurus Cabang Istimewa Nahdatul Ulama (PCINU) Korea Selatan di Incheon, Ahad (8/10). 

Konferensi berhasil memilih Mahdi Ar-rasyid, buruh migran Indonesia asal Indramayu sebagai Ketua PCINU Korea Selatan periode 2017-2019 yang dipilih lewat pemungutan suara dari muktamirin yang hadir. 

Konfercab ke-3 PCINU Korsel Hasilkan Poin-poin Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab ke-3 PCINU Korsel Hasilkan Poin-poin Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab ke-3 PCINU Korsel Hasilkan Poin-poin Strategis

Selain itu terpilih Gus H Ulin Huda dan Ustad Burhanudin sebagai Rais Syuriah PCINU Korsel masa bakti 2017-2019 yang dipilih lewat musyawarah AHWA yg terdiri dari 9 Orang.

Duta Besar RI, Umar Hadi dalam sambutannya, menekankan pentingnya menjaga silaturahmi antar sesama WNI di Korea. 

“Tanpa silaturahmi, maka masa depan bangsa tidak akan cerah,” ungkap Hadi.

Bupati Tegal

Semangat menjaga tali silaturahmi dan sukarela kumpul dalam wadah NU begitu tinggi. 

Bupati Tegal

“Saya sangat terharu sekaligus senang. Masa depan Indonesia akan lebih baik jika melihat wajah anak-anak yang ada disini,” tambahnya.

Umar Hadi berharap PCINU berfungsi sebagai kendaraan dan pendorong untuk menjadikan semua anggota dan seluruh WNI di Korea berhasil, baik di dunia maupun akhirat. PCINU juga didorong sebagai pemersatu dan pemecah masalah dengan cara merangkul semua orang.

Sebagaimana di berbagai acara yang melibatkan WNI, Umar Hadi menekankan pentingnya setiap buruh migran Indonesia untuk memperhatikan keselamatan kerja. 

"Tolong fokus, jaga kesehatan, makan yang benar dan saling mengingatkan agar kita terhindar dari kecelakaan kerja. Apabila terdapat hal-hal yang tidak memenuhi kriteria keselamatan kerja silahkan dilaporkan ke KBRI," harapnya.

Ketua PCINU terpilih, Mahdi Ar-rasyid menyatakan siap melaksanakan pesan Dubes Umar Hadi tersebut. Mahdi juga menyerukan agar semua anggota menjaga akidah agar terhindar dari paham-paham radikal.

Ia memaparkan program PCINU Korea ke depan antara lain menjaga akidah teman-teman NU agar tetap mengedepankan Islam rahmatan lil alamin dan menjauhi paham radikal.

"Selain itu, kami akan terus mendorong agar fokus kerja dan mempersiapkan calon purna TKI agar siap membuka usaha sendiri saat kembali ke Indonesia,” kata Mahdi.

Konfercab ke-3 PCINU Korsel juga menghasilkan poin-poin strategis diantaranya rencana pengelolaan aset Nahdliyin di korea, pengiriman dai dari LDNU secara berkesinambungan, kaderisasi Nahdliyin ditiap-tiap mushala dan masjid di Kosel, serta silaturrahmi tahunan Nahdliyin di Korea Selatan. (Imam Sibaweh/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Sejarah, IMNU, Warta Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Oleh H. Usep Romli HM

DULU, pesantren yang hanya mengajarkan kitab-kitab? klasik -disebut "kitab kuning"- disebut sebagai "pesantren tradisional",? sekarang disebut "pesantren salafiyah". Mungkin agar lebih mentereng,

mengikuti kemajuan zaman.

Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Maka tentu saja, era "tradisional" jauh berbeda dengan era "

salafiyah". Santri-santri pesantren tradisional kurun waktu 20-40 tahun yang

Bupati Tegal

lalu benar-benar tradisional. Berpenampilan khas: sarung, kampret, dan

kopiah beludru hitam. Tidak ada yang coba-coba pakai kopiah putih alias

kopiah haji, atau kopiah model dan potongan lain di luar kopiah beludru

hitam seperti aneka model tutup kepala warna-warni yang banyak dipakai

Bupati Tegal

santri zaman sekarang. Kopiah putih merupakan ciri bagi yang sudah

menunaikan ibadah haji. Kopiah di luar model serta warna beludru hitam

dianggap bukan kopiah santri.

Santri sekarang menamakan tempat tinggal mereka asrama. Kamar

dilengkapi tempat tidur, berkasur, dan berbantal empuk. Santri zaman dulu,

tinggal di kobong. Petak-petak kamar kecil yang merupakan bagian dari

bangunan pondok. Alat tidurnya hanya sehelai tikar pandan. Jarang pakai

bantal. Waktu tidur, kepala sering tanpa ganjal.

Kebutuhan makan harus masak sendiri, sebelum atau seusai

mengaji. Di bagian samping pondok, biasanya disediakan sebuah tempat semacam

dapur yang lazim disebut "tungku".

Alat memasak cukup sebuah kastrol sehingga menuntut ilmu di

pesantren sering diguyonkan menjadi "kastrologi". Sebab menanak nasi liwet

di dalam kastrol merupakan keahlian tersendiri para santri. Lauknya cukup

(kalau ada) sepotong ikan peda beureum. Tak pernah digoreng (karena tak ada

minyak kelapa) atau dibakar (takut gosong). Cukup dimasukkan ke atas nasi

liwet yang airnya baru surut. Oleh karena itu, menanak nasi liwet di

pesantren sering dijuluki elmu sabuku curuk ditumpangan peda beureum.

Keahlian lain dalam hal urusan perliwetan ini, para santri mampu

membuat kerak tsani. Kerak dua lapis, atas dan bawah. Ini dilakukan apabila

persediaan beras sudah amat menipis, sedangkan kiriman dari orang tua belum

datang. Perut diisi kerak cukup tahan lama menghadapi lapar. Keripik

singkong atau jarangking yang juga keras-keras mirip kerak, biasa menjadi

bekal cadangan para santri karena punya kemampuan mengenyangkan perut.

Santri abad Milenium tentu akan tertawa geli mendengar informasi

semacam itu. Mereka beruntung menjadi santri "salafiyah" yang sudah mengenal

makanan ransuman, indekos atau beli sendiri. Di saku mereka tersedia kartu

ATM yang dapat digunakan setiap saat, apabila kiriman bekal dari rumah

terlambat. Santri "tradisional" 20-40 tahun yang lalu, boro-boro punya ATM.

Uang recehan di saku juga jarang ada.

Adrahi

Rasa kebersamaan dalam keprihatin di lingkungan pesantren

tradisional benar-benar terjalin kuat. Prinsip ta-awanu alal birri wat taqwa

(kerja sama dalam kebajikan dan takwa) yang merupakan perintah Allah SWT

(Q.S. al Maidah: 2), benar-benar ditaati dan dilaksanakan sehari-hari.

Santri-santri senior, tanpa harus diminta, siap membantu santri-santri

junior. Mereka sigap membantu memperkenalkan cara-cara hidup di pesantren.

Mulai dari memasak, makan, hingga membaca kitab kuning, tanpa melalui

formalitas semacam perpeloncoan atau masa orientasi studi. Semua berjalan

otomatis. Saling bantu membantu, saling memberi motivasi.

Bahkan, praktik makan pun tak terlepas dari rasa kebersamaan.

Empat atau lima santri menggabungkan beras untuk ditanak pada satu kastrol.

Setelah masak dimakan secara berjamaah. Nasi liwet dihamparkan di atas niru

atau daun pisang. Memang ada untung rugi. Santri yang gembul akan menyita

bagian santri yang caman-cemen. Namun Alhamdulillah, semua santri pesantren

tradisional, tak pernah kehilangan nafsu makan. Rata-rata semua gembul,

walaupun lauk nasi cuma ikan peda, cabai rawit, atau garam. Tak pernah

tersisa remah sebutir pun di atas niru atau daun pisang bekas alas nasi.

Sebulan sekali, tiap santri mendapat kesempatan pulang ke rumah

masing-masing, bergiliran. Secara tidak langsung, santri yang pulang

mempunyai kewajiban membawa adrahi (oleh-oleh) jika kembali lagi ke

pesantren. Santri yang tidak membawa adrahi akan mendapat gelar qorun alias

kikir. Suka disindir cap jahe atau buntut kasiran. Sindiran yang menunjukkan

sikap pelit dan tidak mau berbagi.

Adrahi para santri, biasanya dikumpulkan di atas niru. Satu dua

niru penuh aneka macam makanan, yang asin yang manis, yang kering yang

basah. Opak kolontong, ulen, ranginang, sale pisang, goreng jarangking, tape

singkong, bugis, rebus ubi jalar, dan taburan sarundeng, saling campur-baur

satu sama lain. Tidak masalah. Yang penting halal dan enak. Perut santri

sangat mudah berkoalisi dengan makanan apa pun.

Rendah Diri

Waktu itu, jarang santri yang merangkap sambil sekolah sebab? pondok pesantren masih benar-benar mandiri. Bukan lembaga pendidikan? alternatif seperti sekarang. Menjadi santri atau siswa sekolah adalah pilihan pasti. Salah satunya harus dijalani penuh.

Tak heran jika terjadi gap antara pesantren dan sekolah, antara

santri dan pelajar. Banyak santri yang merasa rendah diri jika harus pergi

ke tengah kota. Sebaliknya, tak jarang anak-anak sekolah ngajago di kawasan

pesantren. Kasus semacam ini, sangat plastis dan realistis dikisahkan oleh

Rachmatullah Ading Affandi (RAF) dalam bukunya Dongeng Enteng ti Pasantren.

Pengalaman Kang Ading (panggilan akrab RAF) pada buku itu

terjadi tahun 1940-an. Zaman Jepang, tapi masih relevan dengan kondisi dua

puluh tahun kemudian (tahun 1960-an) tatkala penulis menjadi santri sebuah

pesantren tradisional di Garut.

Untuk menghapus rasa rendah diri di kalangan santri, biasanya

dicarikan kompensasi, pelampiasan. Para santri meyakinkan diri masing-masing

bahwa eksistensi mereka tidak kalah oleh eksistensi para pelajar. Bahkan,

punya banyak kelebihan. Para santri memperlajari ilmu-ilmu dunya wal

akhirat, para pelajar cuma memperlajari ilmu-ilmu dunia saja.

Memang tidak salah. Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat (hukum

Islam) atau fikih, menghapal wirid, doa, dan ilmu-ilmu ukhrowi lainnya, para

santri terjun pula ke bidang-bidang kegiatan duniawi.

Ada yang ikut membantu kiyai memelihara ikan sambil belajar tata

cara mijahkeun (menetaskan telur ikan). Ada yang memelihara kebun tomat,

cabai, dan sayuran. Ada juga yang menjadi tukang cukur dengan mayoritas

langganan para santri, keluarga kyai, dan masyarakat sekitar. Semua

aktivitas itu dilakukan sebelum dan seusai ngaji, atau pada waktu libur

(biasanya hari Kamis dan Jumat). Semua merupakan sambilan saja sebab yang

diutamakan adalah bekal akhirat. Urusan dunia hanya sekedar jangan lupa

saja. Berpedoman kepada firman Allah SWT, Q.S. al Qashash ayat 77 : Wabtagi

fima atakallahud daral akhirata wa la tansa nasibaka minad dunya. Dan sabda

Kangjeng Nabi Muhammad saw.: Imal li dunyaka ka annaka taisyu abada wa mal

li akhiratika ka annaka tamutu ghadda. Carilah kebutuhan duniamu seperti

kamu akan hidup abadi, dan carilah kebutuhan akhiratmu seperti kamu akan

mati besok.

Karena merasa tamutu gadha (akan mati besok), dan perjalanan di

akhirat amat panjang maka mencari bekal ukhrowi menjadi prioritas utama.

Hidup di dunia, amat fana cukup sambilan saja.

Terpadu

Memasuki tahun 1970-an, kondisi mulai berubah. Antara pesantren

dan lembaga pendidikan umum, berangsur-angsur berkolerasi. Bahkan, kemudian

menyatu sama sekali. Sekarang, tiap pesantren rata-rata merupakan gabungan

dari pendidikan salafiyah (kajian kitab kuning) dan madrasah (sekolah

berorientasi umum). Santri-siswa dipadukan dalam kesatuan yang utuh dan

harmonis. Santri tidak lagi rendah diri berhadapan dengan siswa dan siswa

tidak lagi menyombongkan diri di hadapan para santri.

Bahkan, banyak sekali santri melanjutkan ke perguruan tinggi.

Bukan hanya menempuh strata I, melainkan ke jenjang S-2 dan S-3. Para

mahasiswa yang belum mengenal dunia pesantren, diprogramkan masuk pesantren

sesudah menyelesaikan studinya, sebagaimana ditradisikan di Universitas

Islam Bandung (Unisba), sejak beberapa tahun lalu.

Santri sarungan yang ahli dalam ngaliwet sabuku curuk

ditumpangan peda beureum dan memproduksi kerak tsani, mungkin hanya tinggal

kenangan. Juga adrahi yang menjadi trade mark santri tahun 1960-an ke

belakang. Kini para santri sudah mengantongi ATM, sudah menggenggam HP.

Kalau dulu, santri "nasrif" dan "ngerab" -tradisi menghapal ilmu

Sharaf-Nahwu- sambil mengangsur kayu bakar di tungku, santri sekarang

bepantalon dan berdasi model mutakhir, sambil main game di komputer

berprosesor Pentium IV. Ikut menerjuni kemajuan zaman dengan bekal keilmuan

yang diperolehnya di pesantren dan lembaga pendidikan umum. Akan tetapi,

tetap memegang prinsip: Idza lam takun milhan tuslih, fa la takun zubabatan

tufsid. Jika tidak mampu menjadi garam yang melezatkan, janganlah menjadi

lalat yang menjijikkan.

Memang, para santri yang mengemban ilmu dunawi dan ukhrowi harus

jadi garam yang melezatkan masakan. Bermanfaat bagi kehidupan nyata di

masyarakat. Jika tidak, lebih baik menyingkir dulu, membenahi dan menambah

bekal ilmu, daripada menjadi lalat yang merusak hidangan dan kesehatan.

H. USEP ROMLI H.M, Lahir di Limbangan, Garut, Jawa Barat, 1949. Pendidikan: pondok pesantren (1959-1067), SPGN Garut (1964-1966), IKIP Bandung Jrs.Pendidikan Bahasa Arab (1983-84), IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, Fak.Adab Jrs.Sastra Arab (1986).

Pengalaman kerja: PNS Guru SD (1966 -1984), Kepala Seksi Pengembangan Bahasa Daerah SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov.Jabar (1984). Mengundurkan diri tanpa meminta pensiun. Wartawan SK Harian Pikiran Rakyat Bandung (1984-2004). Pembimbing Ibadah Haji dan Umroh “Megacitra” Bandung, th.1996 s/d sekarang.

Pengalaman organisasi: aktivis IPNU/GP Ansor/Banser (1964-1973), aktivis “akar rumput” Partai Persatuan Pembangunan (PPP), th.1973-1997. Penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001), Anggota pengurus DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jabar (1998-1999). Ketua Seksi Pendidikan dan Latihan PWI Cab.Jabar (1998-2002).

Sebagai wartawan, pernah melakukan tugas jurnalistik di Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Terutama kawasan Timur Tengah. Sekarang sebagai penulis lepas dan pengelola Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Raksa Sarakan di Desa Majasari, Kec.Cibiuk, Kab.Garut yang bergerak di bidang advokasi petani, beasiswa, anak asuh dan kelestarian lingkungan hidup.

Usep menulis sajak dan cerpen dimuat di Kalawarta Kujang, Mangle, Hanjuang, Gondewa, Galura, dll. Sebagai seorang santri, karya-karya Usep sangat kental dengan pesantren, diantaranya Bentang Pasantren (bintang Pesantren, novel, 1983), Cuerik Santri (Tangis Santri, kumpulan Cerpen, 1985) Jiad Ajengan, (Jampi-jampi Kiai, cerpen, 1991), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot Islam, 1999), dll.

Usep pernah mendapat penghargaan Hadiah Sastra Mangle (1977), Hadiah Penulisan Buku Depdikbud (1977), Piagam Wisata Budaya Diparda Jabar (1982) serta Hadiah Sastra LBSS (1995).

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, IMNU, Amalan Bupati Tegal

Selasa, 07 November 2017

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Karanganyar, Bupati Tegal. Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser) se-Kabupaten Karanganyar siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mencegah paham yang bertentangan dengan Pancasila.?

"Kami menyatakan setia pada Pancasila dan NKRI sampai darah penghabisan. Sikap ini, juga merupakan instruksi serempak di seluruh Indonesia dari Pimpinan Pusat GP Ansor," kata Ketua GP Ansor Karanganyar, Suwanto di sela-sela acara Apel Kesetiaan Pancasila dan NKRI, di Taman Pancasila, Karanganyar Jawa Tengah, Rabu (1/6).

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Ansor Karanganyar: Kami Setia Pancasila sampai Darah Penghabisan

Selain itu, Iwan sapaan akrab Suwanto mengungkapkan beberapa waktu terakhir ada pihak-pihak yang secara terang-terangan menentang Pancasila. Bahkan ada yang ingin mengubah Indonesia menjadi negara khilafah.

"Untuk menyikapi hal itu, kami pemuda NU siap menjadi garda terdepan untuk menjaga keutuhan NKRI," tegasnya.

Kepala Kesbangpol Karanganyar, Indrayanto dalam sambutannya mengapresiasi kepedulian GP Ansor dan Banser Karanganyar. Kesadaran kolektif masyarakat diperlukan untuk menjaga keutuhan NKRI.

Apel kesetiaan Pancasila dan NKRI tersebut diikuti lebih dari 200 anggota Ansor-Banser se-Kabupaten Karanganyar. (Ahmad Rosidi/Zunus)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal IMNU, Ahlussunnah, Hikmah Bupati Tegal

Senin, 06 November 2017

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Lamongan, Bupati Tegal. Mantan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Ngawi, Rudi Tri Wahid, memimpin Ansor periode 2013-2017 setelah unggul dalam pemilihan suara terbanyak pada Konferensi Wilayah yang digelar di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Ahad dini hari.

"Calonnya ada dua, yakni Rudi Tri Wahid yang memperolah 348 suara dan calon lainnya, Sholahul am Notobuwono hanya meraup 225 suara," ujar Ketua Panitia Konferwil, Abdussalam, kepada wartawan.

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Rudi Tri Wahid Pimpin Ansor Jatim 2013-2017

Dalam pemungutan suara yang diikuti 573 pemilih tersebut terdapat tiga suara yang tidak sah. Sedangkan, selisih keduanya terpaut 123 suara. Dengan demikian, periode empat tahun mendatang dipercayakan kepada Rudi Tri Wahid sebagai pengganti Alfa Isnaeni.

Bupati Tegal

Sebelum dilakukan pemungutan suara, sempat terjadi perdebatan sengit saat membahas peraturan tata tertib pemilihan serta verifikasi calon ketua. Tim dari kedua calon silih berganti beradu argumen demi memuluskan calonnya melenggang.

Bupati Tegal

Hanya saja, sidang yang dipimpin langsung oleh Pengurus Pusat GP Ansor dan mendapat pantauan langsung oleh Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid tersebut bisa dikendalikan dan peserta konferwil menerima keputusan pemilihan diikuti oleh dua calon.

Keikutsertaan Rudi Tri Wahid menjadi calon ketua sempat diprotes karena yang bersangkutan belum memiliki sertifikat Pelatihan Kadet Nasional (PKN). Namun, karena testimoni PP GP Ansor periode sebelumnya yang dikuatkan dengan surat pernyataan Rudi untuk mengikuti PKN setelah terpilih membuat namanya berhak menjadi salah satu calon.

"Kalau Rudi tidak mengikuti PKN paling lama sebulan setelah terpilih maka akan dilepas mandatnya sebagai Ketua PW GP Ansor Jatim. Bahkan, jika dia mengikuti dan dinyatakan tidak lulus maka Ansor Pusat tetap mencabut mandatnya," kata Nusron Wahid.

Sebenarnya, jumlah suara yang mengikuti pemilihan sebanyak 666 suara dari PC maupun PAC se-Jatim. Hanya saja, setelah dilakukan verifikasi maka yang berhak memilih hanya 573 suara.

Sementara itu, sebelum konferwil digelar sudah muncul dugaan kemenangan Rudi Tri Wahid. Tokoh muda yang digadang-gadang jago Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, itu diperkirakan unggul telak karena telah mengantongi banyak rekomendasi dari PC maupun PAC.

Bahkan, Rudi mengaku sudah berusaha keras menggalang dukungan dari PC-PC dan PAC-PAC. Hal itu bisa dibuktikan saat memenuhi persyaratan pendaftaran calon dengan modal dukungan 30 PC dan ratusan PAC.

"Saya sudah berusaha yang terbaik sehingga tinggal pasrah kepada takdir," kata alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Di lain pihak, Sholihul Amanullah Notobuwono atau akrab disapa Gus Aam mengaku juga optimistis bakal menang. Kendati demikian, cucu pendiri GP Ansor, KH Wahab Chasbullah tersebut tetap memberikan selamat kepada kompetitornya dalam konferwil. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Jumat, 22 September 2017

Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati

Kuningan, Bupati Tegal. Bagi masyarakat Papua, peran Gus Dur sangat besar dalam membangun perdamaian dan semangat nasionalisme di bumi cenderawasih. Sampai saat ini, peran tersebut terus membekas di dalam hati masyarakat setempat.

Hal ini diungkapkan oleh salah seorang Pengurus Lembaga Kajian Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU, Eman Hermawan saat mengisi kegiatan Kaderisasi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kuningan, Jawa Barat. Senin (5/4)

"Bagi orang Papua, jasa-jasa Gus Dur itu tidak terlupakan, mereka bahkan menganggap bahwa Bapak orang Papua itu adalah Gus Dur, jangan lupa dalam konstruksi Bapak kami di sana itu sangat serius, begitu mendalam"ungkapnya

Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati (Sumber Gambar : Nu Online)
Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati (Sumber Gambar : Nu Online)

Penduduk Papua: Jangan Hina Gus Dur, Nanti Kamu Saya Kasih Mati

Gus Dur, tambah Eman, dianggap sebagai Bapak Papua karena saat menjadi Presiden, Gus Dur mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua. Saat masih bernama Irian Jaya, warga disana bisa dikatakan sebagai masyarakat kelas dua.

"Ketika menyebut nama Papua secara konstitusi, harga diri masyarakat di sana dikembalikan, kesadaran kolektif dalam berbangsa itu menjadi utuh, bahwa masyarakat Papua itu setara dengan warga negara yang lain"tandasnya

Masyarakat Papua, kata Eman, sampai saat ini masih ingat betul kata-kata Gus Dur saat mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua, saat itu Gus Dur menyampaikannya ketika matahari berganti pada tanggal 1 Januari 2001.

Bupati Tegal

"Orang Papua sangat ingat betul perkataan Gus Dur kata demi kata; Mata saya memang tidak bisa melihat, tapi hati saya bisa merasakan air mata dan penderitaan orang Papua, maka dari itu wahai orang Papua, hari ini ku kembalikan harga dirimu sebagai bagian utuh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata-kata itu membuat mereka bisa menangis," tambah Eman yang beberapa hari yang lalu berkunjung ke Papua.

Ditambahkan, sebelum menjadi Papua ada banyak suku dengan etnik dan bahasa yang berbeda, dalam satu kecamatan saja bahasanya bisa berbeda, namun saat Gus Dur jadi Presiden, orang Papua bisa berbahasa Indonesia dan hal itu mampu menyatukan perbedaan di sana. Sehingga membuat mereka semakin mencintai Gus Dur, saking cintanya kepada Gus Dur orang Papua tidak rela jika Gus Dur dihina.

"Itu Gus Dur Bapak kami, kamu jangan hina bapak kami, nanti kamu saya kasih mati," tegas Eman sambil mengungkapkannya dengan dialek Papua.

Bupati Tegal

Saat ini, kata dia, masyarakat Papua mengajukan kepada DPP PKB untuk membangun Monumen Gus Dur. Keinginan tersebut oleh PKB akan diteruskan kepada Presiden Jokowi agar segera membangun monumen Gus Dur di Papua. (Aiz Luthfi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ulama, IMNU, AlaSantri Bupati Tegal

Rabu, 20 September 2017

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah

Jakarta, Bupati Tegal. Aksi solidaritas untuk rakyat Palestina yang kini mengalami penderitaan akibat kekejaman militer Israel mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka mengutuk serangan Israel yang membabi buta sehingga menghilangkan nyawa ratusan rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah

Seperti yang dilakukan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Universitas Hasyim Asy’Ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur, Selasa (15/7). Mereka menggelar doa bersama dengan memanfaatkan momen buka puasa. Acara juga dirangkai dengan khotmil qur’an dan pembacaan puisi untuk Palestina.

Di waktu yang bersamaan, kumandang doa juga datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di Gedung Maarif Centre. Sementara di belahan Pulau Madura, shalat ghaib dan aksi bakar bendera Israel mewarnai protes para kader PC IPNU Sumenep. Para pelajar NU ini mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam dan berharap Palestina segera mendapat kedamaian.

Bupati Tegal

Novi Muklisoh, Ketua IPPNU Unhasy mengatakan, apa yang terjadi terhadap masyarakat di Gaza, Palestina sudah tak bisa ditoleransi. "Bayangkan, anak kecil yang berumur 5 tahun pun mereka (militer Israel) sayat-sayat dagingnya, mereka potong tangannya, dan itu mereka melakukannya dalam keadaan sadar. Kemudian anak kecil yang berumur 3 tahun, dengan beramai-ramai mereka berondong dengan senjata," ungkap santriwati Pesantren Darul Falah 5 ini.

Bupati Tegal

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, Pimpinan Anak Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kartasura bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam se-solo Raya menjalankan aksi dengan berjalan jauh (long march), Ahad (14/7). Aksi yang dimulai pukul 09.00 wib ini berjalan melalui Jl. Slamet Riyadi dengan tertib.

Gema Takbir dan Sholawat yang dikumandangkan peserta aksi membuat aksi solidaritas ini tetap damai dan simpatik. Masing-masing perwakilan secara bergantian melakukan orasi terkait tindakan biadab tentara Israel terhadap rakyat Palestina.

Koordinator Aksi dari Pagar Nusa Kartasura, Ulil Albab menuturkan bahwa kepedulian terhadap Palestina bukan sekedar bentuk rasa kasihan. Tapi wujud nasionalisme sebagai warga negara Indonesia. "Setiap warga negara Indonesia tentunya mengetahui bahwa pembukaan UUD 45 kita menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, dan itu adalah jiwa kita sebagai bangsa Indonesia," lanjutnya.

Di beberapa tempat dan kesempatan yang berbeda, keprihatinan terhadap krisis yang terjadi di Palestina juga diungkapkan sejumlah pesantren, badan otonom dan berbagai komunitas NU, seperti PMII, GP Ansor, Jaringan Gusdurian, dan lainnya. (Idris/Kamil/Rosyidi/Anwar/Mahbib)

Foto: Shalat ghaib pelajar NU Sumenep untuk para korban kekejaman Israel

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, AlaSantri, Aswaja Bupati Tegal

Minggu, 30 Juli 2017

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata

Jember, Bupati Tegal. NU beserta lembaga dan badan otonomnya diharapkan untuk berdakwah tidak hanya melulu melalui pendekatan lisan (mauidzah hasanah), tapi juga menggunakan pendekatan sosial. Direktur Aswaja Center PCNU Jember Ustadz Abdul Haris mengatakan, pendekatan kerja nyata saat ini harus lebih dikedepankan, misalnya peduli kepada warga yang kurang beruntung, membantu anak yatim, advokasi terhadap warga yang bermasalah dan lain sebagainya.?

Sebab, kata dia pada saat menjadi pemateri pada pertemuan Forum Komunikasi Pengurus Muslimat NU di Pondok Pesantren Raudlatul Jannah, Mayang, Jember, Jumat (12/5), pendekatan sosial cukup mujarab untuk menyampaikan pesan dakwah.?

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Kini Dakwah NU Mesti dengan Kerja Nyata

Menurutnya, pendekatan sosial menjadi penting mengingat kebutuhan masyarakat cenderung mengarah pada "kerja nyata" tersebut. "Mauidzah hasanah juga penting, tapi kerja nyata untuk umat, sungguh sangat diharapkan," ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini masyarakat masih pragmatis dalam menyikapi sesuatu. Sehingga siapa pun yang memberi manfaat paling besar, terutama dari sisi materi, itulah yang diikuti.?

Buktinya, tidak jarang anggota masyarakat yang asalnya berafiliasi dengan NU, tapi akhirnya pindah haluan. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka tergiur oleh kerja nyata tersebut.?

Bupati Tegal

"Ini harus jadi perhatian kita semua. Sudah banyak warga kita ikut kelompok lain karena sering diberi sembako, pengobatan gratis dan sebagainya," lanjut Ustad Abdul Haris.

Sementara itu, Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj. Emi Kusminarni menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi hingga ? tingkat ranting.?

Masing-masing ketua ranting, katanya, minimal bisa mendampingi 5 majelis taklim, agar kegiatan-kegiatannya tetap sesuai dengan ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) ala NU.?

Bupati Tegal

"Kami juga berpesan agar pengurus Muslimat NU di semua tingkatan bisa mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada mereka yang berhak," urainya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Fragmen, Kajian Islam, IMNU Bupati Tegal

Sabtu, 29 Juli 2017

KMNU Undip Hidupkan Tradisi Khotmul Quran

Semarang, Bupati Tegal ? . Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, menggelar acara khotmul quran di Masjid Baitul Muttaqin atau yang lebih dikenal dengan Masjid LPPU Undip, Ahad (26/4).

Kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WIB ini merupakan program rutin? selapanan (tiap 36 hari) KMNU Undip. Kegiatan inti pada acara ini adalah menghatamkan kitab suci al-Quran 30 Juz secara berjamaah. Setiap jamaah yang hadir mendapatkan bagian menyelesaikan 1 atau 2 juz.

KMNU Undip Hidupkan Tradisi Khotmul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Undip Hidupkan Tradisi Khotmul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Undip Hidupkan Tradisi Khotmul Quran

Acara khatmul qur’an berlangsung lancar dengan jeda shalat ashar berjamaah. Sekitar pukul 16.30 WIB seluruh juz telah selesai dibaca. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Shofiyullah.

Bupati Tegal

Dalam mauidhoh hasanah,? Shofiyullah memuji program yang laksanakan KMNU Undip sebagai kegiatan mulia. Ia memaparkan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan perintah, sembari mengutip hadits yang artinya “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al Qur`an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali”.

Bupati Tegal

Ia mengatakan, pahala kebaikan dari membaca Al-Qur’an itu berlaku meskipun kita tidak mengerti maknanya atau bahkan terjemahannya sekalipun. “Bahasa Al-Qur’an (Arab) itu bahasa ruh kita, meskipun kita tidak tahu makna atau terjemahannya tetapi ruh kita bisa merasakan. Oleh karena itu bila kita membaca Al-Qur’an hati kita merasa tenang dan damai,” tuturnya.

Setelah mauidhoh hasanah, khatmul qur’an ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh saudara M. Rizal Hidayatullah selaku kepala divisi amaliyah dan kajian dan dilanjutkan dengan makan bersama oleh seluruh hadirin. (M Akhsanil Auladi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock