Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Jombang, Bupati Tegal. Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) yang digelar di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang selamat tiga hari, 13-15 April 2012, juga diramaikan dengan pameran UKM dan produk kesehatan serta pelayanan Rumah Sakit milik NU.

Salah satu RS milik NU yang ikut meramaikan adalah RSI Siti Hajar Sidorjo. RS milik NU dan Muslimat Sidoarjo ini berdiri sejak 1963. Awalnya RSI ini berawal dari Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) yang dikelola oleh Muslimat NU. Namun tekat pengurus NU kuat, kemudian Balai Kesehatan ini akhirnya dikembangkan menjadi RS.

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Ramaikan Pameran Produk Kesehatan NU

Kini RS dengan tipe C Plus ini telah memiliki dokter sebanyak 47 dengan dokter spesialis 19 orang dan jumlah tenaga medis sebanyak 140 perawat.

Bupati Tegal

“RS ini telah terakreditasi penuh 12 pelayan ini  memiliki jumlah ruang 156 tempat tidur , terdiri dari kamar  VIP 12, kelas 1, 12, kelas II anak 12 dan II 12, kelas III, 36 ruangan dengan ruang isolasi 2,” ujar Imron salah satu pengurus.

Disamping RSI Siti Hajar Sidoarjo Rakornas juga diramaikan beberapa produk UKM dan lembaga pendidikan kesehatan milik NU dan warga NU. 

Bupati Tegal

“Panitia memang menyediakan lokasi untuk pameran UKM dan lembaga pendidikan kesehatan bagi warga NU, Karena yang mengikuti Rakornas tidak hanya dari Jawa Timur tetapi berasal dari beberapa  provinsi lain,” ujar Zulfikar As’ad ketua panitia mengatakan.

Gus Upiq biasa dipanggil mengatakan, peserta dari pengurus wilayah yang telah hadir sebanyak 24 Pengurus PW LKNU se Indonesia. Dan beberapa lembaga kesehatan serta pengelola RS milik NU.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Cerita Bupati Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Buat Yang Belum Aqiqah

Lain aqiqah, lain aqiqahan. Aqiqahan ialah mengundang tetangga untuk membacakan ayat Al-Quran, zikir, atau maulid Barzanji yang kemudian memotong sedikit rambut bayi oleh sejumlah undangan secara bergantian saat mahallul qiyam. Yang punya hajat lalu meminta kiai setempat mendoakan si anak kelak menjadi orang punya manfaat dan kegunaan bagi masyarakat.

Sedangkan aqiqah secara harfiah sebutan bagi rambut di kepala bayi. Bayi orang atau binatang, sama saja. Kata ahli fiqih, aqiqah ialah hewan sembelihan yang dimasak gulai kemudian disedekahkan kepada orang fakir dan miskin. Dimasak gulai dengan harapan akhlak si orok kelak manis dan enak dipandang mata seperti masakan gulai.

Buat Yang Belum Aqiqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Buat Yang Belum Aqiqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Buat Yang Belum Aqiqah

Hukum aqiqah sunah muakkad. Tetapi menjadi wajib kalau dinazarkan sebelumnya. Untuk bayi laki-laki, sempurna minimal dua ekor kambing. Sedangkan bayi perempuan, dipotongkan seekor kambing. Tetapi pada prinsipnya, seekor kambing cukup untuk mengaqiqahkan bayi laki-laki maupun perempuan. Sementara sempurnanya, seorang wali tidak dibatasi menyembelih berapa ekor kambing, unta, sapi atau kerbau. Artinya, silakan menyembelih berapa pun. Demikian kata Syekh Syarqowi dalam kitab Hasyiyatus Syarqowi ala Tuhfatit Thullab bi Syarhit Tahrir.

Sejumlah ulama mengatakan, aqiqah berfaedah memberikan mandat kepada si anak untuk memberikan syafa’at kelak kepada orang tuanya. Di lain pendapat, aqiqah bertujuan agar fisik dan akhlak si tumbuh dengan baik. Yang pasti, sedekah aqiqahan terlaksana.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Masa penyembelihan itu disunahkan pada hari ketujuh setelah kelahiran bayi. Hari pertama keluarnya si bayi masuk dalam hitungan. Kalau belum sempat di hari ketujuh karena beberapa uzur, boleh dilakukan pada hari keempat belas, dua puluh satu, dan kelipatan tujuh berikutnya.

Saat menyembelih yang disunahkan saat fajar menyingsing, dianjurkan membaca doa berikut,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dana pembelian hewan aqiqah ditanggung oleh si wali dalam hal ini bapaknya. Yang jelas, pembelian hewan itu tidak menggunakan harta orang lain termasuk istrinya atau anaknya. Karena, aqiqah ini merupakan sedekah. Sedekah harus pakai uang sendiri, bukan orang lain. Juga jangan memaksakan diri hingga menghutang ke sana-ke sini.

Adapun aqiqah anak zina ditanggung oleh ibu dengan cara sembunyi agar tidak membuka aibnya. Ketentuan aqiqah bagi anak-anak yang sudah balig atau bahkan dewasa, diterangkan Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tausyih ala Fathil Qaribil Mujib berikut,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Andai si bayi wafat sebelum hari ketujuh, maka kesunahan aqiqah tidak gugur. Kesunahan aqiqah juga tidak luput karena tertunda hingga hari ketujuh berlalu. Kalau penyembelihan aqiqah ditunda hingga si anak balig, maka hukum kesunahannya gugur bagi si orang tua. Artinya mereka tidak lagi disunahkan mengaqiqahkan anaknya yang sudah balig karena tanggung jawab aqiqah orang tua sudah terputus karena kemandirian si anak. Sementara agama memberikan pilihan kepada seseorang yang sudah balig untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri atau tidak. Tetapi baiknya, ia mengaqiqahkan dirinya sendiri untuk menyusul sunah aqiqah yang luput di waktu kecilnya.”

Anak yang sudah balig dihukumkan mandiri. Singkat kata, mereka menanggung sendiri kebutuhan hidupnya, dosa dan pahala yang dilakukan, termasuk untung maupun rugi kalau berusaha. Wallahu A’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Aswaja, Cerita Bupati Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Banyuwangi, Bupati Tegal - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melalui Badan Student Crisis Center (SCC) mengadakan diskusi perihal pelajar dan media sosial dengan tema Berselancar dengan Cerdas di aula Gedung PGRI Banyuwangi, Sabtu (13/2) pagi. Forum ini dihadiri oleh puluhan pelajar SMA di Banyuwangi dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Hubungan, Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyuwangi.

Hadir pula para penggiat literasi dan media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi.

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Acara yang dipandu oleh Iraa Rachmawati dari Kompas.com diawali dengan menggali informasi perilaku pelajar terhadap media sosial. Dari pemaparan para pelajar itu diketahui banyak perilaku menyimpang dalam menggunakan media sosial.

Bupati Tegal

“Banyak teman-teman yang pandangannya terbentuk oleh media sosial. Padahal tak semua yang tersebar di media sosial itu benar?” gugat Syukria Ulfa, siswi dari salah satu SMK swasta di Banyuwangi.

Bupati Tegal

Hal demikian senada dengan apa yang disampaikan oleh Direktur SCC IPNU Banyuwangi Ibnu Tsani Rosyada. Ibnu mengatakan, media sosial yang sejatinya hanya dunia maya telah mengalihkan dunia realitas yang lebih konkret.

“Misalnya, ada seseorang yang protes pada temannya karena tidak memberi komentar pada statusnya. Padahal kedua orang itu setiap harinya selalu bertemu,” ujar Ibnu memberi contoh.

Perilaku bermedia sosial yang begitu berpengaruh itu amat rentan terinfiltrasi oleh akun-akun negatif seperti pornografi dan radikalisme. Maraknya akun-akun radikalisme yang menyerukan permusuhan, ujaran kebencian, dan ajakan untuk melakukan tindak kekerasan harus dihindari sebisa mungkin.

“Waspadai akun-akun yang mengajak untuk membenci atau melakukan tindak kriminal,” kata perwakilan Dinas Pendidikan Banyuwangi Sutikno.

Pegiat media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi (RLB) Nurul Hikmah mengajak para pelajar dan penggiat media sosial untuk menjadikan media sosial sebagai ajang kampanye hal-hal inspiratif. Ia mencontohkan gerakannya di RLB yang berbasis media sosial.

“Hanya dengan berkampanye lewat fesbuk, kami bisa menggerakkan dan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap dunia literasi. Kepedulian itu di antaranya dengan membuka rumah baca,” ujarnya.

Ikhwan Arif, aktivis sosial dan pendiri Bangsring Underwater ini ikut mencontohkan bagaimana memperlakukan media sosial. Ia merintis wahana wisata yang berbasis pelestarian terumbu karang di pantai Bangsring, Banyuwangi, dan berhasil mempromosikan tempat wisatanya hingga menasional melalui media sosial.

“Sebenarnya media sosial bisa mempermudah beragam urusan, tinggal kita mau melakukannya untuk apa. Untuk hal positif ataukah negatif?” ia mengingatkan hadirin.

Arif dari Dishubkominfo memaparkan tentang Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik (ITE). Ia menggarisbawahi bahwa aktivis media sosial tidak terlepas dari aturan perundanga-undangan yang memiliki konsekuensi hukum tersendiri.

“Di media sosial kita bebas memosting apa saja. Tetapi ingat, jika postingannya melukai perasaan orang lain, kita bisa dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Ketua IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki mengatakan, tujuan kegiatan diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Ke-62 IPNU di bulan Pebruari ini. Forum ini juga bertujuan untuk mengedukasi pelajar agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari media sosial.

“Radikalisme yang marak di media sosial harus dicegah karena menjangkiti para pelajar. Karena itu, kita mengajak para pelajar untuk bisa berinternet dan menggunakan media sosial secara cerdas dan bermanfaat,” pungkasnya. (Anang Lukman Afandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Cerita, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Bupati Tegal yang kami hormati. Ibadah Jumat dinilai sebagai hari Ied bagi umat Islam. Di dalamnya para jamaah mendengarkan nasihat-nasihat ketakwaan dalam khutbah Jumat.

Yang saya tanyakan, bagaimana hukumnya kalau seorang khatib mengangkat masalah politik praktis dan menjelek-jelekan orang lain terutama politikus dan partai tertentu terlebih lagi di tengah pilpres, pilkada, pilbup? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Jakarta/Abdurrahim).

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Bupati Tegal

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Khutbah merupakan rangkaian yang wajib dilakukan dalam ibadah Jumat. Seorang khatib di dalam khutbahnya wajib berpesan kepada jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan ketakwaan ini merupakan satu dari lima rukun khutbah itu sendiri.

Bupati Tegal

Memang tidak ada ketentuan perihal pilihan kata terkait pesan ketakwaan atau washiat ketakwaan. Khatib hanya diwajibkan untuk menyampaikan washiat ketakwaan meskipun dengan “taatlah kepada Allah”.

Meskipun demikian, seorang khatib perlu memerhatikan rambu-rambu khutbah. Berikut ini kami kutipkan anjuran para ulama seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Majemuk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Terkait kata-kata asing yang sulit dijangkau oleh daya pikir sebagian jamaah ini, Syekh Sulaiman Jamal mengingatkan agar para khatib menghindarkan untuk mengeluarkan kata-kata yang terlalu berat untuk dipahami atau bahkan kontroversial seperti istilah-istilah para filsuf atau para sufi yang “berat-berat”.

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? .

Artinya, “(Tidak menggunakan kata aneh dan asing) tidak lazim dalam penggunaan. Syekh Al-Qamuli berkata bahwa khatib dilarang dengan makruh menggunakan kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga dimakruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Yang terakhir ini menjadi haram bila khatib terjatuh melakukan hal yang diharamkan melalui ucapannya. Selesai penjelasan Syekh Barmawi,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal, Hasyiyatul Jamal ala Syarhi Manhajit Thullab, Juz 5 halaman 478).

Rambu-rambu seperti di atas memang sengaja dirumuskan para ulama karena mempertimbangkan penyampaian nasihat sebagai tujuan pokok dari pesan ketakwaan itu sendiri. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli yang kami kutip berikut ini.

? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.(? ? ?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat. Penyampaian nasihat ini dianggap memadai meski dengan lafal selain “washiat”. Maka dianggap memadai dengan lafal ‘Taatlah kamu kepada Allah’,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Meskipun tidak ada ketentuan perihal redaksi wasiat, khatib dianjurkan untuk membatasi diri pada lafal “washiat” itu sendiri. Ini yang lebih utama sebagaimana usul Syekh Qaliyubi yang kami kutipkan berikut ini.

? : ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perihal (washiat ketakwaan), kalau khatib hanya menggunakan lafal ‘washiat’, tentu lebih utama karena tidak adanya ketentuan perihal lafal ketakwaan disepakati para ulama,” (Lihat Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Lalu bagaimana dengan khatib yang menyelipkan isu politik praktis di dalam washiat ketakwaan dalam khutbahnya? Hemat kami, mimbar Jumat terlalu suci untuk diwarnai dengan kepentingan politik praktis, apalagi misalnya kalau khutbah itu digunakan untuk menghasut, mencaci-maki, melontarkan ghibah, atau melontarkan kata sufistik yang kontroversial (syathahat). Ini jelas diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Sulaiman Jamal dalam Hasyiyah-nya seperti kami kutip di atas.

Kami menyarankan agar para khatib memerhatikan kembali tujuan utama dari washiat ketakwaan itu sendiri, yakni mengingatkan para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan kata-kata yang bijak dan santun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita Bupati Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

Jakarta, Bupati Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan kader Fatayat NU dalam memegang peran keagamaan khususnya di kalangan anak-anak. Identitas ke-NUan seseorang, demikian kata Kang Said, justru terbentuk di masa anak-anak. Di sinilah Fayatat NU mengambil peran keagamaan itu.

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepada Fatayat NU, PBNU Titip Aqidah Anak-Anak

“Di samping memainkan peran sosial, ekonomi, budaya, dan politik, Fatayat NU tidak boleh lengah pada peran keagamaan. Salah satunya, mengenalkan NU sejak dini kepada anak-anak,” kata Kang Said di hadapan seratus kader Fayatat NU dalam peringatan harlah ke-64 Fayatat NU di gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Kamis (24/4) siang.

Kalau Fatayat NU dalam konteks pendidikan agama anak-anak, tidak mengambil peran, maka kendali itu akan dipegang oleh orang bukan NU. Mereka, jelas Kang Said, akan menggarap ranah agama.

Bupati Tegal

“Padahal mereka hanya memamerkan gamis dan jenggot. Mereka tidak memiliki metodologi dalam memahami Al-Quran, Hadis, hukum syariat. Mereka hanya ustadz karbitan. Modal pendidikan kilat agama bahkan hanya belajar dari terjemahan, mereka sudah percaya diri untuk mengajarkan agama,” imbuh Kang Said.

Bupati Tegal

Apakah Fatayat NU akan menyerahkan garapan pendidikan agama anak-anak kepada mereka? tekan Kang Said.

Ia juga menyebutkan, siapa mengikut NU maka keislamannya dijamin benar. “Karena, NU mengikuti ulama madzhab yang menggunakan metodologi ilmiah dan teruji dalam memahami sumber agama. Ulama kita memakai asbabun nuzul, asbabul wurud, ushul fiqh, ulumul quran, ulumul hadits, dan sejumlah perangkat lainnya.”

“Karena itu, kendati banyak orang mencela amaliyah kita, Fatayat NU tidak boleh goyah. Kita mesti yakin berada di jalan yang benar,” tandas Kang Said di muka seratus kader Fatayat NU yang datang dari Jakarta dan sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

Bandar Lampung, Bupati Tegal?

Menyusul maraknya hal tidak etis disampaikan di media sosial, Pimpinan Majelis An Nur Lampung, Al Habib Umar Bin Muhdor Al Haddad mengajak umat Islam berikut generasi mudanya untuk mengedepankan ahklak.?

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

"Saya marah ketika Kiai Siroj dicela di media sosial. Itulah yang terjadi jika anak SD membaca materi anak kuliah," ujarnya kepada kader Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Ahad (5/2).?

Pernyataan tersebut merujuk celaan sejumlah pihak terkait pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengenai sejumlah ahli hadist, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi berasal dari Persia.

"Kalau baca bukan untuk berkomentar di media sosial. Tapi untuk belajar. Kita tahu bagaimana jadinya jika puisi yang indah dibaca anak kelas satu sekolah dasar, ujar Habib Umar yang pada Kamis (2/2) malam lalu, memimpin Pembacaan Maulid Shimthud Duror, di PW GP Ansor Lampung.

Karena itu, Habib Umar mengimbau untuk tidak sekali-kali mencela habaib dan kiai. "Kalau mereka bertengkar dapat pahala, kalau kita, yang bodoh, kesasar jauh," kata dia.

Bupati Tegal

Untuk diketahui, Bukhara merupakan satu dari sekian kota penting ? dalam peradaban Islam. Penyair Jalaludin ar-Rumi dalam syairnya menyebut Bukhara sebagai gudang pengetahuan. Sejak 500 SM, wilayah Bukhara sudah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia. Seiring waktu, Bukhara berpindah tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya.? (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Hikmah, Cerita, Budaya Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember

Jombang, Bupati Tegal - Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) cabang Kabupaten Jombang galang bantuan untuk korban gempa Aceh yang terjadi Rabu (7/12) lalu pukul 05.03 WIB. Pengurus dan relawan Lazisnu memulai aksi sosial di kota Santri ini sejak Rabu (7/12) lalu tepat setelah terdengar kabar terjadinya bencana gempa di Aceh.

"Kita sudah dari hari Rabu kemarin melakukan penggalangan bantuan untuk saudara kita di Aceh yang terkena musibah gempa," kata Ketua Lazisnu Jombang Didin Ahmad Sholihudin, Ahad (11/12).

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazisnu Jombang Galang Donasi untuk Korban Gempa Aceh hingga 13 Desember

Gus Didin menjelaskan bahwa penggalangan donasi tersebut akan ditutup hingga tanggal 12 Desember 2016 mendatang. Dalam senggang waktu yang masih tersisa ini, ia berharap pengurus bisa memaksimalkannya sebaik mungkin, termasuk sejumlah donatur yang hendak menyumbangkan sebagian rezekinya.

"Insya Allah penggalangan donasi ini sampai dengan 12 Desember, kemudian tanggal 13 Desember kita transfer kepada Pengurus Pusat (PP) Lazisnu," imbuh Gus Didin.

Bupati Tegal

Sementara itu, kata dia, sejumlah bantuan uang yang sudah terkumpul hingga saat ini sebanyak 3.550.000, namun jumlah itu besar kemungkinan akan terus bertambah hingga batas akhir penggalangan donasi. "Donasi uang 3.550.000," ujarnya.

Bupati Tegal

Untuk donasi dalam bentuk lain selain uang, Didin mengungkapkan selama ini masih belum ada yang menyumbangkan. "Belum ada donasi lain," jelasnya.

Untuk itu, para donatur yang masih ingin menyalurkan donasinya bisa dikirim melalui Bank Syariah Mandiri Cabang Jombang nomor rekening : 7019992211 A.N Lazisnu. Konfirmasi transfer ke nomor 0856 4560 8963/0813 3272 6812 (SMS/WA), atau bisa langsung mendatangi kantor Lazisnu Jalan Singamangaraja II/2 Jagalan Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Budaya Bupati Tegal

Jumat, 05 Januari 2018

Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial

Jakarta, Bupati Tegal - Melalui akun Facebook pribadi, Ahad (27/11), KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan sejumlah pengalaman rutinnya saban Jumat. Diceritakan pula tentang tamu-tamu muda yang datang ke kediamannya Jumat kemarin untuk meminta maaf atas tulisan mereka di Twiter dan Facebook yang bernada kasar dan merendahkan Gus Mus. Dalam status yang diberi judul “Jum’at dan Silaturahmi”, Mustasyar PBNU ini juga tak lupa memberikan pesan-pesan positif kepada para pengguna media sosial. Berikut kutipan selengkapnya:



Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Nasihat Gus Mus untuk Pengguna Media Sosial



:: JUMAT DAN SILATURAHMI ::



Bupati Tegal

Hari Jumat ~yang digelari sebagai Sayyidul Ayyãm, "Pemimpinnya hari-hari"~ memang bagiku sendiri merupakan hari istimewa. Aku berusaha merayakan hari istimewa ini dengan berbagai kegiatan positif seperti yang diamalkan dan diajarkan kiai-kiaiku. Minimal harus lain dari hari-hari yang lain. Misalnya dalam 6 hari yang lain, kesibukanku lebih merupakan kesibukan duniawi saja, aku berusaha semampuku mengisi Jumatku dengan kesibukan yang lebih ukhrawi, bernilai akhirat.



Untuk itu, kegiatan rutinku ~bila tidak sedang bepergian~ dimulai dari hari Kamis malam. Lalu pagi harinya, bersilaurahmi melalui ponsel, menyapa dan mendoakan anak-anak; saudara-saudara; keponakan-keponakan; kawan-kawan; dan beberapa kenalan. Kemudian bersilaturahmi dengan saudara-saudaraku warga kampung di seputar Rembang. Bersalaman dengan bapak-bapak dan anak-anak yang ikut ibu-ibu mereka bertadarus Al-Quran melalui pembacaan Tafsir Al-Ibriznya Kiai Bisri Mustofa, rahimahuLlãh. Setelah itu menerima tamu-tamu yang kebanyakan dari luar daerah. Lalu setelah salat Jumat di mesjid Jami ~kalau tidak terlalu capek atau ngantuk~ biasanya dilanjutkan menemui tamu-tamu lagi, bila ada, kadang-kadang hingga malam hari.



Bupati Tegal

Jumat kemarin ~25 November 2016~ agak lebih istimewa, karena di antara tamu-tamu yang datang bersilaturahmi dari berbagai daerah, terdapat tamu-tamu muda dari Tegal, Probolinggo, dan Jakarta yang mempunyai tujuan sama. Di samping bersilaturahmi, ingin meminta maaf. Mereka inilah yang beberapa hari sebelumnya, menulis kasar kepadaku di Twitter dan Facebook. Dan sudah aku maafkan via twit di Twitter dan status di Facebook.

Kulihat anak-anak muda yang rata-rata berusia 25 tahunan ini, seperti umumnya pemuda santri. Polos, santun, dan sopan. Sedikit pun tidak ada kesan berandalan, sangar, atau kasar seperti yang mereka tampakkan di twit dan status mereka.

Ketika aku tanya apakah mereka benci kepadaku, karena ucapan atau perilakku yang melukai hati atau menyinggung mereka, mereka bilang tidak. Apakah ada kawan mereka yang pernah kusakiti, dan mereka solider ikut mengecamku, mereka menjawab tidak. Apakah mereka menganggap aku pendukung tokoh politik tertentu yang berlawanan dengan tokoh mereka, mereka menjawab tidak. Ketika kemudian mereka aku tanya, apakah mereka marah karena membaca pendapatku tentang salat Jumat di Jalanan? Mereka malah seperti kebingungan. Pandu Wijaya malah dengan sangat lesu mengatakan, "Mohon maaf, saat itu saya lagi jenuh dengan pekerjaan."



Aku pun semakin bertanya-tanya tentang kesaktian sosmed ini. Bagaimana ia bisa mengubah anak-anak yang santun seperti mereka ini menjadi orang-orang yang tega memperburuk citra diri mereka sendiri di sosmed. Melihat penampilan mereka di dunia Nyata, aku yakin mereka bukan orang-orang yang tidak tahu adab dan adat.



Dugaanku mereka hanya salah pergaulan di dunia Maya yang memang bagaikan hutan belantara yang ~di samping terdapat manusia-manusia berbudi~ penuh dengan makhluk-makhluk palsu yang tidak bertanggungjawab.



Kepada mereka ini dan semisal mereka ~bukan yang sengaja menjadikan sosmed sebagai sarana menebar kebencian dan kekacauan~ kalau boleh, aku menasihatkan agar (1) menata kembali niat kita dalam menggunakan dan memanfaatkan Sosmed; (2) berhati-hati dan waspada beraktifitas di Dunia Maya yang ~kita tahu~ penuh tipuan; (3) jangan mudah tergiur dengan tampilan-tampilan menarik, biasakan tabayun dan meniliti rekam-jejak; (4) jangan tergesa-gesa membaca dan membagikan bacaan; (5) usahakan sekali-kali KopDar, agar bisa melihat Manusia dalam penampilan nyatanya (dalam hal ini, contohlah misalnya perkawanan Maya dan Nyata dari misalnya komunitas Adib Machrus, Pakdhe Tegoeh, Timur Suprabana, Zen Mehbob, Triwibowo Budi Santoso, Zaenal Maarif, dan mereka yang tidak hanya bersapaan di sosmed tapi juga bersilaturahmi di dunia nyata. Mereka guyub, penuh kasihsayang); (6) ingat sabda Rasulullah SAW "Innamal amãlu binniyãt... alhadits" dan "Min husni Islamil mar-i tarkuhu mã lã yani".



Semoga Allah membimbing kita baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

(Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Cerita Bupati Tegal

Fenomena Jilboobs

Oleh Novi Arizatul Mufidoh

Banyak pernyataan yang menyebutkan bahwa wanita atau muslimah lebih mudah masuk surga. Islam telah mengajarkan berbagai aturan yang mengatur norma dan etika bagi para penganutnya, terutama untuk muslimah. Sedangkan, salah satu ciri wanita yang bisa dikatakan mampu menjadi penghuni surga ialah wanita yang pandai menjaga kehormatan dirinya.

Dari pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa tolak ukur kemuliaan seorang wanita muslimah, dapat dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya melalui cara berbusana, bertutur kata, berjalan, dan sebagainya. Dalam hal ini, yang seringkali menjadi sebuah permasalahan dalam dunia kemasyarakatan yang mengutamakan norma-norma Islam adalah bagaimana cara seorang muslimah dalam berbusana sehari-harinya.

Fenomena Jilboobs (Sumber Gambar : Nu Online)
Fenomena Jilboobs (Sumber Gambar : Nu Online)

Fenomena Jilboobs

Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberikan perintah khusus yang hanya dibebankan kepada kaum wanita, yaitu memakai jilbab, tidak keluar selain dengan mahramnya, tidak melembutkan ucapan di hadapan orang fasik, dan tidak berlebihan dalam menghias diri seperti kaum jahiliyah. Namun, sudah selayaknya sebagai seorang muslimah tidaklah menganggap hal itu menjadi sebuah beban, tetapi menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukannya.

Mengenai kewajiban berjilbab atau menutup aurat bagi wanita, Allah SWT telah berfirman, “Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Firman Allah di atas telah menerangkan secara tegas bahwa setiap wanita yang mengaku muslimah beriman haruslah mengenakan jilbab. Allah SWT juga memberikan jaminan bagi wanita mukminat yang berjilbab, bahwa mereka akan lebih aman dari gangguan pandangan orang-orang nakal, dibandingkan dengan mereka yang biasa memakai pakaian mini dan terbuka auratnya. Namun, apabila ada seorang wanita yang di masa lalu tidak berjilbab dan kini berjilbab, maka Allah SWT akan mengampuni dosa mereka karena tidak memakai jilbab pada masa lalunya, karena Allah SWT maha pengampun lagi maha penyayang, sesuai dengan pengertian? yang tertuang dalam ayat di atas.

Bupati Tegal

Jilbab dan Kontaminasi ‘Jilboobs’

Secara bahasa, jilbab berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “jalbaba, yujalbibu, jilbaaban”, artinya, baju kurung yang panjang. Jadi, pengertian jilbab adalah pakaian yang luas atau lapang, yang berarti pakaian yang dapat menutupi anggota tubuh seorang wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Karena, pada dasarnya seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangan.

Meski demikian, tidaklah sedikit muslimah zaman sekarang yang telah menyimpang dari aturan memakai jilbab sesuai dengan arti jilbab itu, karena mereka telah terkontaminasi oleh budaya baru. Mereka lebih bangga mengikuti trend zaman dalam berbusana yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan syariat Islam. Masalah berbu sana yang saat ini sedang marak terjadi diantara para muslimah Indonesia adalah gaya berbusana ala ‘Jilboobs’.

Bupati Tegal

‘Jilboobs’ diadopsi dari? gabungan kata jilbab (disini diartikan kerudung/penutup kepala) dan boobs (payudara). Maksudnya, jilbab yang mereka pakai tidak difungsikan sebagai penutup aurat, melainkan hanya sebagai pembungkus sebagian tubuhnya saja. Gaya busana ini memang tidaklah sesuai dengan ajaran Islam, dan seharusnya tidak perlu ditiru oleh para muslimah. Karena, meski mereka memakai jilbab, namun mereka membiarkan bagian lekak-lekuk dadanya itu tetap terlihat dengan jelas, apalagi bagi mereka yang memakai pakaian ketat. Padahal, sejatinya seorang muslimah yang memakai jilbab, hendaknya mereka juga berbusana dengan pakaian yang dapat menutupi aurat, yang sekiranya tidak menebar syahwat bagi siapa saja yang melihatnya.

Bagi orang awam yang tidak mengerti hukum Islam sebenarnya, mereka masih bisa dimaklumi jika mengikuti trend seperti itu. Karena, mungkin dengan mengikuti gaya ‘Jilboobs’, lambat laun mereka akan terbiasa mengenakan jilbab, dan setelah mereka mengetahui aturan berbusana muslimah, mereka dapat menutupi auratnya dengan smpurna.

Nilai Ibadah dibalik Jilbab

Perlu diketahui dan disadari oleh kaum wanita, bahwa ketika dirinya memakai jilbab itu mengandung nilai ibadah tersendiri. Di samping sebagai ketaatannya kepada hukum Allah, memakai jilbab dan berbusana yang menutup aurat merupakan tindakan preventif atau pencegahan dari pandangan mata lelaki yang dapat menimbulkan berbagai keinginan yang barangkali bertentangan dengan ajaran agama. Jadi, tak perlu lagi bagi seorang muslimah untuk mengenakan busana ala ‘Jilboobs’ karena hal itu dapat menjadi gerbang terjadinya perzinahan.

Sekarang, perlu diingat bahwa kewajiban mengenakan jilbab tanpa kontaminasi dari ‘Jilboobs’ merupakan ajaran Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi oleh wanita manapun. Selain berjilbab, wanita muslimah juga harus mengenakan busana yang setidaknya memenuhi kriteria busana tidak transparan, longgar, dan dapat menutupi aurat, tidak hanya sekedar membungkusnya saja. Wanita muslimah juga dilarang untuk menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali memang yang biasa nampak. Namun, boleh saja seorang wanita menampaakannya kepada segolongan mahramnya dan suaminya. Wallahu A’lam bi al-shawab.

?

Novi Arizatul Mufidoh, pengajar Paud Islam Mellatena-Semarang

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Internasional, Syariah Bupati Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin

Mataram, Bupati Tegal. Dosen UIN Mataram Tuan Guru Sohimun Faisal menceritakan, dulu ada saudagar asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi warga Nahdliyin setelah mengetahui kebesara Tuan Guru Haji M Shaleh Hambali Bengkel. H Hatifi namanya. Bahkan, Ia mengajak keluarganya untuk masuk Nahdlatul Ulama.

H Hatifi, cerita Tuan Guru Sohimun, ketika itu sedang berdagang ke Surabaya. Teman pedagangnya dari Surabaya memberitahukan kepada H Hatifi bahwa ada ulama besar asal Lombok yang akan hadir dalam acara Nahdlatul Ulama di Kota Pahlawan tersebut.

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gara-gara Tuan Guru Bengkel, H Hatifi Sekeluarga Jadi Nahdliyin

“H Hatifi ini tidak kenal tentang NU, tidak kenal dengan Tuan Guru Shaleh Bengkel,” kata Tuan Guru Sohimun dalam acara bedah Buku Pemikiran Islam Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel di Universitas NU NTB Mataram, Rabu (22/11).

(Baca juga: http://www.nu.or.id/post/read/70398/pemikiran-islam-lokal-tuan-guru-bengkel)

Temen saudagarnya asal Surabaya itu mengajak H Hatifi untuk ikut serta dalam acara NU tersebut. Ketika sudah sampai di tempat acara, Ulama-ulama NU menyambut Tuan Guru Bengkel dengan hangat dan memanggilnya dengan sebutan ulama besar dari Lombok. 

“Ini dia ulama besar yang datang dari Lombok,” kata Rais Syuriah PWNU NTB ini menirukan ulama NU itu.

Bupati Tegal

H Hatifi kaget karena orang-orang menyebut Tuan Guru Bengkel dengan sebutan ulama besar. Di Lombok, Tuan Guru Bengkel dipanggil dengan Datuk Bengkel.

“Tidak pernah terkenal nama ulamanya,” ceritanya.

Lalu kemudian, H Hatifi pulang ke Lombok. Ia memberitahu keluarganya perihal peristiwa yang dialaminya di Surabaya terkait Tuan Guru Bengkel. 

“Sehingga banyak keluarganya yang masuk NU,” tukasnya.

Bupati Tegal

TGH M Shaleh Hambali atau Tuan Guru Bengkel adalah merupakan salah satu perintis kebangkitan pendidikan Islam di Lombok pada awal abad ke-20. Tuan Guru Bengkel merupakan Rais Syuriah pertama PWNU NTB. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita Bupati Tegal

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Brebes, Bupati Tegal 



Permainan sepak bola api, menjadi tontonan menarik bagi warga masyarakat Brebes. Terbukti, ratusan penonton berjubel untuk menyaksikan pertunjukan permainan itu meskipun terkadang ketakutan karena bola apinya meluncur hingga ke arah penonton. Suara sorak sorai pun membahana ketika bola api tak bisa ditangkap penjaga gawang dan akhirnya gol.

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Suasana permainan bola api terlihat sangat meriah ketika berlangsung pertandingan sepak bola api dalam rangka tahun baru Hijriyah dan Hari Santri Nasional 2017 tingkat Kabupaten Brebes beberapa waktu yang lalu. 

Ketua Panitia Tahun Baru Islam dan Hari Santri Nasional 2017 H Athoilah Syatori menerangkan, bola api yang dimainkan tiap-tiap grup berjumlah 5 pemain tersebut berlangsung meriah. 

Dalam pertandingan tersebut, akhirnya grup sepak bola api dari Pondok Pesantren Fathurohmah Kubangpari Kersana akhirnya berhasil menjadi juara satu setelah mengalahkan Pondok Pesantren Manarul Huda Bandungsari Banjarharjo dengan skor 3-2. Sementara juara 3 diraih Pondok Pesantren Ta’allamul Huda Ganggawang Salem.

Bupati Tegal

Selain lomba bola api, lanjut Athoillah, juga digelar perlombaan lain yang berjumlah 11 perlombaan. Perlombaan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, di dapatkan para pemenang sebagai berikut. Lomba Pawai Taa’ruf juara 1 Pondok Pesantren Mubarokatul Ulum Penanggapan Banjarharjo, juara 2 MTs N Model Brebes dan juara 3 Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.

Untuk Lomba Kasidah, juara 1 grup Al Huda Sigempol Randusanga Kulon Brebes, juara 2 Fatayat NU Ranting Sindangjaya Ketanggungan dan juara 3 Al Badru Pakijangan Bulakamba. 

Lomba Srakalan, juara 1 Al Jadid Glonggong Wanasari, juara 2 Sunan Kalijaga Karengsembung Songgom dan juara 3 Al Abasiyah Sawojajar Losari. 

Bupati Tegal

Lomba Hafalan Juz 30, juara 1 M Irsyad Kaligangsa Brebes, juara 2 Elwiyah El Yumna Sengon Tanjung dan juara 3 A’lajjun Nabawati Limbangan Losari.

Lomba Pildacil juara 1 Munadiyatul Khiyari Wahid dari Salem, juara 2 Balqis Nutvi Mikyal Fiyaz Azzihara Rengabandung Jatibarang dan juara 3 Afhimni Mu’tasima Bangbayang Bantarkawung.

Lomba Baca Puisi Islami juara 1 Putri Nur’ani dari SMA 1 Brebes, juara 2 Vina Lutfiah SMA 2 Brebes dan juara 3 Chaerullah Aldan dari Limbangan Brebes.

Lomba Hadroh, juara 1 grup As Shofa Klampis Jatibarang, juara 2 Asy Syakiroh Sitanggal Larangan dan juara 3 Assalafiyah 2 Brebes.

Lomba Hafalan Nadhom Imriti, juara 1 M Izzudin Banjir Hidayah dari Salem, juara 2 Jenjen Salem dan juara 3 Aghni M Ramdani juga dari Salem.

Lomba Nadhom Alfiyah, juara 1 dimenangkan Imam Ubaidillah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba, Fitriatun Hasanah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan juara 3 Hijan Rizki Mahendra Pondok Pesantren Ta’alamul Huda Salem.

Sedangkan Lomba Qiroatul Kutub juara 1 Zulhaili Zulfa dari Pondok Pesantren Al Falah Salafi Jatirokeh Songgom,  juara 2 Lili Mutammimatun dari Pondok Pesantren Assalafiyah dan juara 3 Amin Mubarok dari Pondok Pesantren Assalaifyah Luwungragi Bulakamba. 

Menurut Athoillah, penyerahan hadiah berupa piala, piagam dan sejumlah uang pembinaan akan diberikan pada saat puncak peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2017 mendatang. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Cerita, Makam Bupati Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’

Tangerang Selatan, Bupati Tegal. KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan rujukan dalam konsep politik Nusantara. Dia adalah seorang yang mampu merumuskan pemikiran-pemikiran keislaman tentang politik yang ada di dalam kitab-kitab kuning dan Al-Qur’an dan mengontekstualisasikan pemikiran tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di Indonesia.  

Demikian disampaikan Zastrouw Al-Ngatawi saat menjadi Penanggap dalam acara Bedah Buku Tambak Beras: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah di UIN Jakarta, Selasa (19/12). 

“(Pemikiran) Dibawa ke Indonesia untuk dikontekstualisikan,” imbuhnya.

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’ (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’ (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’

Zastrouw menerangkan, Mbah Wahab menerima Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) nya Soekarno bukan tidak ada alasan. Mbah Wahab menerima konsep itu setelah menelusuri rujukan-rujukan yang ada di kitab kuning seperti kitab kaidah fikih Asybah wa al-Nadzoir. 

Begitu pun ketika ulama Nahdlatul Ulama (NU) menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Bagi Zastrouw, itu adalah bentuk kontekstualisasi pemikiran politik Islam.

Mbah Wahab, lanjut Zastrouw, juga sangat menguasai khazanah kebudayaan lokal seperti Mahabarata, Ramayana, dan lainnya. Pada saat Sidang Konstitante, Mbah Wahab menjelaskan intrik politik dalam kisah Mahabarata dengan fasih.

Bupati Tegal

“Bukan hanya kitab kuning, Mbah Wahab juga menguasai Mahabarata, Ramayana,” tuturnya. 

Menurut KH Maman Imanul Haq yang juga menjadi Penanggap dalam acara ini, alasan Mbah Wabah menerima Nasakom adalah bersifat strategis. Ketika NU ada di dalam koalisi, maka NU bisa mempengaruhi Soekarno agar tidak terbawa arus dan menjadi Komunis. Dari dalam, NU juga meyakinkan bahwa Komunis itu berbahaya bagi keutuhan Indonesia.

Bupati Tegal

“Kita dihina NU pro Komunisme dan sebagainya, tapi hari ini Indonesia terbebas dari Komunisme,” ujarnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Pondok Pesantren, Santri Bupati Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Ansor Kajen Terjunkan Dai ke Ranting-ranting

Pekalongan, Bupati Tegal

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen, Pekalongan, Jawa Tengah menggelar Safari Ramadhan ke ranting-ranting di kecamatan setempat. Kegiatan ini menjadi sarana silaturahim dalam rangka memperkuat soliditas organisasi sekaligus untuk syiar Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ansor Kajen Terjunkan Dai ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kajen Terjunkan Dai ke Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kajen Terjunkan Dai ke Ranting-ranting

Abdul Muid selaku Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Kajen menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap bulan Ramadhan. Kegiatan Safari Ramadhan tahun 2016 ini diagendakan 10 kali putaran dan dilaksanakan dari tanggal 12 Juni 2016 sampai dengan 30 Juni 2016.

Menurutnya, silaturahim melalui wahana Safari Ramadhan ini sangat penting terutama untuk menyamakan visi dan gerakan pemuda Ansor yang akan menjadi acuan dalam menjalankan roda oganisasi. Visi GP Ansor tersebut, tambahnya, meliputi (1) revitalisasi nilai dan tradisi Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, (2) memperkuat sistem kaderisasi, (3) pemberdayaan kader, dan (4) mewujudkan kemandirian organisasi dan kader.

Bupati Tegal

“Keempat visi tersebut dapat tercapai bila mana antarkomponen organisasi solid dan bersinergi,” katanya pada putaran Safari Ramadhan ke-4 yang dilaksanakan Jumat (17/6) di Masjid Jami Baitussalam Desa Kajongan, Kecamatan Kajen.

Pihaknya menyiapkan para dai yang mengisi mauidhah hasanah. Para dai tersebut merupakan kader-kader GP Ansor alumni pesantren yang telah diterjunkan ke ranting-ranting. Mereka didorong untuk punya misi dakwah Islam yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (moderat), tegak lurus (itidal), dan amar maruf nahi munkar sesuai dengan prinsip Nahdlatul Ulama.

Bupati Tegal

"Kami berharap misi dakwah GP Ansor dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam beragama terutama kader GP Ansor serta menambah ukhuwah (tali persaudaraan) sesama anggota GP Ansor dan dengan masyarakat," terang Abdul Muid.

Kegiatan ini diikuti seluruh pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Kajen dan menyambangi 10 Pimpinan Ranting GP Ansor se-Kecamatan Kajen, meliputi Desa Gandarum, Linggoasri, Rowolaku, Kajongan, Kalijoyo, Sinangohprendeng, Salit, Sokoyoso, Tanjungsari dan Gejlig. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita Bupati Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

Jakarta, Bupati Tegal. Bencana yang datang bertubi-tubi di Indonesia telah menimbulkan korban yang jumlahnya sangat besar. Sampai saat ini belum terdapat upaya penanganan yang komprehensif yang melibatkan masyarakat dalam mengatasi dan menangani bencana.

NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia merasa prihatin dengan kondisi tersebut dan merasa berkewajiban untuk turut terlibat dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana tersebut.

“Dari keprihatinan itu, PBNU berusaha melibatkan pesantren dalam membantu upaya pencegahan dan penanggulangan bencana,” tandas Program Manager Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) Avianto Muhtadi di Jakarta, Selasa.

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

Karena sebelumnya belum ada lembaga di bawah NU yang menangani bencana secara komprehensif, maka langkah pertama yang akan dilakukan adalah memberikan kesadaran akan bencana dan keberadaan CBDRM secara komprehensif ke lingkungan NU dan pesantren. Upaya ini akan dilakukan dengan menggelar workshop yang melibatkan pesantren, PBNU, PWNU, PCNU, badan otonom dan para ahli yang akan merumuskan strategi penanganan bencana.

“Sampai saat ini, potensi kerjasama swasta dan partisipasi masyarakat dengan pemerintah masih kurang. Penanganan bencana tak hanya bisa dibebankan pada pemerintah, dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang intens antar kedua belah fihak,” tambahnya.

Bupati Tegal

Workshop yang akan diselenggarakan pada 13-14 September di Bandung  ini akan membahas seluruh aspek penanganan bencana mulai dari konsep manajemen bencana, masalah kesehatan, kerentanan sosial dan partisipasi masyarakat, perpektif NU dalam penanganan bencana sampai dengan konsep fikih bencana.

Program ini terselenggara atas kerjasama antara PBNU, Ausaid dan para tenaga ahli dari pust mitigasi bencana ITB yang nantinya akan berperan sebagai technical assistant. (mkf)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Menristek-Dikti: PTN dan PTS Punya Kedudukan Sama

Jember, Bupati Tegal. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) Prof. Muhammad Nasir menyatakan, saat ini semua perguruan tinggi memiliki kedudukan yang sama dalam hal membangun pendidikan tinggi. Tidak ada lagi dikotomi antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

“Ini dimaksudkan agar semua perguruan tinggi memiliki kesempatan yang sama dan saling berlomba dalam hal perkembangan pendidikan tinggi,” tegasnya saat melakukan kunjungan kerja di Universitas Jember, Jawa Timur, Sabtu (17/1), sebagainama siaran pers yang diterima Bupati Tegal.

Menristek-Dikti: PTN dan PTS Punya Kedudukan Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Menristek-Dikti: PTN dan PTS Punya Kedudukan Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Menristek-Dikti: PTN dan PTS Punya Kedudukan Sama

Tidak adanya dikotomi antara PTN dan PTS itu dibuktikan dengan pembubaran Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta) yang selama ini mengelola PTS. Nanti semua perguruan tinggi akan diakomodasi dalam lembaga baru, yakni Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLPT).

Bupati Tegal

Meski demikian, M Nasir berharap agar perguruan tinggi yang sudah maju harus bisa menjadi daya ungkit untuk perguruan tinggi yang masih dalam proses berkembang.

Bupati Tegal

“Jangan sampai jarak antara perguruan tinggi yang sudah maju dengan yang masih berkembang terlampau jauh. Perguruan tinggi yang sudah maju harus membantu yang masih berkembang agar pendidikan tinggi kita merata,” tegasnya.

Lebih jauh M Nasir juga menegaskan, cita-cita besar yang hendak dibangun untuk pendidikan tinggi di Indonesia adalah, perguruan tinggi yang sudah maju harus mampu bersaing menjadi perguruan tinggi maju di dunia lainnya.

“Jadi perguruan tinggi yang sudah maju harus menjadi perguruan tinggi top world. Sementara perguruan tinggi yang masih berkembang akan menjadi perguruan tinggi yang maju di Indonesia,” harapnya.

Untuk itu, dirinya sangat berharap agar semua perguruan tinggi saling bersaing untuk menjadi perguruan tinggi unggulan yang mampu bersaing dengan perguruan tinggi dunia lainnya. ?

Sementara itu, terkait dengan penelitian, M Nasir berharap agar hasil penelitian yang dihasilkan oleh para peneliti di Indonesia ini hendaknya memiliki dampak yang mampu dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Para peneliti sebaiknya memahami apa kebutuhan masyarakat, sehingga hasil penelitiannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Berita Bupati Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

IPNU Tentukan Nasib NU Mendatang

Probolinggo, Bupati Tegal. Ikatan Pelajar Nahldatul Ulama (IPNU) merupakan pintu masuk awal sistem pengkaderan yang ada di NU baik secara struktural maupun kultural. Oleh karenanya, kerja keras pengurus sangat dibutuhkan karena peran IPNU sekarang akan menentukan nasib NU di masa mendatang.

Demikian disampaikan Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU Kecamatan Tegalsiwalan periode 2013-2015 Muhammad Faisol Romli usai dilantik oleh Ketua Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Probolinggo Rodli Nabillah, Jumat (22/2).

Menurut Faisol, IPNU merupakan pintu masuk awal sistem pengkaderan yang ada di NU baik secara struktural maupun kultural. Oleh karenanya, kerja keras pengurus sangat dibutuhkan karena peran IPNU sekarang akan menentukan nasib NU di masa mendatang.

IPNU Tentukan Nasib NU Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Tentukan Nasib NU Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Tentukan Nasib NU Mendatang

”Semoga kami dapat menjalankan amanah ini dengan baik dan menjadi sosok yang akhlakul karimah sehingga mampu menciptakan Kecamatan Tegalsiwalan yang agamis dengan kultur dan budaya yang beragam,” ujarnya.

Bupati Tegal

Dikatakan Faisol, tantangan pelajar NU sejak dulu adalah sejumlah pengaruh eksternal yang dapat menjerumuskan mereka sebagai generasi bangsa.

”Keberadaan IPNU nantinya diharapkan mampu mengarahkan pergaulan kader-kader muda NU melalui program-programnya. Sehingga nantinya dapat menjadi generasi muda yang handal dan berkualitas serta mampu menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Pelantikan PAC IPNU Kecamatan Tegalsiwalan ini sendiri dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Moh. Saiful Hadi, Ketua PC Aswaja Center NU Kabupaten Probolinggo Kiai Ahmad Ghozali, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Tegalsiwalan Muhajir Abd. Rozaq, Ketua PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Maharani Sofia beserta segenap pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo

Bupati Tegal

Pelantikan PAC IPNU Kecamatan Tegalsiwalan yang baru dibentuk tersebut mendapat apresiasi yang sangat positif dari Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Moh. Saiful Hadi. Dalam sambutannya Saiful Hadi merasa sangat bangga dan senang dengan hadirnya IPNU di Kecamatan Tegalsiwalan. Apalagi selama ini IPNU di daerah tersebut sempat vakum.

“Kami sangat bersyukur dan bangga atas terbentuknya sampai dilantiknya pengurus IPNU di Kecamatan Tegalsiwalan. Kader NU perlu terus digalakkan, terutama di daerah pelosok terutama terkait semakin maraknya faham di luar Aswaja (Ahlussunnah Wal Jamaah, red),” ujar Kiai Saiful Hadi.

Sementara Ketua PC IPNU Kabupaten Probolinggo Rodli Nabillah berharap agar pengurus yang baru dibentuk dan dilantik ini dapat betul-betul menjalankan roda organisasi sesuai dengan tupoksinya sebaik-baiknya demi memajukan IPNU di Kabupaten Probolinggo.

“Selamat bergabung dan berjuang bersama kami dengan rekan dari kecamatan lain untuk membina watak generasi muda. Kami juga memohon agar para ulama, pejabat serta tokoh masyarakat turut serta mendukung kegiatan kepemudaan,” ungkapnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Humor Islam, Cerita Bupati Tegal

Mengapa Tanah Wakaf Kena Pajak? Ini Alasannya

Jakarta, Bupati Tegal. Beberapa waktu yang lalu tersiar berita mengenai pertanyaan KH Syukron Makmun tentang tanah wakaf yang dikenai pajak kepada Presiden. Dalam keterangan pers di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (4/4/2017), ia menyatakan bahwa tanah wakaf yang dikelolanya dikenai pajak.

"Saya sendiri ditagih pajak, yang jumlahnya nanti istighfar mendengarnya," kata Syukron Makmun.

Mengapa Tanah Wakaf Kena Pajak? Ini Alasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Tanah Wakaf Kena Pajak? Ini Alasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Tanah Wakaf Kena Pajak? Ini Alasannya

Padahal, menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 Pasal 3 Ayat 1, tanah yang digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan umum di bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional, dan tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan, tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan.

Menurut Anggota Badan Wakaf Indonesia Soraya Devi, tanah wakaf yang dikenai pajak bisa jadi karena tanah itu belum memiliki sertifikat wakaf.

"Yang sekarang banyak terjadi adalah tagihan pajak timbul karena banyaknya tanah wakaf yang belum bersertipikat hak milik wakaf," jelas Devi, Selasa (5/4/2017) malam.

Bupati Tegal

Ia mencontohkan tanah wakaf yang masih bersertifikat hak milik (SHM), hak guna bangunan (HGB), hak guna usah (HGU), girik, dan verponding.

Bupati Tegal

Untuk bisa mendapatkan sertifikat wakaf, menurut Devi, persyaratan berupa warkat atau surat-surat tanah harus lengkap. Namun, "Kelengkapan warkat inilah kendala utama," ujar Devi.

Untuk itu, Devi berharap Badan Pertanahan Nasional bisa mengeluarkan kebijakan yang lebih memudahkan nazhir untuk mendapatkan sertifikat wakaf.

"Terutama sertifikat wakaf untuk tanah yang di atasnya ada masjid," kata Devi.

Mengenai tanah wakaf yang digunakan untuk kegiatan usaha wakaf produktif, Devi menyatakan bahwa hanya kegiatan usahanya yang dikenai pajak. Adapun tanahnya tidak dikenai pajak jika sudah bersertifikat wakaf. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Humor Islam, RMI NU Bupati Tegal

Senin, 04 Desember 2017

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

Jakarta, Bupati Tegal?



Sebanyak 14 organisasi massa (ormas) Islam menolak kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekolah Lima Hari. Penolakan ormas-ormas yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Islam (LPOI) tersebut disampaikan pada konferensi pers di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (7/7).?

Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj mengatakan, ormas-ormas Islam mengapresiasi langkah pemerintah yang membatalkan Permendikbud yang akan menggantinya dengan Perpres.

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)
LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak (Sumber Gambar : Nu Online)

LPOI: Sampai Kapan Pun Sekolah Lima Hari Ditolak

“Namun kami menunggu bukti nya Permen itu telah dibatalkan karena nyatanya Mendikbud masih bersikeras menjalankan Permen yang dibatalkan itu,” katanya.?

Madrasah yang ada di desa-desa ada sekitar 76 ribu lebih telah menjadi bagian dari masyarakat Islam.?

Bupati Tegal

“Sampai kapan pun, tidak dialog, tidak diskusi, tidak ada tawar-menawar, kami, NU, LPOI juga meminta (kebijakan) itu dibatalkan.”

Sekjen LPOI H. Luthfi At-Tamimi mengatakan, kebijakan tersbut mengancam keberadaan pendidikan di madrasah dan pesantren.?

Bupati Tegal

“Mereka tidak membubarkan pesantren, tapi mereka membuat acara sampai jam lima supaya pesantren tidak laku,” katanya. (Abdullah Alawi) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Nahdlatul, Budaya Bupati Tegal

Selasa, 28 November 2017

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

Jombang, Bupati Tegal. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jombang konsisten menjaga kerukunan antarpenganut agama. Kali ini, langkah yang dilakukan pengurus FKUB Jombang adalah mengadakan Seminar bertemakan “Implementasi Nilai-Nilai Dasar Kerukunan Umat Beragama” di Aula Gedung Islamic Center Jombang, Selasa malam (23/12).

Kegiatan yang mendatangkan narasumber Prof Ahmad Zahro perwakilan umat Islam dan Pendeta Ismiyati dari Kristiani itu diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama.

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

FKUB Jombang Perkuat Kerukunan Antarumat Beragama

“Semua yang ada di forum ini, semoga nantinya bisa satu persepsi untuk merawat kerukunan di antara kita tanpa membedakan diri karena unsur apapun, apalagi kepentingan tertentu,. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai dasar kerukunan ini,” kata Dr KH Isrofil Amar Ketua FKUB yang juga Ketua Tanfidiyah PCNU Jombang.

Bupati Tegal

Prof Ahmad Zahro yang juga Guru Besar Ilmu Fiqih UIN Sunan Ampel Surabaya itu memaparkan tentang Islam sebagai agama yang damai, cinta perdamaian, antikekerasan, menghormati kebebasan, menghargai kesetaraan, dan mengajarkan kerukunan.

Bupati Tegal

“Menjadi bangsa Indonesia, apapun agamanya, termasuk Islam, terikat oleh kesamaan kewajiban dan hak sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berfalsafah Pancasila,” jelas Rektor Unipdu Jombang itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, demi terwujudnya toleransi antarumat beragama, harus ditegakkan bersama-sama ukhuwah Islaamiyah (persaudaraan sesame muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama warga bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Itulah nilai-nilai dasar kerukunan yang harus dijadikan rujukan bersama,” pungkas penulis buku berjudul Tradisi Intelektual NU itu.

Sedangkan Pendeta Ismiyati mengajak peserta untuk tidak membeda-bedakan sesama umat beragama sebagai warga Negara Indonesia. “Di kitab Injil juga dijelaskan, ada besar ada kecil, itu memang hukum harmonisasi alam. Yang terpenting bukan kita ini dibersamakan, tetapi bagaimana kita memberi dampak dalam kehidupan ini dengan menjaga kerukunan,” ungkap Pendeta Ismi.

Selain dua keynote speaker tersebut, turut hadir pula Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab, Dandim 0814 Jombang M Haidir, dan AKBP Ahmad Yosep Kurniawan Kapolres Jombang. Serta puluhan peserta dari berbagai komponen masyarakat, lintas agama, dan perwakilan ormas Islam yang ada di Kabupaten Jombang.

Acara yang ditutup pukul 22.30 itu, mendapat masukan dari salah satu peserta agar untuk forum selanjutnya narasumber yang diundang harus dari seluruh perwakilan agama yang diakui di Indonesia. “saya kira itu akan lebih baik, karena memberikan kesempatan yang sama kepada semuanya. Baik yang minoritas maupun yang mayoritas,” Kata Margono salah satu peserta. (Romza/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Hadits, Amalan Bupati Tegal

Senin, 27 November 2017

LKNU Ajak Warga NU Cegah Penyakit Diabetes Melitus

Jakarta, Bupati Tegal. International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan terdapat 382 juta orang di dunia hidup dengan Diabetes Melitus (DM) dan mengestimasikan jumlah meningkat mencapai 592 juta pada tahun 2035. Sedangkan di Indonesia terdapat 9.1 juta penduduk menderita DM dan menempati urutan ke lima dunia, dan hanya 30 persen mengetahui kondisinya.  

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) mengajak warga NU dan tokoh-tokoh NU untuk melakukan pencegahan dini dan upaya pengendalian kenaikan angka penyakit DM. Hal itu dilakukan dalam diskusi publik bertemakan peran warga NU dalam pencegahan dan deteksi dini penyakit DM di Gendung PBNU, Jakarta, Rabu (30/9).  

LKNU Ajak Warga NU Cegah Penyakit Diabetes Melitus (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Ajak Warga NU Cegah Penyakit Diabetes Melitus (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Ajak Warga NU Cegah Penyakit Diabetes Melitus

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan kepada warga NU untuk lebih peduli dengan masalah kesehatan. Selain karena untuk mencegah masuknya berbagai macam penyakit, kebersihan juga merupakan penerapan keimanan dalam berkehidupan. Diakuinya, jumlah warga NU besar akan tetapi potensi terserang penyakit juga lebih besar. 

Bupati Tegal

"Karenanya penting sekali untuk menjaga dan memperhatikan masalah kebersihan," ujarnya.

Begitu juga dengan sarana prasarana milik NU, lanjut Kang Said, seperti rumah sakit dan klinik belum banyak yang dimiliki warga NU dibandingkan dengan ormas lain. Ia berharap kondisi ini menjadi perhatian bersama, dukungan dan pengabdian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan di NU. 

Bupati Tegal

"Rumah sakitnya saja kurang apalagi para tenaga medis dan dokternya," ungkapnya.

Ketua PP LKNU H Hisyam Said Budairi berharap melalui diskusi ini penyakit DM tidak hanya diketahui oleh tenaga kesehatan, namun juga para tokoh-tokoh agama dan masyarakat sehingga akan dapat memperjelas peran masyarakat terutama warga NU untuk berperan aktif dalam upaya pengendalian kenaikan angka penyakit DM. 

"Kenyataan masih besarnya mereka yang tidak sadar dirinya menderita DM, menunjukkan pentingnya peran tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan dalam menyebarluaskan informasi pentingnya deteksi dini penyakit DM," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Subdit DM Kemenkes, Drg Dyah Erti Mustikawati mengatakan, terjadi peningkatan prevalensi pada penderita DM yaitu 1,1 persen pada 2007 menjadi 1,5 pada 2013 sedangkan hasil diagnosis dokter gejala DM pada 2013 sebesar 2,1 persen. 

"Untuk itulah sangat dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk mendeteksi dini penyakit DM sehingga segera melakukan tindakan preventif," tandasnya.

Selain itu juga kata Dyah Erti, peran warga NU sangat diharapkan dalam berkontribusi menurunkan angka penyakit DM, dan bukan malah menambahi angka tersebut. Tentu salah satu caranya dengan menjaga kebersihan, menjaga pola makan yang baik, makan makanan yang sehat yang tidak memicu penyakit DM. 

"Intinya adalah lebih baik mencegah daripada terkena penyakit," pungkasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nasional, Ulama, Cerita Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock