Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Ribuan Warga Iringi Kirab Merah Putih

Kudus, Bupati Tegal. Ribuan masyarakat Kecamatan Undaan mengiringi kirab merah putih yang diadakan Kanzus Sholawat Angudi Barokahe Gusti (ABG) cabang Kudus Ahad (24/2) sore.

Ribuan Warga Iringi Kirab Merah Putih (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Iringi Kirab Merah Putih (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Iringi Kirab Merah Putih

Mereka yang terdiri dari siswa berbagai sekolah, organisasi masyarakat, dan komunitas lintas agama itu mengiringi kirab dengan menempuh perjalanan 2,5 kilometer mulai dari Balai Desa Undaan Tengah.

Kirab kebangsaan dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini berlangsung meriah. Ragam kebudayaan ditampilkan seperti pakaian adat nusantara, seni terbang papat, Barongan, reog ponorogo, barongsai dan marching band ? dari Madrasah Aliyah (MA) NU Nahdlatul Muslimin Undaan dan ? Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Bupati Tegal

Ketua Panitia Ali Makhrus mengatakan nilai kebangsaan dan nasionalisme menjadi tema utama pelaksanaan peringatan maulid Nabi Muhammad oleh kanzus Sholawat. Tujuannya untuk menanamkan kembali nilai-nilai nasionalisme di kalangan anak bangsa yang akhir-akhir ini semakin luntur.?

Bupati Tegal

"Melalui kirab kebangsaan ini dimaksudkan nilai-nilai dan semangat nasionalisme anak bangsa bisa tertanam kembali," ujarnya..

Ia mengatakan, Nabi ? Muhammad SAW ? diturunkan sebagai rahmatal lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Makanya dalam kirab kita menampilkan ragam budaya dari berbagai agama, suku dan etnis.

"Dari agama,suku maupun etnis apapun kita libatkan selama masih dalam bingkai NKRI. Makanya semboyan kegiatan ini adalah NKRI harga mati, bukan basa-basi, tegas Machrus..

Kirab kebangsaan ini, tambahnya, merupakan salah satu rangkaian ? peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan Kanzus sholawat Cabang Kudus ini ? sejak 20 - 27 Februari. Kegiatan lainnya, ? Bazar maulid (20-27/2), Pentas seni Budaya (20-25/2),dan pentas malam pasihan bersama musik gambus Macica Solo (26/2).

"Puncak acaranya malam Kamis (27/2) berupa pengajian umum yang akan dihadiri Habib Luthfi bin Ali bin Yahya dari Pekalongan,"terangnya.

Kegiatan Maulid Nabi ? Kanzus Sholawat Kudus di Desa Undaan Lor ini selalu menjadi perhatian dan hiburan ? warga masyarakat kudus dan daerah lainnya. Salah seorang warga Undaan Lor Farhan mengaku terhibur dengan adanya rangkaian kegiatan maulid di kanzuz Sholawat ini.

"Setiap tahun acara semacam ini sudah rutin dan selalu dinanti masyarakat. Selain menghibur masyarakat terhibur juga ada tuntunannya terutama saat pengajian bersama ulama, kiai dan habaib," ujarnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kiai, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

Tradisi Halal Bihalal

Di tanah kelahiran Islam, Arab Saudi, tradisi halal bihalal justru tak dikenal. Juga di sebagian besar negara-negara muslim di dunia. Dalam Al-Quran dan Hadis, istilah itu juga tak ditemukan. Tradisi ini hanya khas di Indonesia.

Di kampung-kampung, tradisi bermaaf-maafan biasanya dilakukan usai shalat Idul Fitri atau usai berziarah. Mereka mendatangi satu rumah ke rumah lainya, terutama pemilik rumah yang lebih tua atau dituakan seperti para kiai. Si pemilik rumah menyediakan rupa-rupa makanan, biasanya makanan khas, lokal sebagai penghormatan terhadap tamu dan kegembiraan di hari lebaran.

Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Halal Bihalal (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Halal Bihalal

Tak hanya di kampung-kampung, tradisi saling bermaaf-maafan ini juga menjadi tradisi rutin yang digelar instansi pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta. Para pemimpin instansi dan perusahaan menjadikan momen halal bihalal sebagai medium bermaaf-maafan kepada karyawan dan bawahannya. Begitu sebaliknya.

Tradisi ini juga dikembangkan dengan menggelar kegiatan khusus berupa pengajian dan mendatangkan penceramah untuk memberi tausiyah atau pesan-pesan agama.

Bupati Tegal

Makna halal bihalal lebih dekat dengan pengertian saling memaafkan atas segala salah dan khilaf agar bisa kembali menjadi manusia suci.?

Bupati Tegal

Karena itu, perkataan yang biasa dilontarkan, Minal Aidin wal Faizin, semoga termasuk orang-orang yang kembali dan beruntung. Padahal, kata “halal” biasanya terkait erat dengan konteks hukum berarti sesuatu yang diizinkan atau dibolehkan. Tapi untuk konteks halal bihalal, tidak dimaksudkan untuk itu. Tradisi ini salah satu model pribumisasi Islam. (Alamsyah M. Dja’far)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Hikmah, Kajian Sunnah Bupati Tegal

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Banyuwangi, Bupati Tegal - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melalui Badan Student Crisis Center (SCC) mengadakan diskusi perihal pelajar dan media sosial dengan tema Berselancar dengan Cerdas di aula Gedung PGRI Banyuwangi, Sabtu (13/2) pagi. Forum ini dihadiri oleh puluhan pelajar SMA di Banyuwangi dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Hubungan, Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyuwangi.

Hadir pula para penggiat literasi dan media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi.

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Acara yang dipandu oleh Iraa Rachmawati dari Kompas.com diawali dengan menggali informasi perilaku pelajar terhadap media sosial. Dari pemaparan para pelajar itu diketahui banyak perilaku menyimpang dalam menggunakan media sosial.

Bupati Tegal

“Banyak teman-teman yang pandangannya terbentuk oleh media sosial. Padahal tak semua yang tersebar di media sosial itu benar?” gugat Syukria Ulfa, siswi dari salah satu SMK swasta di Banyuwangi.

Bupati Tegal

Hal demikian senada dengan apa yang disampaikan oleh Direktur SCC IPNU Banyuwangi Ibnu Tsani Rosyada. Ibnu mengatakan, media sosial yang sejatinya hanya dunia maya telah mengalihkan dunia realitas yang lebih konkret.

“Misalnya, ada seseorang yang protes pada temannya karena tidak memberi komentar pada statusnya. Padahal kedua orang itu setiap harinya selalu bertemu,” ujar Ibnu memberi contoh.

Perilaku bermedia sosial yang begitu berpengaruh itu amat rentan terinfiltrasi oleh akun-akun negatif seperti pornografi dan radikalisme. Maraknya akun-akun radikalisme yang menyerukan permusuhan, ujaran kebencian, dan ajakan untuk melakukan tindak kekerasan harus dihindari sebisa mungkin.

“Waspadai akun-akun yang mengajak untuk membenci atau melakukan tindak kriminal,” kata perwakilan Dinas Pendidikan Banyuwangi Sutikno.

Pegiat media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi (RLB) Nurul Hikmah mengajak para pelajar dan penggiat media sosial untuk menjadikan media sosial sebagai ajang kampanye hal-hal inspiratif. Ia mencontohkan gerakannya di RLB yang berbasis media sosial.

“Hanya dengan berkampanye lewat fesbuk, kami bisa menggerakkan dan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap dunia literasi. Kepedulian itu di antaranya dengan membuka rumah baca,” ujarnya.

Ikhwan Arif, aktivis sosial dan pendiri Bangsring Underwater ini ikut mencontohkan bagaimana memperlakukan media sosial. Ia merintis wahana wisata yang berbasis pelestarian terumbu karang di pantai Bangsring, Banyuwangi, dan berhasil mempromosikan tempat wisatanya hingga menasional melalui media sosial.

“Sebenarnya media sosial bisa mempermudah beragam urusan, tinggal kita mau melakukannya untuk apa. Untuk hal positif ataukah negatif?” ia mengingatkan hadirin.

Arif dari Dishubkominfo memaparkan tentang Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik (ITE). Ia menggarisbawahi bahwa aktivis media sosial tidak terlepas dari aturan perundanga-undangan yang memiliki konsekuensi hukum tersendiri.

“Di media sosial kita bebas memosting apa saja. Tetapi ingat, jika postingannya melukai perasaan orang lain, kita bisa dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Ketua IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki mengatakan, tujuan kegiatan diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Ke-62 IPNU di bulan Pebruari ini. Forum ini juga bertujuan untuk mengedukasi pelajar agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari media sosial.

“Radikalisme yang marak di media sosial harus dicegah karena menjangkiti para pelajar. Karena itu, kita mengajak para pelajar untuk bisa berinternet dan menggunakan media sosial secara cerdas dan bermanfaat,” pungkasnya. (Anang Lukman Afandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Cerita, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Jihad Literasi Punya Peran Penting Tangkal Radikalisme Agama

Bogor, Bupati Tegal. Proses belajar agama secara instan yang saat ini dilakukan oleh sebagian masyarakat melalui dunia maya atau internet turut menyumbang krisis literasi di antara generasi bangsa. Tradisi membaca buku berkurang drastis sehingga Indonesia tergolong negara yang rendah dalam membaca buku.

Jihad Literasi Punya Peran Penting Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Literasi Punya Peran Penting Tangkal Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Literasi Punya Peran Penting Tangkal Radikalisme Agama

Hal mengemuka ketika Pegiat Literasi dari Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Jawa Timur, Nyai Fadhilah Khunaini saat mengisi materi dalam kegiatan Halaqah Kiai dan Nyai yang digelar Pusat Studi Pesantren (PSP), Selasa (5/11) di Bogor, Jawa Barat.

Menurut Fadhilah, mencetak santri yang gemar menulis dan membaca buku akan membawa mereka tidak mudah terpengaruh dengan konten-konten radikal yang ada di internet sehingga bisa mencegah radikalisme.

“Jihad literasi sangat penting,” ungkapnya di hadapan sekitar 50 kiai dan nyai dalam forum tersebut.

Ribuan santri Annuqayah yang dibinanya saat telah banyak memproduksi karya tulis berupa buku, majalah, cerpen, puisi, termasuk menyadur kitab-kitab besar karya ulama ke dalam bentuk yang menarik sehingga mudah diterima oleh murid-murid madrasah maupun sekolah.

Bupati Tegal

“Orang atau anak mungkin tidak bisa disodorkan Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali yang tebalnya ribuan halaman. Namun ketika disadur secara singkat menjadi buku menarik penuh gambar, anak-anak sekolah akan tertarik,” ungkap Fadhilah.

Bupati Tegal

Dalam kegiatan bertema Jihad Pesantren Berbasis Literasi: Ikhtiar Menangkal Radikalisme Beragama ini, dia juga berhasil membina santri yang mau membaca buku-buku berkonten berat seperti buku-sasrta Leo Tolstoy, William Shakespeare, Pramoedya Ananta Toer, dan buku lainnya dengan metode serupa.

“Kadang, kita yang sudah tua saja belum pernah membaca atau menyelesaikan buku-buku tebal tersebut. Tetapi dengan cara disadur ulang dalam bentuk buku cerita ringan dan menarik, anak-anak sekolah bisa memahaminya dengan baik,” ucapnya.

Menurutnya, jihad literasi melalui tradisi membaca dan menulis buku yang selama ini dilakukannya bisa memberi pengetahuan dan wawasan luas kepada para santri dan anak sekolah.

“Dengan terus menulis dan membaca buku, mereka akan mempunyai wawasan luas sehingga tidak berpikiran sempit,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Pesantren (PSP) Achmad Ubaidillah mengatakan, forum Halaqah Kiai dan Nyai ini sengaja menghadirkan narasumber-narasumber yang mempunyai best practice nyata dalam mewujudkan penguatan literasi di pesantren.

“Tradisi literasi pesantren ini untuk melanjutkan perjuangan para ulama dan kiai pendahulu yang begitu kuat dalam membaca dan memproduksi karya,” jelasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Jumat, 26 Januari 2018

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil

Depok, Bupati Tegal. Peringatan haul pendiri Pesantren Ar-Rahmaniyah, Pondok Terong, Cipayung, Almaghfurlah KH Abdussomad Rahman Fadil bin KH Abdur Rahman dan almarhumah Ny Hj Aminah Binti H.Mohammad Sholeh berlangsung cukup khidmat. Selama sepekan, para santri mengikuti acara Khotmil Quran sebanyak 100 kali.

Menurut salah satu Pengasuh Pesantren Ar-Rahmaniyah KH Mohammad Abduh, rangkaian khotmil Quran tersebut bagian dari acara haul.?

"Puncaknya adalah dengan semaan Al-Quran oleh Jamiyyatul Qurro Wal Huffadz (JQH) NU kota Depok. Selepas sholat Isya dilanjutkan dengan dzikir, pembacaan maulid dilanjutkan dengan Tabligh Akbar oleh KH Manarul Hidayat dan Habib Abu Bakar. Acara Minggu malam untuk Bapak-bapak dan hari Senin pagi untuk Ibu-ibu," kata Abduh di Pesantren Ar-Rahmaniyah, Pondok Terong, Cipayung, Ahad, (14/5).

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil (Sumber Gambar : Nu Online)
Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil (Sumber Gambar : Nu Online)

Khatamkan Al-Qur’an 100 Kali untuk KH Abdussomad Rahman Fadil

Abduh mengungkapkan, peringatan haul juga bersamaan dengan tasyakuran Pesantren Ar-Rahmaniyah yang ke-69. Menurutnya, kiprah pesantren yang sudah lama berdiri di Kota Depok ini tetap konsisten dalam melestarikan tradisi ke-NU-an dan Aswaja NU. Ia mengungkapkan, dengan peringatan haul dan acara khotmil quran tersebut pihaknya mengingikan berdirinya pesantren tahfidz di Gadog, Bogor.?

"Kita berharap dengan acara haul tersebut bagian dari mengirim doa untuk almaghfurlah dan keberkahan bagi yang membacanya. Tentunya, bagi Pesantren Ar-Rahmaniyah sendiri bisa terus berkiprah di tengah masyarakat," harapnya.

Bupati Tegal

Ia mengungkapkan, di usia yang ke-69 Pesantren Ar-Rahmaniyah tetap konsisten di dunia pendidikan agama dan umum secara formal maupun non formal. Sampai saat ini, lanjutnya, ? telah berkembang dan memiliki 11 unit pendidikan mulai dari RA atau TK sampai dengan Program Pascasarjana.

"Kita terus berupaya dalam mengembangkan pendidikan perguruan tinggi berbasis agama Islam. Dalam ? Pendidikan, ? kita tetap dalam rangka mewujudkan warga negara yang baik keindonesiaan mapun keislaman berpegang pada ajaran Aswaja NU," terangnya.

Bupati Tegal

Dalam acara tersebut, juga dihadiri jajaran Pengurus PC NU Kota Depok dan para tokoh masyarakat. (Aan Humaidi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Habib, Bahtsul Masail Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Syeikh Qaradhawi Akui Kesamaan Pemikirannya dengan NU

Doha, Bupati Tegal

Ulama ternama Qatar, Syeikh Yusuf Qaradhawi, mengakui bahwa dirinya memiliki kesamaan pemikiran dan pandangan dengan Nahdlatul Ulama (NU) tentang kehidupan umat beragama. Kesamaan itu, katanya, terdapat pada keharusan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam kehidupan beragama.



Syeikh Qaradhawi Akui Kesamaan Pemikirannya dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Syeikh Qaradhawi Akui Kesamaan Pemikirannya dengan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Syeikh Qaradhawi Akui Kesamaan Pemikirannya dengan NU

Hal tersebut dikatakan Syeikh Qaradhawi seperti dikutip Duta Besar RI untuk Qatar, Rozy Munir, melalui surat elektronik yang diterima Bupati Tegal, di Jakarta, Selasa (26/2). Rozy menyampaikan hal tersebut setelah bertemu Syeikh Qaradhawi di kediamannya, di Dafna, Qatar, beberapa waktu lalu.

Menurut Rozy, Syeikh Qaradhawi mengatakan bahwa keberagaman dalam agama merupakan kehendak Allah yang tak bisa diubah. Karena itu, setiap pemeluk agama harus saling menghargai, tidak boleh saling menghina dan melecehkan.

Bupati Tegal

“Allah manjadikan segala sesuatu dalam perbedaan. Smeua pasti ada hikmahnya. Kita tidak boleh mengkafirkan orang lain, karena mereka pun bisa mengkafirkan kita. Kita tidak boleh merasa paling benar. Dialog merupakan jalan yang terbaik untuk saling menghormati sesama mahluk Allah,” ujar Rozy mengutip Syeikh Qaradhawi.

Ulama kelahiran Mesir itu berpendapat, kemanusiaan merupakan nilai-nilai agama yang sesungguhnya seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad. Dikisahkan, Nabi pernah ditanya sahabatnya tentang peghormatan terhadap pemeluk agama selain Islam. “Wahai Nabi, mayit itu orang Yahudi, mengapa engkau menghormati? Nabi menjawab: ia pun (Yahudi) manusia.”

Bupati Tegal

Syeikh Qaradhawi berkeyakinan bahwa pelaksanaan ajaran agama harus sesuai dengan kondisi zaman dan tempat. Doktrin agama yang kaku akan berpotensi menimbulkan perpecahan.

?

“Demikian juga adanya perbedaan kajian fikih menunjukkan fleksibelitas (kelenturan) agama. Kebenaran dan segala nilai-nilai kehidupan, milik Allah,” paparnya.

Dalam kesempatan pertemuan itu, Rozy juga mengundang Syeikh Qaradhawi untuk hadir pada International Conference of Islamic Scholars (Konferensi Ulama dan Cendekiawan Muslim se-Dunia) di Jakarta, Juli mendatang. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Hikmah Bupati Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

RMI Gelar Halaqah Pengasuh Pesantren

Jakarta, Bupati Tegal. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU menyelenggarakan halaqah pengasuh di Pondok Pesantren al-Hamid (Putra) Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur, 29-30 Desember 2012.

Demikian dalam undangan yang diterima Bupati Tegal, Jumat (28/12). Selain diikuti para pengasuh dan perwakilan dari 40 pesantren di wilayah Jawa, agenda ini juga akan dihadiri Ketua Pengurus Pusat RMINU KH Amin Haidari, Ketua PBNU Imam Azis, Wakil Sekretaris Jendral PBNU Imdadur Rahmat, dan sejumlah pejabat Kementerian Agama.

RMI Gelar Halaqah Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Gelar Halaqah Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Gelar Halaqah Pengasuh Pesantren

Acara halaqah ini mengambil tema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban”. Dalam forum ini, para pengasuh pesantren akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Bupati Tegal

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya ? menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian dalam ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Bupati Tegal

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gus Dur Dikerjain Habib

Sejak berada di Mesir, Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas berteman baik dengan Gus Dur. Jarak dan rasa sungkan sudah lama putus di antara keduanya.

Suatu hari Gus Dur dan Habib menginap di sebuah hotel di Jawa Barat. Habib tahu, teman karibnya ini selalu minta dibayar tiap kali di hotel atau rumah makan. Kali ini, ia ingin menguji “kebakhilan” Gus Dur.

Gus Dur Dikerjain Habib (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dikerjain Habib (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dikerjain Habib

Saat tiba waktu check-out, Habib keluar kamar lebih dulu.

“Tolong nanti yang bayar penginap di kamar nomor ini. Namanya KH Abdurrahman Wahid,” ucap Habib kepada kasir hotel.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Dengan dituntun, Gus Dur ke arah pintu keluar sambil celingukan.

“Di mana habib itu?” sergahnya.

Sejenak kemudian, langkahnya tertahan.

“Maaf Pak Yai, urusan kamar Pak Yai sama Habib belum beres,” kata kasir hotel.

Cucu pendiri NU ini bingung, “Maksudnya?”

“Pembayarannya.”

“Waduh…” Gus Dur menepuk jidat. “Mana bawa uang aku. Ya udah utang dulu aja, ya,” tutur Gus Dur sembari menyodorkan KTP.

Di depan pintu hotel, Habib cekikikan dari dalam taxi yang sedang diam di pelataran. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Oleh: M. Imaduddin

Kelahiran Aswaja, atau lebih tepatnya terminologi Aswaja, merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ketiga Hijriah. Pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abi Sufyan, yang berakhir dengan tahkim (arbitrase), mengakibatkan pendukung Ali terpecah menjadi dua kubu.

Kubu pertama menolak tahkim dan menyatakan Ali, Muawiyah, Amr bin ‘Ash, dan semua yang terlibat dalam tahkim telah kafir karena telah meninggalkan hukum Allah. Mereka memahami secara sempit QS. Al-Maidah:44: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka telah kafir”. Semboyan mereka adalah laa hukma illallah, tiada hukum selain hukum Allah. Kubu pertama ini kemudian menjadi Khawarij.

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Sedangkan kubu kedua mendukung penuh keputusan Ali, sebab Ali adalah representasi dari Rasulullah saw, Ali adalah sahabat terdekat sekaligus menantu Rasulullah saw. Keputusan Ali adalah keputusan Rasulullah saw. Kubu kedua ini kemudian menjadi Syiah. Belakangan, golongan ektstrem (rafidhah) dari kelompok ini menyatakan bahwa tiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Bahkan golongan Syiah paling ekstrem yang disebut Ghulat mengkafirkan seluruh sahabat Nabi Saw kecuali beberapa orang saja yang mendukung Ali. Di sinilah awal mula pertikaian antara Syiah dengan Khawarij yang terus berlangsung hingga kini.

Bupati Tegal

Khalifah Ali kemudian dibunuh oleh Khawarij. Pembunuhnya adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut fanatik Khawarij. Menyedihkan, Ibnu Muljam ini sosok yang dikenal sebagai penghafal Al-Quran, sering berpuasa, suka bangun malam, dan ahli ibadah. Fanatisme dan minimnya ilmu telah menyeretnya menjadi manusia picik dan sadis.

Berdasarkan musyawarah ahlul halli wal áqdi yang beranggotakan sahabat-sahabat besar yang masih tersisa waktu itu, menyepakati kedudukan Ali sebagai khalifah digantikan oleh puteranya Al-Hasan. Namun Al-Hasan hanya dua tahun menjabat sebagai khalifah. Ia mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah karena menurut ijtihadnya mengundurkan diri adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan umat. Dalam sejarah, tahun pengunduran diri Al-Hasan dinamakan“am al-jamaáh” atau tahun persatuan.

Bupati Tegal

Naiknya Muawiyah menjadi khalifah menimbulkan reaksi keras dari kelompok Syiáh dan Khawarij. Mereka menolak kepemimpinan Muawiyah dan menyatakan perang terhadap Bani Umayah. Perselisihan makin memuncakmanakala Muáwiyah mengganti sistem khilafah menjadi monarki absolut, dengan menunjuk anaknya Yazid sebagai khalifah selanjutnya.

Di sisi lain, tragedi Karbala yang menyebabkan terbunuhnya cucu Rasulullah saw Al-Husein dan sebagian besar ahlul bait Rasulullah saw pada masa Khlalifah Yazid bin Muawiyah, telah mengobarkan semangat kaum Syiah untuk memberontak terhadap Bani Umayah. Pertikaian selanjutnya melebar jadi pertikaian segitiga antara Bani Umayah, Syiah, dan Khawarij. Pertikaian terus berlanjut hingga masa Bani Abbasiah. Dua kelompok ini senantiasa merongrong pemerintahan yang sah.

Chaos politik yang melanda umat Islam awal pada akhirnya juga melahirkan kelompok lain di luar Syiah dan Khawarij. Pada awal abad ketiga Hijriah muncul kelompok Murjiáh, yang berpendapat bahwa dalam persoalan tahkim tidak ada pihak yang berdosa. Dosa dan tidaknyaserta kafir dan tidaknya seseorang bukanlah diputuskan di dunia, melainkan di akhiratoleh Allah SWT.

Dari persoalan politik kemudian merembet menjadi persoalan akidah.Perdebatan siapa yang bersalah dalam konflik antara Ali dan Muawiyah melebar jadi perdebatan tentang perbuatan manusia. Setelah Murjiáh, muncullah aliran Jabbariah (fatalisme) dan Qodariah(fre act and fre will). Jabbariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya manusia tak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh dalang. Qodariah berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya.

Setelah Qodariah dan Jabbariah, berikutnya muncul aliran Mu’tazilah yang berpendapat sama dengan Qodariah dalam hal perbuatan manusia, namun mereka menolak penetapan sifat (atribut) pada Allah. Menurut Mu’tazilah, bila Allah memiliki sifat berarti ada dua materi pada Allah, yakni Dzat dan Sifat, hal ini berarti telah syirik atau menduakan Allah.

Lahirnya aliran-aliran ekstrem setelah Syiah dan Khawarij bukan hanya disebabkanoleh persoalan politik yang melanda umat Islam awal, akan tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari luar Islam. Hal ini merupakan imbas dari semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam yang meliputi wilayah-wilayah bekas kekaisaran Persia dan Romawi yang sudah lebih dahulu memiliki peradaban yang mapan dan telah bersentuhan dengan rasionalisme Yunani dan filsafat ketimuran.

Seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, kemunculan istilah Aswaja merupakan respon atas kelompok-kelompok ekstrem pada waktu itu. Aswaja dipelopori oleh para tabiín (generasi setelah sahabat atau murid-murid sahabat) seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi’tabiín (generasi setelah tabiín atau murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah. Ditambah generasi sahabat, inilah yang disebut dengan periode salaf, sebagaimana disebut oleh Rasulullah saw sebagai tiga generasi terbaik agama ini.

Selepas tabi’ tabiínajaran Aswaja diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya.Mulai dari Imam Abul Hasan Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haromain, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya sampai Hadratussyekh Hasyim Asyári.

Dalam memahami dalil Al-Qur’an dan Sunnah Aswaja mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci dan akal. Menyikapi pendapataliran-aliran ekstrem tersebut Aswaja mengambil jalan tengah di antara pendapat-pendapat mereka. Beberapa ajaran pokok Aswaja, antara lain:

1. Pertikaian politik yang terjadi di antara para sahabat Nabi saw merupakan ijtihad para sahabat, bila benar mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala. Aswaja mengambil sikap tawaquf (diam) atas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat dan menyatakan keadilan para sahabat (hadisnya bisa diterima).

2. Dalam masalah takfir Aswaja amat berhati-hati, karena bila sembrono efeknya akan kembali kepada si penuduh. Aswaja tidak akan mudah mengkafirkan ahlul qiblah atau selama masih mengakui tidak ada ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan allah; mengakui hal-hal prinsip dan sudah pasti dalam agama(al-ma’lum mina diini biddhoruroh) seperti rukun Islam, rukun iman, dan perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, hisab, shirath, malaikat, jin, peristiwa isra’ dan mi’raj dll. yang informasi mengenai hal-hal tersebut hanya diketahui dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw yang mutawatir.

3. Aswaja juga tidak mudah memvonis sesat sebuah pemikiran atau pendapat seseorang yang berangkat dari dalil yang tidak tegas (ijtihadi) atau masih terbuka ruang perbedaan pendapat di dalamnya. Aswaja amat menghargai perbedaan pendapat karena perbedaan pendapat di kalangan umat adalah rahmat.

4. Mengenai perbuatan manusia, Aswaja berpendapat bahwa perbuatan manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan, namun manusia memiliki kuasa (kasb) atas perbuatannya yang bersamaan dengan kehendak Tuhan.

5. Dalam memahami teks Al-Quran dan sunnah, Aswaja berpendapat bahwa ada ruang bagi akal untuk memahami teks. Artinya ada teks yang mengandung makna haqiqi dan ada teks yang mengandung makna majazi(metaforis) yang membuka ruang akal (tafsir) untuk memahaminya.

6. Mengenai perbuatan dosa atau masuk surga dan neraka manusia, Aswaja berpendapat manusia divonis telah berdosa di dunia apabila telah melanggar hukum-hukum syariat sedangkan di akhirat mutlak adalah keputusan Allah.

7. Mengenai sifat Allah, Aswaja berpendapat bahwa Allah memiliki sifat. Dzat (esensi) dan Sifat (atribut) adalah dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan, seperti halnya sifat manis yang melekat pada gula. Antara atribut manis dan esensi pada gula keduanya menyatu, namun tak bisa dilepaskan satu sama lain. Sifat senantiasa menyatu dengan Dzat (esensi).

8. Terkait dengan politik dan kekuasaan, Aswaja menyatakan haram hukumnya bughot (memberontak) meskipun pemerintahan itu zhalim,karena hanya akan menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah yang tak berkesudahan di kalangan umat. Namun pemerintahan hasil kudeta adalah pemerintahan yang sah karena terkait dengan kesejahteraan umat dan legalnya beberapa hukum syariat.

9. Aswaja tidak menolak tradisi dan kebudayaan yang sudah lama berkembang dan mendarah daging di tengah masyarakat, asal tidak bertentangan dengan syariat. Namun bila bertentangan dengan syariat, Aswaja menolak perubahan dilakuan secara radikal dan revolusioner. Perubahan harusdilakukan secara bertahap.Atau tidak harus merubahnya, tetapi mewarnai tradisi dan kebudayaan tersebut sehingga cocok dengan ajaran Islam.



Fleksibilitas Ajaran Aswaja

Sepanjang sejarah perjalanannya, prinsip jalan tengah yang ditempuh Aswaja, yang mewujud dalam karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) membuat Aswaja mampu hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (dinamis).

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara,dai-dai Aswaja awal di Nusantara seperti Walisongo tak mengalami benturan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara. Pasalnya, kata Clifford Gertz, dalam menyebarkan agama Islam mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah yang menyiarkan agama Islam,akan tetapisebagai cultural broker, makelar budaya.

Oleh karena itu, saya berani katakan corak Islam di Nusantara 90 persen terbentuk dari budaya. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah ibadah, istana kesultanan, tradisi dan ritual keagamaan, kuliner, fashion, hingga sistem pengajaran dan pendidikan.Islam di Nusantara itu unik dan berbeda dengan Islam di tanah asalnya, Arab.

Orientasi Aswaja Bukan Kekuasaan

Ajaran Aswaja yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia orientasinya tidak lain adalah mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat baik bidang agama, sosial, politik, maupun ekonomi. Aswaja bukanlah golongan yang menjadikan kekuasaan politik sebagai tujuan. Artinya, bagi Aswaja kekuasaan bukanlah indikator keberhasilan dakwah islamiah, tetapi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini berbeda dengan kaum Syiah dan Khawarij yang orientasi utamanya adalah kekuasaan politik.

Dengan prinsip jalan tengahnya, dalam bidang politikAswaja menghendaki tatanan politik yang stabil. Aswaja mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan mengharamkan sebuah tindakan dan pernyataan yang dapat memicu huru-hara politik dan chaos. Mengapa? Karena instabilitas politik dapat memicu kekacauan sosial yang pada ujungnyahanya akan menyengsarakan rakyat.

Aswaja menyatakan bahwa Islam tidak meninggalkan sistem politik apapun. Mengenai pengaturan negara diserahkan kepada masyarakat yang membentuk negara itu. Islam tidak mempersoalkan sistem demokrasi atau monarki. Islam hanya memerintahkan seorang pemimpin harus adil dan berakhlakul karimah, senantiasa musyawarah, serta berkomitmen untuk menyejahterakan rakyatnya, sebagaimana kaidah fiqh “tashorruful imam ála roíyah manuthun bil mashlahah” kebijakan seorang pemimpin berdasarkan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam bidang sosial, Aswaja menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang beradab(tamaddun), dalam arti masyarakat yang membangun, saling menghormati, dan toleran, meski berbeda agama, suku bangsa, dan budaya. Inilah tatanan masyarakat ideal sebagaimana telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad yang lalu ketika membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah.

Dalam bidang ekonomi, Aswaja menekankan pemerataan ekonomi. Aswaja mengambil jalan tengah antara kapitalisme-liberalisme dan sosialisme-komunisme. Aswaja mengharamkan monopoli atas kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Aswaja juga mengharamkan sumber daya alam dan mineral sebuah negara dikuasai oleh pribadi atau segelintir orang. Aswaja menekankan keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat sehingga tercipta keadilan sosial dan ekonomi.

Aswaja dan Nasionalisme

Bagi Aswaja, agama dan nasionalisme tak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Agama dan nasionalisme saling mendukung. Nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai, sementara agama tanpa nasionalisme tak mampu menyatukan elemen-elemen bangsa. Hadratussyekh Hasyim Asyári jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan menyatakan,cinta tanah air sebagian dari iman. Siapa yang tidak mencintai tanah airnya maka belum sempurna imannya. Inilah prinsip jalan tengah Aswaja dalam menyikapi persoalan kebangsaan. Al-Quran secara jelas mengatakan: “sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal (berinteraksi)”.

***

Alhasil, Aswaja bukan hanya sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan hidup (way of life) seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang majemuk dan dinamis. Aswaja adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seorang muslim penganut Aswaja mampu hidup dan menyesuaikan diri serta dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman masyarakat di manapun mereka hidup. Wallahua’lam

Timur Jakarta, 882016





Penulis adalah Sekretaris PC GP Ansor Jakarta Timur dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Nahdlatul, Doa Bupati Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

MTs Simo Juarai Lomba Karya Daur Ulang Sampah dari 5 Kabupaten

Lamongan, Bupati Tegal - Sampah dan limbah adalah masalah yang cukup menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat saat ini. Di tengah kebingunan ini siswa-siswi MTs Putra-Putri Simo Sungelebak Karanggeneng Lamongan menyulap sampah kertas dan juga limbah cucian beras (tajin) menjadi barang yang berharga dan punya nilai manfaat yang tinggi.

Madrasah NU di bawah naungan Pesantren Matholiul Anwar Simo ini berhasil menjadi juara dalam lomba karya daur ulang sampah. Tiga siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Putra-Putri Simo Estalia Rona Ratu Roy, Novia Robiatul Adawiyah, Luluk Zumrotin Nisa memanfaatkan kertas tak terpakai. Mereka mengubah kertas bekas menjadi pot atau vas bunga dan tanaman.

MTs Simo Juarai Lomba Karya Daur Ulang Sampah dari 5 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Simo Juarai Lomba Karya Daur Ulang Sampah dari 5 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Simo Juarai Lomba Karya Daur Ulang Sampah dari 5 Kabupaten

Menurut Estalia, kertas dipilih sebagai media tanam lantaran bisa memudahkan penetrasi akar masuk ke dalam media. “Kertas juga punya daya serap dan daya pegang air yang tinggi sehingga memudahkan penetrasi air ke dalam akar,” ujarnya, Selasa (23/2).

Proses pengolahan media tanam dari kertas bekas, sambung Estalia, adalah mencampur kertas terlebih dahulu dengan kaporit untuk menghilangkan kandungan logam yang ada pada tinta, dan zat berbahaya lainnya.

Bupati Tegal

“Cemaran tinta harus dihilangkan dulu karena bisa mengganggu penyerapan nutrisi tanaman,” jelasnya.

Bupati Tegal

Selanjutnya, pot dari kertas dibentuk menjadi pot dengan menggunakan cetakan dari botol bekas, seraya menunggu kering. “Jadi tempat yang terbuat dari kertas bisa langsung bisa dipakai untuk persemaian, pembibitan, penanaman biji tumbuhan sampai muncul tunas,” katanya.

Estalia menambahkan, ide awal memanfaatkan kertas bekas menjadi pot atau vas yang diberi label First Paper Pot ini berangkat dari banyaknya kertas yang terbuang sia-sia. “Tujuannya untuk mengurangi banyaknya limbah kertas, terutama di sekolah,” tandasnya.

Sementara produk lain yang dihasilkan MTs Putra-Putri Simo adalah menciptakan produk rumah tangga yang bernilai tinggi dengan berbahan dasar air bekas cucian beras. Penemuan itu di gagas tiga siswa, Dananjaya Vikal Danis Suryana, Ahmad Bagus Muzakki, Fatih Ahmad.

Menurut Dananjaya, di dalam sisa cucian beras memiliki kandungan Nutrisi, fosfor, vitamin, mineral, dan fitonutrien, karbohidrat cukup tinggi. Ketiganya kemudian berinovasi dengan mengolah limbah cucian beras tersebut menjadi pembersih lantai.

“Setiap hari semua rumah memunyai limbah cucian beras. Kita manfaatkan air bekas cucian beras sebagai anti bakteri pembersih lantai,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, cara pembuatan antibakteri pembersih lantai dengan memanfaatkan air cucian beras yang tidak ribet. “Cara membuatnya mudah, hanya dengan mencampurkan air bekas cucian beras dengan air lemon,” terangnya.

Pascacampuran air cucian beras dan air lemon, kedua bahan itu selanjutnya dimasukkan ke dalam botol plastik. “Tinggal dikocok, sudah bisa digunakan,” pungkasnya.

Berkat dua penemuan yang bermanfaat bagi masyarakat ini, MTs Putra-Putri Simo menyabet juara pertama dan kedua dalam Lomba Karya Daur Ulang (LKDU) tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Lamongan, Gresik, Mojokerto, Bojonegoro dan Tuban, yang digelar MAN Lamongan dalam ajang “Manela Maulid Festival 2016”. (Ahmad Ubaidillah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah, Lomba Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini

Jakarta, Bupati Tegal  . Kalung Permata Barzanji, naskah karya WS Rendra yang dibawakan sekitar 50 santri dari 9 pesantren daerah Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, masih akan dipentaskan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (8/2) pukul 20.00.

Malam sebelumnya, Jumat (7/2) dipentaskan di tempat yang sama. Beberapa minggu sebelumnya, sudah dipentaskan pula di Cirebon, Brebes, dan Tegal dengan penonton ribuan.

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Permata Kalung Barzanji Masih Dipentaskan Malam Ini

“Keren banget, memukau, menggetarkan penonton sampai layar diturunkan,” komentar KH Husein Muhammad melalui akun pribadinya yang memang menonton tadi malam.

Bupati Tegal

Kiai asal Cirebon ini menilai, pementasan para santri dengan sangat fasih, mendendangkan madah-madah kenabian Muhammad, kritik-kritik sosial-politik yang menggugah.

Bupati Tegal

Seharusnya, dia menambahkan, karya kreatif seni budaya semacam ini, menjadi model dakwah ke depan, menggantikan dakwah orasi yang agitatif, kering makna dan provokatif. “Publik yang belum nonton, dianjurkan menontonnya nanti malam di tempat yang sama,” imbaunya.

Sementara sang sutradara, Ken Zuraida, mengemukakan kaget dengan capaian para santri yang tak biasa dengan pementasan seperti ini, “Bayangkan mereka hanya berlatih 10 jam dalam seminggu. Saya biasanya melatih untuk pementasan, 6 jam sehari,” ungkapanya, selepas pementasa, di TIM, Jakarta, Jumat (7/2).

HTM pementasan: Balkon 50rbu Kursi bawah 100 rbu, VIP 250rbu, CP: Alice 0852 2377 3456. Informasi pemesanan tiket juga bisa melalui: TIM (021) 3193 7325 / 3193 7357 Untung: 9735 9735, Hemma 0857 1935 1935. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, Kajian Sunnah, Hikmah Bupati Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Jakarta, Bupati Tegal,
Put Muinah, mantan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Blitar, Jawa Timur berharap, seluruh luka sejarah bisa dikubur hingga para bekas aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk sayap wanitanya, Gerwani, diterima masyarakat secara wajar. Nenek 14 cucu dan lima cicit ini tak ingin stempel buruk bekas simpatisan PKI itu dipikul turun-temurun oleh anak-cucu yang tak berdosa. Yang sudah, ya, sudah. Mari kita mulai jalan bareng, katanya.

Di Hotel Minak Jinggo, Glenmor, pada hari Jum’at 25 April 2003 digelar Workshop dan Stadium General Menguak Tragedi 1965-1966 dan Menggagas Rekonsiliasi di Akar Rumput. Tampak hadir beberapa tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI setempat, dua organisasi yang pernah baku bunuh pada 1960-an. Acara itu dimaksudkan sebagai langkah awal rekonsiliasi di antara mereka.

Dari unsur NU, ada Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Banyuwangi, KH Masykur Ali, Rais Syuriyah KH Hisjam Sjafaat, dan Ketua Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Banyuwangi, Mukhlisin. Dari kalangan PKI, selain Put Muinah, tampak bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI) Banyuwangi Mohammad Arief, 75 tahun, serta aktivis BTI Blitar, Sukiman, 65 tahun.

Acara dua hari itu difasilitasi Masyarakat Santri untuk Kajian dan Advokasi Rakyat (Syarikat) Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dikelola anak-anak muda NU, berkantor di Yogyakarta. Memasuki hari kedua, peserta workshop menghasilkan empat butir kesepahaman. Di antaranya mengajak semua elemen masyarakat mewujudkan rekonsiliasi.

Pada butir lain, mereka mendesak negara menghentikan politisasi tragedi 1965-1966 dengan membiarkan bergulirnya beragam versi atas peristiwa itu, dan merevisi kurikulum sekolah tentang tragedi ini.

Pelaksana Program Syarikat Indonesia, Saiful Huda Sodiq, berharap acara tersebut menjadi titik awal demokratisasi lewat rekonsiliasi masyarakat akar rumput. Saya melihat NU sangat representatif mewakili masyarakat luas, karena ormas ini paling banyak bersinggungan dengan PKI, katanya. Muinah mendukung. Orang PKI, katanya, cuma korban politisasi sejarah.

Pembantaian PKI adalah imbas rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu, kata. Saiful Huda Sodiq. Akibatnya, anak-cucu bekas anggota PKI sulit bersosialisasi. Saya ingin rekonsiliasi di tingkat akar rumput ini bisa mengakhiri dendam, katanya.

Mantan anggota BTI Banyuwangi, Mohammad Arief, senang dengan rintisan ishlah ini. Saya berterima kasih kepada NU yang mau menjadi pionir, katanya. Meski NU tidak bisa dianggap bersalah begitu saja dalam tragedi 1965, Mukhlisin menilai upaya ini bisa menjadi titik awal yang baik.

Acara Yang Sama di Gelar di Kota Cirebon
Tak hanya di Banyuwangi, pada hari yang sama, Syarikat Indonesia, didukung The Asia Foundation, menggelar acara serupa di Cirebon, Jawa Barat. Mereka bekerja sama dengan Fahmina, LSM dari Cirebon. Kota ini dipilih karena ketegangan NU dan PKI yang skalanya paling besar se-Jawa Barat, ya, di sini, kata Marzuki Wahid, anggota Badan Pelaksana Syarikat Indonesia.

Acara Tasyakur dan Silaturahmi untuk Kebersamaan dan Persaudaraan itu berlangsung di Kantor Cabang NU Cirebon. Tampak hadir belasan mantan tahanan politik (tapol) peristiwa G-30-S. Mereka umumnya alumni Pulau Buru. Juga hadir tokoh nonmuslim Cirebon. Ada Pendeta Supriatno, Pendeta Yohanes Muryadi, dan Pendeta Sugeng Daryadi.

Awalnya pertemuan berjalan kaku. Para eks tapol lebih suka diam menyimak uraian Direktur Fahmina, KH Husein Muhammad, dan Marzuki Wahid. Maklum, mereka umumnya sudah sepuh. Setelah Marzuki menjelaskan bahwa forum itu bermaksud mencari kebenaran tragedi 1965, mereka baru bersemangat.

Dalam pengantarnya, Husein menjelaskan, pihaknya sengaja mengundang para eks tragedi 1965 sebagai upaya silaturahmi antar-sesama manusia. Mudah-mudahan ada rekonsiliasi kultural di antara kita, katanya. Gagasan ini didasari harapan tragedi kemanusiaan itu tak terulang.

Bagi panitia, tak mudah mengumpulkan para bekas tapol itu. Dari puluhan yang diundang, bahkan didatangi, cuma belasan yang bersedia hadir. Meski ada yang antusias, banyak yang masih skeptis, kata Ipah Jahrotunasipah, aktivis Fahmina. Ini diakui Untung Raden, mantan tapol yang kini tinggal di Losari. Jangankan kepada orang baru, kepada sesama bekas tahanan pun masih banyak yang ragu, kata Untung.

Pertemuan itu pun berakhir tanpa kesimpulan. Juga tak ada sikap bersama seperti di Banyuwangi. Fahmina masih mencari formula lain untuk langkah berikutnya. Sebagai permulaan, kami anggap acara ini cukup berhasil, kata Husein. Paling tidak, para mantan tapol Cirebon sudah mau membuka diri.

Sebagian eks tapol yang hadir berharap, acara itu ditindaklanjuti dengan langkah kongkret. Pasalnya, ada yang merasa hanya korban dan sampai kini tak tahu kDari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Doa, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Sabtu, 23 Desember 2017

Hidangan yang Berlebihan untuk Acara Tahlilan

Assalamu’alaikum wr. wb. Bagaimana hukum upacara kematian (7 harian kematian) yang penyuguhannya atau upacara sangat istimewa sehingga menghabiskan dana yang tidak wajar, sehingga dengan upacara tersebut menyisihkan hutang yang bayarnya memakai harta warisan yang semestinya milik ahli waris. Bisa juga sampai ahli waris tidak dapat warisan karena tersebut. mohon penjabarannya ustad/Kyai. Wassalamualaikum wr. wb. (Syaiful Amri)

Wa’alaikum salam wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Setelah kami mencermati pertanyaan Anda maka sebenarnya ada dua hal yang berbeda. Pertama soal tahlilan itu sendiri, kedua soal berlebih-lebihan dalam memberikan penyuguhan kepada orang-orang yang mengikuti tahlilan.

Dua hal ini harus diletakkan pada porsinya masing-masing karena memang keduanya berbeda. Yang pertama, soal status hukum tahlilan jelas sangat dianjurkan. Bahkan Ibnu Taimiyyah sendri yang sering dipersepsikan menolak tahlilan berpendapat bahwa berkumpul bersama-sama untuk berdzikir kepada Allah, mendengarkan Al-Qur`an dan berdoa adalah termasuk amal saleh.

Hidangan yang Berlebihan untuk Acara Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidangan yang Berlebihan untuk Acara Tahlilan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidangan yang Berlebihan untuk Acara Tahlilan

Jawaban Ibnu Taimiyah ini merupakan respon tindakan seseorang mengingkari ahl adz-dzikr (orang-orang yang rajin dan tekun berdzikir). Menurut seseorang tadi, model dzikir mereka adalah bid`ah karena mereka memulai dan mengakhiri dzikirnya denga Al-Qur`an, kemudian mendoakan orang-orang muslim baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (la hawla wa la quwwata illa billah), dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Bagaimana tanggapan Ibnu Taimiyah?

 ?: ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...... ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bupati Tegal

“Ibn Taimiyah ditanya tentang seseorang laki-laki yang mengikari ahli dzikir (berjamaah), ia berkata berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini adalah bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan mengakhri dzikirnya dengan al-Qur’an. Kemudian mendoakan orang-orang muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan bershalawat kepada Nabi SAW.?”…… Lalu Ibn Taimiyah pun menjawab: “Berkumpul bersama-sama untuk berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan memanjatkan doa adalah amal saleh, termasuk bagian dari mendekatkan diri kepada Allah swt (qurbah) dan ibadah yang paling afdal pada setiap waktu. Dalam hadits shahih Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah swt memiliki malaikat-malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka menjumpai sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah swt, maka mereka pun memanggil, “Silahkan utarakan hajat kalian”. Imam al-Bukhari menyebutkan dalam hadist ini dan didalamnya terdapat redaksi redaksi, “Kami menemukan mereka mengumandangkan tasbih dan tahmid untuk-Mu” (Ibn Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, Mesir-Dar al-Wafa`, cet ke-3, 1426 H/2005, juz 22, hal. 520).”

Selanjutnya soal status hukum yang kedua, yaitu berlebih-lebihan dalam memberikan jamuan kepada orang yang mengikuti tahlilan. Dalam hal ini jelas tidak diperbolehkan. Kita makan saja kalau berlebih-lebihan tidak diperbolehkan.

Namun sepanjang yang kami ketahui terutama di kalangan warga NU baik di desa maupun di kota, jika ada warga yang meninggal dunia para tetangga dengan suka rela memberikan bantuan kepada keluarga yang ditinggal. Ada yang memberikan beras, uang, makanan, maupun dana.

Bupati Tegal

Bahkan bantuan itu bukan hanya datang pada hari pertama, tetapi bahkan ada yang sampai hari ketujuh. Begitu juga pada saat empat puluh hari, seratus hari, dan seribu hari. Bantuan tersebut mereka berikan secara sukarela sebagai ungkapan bela sungkawa, dan digunakan oleh pihak keluarga yang ditinggal untuk menjamu orang-orang yasinan dan tahlilan dalam rangka mendo`akan orang yang meninggal dunia. Bahkan sering kali, bantuan itu berlebih, dan diberikan kepada fakir miskin di lingkungan sekitar.

Berangkat dari penjelasan di atas maka pada dasarnya persoalan tahlilan dan pemberian jamuan kepada orang yang turut serta dalam tahlilan harus dilihat sebagi dua hal yang berbeda. Tahlilalnya diperbolehkan, namum menjamu orang yang turut serta tahlilan secara berlebihan sehingga memberatkan diri sendiri itu harus dihindari.  Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan, semoga kita bukan termasuk orang berlebih-lebihan.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum wr. wb. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Pertandingan Bupati Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Tabuh Rapai Pasai Aceh, Menag Buka Pentas PAI 2017

Banda Aceh, Bupati Tegal. Perhelatan Pekan Keterampilan dan Seni (Pentas) Pendidikan Agama Islam (PAI) secara resmi dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Senin (9/10) malam di Taman Sulthanah Shafiatuddin, Banda Aceh.

Tabuh Rapai Pasai Aceh, Menag Buka Pentas PAI 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Tabuh Rapai Pasai Aceh, Menag Buka Pentas PAI 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Tabuh Rapai Pasai Aceh, Menag Buka Pentas PAI 2017

Pembukaan Pentas PAI VIII tahun 2017 ini ditandai dengan penabuhan Rapai Pasai Aceh oleh Menag Lukman didampingi Gubernur Provinsi Irwandi Yusuf, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Direktur PAI Imam Safei, dan pihak Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh.

Dalam sambutannya, Menag Lukman menjelaskan bahwa Pentas PAI merupakan instrumen strategis dalam penguatan karakter keagamaan anak didik di sekolah. 

Menurutnya, Pentas PAI yang mempertemukan peserta dari seluruh Indonesia dengan membawa identitas kebangsaan masing-masing akan semakin meneguhkan keindonesiaan.

“Pentas menjadi instrumen semangat nasionalisme di antara anak bangsa, semangat membangun NKRI. Hal ini tidak lepas dari bangsa Indonesia sebagai masyarakat beragama,” ujar Lukman Hakim Saifuddin di hadapan sekitar 1.500 hadirin dan peserta yang memadati tempat pembukaan.

Bupati Tegal

Menurut salah seorang putra KH Saifuddin Zuhri ini, Pentas PAI yang mengusung tema Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan ini penting untuk digelorakan karena karakteristik orang-orang beragama tidak lepas dari keberagaman yang sudah menjadi fitrah bangsa Indonesia.

Bupati Tegal

Kepada peserta didik yang berkompetisi di ajang Pentas PAI tingkat nasional ini, Menag secara khusus mendorong para siswa agar terus semangat belajar, sportif dalam berkompetisi, dan menjadi manusia pemenang.

“Jadilah manusia pemenang, bukan hanya berambisi untuk menang dalam lomba, tetapi juga menang dalam menahan diri dari hal-hal yang tidak baik,” jelas Menag.

Pembukaan Pentas PAI 2017 di Aceh dimeriahkan dengan berbagai penampilan seni budaya dari para 500 siswa Aceh dengan membawakan Tari Rapai yang dipadu dengan Tari Saman. Suasana semakin meriah ketika tarian tradisional khas Aceh tersebut dibalut dengan musik modern. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Tegal, Sholawat, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Kamis, 26 Oktober 2017

Sebelum Konferancab, GP Ansor Sumber Waringin Baca Shalawat Nariyah

Bondowoso, Bupati Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Sumber Weringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur menggelar konferensi di mushola Baitul Mustafa dusun Rengganis desa Sumber Gading pada Jumat (4/9).

Pada kesempatan itu hadir Rais Syuriyah MWC NU Sumber Weringin ustd Rahmatullah. Pada pembukaan, ia meminta peserta konferensi untuk membacakan shalawat nariyah bersama-sama.

Sebelum Konferancab, GP Ansor Sumber Waringin Baca Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Konferancab, GP Ansor Sumber Waringin Baca Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Konferancab, GP Ansor Sumber Waringin Baca Shalawat Nariyah

"Agar nantinya pelaksanan kegiatan konferensi ini dari awal sampai akhir lancar dan mendapatkan ridho dari Allah SWT," jelasnya.

Bupati Tegal

Ketua PAC Ansor Sumber Weringin demisioner (masa khidmat 2011-2015) Herman menyampaikan, konferensi tersebut melibatkan Pimpinan Ranting Ansor dari 6 desa yaitu: Sukerejo, Sukosari Kidul, Tegal Jati, Sumber Weringin, dan Rejo Agung.

"Nantinya saya harap ketua terpilih untuk memegang amanah. Siapa yang nantinya terpilih, mari kita dukung dan berkerja sama pastinya," tambahanya.

Bupati Tegal

Sementara Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzzamil menjelaskan, syarat Ketua GP Ansor dari tingkat pusat, PW, PC, PAC sampai Ranting maksimal berusia 40 tahun. Juga harus pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan dasar (PKD).

Mengapa harus demikian? Tanya dia dengan menjawabnya senidiri. Karena di NU itu antrian kadernya banyak dan panjang. Dengan cara semacam itu kaderisasian biar berjalan dengan baik.

Pada pemilihan ketua, Maimullah didukung 4 suara, Syaiful Bahri 1 suara. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian, Habib, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Selasa, 10 Oktober 2017

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar

Banjar, Bupati Tegal

Alunan lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan ratusan peserta kegiatan Ke-13 Tahun Refleksi dan Evaluasi Kota Banjar di Graha Banjar Idaman Kota Banjar, Jawa Barat berjalan khidmat. Acara yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Kamis (17/3) dalam momen ulang tahun Ke-13 Kota Banjar.?

Dalam kurun waktu 13 tahun, Kota Banjar mengalami kemajuan pesat bila dilihat dari segi infrastruktur. Hal itu disampaikan salah satu Presidium pemekaran Kota Banjar, R Bahtiar Hamara. Dia salah satu tokoh yang memperjuangkan pemekaran Kota Banjar dari Kabupaten Ciamis.

"Dulu saya punya angan-angan bahwa suatu saat Banjar akan menjadi suatu kota yang Caang (terang). Selain itu, infrastruktur juga bagus, jalannya mulus. Nah, ketika Banjar pada umur yang 10 tahun, sudah tercapai," ungkapnya dihadapan peserta Refleksi.

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Kota Ke-13, PMII Kumpulkan Para Tokoh Kota Banjar

Dia membeberkan perjuangan menaikkan status dari Kota Administratif (Kotif) Banjar menjadi Kota Banjar tidak semudah membalikan tangan. "Ada proses panjang yang kita lalui, khususnya dengan para pemuda yang menjadi motor penggeraknya, yakni Forum Peningkatan Status Kota Banjar (FPSKB)," imbuhnya.

Sementara itu, hadir juga Presidium dari kalangan agamawan KH Muin Abdurrohim yang juga sekarang Rais Syuriah PCNU Kota Banjar. Dia sangat bersyukur PMII Kota Banjar telah membuat gagasan cerdas dalam menyampaikan keinginannya mengetahui sejarah dan tokoh yang ada di Kota Banjar.

Bupati Tegal

"PMII datang kepada saya, mereka berniat mengumpulkan semua tokoh yang ada di Banjar. Mulai eksekutif, legislatif serta yudikatif. Dan Alhamdulillah terlaksana. Kami selaku presidium merasa senang dengan niat baik PMII,” paparnya.

Kiai Muin menyampaikan kegelisahannya dalam memandang Kota Banjar hari ini. Dia mengatakan pelayanan publik di Kota Banjar perlu ditingkatkan. Sebab, Rasulullah SAW mengajarkan demikian kepada umatnya. "Pemerintah yang baik adalah yang bisa melayani masyarakatnya dengan baik," pungkasnya.

Ditempat yang sama, ketua penyelenggara, Wahidan, mengatakan bahwa kegiatan yang diprakarsai PMII adalah bentuk "demo" yang lebih elegan. Pasalnya, konotasi aksi jalanan menurutnya perlu diperbaiki citranya di masyarakat.

"Kalau kita duduk bareng dengan semua pejabat, terus kita juga libatkan semua ormas, OKP, LSM, dan kelompok lainnya untuk memberikan masukan kepada pemerintah melalui jalan diskusi itu kan lebih elegan toh,” ucap Wahidan. (Muhafid/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pemurnian Aqidah, Internasional, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Kamis, 21 September 2017

500 Murid Ikuti Try Out PMII Jabar

Bandung, Bupati Tegal. Lima ratus siswa-siswi mengikuti try out akbar yang diselenggarakan Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Barat. Kegiatan tersebut digelar di gedung Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kopassus Batujajar Kabupaten Bandung Barat pada Ahad (31/03).

Try out bertema “Menyiapkan Generasi Baru, Merebut Sejarah Masa Depan” ini diikuti siswa-siswi SLTA dari Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung.

500 Murid Ikuti Try Out PMII Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Murid Ikuti Try Out PMII Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Murid Ikuti Try Out PMII Jabar

Para peserta diberikan materi-materi mata pelajaran yang akan diujikan pada Ujian Nasional (UN) nanti. Panitia juga menghadirkan narasumber untuk materi motivasi sukses UN.

Bupati Tegal

Menurut Ketua PKC PMII Jawa Barat, Edi rusyandi, try out akbar ini merupakan salah satu mata rantai kegiatan menyambut Hari lahir (Harlah) ke-53 PMII sebagai wujud kepedulian terhadap pelajar.

Bupati Tegal

“Bagi PMII, pelajar merupakan pribadi-pribadi istimewa sebagai generasi penerus bangsa. Karena itu, mereka pun harus diperlakukan istimewa, termasuk dalam persiapan UN ini,” katanya melalui press realeas kepada Bupati Tegal, Selasa, (2/3).

Edi menambahkan, kegiatan tersebut untuk meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi siswa-siswi SMA sederajat dengan bekal materi yang didapatkan. Jangan sampai UN ini menjadi beban berat bagi mereka, yang tidak sedikit menimbulkan rasa kekhawatiran dan stres tinggi.

Juga menekankan kepada para peserta untuk tidak merasa puas dengan ilmu yang didapatkan. Karena ilmu sebagai bekal utama menghadapi tantangan masa depan. Dan dengan ilmu juga, kita dapat merebut sejarah masa depan yang gemilang.

“Maka ujian ini, bukan pintu akhir pencarian pengetahuan, seyogianya dilanjutkan ke jenjang selanjutnya yakni kuliah di perguruan Tinggi,” katanya.

Selain try out, spritual peserta akan diperkuat.? Untuk itu akan digelar istighotsah akbar yang rencananya akan diselenggarakan di Masjid Kota Baru Parahyangan Padalarang kabupaten Bandung Barat pada tanggal 13 April 2013.? Istighotsah ini akan diisi tausyah pendidikan dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Prof. Dr. Wahyudin Zarkasyi.

Try out ini merupakan kerjasama PKC PMII Jawa Barat, Mahasiswa Kabupaten Bandung Barat (Kembara), dan Forum Alumni PMII UI (Forluni UI).

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Halaqoh, Warta Bupati Tegal

Sabtu, 01 Juli 2017

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

Jombang, Bupati Tegal. Selama 3 hari (2-4/3), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang Jawa Timur menyelenggarakan "Sekolah Menulis". Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan sarjana dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng.

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

"Kita sadar bahwa kekurangan yang menjadi keprihatinan bersama adalah minimnya kemampuan kader yang bisa mempublikasikan kegiatan yang diselenggrakan pengurus dan kader," kata Nizar Rafi al-Muttaqin kepada Bupati Tegal, Senin (2/3). Padahal dalam pandangan alumnus Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari Jombang ini, ada banyak kegiatan yang dilakukan PMII baik internal organisasi maupun pendampingan di masyarakat, lanjutnya.

"Namun karena minimnya para penulis, khususnya mereka yang memiliki kecakapan dalam menulis berita, nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan tidak pernah terpublikasi," kata Ketua 1 PC PMII Jombang yang menangani kaderisasi ini.

Bupati Tegal

Berangkat dari keprihatinan tersebut, akhirnya menginspirasi para aktivis PMII menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Jurnalistik". Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng. "Hari pertama dilaksanakan di kantor redaksi Majalah Tebuireng, dan selanjutnya di perpustakaan pesantren ini," terangnya.

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi seputar penulisan berita dan feature, cara menulis opini hingga penulisan tokoh. "Ini masih informasi awal, selanjutnya akan dilakukan pendalaman," kata Nizar, sapaan akrabnya.

Bupati Tegal

Diharapkan usai kegiatan ini, maka akan lahir para jurnalis muda yang memiliki kepedulian dengan kegiatan yang diselenggarakan. "Baik yang dilakukan secara rutin di internal PMII maupun di Nahdlatul Ulama," terangnya.

Sejumlah narasumber dihadirkan. Di antaranya Romza M Gawat dari Radar Mojokerto yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. "Mas Romza menyampaikan materi seputar penulisan berita," tandas Nizar. Narasumber lain adalah Ahmad Faozan dari media Tebuireng Grup dengan bahasan seputar penulisan opini dan artikel.

Bagaimana format media yang akan dikelola usai kegiatan ini, Nizar menyampaikan bahwa ada salah seorang tokoh di Jombang yang berkenan untuk membiayai media yang akan dikelola. "Kita menginginkan media yang akan dikelola berbentuk buletin yang dicetak sesuai dana yang telah disanggupi investor," ungkapnya.

Karena itu, demi menjawab tantangan dan kesempatan yang diberikan, PMII akan menjawabnya dengan ketersediaan kader yang memiliki kelebihan dalam tulis menulis ini.

"Memang butuh proses," kata Nizar. Namun kedekatan antara narasumber dengan para peserta pelatihan, maka dapat dipastikan perkembangan kemampuan peserta dapat terpantau dengan baik. "Intensitas komunikasi dan konsultasi adalah juga faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan ini," pungkas Nizar. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Amalan, Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 23 Februari 2017

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila

Surabaya, Bupati Tegal. Ketua PWNU Jawa Timur KH M Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Pada saat mengusir penjajah, merebut dan memperjuangkan kemerdekaan, organisasi yang didirikan para kiai tersebut ikut andil. Juga dalam perumusan dasar Negara.

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Setuju 1 Juni Ditetapkan Hari Lahir Pancasila

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, menurut dia, harus punya tanggal lahir. "Sebagai dasar negara sampai saat ini Pancasila tidak memiliki ketetapan hari lahir, masak kalah sama yayasan yang punya hari lahir," jelas Kiai Mutawakkil saat ditemui di Mercure Grand Mirana Hotel Surabaya (1/3).

Karena itulah, kata dia, PWNU Jawa Timur mengadakan seminar nasional tentang hari lahir Pancasila. "Satu Juni dimana saat Bung Karno berpidato tentang dasar negara itulah hari kelahiran pancasila," kata Kiai Mutawakkil.

Bupati Tegal

Saat ditemui di tempat berbeda, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan setuju 1 Juni sebagai hari Pancasila. Pencetus dan pengusul hari lahir Pancasila di tanggal itu di antaranya tokoh NU, KH Masjkur. "PBNU Setuju kalau hari lahir Pancasila 1 Juni," pungkas Kiai Said sembari meninggalkan ruangan.

Bupati Tegal

Dalam seminar ini, hadir beberapa narasumber diantaranya Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristyanto, Gubenur Jatim H Soekarwo dan pengamat sosial politik Eep Saifullah Fatah.

Lebih lanjut Kiai Mutawakkil mengatakan, hubungan Pancasila dengan Islam itu sudah final bagi NU. "Saat merumuskan Pancasila kader NU berada di dalamnya. Pada tahun 1983 NU juga mengadakan bahtsul masail di Pesantren Zainul Hasan Genggong dan memutuskan menerima Pancasila sebagai dasar negara dan dideklarasikan pada saat Muktamar NU ke 27 di Situbondo," ungkap Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Ia berharap, dengan seminar ini bisa memberi pemahaman kepada masyarakat betapa pentingnya Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. (Rof maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal RMI NU, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Kamis, 27 Oktober 2016

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Jalankan 4 Semboyan Kerja

Kudus, Bupati Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) periode 2014-2016 secara resmi dilantik di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Ahad (9/11). Pengurus IPNU/IPPNU dilantik oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) IPNU A.khairul Anam HS ,sedangkan IPPNU dilantik Wakil Bendahara PP IPPNU Santi Andriyani.

KetuaPC IPNU Kudus  Joni Prabowo mengatakan semua pengurus yang dilantik merupakan kader terbaik yang dipilih secara hati-hati dan selektif sesuai dengan minat dan kompetensi sebagaimana amanat  konferensi cabang ke 19 IPNU dan ke 18 IPPNU  bulan Juni 2014 lalu. Mereka, kata dia, adalah kader-kader yang telah teruji dan berkomitmen siap mengorbankan waktu serta siap menghadapi tantangan untuk kepentingan organisasi.

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Jalankan 4 Semboyan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Jalankan 4 Semboyan Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kudus Bertekad Jalankan 4 Semboyan Kerja

 "Oleh karenanya, mohon doa restu supaya kami mampu mengembang amanah organisasi dan memajukan IPNU-IPPNU di Kudus," katanya saat sambutan yang juga mewakili PC IPPNU Kudus.

Bupati Tegal

Dalam menjalankan roda organisasi, Joni  menegaskan  IPNU-IPPNU di bawah kepemimpinannya akan menjalankan empat semboyan yakni kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. Dia mengajak  jajaran kepengurusannya selalu bekerja sama, bahu membahu dan gotong royong.

"Diawal kepengurusan kita semua telah membangun komitmen,konsisten dan konsekuen dengan dukungan komunikasi yang efektif untuk meraih kesuksesan bersama," tandas Joni.

Bupati Tegal

IPNU –IPPNU Kudus ke depan, tegasnya, akan mengoptimalisasikan pelajar dan santri dalam mewujudkan integritas dan kemandirian organisasi. "Kita akan berdayakan semua potensi IPNU-IPPNU sehingga tetap eksis dan berkembang maju," ujarnya.

Usai pelantikan, acara dirangkai dengan seminar yang menghadirkan nara sumber ketua umum PP IPNU A.Khairul Anam Hs, wakil bendahara Santi Andriyani, Majlis Alumni IPNU Saekhan Muchid dan Ketua PC RMI Kudus KH Moh. Afif.

Disamping dihadiri PP IPNU dan IPPNU, pelantikan juga disaksikan Mustasyar PCNU Kudus. H Muslim A Kadir, Rois Syuriah dan ketua Tanfidyiyah PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani dan H Abdul Hadi, PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, Kepala Kesbangpolinmas Kudus Djati Sholichah, pembina, alumni dan ratusan anggota ranting dan Komisariat IPNU- IPPNU se Kudus. Kegiatan dirangkai dengan rapat kerja cabang yang diikuti semua pengurus baru IPNU dan IPPNU. (Qomarul Adib/Mahbib)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Daerah, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock