Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat

Jakarta, Bupati Tegal. Radikalisme dan terorisme merupakan dua hal yang berbeda. Radikalisme adalah satu pemikiran yang radic, mendasar dan mengakar. Berbeda halnya dengan teror yang merupakan satu cara mencapai tujuan untuk menekan pemerintah terkait sejumlah agenda politik dengan cara kekerasan. Baik melalui bom maupun cara-cara lain yang mengandung unsur kekerasan.

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat

Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi DKI Jakarta Agus Riyanto mengatakan hal tersebut kepada Bupati Tegal di sela-sela sosialisasi hasil penelitian “Radikal-Terorisme pada Tokoh Pemuda Islam dan Remaja Masjid”. Acara tersebut dihelat di gedung serbaguna Menza Jalan Salemba Raya (Komp SMA 68) No 18, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1).

“Nah, domain kami sebagai pengurus FKPT itu terkait terorisme, yakni pemikiran yang mengajak orang untuk melakukan teror. Dan itu menjadi konsen kami di organisasi ini,” tegasnya.

Bupati Tegal

Menurut Agus, sebelumnya FKPT melakukan penelitian terhadap lima domain, yakni remaja masjid, pemuda Islam, tokoh Islam, tokoh majlis agama, dan tokoh adat informal. Kegiatan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang dilakukan selama dua bulan, November-Desember 2014.

Bupati Tegal

“Kegiatan ini disampaikan kepada masyarakat agar mendapat feed back dari mereka, sehingga hasil penelitian ini lebih baik,” paparnya.

Selain itu, lanjut Agus, kegiatan tersebut sekaligus merupakan upaya menggalang dukungan masyarakat terkait pencegahan terorisme di wilayah Provinsi DKI Jakarta. “Penelitian ini sesungguhnya hendak mengetahui sejauhmana potensi di lingkungan yang diteliti,” ungkapnya.

Acara ini merupakan kerja sama dengan Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DKI Jakarta. Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPP SDM) BKPRMI Jakarta Hamry Gusman Zakaria mengajak para pemuda, khususnya Nahdliyin, untuk aktif di masjid dan majlis ta’lim.

“Kami mengajak genenasi muda Nahdliyin untuk ambil bagian dalam kampanye melawan terorisme. Hal ini kita lakukan untuk membendung radikalisme atas nama agama,” tegasnya.

Acara tersebut diikuti puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudlatul Athal (RA), dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dari lima wilayah kotamadya se-DKI Jakarta. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Fragmen, Makam Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Madiun, Bupati Tegal. Sering “terseretnya” organisasi masyarakat dalam berbagai kepentingan, seolah membuat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berkepentingan menekankan tugas yang sebenarnya. Dijelaskan, ormas seperti NU memiliki kewajiban membangun manusia.

“Kewajibannya adalah membangun manusia, masyarakat. Tidak lagi mempersoalkan agama. Agar lebih maju, bermanfaat, membangun kekuatan budaya moral agama akhlak ekonomi politik,” paparnya saat menjadi pembicara dalam Halal Bi Halal Pengurus Cabang PCNU Kota Madiun, Jawa Timur, di Wisma Haji Kota, Sabtu (18/11) lalu.

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Menurut Kang Said--begitu panggilan akrabnya--ada beberapa hal yang harus diperkuat langkahnya oleh ormas, termasuk NU. Yakni, spirit agama. “Dengan selalu melakukan pendalaman, pemahaman ilmu agama. Saat ini, sudah banyak dilakukan NU. Pokoknya kalau ada masalah agama, nggak usah khawatir, tanya ke NU,” ujarnya.

Yang menarik, menurutnya, jika yang ditanyakan atau yang harus diperbuat, adalah hal lain seperti dunia politik. “Lha kalau masalah politik, sulit. Biasanya nggak sedep (tidak sedap), atau rasane (rasanya) hambar, sering kasinen (terlalu asin), kepedesen (terlalu pedas),” kelakarnya sambil tersenyum dan disambut ger-geran hadirin.

Kebesaran Islam, menurutnya, adalah karena akidah dan syariatnya, sejak 14 abad lalu tidak berubah alias original. “Ini tidak terjadi pada agama lain. Yang berubah, adalah manusianya. Yang harus diperbarui, ditingkatkan, dituntut perubahan, adalah cara bagaimana berakidah, bersyariat, bangun kebersamaan, saling melengkapi dan saling menghargai,” paparnya.

Bupati Tegal

Penguatan lain yang harus dilakukan, adalah ruhul wathaniyah atau spirit nasionalis. “NU harus memperkuat semangat nasional mempertahankan, mencintai, menjaga dan mengawal keutuhan ber-Indonesia,” tutur Kang Said. Menurut catatan sejarah, lanjutnya, spirit nasionalisme sudah bergelora sejak lama, bahkan sebelum sumpah pemuda. (gpa/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Nahdlatul, Makam, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Jangan Kaget, Semuanya Akan Berubah

Oleh Aswab Mahasin

Dalam hidup yang terus berkembang, perubahan akan selalu terjadi—pada semua aspek: alam, lingkungan, budaya, politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Perubahan bisa dikonotasikan pada dua makna, berkembang ke arah positif atau negatif. Akhir-akhir ini kita digegerkan oleh perubahanArab Saudi, di mana putra Raja Salman menggalangkan Islam Moderat. Sebagian orang menyambutnya dengan gembira, sebagian lagi menyambutnya nestapa. Ada pula yang mengatakan bobolnya benteng wahabi dan ada juga yang mengatakan, ‘semua akan Islam Nusantara pada waktunya’. 

Jangan Kaget, Semuanya Akan Berubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Kaget, Semuanya Akan Berubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Kaget, Semuanya Akan Berubah

Namun, dalam hal ini kita tidak akan membahas Arab Saudi. Tetapi, kita akan membahas hakikat dari perubahan itu sendiri. Kita sebagai manusia terus mengalami perubahan, dari mulai dalam kandungan, lahir ke dunia, tumbuh menjadi dewasa, menua, dan kemudian menghadapi kematian. Perubahan tersebut dibarengi juga dengan perubahan fisik, rambut memutih, kulit keriput, dan kondisi fisik yang melemah. Proses itu adalah keniscayaan yang pasti terjadi dalam kehidupan kita.

Tidak sedikit pula dari kita yang mencoba membendung perubahan, namun tetap saja perubahan tidak akan pernah membohongi waktu. Walaupun ‘satu kodi’ dokter kecantikan/kegantengan kita datangkan, perubahan tidak akan pernah bisa dielakkan (apalagi perubahan dari hidup ke mati).

Begitupun dengan peradaban sebuah bangsa, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Indonesia, di awali dengan pra-sejarah, Hindu-Budha, Kerajaan Islam, penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi, dan saat ini. Setiap fase mempunyai psikologi sosialnya masing-masing.

Bupati Tegal

Seperti fenomena historis, jatuhnya peradaban Cina Kong Hu Cu sejak perang candu dan bangkitnya peradaban Cina baru ketika ajaran Kong Hu Cu digantikan komunisme; runtuhnya peradaban Mesir Fir’aun dan peradaban Yunani-Romawi sekaligus pergantiannya oleh peradaban baru yang diilhami ajaran Kristen dan Islam. Begitu pula dengan runtuhnya komunisme di Uni Soviet.

Perubahan juga terjadi pada politik Indonesia, dari mulai politik orde baru yang mengekang kebebasan rakyat, masuk kepada politik reformasi yang memberikan ruang terbuka, dan sekarang masuk pada politik mediakrasi di mana media menjadi supirnya. 

Secara fundamental, perubahan juga terjadi pada gerakekonomi kita, banyak yang awalnya miskin jadi kaya, yang kaya jadi miskin. Hidup seperti roda berputar, begitupun dengan “dunia terbalik” sebuah fenomena yang akhir-akhir ini salah kaprah. Hal tersebut juga bagian dari perubahan, dengan kebiasaan masyarakat yang tidak lagi membuang sampah pada tempatnya, melainkan membuang tempatnya pada sampah.

Perubahan pada hakikatnya merupakan esensi dari kehidupan itu sendiri, tidak ada satupun elemen kehidupan yang tidak mengalami perubahan. Perubahan adalah hidup itu sendiri. Hidup tanpa perubahan—kemustahilan karena identik dengan mati. Seperti yang digambarkan Herakleitos, ia menggambarkan perubahan dengan dua cara, pertama, ia mengatakan seluruh kenyataan merupakan arus sungai yang mengalir, dan kedua, ia mengatakan seluruh kenyataan adalah api.

Bupati Tegal

Arus sungai sebagai lambang perubahan terdapat dalam fragmen yang terkenal, “Engkau tidak bisa turun dua kali ke dalam sungai yang sama”. Maksudnya, sungai selalu mengalir, sehingga air sungai selalu berbeda. Orang yang turun ke dalam sungai dua kali tidak turun ke dalam sungai yang sama seperti semula. Semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal menetap (panta rhei kai uden menei).(Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, [Yogyakarta: Kanisius, 1999], hlm. 55-56)

Herakleitos juga menyatakan seluruh kenyataan adalah api, baginya api sebenarnya tidak merupakan suatu anasir yang dapat menerangkan kemantapan di belakang perubahan-perubahan dalam alam, melainkan api melambangkan perubahan itu sendiri. Tidak sulit untuk mengerti mengapa Herakleitos memilih api. Nyala api senantiasa memakan bahan bakar yang baru. Dan bahan bakar itu senantiasa berubah menjadi abu dan asap. Namun, api itu tetap api yang sama. Karenanya, api cocok sekali untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan. Kata Herakleitos, “Ada suatu pertukaran: semua benda ditukar dengan api dan api ditukar dengan semua benda, seperti barang dengan emas dan emas dengan barang.” (Prof. Dr. K. Bertens: 1999)

Dalam era serba media ini, perubahan yang terjadi sangat kompleks, kita tidak bisa mengikuti begitu saja kehendak perubahan. Mau tidak mau, perubahan mempunyai dua wajah, baik dan buruk. Karena itu, kita harus bersikap selektif terhadap perubahan. Perlu diingat, kita tidak bisa menerima sepenuhnya perubahan, kenapa? Akan terjadi ke-blur-an pemahaman—maksudnya, kita tidak lagi mengetahui secara jelas nilai-nilai mana yang harus dianut. Begitupun dengan menolak seluruhnya—tidak bisa juga, efeknya—kita menjadi kagetan dan radikal setiap memandang perubahan yang terjadi.

Dengan demikian, perubahan secara mikro atau makro yang kita alami, harus kita fungsikan ke arah meningkatnya kualitas hidup; menjadi lebih manusiawi, lebih spiritual, dan lebih baik. Bukan perubahan yang menghancurkan, apalagi mencabut status kemanusiaan seseorang. Allah Berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi....” (QS. Al-A’raaf: 56), “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu....” (QS. Huud: 112).

Di sini kita membutuhkan kerendahan hati dan kearifan untuk membangun kesadaran, karena manusia tidak akan pernah mampu menyaring semuanya—al-insan mahal khata wa nisyan—manusia adalah tempatnya kesalahan dan kelupaan. Itu menandakan bahwa manusia tidak berada pada posisi yang mutlak, apalagi menggenggam kemutlakan.

Menghadapai perubahan yang fundamental ini, mau tidak mau, kita harus mengingat kembali makna kehadiran di dunia ini dan membaca penuh kesadaran mengenai kekuasaan sang waktu. Karena, al-waqtu kas saif, waktu seperti pedang, kalau kita tidak mampu menggunakannya maka akan dapat mencelakakan diri sendiri.

Dalam pada itu, waktu diciptakan supaya segala sesuatunya tidak terjadi bersamaan, ketika semuanya terjadi bersamaan, itu bukan kehidupan. Waktu tidak bisa ditunda, ia terus berputar, dari berputarnya waktu—artinya, waktu memerintahkan kita untuk berproses dan mengisi, tidak hanya berdiam diri, melainkan dari proses itu juga oleh waktu dijanjikan sebuah hasil.

Pembiaran terhadap waktu sama saja kita menikam diri sendiri, menyia-nyiakan hidup yang terus berjalan, berkembang, dan berubah. Karena itu, semua yang ada di dunia ini, entah manusia, bangsa, dan apapun bentuknya selalu berkembang bersama waktu, sekaligus mendapatkan porsi waktunya masing-masing, karena waktu memberikan isyarat adanya sebuah ‘giliran’.

Dalam kaitannya dengan masalah waktu, maka hakikatnya, setiap manusia ataupun bangsa mempunyai jadwal waktu pergiliran. Di antara esensi pergilirian, Al-Qur’an, surat al-Hasyr ayat 7 menegaskan: “...supaya kekuasaan (kekayaan) itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kamu.” Pergiliran, pergantian, dan pergeseran adalah bagian dari realitas kehidupan. Bahkan menjadi satu aturan kehidupan itu sendiri dan karenanya dapat dipandang sebagai sunnatullah-karenanya akan berlaku pasti. Persoalannya hanya terletak pada waktu. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 108-109)

Pesan al-Qur’an surat al-‘Ashr ayat 1-3, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan nasihat-menasihati supaya menetapi kebenaran dan kesabaran.”

Biarkan saja perubahan berjalan, menentukan arahnya—yang pasti komitmen kita terhadap kesadaran semesta harus dibangun, kesadaran ini meliputi segala aspek kehidupan—bahwa kita adalah subjek dan objek kehidupan, kita bukan penindas atau perusak. 

Penulis adalah Pembaca Setia Bupati Tegal.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Sholawat, Makam Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Jakarta, Bupati Tegal. Direktur Eksekutif The Wahid Foundation Yenny Wahid menerangkan, faktor kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal bukanlah faktor-faktor yang berhubungan langsung dan menyebabkan orang untuk melakukan radikalisme.

“Ternyata tidak sama sekali. Contoh paling gampang Bachrun Naim. Orang Indonesia dan sekarang di ISIS. S2 nya di UI. Pendidikannya tinggi juga berasal dari kelompok berada karena keluarganya adalah saudagar batik di Solo,” ungkap Yenny saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Setelah melakukan penelitian ia menemukan ada tiga faktor yang berhubungan langsung dan mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan radikalisme. Pertama, faktor teralienasi. Yang dimaksud dengan teralienasi adalah ketika seseorang melihat ada ketidakadilan di sekelilingnya dan harus dilawan atau ia terkucil dari lingkungannya.

 

Ini yang bisa membuat orang untuk berbuat radikal. Menurutnya, yang paling rentan terkeda virus radikalisme adalah seorang laki-laki muda karena mereka sedang mencari jatidiiri dan identitas diri. 

Bupati Tegal

“Orang lak-laki muda lebih rentan teradikalisasi,” tuturnya.

 

Kedua, banyak mengonsumsi pesan-pesan kebencian. Orang yang sering terpapar pesan-pesan kebencian, maka ia akan rentan untuk melakukan gerakan-geralam radikalisme.

“Semakin sering ia terpapar dengan khutbah, dengan tulisan yang isinya kebencian aja, kafirin-kafirin orang aja, jauh lebih mudah teradikalisasi,” jelasnya.

Bupati Tegal

Ketiga, imbuh Yenny, pemahaman tentang jihad yang keliru. Baginya, orang yang memahami tentang konsep jinayah secara literal, maka mereka juga rentan teradikalisasi.

Seperti orang yang memiliki pemahaman tentang hukum kriminal yang harus disamakan dengan hukuman yang ada pada zaman dahulu seperti kalau mencuri, maka harus dipotong tangan dan kalau berzina, maka harus dirajam.

“Pun juga kalau dia berpikir jihad itu harus dimaknai berperang, bukan menahan nafsu dan diri sendiri. Itu jauh lebih mudah teradikalisasi,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Makam Bupati Tegal

Senin, 15 Januari 2018

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Jakarta, Bupati Tegal - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) dengan dukungan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia menyelenggarakan Pelatihan Penyusunan Kajian Risiko Bencana. Pelatihan yang berlangsung di di BBPBAP Jepara, Senin-Jumat (20-24/2) ini merupakan rangkaian program penguatan kapasitas pemerintah dan masyarakat lokal dalam kesiapsiagaan untuk respon bencana yang cepat dan efektif.

Pelatihan ini diselenggarakan untuk memperkenalkan dan mengaplikasikan aplikasi Java Open Street Map (JOSM) yang merupakan sumber terbuka (open sources) sebagai salah satu tools dalam penanggulangan bencana alam.

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Gelar Pelatihan Pemetaan Kajian Risiko Bencana

Pelatihan ini diikuti oleh 22 orang peserta yang merupakan perwakilan dari BPBD, OPD Terkait, LPBI NU, Pramuka, PMI, Perguruan Tinggi yang berasal dari Kabupaten Jepara dan Kudus, Jawa Tengah.

Bupati Tegal

Pelatihan dibuka oleh Kepala BPBD Kabupaten Jepara Lulus. Dalam sambutannya Lulus menyampaikan apresiasi program yang dilakukan oleh LPBI NU, karena Jepara terpilih menjadi pilot dari program LPBI NU. Kedua, Jepara juga sangat rawan bencana sehingga pelatihan kajian risiko bencana dapat menjawab kebutuhan yang? selama ini kami harapkan di Jepara.

Ketua LPBI NU PBNU M Ali Yusuf menyatakan, untuk menyusun rencana dan aksi penanggulangan bencana yang sistematis, terarah dan terpadu, diperlukan dasar yang kuat untuk pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana pada suatu daerah atau kawasan.

Bupati Tegal

Menurutnya, di sini letak penting adanya kajian risiko bencana sebagai perangkat untuk menilai kemungkinan dan besaran dampak (korban dan kerugian) dari ancaman bencana yang ada. Dengan mengetahui kemungkinan dan besaran korban dan kerugian, fokus perencanaan dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif.

“Dapat dikatakan, kajian risiko bencana merupakan dasar untuk menjamin keselarasan arah dan efektivitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di suatu daerah atau kawasan,” kata Ali. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian, Amalan, Makam Bupati Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Menengok Kemeriahan Lebaran WNI di Pakistan

Islamabad, Bupati Tegal

Sekalipun tidak berlebaran di Indonesia dan berada jauh dari tanah air, masyarakat Indonesia yang berada di Pakistan tetap merayakan Idul Fitri dengan suka cita. Hal ini karena KBRI Islamabad melaksanakan berbagai kegiatan selama bulan Ramadhan sampai dengan perayaan Idul Fitri tahun 1437 H.

Menengok Kemeriahan Lebaran WNI di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Kemeriahan Lebaran WNI di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Kemeriahan Lebaran WNI di Pakistan

"Tahun ini sangat istimewa, pasalnya Lebaran di Pakistan jatuh pada hari yang sama dengan di Indonesia yaitu tanggal 6 Juli 2016," tutur Budiarto Kurniawan selaku Ketua Panitia. Idul Fitri di Pakistan biasanya lebih lambat satu bahkan dua hari setelah Indonesia.

Untuk memfasilitasi warga Negara Indonesia (WNI) yang merayakan Lebaran, KBRI menggelar shalat Idul Fitri di Aula Budaya Nusantara KBRI setempat. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Hendro Risbiantoro, mahasiswa Pasca Sarjana di IIU Islamabad. Dan sebagai Imam, Dhia Ul-Haque, cucu almarhum KH Nur Ali, pahlawan nasional dari Bekasi.

Bupati Tegal

Dalam khutbahnya Hendro mengingatkan hadirin untuk tetap bersatu dan saling menguatkan serta berpegang teguh pada tali agama Allah, khususnya dalam menghadapi berbagai isu global akhir-akhir ini. "Kita harus optimis bahwa umat Islam akan mencapai kejayaannya, selama tetap pada jalan Allah SWT dan berorientasi memberikan manfaat bagi kemaslahatan manusia," tuturnya.

Bupati Tegal

Duta Besar RI, Iwan Suyudhie Amri dalam sambutannya menilai penting apa yang disampaikan oleh khatib seraya mengajak seluruh WNI di Pakistan untuk meningkatkan kewaspadaan, kehati-hatian, dan tidak mudah terpancing dengan berbagai stimulasi yang ditunggangi kepentingan tertentu.

"Hendaknya nilai-nilai Ramadhan yang baru berlalu tetap dapat dipertahankan dan dipelihara dalam meniti kehidupan warga Indonesia di Pakistan," tutur Dubes kepada para hadirin. "Jauh dari tanah air bukan berarti tradisi-tradisi Lebaran di tanah air tidak bisa dihadirkan di Pakistan," sambung Dubes. Untuk meyakinkan para warga Indonesia, Dubes menggelar open house di Wisma Duta pukul 12.00 pada hari yang sama.

 

Obat Kangen

Para tamu yang mayoritasnya adalah mahasiswa, santri Jamaah Tabligh, dan mereka yang menikah dengan warga Pakistan tampak senang ketika mendapatkan menu open house adalah makanan yang biasa dihidangkan di Indonesia saat Lebaran. Sebut saja rendang, semur ayam, daging tunjang, sambal ijo, sambal kentang ati, soto padang, asinan bogor, sup buah, kue nastar, stick bawang, kroket, sampai dengan tape uli Betawi, dan lain-lain.

"Kangen saya terobati karena sudah lama tidak menemukan menu seperti ini di Pakistan," tutur salah seorang WNI yang menikah dengan warga Pakistan.

Tidak itu saja, nuansa Lebaran kali ini juga dimeriahkan dengan bagi-bagi angpau oleh Dubes Iwan kepada para anak kecil yang ikut open house. Suasana riuh dan penuh sorak anak-anak pun tidak dapat dihindari saat menerima angpau berisi uang dari Dubes. Para orang tua yang melihat pun turut senang dan sesekali turut mengantre untuk mewakili anaknya. "Wah, jadi ingat masa kecil dulu semangat Lebaran karena bakal dapat angpau dari sanak saudara," ungkap salah satu warga.

Tahun 2016 ini KBRI Islamabad telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yakni, shalat dzuhur dan tadarus berjamaah, buka puasa bersama, shalat maghrib berjamaah, kultum/ siraman rohani menjelang berbuka, shalat Isya dan shalat tarawih berjamaah, peringatan nuzulul qur’an, takbiran berjamaah, serta ditutup dengan open house Dubes. Kegiatan tersebut telah mendekatkan komunikasi dan interaksi antara KBRI dan masyarakat Indonesia, serta memupuk hubungan baik antara elemen masyarakat Indonesia di Pakistan. (Muladi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Makam Bupati Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Brebes, Bupati Tegal 



Permainan sepak bola api, menjadi tontonan menarik bagi warga masyarakat Brebes. Terbukti, ratusan penonton berjubel untuk menyaksikan pertunjukan permainan itu meskipun terkadang ketakutan karena bola apinya meluncur hingga ke arah penonton. Suara sorak sorai pun membahana ketika bola api tak bisa ditangkap penjaga gawang dan akhirnya gol.

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Fathurohmah Juara Sepak Bola Api

Suasana permainan bola api terlihat sangat meriah ketika berlangsung pertandingan sepak bola api dalam rangka tahun baru Hijriyah dan Hari Santri Nasional 2017 tingkat Kabupaten Brebes beberapa waktu yang lalu. 

Ketua Panitia Tahun Baru Islam dan Hari Santri Nasional 2017 H Athoilah Syatori menerangkan, bola api yang dimainkan tiap-tiap grup berjumlah 5 pemain tersebut berlangsung meriah. 

Dalam pertandingan tersebut, akhirnya grup sepak bola api dari Pondok Pesantren Fathurohmah Kubangpari Kersana akhirnya berhasil menjadi juara satu setelah mengalahkan Pondok Pesantren Manarul Huda Bandungsari Banjarharjo dengan skor 3-2. Sementara juara 3 diraih Pondok Pesantren Ta’allamul Huda Ganggawang Salem.

Bupati Tegal

Selain lomba bola api, lanjut Athoillah, juga digelar perlombaan lain yang berjumlah 11 perlombaan. Perlombaan yang berlangsung selama 4 hari tersebut, di dapatkan para pemenang sebagai berikut. Lomba Pawai Taa’ruf juara 1 Pondok Pesantren Mubarokatul Ulum Penanggapan Banjarharjo, juara 2 MTs N Model Brebes dan juara 3 Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Brebes.

Untuk Lomba Kasidah, juara 1 grup Al Huda Sigempol Randusanga Kulon Brebes, juara 2 Fatayat NU Ranting Sindangjaya Ketanggungan dan juara 3 Al Badru Pakijangan Bulakamba. 

Lomba Srakalan, juara 1 Al Jadid Glonggong Wanasari, juara 2 Sunan Kalijaga Karengsembung Songgom dan juara 3 Al Abasiyah Sawojajar Losari. 

Bupati Tegal

Lomba Hafalan Juz 30, juara 1 M Irsyad Kaligangsa Brebes, juara 2 Elwiyah El Yumna Sengon Tanjung dan juara 3 A’lajjun Nabawati Limbangan Losari.

Lomba Pildacil juara 1 Munadiyatul Khiyari Wahid dari Salem, juara 2 Balqis Nutvi Mikyal Fiyaz Azzihara Rengabandung Jatibarang dan juara 3 Afhimni Mu’tasima Bangbayang Bantarkawung.

Lomba Baca Puisi Islami juara 1 Putri Nur’ani dari SMA 1 Brebes, juara 2 Vina Lutfiah SMA 2 Brebes dan juara 3 Chaerullah Aldan dari Limbangan Brebes.

Lomba Hadroh, juara 1 grup As Shofa Klampis Jatibarang, juara 2 Asy Syakiroh Sitanggal Larangan dan juara 3 Assalafiyah 2 Brebes.

Lomba Hafalan Nadhom Imriti, juara 1 M Izzudin Banjir Hidayah dari Salem, juara 2 Jenjen Salem dan juara 3 Aghni M Ramdani juga dari Salem.

Lomba Nadhom Alfiyah, juara 1 dimenangkan Imam Ubaidillah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi Bulakamba, Fitriatun Hasanah Pondok Pesantren Assalafiyah Luwungragi dan juara 3 Hijan Rizki Mahendra Pondok Pesantren Ta’alamul Huda Salem.

Sedangkan Lomba Qiroatul Kutub juara 1 Zulhaili Zulfa dari Pondok Pesantren Al Falah Salafi Jatirokeh Songgom,  juara 2 Lili Mutammimatun dari Pondok Pesantren Assalafiyah dan juara 3 Amin Mubarok dari Pondok Pesantren Assalaifyah Luwungragi Bulakamba. 

Menurut Athoillah, penyerahan hadiah berupa piala, piagam dan sejumlah uang pembinaan akan diberikan pada saat puncak peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2017 mendatang. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal IMNU, Cerita, Makam Bupati Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Muslimat NU Probolinggo Peringati Harlah

Probolinggo, Bupati Tegal. Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Probolinggo menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke- 66 di desa Randuputih kecamatan Dringu kabupaten Probolinggo.

Muslimat NU Probolinggo Peringati Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Peringati Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Peringati Harlah

Harlah ke-66 Muslimat NU ini mengambil tema ”Dengan Harlah Muslimat NU ke-66 Kita Tingkatkan Konsolidasi Organisasi Muslimat NU Menuju Revitalisasi Pelayanan Terhadap Masyarakat”.

Peringatan kali ini dihadiri oleh  Bupati Probolinggo H Hasan Aminuddin dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo yang juga Ketua Dewan Penasehat PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Tantri Hasan Aminuddin. 

Bupati Tegal

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Saiful Hadi, Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Ny Arifah Hasan. Tampak pula Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Habibullah Maksum.

Bupati Tegal

Bupati Hasan pada sambutannya mengingatkan pentingnya mempererat ukhuwah nahdilyah antara sesama warga NU. ”Peringatan harlah ini mari kita jadikan momentum untuk makin mempererat ukhuwah antara sesama anggota Nahdhatul Ulama dalam rangka meningkatkan kapasitas anggota dan pengurus untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.

Bupati Hasan meminta agar pengurus dan anggota Muslimat NU tak hanya pandai berwacana dalam kehidupan bermasyarakat. “Saat ini rakyat tak butuh wacana tapi butuh pencerahan. Berikan uswah hasanah sebab rakyat butuh bukti dan contoh nyata,” tegas Bupati Hasan.

Ditambahkannya, pengurus Muslimat NU berkewajiban untuk selalu menjaga lingkungan masyarakat sehingga tercipta kehidupan yang sehat dan mampu memberikan contoh yang baik bagi generasi muda. 

“Muslimat NU wajib hukumnya memberikan uswatun hasanah kepada seluruh masyarakat terutama generasi penerus bangsa yang akan mengambil alih posisi kita dimasa depan,” jelas Bupati Hasan.

Senada dengan Bupati Hasan, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Saiful Hadi dalam sambutannya mengatakan peringatan harlah Muslimat NU kali ini memiliki sebuah keistimewaan yang intinya selalu menciptakan ikatan silaturahim sehingga hubungan keharmonisan sesama warga nahdliyin Muslimat NU tetap berjalan.

“Tugas Muslimat NU bukan hanya berkumpul di kantor, tetapi bagaimana kaum hawa ini bisa meningkatkan kuantitas dan kualitasnya dalam menghadapi kemajuan zaman. Ingat, NU didirikan oleh para pengasuh-pengasuh pondok pesantren yang ada di Indonesia,” ujar KH Saiful Hadi.

Sementara Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Ny. Arifah Hasan dalam sambutannya mengatakan masyarakat sangat menentukan dalam menciptakan lingkungan pendidikan untuk mencetak generasi yang berkualitas dan berhasil.

“Oleh karena itu marilah bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang baik agar anak kita menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berakhlakul karimah,” ujar Ny Arifah Hasan.

Kegiatan ini diakhiri dengan tausyiyah oleh Nyai Ucik Nurul Hidayati yang menyampaikan ceramah tentang peran Muslimat NU dalam memberikan contoh yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, Quote, Makam Bupati Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela

Maluku Tenggara, Bupati Tegal. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa-PDTT) akan menjadikan Desa Lermatang di Kabupaten Maluku Tenggara Barat sebagai model untuk pengembangan aquaculture estate di tujuh desa lainnya di pulau Sera dan pulau Yamdena dengan produk unggulan rumput laut.

Hal itu dikemukakan Dirjen Pengembangan Daerah ? Tertentu (PDTU) Suprayoga Hadi usai menghadiri Destructive Fishing Watch (DFW) panen perdana rumput laut di Desa Lermatang, yang merupakan social investment program dari INPEX Blok Masela yang menggandeng DFW sebagai mitra pelaksana, melalui fasilitasi Kemendesa PDTT dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta SKK Migas.

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan  di Kawasan Blok Masela (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendesa Kembangkan Produk Unggulan di Kawasan Blok Masela

"Lokasi social investment program di Desa Lermatang akan dijadikan pilot model pengembangan aquaculture estate ? dengan produk unggulan rumput laut yang difasilitasi Kemendesa PDTT di Tahun Anggaran 2017, sejalan dengan pelaksanaan program unggulan pengembangan produk unggulan desa (one village one product) di wilayah pulau kecil dan terluar (Prudes PKT) yang berbasis komoditas unggulan rumput laut," ujar Suprayoga Hadi, Ahad (12/3), melalui siaran pers.

Dikatakan Dirjan PDTU lagi, selain melalui pengembangan produk unggulan pada desa-desa lainnya di daerah pulau kecil terluar lainnya, juga di Kabupaten Pulau Morotai dan Kabupaten Kepulauan Aru, serta di Kabupaten Sabu Raijua. "Karena telah ditetapkan sebagai kabupaten prioritas penanganan terintegrasi dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2017," ujarnya.

Untuk mengembangkan produk unggulan rumput laut, Dirjen Suprayoga Hadi mengatakan, selain pengembangan Badan Usaha Milik Desa (Bumdesa), juga akan dilakukan revitalisasi dari Pabrik Pengolahan Rumput laut di Desa Lermatang yang dibangun pemerintah tahun 2011.

Bupati Tegal

"Kemudian leh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) tahun 2014. Namun tidak dapat dimanfaatkan sama sekali karena tidak tersedianya sumber air bersih yang merupakan kebutuhan utama dalam pengolahan pasca panen rumput laut," ujar Dirjen PDTU.

Bupati Tegal

"Melalui pengembangan produk unggulan rumput laut, diharapkan dapat dikembangkan alternatif ekonomi desa dan kawasan perdesaan yang dapat lebih berdaya saing dan berbasis pada produk unggulan desa/kawasan perdesaan, sebagai komplemen dari rencana pengembangan sektor migas di Kabupaten MTB khususnya pada Blok Masela," ujar Suprayoga Hadi.

Untuk itu, Suprayoga Hadi meminta kepada INPEX yang menjadi mitra SKK Migas dalam melakukan eksplorasi di Blok Migas Masela agar memperhatikan pengembangan sumber daya manusia setempat. Terutama melalui inisiasi pendidikan ketrampilan dan kejuruan yang dibutuhkan oleh industri migas yang akan dikembangkan di Blok Masela.

"Selain juga tetap melanjutkan social investment program yang telah dimulai di Desa Lermatang dalam pengembangan produk unggulan rumput laut dan penguatan kelembagaan ekonomi desa melalui pembentukan BUMDesa," ujarnya.

Selanjutnya, Kemendesa PDTT mengawal proses pengembangan Program Unggulan Desa (Prudes) dan Program Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades) yang tidak hanya secara koordinatif dengan Pemda, juga dengan kementerian/lembaga terkait, terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian ESDM melalui SKK Migas.

"Serta akan dikerjasamakan melalui pola kemitraan dengan BUMN dan swasta yang akan dikembangkan di wilayah perbatasan dan pulau kecil terluar," ujar Suprayoga Hadi. (Red: Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Sunnah, Makam, Halaqoh Bupati Tegal

Rabu, 06 Desember 2017

Lesbumi Kampanyekan Perdamaian lewat Musik

Jakarta, Bupati Tegal. Musik adalah perdamaian, inilah yang menginspirasi tiga lembaga yang berbeda, Lesbumi NU, Sokka Gakai Indonesia (SGI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) untuk menggelar pertunjukan musik yang diharapkan bisa menjadi spirit perdamaian sekaligus jembatan kebudayaan antara Indonesia dan Jepang.



Lesbumi Kampanyekan Perdamaian lewat Musik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Kampanyekan Perdamaian lewat Musik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Kampanyekan Perdamaian lewat Musik

Pertunjukan yang digelar dalam konsep Religious Art Festival for Peace ini dilaksanakan di Jitec Mangga Dua, Minggu (13/7) malam. Ruangan yang biasa untuk pertunjukan seni ini dipenuhi oleh para pengunjung, yang sebagian besar didominasi oleh etnis China dan Jepang.

Sejumlah pertunjukan silih berganti ditampilkan mulai pukul 19.00 WIB, yang menggambarkan keragaman budaya Indonesia dan pentingnya persatuan untuk mencapai tujuan. Tarian Mambri dari Papua dengan gerak yang dinamis melambangkan keperkasaan para prajurit di medan laga. Sebagai tanda perdamaian, mereka menyerahkan panah dan menobatkan kepala suku, serta menari  dan menyanyi bersama sebagai tanda kebersamaan.

Bupati Tegal

Anak-anak dari Sokka Gakai Indonesia tampil dalam drama musikal Annie yang bercerita tentang perjuangan anak-anak yatim piatu untuk meraih masa depan. Dipentaskan pertama kali tahun 1977,  drama musical ini telah mengklasik dan menyentuh hati banyak orang di dunia.

Bupati Tegal

Sementara itu, Jakarta Taiko Club menampilkan komposisi yang menjadi lambing Edo Sukeroku Daiko. Kekuatan fisik sangat diperlukan untuk menabuh alat musik sejenis gendang, tetapi kelembutan dan kehalusan tak boleh ditinggalkan.

Barisan ibu-ibu dari SGI tampil membawakan angkung, alat musik dari bambu, yang sempat diklaim sebagai seni negeri tetangga. Mereka dengan apik memainkan komposisi lagu Bengawan Solo yang sudah melegenda dan sangat disukai masyarakat Jepang.

Seni tradisional lain yang ditampilkan adalah tari Betawi yang melukiskan kebersamaan, keceriaan, serta kecantikan untuk menyambut tamu. Para wanita itu menarikan kolaborasi gitek balen dan nyai kembang.

Dari lereng Gunung Merbabu, kelompok tari soreng Wargo Satuju menggambarkan kepiawaian dan kekompakan pasukan Ario Penangsang yang dikenal berwatak keras, tetapi bertanggung jawab. Dalam tarian tersebut, tersirat solidaritas sesama pasukan untuk mewujudkan perdamaian dalam bentuk sebuah gerakan yang kompak. Pada akhir cerita, Aryo Penangsang memberi aba-aba agar prajuritnya bis meneruskan jejak sebagai orang yang berani membela negara.

Seni pertunjukan yang kolosal yang memadukan semangat, kekuatan dan persatuan hati disajikan dalam koreografi yang dinamis dan unik dengan latar musik yang menggugah dalam spirit of youth. Pertunjukan ini mendapat aplaus panjang dari para hadirin.

Jajaran penyanyi yang tampil pada malam itu adalah Iwal Fals, Cici Paramida Senno Haryo, Dharma Oratmangun serta para pemenang Indonesian Idol dengan iringan kelompok musik Ki Ageng Ganjur.

Sokka Gakai merupakan sebuah gerakan yang berakar dari filsafat Buddisme Nichiren Daishonin yang menekankan pada hubungan yang dalam antara kebahagiaan diri sendiri dan kebahagiaan orang lain. Saat ini Sokka Gakkai sudah berdiri di 190 negera. SGI aktif dalam mengupayakan perdamaian, kebudayaan, dan pendidikan di Indonesia berlandaskan semangat ‘revolusi manusia’, yaitu mengubah nasib lingkungan masyarakat, Negara, dan akhirnya dunia melalui perubahan akar kecenderungan negative dalam diri sendiri demi tercipta dunia yang damai.  (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Hikmah, Makam Bupati Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Menyelami Mukjizat Tradisi-Tradisi yang Dianggap Bid’ah

Semua orang sudah tahu, bahwa Islam di Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan Islam di negara lain. Pasalnya, Islam Indonesia telah berhasil berakulturasi dengan kebudayaan Hindu-Budha atau pun kearifan-kearifan lokal lainnya yang sudah ada sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya hasil kebudayaan Islam Indonesia yang tidak ditemukan di negara mana pun, bahkan di negara di mana Islam berasal, yakni bumi Arab. Misalnya saja, tradisi mengunjungi sanak keluarga atau pun tetangga setelah melaksanakan shalat Idul fitri untuk saling memaafkan. Kebudayaan tersebut hanya ditemukan di Indonesia dan ini yang membuat Islam di Indonesia unik.

Selain tradisi yang telah disebutkan di atas, umat Islam di Indonesia masih memiliki segudang tradisi hasil asimilasi dan akulturasi antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Hindu-Budha atau pun kearifan-kearifan lokal yang ada di Indonesia. Sebagai Muslim di Indonesia, tentu kita sudah terbiasa melakukan amalan-amalan seperti yasinan, tahlilan atau pun ziarah kubur. Ketiga amalan tersebut merupakan hasil pergumulan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Hindu-Budha yang berlangsung ratusan tahun lamanya. Tradisi-tradisi baru hasil perkawinan tersebut inilah yang sering dianggap sebagai bid’ah oleh kelompok-kelompok Islam tertentu. Sebab, tradisi-tradisi tersebut memang tidak ditemukan di zaman Rasulullah Saw.

Menyelami Mukjizat Tradisi-Tradisi yang Dianggap Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyelami Mukjizat Tradisi-Tradisi yang Dianggap Bid’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyelami Mukjizat Tradisi-Tradisi yang Dianggap Bid’ah

Terlepas bid’ah atau tidaknya tradisi atau pun amalan-amalan seperti yasinan, tahlilan dan ziarah kubur, sesungguhnya ketiga tradisi tersebut menyimpan mukjizat yang luar biasa besarnya. Inilah yang kemudian diungkap oleh Rizem Aizid dalam bukunya yang berjudul Mukjizat Yaasiin, Tahlil dan Ziarah Kubur. Dalam buku tersebut, di ungkap dengan gamblang tentang ketiga mukjizat tradisi yang sudah mengakar kuat di kalangan Muslim di Indonesia.

Bupati Tegal

Tentang tradisi yasinan, penulis kelahiran Jember ini mengungkap mukjizat surat Yaasiin yang menjadi bacaan wajib ketika melakukan ritual  yasinan. Perlu diketahui bahwa surat Yaasiin merupakan surat paling fenomenal. Sebab, surat Yaasiin menjadi salah satu-atau mungkin satu-satunya-surat yang dibaca oleh banyak orang dalam berbagai acara keagamaan seperti tahlilan, syukuran dan lain-lain. (hal 12)

Bupati Tegal

Dalam buku tersebut, penulis menyajikan sepuluh mukjizat dari surat Yaasiin. Salah satu di antaranya adalah surat Yaasiin merupakan bacaan para ahli surga di akhirat. Mengenai hal tersebut, Ibnu Abbas Ra menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “Kelak, Al-Qur’an diangkat oleh Allah Swt. dari ahli surga seluruhnya, kecuali surat Thaahaa dan Yaasiin” (HR. Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam kitab Sifatul Jannah [1/3407]). (hal 24)

Tentang amalan tradisi tahlilan, dalam buku tersebut, diungkapkan delapan ragam khasiat tradisi tahlilan. Khasiat tersebut di antaranya adalah tahlilan merupakan doa orang yang meninggal dunia. Tahlilan yang berfungsi sebagai doa ini akan sampai kepada si mayat. (hal.177). Selain itu, tahlilan juga berkhasiat atau memiliki manfaat untuk mengingatkan kepada kematian. Dengan bertahlil, mengirimkan doa kepada orang-orang yang sudah meninggal, diharapkan orang yang melakukan tahlilan akan ingat bahwa suatu saat nanti, ia juga akan mati seperti orang yang ditahlilkan (mayat).

Terakhir, tentang amalan tradisi ziarah kubur, Rizem mengungkapkan beberapa mukjizat dari amalan tersebut.  Mukjizat tersebut di antaranya ialah dengan melakukan ziarah kubur, bisa melaksanakan dua perintah Rasulullah Saw. Sekaligus. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. “Berdoa adalah satu perintah tersendiri. Sedangkan ziarah kubur ialah satu perintah yang lain.” (HR. Ahmad, muslim dan Ibnu Majah). (hal. 200)

Saya rasa, Nahdiyin yang selama ini melaksanakan tradisi-tradisi seperti yaasinan, tahlilan dan ziarah kubur perlu untuk membaca buku ini. Sebab, dengan mengetahui mukjizat-mukjizat dari amalan tradisi tersebut, diharapkan akan mampu menambah spirit untuk melaksanakan dan melestarikan tradisi warisan para ulama Indonesia hingga akhir zaman nanti. Selamat membaca dan menyelami mukjizat-mukjizat dari tradisi seperti yaasinan, tahlilan, dan ziarah kubur. 

Judul : Mukjizat Mukjizat Yaasin, Tahlil dan Ziarah Kubur

Penulis : Rizem Aizid

Penerbit : Diva Press

Cetakan : 1 September 2013

Tebal : 222 Halaman

Oleh: Nur Rokhim, Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga dan Kontributor Bupati Tegal wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Makam Bupati Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Darul Mubtadi’ien Tantang Walisongo di Final LSN Jateng II

Solo, Bupati Tegal



Predikat tim kuda hitam pantas disematkan kepada Darul Mubtadiien FC. Pasalnya dengan persiapan yang minim, tim asal Kaliwuluh Jomblang Kebakkramat, Karanganyar tersebut mampu melaju ke babak final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 sub-region jawa tengah II (Soloraya)

Darul Mubtadi’ien Tantang Walisongo di Final LSN Jateng II (Sumber Gambar : Nu Online)
Darul Mubtadi’ien Tantang Walisongo di Final LSN Jateng II (Sumber Gambar : Nu Online)

Darul Mubtadi’ien Tantang Walisongo di Final LSN Jateng II

Darul Mubtadiien berhasil melaju ke babak final setelah berhasil menundukkan tim asal Boyolali, Darul Fikr FC dalam laga yang berkesudahan 2-0 di lapangan Kota Barat Surakarta, Ahad (10/9) sore.

Pemain Darul Mubtadiien Anshar menjadi bintang dalam pertandingan tersebut, melalui gol yang dicetaknya di menit 47. Gol tersebut memantapkan keunggulan timnya menjadi 2-0. Sebelumnya mereka telah unggul melalui gol bunuh diri yang dibuat pemain lawan, Rama, di menit 30.

Di final mereka akan menghadapi runner-up LSN tahun lalu, Walisongo FC yang berhasil melumat tim asal Solo, Al-Muayyad FC dengan skor telak 5-0. Masing-masing gol dicetak

Bupati Tegal

Reno Aldy pada menit 16 dan 40. Kemudian Eko Tri Prakoso 20, Muarif Azis 23, dan Deogo Andrian 50.

Pelatih Darul Mubtadiien mengakui materi pemain dan kemampuan lawan di atas mereka. "Akan kita berikan perlawanan semaksimal mungkin, para pemain juga kita pompa rasa percaya diri mereka," terang Mustakim saat ditemui usai pertandingan.

Sementara itu, manajer Walisongo FC, Mustawa mengatakan untuk final nanti tim yang ia besut dalam keadaan fit. "Laga semifinal justru kita manfaatkan untuk rotasi pemain. Kita harapkan para pemain inti sudah lebih fit dalam pertandingan final," ungkap dia.

Bupati Tegal

Pertandingan final sendirin dihelat, Senin (11/9) pukul 15.00 WIB di Lapangan Kora Barat. Pemenang laga ini selanjutnya akan bertanding melawan juara sub-Regional Jawa Tengah II (Kedu). (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Makam Bupati Tegal

Kamis, 30 November 2017

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi

Magelang, Bupati Tegal?

Para peserta Perwimanas II melakukan giat bakti perawatan pohon di Taman Nasional Gunung Merapi yang bertempat di Jurang Jero Magelang, Jawa Tengah.

Kegiatan penghijauan tersebut diawali dengan perawatan sejumlah pohon kecil seperti membersihkan gulma di sekitar pohon, menggemburkan tanah dan penyiraman air. Kemudian dilanjutkan dengan perbaikan aliran Sungai Tangsi.

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi

Dedeh Suryati, salah satu panitia penanggung jawab giat bakti Perwimanas II menyampaikan bahwa pada awalnya akan dilakukan penanaman pohon, namun karena cuaca yang tidak mendukung, maka giat bakti terfokus pada pemeliharaan pohon-pohon di sekitar taman nasional.?

“Kegiatannya di sini perawatan pohon dan perbaikan aliran Sungai Tangsi, kita sebenarnya mengikuti perintah dari pihak taman nasional juga. Kalau untuk tanam pohon musimnya gak cocok,” ungkapnya, Rabu (20/9) kemarin.

Hal senada juga disampaikan oleh Sadria, salah satu pendamping dari garda SAR Magelang. “Kalau untuk tanam pohon cuacanya tidak mendukung karena tidak memasuki musim hujan. Musim hujan dimungkinkan di bulan November,” tambahnya.?

Bupati Tegal

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta alam dalam diri para peserta, sebagaimana yang tercantum dalam poin kedua Dasa Dharma Pramuka “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”.?

“Harapan saya, dari kegiatan ini adik-adik bisa menghargai alam. Karena kalau alamnya rusak, manusia dan hewan akan terkena imbasnya. Selain itu, supaya mereka bisa menghargai warisan dari para pendahulu untuk selalu merawat alam” ungkap Dedeh.

Bupati Tegal

Diketahui, kegiatan bakti perawatan pohon di Taman Nasional Gunung Merapi akan berlangsung hingga akhir kegiatan Perwimanas II dan diikuti oleh lebih dari 6000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. (Ala/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Makam Bupati Tegal

Kamis, 23 November 2017

Puluhan Pelajar Tegalombo Ikuti Rekrutmen Keanggotaan IPNU-IPPNU di Tengah Liburan

Pacitan, Bupati Tegal - Puluhan pelajar di Kecamatan Tegalombo, Kabupaten Pacitan mengikuti kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta)? Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di SMK Hasyim Asyari Tegalombo, Senin (26/12). Mereka mengikuti rekrutmen pelajar NU di sela liburan panjang sekolah.

Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sahir membuka makesta kali ini.

Puluhan Pelajar Tegalombo Ikuti Rekrutmen Keanggotaan IPNU-IPPNU di Tengah Liburan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Pelajar Tegalombo Ikuti Rekrutmen Keanggotaan IPNU-IPPNU di Tengah Liburan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Pelajar Tegalombo Ikuti Rekrutmen Keanggotaan IPNU-IPPNU di Tengah Liburan

Sahir yang juga Kepala SMK Hasyim Asyari menyampaikan bahwa sekolah yang berada di bawah naungan LP Maarif NU berkomitmen menjadikan IPNU-IPPNU sebagai organisasi unggulan dan terdepan dalam menaungi para pelajar.

Menurutnya, IPNU-IPPNU merupakan organisasi basis intelektual dan organisasi kader yang ada di sekolah sehingga keberadaanya perlu disambut dengan baik.

Bupati Tegal

Ketua IPPNU Pacitan Dian Wahyu Putri mengatakan, dua poin penting dalam mengemban amanah sebagai pelajar NU adalah basis pengkaderan dan kualitas kader.

Bupati Tegal

"Yang menjadi catatan penting bagi peserta dan seluruh kader IPNU-IPPNU Pacitan yang hadir ini agar bagaimana mengubah pola pikir dan tindakan sebagai pelajar NU yang bukan hanya mengikuti tren masa kini. Namun mereka harus mampu berpikir dan bertindak dengan segala dasar intelektual dan pengetahuan yang luas dan tetap berpedoman pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam berakidah," katanya.

Ia berharap para peserta bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses kaderisasi yang akan berlangsung hingga Rabu (28/12). "Pesan kami jangan pernah melewatkan seluruh materi. Patuhilah seluruh aturan yang telah ditentukan panitia. Selamat berproses, belajar, berjuang, dan bertaqwa," kata Dian. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Makam, Anti Hoax Bupati Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Ulama Indonesia, jauh sebelum 17 Agustus 1945 sudah memprediksikan negeri ini akan mengalami gangguan dan akhirnya mampu meraih kemerdekaan. Gangguan terhadap harkat dan martabat bangsa ini, tak lain untuk menguji semangat persatuan dan kesatuan. Tanpa adanya lawan yang merampas marwah bangsa Indonesia, maka persatuan sangat sulit diciptakan.?

Namun dengan hadirnya penjajah, maka seluruh warga bangsa merasa memiliki dan meminta kembali hak pribumi. Oleh para ulama, masyarakat yang beragama Islam diajak melakukan serangkaian mujahadah, istighatsah, tirakat dan doa bersama agar Indonesia selamat dari penjajahan dan bisa merdeka.

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Ulama yang Memprediksi Kemerdekaan Indonesia

Dari kisah para ulama terdahulu, ada banyak cerita menarik tentang penjajahan dan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah tiga orang ulama yang sudah memberikan isyarat tentang kondisi Indonesai jauh-jauh hari sebelum diserang Belanda, Jepang dan merdeka. Kisah ini dijelaskan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya “Masterpice Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama Santri 1830-1945”.

Pertama, KH Abdus Syakur Senori Tuban (wafat 1359 H/1940 M). Kyai Syakur dikenal sebagai teman akrab KH Hasyim Asy’ari yang memiliki ilmu kasyf. Dengan ilmu yang dimilikinya, Mbah Syakur membuat sya’ir tentang kedatangan tentara Jepang dan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 M/1365 H. Padahal lima tahun sebelum merdeka, Mbah Syakur sudah wafat. Syair karya Mbah Syakur adalah:

? ? ? ? * ? ? ?

Bupati Tegal

? ? * ? ?

? ? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? * ? ? ?

Bupati Tegal

? ? ? ? * ? ? ? ?

? ? ? * ? ? ? ?

Tarikhkanlah bahwa Jepang akan menjinakkan Nusantara pada tahun ? ghisy-syisa





(Jika dihitung dengan hisabul jummmal adalah 1361 H/1942 M)





Ia sebagai kolonial yang menyengsarakan bangsa Indonesia





Silih berganti, peperangan, adu senjata dan perihnya mengarungi samudera.





Ketika bulan Rajab (1365 H/Juni 1945) telah terjadi keajaiban, kemudian semakin lumpuh pada bulan Sya’ban (Juli 1945).





Kemudian pada bulan Ramadan (17 Agustus 1945) datanglah masa gembira ria (proklamasi) bagi bangsa Indonesia.





Dan pada bulan Syawwal (September 1945), penderitaan Nusantara semakin membaik. ? Posisi Indonesia semakin tenang dengan kemerdekaannya pada bulan Dzul Qa’dah (Oktober 1945)





Di bulan inilah Allah menampilkan sosok pemimpin yang dapat mengayomi masyarakatnya (Soekarno), seorang pemimpin sejati yang tidak ada duanya.

Kedua, Syaikh Ibrahim bin Husain Buengcala Kuta Baro Aceh. Pada tahun 1288 H/1871 M, Syaikh Ibrahim menyatakan: “Negeri di bawah angi (Nusantara) istimewanya akan lepas daripada tangan Holanda (Belanda), sesudah China bangsa lukid (mata sipit, maksudnya bangsa Jepang). Maka Insya Allah ta’ala pada tahun 1365 H (1945 M) lahir satu keajaan yang adil dan bijaksana dinamakan al-Jumhuriyah al-Indunisiyah yang sah”. Kalimat ini dinyatakan 71 tahun sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tentunya Syaikh Ibrahim memberikan isyarat kepada masyarakat Aceh agar menghormati proses perjuangan bangsa hingga meraih kemerdekaan dengan sempurna.

Dan ketiga, KH Chasbullah Sa’id Jombang (ayahanda KH Abdul Wahab Chasbullah). Setelah melakukan tirakat dan riyadlah yang cukup panjang, Mbah Chasbullah meninggalkan tulisan pendek yang ditutupi dengan kain satir di menara Masjid Pondok Induk (Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang).?

Menjelang wafatnya, Mbah Chasbullan memberikan pesan pada salah seorang santrinya: “Lek misale aku mati, omongno nang Wahab kongkon buka tulisan nak menara tahun 1948; kalau misalnya aku sudah meninggal, katakan pada Wahab untuk membuka tulisan di menara tahun 1948”. Setelah menyampaikan pesan itu, beberapa bulan Mbah Chasbullah wafat.?

Maka sesuai dengan pesan Abahnya, KH Abdul Wahab Chasbullah membuka isi pesan itu pada 1948. Proses membuka isi pesan itu diiringi dengan pembacaan shalawat burdah yang diikuti juga oleh segenap santrinya. Ternyata isi pesan Mbah Chasbullah sangat singkat, yakni tulisan: ? ? ? (hurrun tammun, artinya kemerdekaan yang sempurna). Dan ternyata tahun 1948, kemerdekaan Indonesia sudah diakui oleh dunia dan agresi militer Belanda juga sudah sukses dipukul mundur.

Usaha riyadlah dan tirakat dalam mendukung kemerdekaan sejati itu selalu dilakukan oleh Mbah Chasbullah dengan menyuruh santrinya i’tikaf dan membaca amalan shalwat burdah selama sehari penuh. Sedangkan Mbah Chasbullah memilih berdoa dan riyadlah di rumahnya dengan khusyu’ penuh harapan.

Tiga sosok ulama yang memiliki ilmu kasyaf ini patut untuk dijadikan ‘ibrah bahwa para Kyai sangat peduli dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Karena ilmu yang dimiliki oleh Kyai lebih banyak agama, maka proses keagamaan itu yang menjadi dominan dilakukan. Semangat dalam membaca tanda alam dan isyarat dari Allah itulah yang selalu diasah. Sehingga wajar bila para Kyai sudah memberikan prediksi tentang kondisi bangsa ini jauh hari sebelum kemerdekaan.

Sebagai anak bangsa yang sudah menerima kemerdekaan, tentunya patut menghargai usaha para pendahulu yang telah berjuang untuk bangsa ini. Kemerdekaan dan kebahagiaan hidup dalam suasana Indonesia semacam ini membuat hidup tenang dan bebas beraktivitas apapun. Maka sudah sewajarnya kemerdekaan ini diisi dengan hal positif dari memperkuat persatuan bangsa, memperluas wawasan nusantara, menambah ilmu pengetahuan dan menjaga tumpah darah dengan segenap cinta bangsa.***

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang & Dosen UIN Walisongo Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Khutbah, Makam Bupati Tegal

Jumat, 17 November 2017

Pasukan Jin dan Malaikat

Istilah tersebut yang sangat dikenal oleh kalangan pesantren dan NU. Pasukan yang siap didatangkan oleh beberapa paranormal yang berpromosi mampu mengamankan acara Rapat Akbar NU kepada Ketua Panitia almarhum Abu Hasan.

Tawaran dari paranormal itu mendorong Abu Hasan untuk menanyakan kepada Wakil Sekjen PBNU H. Ahmad Bagdja. Namun, Ahmad Bagdja tidak menolak ide tersebut, walaupun ia menyanggupi untuk mencari jalan yang lebih bagus.

Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasukan Jin dan Malaikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasukan Jin dan Malaikat

Konon beberapa kiai memiliki santri yang terdiri dari para jin, bahkan di antaranya menjadi khadam (pelayan) kiai. Banyak kiai yang tidak mau berurusan dengan jin. Namun demikian, mereka mengenalnya dengan baik walau mereka belum pernah menyaksikannya.

Bupati Tegal

Urusan pasukan jin yang ditawarkan oleh paranormal kemudian diserahkan kepada Ahmad Bagdja. Isu itu juga ramai diberitakan media massa. Pemerintah dan masyarakat terkejut mendengarnya. Baru pada saat itulah wacana tentang jin muncul dalam perbincangan politik di tengah publik.

Rapat Akbar rencananya bakal menghadirkan satu juta warga NU. Masyarakat terkejut mendengar rencana ini. Begitu juga aparat keamanan dan Menteri Dalam Negeri.

Bupati Tegal

Polisi mengaku akan kesulitan mengamankan massa yang jumlahnya sangat besar. Sedangkan Menteri Dalam Negeri mengatakan bahwa secara teknis sulit mengatur, memberikan konsumsi, dan menyediakan toilet untuk peserta acara.

Pemerintah kemudian membujuk NU agar mengurungkan niatnya. Pemerintah tidak berani melarang secara tegas karena tujuan Rapat Akbar itu adalah doa bersama dan apel kesetiaan pada Pancasila. Dengan acara ini, NU sendiri tidak bisa lagi dituduh tidak setia atau anti-Pancasila .

Abu Hasan menyatakan bahwa Banser NU harus berkoordinasi dengan “pasukan besar” yang dipimpin Ahmad Bagdja. Di tengah rasa penasaran mengenai “pasukan besar” itu, Ahmad Bagdja hanya tersenyum. 

Namun, ia setidaknya mampu meyakinkan bahwa dengan adanya pasukan jin maka NU siap menghadapi tekanan pemerintah. Pasukan jin itu bisa menguatkan niat NU dan membuat grogi aparat yang akan mengganggu acara. Seperti halnya Ahmad Bagjda, KH Abdurrahman Wahid hanya tersenyum ketika ditanya mengenai adanya pasukan jin tersebut.

Turunnya dana pengamanan untuk pembiayaan pasukan jin justru membuat Ahmad Bagdja geli. Ia sama sekali tidak mengenal paranormal, apalagi jin.

Maka, setelah dibicarakan dengan beberapa tokoh NU, dana itu digunakan untuk melakukan doa di berbagai masjid dan surau di Jakarta. Tujuannya memohon keselamatan kepada Allah Swt. Dengan doa itu para pengurus NU yakin bahwa Allah akan menurunkan pasukan malaikat untuk melindungi mereka.

Panitia Rapat Akbar kemudian membeli ribuan tasbih dan mencetak ribuan eksemplar buku Surat Yasin dengan logo PBNU. Selama dua minggu, orang-orang di berbagai masjid dan surau melakukan doa bersama untuk kesuksesan dan keselamatan Rapat Akbar NU. 

Sejak Revolusi 1966, belum ada model mobilisasi massa yang berskala besar di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dan aparat keamanan merasa kerepotan dengan pelaksanaan Rapat Akbar NU. 

Namun, doa bersama yang diinisiasi oleh panitia telah membuat NU semakin percaya diri. Gus Dur sendiri tidak mau mundur dari rencana tersebut. Padahal, pemerintah terus memberi tekanan untuk membatalkan acara. Para pengamat politik pun meremehkan acara tersebut dan menganggapnya sebagai show of force yang tak berarti.

Ketika Rapat Akbar NU akhirnya berlangsung di Lapangan Timur Senayan, Jakarta, pada 1 Maret 1992, banyak orang mengira acara itu dijaga pasukan jin. Sedangkan kalangan NU merasa berada di bawah lindungan Allah karena mereka selalu memanjatkan doa di sepanjang acara berlangsung. Namun demikian, Gus Dur masih kurang puas karena merasa beberapa peserta dari luar kota dihadang oleh aparat keamanan sehingga mereka tidak bisa menghadiri acara besar tersebut. (Ensiklopedi NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Khutbah, Makam Bupati Tegal

Rabu, 15 November 2017

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Jombang, Bupati Tegal. Mengikuti perkembangan teknologi, pada Muktamar Ke-33 NU ini, Panitia menggunakan sistem IT/online untuk proses registrasi. Lewat web muktamar.nu.or.id, panitia menyediakan formulir online dimana calon peserta (PCNU/PWNU), media dan peninjau bisa melakukan pendaftaran online.

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Media dan peninjau banyak yang mengajukan aplikasi secara online, tapi PC dan PW hanya sedikit yang mengajukan pendafataran secara online. Oleh karenanya, ID Card peserta yang bisa diproses sebelum muktamar jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Hal itu berimbas pada riuhnya pendaftaran di ruang registrasi yang bertempat di GOR Jombang. Ribuan peserta antri penuh sesak untuk bisa mendaftarkan diri dan rombongannya,” jelas Ketua Panitia Nasional Muktamar Ke-33 NU, H Imam Aziz lewat rilis yang diterima Bupati Tegal, Ahad, (2/8) di Jombang.

Bupati Tegal

Namun karena sesuatu hal, lanjutnya, sistem IT registrasi sempat mengalami down sehingga mengganggu proses registrasi. Beberapa kali sistem mengalami gangguan yang berimbas pada lambatnya tim registrasi dalam memproses pengajuan calon peserta, yang membuat suasana sedikit tidak kondusif.

Bupati Tegal

Imam Aziz menerankan, Problem IT akhirnya bisa ditangani, namun persoalan tak lantas otomatis teratasi. Proses pendaftaran tetap relatif lambat, yang bersumber dari kurangnya jumlah peralatan, yaitu printer dan alat laminating ID Card.?

Pengajuan ID Card di luar peserta, yaitu media dan peninjau di luar dugaan kami. Maka dampaknya antrian sangat lama, berjejalan dan secara psikologis mengganggu muktamirin.

Oleh karenanya, imbuh Imam, mengingat kekurangsiapan yang dilakukan panitia, kami:

1. Meminta maaf atas ketidaknyamanan muktamirin dalam melakukan proses registrasi.

2. Akan tetap melayani pendaftaran hingga tuntas sehingga memastikan seluruh peserta teregistrasi dan mendapatkan ID card. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaSantri, Makam Bupati Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

Tangerang Selatan, Bupati Tegal. Lapangan Triguna di samping UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dipadati kaum muslimin. Spanduk-spanduk bertajuk shalawat dan Majelis Rasulullah bertebaran di sekitar area kampus. Malam itu Tabligh Akbar “UIN Jakarta Bershalawat dan Santunan Anak Yatim” diselenggarakan CSSMoRA (Community Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta dan Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN, bekerja sama dengan Majelis Rasulullah SAW.

Menurut Widya Prayoga selaku perwakilan panitia penyelenggara dari CSSMoRA, acara yang berlangsung Jumat (25/03) tersebut merupakan bentuk silaturrahim komunitas penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI kepada mahasiswa UIN Jakarta serta kepada khalayak luas.

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Komunitas Santri Gemakan Shalawat di UIN Jakarta

“Semoga lewat acara UIN Bershalawat ini kita juga bisa menjalin perdamaian dan persaudaraan, serta mengambil hikmah dari Syekh Syarif Hidayatullah yang menjadi nama universitas kita ini,” ujar Widya.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Rektor UIN Jakarta, yang diwakili oleh Kepala Subbagian Administrasi dan Alumni, Rohmatullah. Selain menyampaikan amanat Rektor, Rohmatullah juga mengulas sejarah Syarif Hidayatullah sebagai cikal bakal nama institusi UIN yang berlokasi di Ciputat, Tangerang Selatan itu.

“Syarif Hidayatullah, yang juga dikenal dengan Sunan Gunung Jati ini merupakan seorang pemimpin yang memiliki peran penting dalam perkembangan daerah Jakarta, yang waktu itu masih bernama Jayakarta. Karena hubungan itulah, Syarif Hidayatullah terpilih menjadi nama universitas ini,” terangnya.

Bupati Tegal

Jamaah tampak khidmat menyimak dan melantunkan Simthud Duror bersama pemimpin majelis. Di panggung hadir Kapolsek Ciputat, Ketua PCNU Tangerang Selatan H Muhammad Tohir, serta pejabat dari Kelurahan Cempaka Putih. Tausiyah dan doa diisi oleh Habib Abdurrahman bin Ahmad Al Habsyi, dan acara ditutup dengan penyerahan santunan secara simbolis kepada anak yatim oleh Bapak Rohmatullah.

CSSMoRA adalah organisasi berbasis pesantren yang berusaha turut melestarikan budaya Islam di Indonesia, dan berorientasi untuk pengembangan dunia pesantren. Organisasi ini beranggotakan penerima beasiswa santri dari Kemenag RI, dan tersebar di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. (Red: Mahbib)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Internasional, Doa, Makam Bupati Tegal

Sabtu, 28 Oktober 2017

“Sentil” Dinas Kebersihan, PMII IAIN Pontianak Bersih-Bersih Jalan Raya

Kubu Raya, Bupati Tegal. Belasan aktivis PMII IAIN Pontianak berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial pada Ahad (24/5) pagi. Mereka turun ke jalan membersihkan pasir dan dedaunan di sepanjang jalan sekitar bundaran Ali Anyang, kecamatan Sungai Ambawang, kabupaten Kubu Raya. Di lokasi ini kerap terjadi kecelakaan karena jalanan yang licin oleh pasir.

“Sentil” Dinas Kebersihan, PMII IAIN Pontianak Bersih-Bersih Jalan Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sentil” Dinas Kebersihan, PMII IAIN Pontianak Bersih-Bersih Jalan Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sentil” Dinas Kebersihan, PMII IAIN Pontianak Bersih-Bersih Jalan Raya

Turut dalam aksi sosial ini Kapolsek Sungai Ambawang, Ketua PMII IAIN Pontianak Tiyono, dan Mutohir, serta ketua komisariat demisioner.

Saat ditemui, Tiyono mengatakan, tujuan aksi ini adalah untuk menggugah dinas kebersihan Kubu Raya agar memerhatikan bundaran Ali Anyang yang berada di ? jalan Trans Kalimantan sungai Ambawang Kubu Raya. Lokasi ini merupakan titik sentral yang menghubungkan antara beberapa kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

Bupati Tegal

Bahkan tidak sedikit muda-mudi yang mampir di bundaran tersebut untuk menyaksikan aksi ini. ? “Sebenarnya dinas kebersihan Kubu Raya itu harus bahkan wajib untuk memerhatikan bundaran tersebut, karena tidak sedikit pengendara yang lewat khususnya kendaraan roda dua jatuh karena banyaknya pasir yang berserakan bahkan menumpuk.”

Untuk itu, PMII IAIN Pontianak berinisiatif ikut serta dan peduli terhadap lingkungan sekitar Bundaran Ali Anyang.

Bupati Tegal

Warga setempat menuturkan kepada saya, kata Tiyono, bahwa sudah berbulan-bulan dinas kebersihan tidak mengindahkan tempat ini. artinya, tidak ada dinas kebersihan yang bertugas untuk membersihkan pasir-pasir juga daun-daun yang berserakan di area ini.

“Jadi kami dari pihak komisariat PMII IAIN Pontianak akan segera melakukan advokasi perihal kebersihan area ini bila dalam waktu dekat ini dinas yang terkait tidak melakukan pembersihan di area bundaran Ali Anyang,” kata Wakil Sekretaris Komisariat Muhammad Romli. (Ahmad Fauzi Muliji/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Makam Bupati Tegal

Jumat, 20 Oktober 2017

Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Cirebon, Bupati Tegal. Sekitar seribu orang yang terdiri dari santri, alumni, dan masyarakat umum dari sekitar Cirebon bahkan luar kota berkumpul untuk menyambut kedatangan Syekh Fadil Al-Jailani, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berasal dari Turki. Mereka mulai berkerumun seusai melakukan shalat Jum’at dan bersiap untuk mengikuti ijazah ‘aamah di Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Pengasuh pesantren Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqil mengungkapkan bahwa pelaksanaan ijazah ini berisi ijab qabul  yang biasa diberlakukan dalam tradisi pesantren untuk mendapatkan keberkahan.  

Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

“Setelah Syekh Faddhil memberikan sambutan, nanti para hadirin akan mendapatkan ijazah langsung dari Beliau, ijazah ini selain bertujuan untuk mendapatkan keberkahan juga merupakan suatu sarana pengabsahan mengenai kebersambungan sanad untuk memelajari kitab-kitab karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan ijazah untuk menyambungkan garis keilmuan seperti ini merupakan tradisi pesantren yang baik,” jelas kiai Musthofa.

Bupati Tegal

Pelaksanaan ijazah dibawakan langsung oleh Syekh Fadhil Al-Jailani, pertama-tama keturunan salah satu tokoh besar Islam ini mengajak peserta untuk bertaubat dan beristighfar, kemudian mereka diminta untuk mengangkat tangan kanan dan dilangsungkan sebuah pelafalan ijab dan qabul, hingga kemudian Syekh Fadhil mengucapkan “Ajaztukum!” yang secara serentak dijawab oleh peserta dengan ucapan “Qabilna!” selama tiga kali berturut-turut.

Bupati Tegal

Syekh Fadhil Al-Jailani menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk berkeliling dunia dalam rangka menelusuri ribuan manuskrip karya Syekh Abdul Qadir AL-Jailani yang terpencar dan hilang. Kunjungan ke pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah sekitar dua tahun yang lalu melakukan hal yang sama.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, Makam, Berita Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock