Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan

Bandar Lampung, Bupati Tegal. Gusdurian Lampung akan membagikan 70 kado secara cuma-cuma pada acara "Riungan Kebangsaan" di lantai tiga gedung B aula pascasarjana, kampus Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, Lampung. Forum yang akan diadakan pada Kamis 20 Agustus 2015 ini membahas terkait pandangan agama-agama terhadap masalah lingkungan hidup.

"Jumlah kado dibagikan sesuai usia kemerdekaan bangsa Indonesia, satu kado isinya dua titik-titik," ujar pegiat Gusdurian Lampung Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Selasa (18/8).

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan

Terkait lebih jelas kado dimaksud, Gatot enggan menjelaskan. "Kalau diberitahu tidak surprise. Datang saja jika mau berminat dan harus awal karena persediaan hanya 70," kata dia.

Bupati Tegal

Riungan Kebangsaan kali ini merupakan energi dan sinergi cinta Gusdurian Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari), Yayasan Shuffah B lambangan Umpu, Majelis Semaan Al-Quran wa Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab, IBI Darmajaya dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Berdasarkan data Walhi Lampung, bukit yang ada di Bandar Lampung di tahun 2008 berjumlah 33, namun saat ini yang tersisa 11 bukit. Dalam waktu empat tahun atau di tahun 2014, 22 bukit di Bandar Lampung habis oleh penambangan batu.

Bupati Tegal

"Kerusakan dan perusakan alam atau lingkungan hidup harus ditanggulangi bersama. Negara dan masyarakat harus hadir. Solusinya dicari bersama, semoga dari diskusi kecil tersebut menghasilkan kesepakatan positif yang baik dan maslahat," ujar Gatot lagi.

Riungan Kebangsaan akan menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT AJI ke 21 yang jatuh pada 7 Agustus lalu. Selain itu, donor darah sebagai bagian acara juga siap digelar. Pelajar dan masyarakat yang berminat mendonorkan darahnya bisa menghubungi Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 Disisi Saidi Fatah di nomor 082377505585.

"Kami mengundang jurnalis, aktivis lingkungan hidup, tokoh agama, mahasiswa pecinta alam, lembaga mahasiswa keagamaan, serta para pelajar untuk hadir bersilaturahmi dan menyumbangkan pemikirannya dalam Riungan Kebangsaan,” kata Pejabat Sementara Sekretaris AJI Bandar Lampung Wandi Barboy Silaban.

Pihaknya sengaja mengundang orang-orang yang aktif di bidang keagamaan untuk memberi perspektif bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan dari sisi agama. (Teddy Heriyanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Santri Bupati Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

Jombang, Bupati Tegal. Pengurus Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur mengajak setiap divisi kepengurusan agar lebih kreatif dengan adanya basecamp ranting IPNU-IPPNU setempat, khususnya dibidang kerajinan tangan dan pengembangan bakat lainnya.

Sebelumnya, mereka telah merutinkan kegiatan kerajinan tangan membuat aksesoris setiap pekan kurang lebih selama dua bulan terahir sebelum adanya basecamp. Dalam perkembangannya hasil kerajinan inimampu menarik beberapa pedagang aksesorisuntuk menjadi pelanggan mereka, bahkan tidak kurang dari 10 orangsetiap pekan.?

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

“Kita sebelumnya memang sudah intensif mengadakan kerajinan tangan membuat aksesoris. Ya lumayan, hasilnya juga memuaskan dan banyak pedagang-pedagang yang sudah mulai memesannya,” kata Lila Aiziyah, Ketua PR IPPNU Mojoduwur, kepada Bupati Tegal saat dihubungi, Ahad (6/12).

Bupati Tegal

Ia berharap keberadaan basecamp itu menjadi motivasi tersendiri bagi semua anggota dan pengurus ranting lebih aktif dan sungguh-sungguh dalam menjalankan program-programnya. “Selama ini yang menjadi prioritas kita adalah basecamp. Basecamp kita sudah punya, tugas kita sekarang adalah memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk menjalankan program-program kita ke depan,” ungkapnya.

Kantor IPNU-IPPNU ini diresmikan pada Ahad pagi, (6/12/2015) bersama segenap pengurus ranting Kecamatan Mojowarno. Sebelum diresmikan mereka memanjatkan doa dan tahlil bersama kemudian dilanjutkan dengan acara tumpengan (makan bersama). “Semoga dengan adanya basecamp ini kita bisa rutin dan semangat menggagas ide-ide dalam berkarya,” harapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Santri, AlaSantri Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Madiun, Bupati Tegal. Sering “terseretnya” organisasi masyarakat dalam berbagai kepentingan, seolah membuat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berkepentingan menekankan tugas yang sebenarnya. Dijelaskan, ormas seperti NU memiliki kewajiban membangun manusia.

“Kewajibannya adalah membangun manusia, masyarakat. Tidak lagi mempersoalkan agama. Agar lebih maju, bermanfaat, membangun kekuatan budaya moral agama akhlak ekonomi politik,” paparnya saat menjadi pembicara dalam Halal Bi Halal Pengurus Cabang PCNU Kota Madiun, Jawa Timur, di Wisma Haji Kota, Sabtu (18/11) lalu.

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Menurut Kang Said--begitu panggilan akrabnya--ada beberapa hal yang harus diperkuat langkahnya oleh ormas, termasuk NU. Yakni, spirit agama. “Dengan selalu melakukan pendalaman, pemahaman ilmu agama. Saat ini, sudah banyak dilakukan NU. Pokoknya kalau ada masalah agama, nggak usah khawatir, tanya ke NU,” ujarnya.

Yang menarik, menurutnya, jika yang ditanyakan atau yang harus diperbuat, adalah hal lain seperti dunia politik. “Lha kalau masalah politik, sulit. Biasanya nggak sedep (tidak sedap), atau rasane (rasanya) hambar, sering kasinen (terlalu asin), kepedesen (terlalu pedas),” kelakarnya sambil tersenyum dan disambut ger-geran hadirin.

Kebesaran Islam, menurutnya, adalah karena akidah dan syariatnya, sejak 14 abad lalu tidak berubah alias original. “Ini tidak terjadi pada agama lain. Yang berubah, adalah manusianya. Yang harus diperbarui, ditingkatkan, dituntut perubahan, adalah cara bagaimana berakidah, bersyariat, bangun kebersamaan, saling melengkapi dan saling menghargai,” paparnya.

Bupati Tegal

Penguatan lain yang harus dilakukan, adalah ruhul wathaniyah atau spirit nasionalis. “NU harus memperkuat semangat nasional mempertahankan, mencintai, menjaga dan mengawal keutuhan ber-Indonesia,” tutur Kang Said. Menurut catatan sejarah, lanjutnya, spirit nasionalisme sudah bergelora sejak lama, bahkan sebelum sumpah pemuda. (gpa/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Nahdlatul, Makam, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

Jombang, Bupati Tegal - Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Jombang, Jawa Timur bersama Ikatan Remaja Muslim (Ikram) berkomitmen untuk menguatkan Islam yang menebar kasih sayang kepada semua (rahmatan lil ‘alamin).

Hal itu tercermin dari penyelenggaraan acara Muhasabah Tahun Baru 1438 H dengan tema “Mewujudkan Karakter Remaja Muslim dengan Spirit Islam rahmatan lil Alamin” di Islamic Center Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Ahad pagi (30/10). Kegiatan diiringi dengan iringan shalawat al-Banjari.

?

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Mitsaq Madinah, NKRI Perjanjian Masyarakat Majemuk

"Acara ini dimaksudkan agar para siswa didampingi pemahaman Islam yang mainstream, yaitu Islam yang ramah dan moderat dan terlindungi dari sementara kalangan Muslim yang ekstrem," ujar Ketua MGMP PAI Jombang, Shalahuddin.

Direktur Aswaja NU Center Jombang Yusuf Suharto mengatakan bahwa muhasabah atau introspeksi diri adalah sebuah keniscayaan.

Bupati Tegal

"Kita muhasabah dalam banyak kesempatan antara lain, di Ramadhan, di Syawal, dan di bulan Muharram. Muharram adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriah. Momentum Muharram sebagai bulan introspeksi adalah tepat karena bulan ini adalah awal bulan tahun hijriah, dan bulan yang setelah bulan haji di mana banyak berkumpul kaum muslimin dari seluruh dunia untuk ibadah haji," ujarnya di hadapan para siswa, dan guru MGMP PAI se-Jombang.

?

Menurutnya, tahun baru Islam ini disebut dengan hijriah karena ditandai dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Madinah. Hijrah ini adalah gerakan nyata yang perlu dicatat sejarah. Hijrah Nabi disepakati sebagai penanda penting kalender Islam pada masa kepemimpinan Umar bin Khatab.

Bupati Tegal

"Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah beliau membuat Mitsaq Madinah atau Piagam Madinah, dan itu mengikat tidak hanya kepada masyarakat Madinah yang muslim, tapi juga nonmuslim. Inilah penghargaan kemajemukan yang dicontohkan Rasulullah," kata pengurus Dewan Pendidikan Jombang ini.

Yusuf juga mengatakan, NKRI adalah bentuk perjanjian bersama antarmasyarakat Indonesia yang majemuk. “Islam rahmatan lil alamin dalam konteks berbangsa dengan demikian adalah Islam yang merahmati tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia," imbuhnya.

Ia mengingatkan bahwa semangat cinta tanah air sudah diajarkan oleh para ulama Nusantara, antara lain oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dengan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, dan gubahan lagu Ahlal Wathan pada 1934.

“Karakter Islam Nusantara adalah karakter Islam yang moderat. Mari kita menjadi bagian dari Muslim negeri ini, dengan prinsip Islam yang rahmat, Islam yang lembut pada tempatnya dan tegas pada tempatnya," pungkas dosen Aswaja Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto Jatim ini. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Habib, Amalan Bupati Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Gus Dur Dikerjain Habib

Sejak berada di Mesir, Habib Abu Bakar bin Hasan al-Atthas berteman baik dengan Gus Dur. Jarak dan rasa sungkan sudah lama putus di antara keduanya.

Suatu hari Gus Dur dan Habib menginap di sebuah hotel di Jawa Barat. Habib tahu, teman karibnya ini selalu minta dibayar tiap kali di hotel atau rumah makan. Kali ini, ia ingin menguji “kebakhilan” Gus Dur.

Gus Dur Dikerjain Habib (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dikerjain Habib (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dikerjain Habib

Saat tiba waktu check-out, Habib keluar kamar lebih dulu.

“Tolong nanti yang bayar penginap di kamar nomor ini. Namanya KH Abdurrahman Wahid,” ucap Habib kepada kasir hotel.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Dengan dituntun, Gus Dur ke arah pintu keluar sambil celingukan.

“Di mana habib itu?” sergahnya.

Sejenak kemudian, langkahnya tertahan.

“Maaf Pak Yai, urusan kamar Pak Yai sama Habib belum beres,” kata kasir hotel.

Cucu pendiri NU ini bingung, “Maksudnya?”

“Pembayarannya.”

“Waduh…” Gus Dur menepuk jidat. “Mana bawa uang aku. Ya udah utang dulu aja, ya,” tutur Gus Dur sembari menyodorkan KTP.

Di depan pintu hotel, Habib cekikikan dari dalam taxi yang sedang diam di pelataran. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Kajian Sunnah, Quote Bupati Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Said Aqil: Kita Malu Memiliki Pemimpin Parlemen Langgar Etika

Jakarta, Bupati Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan dirinya malu memiliki pemimpin parlemen yang terindikasi melakukan pelanggaran etika sebagaimana diperdengarkan dalam rekaman pada sidang Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Said Aqil: Kita Malu Memiliki Pemimpin Parlemen Langgar Etika (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: Kita Malu Memiliki Pemimpin Parlemen Langgar Etika (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: Kita Malu Memiliki Pemimpin Parlemen Langgar Etika

“Kita semua malu, memiliki pemimpin parlemen seperti itu. Memalukan. Kita tersinggung,” tandasnya kepada Bupati Tegal.?

Ia menegaskan, dalam rekaman tersebut, sudah cetho welo-welo (terang benderang) bahwa pertemuan antara Setya Novanto, Riza Chalid, dan Dirut Freeport Maroef Sjamsoeddin tersebut mempunyai maksud untuk melakukan permufakatan jahat.

“Soal belum terlaksana, ya memang belum. Masak masih menunggu action dulu,” imbuhnya.?

Bupati Tegal

Sebagai pengadilan etika, Kiai Said berharap agar para anggota mahkamah tersebut mengambil keputusan berdasarkan hati nurani dan aspirasi publik, tidak didasarkan atas kepentingan politik kelompok tertentu.?

Bupati Tegal

Hari ini, Rabu, 16 Desember 2015 17 anggota MKD akan mengambil keputusan apakah Setya Novanto terbukti melanggar etika atau tidak. Selasa kemarin, sejumlah anggota DPR lintas fraksi menuntut agar Setyo Novanto turun dari jabatannya sebagai pimpinan DPR. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Tegal Bupati Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Ketika Tokoh NU dan Muhammadiyah Bicara Stanting

Jakarta, Bupati Tegal. Rais Syuriah PBNU, KH Ahmad Ishomudin (Gus Ishom) mengungkapkapkan tidak ada hal dari agama dan kepercayaan lain yang bertentangan dengan ajaran Islam sepanjang dapat diterima akal sehat. 

“Nilai-nilai universal yang dikembangkan Islam adalah yang sesuai akal sehat, misalnya tentang pentingnya kasih sayang yang juga ada di setiap agama, termasuk persoalan kesehatan,” kata Gus Ishom, pada Dialog Nasional Lintas Agama Cegah Stanting di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (14/11).

Ketika Tokoh NU dan Muhammadiyah Bicara Stanting (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Tokoh NU dan Muhammadiyah Bicara Stanting (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Tokoh NU dan Muhammadiyah Bicara Stanting

(Baca juga: Tokoh Lintas Agama Bersatu Cegah Stanting)

Bupati Tegal

Disampaikan pula, dalam Islam ada hal-hal yang disebut kemaslahatan atau sesuatu yang bermanfaat yang berasal dari Tuhan bagi para hamba-Nya. Untuk mewujudkan kemaslahatan tersebut ada lima hal yang harus dijaga. 

“Pertama adalah menjaga agama terlaksana dalam kehidupan sehari-hari untuk mengarahkan kebahagiaaan dan selamat dunia akhirat. Kedua adalah menjaga jiwa manusiawi. Ketiga adalah penjagaan akal, jangan sampai tidak cerdas. Keempat menjaga keturunannya.  Kelima penjagaan akan harta benda yang dimiliki,” papar Gus Ishom.

Bupati Tegal

Terkait dengan isu stanting, Gus Ishom menegaskan Islam sangat concern dalam upaya pencegahannya. Upaya tersebut bahkan dilakukan salah satunya sebelum pernikahan, sangat penting orang yang belum menikah untuk mencari (pasangan) yang terbaik. 

“Ketika sudah menikah saat melakukan hubungan suami istri didahului dengan doa agar dijauhkan dari setan. Setan adalah makhluk yang jauh dari kasih sayang Allah,” lanjut Gus Ishom.

Kemudian, saat istri mengalamai masa nyidam, seorang suami wajib memberi perhatian lebih.

“Kalau istri nyidam makanan tertentu dan suami tidak memenuhinya, bisa membayakan diri dan janin,” Gus Ishom menambahkan.

Senada, Wawan Gunawan Abdul Wahid dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menegaskan upaya mencegah stanting merupakan jihad bersama yang harus dilakukan semua agama.

“Mencegah stanting adalah kewajiban semua agama,” kata Gunawan.

Hal itu dibenarkan dalam Islam karena Islam berkewajiban memberi asih untuk semua manusia.

“Pembenar bahwa Islam memberi asih untuk semuanya. Bahasa asih tadi diwujudkan lewat berbagai bentuk pelayanan kepada semua umat manusia,” ungkapnya.

Ia menegaskan mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Khutbah, Pondok Pesantren, Sunnah Bupati Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Sudah menjadi tradisi bertamu ke rumah mereka yang baru pulang dari tanah suci untuk mohon didoakan dan juga meminta cinderamata. Bahkan seringkali keluarga maupun tetangga mementingkan penyambutan dan berebut bersalaman lebih dahulu, dengan alasan tabarrukan doa.Memang dianjurkan untuk meminta do’a kepada mereka yang baru datang dari haji. Bukan untuk meminta cindera mata. Sebagian orang menamakan do’a orang yang baru pulang dari haji ini dengan sebutan do’a maghfiroh, yaitu do’a khusus meminta ampunan dari Allah swt atas segala dosa yang telah dilakukan.

Mereka yang baru datang dari tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji bagaikan seorang bayi yang baru dilahirkan, masih suci dari dosa-dosa.

Oleh karena itu, do’a dan permohonannya memiliki nilai lebih. Karena kesuciannya itulah posisinya dianggap lebih dekat kepada Allah. Dan diharapkan do’a-do’anya akan terkabulkan.

Sebagain ulama berkata bahwa kondisi tersebut (kemakbulan do’a) dapat bertahan sebelum orang tersebut masuk ke dalam rumahnya. Namun ada yang mengatakan kondisi tersebut akan bertahan hingga empat puluh hari.

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

40 Hari Doa Makbul Sepulang Haji

Hal ini diterangkan dalam Hasyiyatul Jamal:

وفÙ? Ù‡ Ø£Ù? ضا ماÙ? صه ÙˆÙ? Ù? دب للحاج الدعاء لغÙ? ره بالمغفرة واÙ? لم Ù? سأله ولغÙ? ره سؤاله الدعاء بها وفى الحدÙ? Ø« (اذا لقÙ? ت الحاج فسلم علÙ? Ù‡ وصافحه ومره Ø£Ù? Ù? دعولك فاÙ? Ù‡ مغفور له) قال العلامة المÙ? اوى ظاهره Ø£Ù? طلب الاستغفار Ù…Ù? Ù‡ مؤقت بما قبل الدخول فاÙ? دخل فات لكÙ? ذكر بعضهم اÙ? Ù‡ Ù? متد أربعÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? مقدمه وفى الإحÙ? اء عÙ? عمر رضÙ? الله عÙ? Ù‡ Ø£Ù? ذلك Ù? متد بقÙ? Ø© الحجة والمحرم وعشرÙ? Ù? Ù? وما Ù…Ù? ربÙ? ع الأول..

Bupati Tegal

… dan dianjurkan (disunnahkan) bagi para haji untuk memohonkan ampun (do’a maghfiroh) kepada orang lain, walaupun mereka tidak memintanya. Demikian pula bagi mereka (yang tidak berangkat haji) agar meminta untuk dido’akan. Hal ini berdasar pada hadits Rasulullah saw “apabila kalian berjumpa dengan haji (orang yang pulang dari melaksanakan ibadah haji) maka salamilah dia dan jabatlah tangannya dan mintalah agar didoakan olehnya, karena doanya akan mengampunimu” Al-allamah al-Munawi berkata bahwa permitaan doa kepada haji ini sebaiknya dilakukan selama haji itu belum memasuki rumah.

Tetapi sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan do’a ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin diterangkan berdasakan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.? ?

Redaktur: Ulil hadrawy

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Sholawat Bupati Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’

Tangerang Selatan, Bupati Tegal. KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan rujukan dalam konsep politik Nusantara. Dia adalah seorang yang mampu merumuskan pemikiran-pemikiran keislaman tentang politik yang ada di dalam kitab-kitab kuning dan Al-Qur’an dan mengontekstualisasikan pemikiran tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di Indonesia.  

Demikian disampaikan Zastrouw Al-Ngatawi saat menjadi Penanggap dalam acara Bedah Buku Tambak Beras: Menelisik Sejarah, Memetik Uswah di UIN Jakarta, Selasa (19/12). 

“(Pemikiran) Dibawa ke Indonesia untuk dikontekstualisikan,” imbuhnya.

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’ (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’ (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Kalau Bicara Konsep Politik Nusantara, Mbah Wahab Adalah Rujukannya’

Zastrouw menerangkan, Mbah Wahab menerima Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) nya Soekarno bukan tidak ada alasan. Mbah Wahab menerima konsep itu setelah menelusuri rujukan-rujukan yang ada di kitab kuning seperti kitab kaidah fikih Asybah wa al-Nadzoir. 

Begitu pun ketika ulama Nahdlatul Ulama (NU) menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Bagi Zastrouw, itu adalah bentuk kontekstualisasi pemikiran politik Islam.

Mbah Wahab, lanjut Zastrouw, juga sangat menguasai khazanah kebudayaan lokal seperti Mahabarata, Ramayana, dan lainnya. Pada saat Sidang Konstitante, Mbah Wahab menjelaskan intrik politik dalam kisah Mahabarata dengan fasih.

Bupati Tegal

“Bukan hanya kitab kuning, Mbah Wahab juga menguasai Mahabarata, Ramayana,” tuturnya. 

Menurut KH Maman Imanul Haq yang juga menjadi Penanggap dalam acara ini, alasan Mbah Wabah menerima Nasakom adalah bersifat strategis. Ketika NU ada di dalam koalisi, maka NU bisa mempengaruhi Soekarno agar tidak terbawa arus dan menjadi Komunis. Dari dalam, NU juga meyakinkan bahwa Komunis itu berbahaya bagi keutuhan Indonesia.

Bupati Tegal

“Kita dihina NU pro Komunisme dan sebagainya, tapi hari ini Indonesia terbebas dari Komunisme,” ujarnya. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Cerita, Pondok Pesantren, Santri Bupati Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Cover Tanpa Buku

Oleh Aswab Mahasin

Masyhurnya, judul di atas dirangkai dengan kata-kata, “Jangan melihat buku dari cover-nya, lihatlah dari isinya.”. Lahirnya kata-kata tersebut disebabkan banyak orang terjebak oleh bentuk luar/tampilan luar—padahal secara ‘isi’ belum tentu kosong atau bisa juga benar-benar kosong. Fenomena itu menyeruak di masyarakat kita, dari mulai dulu hingga sekarang. Ada orang pakai jas, sepatu mengkilap, dandanan necis, akan dianggap sebagai bos. Lain lagi, ada orang memakai gamis, peci putih, ditutup dengan sorban, dianggap sebagai syekh, kiai, dan ustadz. Namun sebaliknya, pakaian biasa, sarung lecek, songkok kemerah-merahan karena terkena air, seringkali dianggap sebagai orang awam yang tak berilmu. 

Kita ukur lagi lebih dalam, embel-embel/simbol-simbol/cover (bungkus) yang dikenakan belum tentu menandakan bahwa ia sesuai dengan apa yang ia pakai. Anda bisa lihat di pusat perbelanjaan (mall-mall) banyak pengunjung dan karyawan yang memakai rok mini (sering diidentikan tidak taat dalam beribadah) tapi praktiknya rajin dan tepat waktu shalatnya. Tentu, tidak sedikit juga orang yang memakai jilbab, ia tidak rajin shalat.

Cover Tanpa Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Cover Tanpa Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Cover Tanpa Buku

Tidak bisa juga disebut, orang yang memakai celana pendek dan kaos murahan lantas ia dituding sebagai orang miskin, dan orang yang memakai pakainnecis disebut kaya. Tidak selalu begitu. Namun, persepsi kita dalam hal ini harus objektif. Bukan berarti setiap orang yang pakai rok mini rajin shalatnya, dan orang yang pakai jilbab tidak rajin shalatnya (jangan sekali-kali berpikir begitu). Lalu, bukan berarti orang yang necis—kemudian dianggap miskin, karena persepsi—tidak melulu orang necis itu kaya. 

Lebih jelasnya begini, kita tidak bisa memukul rata, gara-gara penculik setiap aksi culiknya selalu menggunakan mobil pintu dorong ke belakang, lantas semua yang memakai mobil itu adalah penculik, tidak. Atau gara-gara penipu dalam aksi tipunya seringkali berpenampilan memakai sepatu mengkilap dan baju dimasukan, lantas semua orang yang berpakain seperti itu dianggap sebagai penipu, tidak.

Pertanyaannya, relevankah mengukur tingkat kesalehan dan kehormatan seseorang diukur dari apa yang ia pakai? Saya tidak akan menjawabnya, silakan Anda jawab sendiri. Pastinya, pakaian atau cover tidak bisa dijadikan standar baik dan buruk. Namun, bukan berarti saya menganjurkan Anda untuk berpakain compang-camping atau seenaknya sendiri, dan berprilaku semaunya sendiri, tanpa memperdulikan sekitar.Berpakain pantas itu harus, karena ada keterkaitan antara pakaian dan budaya, keterkaitan antara pakaian dan agama—budaya dan agama mengatur cara kita berpakain sebagai standar etika dan ibadah.

Bupati Tegal

Allah SWT berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekusaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-‘Araf: 26)

Tulisan ini sekedar ingin memunculkan, ada kepantasan lain dari sekedar cover, yaitu pikiran hati, perilaku, ucapan, dan tindakan. Kenapa? harus ada kesesuaian antara apa yang dipakai dan sikap kita sebagai makhluk sosial dan spiritual. Cover pada pengertian ini tidak hanya sebatas pakaian, tapi profesi, jabatan, dan identitas-identitas lainnya juga.

Bukan maksud menuduh dan mudah-mudahan saya keliru. Fenomena masyarakat yang semakin agamis secara cover, tidak bisa dijadikan standar kalau kita semua sudah termasuk orang-orang yang bertakwa. Dan masyarakat banyak yang terjebak dengan cover, dianggapnya dengan memakai serba pakaian seperti ‘syekh, kiai, ustadz’ maka ia dianggap sebagai ahli agama, dan mempunyai hak untuk berfatwa. Dari sinilah muncul, banyak “cover tapi tanpa buku (tanpa isi)”. Karena itu, judul dalam tulisan ini “cover tanpa buku”. Maksudnya, yang diumbar hanya ujaran-ujaran kebencian, menjatuhkan orang lain, memfitnah, dan sebagainya—kita masih ingat betul, bagaimana seorang yang mengatasnamakan diri sebagai ustadz, mengatakan, “Pemerintah, monyet-monyet berseragam coklat, dan negara Indonesia, thagut.” Dan masih banyak lainnya, kalau kita curahkan semua.

Secara etika kepantasan, pakaian yang dipakai tokoh agama, entah itu secara dhahiriyah dan bathiniyah—seharusnya menyejukkan dan menentramkan, bukan memprovokasi apalagi menjatuhkan satu sama lain. Allah SWT memerintahkan harus dengan bijaksana. 

Bupati Tegal

Allah SWT berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Cover tanpa buku (tanpa isi) terjadi tidak hanya dalam fenomena di atas. Ada juga dalam ranah hukum, kita semua masih ingat Akil Mochtar, secara cover ia adalah seorang Ketua Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Mulia. Namun, kasusnya memalukan, yaitu korupsi. Jelas bertentangan antara cover dengan isinya. Tindakan yang tidak pantas itu menjadikan ia masuk dalam predikat ‘cover tanpa buku’.

Lain lagi dengan para politisi, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disebut-sebut sebagai Yang Terhormat, status cover luar biasa, begitupun cover luarnya. Dalam setiap kampanye, ia selalu membanggakan diri sebagai sosok yang mampu menyelesaikan dan mengentaskan nasib rakyat dari belenggu kemiskinan, janji-janji kampanyenya begitu menggoda. Namun, tidak sedikit oknum DPR yang menghianati cover-nya sebagai dewan yang terhormat, ia malah terjerumus dalam kasus korupsi, main perempuan, dan deal-deal politik yang memalukan.

Yang lagi rame sekarang, beberapa Bupati terciduk KPK karena kasus korupsi. Lagi-lagi mereka menghianati cover-nya. Padahal dalam ayat di atas Tuhan menyerukan, yang paling baik itu “cover sekaligus buku (isi) ketakwaanmu”.

Selain itu, kejadian di Mesir, seorang ulama Al-Azhar Syekh Ihab Al-Yunis ditangkap oleh pemerintah Mesir gara-gara menyanyikan lagu di salah satu stasiun televisi. Dianggapnya, seorang ulama, imam dan penceramah di Masjid Ali Bin Abi Thalib itu telah mempermalukan institusi kenamaan tersebut. Yang menjadi sorotan utama adalah pada saat bernyanyi ia memakai pakaian resmi Al-Azhar—kadung identik dengan simbol keilmuan dan fatwa, tak semestinya digunakan untuk menyanyi meski tujuannya baik. Syekh Ihab Al-Yunis dianggap telah mendistorsi kebanggan terhadap seragam itu sendiri. 

(Baca juga: Pemerintah Mesir Tangkap Ulama al-Azhar karena Nyanyi di Televisi)

Walaupun kasus di Mesir berbeda dengan yang dimaksud dalam tulisan ini, namun setidaknya bisa menjadi permisalan lain, benar-benar ada keterikatan sosial dan kultural kuat sekali antara pakaian dan isinya. Ukurannya begini, seorang ulama yang dianggap telah mendistorsi cover ia dihadapkan pada kasus hukum—dianggap memalukan ‘isi’. Dan sangat harus sekali di Indonesia, kasus-kasus yang memalukan, seperti; korupsi, suap, pencucian uang, dan sejenisnya—dibrangus habis sampai akar-akarnya. Sudah bukan lagi memalukan ‘buku/isi’, melainkan telah menghianati ‘isi’, sekaligus tak punya tanggung jawab baik terhadap ‘buku/isi’. 

Dengan demikian, menghadapi fenomena tersebut (semua keterangan di atas) kita harus tetap berpikir objektif,tidak dianjurkan melihat semuanya hanya dari satu sisi, melainkan dari kedua sisi atau berbagai sisi. Tidak semua hakim seperti Akil Mochtar, tidak semua DPR itu praktisi korupsi, dan tidak semua pendakwah mengumbar kebencian. Cover-cover mereka sebenarnya hanya segelintir saja, tidak dominan tapi nampak. Tetap waspada. 

Menurut Gus Dur kita beragama, bergaul, dan berinteraksijangan hanya pakai “hidung”, karena tidak semua yang ‘berbau’ komunis itu PKI, tidak semua yang ‘berbau’ kritis itu liberal, tidak semua yang ‘berbau’ Iran itu Syiah, tidak semua yang ‘berbau’ Arab itu Wahabi, tidak semua yang ‘berbau’ penolakan terhadap Perppu Ormas itu HTI, tidak semua yang ‘berbau’pejabat itu korupsi, dan tidak semua yang ‘berbau’ politik itu tidak manusiawi.

Oleh sebab itu, kita dituntut untuk mampu berpikir jernih, mempunyai kelapangan jiwa luar biasa, dan mau menerima perbedaan tanpa gesekan. Itu semua diperlukan untuk merefleksikan apa yang kita lihat, apa yang kita baca, dan apa yang kita pikirkan setiap hari, khususnya informasi yang kita dapat dari media, koran, televisi, internet, berita-berita, dan sebagainya—tidak begitu saja kita masukkan sebagai sumber kebenaran, kita harus membiasakan mengecek ulang informasi yang kita dapat, khususnya cover-cover yang meragukan, apalagi sekarang di medsos banyak sekali bertebaran “cover tanpa buku (isi)”.Semoga kebaikan selalu menyertai kita. Amin

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Penulis adalah Pembaca Setia Bupati Tegal. Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Kyai, Nasional Bupati Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

Kudus, Bupati Tegal. Mahasiswa Ahlit Thariqah An Nahdliyyah (MATAN) menegaskan kehadirannya sebagai organisasi mahasiswa penganut tarekat adalah untuk membendung gerakan radikalisme yang telah berkembang di berbagai kampus.

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Tarekat Bendung Gerakan Radikalisme Kampus

“MATAN mempunyai tanggung jawab mendidik generasi muda sebagai upaya penyelamatan umat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah pergolakan global,” kata Ketua Pimpinan Pusat  MATAN Hamdani Muin dalam acara Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Cabang MATAN Kabupaten Kudus  di Aula Kantor NU setempat, Sabtu (29/9) malam.

Ia menandaskan, sebagai bagian dari Jamaah Ahli  Thariqah, MATAN akan selalu mendarmabaktikan kepada umat dan NKRI. Ditegaskan, thariqah atau tarekat tidak hanya sekedar berdzikir melainkan juga memikirkan kepentingan umat. 

Bupati Tegal

“Apa artinya Dizikir siang malam tetapi tidak memikirkan kepentingan umat. Begitu pula, tarekat bukan hanya milik para masyayih atau orang tertentu.  Thariqah adalah rahmatal lil Alamin.”tandasnya lagi.

Bupati Tegal

Hamdani menjelaskan  MATAN memiliki lima asas (al-asas al-khomsah)sebagai semangat pergerakan yakni Tafaqqu fi al din (mengasah kemampuan dan ketajaman intelektual), Iltizamut Thoat (semangat ketaatan kepada Allah,Rasulullah dan Ulil Amri), Tasfiah al qalb wa tazkiyat al-nafsi (pembersihan dan pensucian diri), hifdz-al-aurad wa al-adzkar (menjaga waktu untuk kemanfaatan dan pahala Allah SWT) dan  dan khidmah lil –ummah (mendarmabaktikan kepada umat manusia kepada bangsa dan negara).

“Kelima asas itu muaranya  hidmah kepada umat dan bangsa. Maka tidak aneh, Habib lutfiy selalu menggelorakan Indonesia Raya di setiap kesempatan,” tegas Dosen pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada terlantik, Hamdani mengajak pengurus MATAN selalu mengikuti mursyid (guru) dan berakhlakul karimah. Ia juga  melarang pemanfaatan  organisasi untuk kepentingan politik. 

“Thariqah itu milik masyayih, jadi jangan sampai narik-narik ke politik. Kalau ada yang melakukan hal itu , pasti akan kualat.” tambah dia menandaskan.

Sementara Pengurus Cabang Jamiyah ahli Thariqah An Nahdliyyah (JATMAN) KH. Syafiq Nashan mengharapkan MATAN mampu meredam gejolak situasi yang panas terutama di kalangan anak muda. 

“Kita perlu meredam situasi panas ini dengan selalu berdzikir sebagai ajaran thariqah.  Karena itu, kita bersama-sama memasyarakatkan thariqah dan menthariqahkan masyarakat melalui matan.” Ujar KH Syafiq yang juga ketua MUI Kudus ini.

Sementara sebelumnya,  pengurus Cabang MATAN Kudus secara resmi telah dilantik ketua PP Hamdani Muin. Dengan disaksikan para kyai thoriqah dan tamu undangan lain, Deklarasi dan prosesi   pelantikan berlangsung hidmah.

Adapun susunan PC MATAN Kudus yang dilantik yakni Ketua Muhammad Mawahib dan wakilnya Ah.Amir Faisol, Malik Khoirul Anam dan Wahyu Setiadi. Sekretaris Moh saifudin Nawawi, wakil sekretaris saifudin Bachri, Khoirul Anwar dan Riza Jauharatul Muniroh, sedangkan Bendahara Ismail dan wakil bendahara Muslihatul Izza. 

Kepengurusan dilengkapi  tujuh departemen  yakni Manajemen dan Pengembangan sumber daya Manusia, Pengkaderan, Cinta tanah air, Kajian dan Litbang, Seni dan Budaya, Komunikasi dan Informasi serta Ekonomi dan entrepreneur.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Budaya, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang hidup dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ?. ? ? ? ? ? ?..? ?

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)
Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa (Sumber Gambar : Nu Online)

Taubat Tidak Harus Menunggu Dosa

?

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita. Sesungguhnya hanya taqwalah yang dapat menylematkan kita dalam kehidupan di dunia ini dan akhirat nanti. Diatara jalan yang akan menuntun kita meraih ketaqwaan adalah jalan taubat. Barang siapa bertaubat dari segalam macam tindak keburukan pastilah dia akan meraih ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu? menuntut diri menghindar dari kemaksiatan.

Kata taubat sudah menjadi bahasa keseharian dalam kehidupan kita. Taubat selalu diidentikkan dengan para pendosa. Taubat sering disandarkan kepada mereka yang bergelimang dalam dunia ‘gelap’ penuh dengan kemaksiatan. Demikianlah sehingga para pelaku dosa itu harus kembali hidup di jalan yang lurus dengan menghindarkan diri dari kesesatan.

Bupati Tegal

Memang demikianlah makna taubat secara bahasa yaitu kembali. Artinya, kembali meinggalkan perkara yang tercela dalam pandangan agama. Perkara yang tercela sangat banyak ragam dan tingkatannya. Bagi mereka yang berkecimpung dalam kehidupan yang sarat akan kemaksiatan maka taubat itu harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Bagi mereka yang keseharainnya selalu mengerjakan dosa-dosa kecil, maka taubatnya adalah menghindar dari dosa-dosa kecil tersebut. Karena jika ditumpuk, maka yang kecil akan menjadi besar juga. Demikian juga bagi mereka yang hiruk-pikuknya dalam kubangan kemakruhan (perkara yang dibenci agama) maka pertaubatannya dengan menghindar dari kemakruhan. Setiap pribadi harus selalu bertaubat menurut kapasitas masing-masing.

Abdul Wahhab As-Sya’roni menjabarkan berbagai tingkatan taubat. Taubat paling dasar adalah taubat yang harus dilakukan untuk kembali dari dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil, kemakruhan dan dari perkara yang tidak diutamakan.

Bupati Tegal

Tingkatan kedua adalah bertaubat dari merasa diri sebagai orang baik, merasa dirinya telah dikasihi Allah dan bertobat dari merasa dirinya telah mampu bertaubat kepada Allah swt. Sesungguhnya berbagai macam perasaan ini aalah sebuah kesalahan yang lahir dari penyakit hati manusia yang sangat halus.

Dan puncak taubat adalah kembali mengingat Allah swt dari kelalaian mengingatnya waluapun sekejap saja. Karena melupakan-Nya adalah sebuah dosa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimkumullah

Demikianlah tiga tingkatan taubat yang dijabarkan oleh As-Sya’roni. Selanjutnya tinggal kita meraba diri masing-masing dimanakan posisi kita berada dalam tiga tingkatan taubat tersebut. Andaikata kita masih berada dalam tingkat dasar, hendaklah kita pertahankan taubat kita sambil berusaha belajar menginjak taubat tingkat kedua. Dan apabila kita telah berada di tingkat kedua, maka berhati-hatilah sesungguhnya syaitan selalu mengintai kelengahan agar kita kembali terjerembab dalam kubangan dosa.

Oleh karena itu, Allah swt berfirman dalam surat Hud ayat 112

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini berada dalam kubangan kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang kasat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”

Hadirin Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Taubat merupakan kesempatan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya yang telah melakukan kesalahan. Taubat adalah peluang emas bagi manusia untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Oleh karena itulah jika kita ingin disayang olehnya segeralah bertaubat.

? ? ? ? ? ?

Allah swt sungguh mengistimewakan para pertaubat, apalagi jika mereka adalah orang-orang muda. Sungguh Allah swt. akan mengganti segala keburukannya menjadi kebaikan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. ?

Jama’ah Jum’ah yang Dimuliakan Allah

Demikianlah Allah swt benar-benar mengistimewakan mereka yang bertaubat sebagaimana kisah seorang pemabuk ketika berjumpa degan Umar bin Khattab, sedangkan dia sedang membawa botol berisi menuman keras. Diceritakan pada sebuah lorong kota Madinah, Umar bin Khattab tak sengaja berjumpa dengan seorang pemuda yang sedang berjalan dengan menenteng minuman keras. Begitu pemuda itu sadar sosok yang berpapasan dengannya adalah Umar, seketika itu pula secara reflek ia sembunyikan minuman keras dibalik jubahnya.

Lalu Umar bertanya tentang botol apakah gerangan yang berada dibalik jubahnya tersebut. Begitu malunya pemuda itu akan tingkah lakunya sehingga ia berdo’a dalam hati “Ya Allah janganlah Engkau membuka rahasia –keburukan-ku. Dan janganlah Engkau permalukan diriku di hadapan Umar bin Khattab, tutuplah semua itu dan aku berjanji tidak akan minum-minuman keras lagi selamanya”.

Kemudian pemuda itupun berbohong dan menjawab bahwa yang ada di balik jubahnya adalah cukak “Ya Amiral Mukminin yang aku bawa ini adalah cukak”. Umarpun menuntut lebih jauh “bukalah sehingga aku mengetahui apa yang sebenarnya kau sembunyikan dibalik jubahmu itu”.

Maka pemuda itupun mengeluarkan botol yang berada di balik jubahnya dan masyaallah minuman keras itu telah berubah menjadi cukak yang nikmat dan segar.

Inilah bukti betapa Allah swt memang mengistimewakan para pertaubat. Mereka yang telah bertekad bulat meninggalkan keburukan pasti Allah swt ganti dengan kebaikan ‘yubaddilullahu sayyiatihim hasanatin’

Jama’ah Jumah yang Berbahagia

Kisah di atas menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa modal bertaubat bukanlah baju koko, peci ataupun sorban dan sajadah, tetapi dengan tekad bulat dan niat yang mantab dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, serta kesadaran bahwa hanya Allahlah yang memberi petunjuk sekaligus Sang Maha Penerima Taubat.

Bukankah pengakuan akan kesalahan dan kebulatan tekad dari Nabi Adam as. sehingga Allah swt menerima pertaubatannya setelah Nabi Adam as. terbujuk syaitan memakan buah khuldi di surga.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Jama’ah Jum’ah yang Mulia

Demikianlah khutbah jum’ah kali ini semoga kita semua tergolong orang yang bertaubat. Sesungguhnya mereka yang bertaubat akan diselamatkan Allah swt dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Barang siapa memperkuat taubatnya, pasti dijaga Allah dari segala hal yang merusak keikhlasan dalam beramal.

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

?

(Pen/Red Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nasional, PonPes, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Delegasi PCINU Hadiri Pekan Budaya di Maroko

Tangier, Bupati Tegal. Menjadi sebuah kehormatan khusus bagi PCINU Maroko. Kali ini diundang oleh Jamíyyah Sidi Thalhah, Lembaga Pemerhati Lingkungan dan Karya Klasik yang bekerjasama dengan ASMIB (Assosiation Morocco Indonesia Brotherhood) untuk menghadiri acara Pekan Budaya.

Acara ini untuk dalam memperingati Sidi Thalhah dengan tema: “Perjuangan Al-Wali Sidi Thalhah Al-Darij dalam Memperjuangkan Kemerdekaan Maroko dan Pribadi Keagamaanya” yang berlangsung di dua kota, Tetouan dan Tangier 15-16 September 2012.

Delegasi PCINU Hadiri Pekan Budaya di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi PCINU Hadiri Pekan Budaya di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi PCINU Hadiri Pekan Budaya di Maroko

Acara ini dihadiri oleh Dubes RI untuk Kerajaan Maroko, KH Tosari Wijaya yang diundang untuk menyampaikan pidatonya dalam pembukaan seminar Pekan Budaya ini. Turut hadir juga penasehat Hukum Menteri Luar Negeri Maroko, Dr Ibrahim Amusi, Ketua Majlis Ilmi Tetouan,  Dr Abdlu Ghofour An-Nasir, Sejarawan Maroko, Mohamed Ben Azuz Hakiem, Ketua Organisasi Dakwah Islam Chefchaouen, Maroko, Ali Raisuni, Perwakilan Dubes Malaysia, Delegasi Pelajar Turki di Maroko, pejabat KBRI Rabat, para Tokoh dan Ulama Maroko serta tamu undangan. Sedangkan dari Delegasi PCINU sendiri diwakili oleh Dewan Mustasyar (H Husnul Amal Masúd), Sekretaris (Rifqi Maula) dan Koordonator LPNU (Sri Hidayanti) serta beberapa anggota NU Maroko.

Dalam acara ini, selain bertujuan memperingati sosok Sidi Thalhah sebagai Pejuang Kemerdekaan Maroko. Juga diperingati sosok Almarhumah Mahsushoh Ujiati, Istri KH Tosari Wijaya yang mendapatkan anugerah penghargaan sebagai pejuang muslimah hubungan Indonesia-Maroko yang wafat di Maroko pada tahun 2011 yang lalu.

Bupati Tegal

Rangkaian acara ini diawali dengan pembukaan seminar yang diisi oleh sambutan-sambutan dari beberapa Tokoh dan Pakar sejarah Maroko. Tidak ketinggalan pula tim Rebana PPI Maroko yang tergabung dalam anggota luar biasa (STAINU), ikut memeriahkan pembukaan Pekan Budaya ini. Acara ini masih berlangsung dengan berbagai agenda seperti festival musik khas Maroko dan sholawatan yang akan diselenggarakan di Malosa-Tangier.

Dubes RI untuk Kerajaan Maroko dalam pidatonya mengatakan, “Ketika kita membicarakan hubungan Indonesia-Maroko, maka tidak pernah terpisahkan dari peran ulama Maroko dalam penyebaran Islam di Indonesia, seperti Ibnu Bathutoh dan Maulana Malik Ibrahim serta Pejuang Imama Bonjol yang ibunya berasal dari Maroko. Maka tidak heran jika Islam moderat di Indonesia sama dengan Islam moderat di Maroko.”

Bupati Tegal

Prof Dr Mariam Ait Ahmed dalam sambutannya mengatakan,”Saya sangat salut dengan warga Indonesia yang sangat menghormati ulama Maroko dan karya-karyanya, seperti melanggengkan Dalailul Khoirat dalam setiap wiridnya…”

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Daerah, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 28 September 2017

Tiga "O" untuk Infotaintment Indonesia

Jakarta, Bupati Tegal

Pro dan kontra fatwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang mengharamkan tayangan infotainment, Pakar Komunikasi Universitas Indonesia Dr Effendy Ghozali MA angkat bicara. Ia memberikan tiga penilaian tentang karakter infotaintment di Indonesia, yakni over-explosive, over-simplified dan over-claim.

Hal itu dikatakannya saat hadir sebagai salah satu narasumber pada dialog publik bertajuk “Infotaintment; Kezaliman Era Baru?” di gedung Badan Perfilman Nasional, Jalan? MT Haryono, Jakarta Selatan, Kamis (10/8). Selain itu, hadir juga Ketua PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siradj, Budayawan Prof Dr Abdul Hadi WM, Ketua Dewan Pers Hans Miller dan Ketua Seksi Film dan Budaya PWI DKI Jaya Akhlis Suryapati.

Dijelaskan Effendy, over-explosive maksudnya, tayangan infotaintment sudah terlalu banyak, semua stasiun televisi di Indonesia memiliki program acara serupa. Akibat dari hal tersebut, katanya, infotainmen justru menjadi sarana sinisme bukannya menjadi media informasi yang mencerdaskan masyarakat.

Tiga O untuk Infotaintment Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga O untuk Infotaintment Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga "O" untuk Infotaintment Indonesia

Sementara over-simplified, lanjut Effendy, cara kerja para jurnalis infotaintment terlalu mudah menyederhanakan dan menyimpulkan sebuah persoalan. “Ketika seorang artis ditemui sedang berjalan dengan orang lain, langsung saja disimpulkan selingkuh atau sedang ada affair. Intinya mengada-ada,” katanya.

“Ketika seorang narasumber mengatakan tidak mau diwawancarai seharusnya si wartawan balik kanan dan langsung pulang. Tapi ini nggak, malah sampe kemping di depan rumah sang artis, mepet mobil sang artis di jalan tol,” tambah Effendy.

Sedangkan penilain yang ketiga, yakni over-claim, menurutnya media infotaintment selalu mengklaim demi kepentingan publik. Seolah-olah publik harus mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada artis. “Perceraian seorang artis dengan pasangannya diklaim bahwa hal itu sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

Bupati Tegal

Hingga saat ini, imbuhnya, sasaran dari pada berita infotaintment masih berkisar pada kehidupan pribadi selebritis. Tidak akan lama lagi, katanya, berita-berita infotaintment akan merambah pada profesi yang lain, misalkan saja tokoh politik.

“Kita lihat saja minggu-minggu ini sejumlah infotaintment sedang memberitakan kehidupan pribadi salah seorang tokoh politik dari PAN (Partai Amanat Nasional). Ini artinya, nanti gosip infotaintment itu tidak lagi didominasi selebritis,” terang Effendy.

Sementara itu, KH Said Aqil Siradj kembali menegaskan, fatwa hukum haram tayangan yang banyak diminati kalangan ibu-ibu dan remaja putri itu karena dasarnya sudah jelas. Para ulama NU yang membahas hal tersebut satu pendapat mengatakan bahwa isi dari tayangan itu adalah haram.

“Membuka, mempergunjingkan keburukan orang disebut ghibah. Semua kiai tidak ada yang berbeda pendapat bahwa ghibah itu hukumnya haram ‘absolut’. Dasarnya jelas, bukan dari ijma atau qiyas, tapi langsung dari hadis,” terang Kang Said, demikian panggilan akrabnya.

Bupati Tegal

Ditambahkan Kang Said, fatwa haram PBNU yang dihasilkan dari proses Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Surabaya akhir Juli lalu itu merupakan cara NU dalam mengajak umat pada kebaikan dan meninggalkan keburukan. “Ini cara kita (NU, red) ber-amar ma’ruf nahi munkar. Mau diikuti silakan, nggak mau ya nggak apa-apa,” tandasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, ia menjamin fatwa tersebut tidak akan diikuti dengan aksi sweeping terhadap orang-orang yang tidak mengikuti keputusan PBNU itu. “Jangan khawatir, saya menjamin PBNU tidak akan menurunkan banser untuk melakukan sweeping. Kalau ada, saya tegaskan, itu pasti bukan dari PBNU,” ungkapnya.

Berbeda dengan keduanya, Abdul Hadi WM mengatakan, tayangan infotaintment yang kebanyakan berisi gosip dan membuka aib orang lain itu merupakan upaya dari pendangkalan budaya bangsa. “(infotaintment, red) itu pendangkalan budaya, demoralisasi tidak ada nilai yang terkandung di dalamnya,” tegasnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Fragmen, Doa, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Jumat, 07 April 2017

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah

Jakarta, Bupati Tegal. Buku biografi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin diluncurkan dan dibedah di Auditorium Langen Palikrama Kantor Pegadaian, Jalan Kramat Raya Nomor 162, Jakarta Pusat, Selasa (26/3).

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)
Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah (Sumber Gambar : Nu Online)

Biografi KH Ma’ruf Amin Dibedah

Hadir sebagai pembicara dalam bedah buku ini Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Rektor Universitas Krisnadwipayana  Lodewijk Gultom, pakar ekonomi Islam dari IPB Irfan Syauqi Beik, dan Ketua Komisi Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat Ahmad Zain An Najah.

Buku biografi dan pemikiran bertajuk ” 70 Tahun KH Ma’ruf Amin: Pengabdian Tiada Henti kepada Agama, Bangsa, dan Negara” ini diterbitkan The Ibrahim Hosen Institute (IHI). Selain mengulas sejarah hidup Ma’ruf Amin, buku ini juga memuat sejumlah artikel kesaksian para tokoh tentang pengurus NU yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia ini.

Bupati Tegal

Dihadapan Forum, Masdar mendorong Maruf Amin lebih berkonsentrasi kepada unsur kemaslahatan dan kemudaratan dalam menaggapi suatu permasalahan. Menurut dia, hal ini lebih penting dan relevan ketimbang formalisme agama menyagkut status halal dan haram.

Ma’ruf Amin yang tak memilih banyak bicara saat itu mengungkapkan terimakasihnya atas penulisan buku tentang dirinya. Kiai kelahiran Tangerang, Banten, 11 Maret 1943 ini mengaku tak terlalu risau dengan segenap dukungan dan penolakan atas pemikiran dan kiprahnya selama ini.

Bupati Tegal

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nusantara, Olahraga, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Minggu, 19 Maret 2017

Beginilah Perkembangan Istilah Aswaja dari Zaman ke Zaman

Bawean, Bupati Tegal?

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah Islam murni sebagaimana diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya. Demikian disampaikan Ustadz Faris Khoirul Anam, dalam bedah buku Khazanah Aswaja di Bawean di dua tempat, pertama ? di masjid An-Nur Sangkapura pada Kamis malam (23/03/’17) dan bedah buku kedua bertempat di RA Muslimat NU di Desa Daun yang diikuti delegasi Fatayat se-Bawean pada Jumat, (24/03/’17). Bedah buku menghadirkan dua pembedah yang merupakan tim penulis buku, yaitu Ustadz Faris Khoirul Anam dan Ustadz Yusuf Suharto.

Bedah buku yang diikuti utusan lima MWCNU di lingkungan PCNU Bawean, juga para pengurus ranting itu dihadiri Ketua PCNU Bawean, Kiai Fauzi Rouf, Direktur Aswaja NU Center PCNU Bawean, Kiai Syamsuddin. Berbicara dalam kesempatan pertama, anggota Dewan Pakar Aswaja NU Center PWNU Jatim ini menyampaikan anatomi buku secara global dan kemudian menyampaikan fase perkembangan istilah Ahlussunnah wal Jama’ah. ?

Beginilah Perkembangan Istilah Aswaja dari Zaman ke Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Beginilah Perkembangan Istilah Aswaja dari Zaman ke Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Beginilah Perkembangan Istilah Aswaja dari Zaman ke Zaman

“Aswaja sebagai manhaj atau metodologi itu sudah ada sejak Nabi dan dipraktekkan oleh para sahabat. Namun secara ideologi dirumuskan kembali oleh terutama Syekh Abul Hasan Al-Asyari dan Abu Manshur al-Maturidy,”demikian dikatakan Direktur Aswaja NU Center Kota Malang ini. “Perumusan kembali ? itu disebabkan adanya penyimpangan-penyimpanag dari ajaran Islam murni di zaman Nabi, misalnya Syiah, Muktazilah dan Khawarij. Pada dinamika berikutnya Aswaja menjadi landasan institusi atau dasar organisasi misalnya dilakukan oleh Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathan, dan lainnya.”

Sementara itu Yusuf Suharto menyampaikan bahwa istilah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai Islam murni itu pernah diprediksikan oleh Rasulullah dalam hadits perpecahan umat Islam.

Bupati Tegal

“Kalau mengacu pada yang disampaikan Imam Al-Ghazali dan Imam Syahrastany maka istilah Ahlussunnah wal Jamaah itu pernah dikenalkan Nabi dalam hadits perpecahan umat sebagaimana disampaikan kedua beliau dalam salah satu kitabnya.”

“Sebagai istilah, Ahlussunnah wal Jama’ah juga dipakai Imam Abul Hasan dalam kitab Maqalutl Islamiyyin Wakhtilaful Mushallin,” ujar Direktur Aswaja NU Center Jombang ini.

Bupati Tegal

“Menurut Syekh Abdul Qadir Jilany sunnah itu adalah thariqahnya Rasulullah dan jamaah itu adalah apa yang disepakati para sahabat di era Khulafaur Rasyidin. Dari sini kita bisa menyimpulkan, dengan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah itu adalah golongan yang mengikuti sunnahnya Rasulullah dan sunnahnya para sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin. Al-Jamaah juga diartikan sebagai golongana mayoritas. Dengan demikian aswaja juga mereka yang mengikuti pemahaman dan pengamalan jumhur umat Islam dalam pokok-pokok akidah.”

“Dalam kenyataannya, mayoritas umat Islam hingga kini dalam aqidah mengikuti rumusan Syekh Abul Hasan Al-Asy’ari, dan Syekh Abu Manshur al-Maturidy, dalam fikih mengikuti mazhab empat dan dalam tasawuf mengikuti Imam Junaed, Imam Ghazali atau Imam Abul Hasan as-Syadzily.”

Dalam sesi tanya jawab Ustadz Faris menjawab pertanyaan tentang bid’ah mengatakan,

“Bid’ah itu bukan hukum, tetapi merupakan perilaku, karena hukum itu cuma ada lima. NU yang mengakui keabsahan bid’ah hasanah adalah representasi pemahaman mayoritas ulama karena mayoritas empat madzhab mengakui keberadaan bid’ah hasanah.Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren Bupati Tegal

Minggu, 23 Oktober 2016

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Makassar, Bupati Tegal. Rais Syuriyah PBNU AGH M. Sanusi Baco memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (20/12) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tampak � hadir dalam penganugerahan itu antara lain Dr H M. Jusuf Kalla, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Dalam sambutan Promotor dan Co Promotor Prof Dr H. Minjahuddin MA dan Prof Dr H. Achmad Abubakar M.Ag. mengatakan, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren.

“Beliau telah berupaya pengembangan Ilmu Perbandingan Mazhab, selaku dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin mengajarkan Ilmu Ushul Fikih dan Ilmu Fikih Perbandingan Mazhab. Ternyata ketiak Promovendus menjadi Ketua Jurusan Perbandinagan Mazhab Fakultas Syariah antara tahun 1977-1983," jelas Minhajudin.

Bupati Tegal

"Beliau telah berupaya mengembangkan Ilmu Fiqih Perbandingan Mazhab dengan mewajibkan bagi mahasiswa yang akan ujian akhir jurusan agar membaca salah satu buku referensi dalam Mata Kuliah, diantaranya, Kitabul Fiqh ‘ala Habbul Arba’ah (Mazhab Syafi’i), Bidayatul Mujtahid (Mazhab Maliki), Fiqh Hanbali, dan Fiqh Al Islamiyah Wa Adillatuhu (MAzhab Hanafi),” lanjutnya.

Metode perbandingan Mazhab juga diajarkan Promovendus kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Penyelenggaraan PKU tersebut dipusatkan di Masjid Raya Makassar dan Asrama PHI dan hingga kini sudah terlaksana sampai angkatan ke-15. Lulusan PKU tersebut ada yang melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2-S3) UIN Alauddin Makassar, ada yang menjadi PNS, Pengusaha dan ada yang menjadi imam dan membina pesantren di daerahnya. Jelas Promotor beliau

Bupati Tegal

AGH M. Sanusi Baco, Lc dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai Rois Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua MUI Sulsel, serta pada Muktamar NU 2009 di Makassar beliapun masuk dalam jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Redaktur Â? Â? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Habib, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Selasa, 23 Agustus 2016

Ansor Bondowoso Gelar Sosialisasi Sistem Administrasi

Bondowoso,? Bupati Tegal



Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso mengadakan acara? Sosialisasi Tata Kelola Administrasi GP Ansor dan Sosialisasi Sistem Akreditasi.

Kegiatan tersebut diikuti Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor, Satkorcab, jajaran ketua, sekretaris, Satkoryon Banser, dan Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat ( LMDS) Rijalul Ansor (RA) se-Kabupaten Bondowoso.

Ansor Bondowoso Gelar Sosialisasi Sistem Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bondowoso Gelar Sosialisasi Sistem Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bondowoso Gelar Sosialisasi Sistem Administrasi

Acara tersebut dilaksanakan aula PCNU Bondowoso Jalan KH Agus Salim No 85 Belindungan Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso ? Jawa Timur Jumat (1/07) sore.

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil mengatakan untuk hal-hal lain terkait dengan hal-hal tentang akreditasi perlu dipersiapkan. "Ada berapa? form, itu tolong dilengkapi, apa adanya seperti," ungkapnya.

Bupati Tegal

Setelah Lebaran, pimpinan cabang mengagendakan turba ke masing-masing PAC untuk silaturrahim dan juga penguatan organisasi baik di tingkat ranting, PAC, dan cabang.

Muzammil juga menyampaikan pimpinan cabang masih berupaya untuk mendirikan lembaga perekonomian. Ia telah melakukan komunikasi dengan Dewan Penasehat Ansor.?

"Mudah-mudahan sambung doa," pinta Muzammil. "Ini bukan janji, tapi sudah ada semacan restu dari dewan penasehat untuk mendirikan lembaga perekonomian semisal koperasi dan juga nanti unit -unit usaha yang lain yang memang nantinya dapat mendorong kemandirian organisasi," paparnya di hadapan PAC dan Satkoryon yang hadir.

"Untuk itu mari kita berdoa semoga cepat terealisir," imbuh Muzammil. "Saya berharap mari kita solidkan barisan kita untuk Ansor ke depan," ajaknya.

Bupati Tegal

Dewan Penasehat GP Ansor Bondowoso H Ahmad Dafir dalam sambutannya menyampaikan bagaimana mengelola organisasi dengan benar. "Kita memahami, menyadari, dan punya tekad yang sama untuk mencapai sebuah cita-cita organisasi, yaitu tegaknya akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Narasumber untuk tema? Sosialisasi Tata Kelola Administrasi? ? Usman menjelaskan tiga yaitu tentang surat rutin (SR), SK (Surat Keputusan) misal SK kegiatan pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar (PKD), dan alat kelengkapan organisasi misalnya stempel.?

Turut hadir di acara tersebut Dewan Penasehat GP Ansor Bondowoso H Ahmad Dafir (Ketua DPRD Bondowoso), Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil, Komandan Kasat Satkorcab Banser Bondowoso Susilo, Ketua Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowoso Ahmad Junaidi.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan shalawat yang diiringi oleh Grup Hadrah Rijalul Ansor Bondowoso. Acara ini sekaligus buka puasa bersama. Pada kesempatan itu, dibagikan bingkisan berupa sarung di masing-masing PAC GP Ansor dan LMDS Rijalul Ansor serta pengurus pimpinan cabang GP Ansor Bondowoso.? (Ade Nurwahyudi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Habib, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Sabtu, 06 Agustus 2016

Para Peraih Nobel Desak DK PBB Selesaikan Persoalan Rohingya

New York, Bupati Tegal



Puluhan peraih hadiah Nobel, termasuk Uskup Desmod Tutu dan Malala Yousafzai, Kamis waktu AS mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk menghentikan "pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan" di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Sudah 86 orang tewas dalam tindakan militer di Rakhine, yang dilancarkan setelah serangan ke kantor-kantor polisi di dekat perbatasan dengan Bangladesh pada 9 Oktober.

Para Peraih Nobel Desak DK PBB Selesaikan Persoalan Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Peraih Nobel Desak DK PBB Selesaikan Persoalan Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Peraih Nobel Desak DK PBB Selesaikan Persoalan Rohingya

Pemerintah Myanmar yang sebagian besar penduduknya beragama Budha, menuding etnis muslim Rohing dengan dukungan milisi asing mengkoordinasikan serangan yang menewaskan sembilan polisi itu.

Lebih dari 30.000 orang mengungsi ke Bangladesh untuk menghindari kekerasan. Peristiwa itu mengundang kritik dunia bahwa pemerintahan Aung San Suu Kyi tidak berbuat banyak untuk membantu para warga Rohingya yang tidak diberi kewarganegaraan di Myanmar.

Dalam surat terbuka kepada Dewan Keamanan, Desmond Tutu dan 22 sosok terkemuka lainnya, termasuk peraih Nobel Perdamaian Jose Ramos Horta dan Muhammad Yunus, mengatakan "tragedi kemanusiaan yang menjadi pembersihan etnis serta kejahatan terhadap kemanusiaa sedang terjadi di Myanmar".

Bupati Tegal

"Jika kita tidak mengambil tindakan, orang-orang bisa mati kelaparan kalau tidak mati terbunuh peluru," demikian bunyi surat itu.

Bupati Tegal

Surat itu memperingatkan bahwa kekerasan seperti itu pernah terjadi saat pembersihan etnis di Rwanda pada 1994 serta di Darfur-Sudan barat, Bosnia dan Kosovo.

Para penandatangan surat mengatakan bahkan jika sekelompok etnis Rohingya berada di balik serangan 9 Oktober, tindakan yang dilancarkan militer Myanmar "sangat tidak seimbang".

Pemerintah Myanmar membantah tuduhan bahwa militer mengerahkan kekuatan berlebihan dalam menangani serangan Oktober.

Surat kepada Dewan Keamanan --yang beranggotakan 15 negara-- diprakarsai oleh Ramos Horta dan Muhammad Yunus yang melancarkan revolusi pendanaan bagi kaum miskin di Bangladesh.

Juru bicara kepresidenan Dewan Keamanan PBB yang saat ini dijabat Spanyol, memastikan Dewan sudah menerima surat yang juga menungkapkan frustrasi para penanda tangan bahwa Suu Kyi, sang penerima Hadiah Nobel Perdamaian 1991, tidak memberikan jaminan hak-hak kewarganegaraan bagi warga Rohingya.

Surat juga berisi desakan agar pemerintah Myanmar mencabut segala pembatasan untuk bantuan kemanusiaan ke Rakhine, demikian Reuters. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kiai, Pondok Pesantren, Doa Bupati Tegal

Senin, 03 Agustus 2015

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah

Jenewa, Bupati Tegal. Pemimpin Komite Palang Merah Internasional (ICRC), Rabu (11/9), menyerukan upaya gabungan dari masyarakat internasional untuk memastikan bantuan yang diberikan menjangkau orang-orang yang memerlukan di Suriah.

Peter Maurer, Presiden ICRC mengatakan di markas organisasi tersebut di Jenewa bahwa perang yang berkecamuk di Suriah dan dampak tak terkendali dari konflik bersenjata itu atas rakyat sipil Suriah menjadi keprihatinan besar.

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Palang Merah Internasional Serukan Bantu Rakyat Suriah

Ia menyerukan perhatian mendesak pada situasi menyedihkan rakyat Suriah yang tak mendapatkan di antaranya makanan yang diperlukan, barang kebutuhan rumah tangga, air, fasilitas kebersihan, dan bahkan fasilitas serta perawatan medis.

Bupati Tegal

"Apa yang kita lihat ialah peningkatan penderitaan rakyat Suriah dari dampak perang ini," kata Maurer.?

Ia menambahkan konflik itu telah mengakibatkan banyak kematian dan pengungsian, dan membuat banyak orang jadi pengungsi di dalam negeri mereka.

Bupati Tegal

Maurer kembali menyeru para pelaku utama yang memiliki pengaruh pada semua pihak atau kelompok dalam konflik Suriah agar menggunakan pengaruh politik dan diplomatik mereka serta saluran komunikasi, sehingga "para aktor kemanusiaan di lapangan dapat melakukan pekerjaan yang mesti mereka lakukan". (antara/mukafi niam)

Foto: AP

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Humor Islam, Nasional, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock