Jumat, 13 November 2009

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Jepara, Bupati Tegal. Pendeta Gereja Injili Tanah Jawa (GITJ) Jepara, Danang Kristiawan didaulat untuk menjadi pembicara dalam “Ngaji Gus Dur; Tadarus Kemanusiaan, Budaya dan Islam Indonesia” di pesantren Darus aadah desa Bugel kecamatan Kedung kabupaten Jepara, Kamis (9/7) lalu.

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan

Pada kesempatan itu ia diminta panitia kegiatan kerja sama Lakpesdam NU Jepara, Gusdurian Jepara, dan Fakultas Syariah dan Hukum Unisnu Jepara untuk berbicara Gus Dur dan keindonesiaan.

Danang membidik Gus Dur dari sisi demokrasi dengan mengutip 3 referensi, yaitu Islamku, Islam Anda dan Islam Kita (buku), Islam, Pluralism and Democracy (artikel) serta Islam and Indonesia; Religio Political Thought of Abdurrahman Wahid.

Bupati Tegal

Demokrasi bagi Gus Dur merupakan ruang di mana setiap kelompok dapat berkontribusi untuk kebaikan bersama. Demokrasi memberi kesempatan setiap kelompok untuk menyelesaikan permasalahan secara dewasa.

Bupati Tegal

“Demokrasi dengan demikian tidak sekadar suara terbanyak tetapi adanya kesempatan setiap kelompok bahkan yang kecil dan berbeda sekalipun untuk menyampaikan pendapat dan keinginannya.

Sehingga dalam berdemokrasi memiliki dua tantangan, yakni sikap yang sangat diperlukan dalam berdemokrasi. Kesediaan untuk peduli kepada kepentingan yang lain dan kesediaan untuk memberi dan menerima terhadap pihak lain. Ini merupakan sikap dan kerendahan hati.

“Jadi nilai dalam demokrasi menurut pembacaan saya terhadap Gus Dur adalah diperlukannya sikap kepedulian kepada yang lain yang berbeda dan kerendahan hati terhadap yang lain. Menurut saya inilah yang mewarnai pemikiran politik keindonesiaan Gus Dur,” terangnya.

Pembina Komite Sekolah Minggu GITJ Jepara ini menambahkan demokrasi tidak akan bisa hidup hanya secara formal saja misal pemilu dan sebagainya. Demokrasi perlu untuk dihidupi masyarakat dalam kehidupannya.

Berikutnya soal agama dan negara sebagai mutual supportive, saling mendukung. Jadi bukan negara agama dan negara sekuler. Dalam hubungan yang saling mendukung itu masing-masing punya fungsi yang beda. Agama sebagai landasan moral dan etis. Sedangkan negara melindungi dan memfasilitasi agama-agama.

Sehingga dalam konteks Indonesia yang plural, Pancasila adalah landasan terbaik. Karena merupakan kompromi dari kelompok yang ada. Pancasila bersumber juga pada nilai-nilai agama.?

“Jadi agama dalam konteks negara berperan dalam memberikan esensinya, nilai-nilainya, bukan bentuk atau sistemnya. Karenanya Gus Dur pernah berkata akan mempertahankan Pancasila sepenuh hidup,” imbuh Danang.

Dalam kesempatan ini hadir juga pembicara lain. Kholis Hauqola memaparkan Biografi Gus Dur dan Sholahuddin bicara tentang Gus Dur dan Pesantren. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ulama, Nahdlatul Ulama, Kiai Bupati Tegal

Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Pendeta Danang Kupas Gus Dur dalam Keindonesiaan di Bupati Tegal - Kabupaten tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock