Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Upaya LAZISNU Temanggung Bantu Korban Bencana di 3 Kabupaten

Temanggung, Bupati Tegal

Kabupaten Pacitan di Jawa Timur; Wonogiri Jawa Tengah; dan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah-daerah yang saat ini cukup mendapat sorotan akibat adanya bencana alam. Mengetahui kejadian alam ini, Nahdliyyin Temanggung tak sekadar menjadi penonton. 

Tiap MWCNU melakukan penggalangan bantuan, termasuk badan otonom NU cepat bertindak demi program kemanusiaan ini. Terlebih setelah PCNU mengeluarkan interuksi bahwa semua bantuan agar dikumpulkan dalam satu wadah program Donasi Tanggap Bencana NU Care-LAZSINU Temanggung.

Upaya LAZISNU Temanggung Bantu Korban Bencana di 3 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya LAZISNU Temanggung Bantu Korban Bencana di 3 Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya LAZISNU Temanggung Bantu Korban Bencana di 3 Kabupaten

Selepas dilayangkannya interuksi tersebut, NU Care-LAZISNU Temanggung bertindak menjadi mediator. Dalam kurun waktu satu minggu terkumpul uang Rp16.570.000,- (Enam belas juta lima ratus tujuh puluh ribu rupiah); beras 34 karung; pakaian pantas pakai 43 dus; mie instan 54 dus, dan barang lain yang bermanfaat bagi korban bencana. 

“Dari 46 donatur (berupa uang) yang masuk ada yang menyetorkan langsung kepada petugas, ada pula yang transfer ke rekening LAZISNU Temanggung,” kata H Sujari, Ketua LAZISNU Temanggung, Rabu (13/12).

Keaktifan NU Care-LAZISNU sejak dua tahun ini mendapat tingkat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat. Terhitung, para donatur NU Care-LAZISNU Temanggung terdiri dari Nahdliyin dan masyarakat umum.

Bupati Tegal

“Alhamdulillah lambat laun LAZISNU Temanggung semakin dipercaya oleh masyarakat, baik dari internal NU sendiri maupun luar NU, terbukti ada satu lembaga pendidikan bukan milik NU namun juga memberikan donasinya melalui LAZISNU,” tutur pria yang juga Kepala KUA Temanggung ini. 

Khusus untuk program Tanggap Bencana NU Care LASINU periode ini, seluruh donasi dan bantuan tersebut disalurkan kepada NU Care-LAZISNU Wonogiri, Selasa (12/12).

Bantuan tersebut secara simbolis diterima oleh jajaran PCNU Wonogiri. Tak cukup itu saja, Pak Jari, demikian sapaakn akrab H Sujari, dan tim NU Care-LAZISNU Temanggung bertekad untuk melanjutkan program Donasi Tanggap Bencana Tahap berikutnya. (Ja’far/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Halaqoh Bupati Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Yogyakarta, Bupati Tegal. Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah kesempatan ceramah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menyatakan sungguh sayang jika kita hanya memiliki guru-guru yang masih hidup. Justru mereka, para kiai dan ulama yang telah lama wafat, adalah guru sejati kita. Sebab, menurut tokoh kelahiran Bone (Sulawesi Selatan) itu, mereka yang telah sumare kini tak memiliki kepentingan lagi. Dan baik buruknya seseorang hanya dapat diketahui saat ia telah tiada.

Pemikiran Nasaruddin di atas—juga banyak ulama yang mengatakan hal senada—membuat kami memutuskan untuk menziarahi para guru, ulama, dan kiai. Memanfaatkan hari libur beberapa waktu lalu, kami memulai ziarah tepat 8 pagi. Aroma basah jalanan sisa hujan semalam masih kuat terasa. Dari bilangan Krapyak, Bantul, kami berlima—rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY—langsung menuju makam Dongkelan, makam dari KH Moenawwir, KH Ali Maksum, dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak, Bantul. Bacaan tahlil kami lakukan sekitar 20 menit dan perjalanan dimulai lagi. Tepat Pukul 09.15 kami sampai di makam KH Nur Iman atau sering disebut BPH Sandiyo. Makam ini terletak di Mlangi, sekitar 200 meter dari ring road barat. Kalau saat momentum Ramadhan, kampung ini dikenal sebagai sentra mercon kota Yogya.

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)
Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Makam Mbah Kiai Nur Iman tepat berada di barat Masjid Pathok Negara Mlangi. Saat kami masuk, ada dua orang santri perempuan sedang khusyuk mengaji. Kedatangan kami tampaknya tak mengganggu mereka, terbukti bacaan Qur’an tetap nyaring, stabil dan terus mereka lantunkan.

Bupati Tegal

Sunan Pandanaran

Bupati Tegal

Pukul 10.00 kami meninggalkan Mlangi, kemudian bergegas menuju Bayat, Klaten. Maklum, momentum liburan dan kendaraan luar kota mulai padat memasuki Yogyakarta dari arah timur membuat kami mesti pintar-pintar estimasi waktu. Tujuan kami adalah Makam Sunan Pandanaran, atau Sunan Padang Aran, atau dikenal juga Sunan Bayat. Arah menuju makam cukup gampang. Anda tinggal menuju Klaten dan dari arah Yogya sudah ada papan plang penunjuk jalan menuju makam. Masuk sekitar 8 km dari jalan utama Yogya-Solo.

Makam Sunan Pandanaran terletak di Gunung Cokrokembang. Tak heran Anda mesti menaiki sekitar 250 anak tangga. Bagi yang jarang olahraga, pasti nafas akan cukup tersengal. Tapi Anda tak perlu khawatir, bagi yang tidak kuat, ojek motor siap mengantar Anda sampai atas dengan tarif Rp 7.000 sekali naik. Di samping kiri-kanan tangga terdapat para penjual cinderamata, pakaian, makanan khas, dan sarung termasuk aneka tasbih, cincin akik bahkan alat masak tradisional. Pokoknya komplit!

Semuanya laris dilihat dari banyaknya peziarah yang memborong. “Kiai besar itu sudah wafat saja masih menghidupi banyak orang, sedang kita yang masih hidup justru selalu mencelakakan orang,” tukas teman yang ikut ziarah. 

Sejak pintu kedatangan ada beberapa gapura yang langsung menyambut kedatangan kita. Dimulai dari Gapura Segara Muncar di depan parkiran, Gapura Dhuda yang menyapa di depan anak tangga pertama, Gapura Pangrantungan hingga Gapura Panemut, Pamuncar, Balekencur, Prabayeksa yang keempatnya berada di kompleks makam.

Di samping Gapura Dhuda Anda diwajibkan membayar retribusi masuk Rp 1.000/orang. Sedang di Gapura Pangrantungan Anda akan disambut abdi dalem diminta untuk mendaftarkan diri. Kata seorang abdi dalem yang berjaga, tiap hari ada 1.000 pengunjung yang datang ke sana. “Apalagi kalau bulan Ruwah dan Rejeb, bisa sampai 2.000 orang yang ziarah,” katanya lagi. Di gapura ini, terdapat masjid yang disediakan bagi peziarah sekadar melepas lelah dan untuk menegakkan sholat. Rasa lelah setelah naik tangga akan terbayar dengan pemandangan Kota Klaten dan Yogya dari atas yang sungguh elok rupa. Jajaran pegunungan seribu juga terlihat dan inilah yang disebut Jolosutra. Tempat di mana Sunan Kalijaga ‘menanam’ murid-muridnya untuk menyebarkan agama Islam, sekaligus membentengi masyarakat dari gangguan dari luar.

Kompleks Makam Sunan Bayat cukup eksotis. Bangunannya mirip pura atau Kerajaan Hindu. Didukung dengan masyarakat sekitar yang tampaknya sadar akan potensi ini, maka jadilah ziarah di Makam Sunan Bayat mampu menjadi magnet siapapun yang melakukan perjalanan wisata spiritual.

Saat kami tiba di makam, ternyata ratusan peziarah sedang melafalkan kalimat tahlil. Mereka datang dari Cilacap, Tuban dan Rembang. Pukul 13.30 kami akhiri dan bersegera menuntaskan ziarah hari itu. Keasyikan ziarah dan mengenang kembali jasa serta ajaran mereka yang telah sumare membuat kami lupa untuk santap siang. Kami memilih sebuah restoran di pinggir Jalan Raya Solo-Yogya. 

Tampaknya arus kendaraan yang berjejal ingin masuk ke Yogya sangat padat sekali. Rencana untuk ziarah ke makam KH Zainal Muttaqin, salah seorang putra Sunan Kalijaga yang berada di selatan Bong Supit Bogem terpaksa kami urungkan. Kami berbelok ke selatan menuju Dusun Jolosutro. Di sana terdapat makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga lainnya.

Sekitar Pukul 16.00 kami sampai di Dusun Jolosutro yang terelak 5 km di selatan Jalan Yogya-Wonosari km 14. Kami sholat ashar di Masjid Sunan Geseng dan naik menuju makam. Setelah memarkir kendaraan kami hendak jalan kaki menuju makam. Seorang penduduk mengingatkan kami, jalan kaki menuju makam menempuh jarak 1 km dan menghabiskan 30-40 menit. Terjal, naik dan siapapun yang tidak terbiasa akan kewalahan. Untungnya ada penduduk lainnya yang memberitahu, jalan menuju makam relatif mulus dan dapat dilalui kendaraan asal lewat jalur Patuk Gunungkidul. Kami menurut saja. Perkiraan waktu pulang dari makam selepas maghrib tentu tak nyaman jika harus menuruni bukit.

Putar haluan, kami menuju Patuk. Tepat di pos polisi Patuk kami ke selatan, ikuti jalan hingga ada bak air raksasa. Ambil kiri dan menapaki jalan hotmix yang berdasarkan papan keterangan dibangun oleh Pemkab Bantul, sampailah kami di makam Sunan Geseng. Benar saja, kendaraan dapat dibawa sampai kompleks makam. Di sana ada musholla kecil dan kamar mandi dengan air melimpah.

Sunan Geseng atau Pangeran Panggung adalah salah satu putra Brawijaya V yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Konon ada 99 makam Sunan Geseng di seluruh nusantara, tapi yang diyakini benar sebagai makamnya ada di tiga tempat: Tuban, Grabag, dan Jolosutro Piyungan. Gus Dur sendiri pernah ziarah di sini dan mengatakan yang paling tepat dari kemungkinan yang ada hanyalah yang di Jolosutro Piyungan.

Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk pulang. Seharian ziarah di kawasan DIY-Jateng tentu menguras tenaga. Namun, kami percaya bahwa mereka yang telah sumare itu memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Dan sepantasnya bagi kita untuk mendoakan mereka, berharap ikatan batin itu selalu terjaga. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Halaqoh Bupati Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji

Pringsewu, Bupati Tegal - Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim (Mas Taufiq) berpesan kepada seluruh pengurus untuk senantiasa memperdalam keilmuan khususnya di bidang agama. Untuk itu para pengurus NU diharapkan untuk gemar menghadiri majelis taklim para kiai.

"Sebelum mengajak orang lain hendaknya kita harus memperdalam ilmu agama dan juga dapat menjadi suri teladan yang baik," kata Mas Taufiq saat melantik kepengurusan Ranting NU Desa Ganjaran Kecamatan Pagelaran, Pringsewu, Selasa (20/12).

PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Minta Pengurus NU Tidak Berhenti Ngaji

Menurutnya, memperdalam ilmu agama di era sekarang ini sangat penting sebagai modal menghadapi era globalisasi dan semakin banyaknya aliran-aliran agama transnasional dengan ajaran yang aneh-aneh.

"Mari memperdalam ilmu keagamaan. Karena menuntut ilmu bukan hanya di sekolah dan pesantren. Bukan hanya waktu muda. Tapi setiap saat mari mengaji, mengaji, dan mengaji," kata Mas Taufiq pada pelantikan yang digelar di Masjid Nurul Iman Ganjaran.

Bupati Tegal

Salah satu majelis yang bisa meningkatkan kemampuan agama adalah Ngaji Ahad pagi atau Jihad pagi yang rutin dilaksanakan setiap pekan. "Mari bersama-sama hadir di Jihad pagi. Kita akan mendapat berbagai macam keilmuan agama pada majelis tersebut," ajaknya kepada warga dan pengurus NU Desa Ganjaran yang lokasinya sangat dekat dengan Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Di akhir pengarahannya, Mas Taufiq mengingatkan pesan Pendiri NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari yang sangat masyhur bahwa siapa saja mengurusi NU maka ia menjadi santri beliau. Siapa saja santrinya didoakan memiliki kehidupan yang berkah, keturunan saleh dan salehah serta dipanggil Allah dalam keadaan husnul khatimah.

Bupati Tegal

Kepengurusan Ranting NU Desa Ganjaran yang dilantik akan melaksanakan tugas jamiyyah selama 5 tahun 2016-2021. Kepengurusan yang disahkan berdasarkan SK PCNU Nomor 70/PC/A.II/013/IV/2016 tersebut dinakhodai oleh Rais Syuriyah Ustadz Nur Huda dan Ketua Pengurus Ranting NU Akhya Syaikhuddin. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Hadits, Halaqoh, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Sabtu, 03 Februari 2018

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Banyuwangi, Bupati Tegal - Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melalui Badan Student Crisis Center (SCC) mengadakan diskusi perihal pelajar dan media sosial dengan tema Berselancar dengan Cerdas di aula Gedung PGRI Banyuwangi, Sabtu (13/2) pagi. Forum ini dihadiri oleh puluhan pelajar SMA di Banyuwangi dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Dinas Hubungan, Komunikasi dan Informasi Kabupaten Banyuwangi.

Hadir pula para penggiat literasi dan media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi.

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Banyuwangi Ajak Pelajar Berinternet Cerdas

Acara yang dipandu oleh Iraa Rachmawati dari Kompas.com diawali dengan menggali informasi perilaku pelajar terhadap media sosial. Dari pemaparan para pelajar itu diketahui banyak perilaku menyimpang dalam menggunakan media sosial.

Bupati Tegal

“Banyak teman-teman yang pandangannya terbentuk oleh media sosial. Padahal tak semua yang tersebar di media sosial itu benar?” gugat Syukria Ulfa, siswi dari salah satu SMK swasta di Banyuwangi.

Bupati Tegal

Hal demikian senada dengan apa yang disampaikan oleh Direktur SCC IPNU Banyuwangi Ibnu Tsani Rosyada. Ibnu mengatakan, media sosial yang sejatinya hanya dunia maya telah mengalihkan dunia realitas yang lebih konkret.

“Misalnya, ada seseorang yang protes pada temannya karena tidak memberi komentar pada statusnya. Padahal kedua orang itu setiap harinya selalu bertemu,” ujar Ibnu memberi contoh.

Perilaku bermedia sosial yang begitu berpengaruh itu amat rentan terinfiltrasi oleh akun-akun negatif seperti pornografi dan radikalisme. Maraknya akun-akun radikalisme yang menyerukan permusuhan, ujaran kebencian, dan ajakan untuk melakukan tindak kekerasan harus dihindari sebisa mungkin.

“Waspadai akun-akun yang mengajak untuk membenci atau melakukan tindak kriminal,” kata perwakilan Dinas Pendidikan Banyuwangi Sutikno.

Pegiat media sosial dari Rumah Literasi Banyuwangi (RLB) Nurul Hikmah mengajak para pelajar dan penggiat media sosial untuk menjadikan media sosial sebagai ajang kampanye hal-hal inspiratif. Ia mencontohkan gerakannya di RLB yang berbasis media sosial.

“Hanya dengan berkampanye lewat fesbuk, kami bisa menggerakkan dan mengajak masyarakat untuk peduli terhadap dunia literasi. Kepedulian itu di antaranya dengan membuka rumah baca,” ujarnya.

Ikhwan Arif, aktivis sosial dan pendiri Bangsring Underwater ini ikut mencontohkan bagaimana memperlakukan media sosial. Ia merintis wahana wisata yang berbasis pelestarian terumbu karang di pantai Bangsring, Banyuwangi, dan berhasil mempromosikan tempat wisatanya hingga menasional melalui media sosial.

“Sebenarnya media sosial bisa mempermudah beragam urusan, tinggal kita mau melakukannya untuk apa. Untuk hal positif ataukah negatif?” ia mengingatkan hadirin.

Arif dari Dishubkominfo memaparkan tentang Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik (ITE). Ia menggarisbawahi bahwa aktivis media sosial tidak terlepas dari aturan perundanga-undangan yang memiliki konsekuensi hukum tersendiri.

“Di media sosial kita bebas memosting apa saja. Tetapi ingat, jika postingannya melukai perasaan orang lain, kita bisa dituntut sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Ketua IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki mengatakan, tujuan kegiatan diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Lahir Ke-62 IPNU di bulan Pebruari ini. Forum ini juga bertujuan untuk mengedukasi pelajar agar tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari media sosial.

“Radikalisme yang marak di media sosial harus dicegah karena menjangkiti para pelajar. Karena itu, kita mengajak para pelajar untuk bisa berinternet dan menggunakan media sosial secara cerdas dan bermanfaat,” pungkasnya. (Anang Lukman Afandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Cerita, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

Kenapa Kemenag Tentang Penyatuan Madrasah dan Sekolah? Ini Alasannya

Jakarta, Bupati Tegal. Pendidikan di Indonesia dikelola oleh dua kementarian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mengelola pendidikan umum dan Kementerian Agama yang mengelola madrasah. Berulangkali terdapat usulan penyatuan sistem pendidikan, tetapi Kementerian Agama berpendapat, pembagian dua wewenang ini merupakan kebijakan yang sudah baik.

Direktur Madrasah, Nur Kholis Setiawan berpendapat, jika madrasah digabung pengelolaanya di bawah Kemendikbud, konsekuensinya adalah madrasah harus ikut desentralisasi. Dan disinilah terdapat potensi masalah.

Kenapa Kemenag Tentang Penyatuan Madrasah dan Sekolah? Ini Alasannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Kemenag Tentang Penyatuan Madrasah dan Sekolah? Ini Alasannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Kemenag Tentang Penyatuan Madrasah dan Sekolah? Ini Alasannya

“Ketika madrasah digabung pasti otonomi daerah. Iki arep dadi opo. Wong pendidikan agama yang dikelola pusat saja rongorongannya luar biasa banyaknya. Hingga sekarang, kita belum mampu mengatasi keragaman pendapatan dan friksi paham keagamaan, siapa yang akan mengawal itu,” katanya kepada Bupati Tegal baru-baru ini.

Bupati Tegal

Ia menambahkan, meskipun saat ini ada keterbatasan anggaran pendidikan di bawah Kemenag, yang alokasinya jauh dibawah Kemendikbud, tetapi mengelola pendidikan agama bukan sekedar soal uang.?

Bupati Tegal

“Justru, kita harus menghargai partisipasi masyarakat. Apalagi pesantren. Kebanyakan madrasah kan juga bernaung di bawah pesantren. Ini eksistensinya jauh lebih tua dari dari republik, sehingga negara hadirnya lebih banyak memberikan apresiasi bukan bantuan,” tuturnya.?

Yang diharapkannya adalah kehadiran negara yang lebih proporsional kepada madrasah. Memang ada sejumlah madrasah yang besar dan mandiri seperti di pesantren Tambak Beras Jombang atau di Darunnajah Jakarta. Bagi kedua madrasah tersebut ada atau tidak ada pemerintah, tetap jalan. Tetapi, banyak sekali madrasah-madrasah kecil yang tidak bernaung di bawah yayasan besar yang jumlahnya jauh lebih banyak.?

“Yang kaut-kuat ini kan tidak mencapai 15-20 persen. Apalagi madrasah-madrasah di daerah terpencil, di pedalaman, di daerah perbatasan, yang terluar segala macam. Negara perlu hadir agar madrasah bisa sustain, terutama di daerah pinggiran, pedalaman, dan terluar,” tandasnya.?

Beberapa daerah memiliki kepada daerah yang memberi perhatian terhadap pendidikan agama, tetapi persentasenya tidak banyak sehingga perlu adanya regulasi yang jelas bahwa pemerintah daerah juga mendukung pemberdayaan madrasah. Nur Kholis mencontohkan, beberapa pimpinan daerah yang memiliki perhatian baik kepada pendidikan agama diantaranya adalah Bupati Tangerang yang menyediakan dana BOS bagi madrasah dan dana operasional lainnya. Walikota Sabang juga salah satu yang memberi perhatian kepada madrasah dengan mengalokasikan bantuan untuk seluruh siswa, baik kaya maupun miskin.

Jalan tengah

Nur Kholis menjelaskan, madrasah tidak boleh terjebak dalam dua kutub yang ekstrem keagamaan, ada yang syiah atau wahabi. Upaya untuk menjaga agar madrasah tetap di garis tengah dilakukan dengan mengontrol buku-buku yang dipakai.?

Ia mencontohkan, dalam pembuatan buku untuk Kurikulum 2013 Direktorat Madrasah berkonsultasi dengan Ma’arif NU, Disdakmen Muhammadiyah, termasuk berdiskusi dengan Al Washliyah. “Ini merupakan bagian dari upaya untuk mencari jalan tengah dari keragaman pendapat,” paparnya.? (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Internasional, Halaqoh Bupati Tegal

Senin, 25 Desember 2017

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Jakarta, Bupati Tegal,
Put Muinah, mantan aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Blitar, Jawa Timur berharap, seluruh luka sejarah bisa dikubur hingga para bekas aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk sayap wanitanya, Gerwani, diterima masyarakat secara wajar. Nenek 14 cucu dan lima cicit ini tak ingin stempel buruk bekas simpatisan PKI itu dipikul turun-temurun oleh anak-cucu yang tak berdosa. Yang sudah, ya, sudah. Mari kita mulai jalan bareng, katanya.

Di Hotel Minak Jinggo, Glenmor, pada hari Jum’at 25 April 2003 digelar Workshop dan Stadium General Menguak Tragedi 1965-1966 dan Menggagas Rekonsiliasi di Akar Rumput. Tampak hadir beberapa tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan PKI setempat, dua organisasi yang pernah baku bunuh pada 1960-an. Acara itu dimaksudkan sebagai langkah awal rekonsiliasi di antara mereka.

Dari unsur NU, ada Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang NU Banyuwangi, KH Masykur Ali, Rais Syuriyah KH Hisjam Sjafaat, dan Ketua Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Banyuwangi, Mukhlisin. Dari kalangan PKI, selain Put Muinah, tampak bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI) Banyuwangi Mohammad Arief, 75 tahun, serta aktivis BTI Blitar, Sukiman, 65 tahun.

Acara dua hari itu difasilitasi Masyarakat Santri untuk Kajian dan Advokasi Rakyat (Syarikat) Indonesia, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dikelola anak-anak muda NU, berkantor di Yogyakarta. Memasuki hari kedua, peserta workshop menghasilkan empat butir kesepahaman. Di antaranya mengajak semua elemen masyarakat mewujudkan rekonsiliasi.

Pada butir lain, mereka mendesak negara menghentikan politisasi tragedi 1965-1966 dengan membiarkan bergulirnya beragam versi atas peristiwa itu, dan merevisi kurikulum sekolah tentang tragedi ini.

Pelaksana Program Syarikat Indonesia, Saiful Huda Sodiq, berharap acara tersebut menjadi titik awal demokratisasi lewat rekonsiliasi masyarakat akar rumput. Saya melihat NU sangat representatif mewakili masyarakat luas, karena ormas ini paling banyak bersinggungan dengan PKI, katanya. Muinah mendukung. Orang PKI, katanya, cuma korban politisasi sejarah.

Pembantaian PKI adalah imbas rivalitas Amerika Serikat dan Uni Soviet saat itu, kata. Saiful Huda Sodiq. Akibatnya, anak-cucu bekas anggota PKI sulit bersosialisasi. Saya ingin rekonsiliasi di tingkat akar rumput ini bisa mengakhiri dendam, katanya.

Mantan anggota BTI Banyuwangi, Mohammad Arief, senang dengan rintisan ishlah ini. Saya berterima kasih kepada NU yang mau menjadi pionir, katanya. Meski NU tidak bisa dianggap bersalah begitu saja dalam tragedi 1965, Mukhlisin menilai upaya ini bisa menjadi titik awal yang baik.

Acara Yang Sama di Gelar di Kota Cirebon
Tak hanya di Banyuwangi, pada hari yang sama, Syarikat Indonesia, didukung The Asia Foundation, menggelar acara serupa di Cirebon, Jawa Barat. Mereka bekerja sama dengan Fahmina, LSM dari Cirebon. Kota ini dipilih karena ketegangan NU dan PKI yang skalanya paling besar se-Jawa Barat, ya, di sini, kata Marzuki Wahid, anggota Badan Pelaksana Syarikat Indonesia.

Acara Tasyakur dan Silaturahmi untuk Kebersamaan dan Persaudaraan itu berlangsung di Kantor Cabang NU Cirebon. Tampak hadir belasan mantan tahanan politik (tapol) peristiwa G-30-S. Mereka umumnya alumni Pulau Buru. Juga hadir tokoh nonmuslim Cirebon. Ada Pendeta Supriatno, Pendeta Yohanes Muryadi, dan Pendeta Sugeng Daryadi.

Awalnya pertemuan berjalan kaku. Para eks tapol lebih suka diam menyimak uraian Direktur Fahmina, KH Husein Muhammad, dan Marzuki Wahid. Maklum, mereka umumnya sudah sepuh. Setelah Marzuki menjelaskan bahwa forum itu bermaksud mencari kebenaran tragedi 1965, mereka baru bersemangat.

Dalam pengantarnya, Husein menjelaskan, pihaknya sengaja mengundang para eks tragedi 1965 sebagai upaya silaturahmi antar-sesama manusia. Mudah-mudahan ada rekonsiliasi kultural di antara kita, katanya. Gagasan ini didasari harapan tragedi kemanusiaan itu tak terulang.

Bagi panitia, tak mudah mengumpulkan para bekas tapol itu. Dari puluhan yang diundang, bahkan didatangi, cuma belasan yang bersedia hadir. Meski ada yang antusias, banyak yang masih skeptis, kata Ipah Jahrotunasipah, aktivis Fahmina. Ini diakui Untung Raden, mantan tapol yang kini tinggal di Losari. Jangankan kepada orang baru, kepada sesama bekas tahanan pun masih banyak yang ragu, kata Untung.

Pertemuan itu pun berakhir tanpa kesimpulan. Juga tak ada sikap bersama seperti di Banyuwangi. Fahmina masih mencari formula lain untuk langkah berikutnya. Sebagai permulaan, kami anggap acara ini cukup berhasil, kata Husein. Paling tidak, para mantan tapol Cirebon sudah mau membuka diri.

Sebagian eks tapol yang hadir berharap, acara itu ditindaklanjuti dengan langkah kongkret. Pasalnya, ada yang merasa hanya korban dan sampai kini tak tahu kDari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Halaqoh, Doa, Kajian Sunnah Bupati Tegal

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66 (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Tokoh Agama & Korban Tragedi Kemanusiaan 65 - 66

Selasa, 19 Desember 2017

Tempati Sekretariat Baru, JQH NU Sulsel Khatamkan Al-Quran

Makassar, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Jamiyatul Qurra wal Huffadz NU sejak Sabtu (20/12) mulai memanfaatkan kantor sekretariat baru. Di ruang yang sudah dipersiapkan oleh PWNU Sulawesi Selatan ini, mereka mengkhatamkan Al-Quran.

Rais Majelis Ilmi JQH NU Sulsel Masykur Yusuf menyatakan rasa syukurnya atas ruang kerja yang baru. Bersama puluhan penghafal Al-Quran, ia mengkhatamkan Al-Quran untuk keberkahan ruang baru itu.

Tempati Sekretariat Baru, JQH NU Sulsel Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Tempati Sekretariat Baru, JQH NU Sulsel Khatamkan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Tempati Sekretariat Baru, JQH NU Sulsel Khatamkan Al-Quran

Masykur mengatakan, "Alhamdulillah saat memasuki sekretariat baru, JQH NU Sulsel mengawali dengan Khatam Quran oleh 40 orang penghafal Al-Quran yang merupakan santri dari JQH NU Sulsel."

Bupati Tegal

Selain khataman Quran, JQH juga mengadakan Tahsin Quran untuk semua Guru Mengaji, imam masjid seprovinsi Sulawesi Selatan serta para Dai, Civitas Akademika UIM dan Warga Nahdliyin lainnya. (Andy M Idris/Alhafiz K)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Lomba, Sholawat, Halaqoh Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock