Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

Tarim, Bupati Tegal

Pelajar Jawa Timur di Yaman yang terkumpul dalam organisasi Keramat Jatim menggelar pertemuan akbar yang untuk pertama kalinya dihadiri seluruh pelajar dari berbagai lembaga di Hadhramaut.

Tak hanya berkumpul, acara perdana ini juga membawa misi untuk menyatukan visi dan misi dalam berdakwah di Jawa Timur nanti, sekembalinya mereka ke Tanah Air. Arek-arek Jawa Timur itu berharap, di samping menyambung tali silaturahim, pertemuan kali ini juga membentuk misi dakwah yang kelak dipikul bersama demi terwujudnya Jawa Timur yang semakin Islami.

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar Jatim di Yaman Satukan Misi Dakwah Islam

“Tujuan perkumpulan kali ini tidak lain untuk menyatukan misi dakwah kita demi Jawa Timur dan negeri tercinta yang lebih baik dan lebih Islami,” tutur Ahmad Khoiron Roib, ketua pelajar Jawa Timur di Yaman dalam acara yang dihadiri sekitar 80 anggota itu, Kamis (10/03) malam waktu setempat.

Bupati Tegal

Acara dikemas dengan sederhana dan dimulai dengan pembacaan Maulid Nabi, kemudian perkenalan masing-masing anggota, sambutan-sambutan, baik dari ketua pelajar Jawa Timur,? ketua Persatuan Pelajar Indonesia, maupun ketua perwakilan dari setiap lembaga.

Sebelum acara benar-benar selesai pukul 23.30, hadirin disuguhi dengan marawis dan tari zavin. Hadir dalam acara tersebut jajaran ketua dari organisasi daerah di Indonesia yang ada di Yaman. (Zain Mahfudz/Mahbib)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Jumat, 02 Maret 2018

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Brebes, Bupati Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti menyarankan agar selepas Lebaran ini warga tidak terpesona dengan kota. Kemudian ikut-ikutan urbanisasi ke Jakarta tanpa memiliki bekal keterampilan cukup. Pasalnya, mengadu nasib ke ibu kota tidak segampang dalam angan-angan. Lebih baik bekerja di daerah sendiri dengan turut serta membangun masyarakat.

“Tak usah ikut-ikutan ke Jakarta bila tidak memiliki bekal keterampilan yang cukup,” sarannya pada sambutan Haul KH Syihabuddin dan haul massal serta halal bihalal desa Jagalempeni Kecamataman Brebes, Ahad (2/7).

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Sarankan Warga Desa Tak Terpesona Kota

Idza meyakini, hidup di desa lebih sejahtera dan tenang. Jika memiliki inovasi dan kreativitas bisa disumbangsihkan kepada daerah.

Bupati Tegal

Dia juga menerangkan, di Brebes telah disediakan 10 ribu hektar untuk lahan industri dan sudah ada 38 investor yang tengah menyelesaikan pengurusan perizinannya.

“Kabupaten Brebes pro investasi, jadi akan ada pergerakan perkembangan ekonomi yang signifikan,” tandasnya.

Bupati Tegal

Sebagai pimpinan daerah, dirinya bertekad memperhatikan berbagai peluang usaha untuk warganya. Termasuk pembangunan infrastruktur jalan yang terus diselesaikan hingga tahun kelima.

“Tahun kelima ini, insyaallah infrastruktur jalan di Brebes bisa rampung dan akan dilanjutkan dengan periode II dengan pembangunan yang seimbang antara pembangunan jasmani dan rohani,” terangnya.

Dalam kesepatan tersebut, Idza juga menyambut baik tradisi budaya masyarakat desa yang kental dengan gotong-royong dalam pembangunan. Terbukti berbagai kegiatan keagamaan, pembangunan tempat tempat ibadah, maupun sarana dan prasana pendidikan banyak yang dilakukan dengan dukungan gotong royong.

Atas nama pribadi maupun pemerintah, Bupati meminta maaf kepada masyarakat Brebes khususnya desa Jagalempeni.

Ketua Panitia Haul dan Halal Bihalal, Fahrizal Julian Pratama menjelaskan, haul dan halal bihalal menjadi kebiasaan masyarakat Jagalempeni. Dalam haul tersebut, terkumpul dana gotong royong lebih dari Rp 13 juta untuk 6 ribu arwah. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa Bupati Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Yogyakarta, Bupati Tegal. Mantan Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam sebuah kesempatan ceramah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pernah menyatakan sungguh sayang jika kita hanya memiliki guru-guru yang masih hidup. Justru mereka, para kiai dan ulama yang telah lama wafat, adalah guru sejati kita. Sebab, menurut tokoh kelahiran Bone (Sulawesi Selatan) itu, mereka yang telah sumare kini tak memiliki kepentingan lagi. Dan baik buruknya seseorang hanya dapat diketahui saat ia telah tiada.

Pemikiran Nasaruddin di atas—juga banyak ulama yang mengatakan hal senada—membuat kami memutuskan untuk menziarahi para guru, ulama, dan kiai. Memanfaatkan hari libur beberapa waktu lalu, kami memulai ziarah tepat 8 pagi. Aroma basah jalanan sisa hujan semalam masih kuat terasa. Dari bilangan Krapyak, Bantul, kami berlima—rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) PWNU DIY—langsung menuju makam Dongkelan, makam dari KH Moenawwir, KH Ali Maksum, dan keluarga besar Pondok Pesantren Krapyak, Bantul. Bacaan tahlil kami lakukan sekitar 20 menit dan perjalanan dimulai lagi. Tepat Pukul 09.15 kami sampai di makam KH Nur Iman atau sering disebut BPH Sandiyo. Makam ini terletak di Mlangi, sekitar 200 meter dari ring road barat. Kalau saat momentum Ramadhan, kampung ini dikenal sebagai sentra mercon kota Yogya.

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)
Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra (Sumber Gambar : Nu Online)

Menziarahi Mereka yang Telah “Sumare”, dari Dongkelan Hingga Jolosutra

Makam Mbah Kiai Nur Iman tepat berada di barat Masjid Pathok Negara Mlangi. Saat kami masuk, ada dua orang santri perempuan sedang khusyuk mengaji. Kedatangan kami tampaknya tak mengganggu mereka, terbukti bacaan Qur’an tetap nyaring, stabil dan terus mereka lantunkan.

Bupati Tegal

Sunan Pandanaran

Bupati Tegal

Pukul 10.00 kami meninggalkan Mlangi, kemudian bergegas menuju Bayat, Klaten. Maklum, momentum liburan dan kendaraan luar kota mulai padat memasuki Yogyakarta dari arah timur membuat kami mesti pintar-pintar estimasi waktu. Tujuan kami adalah Makam Sunan Pandanaran, atau Sunan Padang Aran, atau dikenal juga Sunan Bayat. Arah menuju makam cukup gampang. Anda tinggal menuju Klaten dan dari arah Yogya sudah ada papan plang penunjuk jalan menuju makam. Masuk sekitar 8 km dari jalan utama Yogya-Solo.

Makam Sunan Pandanaran terletak di Gunung Cokrokembang. Tak heran Anda mesti menaiki sekitar 250 anak tangga. Bagi yang jarang olahraga, pasti nafas akan cukup tersengal. Tapi Anda tak perlu khawatir, bagi yang tidak kuat, ojek motor siap mengantar Anda sampai atas dengan tarif Rp 7.000 sekali naik. Di samping kiri-kanan tangga terdapat para penjual cinderamata, pakaian, makanan khas, dan sarung termasuk aneka tasbih, cincin akik bahkan alat masak tradisional. Pokoknya komplit!

Semuanya laris dilihat dari banyaknya peziarah yang memborong. “Kiai besar itu sudah wafat saja masih menghidupi banyak orang, sedang kita yang masih hidup justru selalu mencelakakan orang,” tukas teman yang ikut ziarah. 

Sejak pintu kedatangan ada beberapa gapura yang langsung menyambut kedatangan kita. Dimulai dari Gapura Segara Muncar di depan parkiran, Gapura Dhuda yang menyapa di depan anak tangga pertama, Gapura Pangrantungan hingga Gapura Panemut, Pamuncar, Balekencur, Prabayeksa yang keempatnya berada di kompleks makam.

Di samping Gapura Dhuda Anda diwajibkan membayar retribusi masuk Rp 1.000/orang. Sedang di Gapura Pangrantungan Anda akan disambut abdi dalem diminta untuk mendaftarkan diri. Kata seorang abdi dalem yang berjaga, tiap hari ada 1.000 pengunjung yang datang ke sana. “Apalagi kalau bulan Ruwah dan Rejeb, bisa sampai 2.000 orang yang ziarah,” katanya lagi. Di gapura ini, terdapat masjid yang disediakan bagi peziarah sekadar melepas lelah dan untuk menegakkan sholat. Rasa lelah setelah naik tangga akan terbayar dengan pemandangan Kota Klaten dan Yogya dari atas yang sungguh elok rupa. Jajaran pegunungan seribu juga terlihat dan inilah yang disebut Jolosutra. Tempat di mana Sunan Kalijaga ‘menanam’ murid-muridnya untuk menyebarkan agama Islam, sekaligus membentengi masyarakat dari gangguan dari luar.

Kompleks Makam Sunan Bayat cukup eksotis. Bangunannya mirip pura atau Kerajaan Hindu. Didukung dengan masyarakat sekitar yang tampaknya sadar akan potensi ini, maka jadilah ziarah di Makam Sunan Bayat mampu menjadi magnet siapapun yang melakukan perjalanan wisata spiritual.

Saat kami tiba di makam, ternyata ratusan peziarah sedang melafalkan kalimat tahlil. Mereka datang dari Cilacap, Tuban dan Rembang. Pukul 13.30 kami akhiri dan bersegera menuntaskan ziarah hari itu. Keasyikan ziarah dan mengenang kembali jasa serta ajaran mereka yang telah sumare membuat kami lupa untuk santap siang. Kami memilih sebuah restoran di pinggir Jalan Raya Solo-Yogya. 

Tampaknya arus kendaraan yang berjejal ingin masuk ke Yogya sangat padat sekali. Rencana untuk ziarah ke makam KH Zainal Muttaqin, salah seorang putra Sunan Kalijaga yang berada di selatan Bong Supit Bogem terpaksa kami urungkan. Kami berbelok ke selatan menuju Dusun Jolosutro. Di sana terdapat makam Sunan Geseng, murid Sunan Kalijaga lainnya.

Sekitar Pukul 16.00 kami sampai di Dusun Jolosutro yang terelak 5 km di selatan Jalan Yogya-Wonosari km 14. Kami sholat ashar di Masjid Sunan Geseng dan naik menuju makam. Setelah memarkir kendaraan kami hendak jalan kaki menuju makam. Seorang penduduk mengingatkan kami, jalan kaki menuju makam menempuh jarak 1 km dan menghabiskan 30-40 menit. Terjal, naik dan siapapun yang tidak terbiasa akan kewalahan. Untungnya ada penduduk lainnya yang memberitahu, jalan menuju makam relatif mulus dan dapat dilalui kendaraan asal lewat jalur Patuk Gunungkidul. Kami menurut saja. Perkiraan waktu pulang dari makam selepas maghrib tentu tak nyaman jika harus menuruni bukit.

Putar haluan, kami menuju Patuk. Tepat di pos polisi Patuk kami ke selatan, ikuti jalan hingga ada bak air raksasa. Ambil kiri dan menapaki jalan hotmix yang berdasarkan papan keterangan dibangun oleh Pemkab Bantul, sampailah kami di makam Sunan Geseng. Benar saja, kendaraan dapat dibawa sampai kompleks makam. Di sana ada musholla kecil dan kamar mandi dengan air melimpah.

Sunan Geseng atau Pangeran Panggung adalah salah satu putra Brawijaya V yang menjadi murid Sunan Kalijaga. Konon ada 99 makam Sunan Geseng di seluruh nusantara, tapi yang diyakini benar sebagai makamnya ada di tiga tempat: Tuban, Grabag, dan Jolosutro Piyungan. Gus Dur sendiri pernah ziarah di sini dan mengatakan yang paling tepat dari kemungkinan yang ada hanyalah yang di Jolosutro Piyungan.

Tak terasa waktu menunjukkan Pukul 19.00 dan kami memutuskan untuk pulang. Seharian ziarah di kawasan DIY-Jateng tentu menguras tenaga. Namun, kami percaya bahwa mereka yang telah sumare itu memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Dan sepantasnya bagi kita untuk mendoakan mereka, berharap ikatan batin itu selalu terjaga. (abu naja/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Halaqoh Bupati Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang

Pringsewu, Bupati Tegal

Sudah menjadi sunnatullah sebuah perjuangan akan selalu menghadapi tantangan. Namun, tidak sedikit pula yang mendukungnya.

"Kalau berjuang, pasti ada yang senang dan juga ada yang tidak senang. Itu sudah Hukum alam," demikian penjelasan Mustasyar PCNU Pringsewu H. Sujadi saat mengupas? tafsir Al-Qur’an surah Al-Kautsar pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (5/1).

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tetap Optimis dalam Perjuangan Walau Rintangan Menghadang

Namun, kata dia, rintangan dalam perjuangan tersebut tidak boleh menjadikan diri patah semangat dan pesimis. Optimisme harus terus dipupuk dengan terus berjuang sesuai keyakinan dan target yang akan dicapai. "Jangan senang dan lupa daratan ketika dipuji dan jangan bersedih kati ketika dicaci-maki. Kita harus yakin dengan perjuangan yang kita jalani," tegasnya.

Bupati Tegal

Dalam kesempatan tersebut, pria yang disapa Abah Sujadi, mengingatkan bahwa dalam perjuangan dengan berbagai bentuknya harus mengedepankan kerja sama dan kekompakan setiap elemen. Karena jika tidak ada soliditas maka akan mudah terprovokasi dan dan tercerai-berai.

Bupati Tegal

Mengutip maqolah Ali Bin Abi Thalib RA, Abah Sujadi mengatakan bahwa kejahatan yang terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Ia juga memberikan salah satu? langkah lainnya ketika ada pihak yang benci dengan perjuangan yang sedang dijalani yaitu dengan banyak bershalawat.

"Perbanyak shalawat untuk terhindar dari orang-orang yang menzalimi kita," katanya sembari menuliskan shalawat tersebut di papan tulis dan mengijazahkannya kepada jamaah untuk dapat diamalkan.

Shalawat yang sudah sangat populer tersebut berisi tentang doa agar terhindar dari orang-orang yang senantiasa menzalimi. Adapun lirik shalawat tersebut adalah "Allahumma shalli ala sayyidina muhammad wa asyghili dzolimin bi dzolimin, wa akhrijna min bainihim salimin, wa ala alihi wa sahbihi ajmain". (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Ahlussunnah Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka

Jepara, Bupati Tegal. Ratusan pelajar santri MTs, MA NU dan Pesantren Kelautan Safinatul Huda di Pulau Kemujan Kecamatan Karimunjawa Kabupaten Jepara merayakan Hari Pramuka ke-53.

Selama tiga hari Selasa-Kamis (12-14/8) pelajar santri yang tergolong anak nelayan miskin Karimunjawa tetap semangat mengikuti kegiatan diantaranya Lomba Balap Karung, Lomba Kelereng, Lomba Teknik Pramuka, Renungan Malam, Doa Bersama dan Upacara Hari Pramuka.

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Pulau Terpencil Ini Santri dan Pelajar NU Rayakan Hari Pramuka

Kepala MA NU sekaligus pengasuh pesantren kelautan Safinatul Huda, H Hisyam Zamroni menyatakan kegiatan dilaksanakan dalam memperingati Hari Pramuka ke-53.

Bupati Tegal

“Kegiatan ini kami laksanakan agar semakin mendekatkan pelajar santri lebih dekat dengan masyarakat,” jelas Hisyam saat berkomunikasi via seluler dengan Bupati Tegal, Sabtu (16/8) siang, kemarin.

Bupati Tegal

 

Kegiatan pramuka, sambungnya merupakan wahana character building—pembentukan karakter yang berwawasan kebangsaan. Selain bernafas kebangsaan, pelajar santri juga perlu di topang wawasan ke-aswaja-annya.

“Wawasan Aswaja ini sejalan dengan napas madrasah dan pesantren kami sebagai satunya-satunya madrasah di Karimunjawa yang ada sejak 2001 dan berlabel NU,” tegasnya.

Lembaganya, lanjut Hisyam berada di pusaran destinasi kepulauan Karimunjawa. Lewat momen tersebut pihaknya juga menyiapkan generasi muda NU yang siap menghadapi laju pariwisata baik lokal, nasional maupun internasional.

Hadir dalam kesempatan kegiatan guru, alim ulama dan tokoh masyarakat di Pulau Kemujan. Hadir pula Ahmad Kholikin ketua MWCNU Karimunjawa, Muchlisin dan Nur Rohimah ketua IPNU-IPPNU kecamatan Karimunjawa. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kyai, Doa, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII

Jakarta, Bupati Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menyampaikan sambutan dalam penyelenggaraan Hari Lahir (Harlah) Ke-57 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan peresmian Graha Mahbub Djunaidi, Senin (17/4) di Kantor PB PMII Jalan Salemba Tengah Paseban Jakarta Pusat.

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Paparkan Tantangan Indonesia kepada Kader PMII

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menerangkan, di setiap zaman tidak akan terlepas oleh adanya tantangan dan hambatan. Memasuki era yang sangat menantang ini, merupakan agenda sebagai warga NU untuk menangkal radikalisme dan paham-paham yang berusaha merongrong Pancasila dan NKRI.

Kiai Said memaparkan, bangsa Indonesia saat ini berada di era yang sangat menantang dan liar, seperti gerakan radikal. Menurutnya, ini tidak kebetulan. ISIS punya agenda global dan ingin masuk ke berbagai belahan dunia.

"Menurut survei yang dirilis Kompas, simpatisan ISIS jumlahnya 4 persen, yang berarti kurang lebih 8 sampai 10 juta," paparnya di hadapan para kader PMII yang memadati Graha Mahbub Djunaidi.

Guru Besar Ilmu Tasawuf ini berharap, dengan adanya tantangan yang dapat memecah belah NKRI, perlu ada penyatuan prinsip. Karena Indonesia salah satu tempat yang aman dan nyaman, serta mudah dimasuki paham-paham transnasional.

Bupati Tegal

"Saya kurang yakin kalau bukan kiai-kiai pesantren yang membentengi negeri ini,” tegas Kiai Said.

Terdapat sisi positif dari para kiai-kiai pesantren yang dapat masyarakat ambil. Kiai mempunyai karakter yang kokoh prinsip dan sikap yang tegas, teguh berpendirian, dan berakhlakul karimah.

Di akhir pidatonya, Kiai Said menyampaikan nilai-nilai yang terkandung dalam Ahlussunnah Wal Jamaah.

"Saya tidak pernah bergeser dari tawasuth (moderat) dan tasamuh (toleran)," paparnya menegaskan.

Bupati Tegal

Selain itu, warga pergerakan harus mampu mengimbangi nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah dengan terwujudnya intelektual yang berkualitas.

"Prinsip tawasuth, tidak akan terwujud bila tidak dibarengi dengan intelektual. Tanpa kecerdasan tidak mungkin tawasuth. Warga NU harus berilmu dan cerdas," tegas diakhir pidatonya.

Sedangkan prinsip tasamuh, tandasnya, warga NU harus toleran dibarengi dengan akhlakul karimah. “Saya yakin bila ber-NU akan bermanfaat," tutupnya. (Robiatul Adawiyah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pertandingan, Doa Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Lebaran dan Ketupat

Ada beberapa tradisi penting yang tidak tampak dalam kebudayaan masyarakat Arab, seperti tradisi lebaran dan ketupat. Jika ada yang mengatakan ini bid’ah atau hal baru, memang benar namun bid’ah hasanah, hal baru yang baik dan merupakan manifestasi dari nilai-nilai Islam.

Pertama, istilah lebaran berasal dari bahasa Jawa "lebar" yang artinya bebas, selesai, atau rampung. Istilah ini merupakan pengalihbahasaan yang baik dan substansial dari istilah bahasa arab "idul fitri". Para ulama terdahulu sangat jitu dalam mengajarkan ajaran-ajaran inti Islam. Lebih dari sekedar alih bahasa, bahkan para ulama penyebar Islam memakai istilah lebaran untuk menerjemahkan "idul fitri" ke dalam tradisi setempat yang baik bahkan sesuai dengan ajaran inti Islam.

Setelah umat Islam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh lalu ditambah zakat fitrah maka akan mendapatkan "idul fitri" atau biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang lebih umum "kembali kepada kesucian".

Lebaran dan Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebaran dan Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebaran dan Ketupat

Dijelaskan, bagi umat Islam yang telah menjalankan puasa dengan baik dan benar akan diampuni dosanya yang telah lalu bahkan dosa yang akan datang jika ia konsisten memelihara ibadah yang telah dijalaninya di bulan Ramadhan. Lalu zakat fitrah berupa 3,5 liter atau 2,5 kg beras atau berupa uang yang diperuntukkan bagi mereka yang mendapati malam lebaran dan mempunyai bersediaan makanan untuk esok hari adalah prasyarat agar umat Islam yang telah lebur dosanya itu agar kembali kepada kesucian, fitrah atai fitri, sebagaimana bayi yang baru lahir.

Nah, dosa-dosa yang diampuni barusan hanyalah dosa hamba dengan Tuhannya, tidak dengan sesama manusia. Dalam Islam, jika dosa yang telah dilakukan oleh manusia itu berkaitan dengan manusia lain, ada kewajiban untuk meminta maaf dan ampunan kepada sesama manusia dan merampungan persoalan keperdataan jika ada.

Di sinilah posisi lebaran. Para ulama penyebar Islam menambahkan, agar benar-benar idul fitri, lebaran, terbebas dari dosa-dosa, umat Islam harus mengujungi saudaranya untuk saling bermaaf-maafan dan menyelesaikan semua sengketa. Inilah yang menyebabkan tradisi lebaran begitu hidupnya di Indonesia. Selain memang, tradisi saling kunjung, saling merasa bersalah, basa basi, tukar menukar makanan, dan seterusnya telah akrab dijalani oleh bangsa Indonesia. Di Timur Tengah dan di beberapa negara yang dihuni umat Islam hari raya Idul Fitri tidak dipertingati dengan hal serupa, dengan kata lain tidak ada tradisi lebaran di sana.

Bupati Tegal

Kedua, tradisi ketupat. Ketupat adalah sejenis lontong, yakni beras dalam balutan anyaman daun kelapa, lontar atau blarak yang direbus menjadi nasi liwet yang kempal. Orang Jawa dulu biasa membuat ketupat untuk keperluan mapag sri atau pesta panen padi. Ketupat sebagai bagian dari persembahan untuk dewi Sri yang empunya padi. Di beberapa tempat di dataran tinggi Jawa, ketupat ada dalam upacara kematian anak tersayang. Ketupat diberi bumbu secukupnya dan dibagikan kepada tetangga terdekat. Nah, para ulama pendahulu melestarikan tradisi ketupat ini dengan memasukkan ajaran inti Islam.

Pesta ketupat diadakan seminggu setelah lebaran. Dijelaskan, umat Islam yang menjalankan puasa sunat selama enam hari terhitung satu hari setelah lebaran maka ia akan mendapatkan pahala puasa selama satu tahun lamanya. Orang yang melaksanakan puasa enam hari ini tergolong mulia dan istimewa. Di saat umat Islam yang lain bersenang-senang dan melampiaskan dendamnya dengan memakan apa saja karena di siang hari bulan Ramadhan semua makanan dilarang, ia malah berpuasa. Nah sebagai penghargaan terhadap hamba mulia ini, pada hari kedelapan lebaran para ulama pendahulu menganjurkan umat Islam yang lain membuat ketupat dan membagi-bagikannya kepada tetangga terdekat dan menjadilah ketupat sebagai bagian dari tradisi lebaran.

Kenapa ketupat dan bukan lontong yang nikmatnya tidak jauh berbeda? Ketupat mempunyai keistimewaan yakni lebih tahan lama sehingga bisa dibagi-bagikan kepada tetangga dan sanak kerabat jauh sekalipun. Ketupat biasa mempunyai pasangan bernama lepet, yakni makanan dari ketan yang dibumbuhi kemudian dibalut dengan lontar dalam bentuk prisma segi tiga lonjong. Lepet berasal dari bahasa Jawa "lepat" yang artinya kesalahan. Membagi ketupat dan lepet adalah simbul salaing memaafkan segala kesalahan.

Demikianlah. Ada banyak usaha yang ditempuh oleh para ulama terdahulu untuk memasukkan ajaran-ajaran inti Islam -yang sesungguhnya tidak banyak berbeda dengan agama-agama lain- ke dalam tradisi yang telah berlaku, sembari secara perlahan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalamnya. Bisa dilihat dalam tradisi selamatan, tingkeban, babaran, pasaran, pitonan, dan seterusnya.

Bupati Tegal

Kita bersyukur, berbagai tradisi itu masih lestari dan menjadi bagian dari masyarakat sampai sekarang. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Doa, Anti Hoax, Olahraga Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock