Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Kapolri dan Megawati Salurkan Kurban lewat NU Care-LAZISNU

Jakarta, Bupati Tegal

NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) menyalurkan 37 hewan kurban pada peringatan hari raya Idul Adha 1437 H ini. Hewan kurban yang terdiri dari 21 sapi dan 17 kambing tersebut berasal dari sejumlah pejabat, perusahaan, partai politik, hingga pengurus dan warga NU.

Kapolri dan Megawati Salurkan Kurban lewat NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri dan Megawati Salurkan Kurban lewat NU Care-LAZISNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri dan Megawati Salurkan Kurban lewat NU Care-LAZISNU

Mereka yang menyumbangkan kurban masing-masing satu ekor sapi antara lain Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Menristek Dikti H Muhammad Nasir, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Djan Farid, Bank Muamalah, Kemenaker, Kemendagri, H Fauzi Nur, H Toha, H Dippo Nusantara.

Ada pula dari MNC Grup (3 ekor sapi), DPP Partai Golkar (3 ekor sapi), Bintang Toejoe-OPT/Extra Joss (2 ekor sapi), dan Brigjen Fathurrahman (2 ekor sapi). Adapun kurban kambing berasal dari Syamsul Huda (5 ekor), H Abdullah Masud (2 ekor), serta Siti Ramdayani, Hj Ida Fauziyah, H Agus Sosiahusain, Djardinno, M Iqbal Rival, Anis Putri Kusuma, H Imam Mudzakir, Cahya Bagus M, Wim Ikbal Jepang, masing-masing 1 ekor sapi.

Bupati Tegal

Ke-37 hewan ternak itu didistribusikan kembali ke sejumlah lokasi di DKI Jakarta dan Banten, di antaranya Pondok Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur, Masjid Al-Hijrah Marunda, Pondok Pesantren Tanara Serang, Masjid an-Nahdlah PBNU, dan Pondok Pesantren Ekonomi al-Ukhuwah Kedoya Jakarta Barat.

Daftar rincian kurban ini diumumkan pihak NU Care-LAZISNU dalam rangkaian shalat Idul Adha di Masjid an-Nahdlah, Lantai 1 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (12/9). Bertindak sebagai khatib dalam kesempatan kali ini Ketua Umum Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh KH Muhaimin Zain.

Bupati Tegal

Di kompleks Masjid an-Nahdlah, prosesi pemotongan dihadiri langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Di lokasi ini, panitia menyembelih lima ekor sapi dan tiga ekor kambing. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Santri, Khutbah, PonPes Bupati Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan

Bandar Lampung, Bupati Tegal. Gusdurian Lampung akan membagikan 70 kado secara cuma-cuma pada acara "Riungan Kebangsaan" di lantai tiga gedung B aula pascasarjana, kampus Institut Informatika dan Bisnis (IBI) Darmajaya, Lampung. Forum yang akan diadakan pada Kamis 20 Agustus 2015 ini membahas terkait pandangan agama-agama terhadap masalah lingkungan hidup.

"Jumlah kado dibagikan sesuai usia kemerdekaan bangsa Indonesia, satu kado isinya dua titik-titik," ujar pegiat Gusdurian Lampung Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Selasa (18/8).

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Lampung Siapkan 70 Kado Untuk Peserta Riungan Kebangsaan

Terkait lebih jelas kado dimaksud, Gatot enggan menjelaskan. "Kalau diberitahu tidak surprise. Datang saja jika mau berminat dan harus awal karena persediaan hanya 70," kata dia.

Bupati Tegal

Riungan Kebangsaan kali ini merupakan energi dan sinergi cinta Gusdurian Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari), Yayasan Shuffah B lambangan Umpu, Majelis Semaan Al-Quran wa Dzikrul Ghofilin Jantiko Mantab, IBI Darmajaya dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Berdasarkan data Walhi Lampung, bukit yang ada di Bandar Lampung di tahun 2008 berjumlah 33, namun saat ini yang tersisa 11 bukit. Dalam waktu empat tahun atau di tahun 2014, 22 bukit di Bandar Lampung habis oleh penambangan batu.

Bupati Tegal

"Kerusakan dan perusakan alam atau lingkungan hidup harus ditanggulangi bersama. Negara dan masyarakat harus hadir. Solusinya dicari bersama, semoga dari diskusi kecil tersebut menghasilkan kesepakatan positif yang baik dan maslahat," ujar Gatot lagi.

Riungan Kebangsaan akan menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT AJI ke 21 yang jatuh pada 7 Agustus lalu. Selain itu, donor darah sebagai bagian acara juga siap digelar. Pelajar dan masyarakat yang berminat mendonorkan darahnya bisa menghubungi Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 Disisi Saidi Fatah di nomor 082377505585.

"Kami mengundang jurnalis, aktivis lingkungan hidup, tokoh agama, mahasiswa pecinta alam, lembaga mahasiswa keagamaan, serta para pelajar untuk hadir bersilaturahmi dan menyumbangkan pemikirannya dalam Riungan Kebangsaan,” kata Pejabat Sementara Sekretaris AJI Bandar Lampung Wandi Barboy Silaban.

Pihaknya sengaja mengundang orang-orang yang aktif di bidang keagamaan untuk memberi perspektif bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan dari sisi agama. (Teddy Heriyanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Santri Bupati Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

Jombang, Bupati Tegal. Pengurus Ranting (PR) Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) Desa Mojoduwur, Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur mengajak setiap divisi kepengurusan agar lebih kreatif dengan adanya basecamp ranting IPNU-IPPNU setempat, khususnya dibidang kerajinan tangan dan pengembangan bakat lainnya.

Sebelumnya, mereka telah merutinkan kegiatan kerajinan tangan membuat aksesoris setiap pekan kurang lebih selama dua bulan terahir sebelum adanya basecamp. Dalam perkembangannya hasil kerajinan inimampu menarik beberapa pedagang aksesorisuntuk menjadi pelanggan mereka, bahkan tidak kurang dari 10 orangsetiap pekan.?

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan Basecamp, Pelajar NU Mojoduwur Ajak Anggota Lebih Kreatif

“Kita sebelumnya memang sudah intensif mengadakan kerajinan tangan membuat aksesoris. Ya lumayan, hasilnya juga memuaskan dan banyak pedagang-pedagang yang sudah mulai memesannya,” kata Lila Aiziyah, Ketua PR IPPNU Mojoduwur, kepada Bupati Tegal saat dihubungi, Ahad (6/12).

Bupati Tegal

Ia berharap keberadaan basecamp itu menjadi motivasi tersendiri bagi semua anggota dan pengurus ranting lebih aktif dan sungguh-sungguh dalam menjalankan program-programnya. “Selama ini yang menjadi prioritas kita adalah basecamp. Basecamp kita sudah punya, tugas kita sekarang adalah memanfaatkannya sebaik mungkin, termasuk menjalankan program-program kita ke depan,” ungkapnya.

Kantor IPNU-IPPNU ini diresmikan pada Ahad pagi, (6/12/2015) bersama segenap pengurus ranting Kecamatan Mojowarno. Sebelum diresmikan mereka memanjatkan doa dan tahlil bersama kemudian dilanjutkan dengan acara tumpengan (makan bersama). “Semoga dengan adanya basecamp ini kita bisa rutin dan semangat menggagas ide-ide dalam berkarya,” harapnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Pondok Pesantren, Santri, AlaSantri Bupati Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

Judul: Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Penulis : Agus Sunyoto

Tebal Halaman: 282

Penerbit : TRANSPUSTAKA, 2011

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

ISBN : 978-979-3907-11-6

Peresensi: Dinno Munfaidzin Imamah *

Bupati Tegal

Abad 7 hingga ke-13, peradaban Islam menguasai dunia dengan ilmu dan teknologinya yang lebih unggul dari Barat. Kemudian dihantam dan diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan (Mongol). Peradaban Aztec dan Inca dihancurkan pada masa awal penjelajahan Eropa dengan teknologi perang yang lebih canggih. Bangsa-bangsa Afrika menderita selama ribuan tahun akibat perbudakan. Nusantara Kita dikangkangi Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang lebih dari 350 tahun lamanya. Inggris menguasai dunia dengan kemajuan teknologi perkapalan dan revolusi industri. Inggris menjajah India sejak abad ke-18. Cina di jajah negara-negara Barat dan Jepang pada abad ke-19. Pada Perang Dunia II, giliran Eropa dilindas Nazi Jerman. Jepang menjajah negara-negara Asia di Perang Dunia II. Amerika membom atom Jepang pada 1945. Bangsa yang unggul (superior) akan mudah mengalahkan bangsa yang lemah (inferior).Bangsa yang lemah, lembek akan dijadikan mangsa dan budak-budak serta kuli.

Bupati Tegal

Setiap gerak sejarah Nusantara takkan pernah lepas dari tali temali gejolak dunia. Konstelasi internasional merupakan satu-satunya faktor penentu peristiwa di Bumi Nusantara Kita. Berdirinya kerajaan Majapahit, dilatar belakangi saat Singosari bertabrakan dengan Khubilai Khan. Perjuangan konsolidasi Majelis Wali Songo yang dipelopori Sang Pembaharu, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Ampel merupakan refleksi dan aksi geo-religius dan geo-politik dari radikalisme agama di Tanah Persia yakni lahirnya ‘Sang Tuhan’ Dinasti Safawiyyah di bawah komando maharaja absolut perwujudan Tuhan, yang membabat habis Wali-Wali Tuhan tanpa sisa. Serta akan datangnya ‘pasukan Ya’juj Ma’juj Dajjal’ di bawah bendera Vasco Da Gama (Portugis). Kerajaan Mataram bisa berdiri karena Demak mengalami pelemahan setelah kalah bentrok dengan Portugis. Kemudian, Jepang masuk ke Indonesia saat Belanda lemah dikampung halamannya, dihantam badai swastika Nazi Hitler. Bumi Jepang luluh-lantak dan diratakan dengan tanah oleh kekuatan bom atom Amerika. Akhirnya, meledak dan lahirlah Kemerdekaan Nusantara yang saat ini kita nikmati bernama Bumi Indonesia.

Perjuangan Wali Songo

Ada adagium yang mengatakan bahwa sejarah adalah hasil kontruksi elit, di mana sejarah adalah cerita kemenangan yang umumnya ditulis oleh para pemenang dan penguasa. Artinya siapa yang mampu merekonstruksi sejarah, pastilah akan menjadi pemenang dan digdaya dalam menapaki rentang waktu yang penuh pergulatan dan pertempuran untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bertumpu dari adagium ini, perjuangan tokoh-tokoh besar sejarah Nusantara anggota Wali Songo dihapus dari Ensiklopedia Islam Indonesia (Terbitan Van Hoeve). Tidak bisa ditafsirkan lain kecuali adanya anasir-anasir sistematis dari keislaman mainstream Nusantara, faham Ahlusunnah Wal Jama’ah yang dikenal oleh kelompok Nahdhiyin (NU); untuk menghapuskan keberadaan perjuangan Wali Songo dari sejarah dakwah Islam di Nusantara. Di masa depan, secara akademis-intelektual keberadaan perjuangan Wali Songo akan terpinggirkan, dan disingkirkan dan hanya menjadi dongeng legendaris belaka. Wali Songo dan Islam Nusantara bagi kaum positivistik adalah sinkretis, asimilatif, semi-animis, mistis (irrasional), dan tradisionalis anti-gerak kemajuan dunia. Fenomena ini tidak hanya lepas dari tilikan para sejarawan, para intelektual yang mengaku-aku kaum pembaruan Islam, ilmuwan sosial yang pada umumnya juga masih gelap-gulita melihat kenyataan itu. Hanya karena keangkuhan akademik-intelektualisme, mereka tak mu menerobos kabut mitologi (legenda) yang menyelebungi realitas sejarah Nusantara yang sejati. Tidak mempunyai kesabaran dan kepekaan lebih untuk membaca babat, prasasti, menyisir sejarah adi-luhung, menyusuri jejak-jejak spiritualisme,dan doktrin ilmiah versi Nusantara. 

Di tengah arus kemelut, dan kerancuan, bahkan kegelapan sejarah itulah Agus Sunyoto, sejarawan Nusantara berikhtiar mementaskan perjuangan Wali Songo dalam panggung sejarah Nusantara. Misi yang sungguh berat, di tengah gempuran aliran positivistik, penulis memilah antara sejarah dengan mitos. Dibutuhkan data sejarah yang kuat untuk mendukung argumen dan pandangannya. Untuk itu diperlukan kemampuan khusus dalam membaca prasasti, naskah berbahasa Kawi dan Jawa Kuno, termasuk bahasa Sansekerta dan Arab. Kesadaran akan makna pentingnya perjuangan Wali Songo dalam sejarah Islam di Bumi Nusantara yang sisa-sisa jejaknya masih sangat jelas terlihat sampai saat ini. Dengan semangat rawe-rawe rantas malang malana putung dan vivere vericoloco, sejarawan Nusantara ini meneliti dengan serius sejarah perjuangan Wali Songo untuk “melengkapi” Ensiklopedia Islam Indonesia yang tampaknya dengan sengaja akan menyingkirkan tokoh-tokoh penyebar Islam abad ke-15 dan ke-16 yang berjasa dalam mengislamkan Nusantara tersebut.

Dalam buku Wali Songo; Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, komandan NU saat ini KH. Said Aqil Siroj dalam kata pengantarnya mengatakan perjuangan Wali Songo dalam menggalang kepercayaan umat melalu perjalanan dakwah yang yak kenal lelah, menancapkan Tauhid dalam pikiran dan hati di Bumi Nusantara, dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama Hindu, Budha, Tantrayana, Kapitayan dan lainnya. Wali Songo mampu mengelola budaya, sehingga diterima oleh hampir masyarakat Nusantara. Wali Songo mampu menjalankan misi dari bidang-bidang strategis dari bidang keagamaan, tata kemasyarakatan, strategi kebudayaan, geo-politik saat itu, ekonomi, pengembangan kesenian dan sebagainya. Strategi jitu para Wali Songo dalam mengembangkan ajaran Islam di Bumi Nusantara dimulai dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadrij (bertahap). Tak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahan, tak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi. Misalnya, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai para Danyang dan Sang Hyang. Secara bertahap, perilaku mereka itu diluruskan. Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Perjuangan Wali Songo menyebarkan Islam tidak dengan mengusik tradisi yang ada, tidak menggangu agama, sistem nilai dan kepercayaan, tapi memperkuatnya dengan cara yang Islami.

Buku ini menjelaskan dengan detail bahwa Wali Songo menyadari sungguh-sungguh, bahwa Nusantara yang multietnis, multibudaya, dan multibahasa, ini adalah anugerah Tuhan yang tiada tara. Belum lagi kondisi alam yang ramah, iklimnya yang tropis, tidak ekstrim. Ditambah dengan keanekaragaman hayati, hingga Wali Songo mensyukurinya dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya. Anugerah yang mesti dilestarikan dan dikembangkan, bukan diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama (purifikasi), terorisme, atau atas nama kemodernan. Islam hadir di paras Bumi Nusantara ini justru merawat, memperkaya, dan memperkuat multikulturalisme Nusantara sehingga bisa berdiri sejajar dengan peradaban dunia yang unggul lainnya.

Karya sejarawan Nusantara yang juga penulis Novel berjilid-jilid berjudul Perjuangan Syaikh Siti Jenar dan Novel Rahuvanna Tatwa, terdiri dari 6 Bab yaitu bab 1: Data tentang bangsa Nusantara, Bab 2: Para Wali dan Dakwah Islam, Bab 3: Kemunduran Majapahit dan Perkembangan dakwah Islam, Bab 4: Dakwah Islam masa Wali Songo, Bab 5: Tokoh-tokoh Wali Songo, serta Bab 6: Wali Songo dan pembentukan masyarakat Islam Nusantara. Buku ini juga sebagai sebuah undangan terbuka untuk masyarakat Islam Indonesia untuk mengetahui tentang negara-bangsanya di masa depan, dengan memahami masa lalu dan melihat masa kini. Pembaca bisa memperoleh pijakan historis yang kuat. Kita akan lebih yakin untuk meneladani, menyebarkan serta mempelajari strategi perjuangan mereka. Sangat penting bagi kaum muda dan masyarakat bangsa yang sudah sangat kritis di era kapitalisme sekarang ini. Sebab, dengan bukti historis yang ada, kaum muda punya kecerdasan dan akumulasi pengetahuan lebih yang dulu di miliki Wali Songo. Akan mudah dan mau menebar perjuangan Wali Songo, sebagai perintis, pelopor dan provokator kesadaran melawan tatanan-Anti Tuhan saat ini (baca:kelezatan kekayaan duniawi). Sebuah struktur dan gerak dunia, keadaan zaman Indonesia yang dulu pernah dialami Wali Songo. Merubah tatanan Nusantara yang dulu berkiblat poros cinta-dunia.

Belajar dari keberhasilan dalam pembentukan masyarakat Islam Nusantara yang dahulu dilakukan oleh Wali Songo, mampu kita teladani di tengah arus banjir bandang globalisasi yang dahsyat saat ini. Seperti juga yang pernah diteladani oleh Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid yakni gerakan ‘pribumisasi Islam. Berdzikir, berpikir dan menggerakkan kembali nation-state of Indonesia untuk menggapai matahari kemajuan Republik, pluralisme sejati, ke-Bhineka-an, kesejahteraan dan mencinta nilai-nilai utama kemanusiaan. Serta jadi Bangsa Indonesia yang unggul, mandiri, tidak lembek yang akan kelak dijadikan mangsa, budak-budak dan kuli oleh para pemuja dan pecinta kelezatan duniawi; laskar Ya’juj Ma’juj Dajjal.

* Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, aktifis di PB PMII

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Olahraga, Budaya, Santri Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Obat Korupsi adalah Istighafar

Tegal, Bupati Tegal. Pengasuh Pesantren Al Arifiyah Pekalongan KH Zaenal Arifin, mengatakan tak heran jika terjadi korupsi di kalangan eksekutif, legislatif dan judikatif. Untuk itu obat yang paling mujarab adalah dengan selalu beristigfar. 

“Jangan menganggap istighfar itu sepele, nash dalam Al -Qur’an menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah obat, Istighfar adalah salah satu nash dalam al Qur’an. Kalau kita beristighfar maka akan menjadi kuat iman kita,“ tuturnya saat didaulat menjadi pembicara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh pemerintah Kabupaten Tegal melalui bagian Kesra di Pendopo Rumah Dinas Wakil Bupati Tegal, Rabu (6/2) malam. 

Lebih lanjut kiai dengan suara merdunya itu, menghimbau agar senantiasa memperbaharui iman dengan cara beristighfar dan membaca sholawat. 

Obat Korupsi adalah Istighafar (Sumber Gambar : Nu Online)
Obat Korupsi adalah Istighafar (Sumber Gambar : Nu Online)

Obat Korupsi adalah Istighafar

“Sholawat itu ibdah yang boleh dipamerkan, dan ketika berdoa tidak membaca sholawat terlebih dahulu maka do’anya tidak akan didengar oleh Allah SWT. Segala keinginan kuncinya adalah dengan sholawat,“ sarannya.

Bupati Tegal

Mengawali prosesi acara dengan pembacaan Maulid Dibai yang dilantunkan oleh group hadrah dari Pagongan Kecamatan Dukuhturim jalan-jalan di depan rumah dinas wakil bupati pun dijaga ketat oleh pihak keamanan. 

Dalam kesempatan tersebut juga diberikan santunan kepada 15 anak yatim piatu di lingkungan setempat yang diserahkan langsung oleh Bupati Tegal dan didampingi Istri Ny Hj Suspriyanti.

Bupati Tegal

Bupati Tegal Hery Soelistiyawan mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang wajar dan bahkan wajib dilaksanakan sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dalam sambutanya itu Bupati juga mengajak kepada masyarakat Kabupaten Tegal untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT sehingga Kabupaten Tegal akan jauh dari segala  musibah dan bencana.

"Kepada masyarakat Kabupaten Tegal, mari kita tingkatkan iman kita dan selalu berdoa agar Kabupaten Tegal jauh dari bencana," ungkapnya.

Secara khusus Bupati juga menekankan kepada kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal untuk mengembangkan keimanan dan ketaqwaan kepada karyawan dan pegawai di unit kerjanya.

"Khusus kepada para Kepala SKPD dan camat saya himbau untuk mengadakan pengajian bagi karyawannya minimal 1 minggu sekali. Miniman dengan sering mendengar tausiyah para Kiai, nyambut gawe (bekerja) akan kepenak (nyaman)," tukas Bupati

Sedikitnya 1000 orang memadati pendopo dan pelataran Rumdin Wakil Bupati yang terdiri dari para Ulama, Habaib, Kiai, santri, TNI/Polri dan masyarakat umum. Turut hadir Forum Muspida, Para Kepala Dinas/Badan/Kantor di lingkungan Pemkab Tegal dan Camat se Kabupaten Tegal.

Pembicara lain dalam kesempatan itu adalah Habib Soleh Al Attos. Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz T

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Jadwal Kajian, Santri Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Bangkalan Jadikan Zikir dan Pikir Landasan Gerakan

Jakarta, Bupati Tegal - Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bangkalan menyatakan komitmen untuk zikir dan pikir sebagai titik tolak gerakannya. Mereka meyakini keduanya dapat mengantarkan gerakan mereka pada kesalehan individu dan kesalehan sosial.

Demikian disampaikan Ketua PMII Bangkalan Mufti Shohib dalam peringatan Harlah Ke-56 dan Isra Mi’raj di altar Stadion Gelora Bangkalan, Senin (25/4) malam.

PMII Bangkalan Jadikan Zikir dan Pikir Landasan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bangkalan Jadikan Zikir dan Pikir Landasan Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bangkalan Jadikan Zikir dan Pikir Landasan Gerakan

“Dengan semangat dzikir sebagai maifestasi penghambaan kader, dengan semangat berpikir sebagai manifestasi tanggung jawab intelektualitas kader, dan dengan semangat amal sholih sebagai manifestasi PMII selaku insan pergerakan, PMII Bangkalan berkomitmen mengawal realisasi nilai zikir, pikir dan amal saleh di kalangan mahasiswa, birokrasi, kalangan politisi, akademi, dan masyarakat secara umum,” kata Mufti Shohib di hadapan ratusan kader PMII Bangkalan.

Pada peringatan harlah ini mereka mengangkat tema Meneguhkan Semangat Jihad PMII dengan Zikir, Pikir, dan Amal Sholeh. Mereka membaca shalawat bersama. Mereka juga menggelar tabligh akbar yang diisi da’i alumnus PMII KH Farmadi Hasyim. Peringatan ini  dimeriahkan oleh jam’iyah shalawat Nasyid Islami Bangkalan.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Mufti Shohib meyakini tema yang diusung ini dapat menggerakan aktivis PMII Bangkalan menuju arah yang lebih baik.

Peringatan ini merupakan acara puncak dari sejumlah rentetan acara yang diselenggarakan PMII Bangkalan dalam rangka peringatan Harlah Ke-56 PMII. Sebelumnya mereka mengadakan lomba karya ilmiah, lomba debat, pembinaan jurnalistik, publik speacking, dan temu alumni PMII Bangkalan.

Wakil Bupati Bangkalan Ir KH Mondir Rofii menyampaikan apresiasinya atas peringatan ini. “Kegiatan ini merupakan langkah yang sangat bagus oleh PMII Bangkalan. Mudah-mudahan PMII Bangkalan semakin berjaya dan mampu menjadi jawaban atas maraknya persoalan kebangsaan kita,” kata Ir KH Mondir Rofii. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian, Santri Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Probolinggo, Bupati Tegal - A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menyampaikan, dalam rangka menjawab tantangan organisasi NU dan dinamika perkembangan zaman, Banser sebagai kader penggerak dan satuan pengaman dari program GP Ansor harus mengubah mindset dan performancenya yang selama ini dianggap kurang memiliki nilai tawar.

Hal ini disampakan H Hasan Aminuddin ketika memberikan materi kepemimpinan dan enterpreneur dalam kegiatan kursus pelatih (Suspelat) I Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Jawa Timur di aula Pondok Pesantren Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jumat (31/3) sore

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jangan Jadi Alat untuk Kepentingan di Luar NU

Menurutnya, melihat fungsi dari Banser sebagai benteng ulama dan NKRI, Banser yang selalu menjadi garda terdepan disetiap gerak langkah GP Ansor bersama jam’iyah NU harus mampu menjalankan fungsinya secara profesional sesuai dengan pelatihan dan pendidikan yang sudah didapatnya.

“Jangan mau dijadikan alat oleh orang lain dalam urusan di luar prinsip NU, khususnya untuk kepentingan politik. Tetaplah menjadi benteng ulama NU dan menjaga keutuhan NKRI,” tegasnya.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Ia juga menekankan pentingnya kedisiplinan yang merupakan syarat utama untuk mencapai suatu keberhasilan di organisasi apapun, khususnya dalam keorganisasian Banser. Tugas pokok dan fungsinya adalah untuk menjaga Islam yang rahmatan lil alamin dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Atribut dan seragam kalian sudah menyerupai seorang TNI, maka sifat, sikap dan perbuatan kalian harus seperti seorang TNI,” pungkasnya.

Kegiatan yang diikuti oleh 70 peserta perwakilan dari Satuan Koordinator Cabang (Satkorcab) Banser se-Jawa Timur ini mengambil tema Rapatkan Barisan Demi Terciptanya Indonesia Aman dan Sejahtera. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Amalan, Santri Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock