Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat

Jakarta, Bupati Tegal. Radikalisme dan terorisme merupakan dua hal yang berbeda. Radikalisme adalah satu pemikiran yang radic, mendasar dan mengakar. Berbeda halnya dengan teror yang merupakan satu cara mencapai tujuan untuk menekan pemerintah terkait sejumlah agenda politik dengan cara kekerasan. Baik melalui bom maupun cara-cara lain yang mengandung unsur kekerasan.

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bendung Terorisme, FKPT Galang Dukungan Masyarakat

Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi DKI Jakarta Agus Riyanto mengatakan hal tersebut kepada Bupati Tegal di sela-sela sosialisasi hasil penelitian “Radikal-Terorisme pada Tokoh Pemuda Islam dan Remaja Masjid”. Acara tersebut dihelat di gedung serbaguna Menza Jalan Salemba Raya (Komp SMA 68) No 18, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1).

“Nah, domain kami sebagai pengurus FKPT itu terkait terorisme, yakni pemikiran yang mengajak orang untuk melakukan teror. Dan itu menjadi konsen kami di organisasi ini,” tegasnya.

Bupati Tegal

Menurut Agus, sebelumnya FKPT melakukan penelitian terhadap lima domain, yakni remaja masjid, pemuda Islam, tokoh Islam, tokoh majlis agama, dan tokoh adat informal. Kegiatan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang dilakukan selama dua bulan, November-Desember 2014.

Bupati Tegal

“Kegiatan ini disampaikan kepada masyarakat agar mendapat feed back dari mereka, sehingga hasil penelitian ini lebih baik,” paparnya.

Selain itu, lanjut Agus, kegiatan tersebut sekaligus merupakan upaya menggalang dukungan masyarakat terkait pencegahan terorisme di wilayah Provinsi DKI Jakarta. “Penelitian ini sesungguhnya hendak mengetahui sejauhmana potensi di lingkungan yang diteliti,” ungkapnya.

Acara ini merupakan kerja sama dengan Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) DKI Jakarta. Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPP SDM) BKPRMI Jakarta Hamry Gusman Zakaria mengajak para pemuda, khususnya Nahdliyin, untuk aktif di masjid dan majlis ta’lim.

“Kami mengajak genenasi muda Nahdliyin untuk ambil bagian dalam kampanye melawan terorisme. Hal ini kita lakukan untuk membendung radikalisme atas nama agama,” tegasnya.

Acara tersebut diikuti puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudlatul Athal (RA), dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dari lima wilayah kotamadya se-DKI Jakarta. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Fragmen, Makam Bupati Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Antrean Panjang Haji, Umrah Tetap bukan Alternatif

Probolinggo, Bupati Tegal - Haji dan umrah adalah undangan dari Allah SWT dan Rasulullah SAW. Siapapun bisa menunaikan ibadah haji dan umrah. Tidak ada bedanya. Semua mempunyai hak yang sama di hadapan Allah.

Hal ini disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Ahad (4/9). “Tetapi terkadang lahir dan materi mampu, tetapi iman tidak mampu, maka akhirnya tidak akan jadi berangkat ke tanah suci,” katanya.

Antrean Panjang Haji, Umrah Tetap bukan Alternatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Antrean Panjang Haji, Umrah Tetap bukan Alternatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Antrean Panjang Haji, Umrah Tetap bukan Alternatif

Hasan meminta yang belum haji agar jangan menuruti aturan manusia. Pasalnya karena terlalu lama menunggu antrean, masyarakat akhirnya menutuskan untuk melaksanakan umrah. Padahal dengan umrah, kewajibannya untuk haji tidak gugur.

“Wajib tetap wajib, tidak bisa diganti dengan sunah. Ingat, haji itu wajib dan umrah sunah. Karena itu, kalau mempunyai kelebihan rezeki taruh dan tabung. Nantinya kalau sudah cukup segeralah mendaftar dan jangan hitung-hitungan dan terlalu lama menunggu,” jelasnya.

Bupati Tegal

Bupati Tegal

Menurutnya, kalkulasi masyarakat saat ini keluar dan masuknya harta dihitung. Padahal uang yang keluar di jalan Allah tidak akan hilang dan pasti akan kembali berlipat-lipat.

“Tetapi saya berpesan hati-hatilah dengan penipuan berkedok bisa memberangkatkan jamaah haji dengan cepat. Saat ini sudah tidak ada lagi percepatan pemberangkatan haji ke tanah suci,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Obat Korupsi adalah Istighafar

Tegal, Bupati Tegal. Pengasuh Pesantren Al Arifiyah Pekalongan KH Zaenal Arifin, mengatakan tak heran jika terjadi korupsi di kalangan eksekutif, legislatif dan judikatif. Untuk itu obat yang paling mujarab adalah dengan selalu beristigfar. 

“Jangan menganggap istighfar itu sepele, nash dalam Al -Qur’an menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah obat, Istighfar adalah salah satu nash dalam al Qur’an. Kalau kita beristighfar maka akan menjadi kuat iman kita,“ tuturnya saat didaulat menjadi pembicara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar oleh pemerintah Kabupaten Tegal melalui bagian Kesra di Pendopo Rumah Dinas Wakil Bupati Tegal, Rabu (6/2) malam. 

Lebih lanjut kiai dengan suara merdunya itu, menghimbau agar senantiasa memperbaharui iman dengan cara beristighfar dan membaca sholawat. 

Obat Korupsi adalah Istighafar (Sumber Gambar : Nu Online)
Obat Korupsi adalah Istighafar (Sumber Gambar : Nu Online)

Obat Korupsi adalah Istighafar

“Sholawat itu ibdah yang boleh dipamerkan, dan ketika berdoa tidak membaca sholawat terlebih dahulu maka do’anya tidak akan didengar oleh Allah SWT. Segala keinginan kuncinya adalah dengan sholawat,“ sarannya.

Bupati Tegal

Mengawali prosesi acara dengan pembacaan Maulid Dibai yang dilantunkan oleh group hadrah dari Pagongan Kecamatan Dukuhturim jalan-jalan di depan rumah dinas wakil bupati pun dijaga ketat oleh pihak keamanan. 

Dalam kesempatan tersebut juga diberikan santunan kepada 15 anak yatim piatu di lingkungan setempat yang diserahkan langsung oleh Bupati Tegal dan didampingi Istri Ny Hj Suspriyanti.

Bupati Tegal

Bupati Tegal Hery Soelistiyawan mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang wajar dan bahkan wajib dilaksanakan sebagai sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Dalam sambutanya itu Bupati juga mengajak kepada masyarakat Kabupaten Tegal untuk selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT sehingga Kabupaten Tegal akan jauh dari segala  musibah dan bencana.

"Kepada masyarakat Kabupaten Tegal, mari kita tingkatkan iman kita dan selalu berdoa agar Kabupaten Tegal jauh dari bencana," ungkapnya.

Secara khusus Bupati juga menekankan kepada kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal untuk mengembangkan keimanan dan ketaqwaan kepada karyawan dan pegawai di unit kerjanya.

"Khusus kepada para Kepala SKPD dan camat saya himbau untuk mengadakan pengajian bagi karyawannya minimal 1 minggu sekali. Miniman dengan sering mendengar tausiyah para Kiai, nyambut gawe (bekerja) akan kepenak (nyaman)," tukas Bupati

Sedikitnya 1000 orang memadati pendopo dan pelataran Rumdin Wakil Bupati yang terdiri dari para Ulama, Habaib, Kiai, santri, TNI/Polri dan masyarakat umum. Turut hadir Forum Muspida, Para Kepala Dinas/Badan/Kantor di lingkungan Pemkab Tegal dan Camat se Kabupaten Tegal.

Pembicara lain dalam kesempatan itu adalah Habib Soleh Al Attos. Acara diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Tegal KH Chambali Utsman. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz T

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nahdlatul, Jadwal Kajian, Santri Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Madiun, Bupati Tegal. Sering “terseretnya” organisasi masyarakat dalam berbagai kepentingan, seolah membuat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj berkepentingan menekankan tugas yang sebenarnya. Dijelaskan, ormas seperti NU memiliki kewajiban membangun manusia.

“Kewajibannya adalah membangun manusia, masyarakat. Tidak lagi mempersoalkan agama. Agar lebih maju, bermanfaat, membangun kekuatan budaya moral agama akhlak ekonomi politik,” paparnya saat menjadi pembicara dalam Halal Bi Halal Pengurus Cabang PCNU Kota Madiun, Jawa Timur, di Wisma Haji Kota, Sabtu (18/11) lalu.

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tegaskan Perlunya NU Perkuat Spirit Agama

Menurut Kang Said--begitu panggilan akrabnya--ada beberapa hal yang harus diperkuat langkahnya oleh ormas, termasuk NU. Yakni, spirit agama. “Dengan selalu melakukan pendalaman, pemahaman ilmu agama. Saat ini, sudah banyak dilakukan NU. Pokoknya kalau ada masalah agama, nggak usah khawatir, tanya ke NU,” ujarnya.

Yang menarik, menurutnya, jika yang ditanyakan atau yang harus diperbuat, adalah hal lain seperti dunia politik. “Lha kalau masalah politik, sulit. Biasanya nggak sedep (tidak sedap), atau rasane (rasanya) hambar, sering kasinen (terlalu asin), kepedesen (terlalu pedas),” kelakarnya sambil tersenyum dan disambut ger-geran hadirin.

Kebesaran Islam, menurutnya, adalah karena akidah dan syariatnya, sejak 14 abad lalu tidak berubah alias original. “Ini tidak terjadi pada agama lain. Yang berubah, adalah manusianya. Yang harus diperbarui, ditingkatkan, dituntut perubahan, adalah cara bagaimana berakidah, bersyariat, bangun kebersamaan, saling melengkapi dan saling menghargai,” paparnya.

Bupati Tegal

Penguatan lain yang harus dilakukan, adalah ruhul wathaniyah atau spirit nasionalis. “NU harus memperkuat semangat nasional mempertahankan, mencintai, menjaga dan mengawal keutuhan ber-Indonesia,” tutur Kang Said. Menurut catatan sejarah, lanjutnya, spirit nasionalisme sudah bergelora sejak lama, bahkan sebelum sumpah pemuda. (gpa/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Nahdlatul, Makam, Pondok Pesantren Bupati Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

MWCNU Udanawu Turba ke Balai Desa- Balai Desa

Blitar, Bupati Tegal

Program turun ke bawah (turba) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada Ramadhan ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya safari Ramadhan dilakukan di masjid-masjid, kali ini program rutin itu digelar di balai desa-balai desa.

MWCNU Udanawu Turba ke Balai Desa- Balai Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Udanawu Turba ke Balai Desa- Balai Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Udanawu Turba ke Balai Desa- Balai Desa

Tim MWCNU terdiri dari 10 orang dan dampingi tiga unsur Muspika, yaiut Camat, Kapolsek dan Danramil Udanawu. Bertindak sebagai ketua tim Rais Syuriyah MWCNU Udanawu KH Moh Muhid dan Ketua Tanfidhiyah MWCNU H Mohammad Mansyur.

Hingga pertengahan Ramadhan ini, sudah 4 desa atau Pengurus Ranting NU dari 12 desa yang telah dikunjungi tim safari MWCNU Udanawu. Yakni Pengurus Ranting NU Sumbersari, Pengurus Ranting Besuki, Pengurus Ranting NU Temenggungan, dan Pengurus Ranting NU Bakung.

Bupati Tegal

“Alhamdulillah selama tiga kali safari ke ranting-ranting ini, kita selalu didampingi Muspika. Pak Camat, Danramil dan Kapolsek. Sehingga semua persoalan keumatan bisa disampaikan,” ungkap H Mohammad Mansyur, Senin (20/6) malam.

Selain itu dalam safari juga diikuti KH Syaikuddin Rahman selaku Mustasyar MWCNU Udanawu. Pak Cikut, panggilan akrab Kiai Syaikuddin selalu berkesempatan memberikan taushiyah. Untuk program organisasi NU langsung disampaikan Rais Syuriyah MWCNU. Sementara untuk program dan kegiatan masyarakat langsung disampaikan Camat Udanawu Zainal Ma’arif atau sekretaris kecamatan setempat, Suyono.

Bupati Tegal

“Terkait dengan NU ditangani pengurus NU. Yang terkait dengan program pemerintah langsung disampaikan Pak Camat atau sekretarisnya. Ini artinya apa? Bahwa di Udanawu, ulama dan umara’ selalu seiring dan sejalan. Sehingga kalau ada persoalan keumatan langsung bisa di selesaikan bersama-sama,” kata Mansyur.

Dalam safari ini titik poin yang disampaikan ada dua hal. Pertama, masalah program kerja NU dan kebijakannya. Kedua, masalah stabilitas negara, yang dikaitkan dengan isu-isu terkini seperti radikalisme dan komunisme.

“Dua persoalan ini disampaikan secara gamblang oleh tim disertai dengan beberapa bukti. Sehingga hadirin langsung paham,” tambahnya.

Setiap lokasi tidak kurang dari 300 orang hadir dalam kegiatan tersebut. Mulai dari perangkat desa, pengurus NU dan badan otonomnya juga beberapa tokoh masyarakat dan anggota majelis ta’lim di ranting setempat. “Sehingga apa yang disampaikan tim ini sangat tepat ke sasaran,” tambahnya.

Sementara Kiai Syaikuddin pada kesempatan tersebut banyak mengupas masalah hikmah dan fadhilah puasa Ramadhan.? Setiap kesempatan ada sesi tanya jawab masalah fiqih. “Pak Kiai bagaimana hukumnya jual beli kotoran. Kan lingkungan kita ini banyak peternak. Sebagian ada yang menjual kotoran untuk pupuk,” ujar salah seorang peserta.

Menurut Kiai Cikut, jual kotoran itu hukumnya haram atau tidak boleh. “Kita kan pakai madzhab Syafii. Jual beli kotoran tidak boleh. Supaya boleh bagaimana? Akadnya harus dibetulkan. Tidak jual kotorannya. Namun hanya sebagai ongkos bersih-bersih atau lainnya,” katanya. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Humor Islam, Nahdlatul, Kyai Bupati Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Jakarta, Bupati Tegal?

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiul Awwal diperingati umat Islam Indonesia dan di negara-negara lain. Istilah kegiatan tersebut, sebagian orang menyebutnya “maulid”. Sebagian lagi “maulud”. Maulid nabi atau maulud nabi? Mana yang benar?

“Dua-duanya benar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu malam (3/12).?

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Menurut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, berarti yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud berarti isim maf’ul. Dengan demikian yang diperingati, dimuliakan adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.?

“Dua-duanya boleh,” ungkapnya lagi.?

Sampai berita ini ditulis ceramah Kiai Said masih berlangsung di hadapan hadirin yang memenuhi halaman dan masjid An-Nahdlah. Hadir pada kesempatan tersebut Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman, Katib Syuriyah KH Nurul Yaqin Ishaq danH Sa’dullah Affandy, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh dan H Andi Najmi, Ketua LD PBNU KH Maman Imanul Haq Faqih, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Nahdlatul, Ubudiyah Bupati Tegal

Bupati Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Oleh: M. Imaduddin

Kelahiran Aswaja, atau lebih tepatnya terminologi Aswaja, merupakan respon atas munculnya kelompok-kelompok ekstrem dalam memahami dalil-dalil agama pada abad ketiga Hijriah. Pertikaian politik antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Damaskus, Muawiyah bin Abi Sufyan, yang berakhir dengan tahkim (arbitrase), mengakibatkan pendukung Ali terpecah menjadi dua kubu.

Kubu pertama menolak tahkim dan menyatakan Ali, Muawiyah, Amr bin ‘Ash, dan semua yang terlibat dalam tahkim telah kafir karena telah meninggalkan hukum Allah. Mereka memahami secara sempit QS. Al-Maidah:44: “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka mereka telah kafir”. Semboyan mereka adalah laa hukma illallah, tiada hukum selain hukum Allah. Kubu pertama ini kemudian menjadi Khawarij.

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah, Metode Berpikir, dan Gerakan Aswaja

Sedangkan kubu kedua mendukung penuh keputusan Ali, sebab Ali adalah representasi dari Rasulullah saw, Ali adalah sahabat terdekat sekaligus menantu Rasulullah saw. Keputusan Ali adalah keputusan Rasulullah saw. Kubu kedua ini kemudian menjadi Syiah. Belakangan, golongan ektstrem (rafidhah) dari kelompok ini menyatakan bahwa tiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Bahkan golongan Syiah paling ekstrem yang disebut Ghulat mengkafirkan seluruh sahabat Nabi Saw kecuali beberapa orang saja yang mendukung Ali. Di sinilah awal mula pertikaian antara Syiah dengan Khawarij yang terus berlangsung hingga kini.

Bupati Tegal

Khalifah Ali kemudian dibunuh oleh Khawarij. Pembunuhnya adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang penganut fanatik Khawarij. Menyedihkan, Ibnu Muljam ini sosok yang dikenal sebagai penghafal Al-Quran, sering berpuasa, suka bangun malam, dan ahli ibadah. Fanatisme dan minimnya ilmu telah menyeretnya menjadi manusia picik dan sadis.

Berdasarkan musyawarah ahlul halli wal áqdi yang beranggotakan sahabat-sahabat besar yang masih tersisa waktu itu, menyepakati kedudukan Ali sebagai khalifah digantikan oleh puteranya Al-Hasan. Namun Al-Hasan hanya dua tahun menjabat sebagai khalifah. Ia mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah karena menurut ijtihadnya mengundurkan diri adalah pilihan terbaik untuk menyelesaikan perselisihan umat. Dalam sejarah, tahun pengunduran diri Al-Hasan dinamakan“am al-jamaáh” atau tahun persatuan.

Bupati Tegal

Naiknya Muawiyah menjadi khalifah menimbulkan reaksi keras dari kelompok Syiáh dan Khawarij. Mereka menolak kepemimpinan Muawiyah dan menyatakan perang terhadap Bani Umayah. Perselisihan makin memuncakmanakala Muáwiyah mengganti sistem khilafah menjadi monarki absolut, dengan menunjuk anaknya Yazid sebagai khalifah selanjutnya.

Di sisi lain, tragedi Karbala yang menyebabkan terbunuhnya cucu Rasulullah saw Al-Husein dan sebagian besar ahlul bait Rasulullah saw pada masa Khlalifah Yazid bin Muawiyah, telah mengobarkan semangat kaum Syiah untuk memberontak terhadap Bani Umayah. Pertikaian selanjutnya melebar jadi pertikaian segitiga antara Bani Umayah, Syiah, dan Khawarij. Pertikaian terus berlanjut hingga masa Bani Abbasiah. Dua kelompok ini senantiasa merongrong pemerintahan yang sah.

Chaos politik yang melanda umat Islam awal pada akhirnya juga melahirkan kelompok lain di luar Syiah dan Khawarij. Pada awal abad ketiga Hijriah muncul kelompok Murjiáh, yang berpendapat bahwa dalam persoalan tahkim tidak ada pihak yang berdosa. Dosa dan tidaknyaserta kafir dan tidaknya seseorang bukanlah diputuskan di dunia, melainkan di akhiratoleh Allah SWT.

Dari persoalan politik kemudian merembet menjadi persoalan akidah.Perdebatan siapa yang bersalah dalam konflik antara Ali dan Muawiyah melebar jadi perdebatan tentang perbuatan manusia. Setelah Murjiáh, muncullah aliran Jabbariah (fatalisme) dan Qodariah(fre act and fre will). Jabbariah berpendapat, perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan, artinya manusia tak lebih laksana wayang yang digerakkan oleh dalang. Qodariah berpendapat sebaliknya, bahwa manusia sendirilah yang menciptakan perbuatannya tanpa ada “campur tangan” Tuhan terhadapnya.

Setelah Qodariah dan Jabbariah, berikutnya muncul aliran Mu’tazilah yang berpendapat sama dengan Qodariah dalam hal perbuatan manusia, namun mereka menolak penetapan sifat (atribut) pada Allah. Menurut Mu’tazilah, bila Allah memiliki sifat berarti ada dua materi pada Allah, yakni Dzat dan Sifat, hal ini berarti telah syirik atau menduakan Allah.

Lahirnya aliran-aliran ekstrem setelah Syiah dan Khawarij bukan hanya disebabkanoleh persoalan politik yang melanda umat Islam awal, akan tetapi juga dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dari luar Islam. Hal ini merupakan imbas dari semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam yang meliputi wilayah-wilayah bekas kekaisaran Persia dan Romawi yang sudah lebih dahulu memiliki peradaban yang mapan dan telah bersentuhan dengan rasionalisme Yunani dan filsafat ketimuran.

Seperti yang saya kemukakan di awal tulisan ini, kemunculan istilah Aswaja merupakan respon atas kelompok-kelompok ekstrem pada waktu itu. Aswaja dipelopori oleh para tabiín (generasi setelah sahabat atau murid-murid sahabat) seperti Imam Hasan Al-Bashri, tabi’tabiín (generasi setelah tabiín atau murid-murid tabiín) seperti Imam-imam mazhab empat, Imam Sufyan Tsauri, Imam Sufyan bin Uyainah. Ditambah generasi sahabat, inilah yang disebut dengan periode salaf, sebagaimana disebut oleh Rasulullah saw sebagai tiga generasi terbaik agama ini.

Selepas tabi’ tabiínajaran Aswaja diteruskan dan dikembangkan oleh murid-murid mereka dan dilanjutkan oleh generasi-generasi berikutnya.Mulai dari Imam Abul Hasan Al-Asyári, Imam Abu Manshur Al-Maturidi, Imam Al-Haromain, Imam Al-Junaid Al-Baghdadi, Imam Al-Ghazali dan seterusnya sampai Hadratussyekh Hasyim Asyári.

Dalam memahami dalil Al-Qur’an dan Sunnah Aswaja mengikuti metodologi para sahabat, yakni metodologi jalan tengah (moderat), keseimbangan antara pengunaan teks suci dan akal. Menyikapi pendapataliran-aliran ekstrem tersebut Aswaja mengambil jalan tengah di antara pendapat-pendapat mereka. Beberapa ajaran pokok Aswaja, antara lain:

1. Pertikaian politik yang terjadi di antara para sahabat Nabi saw merupakan ijtihad para sahabat, bila benar mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala. Aswaja mengambil sikap tawaquf (diam) atas perselisihan yang terjadi di antara para sahabat dan menyatakan keadilan para sahabat (hadisnya bisa diterima).

2. Dalam masalah takfir Aswaja amat berhati-hati, karena bila sembrono efeknya akan kembali kepada si penuduh. Aswaja tidak akan mudah mengkafirkan ahlul qiblah atau selama masih mengakui tidak ada ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah utusan allah; mengakui hal-hal prinsip dan sudah pasti dalam agama(al-ma’lum mina diini biddhoruroh) seperti rukun Islam, rukun iman, dan perkara-perkara gaib seperti surga, neraka, hisab, shirath, malaikat, jin, peristiwa isra’ dan mi’raj dll. yang informasi mengenai hal-hal tersebut hanya diketahui dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saw yang mutawatir.

3. Aswaja juga tidak mudah memvonis sesat sebuah pemikiran atau pendapat seseorang yang berangkat dari dalil yang tidak tegas (ijtihadi) atau masih terbuka ruang perbedaan pendapat di dalamnya. Aswaja amat menghargai perbedaan pendapat karena perbedaan pendapat di kalangan umat adalah rahmat.

4. Mengenai perbuatan manusia, Aswaja berpendapat bahwa perbuatan manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan, namun manusia memiliki kuasa (kasb) atas perbuatannya yang bersamaan dengan kehendak Tuhan.

5. Dalam memahami teks Al-Quran dan sunnah, Aswaja berpendapat bahwa ada ruang bagi akal untuk memahami teks. Artinya ada teks yang mengandung makna haqiqi dan ada teks yang mengandung makna majazi(metaforis) yang membuka ruang akal (tafsir) untuk memahaminya.

6. Mengenai perbuatan dosa atau masuk surga dan neraka manusia, Aswaja berpendapat manusia divonis telah berdosa di dunia apabila telah melanggar hukum-hukum syariat sedangkan di akhirat mutlak adalah keputusan Allah.

7. Mengenai sifat Allah, Aswaja berpendapat bahwa Allah memiliki sifat. Dzat (esensi) dan Sifat (atribut) adalah dua hal yang berbeda namun tak dapat dipisahkan, seperti halnya sifat manis yang melekat pada gula. Antara atribut manis dan esensi pada gula keduanya menyatu, namun tak bisa dilepaskan satu sama lain. Sifat senantiasa menyatu dengan Dzat (esensi).

8. Terkait dengan politik dan kekuasaan, Aswaja menyatakan haram hukumnya bughot (memberontak) meskipun pemerintahan itu zhalim,karena hanya akan menimbulkan pertikaian dan pertumpahan darah yang tak berkesudahan di kalangan umat. Namun pemerintahan hasil kudeta adalah pemerintahan yang sah karena terkait dengan kesejahteraan umat dan legalnya beberapa hukum syariat.

9. Aswaja tidak menolak tradisi dan kebudayaan yang sudah lama berkembang dan mendarah daging di tengah masyarakat, asal tidak bertentangan dengan syariat. Namun bila bertentangan dengan syariat, Aswaja menolak perubahan dilakuan secara radikal dan revolusioner. Perubahan harusdilakukan secara bertahap.Atau tidak harus merubahnya, tetapi mewarnai tradisi dan kebudayaan tersebut sehingga cocok dengan ajaran Islam.



Fleksibilitas Ajaran Aswaja

Sepanjang sejarah perjalanannya, prinsip jalan tengah yang ditempuh Aswaja, yang mewujud dalam karakter tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) membuat Aswaja mampu hidup dan berkembang di wilayah mana saja dan mampu melebur dengan kebudayaan setempat, serta senantiasa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (dinamis).

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara,dai-dai Aswaja awal di Nusantara seperti Walisongo tak mengalami benturan dengan kebudayaan masyarakat Nusantara. Pasalnya, kata Clifford Gertz, dalam menyebarkan agama Islam mereka tidak hanya berperan sebagai pendakwah yang menyiarkan agama Islam,akan tetapisebagai cultural broker, makelar budaya.

Oleh karena itu, saya berani katakan corak Islam di Nusantara 90 persen terbentuk dari budaya. Hal ini terlihat dari arsitektur rumah ibadah, istana kesultanan, tradisi dan ritual keagamaan, kuliner, fashion, hingga sistem pengajaran dan pendidikan.Islam di Nusantara itu unik dan berbeda dengan Islam di tanah asalnya, Arab.

Orientasi Aswaja Bukan Kekuasaan

Ajaran Aswaja yang dianut oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia orientasinya tidak lain adalah mewujudkan kemaslahatan dan kesejahteraan umat baik bidang agama, sosial, politik, maupun ekonomi. Aswaja bukanlah golongan yang menjadikan kekuasaan politik sebagai tujuan. Artinya, bagi Aswaja kekuasaan bukanlah indikator keberhasilan dakwah islamiah, tetapi terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Hal ini berbeda dengan kaum Syiah dan Khawarij yang orientasi utamanya adalah kekuasaan politik.

Dengan prinsip jalan tengahnya, dalam bidang politikAswaja menghendaki tatanan politik yang stabil. Aswaja mengharamkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah dan mengharamkan sebuah tindakan dan pernyataan yang dapat memicu huru-hara politik dan chaos. Mengapa? Karena instabilitas politik dapat memicu kekacauan sosial yang pada ujungnyahanya akan menyengsarakan rakyat.

Aswaja menyatakan bahwa Islam tidak meninggalkan sistem politik apapun. Mengenai pengaturan negara diserahkan kepada masyarakat yang membentuk negara itu. Islam tidak mempersoalkan sistem demokrasi atau monarki. Islam hanya memerintahkan seorang pemimpin harus adil dan berakhlakul karimah, senantiasa musyawarah, serta berkomitmen untuk menyejahterakan rakyatnya, sebagaimana kaidah fiqh “tashorruful imam ála roíyah manuthun bil mashlahah” kebijakan seorang pemimpin berdasarkan kesejahteraan rakyatnya.

Dalam bidang sosial, Aswaja menginginkan sebuah tatanan masyarakat yang beradab(tamaddun), dalam arti masyarakat yang membangun, saling menghormati, dan toleran, meski berbeda agama, suku bangsa, dan budaya. Inilah tatanan masyarakat ideal sebagaimana telah diwujudkan oleh Nabi Muhammad saw 14 abad yang lalu ketika membangun masyarakat madani (civil society) di Madinah.

Dalam bidang ekonomi, Aswaja menekankan pemerataan ekonomi. Aswaja mengambil jalan tengah antara kapitalisme-liberalisme dan sosialisme-komunisme. Aswaja mengharamkan monopoli atas kebutuhan-kebutuhan pokok masyarakat. Aswaja juga mengharamkan sumber daya alam dan mineral sebuah negara dikuasai oleh pribadi atau segelintir orang. Aswaja menekankan keseimbangan antara hak-hak individu dan hak-hak masyarakat sehingga tercipta keadilan sosial dan ekonomi.

Aswaja dan Nasionalisme

Bagi Aswaja, agama dan nasionalisme tak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang. Agama dan nasionalisme saling mendukung. Nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai, sementara agama tanpa nasionalisme tak mampu menyatukan elemen-elemen bangsa. Hadratussyekh Hasyim Asyári jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamasikan menyatakan,cinta tanah air sebagian dari iman. Siapa yang tidak mencintai tanah airnya maka belum sempurna imannya. Inilah prinsip jalan tengah Aswaja dalam menyikapi persoalan kebangsaan. Al-Quran secara jelas mengatakan: “sesungguhnya Kami (Allah) menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal (berinteraksi)”.

***

Alhasil, Aswaja bukan hanya sebuah pandangan keagamaan, akan tetapi lebih jauh merupakan pandangan hidup (way of life) seorang muslim dalam menyikapi lingkungannya yang majemuk dan dinamis. Aswaja adalah manhajul fikrah wal harakah (landasan pemikirandan gerakan) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik berhubungan dengan agama, sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Seorang muslim penganut Aswaja mampu hidup dan menyesuaikan diri serta dituntut untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan ketentraman masyarakat di manapun mereka hidup. Wallahua’lam

Timur Jakarta, 882016





Penulis adalah Sekretaris PC GP Ansor Jakarta Timur dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Kajian Sunnah, Nahdlatul, Doa Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock