Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

Yogyakarta, Bupati Tegal. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, bekerjasama dengan Rapi Film, Gajah Wong, dan Lesbumi mengadakan acara “Dialog Bersama Artis dan Pemuturan Trailer Film Sang Kyai”, Jum’at siang (17/5), di Ngaben Resto, Jl. Manggis No.77 Nologaten, Yogyakarta.

Sutradara dan dua pemeran utama dalam film Sang Kiai pun didatangkan. Rako Prijanto sebagai Sutradara, Ikranagara yang berperan sebagai Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, dan Christine Hakim yang berperan sebagai Ibu Kapo, istri mbah Hasyim. Dialog ini dipandu oleh ketua Lesbumi, A. Zastrouw.

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’ (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Dialog dengan Artis Film ‘Sang Kiai’

M. Jadul Maula, dalam sambutannya mewakili PWNU DIY mengatakan bahwa film ini akan mendudukkan kembali hubungan antara agama, pesantren, dan budaya. Film ini, lanjut Jadul, lebih bisa diapresiasi kehadirannya daripada buku, karena dapat menghadirkan imajinasi yang utuh tentang sosok mbah Hasyim dalam kehidupan sehari-ahri.

Bupati Tegal

Wakil Rais Syuriah PWNU DIY ini juga menghimbau agar semua elemen menyambut baik kehadiran film ini. “Segera berbondong-bondong ke bioskop tanggal 30 Mei, dengan niat ngaji dan tafa’ul ‘mencari gambaran atau uswah’ dalam menjalankan kehidupan, dari perjuangan mbah Hasyim dalam mempertahankan bangsa ini. Biar barakah,” tandas Kang Jadul.

Bupati Tegal

Dialog pun berlangsung. Diawali dengan penuturan sang sutradara, Rako Prijanto, yang menceritakan proses pembuatan film ini yang menghabiskan sekitar waktu 3 tahun untuk mempersiapkan semua. “Persiapannya satu tahun, kemudaian riset data selama dua tahun,” paparnya.

Rako juga menceritakan akan betapa beratnya kepercayaan yang harus diemban dalam menggarap film ini, sekaligus dengan kendala-kendala yang dihadapi. Namun ia mengaku lega ketika semua telah selesai. “Dengan perjuangan selama tiga tahun setengah, akhirnya bisa dirilis juga,” ujarnya di depan peserta diskusi siang itu.

Sementara Ikranagara, pemeran mbah Hasyim, mengawali ceritanya dengan membaca surat al-‘ashr. Menurutnya, surat al-‘ashr menjadi sangat penting dalam mencari ruh dari tokoh yang dijalaninya. Dan sebagai salah satu langkah pendalaman peran, ia mengaku sering membaca surat al-‘ashr dalam setiap sholatnya. “Tokoh ini – mbah Hasyim – seperti yang ada dalam surat al-‘ashr. Beliau sosok yang sabar, namun juga tegas, terutama dalam hal akidah”, tuturnya.

Langkah lain dari pendalaman peran yang dilakukannya adalah dengan menjalani riset dengan keluarga mbah Hasyim, guna mengetahui bagaimana sosok mbah Hasyim di mata mereka. Tak hanya itu, ia juga mencoba memahami daerah Tebuireng, yang dahulunya merupakan daerah ‘kotor’, namun merupakan tempat berdakwah mbah Hasyim. “Jadi beliau benar-benar masuk ke dalam daerah ‘kotor’ untuk memperjuangkan nilai akidah,” tandasnya.

Christine Hakim mengatakan, dirinya menyelesaikan film tersebut dengan niat jihad atau syi’ar, karena bukan film biasa. Christine menceritakan bahwa ketika ia menerima tawaran peran sebagai istri mbah Hasyim, ia mengaku tidak membaca skenario dahulu, namun justru ia meminta buku untuk dapat mendalami peran dalam film tersebut.?

Ia juga bercerita, bahwa ia mendapatkan pengalaman spiritual yang banyak dalam peran yang dijalaninya. Ada momen penting yang begitu menyentuh dalam film ini, yakni ketika mbah Hasyim wafat. “Saya merasakan betul bahwa tidak mudah untuk menjadi mbah Hasyim. Beliau telah mendapatkan amanah untuk menjadi ayah, suami, pendiri pesantren, dan nasionalis”, ungkapnya sembari menitikan air mata.

Christine juga memuji akan kesantunan yang ada dalam diri mbah Hasyim, meskipun ilmunya tinggi. “Kesederhanaan, kesahajaannya, itu yang harus membuat kita untuk selalu berkirim do’a kepada beliau”, tandas perempuan yang juga pemeran film Tjoet Nja’ Dhien di akhir pembicaraan.

Dialog tersebut diakhiri dengan ungkapan A. Zastrouw tentang tiga hal yang harus dipahami dalam film Sang Kiai. Yakni, ketersinambungan antara agama dan kebangsaan, peran santri dalam mempertahankan NKRI, dan rekonstruksi makna jihad yang sebenarnya.?

Redaktur ? ? : A. Koirul Anam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya, IMNU, Ulama Bupati Tegal

Rabu, 07 Februari 2018

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

Judul: Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan

Penulis : Agus Sunyoto

Tebal Halaman: 282

Penerbit : TRANSPUSTAKA, 2011

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Wali Songo Disingkirkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Wali Songo Disingkirkan

ISBN : 978-979-3907-11-6

Peresensi: Dinno Munfaidzin Imamah *

Bupati Tegal

Abad 7 hingga ke-13, peradaban Islam menguasai dunia dengan ilmu dan teknologinya yang lebih unggul dari Barat. Kemudian dihantam dan diratakan dengan tanah oleh Hulagu Khan (Mongol). Peradaban Aztec dan Inca dihancurkan pada masa awal penjelajahan Eropa dengan teknologi perang yang lebih canggih. Bangsa-bangsa Afrika menderita selama ribuan tahun akibat perbudakan. Nusantara Kita dikangkangi Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jepang lebih dari 350 tahun lamanya. Inggris menguasai dunia dengan kemajuan teknologi perkapalan dan revolusi industri. Inggris menjajah India sejak abad ke-18. Cina di jajah negara-negara Barat dan Jepang pada abad ke-19. Pada Perang Dunia II, giliran Eropa dilindas Nazi Jerman. Jepang menjajah negara-negara Asia di Perang Dunia II. Amerika membom atom Jepang pada 1945. Bangsa yang unggul (superior) akan mudah mengalahkan bangsa yang lemah (inferior).Bangsa yang lemah, lembek akan dijadikan mangsa dan budak-budak serta kuli.

Bupati Tegal

Setiap gerak sejarah Nusantara takkan pernah lepas dari tali temali gejolak dunia. Konstelasi internasional merupakan satu-satunya faktor penentu peristiwa di Bumi Nusantara Kita. Berdirinya kerajaan Majapahit, dilatar belakangi saat Singosari bertabrakan dengan Khubilai Khan. Perjuangan konsolidasi Majelis Wali Songo yang dipelopori Sang Pembaharu, Syaikh Siti Jenar dan Sunan Ampel merupakan refleksi dan aksi geo-religius dan geo-politik dari radikalisme agama di Tanah Persia yakni lahirnya ‘Sang Tuhan’ Dinasti Safawiyyah di bawah komando maharaja absolut perwujudan Tuhan, yang membabat habis Wali-Wali Tuhan tanpa sisa. Serta akan datangnya ‘pasukan Ya’juj Ma’juj Dajjal’ di bawah bendera Vasco Da Gama (Portugis). Kerajaan Mataram bisa berdiri karena Demak mengalami pelemahan setelah kalah bentrok dengan Portugis. Kemudian, Jepang masuk ke Indonesia saat Belanda lemah dikampung halamannya, dihantam badai swastika Nazi Hitler. Bumi Jepang luluh-lantak dan diratakan dengan tanah oleh kekuatan bom atom Amerika. Akhirnya, meledak dan lahirlah Kemerdekaan Nusantara yang saat ini kita nikmati bernama Bumi Indonesia.

Perjuangan Wali Songo

Ada adagium yang mengatakan bahwa sejarah adalah hasil kontruksi elit, di mana sejarah adalah cerita kemenangan yang umumnya ditulis oleh para pemenang dan penguasa. Artinya siapa yang mampu merekonstruksi sejarah, pastilah akan menjadi pemenang dan digdaya dalam menapaki rentang waktu yang penuh pergulatan dan pertempuran untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bertumpu dari adagium ini, perjuangan tokoh-tokoh besar sejarah Nusantara anggota Wali Songo dihapus dari Ensiklopedia Islam Indonesia (Terbitan Van Hoeve). Tidak bisa ditafsirkan lain kecuali adanya anasir-anasir sistematis dari keislaman mainstream Nusantara, faham Ahlusunnah Wal Jama’ah yang dikenal oleh kelompok Nahdhiyin (NU); untuk menghapuskan keberadaan perjuangan Wali Songo dari sejarah dakwah Islam di Nusantara. Di masa depan, secara akademis-intelektual keberadaan perjuangan Wali Songo akan terpinggirkan, dan disingkirkan dan hanya menjadi dongeng legendaris belaka. Wali Songo dan Islam Nusantara bagi kaum positivistik adalah sinkretis, asimilatif, semi-animis, mistis (irrasional), dan tradisionalis anti-gerak kemajuan dunia. Fenomena ini tidak hanya lepas dari tilikan para sejarawan, para intelektual yang mengaku-aku kaum pembaruan Islam, ilmuwan sosial yang pada umumnya juga masih gelap-gulita melihat kenyataan itu. Hanya karena keangkuhan akademik-intelektualisme, mereka tak mu menerobos kabut mitologi (legenda) yang menyelebungi realitas sejarah Nusantara yang sejati. Tidak mempunyai kesabaran dan kepekaan lebih untuk membaca babat, prasasti, menyisir sejarah adi-luhung, menyusuri jejak-jejak spiritualisme,dan doktrin ilmiah versi Nusantara. 

Di tengah arus kemelut, dan kerancuan, bahkan kegelapan sejarah itulah Agus Sunyoto, sejarawan Nusantara berikhtiar mementaskan perjuangan Wali Songo dalam panggung sejarah Nusantara. Misi yang sungguh berat, di tengah gempuran aliran positivistik, penulis memilah antara sejarah dengan mitos. Dibutuhkan data sejarah yang kuat untuk mendukung argumen dan pandangannya. Untuk itu diperlukan kemampuan khusus dalam membaca prasasti, naskah berbahasa Kawi dan Jawa Kuno, termasuk bahasa Sansekerta dan Arab. Kesadaran akan makna pentingnya perjuangan Wali Songo dalam sejarah Islam di Bumi Nusantara yang sisa-sisa jejaknya masih sangat jelas terlihat sampai saat ini. Dengan semangat rawe-rawe rantas malang malana putung dan vivere vericoloco, sejarawan Nusantara ini meneliti dengan serius sejarah perjuangan Wali Songo untuk “melengkapi” Ensiklopedia Islam Indonesia yang tampaknya dengan sengaja akan menyingkirkan tokoh-tokoh penyebar Islam abad ke-15 dan ke-16 yang berjasa dalam mengislamkan Nusantara tersebut.

Dalam buku Wali Songo; Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, komandan NU saat ini KH. Said Aqil Siroj dalam kata pengantarnya mengatakan perjuangan Wali Songo dalam menggalang kepercayaan umat melalu perjalanan dakwah yang yak kenal lelah, menancapkan Tauhid dalam pikiran dan hati di Bumi Nusantara, dibarengi apresiasi yang sangat tinggi pada agama Hindu, Budha, Tantrayana, Kapitayan dan lainnya. Wali Songo mampu mengelola budaya, sehingga diterima oleh hampir masyarakat Nusantara. Wali Songo mampu menjalankan misi dari bidang-bidang strategis dari bidang keagamaan, tata kemasyarakatan, strategi kebudayaan, geo-politik saat itu, ekonomi, pengembangan kesenian dan sebagainya. Strategi jitu para Wali Songo dalam mengembangkan ajaran Islam di Bumi Nusantara dimulai dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadrij (bertahap). Tak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahan, tak jarang secara lahir bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi. Misalnya, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai para Danyang dan Sang Hyang. Secara bertahap, perilaku mereka itu diluruskan. Kedua, ‘adamul haraj (tidak menyakiti). Perjuangan Wali Songo menyebarkan Islam tidak dengan mengusik tradisi yang ada, tidak menggangu agama, sistem nilai dan kepercayaan, tapi memperkuatnya dengan cara yang Islami.

Buku ini menjelaskan dengan detail bahwa Wali Songo menyadari sungguh-sungguh, bahwa Nusantara yang multietnis, multibudaya, dan multibahasa, ini adalah anugerah Tuhan yang tiada tara. Belum lagi kondisi alam yang ramah, iklimnya yang tropis, tidak ekstrim. Ditambah dengan keanekaragaman hayati, hingga Wali Songo mensyukurinya dengan tidak merusak budaya yang ada atas nama Islam dan sebagainya. Anugerah yang mesti dilestarikan dan dikembangkan, bukan diingkari dengan dibabat dan dihancurkan atas nama kemurnian agama (purifikasi), terorisme, atau atas nama kemodernan. Islam hadir di paras Bumi Nusantara ini justru merawat, memperkaya, dan memperkuat multikulturalisme Nusantara sehingga bisa berdiri sejajar dengan peradaban dunia yang unggul lainnya.

Karya sejarawan Nusantara yang juga penulis Novel berjilid-jilid berjudul Perjuangan Syaikh Siti Jenar dan Novel Rahuvanna Tatwa, terdiri dari 6 Bab yaitu bab 1: Data tentang bangsa Nusantara, Bab 2: Para Wali dan Dakwah Islam, Bab 3: Kemunduran Majapahit dan Perkembangan dakwah Islam, Bab 4: Dakwah Islam masa Wali Songo, Bab 5: Tokoh-tokoh Wali Songo, serta Bab 6: Wali Songo dan pembentukan masyarakat Islam Nusantara. Buku ini juga sebagai sebuah undangan terbuka untuk masyarakat Islam Indonesia untuk mengetahui tentang negara-bangsanya di masa depan, dengan memahami masa lalu dan melihat masa kini. Pembaca bisa memperoleh pijakan historis yang kuat. Kita akan lebih yakin untuk meneladani, menyebarkan serta mempelajari strategi perjuangan mereka. Sangat penting bagi kaum muda dan masyarakat bangsa yang sudah sangat kritis di era kapitalisme sekarang ini. Sebab, dengan bukti historis yang ada, kaum muda punya kecerdasan dan akumulasi pengetahuan lebih yang dulu di miliki Wali Songo. Akan mudah dan mau menebar perjuangan Wali Songo, sebagai perintis, pelopor dan provokator kesadaran melawan tatanan-Anti Tuhan saat ini (baca:kelezatan kekayaan duniawi). Sebuah struktur dan gerak dunia, keadaan zaman Indonesia yang dulu pernah dialami Wali Songo. Merubah tatanan Nusantara yang dulu berkiblat poros cinta-dunia.

Belajar dari keberhasilan dalam pembentukan masyarakat Islam Nusantara yang dahulu dilakukan oleh Wali Songo, mampu kita teladani di tengah arus banjir bandang globalisasi yang dahsyat saat ini. Seperti juga yang pernah diteladani oleh Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid yakni gerakan ‘pribumisasi Islam. Berdzikir, berpikir dan menggerakkan kembali nation-state of Indonesia untuk menggapai matahari kemajuan Republik, pluralisme sejati, ke-Bhineka-an, kesejahteraan dan mencinta nilai-nilai utama kemanusiaan. Serta jadi Bangsa Indonesia yang unggul, mandiri, tidak lembek yang akan kelak dijadikan mangsa, budak-budak dan kuli oleh para pemuja dan pecinta kelezatan duniawi; laskar Ya’juj Ma’juj Dajjal.

* Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, aktifis di PB PMII

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Olahraga, Budaya, Santri Bupati Tegal

Minggu, 28 Januari 2018

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

--Sebagai kaum santri, kita mengetahui bahwa dunia terus berubah, dan kita menyadari bahwa kaum santri tidak lagi menulis untuk tujuan-tujuan yang sepenuhnya sama dengan tujuan generasi para pendahulu, salafuna ash shalihin, setidaknya sebelum 1854, tahun diperkenalkannya edisi cetakan pertama Al-Quran, yang mengawali percetakan kitab kuning dalam skala yang luas.

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggali Orientasi Tradisi Menulis Kaum Santri

Peralihan medium, dari tradisi manuskrip ke tradisi percetakan, turut menandai peralihan kesadaran kaum santri, yang semakin meluas dan kosmopolit, menyentuh satu ujung dunia ke ujung dunia yang lain, sekaligus memasukkan kita ke dalam ritme rampak “modernitas” yang cepat dan haus kebaruan.

Hal itu bersamaan dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnal ke dunia literer kaum santri; kita mencatat tahun 1929, di bawah asuhan Kiai Muhammad Iljas, kepala madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah dan lulusan sekolah Belanda HIS di Surabaya, Pesantren Tebuireng mulai memperkenalkan para santri kepada produk-produk cetakan modern: koran, majalah, dan buku-buku cetakan berbahasa Latin.

Sejak saat itu, bisa dibilang, dunia baca-tulis kalangan pesantren mengalami perluasan dan turut melibatkan kaum santri dalam keriuhan “zaman bergerak” yang memasukkan santri ke dalam arus gelombang nasionalisme dan isu-isu sosial-politik internasional.

Kita mengetahui bahwa hanya lima puluh tahun sejak 1800, umat Muslim di dunia telah diubah secara mendasar oleh diperkenalkannya teknologi percetakan, yang menghapus secara bertahap tradisi manuskrip dari budaya literasi umat Muslim—dan perubahan ini juga menyentuh pelosok-pelosok Nusantara, yang berabad-abad sebelumnya telah hidup dengan peradaban manuskrip yang kuat.

Bupati Tegal

Di satu sisi, Revolusi Gutenberg menciptakan ledakan naskah cetak yang bisa diakses oleh siapa saja, dan di bumi Nusantara mendorong terciptanya ledakan jumlah kaum santri yang melek aksara, dengan akses keilmuan yang semakin luas dan mudah terhadap kepustakaan Islam klasik dari negeri-negeri Arab (turats).

Bupati Tegal

Di sisi lain, terjadi penyederhanaan budaya pembelajaran berupa pembelajaran yang cenderung bersifat praktis dan langsung antara guru (kiai) dan murid (santri), tanpa keperluan untuk terlibat dalam produksi naskah sebagaimana dalam budaya manuskrip. Pengajaran kitab kuning, dalam bentuk kitab-kitab cetakan yang telah “jadi” dan praktis, berlangsung dalam suasana ini. Para santri tidak lagi selamanya menjadi produsen bagi turats, tetapi cukup menjadi mustami’ dan pencatat pengetahuan yang diajarkan secara lisan oleh guru. Ruang untuk berekspresi itu dibuka, sebaliknya, oleh diperkenalkannya jurnalisme ke dunia kaum santri, setidaknya sejak 1911 ketika para santri Melayu-Jawi mendirikan majalah Al Munir, majalah pertama umat Islam di Nusantara yang mendorong lahirnya sejumlah intelektual santri pertama yang menulis aktif untuk kolom-kolom opini di media cetak di kalangan bumiputra.

Sejumlah kenyataan sejarah di atas memperlihatkan bahwa keterlibatan kita kaum santri dalam dunia tulis-menulis tidak statis, tetapi dipengaruhi oleh perubahan medium teknologi, perubahan budaya baca dan tulis, dan otomatis, perubahan publik pembaca dari dunia tulis-menulis tersebut.

Pertama, perubahan medium telah mengubah budaya manuskrip ke budaya cetak, yang menghilangkan sebagian besar aktivitas santri sebagai penyalin (nasikh) bagi manuskrip-manuskrip warisan ulama terdahulu. Sisi positifnya, peradaban cetak membuka kaum santri kepada jaringan percetakan naskah di tingkat global (Singapura, Cairo, Beirut, New Delhi…) yang memungkinkan mereka mengakses literatur itu ketika merantau belajar di luar negeri.

Sisi kurang positifnya, kaum santri tidak terlatih untuk menulis dengan bagus (karena ketersediaan kitab-kitab cetakan yang mudah) dan cenderung lebih pasif dalam proses transfer pengetahuan (meskipun tingkat kepasifan ini berbeda dari masa ke masa, sejak abad ke-18 sampai kini).

Kedua, perubahan itu juga membentuk perubahan budaya baca dan tulis di kalangan kaum santri. Tradisi membaca secara aktif (ngaji) di hadapan guru tetap bertahan, namun tidak selamanya memerlukan kemampuan menulis yang baik, yang disyaratkan sebelumnya oleh budaya manuskrip. Namun, akses bacaan kaum santri menjadi semakin luas dan beragam, seiring makin massifnya kitab-kitab kuning dicetak dari satu pelosok dunia ke pelosok yang lain dan membuka kalangan pesantren kepada dunia kepustakaan yang semakin luas, dengan referensi-referensi kitab yang variatif dan ensiklopedis. Bacaan yang berbeda melahirkan budaya baca yang berbeda, yang lebih kaya. Namun, kemampuan kaum santri untuk menuliskan sesuatu yang orisinal mungkin menurun; tradisi tashnif dari para pengarang di abad-abad sebelumnya semakin langka dijumpai.

Faktor ketatnya syarat-syarat keilmuan yang harus dipenuhi oleh seorang mushannif mungkin menjadi faktor langkanya para mushannif dalam citra klasik, dengan wibawanya yang otoritatif, pengetahuan keilmuannya yang mendalam, serta kualitas kebahasaannya yang tinggi. Sebagai gantinya, budaya cetak dalam bentuk jurnalisme modern menawarkan kesempatan bagi kaum santri untuk menjadi “mushannif” dalam citra yang lain, penulis modern (writer), dengan kualifikasi-kualifikasinya yang lebih mudah. Hal ini ditopang oleh tumbuhnya jurnalisme dan dunia kepenulisan di pesantren.

Kedua perubahan itu digenapi oleh yang ketiga, perubahan publik pembaca dari tradisi menulis kaum santri. Di dalam peradaban manuskrip, kaum santri menulis untuk dirinya dan komunitasnya, serta untuk terlibat dalam arus pengetahuan yang dibentuk oleh para ulama terdahulu, melalui tradisi sanad -nya yang ketat, dengan genealogi (silsilah) pengetahuan yang terkait dengan sejarah masing-masing teks dari mana ia mendapatkan salinannya.

Budaya cetak mengubah hal itu dan memungkinkan kaum santri mendapatkan audiens yang lebih luas dan massif, melalui karya-karya yang mereka tulis. Penerbitan kitab-kitab memperluas lingkup komunitas pembaca (qari’) karya yang lahir dari tangan kaum santri—dari pembaca yang hanya mendapatkan kesempatan ketika terjadi hubungan guru dan murid ke pembaca umum yang secara “virtual” membentuk suatu “komunitas terbayang” pembaca-pembaca, yang menghubungkan santri di Indonesia dengan santri-santri dari belahan lain di dunia.

Seiring dengan diperkenalkannya suratkabar dan jurnalisme cetak, publik yang dihadapi oleh kaum santri juga semakin beragam, tidak terbatas lagi pada pembaca literatur keagamaan. Kaum santri dituntut untuk tidak selalu tampil dalam identitas tradisionalnya, tetapi meleburkan diri dalam pergaulan literasi yang mungkin cenderung menghilangkan latar belakang keagamaannya.

Kiprah kaum santri dalam jurnalisme cetak mempertemukan santri kepada publik yang sangat cair dan sulit ditebak. Di sisi lain, tuntutan pendidikan tinggi modern terhadap pesantren turut mendorong kaum santri untuk melayani audiens baru: publik akademik internasional. Para santri dituntut untuk menghadirkan kembali karakter kecendekiawanan, tidak dalam tampilan sebagai ulama atau pemuka agama, tetapi sebagai pengkaji agama yang kritis.

Ketiga perubahan itu belum kita kaji tuntas, atau petakan dampak-dampaknya. Maka, setiap kali kita dihadapkan pada persoalan “sampai di mana tingkat kemajuan tradisi menulis di pesantren”, kita kaum santri masih dihinggapi kebingungan mengenai kiprah kita sesungguhnya dalam dunia tulis-menulis. Apakah kita telah menjadi produsen dari gagasan dan tradisi pengetahuan kita sendiri? Ataukah kita masih menjadi konsumen dari gagasan dan tradisi pengetahuan orang lain? Sejauh mana kesantrian itu tercermin dari karya-karya yang telah kita ciptakan?.

Pertanyaan-pertanyaan itu sulit dijawab tanpa menjawab sederet pertanyaan yang juga sama pentingnya: Mengapa santri menulis? Untuk siapa santri menulis? Dan, menulis tentang apa?.

Kita kaum santri menulis pertama-tama untuk tujuan konservasi, menyelamatkan warisan pemikiran ulama terdahulu melalui karya-karya yang mu’tabarah, yang telah menjadi teks-teks inti (nucleus of texts) dari kosmologi pengetahuan di pesantren dan jaringan keilmuan pesantren.

Peran konservasi ini dapat berupa penyuntingan (tahqiq), penerbitan ulang, penerjemahan, dan anotasi atas kitab-kitab mu’tabarah atau kitab-kitab induk yang menjadi referensi kitab-kitab mu’tabarah tersebut. Hal ini mensyaratkan kemampuan filologi yang mumpuni, serta wawasan sejarah yang memadai.

Berbagai penemuan manuskrip ulama Nusantara memberi lapangan luas bagi misi ini, yang memungkinkan kita kembali berdialog dengan wawasan sejarah di abad-abad yang lampau dan konstelasi peradaban yang berkembang pada masa itu.

Segmen pembaca dari karya-karya yang lahir dari misi ini relatif jelas, yaitu komunitas santri (minimal di pesantren dan lingkungan pesantren terdekat) dan pembaca literatur keagamaan secara umum.

Misi konservasi ini secara teknis bisa jadi sulit dan menguras cukup banyak energi, tetapi secara ideologis relatif mudah, karena kejelasan misi dan sasaran pembacanya. Tetapi, lebih sulit lagi melakukan transmisi, yaitu menjadikan kepenulisan suatu transfer nilai, pengetahuan, dan gagasan dari hasil pembacaan atas karya-karya para ulama terdahulu menjadi suatu karya yang mengemas nilai, pengetahuan, dan gagasan itu secara utuh bagi pembaca masa kini.

Sebagian besar karya-karya santri terkini yang lahir, tidak secara utuh dan hanya sepotong-potong memerankan diri dalam proses transfer itu. Iklim penerbitan yang pragmatis dan berorientasi pasar menuntut karya-karya yang lahir untuk seefektif mungkin menyampaikan pesannya, tanpa berbelit-belit dan rumit. Kekayaan nuansa dari tiap aksara kitab-kitab itu tidak mampu tersampaikan secara maksimal.

Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan modus literer dari transmisi itu. Pada peradaban manuskrip, transmisi itu bersifat material (melibatkan keterampilan tangan membuat, mengolah, dan menjaga naskah), ideasional (keterampilan mengolah dan menyampaikan gagasan dan pesan-pesan naskah), sekaligus spiritual (aktivitas itu sendiri bernilai spiritual).

Saat ini, pada budaya cetak dan pasca-cetak, transmisi terjadi secara ideasional saja, yaitu menulis untuk menyampaikan pesan-pesan substansial kepada pembaca (pesan-pesan Aswaja).

Banyaknya karya santri yang mengangkat kembali pesan-pesan agama, menulis ulang riwayat para ulama (hagiografi), dan lain sebagainya, merupakan bagian dari kerja-kerja transmisi dalam tulisan kaum santri. Sasaran pembaca dari karya-karya ini juga relatif jelas: para peminat literatur keagamaan dan pembaca populer, khususnya mereka yang ingin mengakses kitab-kitab mu’tabarah melalui literatur sekunder.

Menulis untuk memproduksi suatu gagasan baru, suatu gaya penulisan baru, bahkan suatu paradigma keilmuan baru; itulah aspek yang paling sulit dari tradisi menulis kaum santri. Pada peradaban manuskrip, hal itu terjadi. Puncak-puncak keilmuan Islam tegak dari keberanian dan ketekunan para ulama terdahulu menulis karya-karya yang menjadi referensi penting di bidangnya, baik dalam keluasan pembahasan, orisinalitas pendekatannya, maupun gaya menulisnya.

Salah satu hal yang menjadikan Sullamut Taufiq dan Safinatun Najah sebagai dua teks penting dalam pembelajaran Islam di Nusantara, adalah kehebatan keduanya dalam menyintesiskan fiqh dan ushuluddin dalam suatu gaya tulisan yang padat dan kokoh. Hal ini yang sulit ditiru. Kemampuan produksi tampak hanya dimiliki oleh teks-teks cemerlang dari era manuskrip.

Agar tradisi penulisan kita sampai pada tahap ini, diperlukan suatu kajian menyeluruh terhadap fase-fase epistemologis yang telah dilewati oleh karya-karya terdahulu, sehingga memungkinkan kita untuk melampauinya dengan suatu karya yang menjadi tonggak baru.

Dalam literatur ilmiah-keagamaan terkini, hal ini menjadi pencapaian beberapa ulama kontemporer, dengan penguasaan mendalam atas turats, seperti almarhum Dr Wahbah Zuhaili dengan al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, suatu kompendium fiqh empat mazhab.

Pencapaian ini mensyaratkan pengetahuan atas pencapaian akademis yang telah dicapai oleh para sarjana di dunia Islam hari ini. Bila ini dicapai, karya kaum santri Indonesia akan kembali menjadi kiblat bacaan dunia.

Apakah kita kaum santri akan menjadi pemain utama atau pemain cadangan dalam produksi pengetahuan di dalam kebudayaan pasca-cetak ini, itu tergantung pada kemampuan kita memerankan diri secara tepat di dalam peran-peran konservasi, atau transmisi, atau produksi di atas.

Dengan sumber-sumber pengetahuan yang datang dari arus-arus global, mau tak mau kita kaum santri harus memiliki sikap keterbukaan yang kreatif untuk menemukan posisi kita di tengah arus-arus itu dan mengartikulasikan apa yang kita miliki, dalam ketegangan dialektis antara warisan keilmuan Islam hasil ijtihad para ulama terdahulu dan tuntutan pembaca hari ini, tanpa mengorbankan satu sama lain. (*)

Muhammad Al-Fayyadl, Alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk, Sumenep.

Tulisan ini dipresentasikan saat menjadi narasumber Seminar “Tradisi Menulis di Pesantren, dari Masa ke Masa” yang diselenggarakan oleh Santri Media, di Kantor PWNU Jawa Timur, Ahad, 24 Januari 2016.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

Bandar Lampung, Bupati Tegal?

Menyusul maraknya hal tidak etis disampaikan di media sosial, Pimpinan Majelis An Nur Lampung, Al Habib Umar Bin Muhdor Al Haddad mengajak umat Islam berikut generasi mudanya untuk mengedepankan ahklak.?

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Jika Anak SD Membaca Materi Kuliah?

"Saya marah ketika Kiai Siroj dicela di media sosial. Itulah yang terjadi jika anak SD membaca materi anak kuliah," ujarnya kepada kader Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Ahad (5/2).?

Pernyataan tersebut merujuk celaan sejumlah pihak terkait pernyataan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengenai sejumlah ahli hadist, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Dawud, Daruqutni, Daylimi berasal dari Persia.

"Kalau baca bukan untuk berkomentar di media sosial. Tapi untuk belajar. Kita tahu bagaimana jadinya jika puisi yang indah dibaca anak kelas satu sekolah dasar, ujar Habib Umar yang pada Kamis (2/2) malam lalu, memimpin Pembacaan Maulid Shimthud Duror, di PW GP Ansor Lampung.

Karena itu, Habib Umar mengimbau untuk tidak sekali-kali mencela habaib dan kiai. "Kalau mereka bertengkar dapat pahala, kalau kita, yang bodoh, kesasar jauh," kata dia.

Bupati Tegal

Untuk diketahui, Bukhara merupakan satu dari sekian kota penting ? dalam peradaban Islam. Penyair Jalaludin ar-Rumi dalam syairnya menyebut Bukhara sebagai gudang pengetahuan. Sejak 500 SM, wilayah Bukhara sudah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Persia. Seiring waktu, Bukhara berpindah tangan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lainnya.? (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Hikmah, Cerita, Budaya Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

Jakarta, Bupati Tegal - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI? NU) DKI Jakarta bersama PLAN memberikan bantuan berupa 580 paket school kits untuk anak-anak terdampak banjir Februari 2017 di sembilan titik di Jakarta, Jumat (3/3). Bantuan ini diturunkan dalam rangka meringankan beban warga terdampak banjir khususnya anak-anak.

Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh H Mastur Anwar dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU DKI Jakarta Serahkan 580 Paket Alat Tulis kepada Anak-anak Terdampak Banjir

H Mastur mengapresiasi LPBI NU DKI Jakarta yang tak henti-hentinya berkhidmat untuk meringankan beban umat terdampak bencana di Jakarta. PWNU DKI Jakarta akan terus mendukung kegiatan-kegiatan sosial LPBI NU DKI Jakarta.

Bupati Tegal

Ketua PWNU DKI Jakarta Saefullah yang juga Sekda Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, aksi sosial LPBI NU DKI Jakarta adalah sesuatu yang riil dan menyentuh langsung pada kebutuhan umat. Inilah sebenarnya tujuan dari Nahdlatul Ulama.

Bantuan diturunkan di Tanah Tinggi (Jakarta Pusat), Kedaung Kaliangke, Kapuk, Tegal Alur dan Tamansari? (Jakarta Barat), Manggarai (Jakarta Selatan), Kalimalang, Pinangranti, Pulogadung (Jakarta Timur).

Bupati Tegal

Ketua LPBI NU DKI Jakarta M Wahib mengatakan, apa yang dilaksanakan dalam penanggulangan bencana merupakan sebuah keniscayaan bekerja sama dengan berbagai lembaga dan para pihak.

Penanggulangan bencana, kata Wahib, merupakan urusan semua pihak baik pemerintah, masyarakat maupun juga sektor privat/dunia usaha. Semuanya bertujuan untuk saling meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana.

“Kegiatan ini terlaksana karena partisipasi dari PWNU, PLAN dan Santri Siaga Bencana (SSB)” ujar Wahib.

Bersamaan dengan acara penyerahan bantuan juga dilakukan psikososial melalui dongeng anak nusantara oleh Toni dari LPBI NU DKI Jakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Khutbah, Budaya, Tegal Bupati Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi

Jakarta, Bupati Tegal. Para kiai NU dari Sabang sampai Merauke akan mengkaji soal aborsi dari pelbagai sudut pada sidang bahtsul masa’il Munas-Konbes NU di gedung PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11). Mereka mencoba menanggapi soal legalisasi praktik aborsi dalam PP nomor 61 tahun 2014 yang menuai beragam tanggapan masyarakat.

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai NU Siapkan Langkah Konkret Soal Legalisasi Aborsi

Sebelum mengambil langkah-langkah hukum, para kiai NU pertama kali menempatkan alasan legalisasi praktik aborsi bagi perempuan korban perkosaan atau perempuan dengan alasan medis yang disebut PP ini dalam konteks fiqih.

Pada sidang bahtsul masail kali ini, mereka mencermati bagaimana batasan, penentuan, dan pelaksanaan praktik aborsi berdasarkan indikasi darurat medis dan korban perkosaan.

Bupati Tegal

Selain masalah teknis medis, para kiai NU juga mempertanyakan cara eksekusi PP nomor 61 tahun 2014 ini yang berbenturan dengan UU nomor 23/2002 terkait Perlindungan Anak. Mereka ingin memastikan bagaimana PP ini tidak disalahgunakan oleh pihak manapun.

Bupati Tegal

Kalau memang diperlukan, mereka kemungkinan akan mengajukan uji materi PP ini ke MK bila mana forum besok menuntut demikian.

Di luar itu, para kiai NU mendorong pemerintah memaksimalkan upaya pencegahan perkosaan, perzinaan dan pergaulan bebas, melindungi anak hasil perkosaan, serta melaksanakan fungsi sebagai wali bagi anak hasil perkosaan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Aswaja, Budaya, AlaSantri Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara

Jakarta, Bupati Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta resmi meluncurkan Program Pascasarjana (S2) konsentrasi Islam Nusantara di gedung PBNU, Jakarta pada Rabu malam, (3/7). Peresmian dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ditandai dengan penandatanganan plakat.

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Luncurkan Pascasarjana Islam Nusantara

Ketua Program Pascasarjana STAINU Jakarta Prof. Dr. Ishom Yasqi MA mengatakan, program pascasarjana tahun ini sudah resmi dan bisa beroperasi, “Program ini adalah Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam dengan konsentrasi Islam Nusantara,” katanya.

Asal-usul program ini, kata dia, berasal dari pidato-pidato Ketua Umum PBNU yang selalu menekankan Islam Indonesia. Islam Indonesia adalah Islam Ashlussunah wal-Jamaah (Aswaja). Aswaja adalah Islam NU, “Dari diskusi kawan-kawan dan dosen-dosen STAINU akhirnya dirumuskan untuk menegaskan bahawa Aswaja adalah metode berpikir,” tambahnya.

Bupati Tegal

Konsentrasi Islam Nusantara, sambung dia, berdiri di atas empat pilar yaitu, tasamuh (toleransi), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal (keadilan).

Bupati Tegal

Empat pilar ini adalah pedoman komunikasi NU dengan berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, komunitas lain, dan gender.

Ishom juga mengatakan, untuk program S2 ini telah ada yang mendaftar mahasiswa dari Thailand Selatan 11 orang. Rencananya akan membuka dua kelas yang berjumlah 50 siswa. ?

Peluncuran tersebut diisi dengan orasi ilmiah KH Said Aqil Siroj dengan judul, “Urgensi Kajian Islam Nusantara”. Hadir pada kesempatan itu sejumlah menteri, diantaranya Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Helmi Faisal Zaini, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, Menteri Perumahan Rakyat Djan Farid, dan Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Budaya Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock