Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak

Sorong, Bupati Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong Papua Barat menggelar workshop yang diikuti Ta’mir Masjid se-Kota dan Kabupaten Sorong, di kantor PCNU setempat, Sabtu (13/9). Kegiatan ini digagas bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong.

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sorong Gelar Pelatihan Manajemen Masjid Berbasis Infak

Ketua P3M STAIN Sorong, M. Rais Amin menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penguatan kepada pengurus masjid mengenai kekuatan dan potensi infak sehingga diharapkan melalui infak dapat memakmurkan masjid dan berdampak pada lingkungan sekitar.

Kegiatan ini diisi materi oleh Ketua Lembaga Ta’mir Masjid (LTM) PBNU KH. Abdul Manan A. Ghani, Wakil Ketua KH Moh. Mansur Syaerozi dan Pembantu Ketua I STAIN Kota Sorong DR. Hamzah Khaeriyah. (Imam Khoirudin/Anam)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal AlaNu Bupati Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih

Jakarta, Bupati Tegal ?

Para redaktur Bupati Tegal melakukan kajian rutin kitab Al-ijtihad an-Nash al-Waqi al-Mashlahah karangan Prof DR Ahmad Raisuni dari Maroko. Pengajian tersebut merupakan agenda rutin mingguan.

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Awak Redaksi NU Online Rutin Kaji Ushul Fiqih

Pengajian kitab kuning tersebut diselenggarakan di kantor Redaksi Bupati Tegal lantai 5 gedung PBNU, Jakarta Pusat setiap Selasa pukul 16.00 WIB.

Menurut salah seorang redaktur Bupati Tegal Alhafiz Kurniawan, kajian mingguan ini digelar untuk menyegarkan kembali pelajaran-pelajaran yang dulu pernah diajarkan sewaktu di pesantren.

Bupati Tegal

“Teman-teman di sini (redaktur Bupati Tegal) masih membutuhkan kajian terhadap tema-tema tertentu,” katanya, Rabu (27/1).

Kitab yang tebalnya 90-an halaman ini berisi tentang metode pengambilan keputusan di dalam hukum Islam (Ushul Fiqih). Misalkan tentang hukum berijtihad, ijma, qiyas, dan bagaimana penerapan teori tersebut pada kasus-kasus riil demi mencari mashlahat tanpa mengabaikan nash atau realitas.

Metode kajian yang dilakukan oleh para redaktur ini bukan sekadar mendengarkan pengkaji, namun ada sesi tanya-jawab dan diskusi. Hal itu menambah suasana menjadi hidup.

Forum kajian ini terlihat santai dan para peserta bisa sambil ngopi. Moderator dengan bebas memfasilitasi para peserta yang berlatarbelakang dari berbagai pesantren dan perguruan tinggi.

Bupati Tegal

“Sebenarnya kegiatan ini merupakan hal yang sudah biasa dilakukan oleh warga NU, sebagaimana biasa disebut bahtsul masail. Dalam bahtsul masail terkandung unsur musyawarah. Dan apabila ada pembahasan yang kurang dipahami dari isi kitab tersebut, maka akan diajukan kepada Rais Syuriyah PBNU,” ? tambah Hafiz.

Kajian kitab selama satu jam ini diikuti oleh sekitar 10 awak redaktur Bupati Tegal. (Izzi Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ahlussunnah, AlaNu, Tokoh Bupati Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan mengusir penjajah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia dengan perjuangan yang menguras keringat, darah, dan nyawa. Hembusan angin segar kemerdekaan beberapa kali didapat bangsa Indonesia kala Jepang kalah perang dan menyerah kepada pasukan sekutu.

Namun, bangsa Indonesia, khususnya para kiai pesantren penggerak kemerdekaan seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tidak mau terbuai dengan janji kemerdekaan yang sempat dilontarkan pihak Jepang. Baginya, hal itu menjadi satu bagian diplomasi setelah sekian lama bangsa Indonesia hidup dalam kungkungan penjajahan.

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Korespondensi KH Hasyim Asyari dan Syekh Al-Husaini Usai Tegur Jepang

Perjuangan KH Hasyim Asy’ari beserta anaknya KH Abdul Wahid Hasyim dan para ulama pesantren tidak hanya memperkuat spiritualitas, tetapi juga menanamkan cinta tanah air dan spirit nasionalisme yang tinggi. Sebab itu, setelah Kiai Hasyim ditunjuk oleh Jepang untuk memimpin Kantor Jawatan Agama (Shumubu, Kementerian Agama, red)) yang dijalankan oleh Kiai Wahid Hasyim, mereka berupaya mendirikan Kantor Jawatan Agama yang berlokasi di daerah-daerah (Shumuka) yang dipimpin oleh seorang Shumuka-cho.

Visi Kiai Wahid Hasyim tidak lain untuk memperkuat konsolidasi urusan-urusan agama di daerah untuk keperluan perjuangan bangsa Indonesia secara umum. Sebelumnya, Kiai Wahid memang melakukan diplomasi dengan Jepang untuk mendirikan Shumuka meskipun pada awalnya berdiri di Jawa dan Madura.

Setelah potensi umat Islam terbina dengan baik melalui jalur Masyumi, Hizbullah, Shumubu, dan Shumuka, Kiai Wahid Hasyim kembali memusatkan perhatiannya pada janji kemerdekaan yang dipidatokan oleh Perdana Menteri Jepang Kunaiki Koiso pada 7 September 1944. (Choirul Anam, 2010)

Bupati Tegal

Janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini. Sampai pada 3 Oktober 1944, Syekh Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas Yerusalem yang juga ketika itu menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh Al-Husaini sedang berada di Jerman.

Kawat teguran tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang 50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Atas teguran tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran tersebut.

Menyikapi kawat teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944. 

Setelah rapat mempelajari sedalam-dalamnya tentang kemerdekaan Indonesia, maka diputuskan untuk menyampaikan sikap Masyumi kepada bala tentara Jepang sebagai berikut:

Bupati Tegal

a) Menyiapkan umat Islam Indonesia supaya cakap dan cukup menerima kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; b) menggiatkan segenap tenaga umat Islam Indonesia guna mempercepat kemenangan akhir guna menolak tiap-tiap rintangan dan serangan musuh yang dapat mngurungkan datangnya kemerdekaan Indonesia dan kemerdekaan Agama Islam; c) berjuang luhur bersama-sama, lebur bersama-sama dengan Dai Nippon di dalam jalan Allah untuk membinasakan musuh yang dzalim; d) menyampaikan keputusan tersebut pada: 1) Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon; dan 2) rakyat (umat Islam) Indonesia.

Selanjutnya, KH Hasyim Asy’ari selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana Menteri Jepang Kuniki Koiso. Adapun balasan kawat tindasan sebagai ucapan terima kasih dari KH Hasyim Asy’ari adalah sebagai berikut:

Muhammad Al-Amin Al-Husaini Jerman dengan antara Perdana Menteri Kunaiki Koiso di Tokyo atas perhatian tuan dan seluruh alam Islami tentang janji Indonesia merdeka koma Majelis Syuro Muslimin Indonesia koma atas nama kaum Muslimin se-Indonesia koma menyatakan terima kash titik.





Asyukru walhamdulillah





Guna kepentingan Islam lebih perhebatkan perjuangan koma disamping Dai Nippon sampai kemenangan akhir tercapai koma moga-moga pula perjuangan tuan untuk kemerdekaan negeri Palestina dan negeri-negeri Arab lainnya tercapai titik





Majelis Syura Muslimin Indonesia





Hasyim Asy’ari

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Ubudiyah, AlaNu Bupati Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Jakarta, Bupati Tegal?

Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 bulan Rabiul Awwal diperingati umat Islam Indonesia dan di negara-negara lain. Istilah kegiatan tersebut, sebagian orang menyebutnya “maulid”. Sebagian lagi “maulud”. Maulid nabi atau maulud nabi? Mana yang benar?

“Dua-duanya benar,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di halaman gedung PBNU, Jakarta, Sabtu malam (3/12).?

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi atau Maulud Nabi? Ini Penjelasan Kiai Said

Menurut kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, ketika sebagian orang menyebut maulid nabi, berarti yang dihormati adalah hari kelahirannya. Sementara ketika menyebut maulud berarti isim maf’ul. Dengan demikian yang diperingati, dimuliakan adalah bayi yang dilahirkan, yaitu Nabi Muhammad SAW.?

“Dua-duanya boleh,” ungkapnya lagi.?

Sampai berita ini ditulis ceramah Kiai Said masih berlangsung di hadapan hadirin yang memenuhi halaman dan masjid An-Nahdlah. Hadir pada kesempatan tersebut Bendahara Umum PBNU Bina Suhendra, Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman, Katib Syuriyah KH Nurul Yaqin Ishaq danH Sa’dullah Affandy, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H Imam Pituduh dan H Andi Najmi, Ketua LD PBNU KH Maman Imanul Haq Faqih, dan lain-lain. (Abdullah Alawi)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Nahdlatul, Ubudiyah Bupati Tegal

Bupati Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Jakarta, Bupati Tegal. Direktur Eksekutif The Wahid Foundation Yenny Wahid menerangkan, faktor kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal bukanlah faktor-faktor yang berhubungan langsung dan menyebabkan orang untuk melakukan radikalisme.

“Ternyata tidak sama sekali. Contoh paling gampang Bachrun Naim. Orang Indonesia dan sekarang di ISIS. S2 nya di UI. Pendidikannya tinggi juga berasal dari kelompok berada karena keluarganya adalah saudagar batik di Solo,” ungkap Yenny saat menjadi narasumber dalam acara diskusi publik dengan tema Radikalisme di Timur Tengah dan Pengaruhnya di Indonesia di Auditorium Gedung PPSDM Jakarta, Sabtu (22/7) sore.

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Bukan Ekonomi dan Pendidikan, Ini Penyebab Orang Jadi Radikal

Setelah melakukan penelitian ia menemukan ada tiga faktor yang berhubungan langsung dan mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan radikalisme. Pertama, faktor teralienasi. Yang dimaksud dengan teralienasi adalah ketika seseorang melihat ada ketidakadilan di sekelilingnya dan harus dilawan atau ia terkucil dari lingkungannya.

 

Ini yang bisa membuat orang untuk berbuat radikal. Menurutnya, yang paling rentan terkeda virus radikalisme adalah seorang laki-laki muda karena mereka sedang mencari jatidiiri dan identitas diri. 

Bupati Tegal

“Orang lak-laki muda lebih rentan teradikalisasi,” tuturnya.

 

Kedua, banyak mengonsumsi pesan-pesan kebencian. Orang yang sering terpapar pesan-pesan kebencian, maka ia akan rentan untuk melakukan gerakan-geralam radikalisme.

“Semakin sering ia terpapar dengan khutbah, dengan tulisan yang isinya kebencian aja, kafirin-kafirin orang aja, jauh lebih mudah teradikalisasi,” jelasnya.

Bupati Tegal

Ketiga, imbuh Yenny, pemahaman tentang jihad yang keliru. Baginya, orang yang memahami tentang konsep jinayah secara literal, maka mereka juga rentan teradikalisasi.

Seperti orang yang memiliki pemahaman tentang hukum kriminal yang harus disamakan dengan hukuman yang ada pada zaman dahulu seperti kalau mencuri, maka harus dipotong tangan dan kalau berzina, maka harus dirajam.

“Pun juga kalau dia berpikir jihad itu harus dimaknai berperang, bukan menahan nafsu dan diri sendiri. Itu jauh lebih mudah teradikalisasi,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Makam Bupati Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional

Jakarta, Bupati Tegal

Pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan draf Keputusan Presiden terkait pendirian Universitas Islam Internasional di Indonesia.

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Siapkan Keppres Pendirian Universitas Islam Internasional

"Kami baru saja melakukan rapat koordinasi dengan Wapres Jusuf Kalla, yang intinya kita ingin mempersiapkan adanya perguruan tinggi Islam bertaraf dunia di Indonesia," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Rabu.

Rapat koordinasi yang dipimpin Wapres tersebut juga dihadiri oleh Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komarudin Hidayat.

Bupati Tegal

Pendirian universitas Islam bertaraf internasional itu dimaksudkan untuk memperkenalkan peradaban Islam di Indonesia ke dunia internasional.

"Memang sudah sejak lama kita mempersiapkan ini, dan nantinya universitas itu tidak hanya mendalami studi keislaman tetapi sekaligus memberikan kontribusi positif dalam penataan peradaban dunia," jelas Lukman.

Bupati Tegal

Komarudin Hidayat menambahkan keberadaan universitas tersebut nantinya dapat menjadi pusat penelitian bagi ilmu keislaman dengan melibatkan akademisi dari Indonesia dan luar negeri.

"Selama ini kita membaca Indonesia lewat tulisan orang asing, padahal banyak doktor asing melakukan riset di Indonesia. Oleh karena itu, sekarang kita menjadikan Indonesia sebagai kiblat studi," jelas Komarudin.

Pemerintah menargetkan perguruan tinggi tersebut dapat mulai beroperasi paling cepat tiga tahun mendatang, dengan target awal mahasiswa sebanyak 2.000 orang.

Perguruan tinggi tersebut hanya untuk program pascasarjana dan pusat penelitian Islam, sekaligus terdapat apartemen untuk dosen serta asrama mahasiswa. Sementara lokasi kampus akan dibangun di kawasan pinggiran Jakarta. (Antara/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Quote, AlaNu Bupati Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo

Oleh Ubaidillah Achmad



Sehubungan dengan tema ini, karena terinspirasi pesan seorang guru yang berpesan kepada penulis. Dalam pesan ini berisi, agar menjaga pesan Nabi Muhammad, berisi: betapa banyak orang yang membaca Al Quran, sementara itu Al Quran telah melaknatnya. Bagi kebanyakan pembaca memahami teks hadis ini dikaitkan dengan tata cara membaca Al Quran, seperti bacaan tajwid dan makharijul huruf. Selama ini belum ada yang mengaitkan teks hadis ini dengan model menginternalisasikan nilai dan membentuk kesadaran teks kewahyuan pada sikap dan perilaku subjek yang hendak berupaya dekat dengan Allah.

Secara akademis, pembaca teks kewahyuan tidak mudah mengartikan teks Al Quran. Yang bisa secara langsung dan valid memahami maksud makna kewahyuan dari teks Al Quran, adalah Allah sendiri. Karenanya, banyak model penafsiran yang berbeda beda antara Ulama yang satu dengan Ulama yang lainnya. Perbedaan ini sering menjadi sumber diskursus di kalangan umat Islam. Dalam konteks mengukur kebenaran, telah menimbulkan dua sikap keberagamaan: pertama, sikap konfrontatif terhadap perbedaan penafsiran. Kedua, sikap merayakan perbedaan terhadap penafsiran teks kewahyuan.

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Jejak Pembumian Wahyu oleh Wali Songo

Oleh karena itu, dalam upaya meminimalisir dua sikap ini, sebaiknya para pembaca tidak mengambil posisi di antara dua perbedaan. Selain itu, ada keputusan fundamental tentang teks kewahyuan, yaitu Allah sebagai sumber muthlak kebenaran. Dengan demikian, yang lainnya, adalah berupaya memperkirakan kebenaran teks kewahyuan. Model pembacaan yang paling dekat, adalah dengan memasuki kawasan teks kewahyuan dan merasakan kawasan yang ditunjuk teks relasinya dengan prinsip suci ketuhanan, kemanusiaan, dan kesemestaan. Karena sumber mutlak kebenaran makna, adalah Allah, maka model pembacaan belum menjamin ketepatan interpretatif dari para pembaca teks kewahyuan Al Quran.

Dari sini model pembacaan ada dua: pembacaan melalui jalan yang lebih dekat dan melalui jalan yang jauh. Jalan yang dekat, dengan memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh, dengan merujuk pada penerjemahan para penafsir atau mereka yang sudah pernah memasuki kawasan kewahyuan. Jalan yang jauh ini bisa dengan melalui jalan para Ulama dan pembaca yang lain. Sedangkan, jalan yang dekat bisa melalui dengan mengalami langsung berada di kawasan kewahyuan. Misalnya, dengan mengambil kawasan kewahyuan kata yang terdapat dalam Al Quran: wajaahidu biamwalikum wa amfusikum fisabilillah.

Bupati Tegal

Dalam konteks ayat yang masyhur di kalangan umat Islam tersebut, seseorang bisa memasuki kawasan teks kewahyuan dengan cara berikut: melakukan langsung berkorban dengan harta dan segenap jiwa dan raga untuk selalu berkomitmen berada di Jalan Allah. Dalam konteks ini, istilah harta dan segenap jiwa dan raga bisa berupa komitmen menapaki jejak kenabian tanpa cindera mata, tanpa penghargaan, pujian, dan hal hal yang terkait dengan materi atau kehendak kekuasaan. Jejak yang bukan jejak kenabian ini disebut dengan jejak yang digelayuti rasa cemburu yang melahirkan penyakit hati, iri, benci dan kekerasan personal dan komunal.

Sedangkan, jejak kenabian tanpa cindera mata, adalah totalitas pengabdian, pembebasan, dan pencerahan kepada umat manusia. Hal ini akan dirasakan apabila antara pengikut jejak jejak kenabian dan subjek dampingan jejak kenabian memasuki ruang kawasan kewahyuan, seperti prinsip menjaga: relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan antar umat manusia. Ruang kawasan kewahyuan ini yang disebutkan dalam teks Al Quran dengan Istilah kawasan jalan Allah (Sabilillah).

Bupati Tegal

Jika ada yang menolak kata sabilillah, adalah bentuk kawasan kewahyuan yang diantaranya meliputi prinsip tersebut, lalu persoalann yang dapat dijadikan pertanyaan, jalan Allah yang mana yang dapat dijadikan alat ukur atau instrumen para pengikut jejak kenabian. Karena ketidak jelasan menunjuk instrumen kawasan kewahyuan pada teks kewahyuan, maka para penafsir dan pembaca teks kewahyuan berebut penafsiran yang disematkan pada kepentingan kelompok sendiri.

Sehubungan dengan persoalan ini, para Walisongo mengambil bentuk kawasan kewahyuan, berupa prinsip prinsip keutamaan tersebut di atas (relasi kosmologi, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan). Paradigma pengambilan bentuk kawasan kewahyuan perspektif Walisongo inilah yang menjadi fundasi pribumisasi Islam Walisongo. Karenanya, para pengikut Walisongo lebih elegan dan terbuka terhadap perbedaan dan selalu merayakan perbedaan di tengah kompleksitas kehidupan masyarakat.

Dalam realitas keberagamaan dan studi teks kewahyuan, telah banyak ditemukan konflik agama dan kekerasan tersistem. Hal ini dikarenakan adanya pemahaman spekulatif yang berhenti pada teks kewahyuan, penafsiran teks kewahyuan dengan teks penafsiran yang tercerabut dari akar kawasan kewahyuan. Dengan demikian, teks kewahyuan justru menjadi penghalang prinsip nilai yang ditunjuk teks kewahyuan. Model penafsiran seperti ini, lebih mudah dijadikan sebagai sumber konflik dan ideologis. Model penafsiran yang seperti ini, juga akan mudah dibelokkan oleh para pembajak agama kenabian dan kewahyuan untuk kepentingan kekuasaan dan kapitalisme global.?

Jadi, teks sabilillah sebagaimana tersebut di atas memiliki kawasan teks, berupa komitmen sikap pada prinsip menjaga relasi suci kosmologis, menjaga kemanusiaan, persamaan, dan keadilan. Karenanya, jika sessorang tidak berada pada komitmen sikap pada prinsip tersebut, maka telah berada di luar kawasan jalan Allah. Jalan Allah tidak hanya Ibadah murni merasa dihadapan Allah (ihsan) yang terkait dengan rukun Islam dan keyakinan kepada Allah. Selain jalan Allah berupa kawasan ritual ini, juga bisa berbentuk sikap komitmen menjaga relasi kosmologis, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan.

Sehubungan dengan dua pemaknaan kewahyuan sebagaimana yang diuraikan di atas, sama sama bermanfaat, namun yang bisa berlaku universal, adalah dengan segera berjalan pada jalan sebuah kawasan kewahyuan. Karena dengan lelaku atau segera mengalami berada dikawasan kewahyuan, maka seseorang akan merasakan nilai kenabian dan berada dalam kehendak Allah. Sebagai contoh, seseorang akan mengalami kesulitan merasakan arti kemanusiaan hanya dengan mendiskusikan pandangan tentang kemanusiaan, Namun seseorang akan merasakan berada dalam kepedulian dan merasakan nilai kemanusiaan, apabila sedang turut berinteraksi dengan gerakan dan pergolakan memperjuangkan nilai kemanusiaan.

Dalam konteks kawasan kewahyuan ini, kita dapat memahami, bahwa Al Quran berbeda dengan kitab kitab yang lain atau juga berbeda dengan arsip atau dokumentasi perkantoran atau pedoman kerja. Al Quran merupakan teks penjelas yang langaung melalui firman Allah, berisi prinsip nilai dan prinsip yang secara langsung melekat pada diri manusia. Artinya, sebelum ada prinsip yang ditunjuk wahyu, prinsip itu telah mengakar kuat dalam kepribadian manusia relasinya dengan Allah dan unsur kesemestaan.

Membumikan Kawasan Kewahyuan

Walisongo memiliki kekhasan yang berbeda dengan para Ulama tasawuf yang lain di Timur. Para Ulama tasawuf telah banyak menafsirkan kewalian dengan pengertian yang sangat spekulatif yang sulit dimaknai oleh masyarakat awam. Sedangkan, Walisongo mengaktualkan makna kewalian tanpa mendefinisikan arti kewalian, namun lebih menawarkan pada sikap melakukan pembebasan dan pencerahan kepada masyarakat. Peran ini, sama dengan yang dilakukan oleh para Nabi Pembebas dan pencerah.

Para Walisongo telah menjadikan keberadaannya sebagai mediator yang menghubungkan antara raja ke rakyat dan rakyat ke raja. Selain itu, Walisongo juga mampu menguatkan kedua relasi antara raja dan rakyat dengan Allah Jalla Jalaluhu. Implikasi adanya bangunan antara relasi raja-rakyat dengan Allah, adalah perlunya menerima prinsip kebenaran universal, karena setiap kebenaran universal bersumber dari Allah. Prinsip kebenaran universal ini, telah ditekankan dalam teks kewahyuan yang tidak akan berbeda dengan model kearifan lokal dan prinsip nilai kebenaran ideologi-ideologi besar dunia.

Meskipun demikian, Walisongo memahami prinsip ritual dan model peribadatan yang diajarkan Nabi Muhammad. Hal ini telah disampaikan kepada mereka yang secara khusus ingin mengikuti ritual keberagamaan Walisongo. Aktivitas ritualistik ini pun telah didesain oleh Walisongo, berupa ritual keagamaan agama Islam yang ramah terhadap kearifan lokal dan pandangan pandangan masyafakat jawa yang sentralistik terhadap ketokohan seseorang.

Di luar konteks ritualistik, Walisongo secara langsung mampu memadukan teks kewahyuan dengan prinsip kebenaran yang bersifat universal. misalnya, yang terkait dengan prinsip ? sistem kekuasaan mutlak Allah, kemanusiaan, keadilan, dan persamaan. Karenanya, untuk menyebut sistem kekuasaan mutlak ini, para Walisongo menyebutnya dengan istilah Gusti Ingkang Akarya Jagat, Gusti Ingkang Murbahing Dumadi. Banyak istilah untuk menyebut Asma Allah di beberapa suluk para Walisongo dengan menggunakan istilah masyarakat Jawa.

Jadi, pribumisasi Islam Walisongo bukan merupakan model pribumisasi yang liar dan tidak berdasarkan paradigma yang matang. Pribumisasi Islam Walisongo merupakan model pribumisasi yang memiliki akar sejarah kenabian dan kerasulan Muhammad. Selain itu, pribumisasi walisongo juga memiliki akar sejarah dari kultur masyarakat Jawa. Pribumiaasi walisongo ingin membentuk kesadaran manusia memilih jalan Allah, berupa jalan yang berada pada kawasan kewahyuan. Kawasan kewahyuan bukan yang berhenti pada penafsir dan kepentingan komunal atau kepentingan para penguasa pembajak makna suci pada kawasan suci kewahyuan.

Sama seperti para Nabi pembebas, bermula dari kawasan suci ini ingin mengajak siapa pun melakukan yang terbaik untuk kelangsungan relasi suci kosmologis, kemanusiaan, keadilan dan persamaan. Karenanya, model pribumisasi walisongo bersifat terbuka dan siap berdialog dengan model kearifan lokal dan ideologi ideologi besar dunia. Jika sesuai bisa berintegrasi, namun jika tidak sesuai, maka tetap bisa beradaptasi. Yang terpenting jangan ada kekerasan dan ancaman kemanusiaan di tengah kehidupan umat manusia. Model pribumisasi Islam ini yang sekarang menjadi sumber Islam Nusantara.

Penulis adalah Khadim Omah Kongkow As-Syiffah Pamotan Rembang, Dosen FITK UIN Walisongo Semarang, Penulis buku Suluk Kiai Cebolek dan Islam Geger Kendeng.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal AlaNu, Hadits Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock