Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri

Di suatu malam yang ditumpahi cahaya bulan, seorang kiai sepuh dari Jawa Timur bertutur. Ratusan santrinya menyimak kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan nada pelan dan santai, sang kiai memberi nasehat yang kurang lebih demikian:

***

Saya ini dulu sudah mengaji lebih dari tiga puluh tahun, tapi perasaan saya tak dapat ilmu,  kecuali hanya sedikit saja. Namun, saya selalu setia dengan proses ini, proses belajar ala pesantren, taat pada metode pembelajaran para kiai dan ulama salaf.

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri

Pernah, ketika dulu mengaji Kitab Ihya Ulumuddin baru beberapa lembar saja, kiai saya sakit, sampai dua tahun, mendekati tiga tahun. Selama itu pula saya setia menunggu beliau. Setelah beliau sembuh, saya baru dapat melanjutkan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Saya juga mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Alhamdulillah, seletelah tiga puluh tahun lebih mengaji, saya dapat membaca kitab-kitab (kuning) apa saja yang telah diajarkan oleh kiai saya. Namun, seakan itu hanya di lidah saya saja, tak sampai tenggorokan. Belum menancap di hati saya. 

Kemudian, tanpa saya duga, kiai saya meminta saya untuk menikahi putri beliau. Saya kaget: kenapa mesti saya? Saya itu  kan tidtak punya apa-apa? Saya juga bukan kategori orang yang bisa bekerja. Usut punya usut, ternyata kiai saya menikahkan putrinya kepada saya justru karena ketidakpunyaan saya. Karena saya tidak punya harta benda. Ini, lho, berkah saya tidak punya apa-apa, saya malah menjadi menantu kiai saya.

Bupati Tegal

Saudara saya membanyol: kiai memilih kamu (yang tidak punya apa-apa) agar kamu tidak berani mempoligaminya! Haha, banyolan saudara saya ini ada-ada saja. Mana mungkin saya berani menduakan putri kiai saya sendiri.

Kemudian saya membantu mengajar di pesantren kiai saya, sampai kemudian ayah saya meninggal dunia. Karena dirumah ayah saya punya pesantren, saya mesti kembali. Saya pamit kepada kiai saya:

Bupati Tegal

Kiai, saya pamit, saya harus pulang, ayah saya meninggal dunia, kata saya. 

Kiai menjawab, oh iya betul, kamu harus pulang. Punya tinggalan pesantren harus terus dilestarikan.

Namun kiai, ada satu hal yang ingin saya minta: saya ini tidak punya apa-apa. Mohon minta doa amalan kepada kiai, agar saya mudah mendapat rejeki, pinta saya.

Bukannya diberi amalan doa, saya malah dimarahi: Huuussss!!! Kamu ini gimana, seperti tak percaya kepada Allah saja!!!

Sontak saya tercekat kaget, tak karu-karuan rasanya. Marah betul beliau.

Namun di situlah, di akhir-akhir dengan kiai saya itu, hanya pertemuan sekitar lima menit, ilmu kiai saya tertancap ke dalam hati. Karena marahnya kiai itu, saya jadi ingat semua apa-apa yang di dalam Al-Quran, Hadits dan kitab-kitab, termasuk yang ada di Ihya’ dan Hikam.

Saya jadi ingat ayat Al-Quran: Wa ma min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha; dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya (QS. Hud [11]: 6). Saya jadi ingat: 

...Wamayyattaqillaaha yaj ‘allahu mahrajan. Wayarzuqhu minhaitsu laayahtasib, wamayya tawaqal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu, inalallaha balighu amrihi  qad ja ‘alallaahu liqulli syai in qodron.”. ...Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 65, 2-3)

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Yang tadinya ilmu hanya di lidah, sepertinya masuk ke hati saya. Hati saya jadi tawakkal, pasrah kepada Allah. Apa yang selama ini saya kaji di kitab-kitab itu, baru saya rasakan setelah kiai memarahi dalam tempo lima menitan itu. Saya jadi mantap menjalani hidup.

Kemudian saya bertanya kepada istri saya: Dik, kita akan pindah. Namun rumah ayah saya kini diwarisi adik saya. Saya sudah tidak punya rumah. Apa jawaban istri saya? 

"Saya tidak menikah dengan rumahmu, Mas." Begitulah jawabannya. Saya jadi lega.

Memang benar Hadis Nabi: memilih istri itu yang terpenting adalah karena faktor agamanya... fadzfarbidzaatitdieni, taribatyadaka.

Nabi Muhammad juga demikian: menjodohkan putrinya dengan Sayyidina Ali kw, salah seorang yang miskin (secara duniawi, namun pandai ilmu agamanya). Padahal, banyak sahabat Nabi yang kaya raya.

Juga demikian salah satu sahabat beliau, Abu Hurairah. Ketika beliau mendapati putrinya yang sudah berumur untuk menikah, beliau bertanya: lelaki seperti apa yang engkau mau? Sang putri menjawab: dua syarat. Pertama pandai dalam ilmu, dan kedua miskin. Abu Hurairah membalas balik: syarat pertama bisa kumengerti. Tapi, untuk apa syarat yang kedua? Sang putri menjawab: agar dia tidak berani nikah lagi. 

Begitulah. Orang-orang dulu begitu hati-hati dalam urusan harta. Maka saya minta, jika anda sekalian menuntut ilmu, niatnya jangan karena ingin harta. Jangan karena ingin jabatan atau kedudukan. Jangan karena ingin dipuji orang lain. Jangan karena dunia. Tapi niatilah menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah semata. Insya Allah nanti Allah yang menjamin.

Itulah salah satu kandungan yang ada dalam kitab Ihya dan Kitab Hikam. Ini kitab tasawuf, yang kadang agak bertentangan dengan (pendpat ulama) fiqih. Namun, kitab ini ampuh, sudah diakui keramatnya.

Dulu, setelah jadi, kitab Ihya ini akan dilarang oleh seseorang yang alim.  Orang itu menyuruh murid-muridnya agar kitab itu dimusnahkan, karena isinya dianggap bertentangan. Sebelum sempat memusnahkan, orang itu mimpi bertemu dengan Rasulullah,  Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Ia melihat Imam Ghazali bersamanya dan mengadukan perihal kitab ini yang ingin dibakar. Ternyata rasulullah mengatakan kitab itu baik. Rasulullah kemudian mencambuk orang yang alim itu. Meski dalam mimpi, ketika bangun tidur, bekas pukulan membekas dalam tubuh, sampai waktu yang lama. Setelah itu orang alim itu bertaubat, mau mempelajari kitab Ihya’ dan bahkan ditemui Rasulullah dalam mimpi. (Kisah lengkapnya dalam Kitab Awariful Maarif karya Imam Syaikh Syahrowardi, ed.)

Imam Ghazali - sang Hujjatul Islam, pengarang kitab itu – ternyata tak sembarangan dalam menulis hadits. Tiap kali menulis hadis untuk dimasukkan ke kitab Ihya, beliau berwudlu, kemudian shalat sunnah, kemudian istikharah terlebih dahulu. Pasca itu, sepertinya beliau dibimbing Nabi dalam mimpi, ataupun melalui peristiwa lain. Misalnya, setelah itu, hadis yang ditulis itu dicium, apakah baunya wamgi atau tidak? Kalau baunya wangi, ini berarti benar-benar dari nabi. Kalau tidak wangi beliu tinggalkan hadits itu, tidak dimasukkan dalam kitabnya.

Inilah, kehebatan para ulama salaf. Mengapa di pesantren kitab-kitab para ulama salaf masih kita kaji. Apa maksud dari kitab ulama salaf itu? Yaitu kitab-kitab yang dibikin oleh para ulama yang tulus, bersih, jujur, wira’i, dan hanya berharap ridha dari Allah. Bukan untuk mendapat ganti cetak (royalti) yang melebihi harga cetaknya. Beliau-beliau menulis bukan karena uang, ketenaran, jabatan atau yang lainnya, tapi karena mengharap Ridla Allah semata.

Maka, anda yang belajar di pesantren dan membelajari kitab karya ulama-ulama terdahulu harus bersyukur. Dan banggalah, jangan minder. Dan jangan berhenti belajar. Usahakan apa yang anda pelajari menjadi laku dan menancap dalam hati. Karena soal hatilah yang paling sulit di dunia ini. Kalau soal ilmu dunia, skill, itu mudah. Tapi soal hati ini sulit.

Banggalah jadi santri. Kiai Mahrus Ali, guru saya, itu ya cuma mengaji di pesantren seperti ini, tapi beliau bisa mencari solusi problem-problem kebangsaan, dan sering dengan Bung Karno dan tokoh bangsa lainnya. Mbah Hasyim Asy’ari dulu juga begitu, dengan mempelajari kitab-kitab para ulama salaf. Toh beliau mampu berkontribusi banyak untuk bangsa dan negara.

Jangan minder jadi santri. Bila perlu, pakailah identitasnya, seperti sarung dan peci misalnya. Mbah Mahrus Ali dulu pakai sarung, tak pernah pakai celana. Toh beliau diterima oleh segenap tokoh bangsa. Pula Kiai Hasyim Asy’ari, yang oleh Jepang dianggap Bapak Umat Islam Indonesia, kemana-mana sering pakai sarung. Dan beliau-beliau mampu menjadi rujukan persolan agama, bangsa dan negara.

Dan para kiai hari ini juga sebenarnya bukan tidak mengerti persoalan bangsa. Hanya karena memang ada yang sementara diam. Karena memang, dari kitab ulama salaf yang diajarkan di pesantren itu, bisa untuk apa-apa. Maka, banggalah jadi santri. Jangan pernah merasa minder. Nanti bangsa dan negara ini akan butuh kalian. Butuh orang-orang yang jujur dan berakhlak.

Kita bisa lihat, bagaimana kondisi negara ini hancur ditangan orang terdidik. BLBI belum selesai, ada Century. Century belum selesai, ada lagi dan lagi. Terus begitu, saking ruwetnya. Mereka tak akan kuat terus menerus seperti itu. Masalah belum ketemu solusi, sudah masalah lagi. Ini persoalan utama ada pada manusianya.

Nah, dalam beberapa tahun kedepan, bangsa dan negara akan butuh kalian, butuh orang orang yang jujur, bisa dipercaya. Orang-orang akan datang ke kita, ketika ketidakjujuran dan saling-tipu sudah membabi buta dimana-mana.

Mantapkanlah ilmu sampai kedalam hati. Meski kelak kamu jadi apa saja, dan melanglangbuana ke Eropa misalnya, hati kalian masih berpijak pada pesantren ini, memegang apa yang diajarkan para kiai dan ulama salaf.

Dan jangan lupa, untuk senantiasa shalat di awal waktu, dan lebih-lebih dilakukan secara berjamaah. Jika sudah beristri kelak, jadilah imam istri kalian dalam shalat berjamaah. Jika anda sekalian memenuhi kewajiban kalian, Insya Allah nanti Allah sendiri yang menata kalian.

Kadang kita ini malu. Bahkan, Ibnu Athaillah sendiri heran: kenapa untuk disuruh masuk surga saja harus “dipaksakan”. Ini kan mengherankan. Coba saja: shalat subuh berjamaah, misalnya, itu jelas sangat utama, jalan menuju syurga, tapi sulit orang menjalankannya. Padahal itu jalan menuju kebahagiaan.  Hal-hal yang wajib, lebih-lebih yang sunnah, itu kan dari Allah agar kita menuju ke kebahagiaan, tapi seringkali sulit orang melaksanakan.

Demikian, mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kita semua. Amin Allahumma Amin.

***

Nasihat-nasihat itu, kurekam dalam kepala. Kuolah dengan penangkapanku, kemudian kusarikan dalam tulisan ini dengan caraku sendiri, yang jelas tak persis seluruhnya. Kuambil yang ingat-ingat saja, kutambahkan dan kurangi apa yang menurutku membantu pemahaman. Nasehati itu disampaikan oleh sang kiai sepuh ketika mengisi ceramah pada khataman Kitab Ihya dan Al-Hikam. Meski hanya sebentar, nasehat Kiai Sepuh itu begitu bermakna, dan mengingatkan kembali nilai-nilai islami dan kesantrian.

Kuketahui kemudian, kiai sepuh itu adalah almarhum KH. Abdul Aziz Mansyur, Pimpinan Pesantren Paculgowang. Mbah Aziz, begitu beliau bisa disapa, kemudian banyak menelurkan dan menyunting buku. Bahkan beliau menjadi pimpinan tertinggi (Ketua Dewan Syuro) PKB, dikenal kealimannya, serta menjadi tokoh nasional. Beliau bercerita semasa nyanti di Pesantren Lirboyo, Kediri. Dan ceramah itu, ditayangkan di TV9 malam jumat (28/12) lalu. Untuk beliau, al-Faatihah. (Ahmad Naufa)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Sunnah, Khutbah, Syariah Bupati Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria

Lampung, Bupati Tegal 

Panitia Nasional Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU)  2017 menggelar seminar Pra Munas-Konbes di Bandar Lampung, Sabtu (4/11).

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Munas di Lampung, PBNU Angkat Penguatan Organisasi dan Reforma Agraria

Hadir pada acara ini, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maruf Amin, sejumlah Pengurus PBNU, panitia Munas-Konbes NU 2017, Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung KH RM. Sholeh Bajuri, dan lain-lain. 

Sementara kegiatan Pra-Munas ini diikuti oleh PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Lampung, PWNU se-Sumatera, PWNU DKI Jakarta, PWNU Banten, dan PWNU Jawa Barat.

Diskusi yang dijadwalkan dari pagi sampai malam hari ini, dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama mengangkat tema Penguatan Organisasi Menuju Satu Abad Nahdlatul Ulama. Sementara sesi kedua mendiskusikan Reforma Agraria untuk Pemerataan Kesejahteraan Warga.

Hadir sejumlah pembicara, Ketua PBNU H Muhammad Nuh, Aji Hermawan, Gojek /Buka Lapak, Wakil Ketua Umum PBNU H. Mochammad Maksum Machfoedz, Menteri Agraria dan Tata Ruang Indonesia Sofyan A. Jalil, dan Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika. 

Bupati Tegal

Wakil Ketua Panitia Nasional Munas-Konbes NU 2017 H Robikin Emhas saat membuka acara, mengatakan, tema agraria diangkat karena Indonesia  tidak bisa lepas sebagai negara agraria. Menurutnya, jika reforma agraria, infrastruktur, obat-obatan dan lain-lain dikawal secara baik, kesenjangan akan menurun.

"Insyaallah tingkat kesenjangan ekonomi di Indonesia akan berkurang secara signifikan," katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal

Bupati Tegal Syariah, Lomba, IMNU Bupati Tegal

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara

Jakarta, Bupati Tegal. Momentum perayaan Idul Adha, Kamis (24/9) dimanfaatkan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) untuk merawat kerukunan beragama di Tolikara, Papua.?

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Rawat Kerukunan di Tolikara

"Kami telah mengirimkan 23 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ke Tolikara, Sejak Rabu (23/9) sore mereka tiba di ? Papua dan disambut Bupati serta para Pemuda Kristen setempat untuk bersama-sama menjaga kenyamanan dalam perayaan Idul Adha," ujar Wakil Sekjen GP Ansor yang juga Korwil Banser untuk daerah Maluku dan Papua, Faisal Saimima.

Dikatakan Faisal, kehadiran Banser di Tolikara juga untuk memastikan terjaganya komitmen toleransi beribadah. "Mereka yang dikirim adalah yang selama ini sudah terjun langsung menjaga gereja-gereja di daerah minoritas Kristen. Jadi bukan untuk gagah-gagahan, melainkan untuk bersinergi dengan pemuda Kristiani dan pihak-pihak terkait demi menjaga ibadah umat Islam di Tolikara yang menjadi minoritas," tandasnya.?

Bupati Tegal

Faisal menjelaskan, menjaga ibadah dalam arti untuk memastikan kerukunan beribadah dan beragama merupakan program rutin GP Ansor. Tidak hanya saat Idul Adha maupun Idul Fitri di daerah yang umat muslimnya minoritas, tetapi juga di setiap hari keagamaan lain.?

Apa yang dilakukan GP Ansor ini, kata dia, sekaligus juga sebagai ajakan bagi pemuda-pemuda agama lain bahwa di negara ini tidak ada satu daerah pun yang boleh menerapkan tirani mayoritas.

Bupati Tegal

"Kita selama ini juga menjaga gereja di Jawa saat hari besar keagamaan umat kristiani maupun menjaga tempat ibadah ketika umat Hindu dan Buddha merayakan hari besarnya. Jadi, yang ingin kami pastikan dengan hadir di Tolikara juga sama, yaitu memastikan bahwa umat Muslim di sana yang minoritas bebas menjalankan ibadahnya," ungkap Faisal.

Oleh karena itu, lanjut Faisal, silaturahmi Banser mendapat sambutan yang positif dari bupati setempat. Pemuda Kristen di sana, kata dia, juga sudah berkomitmen agar bersama-sama dengan Banser menjaga umat muslim yang menjalankan ibadah Salat Idul Adha. (Malik/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Syariah Bupati Tegal

Senin, 12 Februari 2018

Semarak Maulid di Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan

Probolinggo, Bupati Tegal - Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H, haul KH Abdul Wahab atau Kiai Ronggo dan Hari Jadi ke-7 Kota Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo, Takmir Masjid Agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo menggelar beberapa kegiatan, Rabu hingga Sabtu (11-14/1) malam.

Kegiatan yang dilakukan meliputi bakti sosial berupa donor darah dan khitanan massal, lomba tartil Al-Qur’an, lomba pidato/khitobah, lomba kaligrafi serta pemberian santunan kepada anak yatim.

Semarak Maulid di Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid di Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid di Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan

Sekretaris Takmir Masjid Agung Ar-Raudlah H. Moh. Nurul Yakin mengungkapkan semarak Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H dan Haul Kiai Ronggo serta HUT ke-7 Kota Kraksaan yang dilakukan di masjid di sebelah barat Alun-alun Kota Kraksaan ini melibatkan guru TK/RA, siswa SLTA, masyarakat, pengurus NU, santri pesantren, anak yatim piatu serta pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

“Kegiatan ini butuh keterlibatan dari segenap elemen lapisan masyarakat. Karena kegiatan ini digelar untuk menyemarakkan kelahiran Baginda Rasulullah SAW, haul Kiai Ronggo serta HUT ke-7 Kota Kraksaan,” katanya.

Bupati Tegal

Puncaknya jelas Nurul Yakin akan diadakan pengajian umum dengan undangan segenap jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan. Kegiatan ini juga terbuka untuk masyarakat umum. “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa meningkatkan rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT,” harapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Bupati Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Syariah Bupati Tegal

Minggu, 11 Februari 2018

Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212

Oleh Fathoni Ahmad

Tidak ada yang mengetahui persis Presiden RI Joko Widodo akan hadir di tengah ratusan ribu massa aksi damai 2 Desember di Monas dan sekitarnya. Meskipun pada akhirnya, Jokowi sendiri yang memutuskan sangat perlu hadir dan shalat Jumat bersama mereka di detik-detik terkahir menjelang kumandang adzan.

Di antara alasan Jokowi yaitu akankah menembus hujan deras untuk bergabung dengan mereka. Meskipun pertanyaan ini begitu menggelitik bagi dirinya. Itulah Jokowi, sebuah gorong-gorong saja mampu ditembusnya apalagi sekadar hujan. Hal itu harus dilakukannya, sebab massa yang telah rapi dan tertib sudah tentu menunggu dirinya.

Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212 (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212 (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Guyuran Hujan dalam Aksi 212

Bagi Mantan Wali Kota Solo ini, tidak menemui pendemo dalam aksi Bela Islam II pada 4 November lalu, bukan berarti ia tidak mau berinteraksi dengan rakyatnya, tetapi tentu hal ini hanya persoalan waktu. Terbukti pada Aksi Bela Islam III pada 2 Desember, ia bersama para menteri dan Jenderal menembus kepungan hujan dan merangsek ke dalam ratusan ribu kermununan massa yang telah memadati Monas dan jalan-jalan di sekitarnya.

Data kepolisian menyebutkan, Aksi 212 ini mencapai 200.000 orang yang datang dari berbagai daerah. Meskipun menurut taksiran penulis, massa yang kompak berkumpul dengan mengenakan dress code putih-putih itu bisa mencapai 450.000 orang. Bahkan ada yang bilang jutaan. Kemungkinan data tersebut jika digabung dengan mereka yang juga mengadakan aksi serupa di berbagai daerah di Indonesia.

Bupati Tegal

Namun demikian, penulis tidak ingin membahas data, melainkan sebuah hujan kerap yang menyapa massa aksi 212 di Monas. Ada yang menyebut bahwa hujan yang turun diawali awan gelap atau mendung pekat itu akan mengganggu massa yang dari awal khidmat mengikuti aksi.

Namun penulis melihat, justru dengan turunnya hujan akan memberikan nuansa lain. Apa itu? Mari sejenak mengingat materi pelajaran kimia di sekolah. Meskipun mengandung unsur asam, air hujan juga membawa partikel yang dapat memunculkan sensasi damai dan sejuk di tubuh manusia sehingga rasa senang dan gembira akan mucul. Tak heran jika anak-anak kecil serasa senang bermain di tengah guyuran hujan.

Sebagian orang juga memaknai turunnya hujan sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa. Hal ini karena hujan mampu menyuburkan yang kering dan menumbuhkan yang sedang berkembang. Hujan juga bisa mendatangkan musibah jika intensitasnya berlebihan sehingga dapat mengakibatkan banjir, tanah longsor, dan lain-lain. Lagi-lagi, hal ini juga bisa dilihat dari sudut pandang berkah karena manusia diajarkan untuk merawat alam.

Bupati Tegal

Bagaimana konteksnya dengan aksi 212? Mudah sekali membacanya. Jika manusia berkumpul di satu tempat apalagi dalam jumlah yang sangat banyak, partikel yang ada di tengahnya hanyalah unsur panas karena pada dasarnya manusia adalah makhluk berdarah panas. Hal itu ditambah dengan berbagai tuntutan aksi yang seketika dapat memunculkan suasana lebih panas lagi sehingga bisa meletupkan keributan.

Hujan kerap yang cukup deras mengguyur massa aksi 212 tak terpungkiri adalah berkah dari Allah SWT. Ia membuat ratusan ribu massa yang berkepala panas menjadi dingin, dada yang membara menjadi tenang, otot-otot yang kencang menjadi kendor, dan tulang-tulang kaku menjadi luwes kembali sehingga aksi yang tadinya damai menjadi super damai.

Petunjuk hujan inilah yang tadinya dinilai Jokowi sebagai rintangan untuk bergabung dengan massa, menjadi berkah yang harus ditembus sebagai energi positif untuk menjawab pandangan-pandangan nyinyir yang ditujukan kepadanya yang dinilai tidak berani mendatangi para pendemo ketika aksi 4 November lalu. Lebih dari itu, persatuan dan kesatuan dalam rajutan merah putih dan dekapan NKRI bisa tetap menjadi milik kita bersama selamanya.

Pesan hujan yang diturunkan oleh Allah dalam aksi 212 juga harus menjadi renungan bersama, betapa kepala dingin, kesabaran, dan sikap tidak memaksakan kehendak harus dikedepankan. Proses hukum tersangka Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang senantiasa menjadi tuntutan aksi harus dipercayakan penuh pada ranah hukum. Karena hal itulah yang menjadi kesepakatan bersama di negara hukum seperti Indonesia yang sama-sama kita cintai ini.

Jika hukum sudah berjalan, serahkanlah pada prosesnya, toh masyarakat yang menuntut bisa mengawalnya diberbagai tahapan serta mengawasinya sebagai bagian dari transparansi. Upaya ini juga bagian dari perwujudan supremasi hukum itu sendiri. Berbeda jika tuntutan tersebut disertai dengan pemaksaan kehendak, yang ada hanyalah kekacauan proses yang jelas tidak kita inginkan sebagai warga yang taat pada konstitusi.

Para pendiri? bangsa (founding fathers) ini telah bekerja keras merancang pondasi dan dasar negara sebagai konsensus atau kesepakatan bersama dalam membangun bangsa yang beradab. Mereka bukanlah para pemimpin amatir, tetapi mereka adalah pemikir dan pekerja keras yang secara ikhlas mengusir penjajah dan mendirikan negara ini demi kelanjutan generasi yang lebih baik.?

Kita sebagai pewaris para founding fathers harus memperkuat jiwa dan mental bahwa bangsa dan negara ini mesti dijaga kebersamaannya. Problem politik, agama, budaya, dan entitas-entitas lain jangan sampai membuat bangsa yang telah kuat karena kesepakatan bersama ini terpecah belah.?

Kerugian jiwa dan raga yang ditimbulkan oleh berbagai kepentingan sesaat, apalagi begitu gencar mengatasnamakan agama hanya akan membuat Indonesia seperti negara-negara gagal (failed states) di berbagai kawasan di Timur Tengah. Lagi-lagi, hujan yang turun tepat pada aksi 212 di Monas Jakarta cukup memberikan pelajaran bahwa bangsa ini harus terus dijaga kesejukannya. Semoga!

Penulis adalah Pengajar di STAINU Jakarta, Anggota Kaukus Penulis Aliansi Kebangsaan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Syariah, Nahdlatul Ulama Bupati Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

30 April Batas Akhir PWNU dan PCNU Gelar Konferensi

Jakarta, Bupati Tegal. Pengurus Harian PBNU menyampaikan maklumat bagi PWNU dan PCNU se-Indonesia perihal ketentuan muktamar. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta, Senin (9/3) sore, memberikan kesempatan bagi PWNU dan PCNU yang sudah jatuh tempo untuk melakukan konferensi paling lambat 30 April 2015 mendatang.

30 April Batas Akhir PWNU dan PCNU Gelar Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
30 April Batas Akhir PWNU dan PCNU Gelar Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

30 April Batas Akhir PWNU dan PCNU Gelar Konferensi

PBNU menjatuhkan sanksi bagi mereka yang telat mengadakan konferensi. Selain harus melakukan segera konferensi, mereka juga tidak memiliki hak pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang.

Sejumlah peserta Rapat Harian mengusulkan agar mereka yang melewati batas yang ditentukan PBNU ditolak pada forum muktamar NU mendatang. Tetapi Wasekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ tidak sepakat.

Bupati Tegal

Mereka yang melewati batas akhir, perlu diakomodasi hanya sebagai peninjau, bukan sebagai peserta muktamar. Artinya, mereka tidak memiliki hak-hak sebagai peserta penuh, ujar Munim.

Bupati Tegal

“Kalau konferensi wilayah dan cabang tidak segera dilaksanakan, maka PWNU dan PCNU yang bersangkutan tidak memiliki hak penuh dalam muktamar termasuk salah satunya hak suara,” kata Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Ketentuan ini disepakati oleh pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU beserta panitia Muktamar Ke-33 NU. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Syariah, Kiai, Sejarah Bupati Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

Lombok Tengah, Bupati Tegal. Babak penyisihan Musabaqoh Kitab Kuning wilayah Nusa Tenggara Barat digelar di Ponpes Qamarul Huda Bagu, Pringgarata, Loteng.? Lomba yang diiniasiai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dimaksudkan sebagai upaya melestarikan tradisi membaca Kitab Kuning."Musabaqoh Kitab Kuning ini merupakan bagian dari kita menjaga tradisi membaca Kitab Kuning untuk menatap masa depan yang lebih baik," kata Sekretaris DPW PKB NTB, Akhdiansyah saat pembukaan Musabaqoh Kitab Kuning, Kamis (7/4/).

Kegiatan tersebut, lanjut Akhdiansyah, merupakan salah satu peran aktif PKB dalam upaya turut melestarikan tradisi-tradisi pendidikan di pondok pesantren, seperti tradisi membaca Kitab Kuning yang telah menjadi warisan para ulama.

Melalui program Musabaqoh ini, tradisi membaca Kitab Kuning akan terus tejaga dan terawat. Selain tradisi membaca Kitab Kuning, lanjut politisi muda ini, ? tradisi Nusantara Mengaji juga akan dilaksanakan DPP PKB, bahkan seluruh anggota Dewan dari PKB diperintahkan masing-masing membawa 200 orang dalam acara Nusantara Mengaji.

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Musabaqah Kitab Kuning di NTB Resmi Dimulai

"Ini dalam rangka merawat dan menjaga tradisi, untuk kemajuan bangsa", ujar Akhdiansyah?

Musabaqoh tersebut juga dijadikan ajang mencari peserta terbaik yang akan mewakili NTB di tingkat nasional. "Besar harapan kami, salah satu terbaik dari ratusan peserta perwakilan masing-masing ponpes yang mendaftar, nantinya mampu meraih juara di tingkat nasional," harapnya.

Bupati Tegal

Acara yang dibuka langsung oleh pembina dan pengasuh Ponpes Qamarul Huda, TGH LM Turmudzi Badarudin itu, dihadiri seluruh anggota DPRD Kabupaten Loteng dan Provinsi NTB dari PKB, ketua DPC PKB se-NTB, para ustadz dan santri, serta peserta Musabaqoh.

Dalam sambutannya, Tuan Guru Bagu sapaan TGH LM Turmudzi Badarudin, menyampaikan bahwa sangat mendukung Musabaqoh Kitab Kuning yang dilaksanakan PKB. "Musabaqoh yang dilaksanakan PKB hari ini bagus. Semoga semua yang mengaji akan mewarisi ilmu para ulama," kata musasyar PBNU ini

Hal itu dianggap sangat perlu untuk keberkahan suatu ilmu. Diungkapkan, yang dikerjakan para ulama terdahulu seperti mengaji, menghafal kitab dan selalu menghadiri majelis baik di Timur Tengah maupun dalam negeri, sehingga ilmu itu menjadi barokah.

Bupati Tegal

"Semoga kehadiran para anggota Dewan dan anggota Hakam serta seluruh peserta di acara ini mendapat barokah", katanya (Syamsul Hadi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Bupati Tegal Nasional, Amalan, Syariah Bupati Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Bupati Tegal - Kabupaten tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Bupati Tegal - Kabupaten tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Bupati Tegal - Kabupaten tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock